Anda di halaman 1dari 13

ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL DENGAN

KOMPLIKASI : SOLUTIO PLASENTA

DISUSUN OLEH TINGKAT 2.A :


I PUTU PERMANA ADI WIJAYA (P07120217 033)
PUTU INDAH PRATIWI (P07120217 034)
GST AYU SEPTIAN MAYA DWI UTAMI (P07120217 035)
NI LUH PUTU EKA FEBY SUADNYANI (P07120217 036)
KOMANG AYU WINDAYANTI (P07120217 037)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
PRODI D4 KEPERAWATAN
TAHUN 2018

1
ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL DENGAN KOMPLIKASI :
SOLUTIO PLASENTA

1. Definisi
Solusio Plasenta merupakan terlepasnya plasenta yang
letaknya normal pada korpus uteri yang terlepas dari
perlekatannya sebelum janin lahir. (Rukiyah&Yulianti, 2010: 199)
Abrupsio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat
tertanamnya, sebelum waktunya. (Helen, 2007: 643)
Solusio Plasenta atau pelepasan prematur plasenta, ablasio
plasenta, atau perdarahan aksidental didefinisikan sebagai
pelepasan plasenta dari tempat implantasi normal sebelum
kelahiran janin.(www.obgyn-rscmfkui.com)

2. Etiologi
Solusio Plasenta hingga kini belum diketahui dengan jelas,
walaupun beberapa keadaan tertentu dapat menyertai seperti:
umur ibu yang tua (>35 tahun), karena kekuatan rahim ibu
berkurang pada multiparitas; penyakit hipertensi menahun,
karena peredaran darah ibu terganggu sehingga suplay darah ke
janin tidak ada; trauma abdomen, seperti terjatuh telengkup,
tendangan anak yang sedang digendong. Karena pengecilan
yang tiba-tiba pada hidramnion dan gamelli; tali pusat yang
pendek, karena pergerakan janin yang banyak atau bebas;
setelah versi luar sehingga terlepasnya plasenta, karena tarikan
tali pusat. (Rukiyah&Yulianti, 2010: 201)

3. Patofisiologi

Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta


atau uterus yang membentuk hematoma pada desidua, sehingga
plasenta terdesak dan akhirnya terlepas. Apabila perdarahan

2
sedikit, hematoma yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan
plasenta, perdarahan darah antara uterus dan plasenta belum
terganggu, dan tanda serta gejala pun tidak jelas. Kejadian baru
diketahui setelah plasenta lahir, yang pada pemeriksaan
didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan
bekuan darah yang berwarna kehitam-hitaman.
Biasanya perdarahan akan berlangsung terus-menerus
karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak
mampu untuk lebih berkontraksi menghentikan perdarahannya.
Akibatnya, hematomaretroplasenter akan bertambah besar,
sehingga sebagian akan menyelundup di bawah selaput ketuban
keluar dari vagina atau menembus selaput ketuban masuk ke
dalam kantong ketuban atau mengadakan ekstravasasi di antara
serabut-serabut otot-otot uterus.
Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat, maka seluruh
permukaan uterus akan berbercak biru atau ungu. Hal ini dsebut
uterus couvelaire (perut terasa sangat tegang dan nyeri). Akibat
keruakan jaringan miometrium dan pembekuan retroplasenter,
maka banyak trombosit akan masuk ke dalam peredaran darah
ibu, sehingga terjadi pembekuan intravaskuler di mana-mana,
yang akan menghabiskan sebagian besar fibrinogen. Akibatnya,
terjadi hipofibrinogenemi yang menyebabkan gangguan
pembekuan darah tidak hanya di uterus, akan tetapi juga pada
alat-alat tubuh lainnya.
(Rukiyah&Yulianti, 2010: 201-202)

4. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala abrupsio plasenta bergantung pada
derajat pemisahan. Sifatnya bisa ringan disertai nyeri punggung
dan kolik yang menyeluruh, dengan aktivitas uterus yang tidak
terkoordinasi diselingi relaksasi uterus. Perdarahan yang terjadi
bisa tersembunyi atau nyata. Gejala lawalabrupsio plasenta

