Anda di halaman 1dari 23

TELAAH KURIKULUM

“Menelaah Kerangka Dasar Kurikulum KTSP dan K13,


Muatan Mata Pelajaran KTSP dan K13, dan Alasan
Pergantian KTSP ke K13”

DISUSUN OLEH:

NAMA MAHASISWA : Marlina Ayu Lestari


NIM : 2018143142

DOSEN PENGAMPU : Aldora Pratama, M.Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang
Menelaah Kerangka Dasar Kurikulum KTSP dan K13, Muatan Mata Pelajaran
KTSP dan K13, dan Alasan Pergantian KTSP ke K13
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan
hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa
teratasi. Olehnya, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini,
semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca
sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita
sekalian.

Indralaya, 31 Oktober 2019

Marlina Ayu Lestari

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 1
C. Tujuan .............................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan............................................. 2
B. Kurikulum 2013................................................................................ 8
C. Perubahan KTSP ke Kurikulum 2013............................................... 15

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ....................................................................................... 19
B. Saran ................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan lingkungan yang paling penting dalam membantu manusia untuk
mencapai perkembangannya. Oleh sebab itu, penyelenggaraan pendidikan merupakan suatu
keharusan. Pendidikan dan pembelajaran selalu diorientasikan pada pencapaian kompetensi–
kompetensi tertentu, baik berkaitan dengan pengembangan kecerdasan spiritual, intelektual,
emosional, sosial, maupun kreatif. Untuk mencapai hal tersebut maka diperlukan media yang
relevan dengan substansi berbagai kecerdasan tersebut. Media yang dimaksud adalah salah
satunya kurikulum. Kurikulum sebagai media pembelajaran memberikan makna terhadap proses
pendidikan dan pembelajaran di lembaga pendidikan, sehingga dimungkinkan terjadinya
interaksi antara pendidik dan peserta didik. Proses interaksi inilah yang akan mengantarkan pada
pencapaian tujuan pendidikan.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan baik secara
konvensional maupun inovatif. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan bahwa
tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan pada setiap jenis dan
jenjang pendidikan. Salah satunya untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu dengan
penyempurnaan kurikulum. Sampai pada penyempurnaan saat ini, yakni kurikulum 2013 yang
akan dibahas oleh penulis pada makalah ini.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan?
b. Bagaimana Kurikulum 2013?
c. Jelaskan alasan perubahan KTSP ke Kurikulum 2013?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Telaah
Kurikulum dan untuk pedoman belajar di kelas.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2006)


1. Landasan Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Pengembangan kurikulum merupakan proses dinamik sehingga dapat merespon terhadap
tuntutan perubahan struktural pemerintahan, perkembangan ilmu dan teknologi maupun
globalisasi. Kebijakan umum dalam pengembangan kurikulum harus sejalan dengan visi, misi,
dan strategi pembangunan pendidikan nasional yang dituangkan dalam kebijakan peningkatan
angka partisipasi, mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan (Oemar Hamalik, 2006: 3).
KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
tentang Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1), dan 2) sebagai berikut :
a. Pengembangan kurikulum mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan
Tujuan Pendidikan Nasional
b. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip
diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik (Mulyasa,
2007: 20).
Mulyasa (2007: 20) mengungkapkan beberapa hal yang perlu dipahami dalam kaitannya
dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah sebagai berikut :
a. KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik
daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
b. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan
silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, dibawah
supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota, dan departemen agama yang bertanggung jawab
dibidang pendidikan.
c. Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi
dikembangkan dan ditetapkan oleh masingmasing perguruan tinggi dengan mengacu pada
Standar Nasional Pendidikan.
Senada dengan itu Kunandar (2007: 140-141) mengungkapkan bahwa kurikulum
dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

2
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan
lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral
untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
b. Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik,
kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan tanpa membedakan agama, suku, budaya
dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender.
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
d. Kurikulum dikembangkan atas dasar bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum mendorong
peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni.
e. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan
(stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk
di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja.
f. Menyeluruh dan berkesinambungan
g. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian, keilmuan
dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua
jenjang pendidikan.
h. Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembuadayaan, dan pemberdayaan
peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
i. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan
daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan
nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan
motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3
Lebih lanjut Mulyasa (2007: 24) mengemukakan bahwa KTSP dilandasi oleh undang-
undang dan peraturan pemerintah sebagai berikut:
a) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
Dalam Undang-Undang Sisdiknas dikemukakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP)
terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan
prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan
secara berencana dan berkala.
b) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 adalah peraturan tentang Standar Nasional
Pendidikan (SNP). SNP merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh
wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam peraturan tersebut
dikemukakan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang dikembangkan berdasarkan
standar kompetensi lulusan (SKL), dan standar isi. SKL adalah kualifikasi kemampuan
lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Sedang standar isi adalah
ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang
kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus yang
harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
c) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 mengatur tentang standar isi untuk satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi, mencakup lingkup
materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan
minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
d) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 Standar Kompetensi Lulusan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 mengatur Standar Kompetensi
Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian
dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan meliputi standar
kompensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi
lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata
pelajaran, yang akan bermuara pada kompetensi dasar.
e) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan
Permendiknas no. 22 dan 23

