Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN An.S DENGAN GANGGUAN


SISTEM PENCERNAAN GASTROENTERITIS AKUT (GEA)
DI RSUD SLEMAN YOGYAKARTA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak
Dosen Pembimbing : Ibu Septiana Fathonah S.Kep.,Ns.,M.Kep

Oleh :
Ardina Ade Pratama (2720162813)
3A

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO


YOGYAKARTA

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan keperawatan pada pasien An.S dengan gangguan sistem pencernaan


Gastroenteritis Akut di RSUD Sleman Yogyakarta. Laporan ini disusun untuk
memenuhi tugas individu Praktik Klinik Keperawatan Anak semester V,
disahkan pada :

Hari : senin- sabtu


Tanggal : 10-15 Desember 2018
Tempat : RSUD Sleman Yogyakarta

Praktikan

(Ardina Ade Pratama)

Pembimbing Lahan (CI) Pembimbing Akademik

( ) (Septiana Fathonah., M.Kep)

iii
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga
saya dapat menyelesaikan laporan Asuhan keperawatan pada pasien An.S
dengan gangguan sistem pencernaan Gastroenteritis Akut di RSUD Sleman
Yogyakarta.
Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu saya menerima segala saran dan kritik dari pembimbing agar saya
dapat memperbaiki makalah asuhan keperawatan ini.

Yogyakarta,November 2018

Penyusun

iv
DAFTAR ISI

Halaman Judul...........................................................................................................i
Lembar Pengesahan.................................................................................................ii
Kata Pengantar........................................................................................................iii
Daftar Isi.................................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang...........................................................................................1
B. Tujuan........................................................................................................3
BAB II KONSEP DASAR KEPERAWATA..........................................................4
A. Definisi Gastroenteritis Akut.....................................................................4
B. Etiologi Gastroenteritis Akut.....................................................................4
C. Manifestasi Klinis Gastroenteritis Akut.....................................................5
D. Klasifikasi Gastroenteritis Akut.................................................................5
E. Patofisiologi Gastroenteritis Akut..............................................................6
F. Pemeriksaan Penunjang Akut Gastroenteritis............................................9
G. Komplikasi Akut Gastroenteritis...............................................................9
H. Penatalaksanaan Akut Gastroenteritis.....................................................10
I. Proses Keperawatan Akut Gastroenteritis.................................................10
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian, Pengelompokan data, Analisa data
B. Diagnosa Keperawatan
C. Perencanaan, Rasional, Implementasi dan Evaluasi
D. Catatan perkembangan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gastroenteritis atau diare sampai saat ini masih merupakan masalah
kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju.
Menurut Suharyono (2008) gastroenteritis akut didefinisikan sebagai buang air
besar dengan tinja yang cair atau lembek dengan jumlah lebih banyak dari
normal, berlangsung kurang dari 14 hari. Sedangkan menurut Priyanto (2008)
gastroenteritis kronik yaitu yang berlangsung lebih dari 14 hari. Gastroenteritis
atau diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab
gastroenteritis yang terbanyak adalah gastroenteritis infeksi. Gastroenteritis
atau diare infeksi dapat disebabkan virus, bakteri, dan parasit.
Menurut Word Health Organization (WHO), di negara maju walaupun
sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden
gastroenteritis atau diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah
kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya
dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita
gastroenteritis atau diare infeksi. Tingginya kejadian gastroenteritis di negara
Barat ini oleh karena foodborne infections dan waterborne infections yang
disebabkan bakteri Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus
aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic
Escherichia coli (EHEC) (Sinaga, 2009).
Di Indonesia dari 2.812 pasien gastroenteritis atau diare yang
disebabkan bakteri yang datang kerumah sakit dari beberapa provinsi seperti
Jakarta, Jawa, Sumatra yang dianalisa dari 2004 s/d 2005. Menurut Mary
Phillips (2010) penyebab terbanyak adalah Vibrio cholerae 01, diikuti dengan
Shigella spp, Salmonella spp, V. Parahaemoliticus, Salmonella typhi,
Campylobacter Jejuni, V. Cholera non-01, dan Salmonella paratyphi A.
Berdasarkan data profil kesehatan 2011, jumlah kasus diare di Jawa
Tengah berdasarkan laporan puskesmas sebanyak 420.587 sedangkan kasus

