Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan diuraikan latar belakang dilengkapi dengan fakta-fakta
pendukungnya, rumusan masalah, tujuan, dan metode penelitian yang digunakan dalam
menyelesaikan landasan konseptual ini.
1.1 Latar Belakang

Di tengah persaingan global dan semakin menipisnya cadangan sumber daya


alam, negara-negara di berbagai belahan dunia sibuk mencari alternatif perekonomian
yang tidak bersandar pada Alam. Kini semakin banyak negara menyadari,
ketergantungan terhadap sumber daya alam menimbulkan perilaku merusak Alam itu
sendiri dan mengalihkan pilihan pada ekonomi kreatif, yaitu perekonomian yang
menjadikan kreativitas dan kemampuan intelektual sebagai dagangan utama. Ekonomi
ini memanfaatkan kreativitas, ketrampilan, dan bakat seseorang untuk menciptakan
kesejahteraan dan lapangan pekerjaan. Upaya menjual komoditas yang bersifat
kreativitas ini diistilahkan dengan industri kreatif.

Dewasa ini, Indonesia mulai menggenjot laju industri kreatif yang menurut para
ahli ekonomi memiliki potensi yang sangat prospektif. Industri kreatif di Indonesia dan

1|Creative Hub di Denpasar


khususnya di Bali, telah menunjukan aktifitas yang menggembirakan.
Keanekaragaman budaya dan seni yang ada di Indonesia dan khususnya di Bali dapat
mempengaruhi potensi kreatif yang timbul pada masyarakat. Menurut Kementrian
Perdagangan Republik Indonesia dalam buku Pengembangan Industri Kreatif Menuju
Visi Ekonomi Kreatif 2025 menyebutkan bahwa industri kreatif dapat dikelompokkan
kedalam 14 sub sektor. Sub sektor tersebut diantaranya : periklanan, arsitektur, pasar
barang seni, kerajinan, desain, video (film dan fotografi), permainan interaktif (game),
musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti
lunak 50 (software), televisi dan radio, dan riset pembangunan. Ke- 14 sektor tersebut
merupakan acuan dalam pengembangan jenis usaha kreatif yang ada di Indonesia.
Berbagai komunitas yang mempunyai latar belakang berbeda seperti ke-14 sektor
tersebut, tumbuh dan berkembang di Bali, dan sangat menjanjikan . Sejumlah
komunitas ini mempunyai benang merah yang membuat mereka bisa dengan mudah
disatukan, yaitu kreativitas.

Berbagai forum dan organisasi lintas komunitas kreatif semakin menjamur di


Bali. Menurut Kementrian Koperasi dan UKM dikutip dari situs Balipost.com, ratio
wirausaha pada tahun 2016 di Indonesia mencapai angka 3,1 % meningkat dari ratio
sebelumnya yaitu sekitar 1,67 %. Khusus untuk di Bali, pertumbuhan industry mikro
dan kecil ( IMK ) pada tahun 2014 sebesar 116,093 unit atau 2,9 % meningkat
dibandingkan tahun 2013 sebesar 105,548 unit atau 2,7 %. Khususnya di kota
Denpasar, dengan kebijakan Walikota Denpasar I.B Rai Dharmawijaya Mantra dan
Wakil Walikota I GN Jaya Negara, melalui ekonomi kreatif angkat potensi pariwisata
mampu menyelamatkan keberadaan UMKM, serta mampu memunculkan ekonomi
kreatif anak muda. Hal ini akan muncul dengan sendirinya diikuti perjuangan anak
muda diberbagai bidang seperti dibidang kuliner, desain, film, dan lain sebagaianya
akan muncul dengan sendirinya diikuti tantangan semakin besar. Ciri khas dan dinamis
Denpasar sebagai Kota Kreatif selama ini adalah berbasis budaya unggulan, kaya
inovasi, sinergi IT dan teknologi digital, dikembangkannya sumber daya terbarukan,
dibangunnya multi nilai tambah secara ekonomi, sosial, edukasi, ekologi, dan kultural.