4
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 24 Tahun 2006 mengatur tentang pelaksanaan
SKL dan Standar Isi. Dalam peraturan ini dikemukakan bahwa satuan pendidikan dasar dan
menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan
menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan sesuai kebutuhan satuan
pendidikan yang bersangkutan.
Dalam KTSP sekolah diberi kewenangan untuk mengembangkan kurikulum sendiri
sesuai dengan karakteristik sekolah atau daerah dimana sekolah itu berada. Satuan pendidikan
dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari
yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan panduan penyusunan KTSP pada satuan
pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasioanal Pendidikan (BSNP).
Sementara bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum atau tidak mampu
mengembangkan kurikulum sendiri dapat mengadopsi atau mengadaptasi model kurikulum
tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun oleh BSNP.

2. Komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


Dalam garis besarnya KTSP memiliki 5 komponen penting sebagai berikut:
1) Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan
Menurut pendapat Morrisey seperti dikutip oleh Mulyasa (2007: 176) bahwa visi adalah
representasi dari apa yang diyakini sebagai bentuk organisasi dimasa depan dalam pandangan
pelanggan, karyawan, pemilik dan stakeholder lainnya. Kunandar (2007: 145) menambahkan
dalam penyusunan visi satuan pendidikan harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Berorientasi ke depan
2) Dikembangkan bersama oleh seluruh warga sekolah
3) Merupakan perpaduan antara langkah strategis dan sesuatu yang dicita-citakan
4) Dinyatakan dalam kalimat yang padat bermakna tidak lebih dari 25 kata
5) Dapat dijabarkan ke dalam tujuan dan indikator keberhasilannya
6) Berbasis nilai dan mudah diingat
7) Membumi (kontekstual)
Lebih lanjut Kunandar (2007: 146) mengemukakan bahwa misi merupakan langkah
strategis menuju visi yang telah dirumuskan. Misi ditentukan berdasarkan visi satuan pendidikan
yang telah ditetapkan. Visi dan misi satuan pendidikan dapat dikembangkan oleh lembaga

5
masing-masing dengan memperhatikan potensi dan kelemahan masing-masing. Mulyasa (2007:
178) bahwa tujuan pendidikan satuan pendidikan merupakan acuan dalam mengembangkan
KTSP. Tujuan pendidikan satuan pendidikan sebagai berikut :
1) Pendidikan dasar, yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs./SMPLB/Paket B
bertujuan meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta
ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2) Pendidikan menengah, yang meliputi SMA/MA/SMALB/Paket C bertujuan meningkatkan
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta ketrampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

2) Struktur dan Muatan KTSP


Mulyasa (2007: 180) menyebutkan bahwa struktur Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
memuat:
I. Mata pelajaran
Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing tingkat satuan pendidikan tertera
pada struktur kurikulum yang tercantu Muatan lokal Muatan lokal merupakan kegiatan
kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi
daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak da pelajaran yang ada.
II. Muatan lokal
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang
disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang
materinya tidak da pelajaran yang ada.
III. Kegiatan pengembangan diri
Kegiatan pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat
setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah.
IV. Pengaturan beban belajar
Beban belajar dalam sistem paket digunakan oleh tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB,
SMP/MTs/SMPLB baik kategori standar maupun mandiri, SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK
kategori standar. Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) dapat digunakan oleh
SMP/MTs/SMPLB kategori mandiri, dan oleh SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK kategori

6
standar. Beban belajar dalam sistem kredit semester (SKS) digunakan oleh
SMA/MA/SMALB/SMK/MAK kategori mandiri.
V. Kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan
Kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan mengacu kepada standar penilaian yang
dikembangkan oleh BSNP. Meskipun demikian dalam pelaksanaannya, guru dan kepala
sekolah yang lebih memahami karakteristik peserta didik secara keseluruhan, dapat
mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan dalam memutuskan kenaikan kelas,
penjurusan, dan kelulusan bagi setiap peserta didik.
VI. Pendidikan kecakapan hidup
Kurikulum untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB/SMK/MAK, dapat
memasukkan pendidikan kecakapan hidup yang mencakup kecakapan pribadi, kecakapan
sosial, kecakapan akademik, dan/atau kecakapan vokasional. Pendidikan kecakapan hidup
dapat merupakan bagian dari pendidikan semua mata pelajaran, yang dapat diperoleh peserta
didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan dan atau dari satuan pendidikan formal lain
dan pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.
VII. Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global
Kurikulum untuk semua tingkat satuan pendidikan dapat memasukkan pendidikan berbasis
keunggulan lokal dan global. Pendidikan berbasis seunggulan lokal dan global dapat
merupakan bagian dari semua mata pelajaran, yang dapat diperoleh peserta didik selama
menempuh pendidikannya pada satuan pendidikan tertentu.