1
gastroenteritis dirumah sakit sebanyak 7.648 sehingga jumlah keseluruhan
penderita yang terdeteksi adalah 428.235 dengan jumlah kematian adalah
sebanyak 54 orang. Dari laporan surveilan terpadu tahun 2010 jumlah kasus
diare didapatkan 15,3 % di Puskesmas, di rumah sakit didapat 0,20% pada
penderita rawat inap dan 0,05 % pasien rawat jalan. ( Haryawan, 2011).
Hal ini kalau tidak segera ditangani akan mengancam keselamatan klien
misalnya, jika terjadi dehidrasi akan menyebabkan syok hipovolemik, serta
dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan hai ini disebabkan oleh
kurangnya makanan yang tidak dapat diserap oleh tubuh dan kurangnya
masukan makanan yang masuk dalam tubuh. Oleh karena itu peran perawat
dalam menangani klien dengan gangguan gastroenteritis adalah dengan
memonitor intake dan output klien, monitor tanda-tanda vital, monitor asupan
makanan dan diet klien, menyarankan pada klien untuk banyak minum,
menjaga personal hygiene, dan menjaga lingkungan agar tetap nyaman dan
tenang ( Haryawan, 2011).
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengangkat masalah
Gangguan Sistem Pencernaan dalam laporan asuhan Keperawatan dengan
judul Asuhan keperawatan pada pasien An.S dengan gangguan sistem
pencernaan Gastroenteritis Akut di RSUD Sleman Yogyakarta.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dan gambaran secara nyata
dalam memberikan Asuhan keperawatan pada pasien An.S dengan gangguan
sistem pencernaan Gastroenteritis Akut di RSUD Sleman Yogyakarta.
Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat melakukan pengkajian keperawatan pada klien
dengan gastroenteritis akut;
b. Mahasiswa dapat menentukan masalah keperawatan pada klien
dengan gastroenteritis akut;

2
c. Mahasiswa dapat merencanakan asuhan keperawatan pada klien
dengan gastroenteritis akut;
d. Mahasiswa dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada klien
dengan gastroenteritis akut;
e. Mahasiswa dapat melakukan evaluasi keperawatan pada klien dengan
gastroenteritis akut;
f. Mahasiswa dapat mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien
dengan gastroenteritis akut.

3
BAB II
KONSEP DASAR KEPRAWATAN

A. Definisi
Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung, usus kecil dan usus
besar dengan berbagai kondisi patologis dari saluran gastrointestinal dengan
manifestasi diare, dengan atau tanpa disertai muntah, serta ketidaknyamanan
abdomen (Arif Muttaqin, 2011).

Gastroenteritis Akut adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambun


yang akut dengan kerusakan erosi pada bagian superficial (Mattaqin & kumala,
2011). Gastroenteritis Akut ditandai dengan dare dan pada beberapa kasus
muntah-muntah berakibat kekurangan cairan dan elektrolit (betz&linda, 2009).

B. Etiologi
Menurut Arif Muttaqin (2011) dan Suriadi (2010), penyebab dari
gastroenteritis sangat beragam , antara lain sebagai berikut :
a. Faktor infeksi :
1) Infeksi berbagai macam bakteri yang disebabkan oleh kontaminasi
makanan maupun air minum (enteropathogenic, escherichia coli,
salmonella, shigella, V. Cholera, dan clostridium).
2) Infeksi berbagai macam virus :enterovirus, echoviruses, adenovirus,
dan rotavirus. Penyebab diare terbanyak pada anak adalah virus
Rotavirus.
3) Jamur : kandida
4) Parasit (giardia clamblia, amebiasis, crytosporidium dan cyclospora)
b. Faktor non infeksi/ bukan infeksi :
1) Alergi makanan, misal susu, protein
2) Gangguan metabolik atau malabsorbsi : penyakit
3) Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan

4
4) Obat-obatan : Antibiotik, Laksatif, Quinidine, Kolinergik, dan
Sorbital. 5) Penyakit usus : colitis ulcerative, crohn disease,
enterocolitis
5) Emosional atau stress
6) Obstruksi usus
C. Manifestasi Klinis
Beberapa tanda dan gejala tentang diare menurut Suriadi (2010) antara lain:
1. Sering BAB dengan konsistensi tinja cair atau encer.
2. Terdapat luka tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit
menurun) ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
3. Kram abdominal.
4. Demam.
5. Mual dan muntah.
6. Anoreksia.
7. Lemah.
8. Pucat.
9. Perubahan TTV, nadi dan pernafasan cepat.
10. Menurun atau tidak ada pengeluaran urin.