2|Creative Hub di Denpasar


Sementara menurut Walikota Rai Mantra, dilansir dari Baliekbis.com, jenis
Pengembangan Ekonomi Kreatif Kota Denpasar dari 16 Industri Kreatif yang ada dapat
mengembangkan 4 Industri Kreatif yaitu Animasi, Fashion, kerajinan dan Layanan
komputer & Piranti Lunak (Startup & Software). (Pur,2017 : Baliekbis.com).

Namun menjamurnya berbagai forum dan lintas komunitas kreatif di Bali tidak
serta merta diikuti ketersediaan wadah dari industri kreatif itu sendiri. Terlebih lagi,
keterbatasan lahan membuat para penggiat ekonomi kreatif terkendala dalam memiliki
kantornya sendiri. Tempat umum yang digunakan bekerja lepas atau freelancer atau
gathering oleh lintas komunitas penggiat ekonomi kreatif seperti café atau restaurant
terkadang menggunakan cahaya berintesitas rendah dan berwarna kekuningan untuk
menunjukan kesan hangat dan intim. Wadah penggiat ekonomi kreatif dan lintas
komunitas yang berbeda tentunya memiliki kebutuhan tersendiri untuk mendukung
aktivitas yang kondusif, terutama pada pencahayaan, dan kebutuhan ruang yang dapat
menyesuaikan kreatifitas dalam beraktifitas. Sehingga dapat dikatakan , tidak semua
tempat umum dapat menyesuaikan kebutuhan ruang para penggiat ekonomi kreatif dan
lintas komunitas kreatif.

Creative hub dapat menjadi solusi untuk mewadahi kegiatan lintas komunitas
dan industri kreatif . Secara umum hub adalah daerah pusat dari berbagai macam
aktivitas atau kegiatan. Biasanya hub identik dengan aktivitas terkait ekonomi kreatif
dan pengetahuan. Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan di hub, namun pada
dasarnya aktivitas yang dilakukan adalah berinteraksi dengan orang-orang dari
berbagai bidang pekerjaan dan latar belakang yang berbeda. Pada Creative hub sendiri,
fasilitas yang disediakan berupa Co-Working Space , Co-Office, Co-Maker serta
pelatihan dan edukasi berupa workshop oleh para penggiat ekonomi kreatif dalam hal
pemasaran, pengelolaan dan dalam bidang edukasi untuk peningkatan produktifitas dan
kualitas produk dari ekonomi kreatif itu sendiri. Dilansir dari recap.id, menurut survey
yang dilakukan oleh Co-Working Indonesia yang bekerja sama dengan perusahaan
riset Lab Kinetic , Ketersediaan fasilitas Co-Working Space di Indonesia umumnya
menghasilkan 4 fokus utama, antara lain : komunitas ( 74,2 % ), teknologi ( 67,7 % ),

3|Creative Hub di Denpasar


bisnis ( 67,7 % ), dan kewirausahaan sosial ( 64,5 % ). Sasaran pengguna dan pengunjung
co-working space mayoritas adalah pelaku startup digital ( 48,38 % ), pekerja lepas (
32,25 % ), komunitas ( 19,35 % ), mahasiswa ( 19,35 % ), wiarausahawan ( 19,35 % ),
dan industri kreatif ( 12,9 % ). Dari keempat fokus utama tersebut bisa disimpulkan
bahwa fasilitas Co-Working Space pada Creative Hub tidak hanya dinikmati bagi lintas
komunitas dan penggiat ekonomi kreatif, namun juga dari kalangan pelajar dan
mahasiswa. Dari segi arsitektural, gagasan yang diangkat adalah penonjolan karakter
kreatif, urban dan industrial yang attraktif, sehingga dapat menarik minat anak muda
untuk mengikuti kegiatan-kegiatan industry kreatif yang terdapat pada Creative-Hub.
Lokasi kota Denpasar dipilih berdasarkan pertimbangan kota Denpasar yang
merupakan ibu kota provinsi Bali sekaligus pusat dari pemerintahan dan kegiatan
ekonomi, sehingga diharapkan dapat menjadi wadah dari berbagai lintas komunitas dan
industri kreatif yang berada di kota Denpasar.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah di paparkan sebelumnya, dapat ditarik
rumusan permasalahan terkait dengan perancangan Creative Hub di Kota Denpasar,
sebagai berikut :

1. Bagaimana spesifikasi umum dan khusus dari rancangan Creative Hub di


Kota Denpasar ?
2. Apa saja kebutuhan ruang dan fasilitas yang dibutuhkan pada Creative Hub di
kota Denpasar ?
3. Bagaimana kriteria desain pada Creative Hub di kota Denpasar ?