3
sering kali disangka sebagai tanda persalinan prematur atau
palsu. Persepsei wanita tersebut terhadap nyeri dapat melebihi
proporsi yang dirasa pemeriksa; dapat terjadi peningkatan tonus
uteri di antara apa yang dirasa sebagai kontraksi, dan wanita
tersebut merasakan nyeri tekan lokal atau menyeluruh pada
uterus. Pada hipertonus klasik, karateristik rahim seperti papan
dan kaku uterus hanyar terjadi pada kasus abrupsio yang luas.
Tanda dan gejala lain bervariasi sesuai derajat pemisahan.
Pada derajat rendah, frekuensi denyut jantung janin masih
normal. Peningkatan derajat pemisahan akan menurunkan
frekuensi denyut jantung janin. Pergerakan janin juga akan
menurun atau hilang sama seklai selama 12 jam, sebelum tanda
dan gejala abrupsio muncul. Pada beberapa wanita, pergerakan
janin justru meningkat pada abrupsio yang luas dan perdarahan
yang hebat. Apabila seksiosesaria dapat dilakukan dengan
segera, kemungkinan bayi dapat hidup. Apabila sebaliknya,
maka gerakan janin akan terhenti.
Gejala dan tanda abrupsio yang lain adalah pembesaran
uterine (hanya terjadi pada perdarahan tersembunyi) dan syok.
Tingkat keparahan syok bergantung pada keparahan abrupsio.
Jangan sekali-kali berpikir bahwa jumlah kehilangan darah pada
ibu dari yang terlihat saja, sebab ada perdarahan yang
tersembunyi. Pembesaran uterus pada perdarahan yang
tersembunyi dapat diketahui dengan menandai tinggi
fundusuteri pada abdomen setiap 15 menit untuk mengetahui
peningkatannya. (Helen, 2007: 643)

5. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium : Hemoglobin, hematokrit, trombosit, waktu protombin,
pengecekan urine ( albumin ) waktu pembekuan, waktu tromboplastin
parsial, kadar fibrinogen, gen elektrolit plasenta. CBC, CT, BT, Elektroloit
( bila perlu)

4
2. Keadaan janin : Kardiootokografi, Doppler, laennec
3. USG : Menilai letak plasenta, usia kehamilan, dan keadaan janin secara
keseluruhan
4. Pemeriksaan Plasenta : Plasenta dapat diperiksa setelah dilahirkan.
Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas
(kreater) dan terdapat koagulun atau darah beku yang biasanya menempel
dibelakang plasenta yang disebut hematoma retroplasenter.

6. Penatalaksanaan Medis
a. Tindakan darurat.
Jika terjadi defisiensi, mekanisme pembekuan harus
dipulihkan sebelum melakukan upaya apapun untuk
melahirkan bayi. Berikan kriopresipitat, FFP atau darah
segar. Berikan terapi anti syok. Pantau keadaan janin terus
menerus.
Pecahkan selaput ketuban, jika mungkin, terlepas dari
kemungkinan cara pelahiran yang akan dipakai.
b. Tindakan spesifik.
1) Derajat 1
Jika pasien tidak dalam persalinan, tindakan menunggu
dengan pengawasan ketat merupakan indikasi, karena
pada banyak kasus perdarahan akan berhenti secara
spontan. Jika persalinan mulai terjadi, siapkan persalinan
per vaginam jika tidak ada komplikasi lebih lanjut.
2) Derajat 2
Siapkan pelahiran per vaginam jika persalinan
diperkirakan akan terjadi dalam waktu sekitar 6 jam,
terutama jika janin mati. Seksiosesarea sebaiknya
dilakukan jika terdapat bukti kuat adanya gawat janin
dan bayi mungkin hidup.
3) Derajat 3

5
Pasien selalu dalam keadaan syok, janin sudah mati,
uterus tetanik dan mungkin terdapat defekkoagulasi.
Setelah memperbaiki koagulopati, lahirkan per vaginam
jika dapat dikerjakan dalam waktu sekitar 6 jam.
Persalinan per vaginam tampaknya paling baik untuk
pasien multipara. Jika tidak, kerjakan seksiosesarea.
c. Tindakan-Tindakan Bedah
Seksiosesarea merupakan indikasi jika persalinan
diperkirakan akan berlangsung lama (lebih dari 6 jam), jika
perdarahan tidak memberi respons terhadap amniotomi
dan pemberian oksitosin encer secara hati-hati, dan jika
terjadi gawat janin dini (tidak berkepanjangan) dan janin
mungkin hidup.
Histerektomi jarang diperlukan. Uterus Couvelaire
sekalipun akan berkontraksi, dan perdarahan hampir akan
selalu berhenti jika defekkoagulasi sudah diperbaiki.
(www.obgyn-rscmfkui.com)

7. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi bisa terjadi pada ibu maupun janin
yang dikandungnya dengan kriteria
a. Komplikasi pada ibu yaitu perdarahan yang dapat
menimbulkan variasi turunnya tekanan darah sampai
keadaan syok, perdarahan tidak sesuai keadaan penderita
anemis sampai syok, kesadaran bervariasi dari baik sampai
koma.
b. Gangguan pembekuan darah: masuknya trombosit ke
dalam sirkulasi darah menyebabkan pembekuan darah
intravaskuler dan disertai hemolisis, tejadinya penurunan

6
fibrinogen sehingga hipofibrigen dapat mengganggu
pembekuan darah.
c. Oliguria menyebabkan terjadinya sumbatan glomerulus
ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin
berkurang.
d. Perdarahan postpartum: pada solusio plasenta sedang
sampai berat tejadi infiltrasi darah ke otot rahim, sehingga
mengganggu kontraksi dan menimbulkan perdarahan
karena atoniauteri; kegagalan pembekuan darah
menambah beratnya perdarahan
e. Sementara komplikasi yang terjadi pada janin antara lain:
asfiksia ringan sampai berat dan kematian janin, karena
perdarahan yang tertimbun di belakang plasenta yang
mengganggu sirkulasi dan nutrisi ke arah janin. Rintangan
kejadian asfiksia sampai kematian janin dalam rahim
tegantung pada seberapa bagian plasenta telah lepas dari
implantasinya di fundusuteri.
(Rukiyah & Yulianti, 2010: 202)

8. Pengkajian Keperawatan
1. Anamnesis: ibu mengeluh terjadi perdarahan disertai sakit
yang tiba-tiba diperut untuk menentukan tempat
terlepasnya plasenta. Perdarahan pervaginam dengan
berupa darah segar dan bekuan-bekuan darah. Pergerakan
anak mulai hebatkemudian terasa pelan dan akhirnya
berhenti tidak bergerak lagi). Kepala terasa pusing, lemas,
muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang, Ibu
kelihatan anemis tidak sesuai dengan banyaknya darah
yang keluar. Kadang-kadang ibu dapat menceritakan
trauma.

7
2. Inspeksi: pasien tampak gelisah, pasien terlihat pucat,
sianosis dan keringat dingin, terlihat darah keluar
pervaginam.
3. Palpasi: didapatkan hasil fundus teraba naik karena
terbentuknya retroplasentahematoma, uterus tidak sesuai
dengan kehamilan; uterus teraba tegang dan keras seperti
papan disebut uterus inbois(wooden uterus baik waktu his
maupun diluar his); nyeri tekan terutama ditempat
plasenta; bagian- bagian janin sudah dikenali, karena perut
(uterus) tegang.
4. Auskultasi: sulit dilakukan, karena uterus tegang. Bila
denyut jantung janin terdengar biasanya diatas 140
kali/menit, kemudian turun dibawah 100 kali/menit dan
akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas dari
sepertiganya.
5. Pada pemeriksaan dalam, teraba servik biasanya lebih
terbuka atau masih tertutup. Kalau servik sudah terbuka,
maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik
sewaktu his maupun di luar his; kalau ketuban sudah
pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini
akan turun kebawah dan pemeriksaan disebut prolapsus
plasenta.
6. Hasil pemeriksaan umum : tekanan darah semula mungkin
tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit
vaskuler, tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok,
Nadi cepat dan kecil filiformis.
7. Pemeriksaan laboratorium: urin: protein (-) dan reduksi (-);
Albumin (+) pada pemeriksaan sedimen terdapat silider
dan lekosit; darah: haemoglobin (Hb) anemi, pemeriksa
golongan darah, kalau bisa crossmatchtets.
8. Pemeriksaan plasenta sesudah bayi dan plasenta lahir,
maka kita harus memeriksa plasentanya. Biasanya

8
plasenta tampak tipis dan cekung dibagian plasenta yang
terlepas (kater) dan terdapat koagulan atau darah
dibelakang plasenta yang disebut
hematomaretroplasenter.
9. Pemeriksaan penunjang ultrasonografi (USG), akan
dijumpai perdarahan antara plasenta dan dinding
abdomen.
(Rukiyah&Yulianti, 2010: 202-204)
9. Diagnosis Keperawatan
a. Ketidakefektifan perfusi jaringan (perifer) berhubungan
dengan hipovolemia ditandai dengan conjungtiva anemis,
akral dingin, Hb turun, muka pucat, dan lemas.
b. Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai
terjadi distress/ pengerasan uterus, nyeri tekan uterus.