D. Klasifikasi
1. Gastroenteritis akut
Gastroenteritis akut biasanya disebabkan oleh agen infeksi.
Patogenesisnya :
a. Mikroorganisme/makanan masuk ke dalam alat pencernaan
b. Mikrooerganisme tersebut berkembang biak setelah berhasil melewati
asam lambung
c. Mikroorganisme membentuk toksin (endotoksin)
d. Terjadi rangsangan pada mukosa usus sehingga terjadi hiperperistaltik
dan sekresi cairan untuk membuang mikroorganisme/makanan tersebut
sehingga terjadi diare
2. Gastroenteritis kronis

5
Dapat disebabkan oleh malnutrisi.
Patogenesisnya :
a. Infeksi bakteri misalnya E.Coli patogen yang sudah rentan.
b. Tumbuh secara berlebihan dari bakteri non patogen seperti
pseudomonas, proteus, stafilokokus dsb
c. Investasi parasit terutama entamuba Histilitica, candida dan trikuris
d. Gangguan Imunologik. Defisiensi secretary Ig A akan menyebabkan
tubuh tidak mampu mengatasi infeksi parasit dalam usus.

E. Patofisiologi
Menurut Muttaqin & Kumala (2011).patofisiologi dari Gastroenteritis
adalah meningkatnya motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal
merupakan akibat dari gangguan absorbsi dan ekskresi cairan dan elektrolit
yang berlebihan, cairan sodium, potasium dan bikarbonat berpindah dari
rongga ekstraseluler kedalam tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi
kekurangan elektrolit dan dapat terjadi asidosis metabolik.
Diare yang terjadi merupakan proses dari transpor aktif akibat
rangsangan toksin bakteri terhadap elektrolit ke dalam usus halus, sel dalam
mukosa intestinal mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan dan
elektrolit. Mikroorganisme yang masuk akan merusak sel mukosa intestinal
sehingga mengurangi fungsi permukaan intestinal. Perubahan kapasitas
intestinal dan terjadi gangguan absorbsi cairan dan elektrolit. Peradangan
akan menurunkan kemampuan intestinal untuk mengabsorbsi cairan dan
elektrolit dan bahan-bahan makanan ini terjadi pada sindrom malabsorbsi.
Peningkatan motilitas intestinal dapat mengakibatkan gangguan absorbsi
intestinal.
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ada 3 macam
yaitu:
1. Gangguan Osmotik Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak
dapat diserap akan menyebabkan tekanan dalam rongga yang tidak dapat
diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus. Isi

6
rongga usus yang 9 berlebihan akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada
dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam
rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi
rongga usus.
3. Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan
berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga
timbul diare.
Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri
kambuh berlebihan, selanjutnya timbul diare pula.
Dari ketiga mekanisme diatas menyebabkan :
1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan
gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik hipokalemia)
2. Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran
bertambah) 3. Hipoglikemia
3. Gangguan sirkulasi darah

7
F. Pathway
Faktor Mal Absorbsi Faktor Makanan Faktor Psikologi

Penyerapan sari – sari


makanan dalam saluran
pencernaan tidak
adekuat

Terdapat zat – zat yang Peradangan isi usus Gangguan motilitas usus
tidak dapat terserap

Tekanan osmotif
Gangguan sekresi Hiperperistaltik
meningkat

Sekresi air dalam elektrolit Turunya kemampuan


Reabsorbsi di dalam makanan menyerap
dalam usus meningkat
usus besar terganggu makanan

Merangsang usus
mengeluarkan isinya

BAB sering dengan DIARE


Inflamasi saluran
konsistensi encer pencernaan

Cairan yang keluar


Kulit sekitar anus Frekuensi defekasi
banyak
lecet dan teriritasi, Agen pirogenic Mual dan
kemerahan dan muntah
gatal, sering Dehidrasi BAB encer
digaruk dengan atau tanpa Suhu tubuh
darah meningkat Anoreksia

