Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini akan membahas mengenai latar belakang, rumusan masalah dan
tujuan yang berkaitan dengan topic perencanaan dan perancangan yang diambil.

1.1 Latar Belakang

Memelihara hewan merupakan aktivitas yang digemari oleh berbagai kalangan


baik anak-anak maupun dewasa. Melibatkan hewan dalam aktivitas sehari-hari
bukanlah hal yang baru di masyarakat. Bahkan, sejak lebih dari 120.000 tahun yang
lalu, manusia telah menjadikan serigala dan anjing sebagai teman untuk berburu
(Kalof,2007). Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya tengkorak serigala di
depan sebuah gua yang pernah dihuni oleh manusia purba. Selain itu ditemukan pula
bukti visual mengenai kehidupan manusia dengan kucing di zaman mesir kuno, dimana
bukti visual mengenai kehidupan manusia dengan kucing di zaman mesir kuno yang
dibuat sekitar 1600 SM.

1|Bali Pet Centre di Sanur


Beberapa alasan menjadi dasar pertimbangan untuk memelihara hewan, mulai
dari manfaat langsung seperti menjaga rumah, maupun manfaat psikologis bagi para
pemiliknya. Salah satu manfaat psikologis dari aktivitas memelihara hewan adalah
meningkatkan kemampuan untuk berempati (Vizek-Vidovic, Vlahovic-Stetic, &
Bratko, 2012). Rasa empati sendiri berkaitan erat dengan terbentuknya perilaku
prososial. Perilaku prososial merupakan perilaku yang dilakukan secara sengaja,
sukarela, menghasilkan manfaat bagi orang lain, dan dilakukan dengan motif yang
tidak ditentukan, dimana perilaku prososial terdiri dari perilaku menolong, berbagi, dan
menenangkan orang lain. (Eisenberg & Miller 1987).

Aktivitas memelihara hewan yang kian digemari dapat dilihat dari banyaknya
jumlah pemilik hewan di Indonesia. Data survey oleh World Society for the Protections
an Animal (WSPA) Mencatat jumlah populasi hewan peliharaan yang ada di Indonesia
sebanyak 23.000.000 ekor, dimana hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai
peringkat ke-lima pada jumlah populasi hewan peliharaan terbesar di Dunia.

Gambar 1.1 : Lima negara dengan populasi hewan peliharaan terbesar di dunia
menurut Batson
Sumber : World Society for the Protections an Animal (WSPA)

2|Bali Pet Centre di Sanur


Khususnya di Bali, aktivitas memelihara hewan dapat dilihat dari banyaknya organisasi
atau komunitas pecinta hewan, seperti BCC (Bali Cat Community), Bali Fun Dog Club,
BARC,BGSL (Bali Sugar Glider Lovers), dan lain-lain. Selain komunitas, banyaknya
breeder dan kompetisi-kompetisi hewan peliharaan dapat menjadi tolak ukur tingginya
minat memelihara hewan di Bali.

Sebagai makhluk hidup, hewan peliharaan juga berhak mendapatkan beberapa


perlakuan khusus terkait dengan perawatan kesehatan, kecantikan maupun pelatihan.
Sayangnya, perkembangan meningkatnya aktivitas memelihara hewan masih kurang
terimbangi dengan adanya fasilitas yang memadai untuk mengakomodasi kebutuhan
hobbies hewan. Menurut data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi
Bali, jumlah dokter hewan yang memperpanjang praktek hingga 2017 sebanyak 14
orang dokter, dan 34 pet shop yang terdapat di kota Denpasar, dengan catatan tidak
semua petshop memiliki fasilitas lengkap yang dapat memenuhi kebutuhan hewan
peliharaan, terlebih untuk jenis hewan peliharaan yang tidak umum seperti reptil, exotic
animal, dan lain-lain.

Permasalahan lainnya dalam aktivitas memelihara hewan di Bali adalah


kurangnya rasa tanggung jawab pemilik hewan peliharaan terhadap hewan
peliharaannya. Hal tersebut dapat dilihat dari maraknya penelantaran hewan maupun
penjualan hewan peliharaan secara bebas tanpa informasi maupun edukasi yang valid
kepada pembeli, mengingat setiap jenis hewan memerlukan penanganan khusus dan
lingkungan yang kondusif sesuai dengan karakter hewan peliharaan masing-masing.
Fenomena tersebut sangat kerap terjadi dalam transaksi jual-beli hewan di pasar
tradisional, dimanapembeli kerap kali membelikan hewan peliharaan untuk anak-anak
yang belum mengerti cara merawat dan memperlakukan hewan yang baik dan benar.
Menurut Drh. Ida Bagus Suryawangsa, 71 ribu populasi hewan yang tersebar di seluruh
kecamatan di Denpasar, 60 persen atau sekitar 42 ribu hewan tidak dipelihara dengan
baik, sehingga rentan terkena penyakit dan tidak terpenuhi kebutuhannya. (dikutip dari
artikel tribun-bali.com Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com.Penulis: I Wayan

3|Bali Pet Centre di Sanur


Erwin Widyaswara). Jumlah rumah singgah satwa di Bali yang menampung berbagai
hewan peliharaan terlantar pun tidak sedikit, seperti BAWA, BARC, Tio Russ, Villa
Kitty dan lain-lain. Hal tersebut menunjukan bahwa tidak semua peminat hewan
peliharaan dapat mengurus dan memenuhi kebutuhan hewan peliharaannya. Bali masih
memerlukan wadah untuk mewadahi peminat hewan peliharaan untuk menyalurkan
minatnya melalui sarana rekreasi yang bersifat edukatif dan informatif, sehingga
diharapkan dapat mengurangi penelantaran hewan peliharaan di Bali.

Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut, maka terbentuk sebuah gagasan


untuk membentuk Pet Centre sebagai solusi dari permasalahan – permasalahan
aktivitas memelihara hewan dalam satu tempat. Terdapat dua jenis fungsi utama yang
disediakan , yakni dalam bentuk pet care centre dan pet café. Pet Care Centre
merupakan tempat untuk memberikan pelayanan terhadap kebutuhan-kebutuhan
hewan peliharaan, seperti pet shop (melayani kebutuhan perlengkapan hewan
peliharaan), pet clinic (penanganan medis ), pet grooming, ( perawatan bulu, kuku, dan
bagian tubuh hewan lainnya), pet hotel (tempat penitipan hewan) dan juga sebagai
wadah aktivitas untuk pecinta hewan yang bersifat informatif . Sementara Fungsi
lainnya, yaitu Pet Café merupakan tempat rekreasi yang bersifat edukatif sebagai
wadah bagi pecinta hewan peliharaan, terutama bagi peminat tidak sanggup
memelihara hewan peliharaan agar mencegah penelantaran hewan. Pada Pet Café
pengunjung dapat menikmati hidangan yang disediakan sambil bermain bersama
hewan-hewan yang telah dijinakkan, baik di dalam ruangan , maupun di luar ruangan
(garden café). Dengan adanya ‘Pet Café’ diharapkan dapat menurunkan resiko
penelantaran hewan peliharaan yang kerap dilakukan oleh masyarakat yang
memaksakan kehendak untuk memelihara hewan, maupun memberikan wawasan yang
edukatif dan informatif mengenai hewan peliharaan. Sarana rekreasi berupa cat café
dipilih karena dapat menjadi alternative bagi pemilik hewan peliharaan yang
melakukan perawatan untuk bersantai sambil menunggu proses perawatan hewan
peliharaannya. Saat ini jumlah Pet Café yang berada di Bali masih sangat sedikit,

4|Bali Pet Centre di Sanur


sehingga dapat menjadi daya Tarik tersendiri sebagai sarana edukasi masyarakat urban,
serta menambah profit dari Pet Center itu sendiri.

Lokasi Pet Centre dipilih di daerah Sanur, dengan dasar pertimbangan daerah
sanur merupakan daerah pariwisata yang tidak jauh dari pusat kota dan permukiman
penduduk, sehingga baik fungsi Pet Care Centre dan pet café dapat saling mengisi.
Tidak jarang masyarakat local maupun wisatawan mengajak peliharaan mereka,
khususnya anjing, ke Pantai Sanur, sehingga Pet Centre dapat mewadahi kebutuhan
hewan peliharaan masyarakat umum, terutama pengunjung pantai Sanur. Keberadaan
Pet Café pada Pet Center juga akan menjadi sarana rekreasi baru yang dapat menarik
wisatawan dan masyarakat di sekitarnya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut, terdapat beberapa rumusan masalah


yang akan dibahas pada makalah ini, masalah tersebut yaitu :

• Apa saja spesifikasi umum dan khusus yang dibutuhkan Pet Centre
• Dimana Lokasi yang tepat untuk Pet Centre
• Bagaimana kriteria desain yang tepat untuk sebuah Pet Centre

1.3 Tujuan

Adapun tujuan yang diharapkan dari pemecahan masalah tersebut adalahsebagai


berikut :

• Dapat menentukan spesifikasi umum dan khusus yang dibutuhkan Pet Centre
• Dapat menentukan lokasi yang tepat untuk Pet Centre
• Dapat menentukan kriteria desain yang tepat untuk Pet Centre

1.4 Metode Pendekatan


Metode pendekatan dalam hal ini terdiri dari dua tahap yaitu metode pengumpulan data
dan metode pengolahan data.
1. Metode Pengumpulan Data

5|Bali Pet Centre di Sanur


Dalam mendapatkan data dan untuk menjawab permasalahan tersebut, penulis
menggunakan metode sebagai berikut :
a. Data Primer
Merupakan data yang didapatkan oleh penulis secara langsung dari objek
penelitian. Data primer tersebut penulis dapatkan melalui :
• Observasi
Jenis observasi yang penulis lakukan adalah Participant Observation,
yaitu penulis terjun langsung ke lokasi dan terlibat langsung dengan
sumber data.
• Wawancara
Wawancara yang dilakukan penulis adalah wawancara terstruktur, yaitu
penulis telah membuat daftar pertanyaan secara terstruktur untuk
ditanyakan kepada narasumber.

b. Data Sekunder
Data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh melalui media
perantara atau secara tidak langsung dengan cara mencari teori – teori yang
berkaitan dengan judul proposal, yang didapatkan dari media cetak berupa
buku, maupun media elektronik berupa jurnal online, e-book maupun
video.

• Metode Pengolahan Data


Metode pengolahan data berkaitan dengan analisis data dan metode komparatif
yaitu sebagai berikut :
a. Analisis Data
Analisis data dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara
kualitatif dan kuantitatif. Kualitatif yaitu menganalisis data mengenai
pengertian, fungsi, tujuan, aktivitas, dan fasilitas studi banding yang sudah
ada dengan cara mendeskripsikan data. Sedangkan kuantitatif yaitu
menganalisis data dengan cara perhitungan sistematis.

6|Bali Pet Centre di Sanur


b. Metode Komparatif
Metode komparatif yaitu teori-teori yang didapat selama penulis
mengikuti perkuliahan maupun literatur-literatur yang ada, digunakan
sebagai pembanding pada kenyataan yang terjadi di lapangan.

7|Bali Pet Centre di Sanur