10.Intervensi
Tujuan dan
Intervensi
No. Diagnosis Kriteria Hasil Rasional
(NIC)
(NOC)
1. Ketidakefekti Setelah Monitor TD, frekuensi
fanperfusi diberikan tanda tanda nadi yang
jaringan Asuhan vital : rendah,
(perifer) b.d. Keperawatan monitor frekuensi RR dan
hipovolemiad selama 1x24 tekanan suhu tubuh yang
.d. jam, diharapkan darah, nadi, tinggi
conjungtivaa perfusi jaringan suhu, dan menunjukkan
nemis, akral pasien adekuat, status gangguan
dingin, Hb dengan kriteria pernafasan sirkulasi darah
turun, muka hasil : dengan
pucat, dan a. Konjungtiva tepat.
Observasi Mengantisipasi
lemas. tidak anemis
tingkat terjadinya shock

9
b. Suhu kulit pendarahan
ujung kaki setiap 15-20
dan tangan menit
Catat intake Produksi urin
hangat
dan output yang kurang dari
c. Hb normal
30 ml/jam
d. Muka tidak
menunjukkan
pucat, dan
penurunan
pasien tidak
fungsi ginjal
lemas.
Kolaborasi Cairan infus
dalam isotonic dapat
pemberian mengganti
terapi volume darah
infuseisotoni yang hilang
k akibat
pendarahan
Kolaborasi Transfusi darah
dalam dapat
pemberian mengganti
transfusi volume darah
darah yang hilang
apabila Hb akibat
rendah pendarahan
2. Nyeri akut Setelah Jelaskan Memberikan
b.d. diberikan askep, penyebab informasi
kontraksi diharapkan klien nyeri pada mengani
uterus dapat klien penyebab nyeri
ditandai beradaptasi yang dideritanya
terjadi dengan nyeri akan membuat
distress/ yang klien kooperatif
pengerasan dideritanya, dengan tindakan
uterus, nyeri dengan kriteria yang akan
tekan uterus. hasil: diberikan.

10
a. Klien dapat Ajarkan Teknik relaksasi
melakukan teknik distraksi
tindakan relaksasi pernapasan
untuk distraksi dapat
mengurangi pernapasan mendorong klien
nyeri. relaks dan
b. Klien memberikan
kooperatif klien cara
dengan mengatasi dan
tindakan mengontrol
yang tingkat nyeri
Berikan Posisi miring
diberikan
posisi yang mencegah
nyaman penekanan pada
(miring ke vena cava
kiri / kanan)
Berikan Meningkatkan
teknik relaksasi dan
relaksasi meningkatkan
masase pada koping dan
perut dan kontrol klien
punggung terhadap nyeri
Libatkan Melibatkan
suami dan suami dan
keluarga keluarga dapat
dalam memberikan
tindakan dukungan
pengontrolan mental kepada
nyeri klien
Kolaborasi Obat analgetik
dalam dapat
pemberian mengurangi
obat nyeri yang

11
analgetik dirasakan klien
dengan
memblok impuls
nyeri

11.Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi.

12.Evaluasi
a. Perfusi jaringan pasien adekuat.
b. Klien dapat mengontrol nyeri yang dideritanya.
c. Klien memahami keadaannya.

DAFTAR PUSTAKA

Rukiyah, AiYeyeh, S.Si.T dan Yulianti, Lia, Am.Keb, MKM. 2010.


Asuhan Kebidanan 4 (Patologi). Jakarta: CV. Trans Info Media

12
Helen, Varney. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Ed. 4, Vol. 1.
Jakarta: EGC

Wilkinson, Judith M. dan Ahern, Nancy R.. 2013. Buku Saku


Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC,
Kriteria Hasil NOC, Ed. 9. Jakarta: EGC

Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia RSCM. Solusio Plasenta.
http://www.obgyn-rscmfkui.com/berita.php?id=402 (diakses
pada hari Senin, 6 Maret 2015, 14:50 WITA)

Akademi Kebidanan Cipto Medan (Administrator). 2012.


Pentingnya Plasenta (Ari-Ari). http://akbidcipto.com/berita-
124-pentingnya-plasenta-ariari.html (diakses pada hari
Senin, 16 Maret 2015, 15:40 WITA)

13