Kerusakan Gangguan Gangguan


integritas pemenuhan cairan eliminasi BAB Hipertermi Nutrisi
kulit dan elektrolit Diare kurang dari
kebutuhan
tubuhh
Proses Hospitalisasi
Gambar 1. Pathway Gastroenteritis Muttaqin & Kumala (2011).
MK: Ansietas/CEMAS

8
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang gastroenteritis menurut Suriadi (2010) adalah :
1. Laboratorium,
1. Pemeriksaan tinja : Makroskopis dan mikroskopis PH dan kadar gula
juga ada intoleransi gula biarkan kuman untuk mencari kuman
penyebab dan uji retensi terhadap berbagai antibiotik.
2. Pemeriksaan darah : perifer lengkap, Analisa Gas Darah (AGD),
elektrolit ( terutama Na, K, Ca, P Serum pada diare yang disertai
kejang ).
3. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin darah untuk mengetahui faal
ginjal. 4. Duodenal intubation untuk mengetahui kuman penyebab
secara kuantitatif dan kualitatif terutama pada diare kronik.
2. Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan.
3. Pemeriksaan intubasi duodenum.
4. Pemeriksaan Mikroskopik, untuk memeriksa Angka Leukosit memberikan
informasi tentang penyebab diare, letak anatomis dan mengetahui jika ada
nya peradangan atau bakteri yang emnyerang mukosa kolon bila ada.

H. Komplikasi
Beberapa komplikasi dari diare menurut Arif Muttaqin (2011).adalah :
1. Hipokalemia ( dengan gejala matiorisme hipotoni otot lemah bradikardi
perubahan elektrokardiogram ).
2. Hipokalsemia
3. Cardiac dysrhythimias akibat hipokalemia dan hipokalsemia.
4. Hiponatremi.
5. Syok hipovalemik.
6. Asidosis
7. Dehidrasi

9
I. Penatalaksanaan
Tanpa penanganan yang tepat, diare dapat mengakibatkan kekurangan
nutrisi, daya tahan tubuh terhadap infeksi menurun dan gangguan tumbuh
kembang pada anak. Pada balita, diare yang parah berisiko menyebabkan
dehidrasi hingga kematian

1. Penatalaksanaan medis menurut Arif Muttaqin (2011) adalah pengobatan


dengan cara pengeluaran diet dan pemberian cairan.
a. Diare tanpa dehidrasi memerlukan cairan tambahan berupa apapun
misalnya air gula, sari buah segar, air teh segar, kuah sup, air tajin,
ASI. Jangan memberikan air kembang gula, sari buah air dalam botol
karena cairan yang terlalu banyak mengandung gula akan
memperburuk diare
b. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF
Pemberian suplemen zinc merupakan salah satu cara yang
dimanfaatkan untuk membantu mengatasi diare pada balita, bersama
dengan pemberian cairan untuk rehidrasi. Untuk balita yang
mengalami diare akut yaitu pemberian suplemen zinc selama 10-14
hari. Untuk bayi di bawah 6 bulan, pemberian suplemen zinc sekitar
10 mg per hari.  Sementara itu, untuk balita yaitu 20 mg suplemen
zinc per hari.
c. Diare dengan dehidrasi sedang memerlukan cairan khusus yang
mengandung campuran gula dan garam yang disebut larutan dehidrasi
oral ( LRO ). LRO ini dibuat dengan mencampurkan sebungkus garam
rehidrasi kedalam 1 liter air bersih (oralit).
d. Diare dengan dehidrasi berat memerlukan cairan intravena disamping
LRO.