1.2 Tujuan
Tujuan merupakan jawaban atas rumusan masalah yang tercipta dari latar
belakang dalam kaitannya pada perancangan Creative Hub di Kota Denpasar antara
lain sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui spesifikasi umum dan khusus dari rancangan Creative Hub
di Kota Denpasar

4|Creative Hub di Denpasar


2. Untuk mengetahui metode yang digunakan pada rancangan Creative Hub di
Kota Denpasar

3. Untuk mewujudkan perencanaan program fungsional, program performansi,


dan program arsitektural yang dapat diterapkan pada rancangan desain
Creative Hub di Kota Denpasar

4. Untuk mewujudkan kriteria tapak dan kriteria desainyang sesuai dengan


rancangan desain Creative Hub di kota Denpasar sehingga dapat memberikan
suasana nyaman bagi pengunjung.

1.3 Metode Penelitian


Metode penelitian ini digunakan untuk memecahkan permasalahan yang
dihadapi dalam penyusunan laporan tentang Creative Hub di kota Denpasar
yang dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu: mulai dari teknik
pengumpulan data, pengolahan data sampai teknik penyimpulan data.

a. Teknik Pengumpulan Data


Dalam teknik pengumpulan data, data yang diperoleh dapat dibedakan
menjadi 2 (dua) berdasarkan sumber datanya, yaitu :
1. Data Primer
Merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Beberapa
cara yang dilakukan dalam memperoleh data primer ini, antara lain :
• Wawancara
Data diperoleh dengan mengadakan tanya jawab (wawancara)
dengan pihak-pihak yang berkompeten yang mengerti tentang
potensi dan permasalahan mengenai Creative Hub . Dalam hal ini
melakukan wawancara dengan pengelola yang bersangkutan,
pedagang, dan masyarakat sekitar tentang hal-hal yang berkaitan
dengan Creative Hub , Co-Working Space, maupun pihak-pihak
penggiat ekonomi kreatif yang membutuhkan wadah dalam
berkreatifitas

5|Creative Hub di Denpasar


• Observasi
Data diperoleh melalui pengamatan langsung ke proyek sejenis
dengan cara dokumentasi/foto.
2. Data Sekunder
Merupakan data yang diperoleh tidak secara langsung dari sumbernya
dan telah dikumpulkan oleh pihak lain. Adapun cara yang dilakukan
dalam mendapatkan data sekunder mengenai Redesain Pasar Ikan
Kedonganan, yaitu:
• Studi Literatur
Yaitu mengumpulkan data atau materi dari buku/literatur yang telah
ada yang berkaitan dengan permasalahan yang di dibahas dalam
Redesain Pasar Ikan Kedonganan
• Data Internet
Yaitu memperoleh data dengan mencari data/ browsing ke internet
b. Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa untuk mendapatkan suatu
konsep yang nantinya akan digunakan dalam perancangan. Metode yang
digunakan dalam teknik analisis data, antara lain :
1. Deskripsi, yaitu memaparkan hal-hal yang berhubungan secara
sistematis dan berurutan sesuai dengan data yang diperoleh baik data
literatur maupun data dari instansi yang berhubungan dengan Creative
Hub
2. Komparasi, yaitu melakukan perbandingan terhadap bangunan/ proyek
sejenis yang digunakan sebagai data pendukung seperti memakai
perbandingan terhadap Creative Hub .

c. Teknik Penyimpulan Data


Yaitu menyimpulkan hasil dari data mengenai Creative Hub di Kota
Denpasar yang telah terkumpul. Kesimpulan diambil sebagai rangkuman
dari semua jawaban atas masalah yang telah diangkat. Setelah proses

6|Creative Hub di Denpasar


analisis terhadap data yang terkumpul selesai, maka dilanjutkan kedalam
penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan ini dilakukan dengan cara
membandingkan antara rumusan masalah dengan hasil analisis yang
didapat, sehingga akhirnya dapat diperoleh suatu kesimpulan pokok/ utama.

7|Creative Hub di Denpasar