10
J. Pengkajian
1. Riwayat keperawatan
a) Dada terasa berat (seperti memakai baju ketat).
b) Palpitasi atau berdebar-debar.
c) Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) atau orthopnea, sesak
nafas saat beraktivitas, batuk (hemoptoe), tidur harus
menggunakan bantal lebih dari dua buah.
d) Tidak nafsu makan, mual dan muntah.
e) Letargi (kelesuan) atau fatigue (kelelahan).
f) Insomnia.
g) Kaki bengkak dan berat badan bertambah.
h) Jumlah urin menurun.
i) Serangan timbul mendadak atau sering kambuh.
2. Riwayat penyakit: hipertensi renal, angina, infark miokard kronis,
diabetes melitus, bedah jantung, dan disritmia.
3. Riwayat diet: intake gula, garam, lemak, kafein, cairan, alkohol.
4. Riwayat pengobatan: toleransi obat, obat-obatan penekan fungsi
jantung, steroid, jumlah cairan per-IV, alergi terhadap obat tertentu.
5. Pola eliminasi urine: oliguria, nokturia.
6. Merokok: perokok, cara/ jumlah batang perhari, jangka waktu.
7. Postur, kegelisahan, kecemasan.
8. Faktor predisposisi dan presipitasi: obesitas, asma, atau COPD
yang merupakan faktor pencetus peningkatan kerja jantung dan
mempercepat perkembangan CHF.
9. Evaluasi status jantung: berat badan, tinggi badan, kelemahan,
toleransi aktivitas, nadi perifer, displace lateral PMI/ iktus kordis,
tekanan darah, mean arterial pressure, bunyi jantung, denyut
jantung, pulsus alternans, Gallop’s murmur.
10. Respirasi: dispnea orthopnea, suara nafas tambahan (ronchi,
cracles, wheezing).

11
11. Tampak pulsasi vena jugularis, JVP >3 cm , hepatojugular
refluks.
12. Evaluasi faktor stress: menilai insomnia, gugup atau rasa cemas
atau takut yang kronis.
13. Palpasi abdomen: hepatomegali, splenomegali, asites.
14. Konjungtiva pucat, sklera ikterik.
15. Capilary refill time (CRT) > 2 detik, suhu akral dingin, diaforesis,
warna kulit pucat, dan pitting edema.

K. Diagnosa
Diagnosa yang mungkin muncul adalah :
e. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume
cairan aktif melalui diare dan muntah
f. Diare berhubungan dengan proses infeksi intestinal dan mal absorbs
g. Nyeri akut berhubungan dengan kram abdomen akibat peningkatan
motilitas dan irritasi sel mukosa intestinal
h. Gangguan integritas kulit / mukosa anal berhubungan dengan irritasi
akibat diare
i. Cemas berhubungan dengan Proses Hospitalisasi

12
1. Intervensi
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
Kekurangan volume cairan Balance cairan Fluid Managemen: Kehilangan cairan ekstreem
berhubungan dengan Indikator: 1. Monitor berat badan setiap menurunkan berat badan.

kehilangan volume cairan aktif 1. Tekanan darah DBN hari. Menyeimbangkan cairan

2. Puls periperal jelas 2. Set tetesan infus, disesuaikan


melalui diare dan muntah
3. Intake output 24 jam 3. Tingkatkan oral intake yang Dehidrasi menyebabkan

seimbang. sesuai. perubahan kimia darah dan status

4. Tidak gelisah/cemas 4. Monitor laboratorium yang hemodinamik

5. Mata tidak cekung relevan (BUN, HMT, albumin,

6. Turgor kulit baik total potein dll)

7. Membran mukus basah 5. Monitor status hemodinamik /

8. HB / HMT DBN vital sign. Retensi urine sebagai salah satu

9. Tidak ada suara nafas 6. Monitor tanda dan gejala tanda dehidrasi

tambahan retensi cairan dantanda-tanda Intake berlebihan menyebabkan

10. Berat badan stabil dehidrasi lainnya. udema paru, penimbunan cairan

11. Tidak ada asites 7. Monitor tanda over load; suara di rongga perut dan kulit.

12. Tidak ada edema nafas tambahan (RBB), asites


(Skala penilaian= 1:dikompromi, dan edema.
2: dikompromi cukup, 3:dikompromi 8. Jaga keakuratan catatan intake

13
sedang, 4:dikompromi ringan, dan output.
5:tanpa kompromi) 9. Berikan diet yang sesuai.
10. Monitor kehilangan
cairan; diare, muntah
11. Jelaskan tujuan tindakan.

Diare berhubungan dengan Bowel elleminasi Diarrhea management:


proses infeksi intestinal dan Indikator: 1. Identifikasi faktor penyebab Mengethaui penyebab diare

mal absorbsi 1. Tidak diare. diare. Mengetahui perkembangan diare


2. Pola eleminasi seperti 2. Monitor tanda dan gejala Mengetahui penyebab dan efek
biasanya. diare. dari diare.
3. Warna feaces normal. 3. Periksa feaces rutin. Untuk memperoleh efek obat
4. Fesces lunak dan berbentuk. yang optimal
5. Tidak konstipasi 4. Ajarkan penggunaan obat Mengetahui perkembangan diare
(Skala penilaian= antidiare yang tepat.
1:dikompromi, 2: 5. Anjurkan pasien / keluarga
dikompromi cukup, untuk mencatat / melaporkan
3:dikompromi sedang, warna, volume, frekwensi dan
4:dikompromi ringan, konsistensi feaces.
5:tanpa kompromi) 6. Evaluasi catatan pemasukan Diet rendah serat menurunkan
kandungan nutrisi. kerja intestinal, tinggi kalori dan

14
7. Anjurkan / berikan diet rendah protein mempertahankan stamina
serat, tinggi protein dan tinggi pasien.
kalori.

Nyeri akut berhubungan dengan Kontrol nyeri. Managemen nyeri:


kram abdomen akibat Indikator: 1. Kaji lokasi nyeri, Menentukan tindakan yang tepat
peningkatan motilitas dan irritasi 1. Mengenal faktor penyebab karakteristik nyeri, dan
sel mukosa intestinal 2. Mengenal onset nyeri kualitas Validasi keluhan nyeri
3. Menggunakan tindakan non 2. Observasi tanda non verbal
analgetik. terhadap ketidak nyamanan Meningkatkan support untuk
4. Menggunakan analgetik yang 3. Berikan informasi tentang beradaptasi dengan nyeri.
sesuai. nyeri, penyebab, dan rencana Menurunkan stimulus nyeri
5. Mengenal dan melaporkan antisipasi
gejala nyeri 4. Bantu keluarga untuk Menghambat respon nyeri
memberikan support.
(skala penilaian= 1:tidak pernah, 5. Kontrol faktor lingkungan
2:jarang, 3:kadang, 4:sering, terhadap respon ketidak
5:konsisten) nyamanan
6. Ajarkan penggunaan teknik
non farmakologi (relaksasi,
guided imagery, distaction,

15
hot/cold application, masage)
7. Berikan pertolongan /
pembebasan nyeri dengan
analgesik yang diresepkan.
8. Tingkatkan kedekuatan
istirahat / tidur.
9. Monitor kepuasan pasien
terhadap managemen nyeri
yang ditetapkan.

Gangguan integritas kulit / Integritas jaringan kulit / Skin survelence:


mukosa anal berhubungan mukosa Monitor kulit / perianal terhadap Diare terus menerus
dengan irritasi akibat diare Indikator: lecet / irritasi. menyebabkan irritasi pada
13. Bebas lesi jaringan Catat perubahan kulit / membran
perianal
(Skala penilaian= 1:dikompromi, mukosa
2: dikompromi cukup, 3:dikompromi Jelaskan keluarga tentang tanda
Deteksi dini
sedang, 4:dikompromi ringan, kerusakan kulit/ mukosa
5:tanpa kompromi) perianal.
Pertahankan kebersihan.
Mencegah infeksi

Cemas berhubungan dengan 1. Coping Coping enhancement:

16
diare persisten 2. Indikator: Minta pasien / kelurga untuk Menurunkan stress.
3. Menerima informasi mengutarakan situasi yang
mengenai penyakit dan menyebabkan stress.
perawatan. Nilai pasien / keluarga terhadap Kecemsan dapat terjadi karena

4. Mengungkapkan penerimaan pengetahuan proses penyakit. misinformasi terhadap penyakit

situasi Berikan informasi faktual Pemahaman yang memadai

5. (sakala penilaian= 1:tidak diagnosa, perawatan dan tentang penyakit dapat

pernah, 2:jarang, 3:kadang, prognosa penyakt. menurunkan kecemasan.

4:sering, 5:konsisten) Besarkan hati klien dengan


menggunakan sumber spiritual.

17
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. L. J, 2000. Hand Book of Nursing Diagnosa. EGC : Jakarta. Doengoes,


Marilynm E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. EGC.
Jakarta.
Doengoes, Marilynm E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. EGC.
Jakarta.
Haryawan, Edi. 2009. Kasus Diare. Diunduh dari
http://harianseputarindonesia.com. Diakses pada 4 April 2018.
Muttaqin Arif. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta. Salemba Medika.
Suharyono. 2008. Diare Akut. Jakarta : Gramedia.
Suriadi, Rita Yuliani. 2010. Asuhan Keperawatan Pada penyakit Dalam. Edisi 1.
Agung Seto. Jakarta.

18