3. Kalender Pendidikan
Menurut Kunandar (2007: 151) satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun
kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta
didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat
dalam Standar Isi.

4. Silabus
Mulyasa (2007: 183) mengungkapkan bahwa silabus merupakan rencana pembelajaran
pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu yang mencakup standar kompetensi,
kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar

7
yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Dalam KTSP, silabus merupakan bagian dari
kurikulum tingkat satuan pendidikan, sebagai penjabaran standar kompetensi dan kompetensi
dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian
kompetensi untuk penilaian hasil belajar.

5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)


Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) menurut Mulyasa (2007: 183) merupakan
rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau
lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP
merupakan penjabaran lebih lanjut dari silabus, dan merupakan komponen penting dari
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), yang pengembangannya harus dilakukan secara
profesional.

B. Kurikulum 2013

a. Kerangka Dasar Kurikulum 2013


1. Landasan Filosofis
Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik
yang akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dari kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta
didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik dengan masyarakat dan lingkungan alam di
sekitarnya.  Kurikulum 2013 dikembangkan dengan landasan filosofis yang memberikan dasar
bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yang
tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Pada dasarnya tidak ada satupun filosofi
pendidikan yang dapat digunakan secara spesifik untuk pengembangan kurikulum yang dapat
menghasilkan manusia yang berkualitas. Berdasarkan hal tersebut, Kurikulum 2013
dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut.

1) Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini
dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan
berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun
kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih
baik di masa depan. Mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan masa depan selalu

8
menjadi kepedulian kurikulum, hal ini mengandung makna bahwa kurikulum adalah
rancangan pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa. Dengan
demikian, tugas mempersiapkan generasi muda bangsa menjadi tugas utama suatu
kurikulum. Untuk mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan peserta didik,
Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan
luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di
masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap mengembangkan
kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang yang peduli terhadap
permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini.
2) Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini,
prestasi bangsa di berbagai bidang kehidupan di masa lampau adalah sesuatu yang harus
termuat dalam isi kurikulum untuk dipelajari peserta didik. Proses pendidikan adalah
suatu proses yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan
potensi dirinya menjadi kemampuan  berpikir rasional dan kecemerlangan akademik
dengan memberikan makna terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dipelajari dari
warisan budaya berdasarkan makna yang ditentukan oleh lensa budayanya dan sesuai
dengan tingkat kematangan psikologis serta kematangan fisik peserta didik. Selain
mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan cemerlang dalam akademik,
Kurikulum 2013 memposisikan keunggulan budaya tersebut dipelajari untuk
menimbulkan rasa bangga, diaplikasikan dan dimanifestasikan dalam kehidupan pribadi,
dalam interaksi sosial di masyarakat sekitarnya, dan dalam kehidupan berbangsa masa
kini.
3) Pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan
akademik melalui pendidikan disiplin ilmu. Filosofi ini menentukan bahwa isi kurikulum
adalah disiplin ilmu dan pembelajaran adalah pembelajaran disiplin ilmu (essentialism).
Filosofi ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kecemerlangan
akademik.
4) Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari
masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap
sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan
bangsa yang lebih baik (experimentalism and social reconstructivism). Dengan filosofi

9
ini, Kurikulum 2013 bermaksud untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi
kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di masyarakat, dan
untuk membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik.

Dengan demikian, Kurikulum 2013 menggunakan filosofi sebagaimana di atas dalam


mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas,
berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi inteligensi yang sesuai dengan diri seorang peserta
didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan umat manusia. 

2. Landasan Sosiologis
Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar adanya kebutuhan akan perubahan rancangan
dan proses pendidikan dalam rangka memenuhi dinamika kehidupan masyarakat, bangsa, dan
negara, sebagaimana termaktub dalam tujuan pendidikan nasional. Dewasa ini perkembangan
pendidikan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,
dan seni. Perubahan ini dimungkinkan karena berkembangnya tuntutan baru dalam masyarakat,
dunia kerja, dan dunia ilmu pengetahuan yang berimplikasi pada tuntutan perubahan kurikulum
secara terus menerus. Hal itu dimaksudkan agar pendidikan selalu dapat menjawab tuntutan
perubahan sesuai dengan jamannya. Dengan demikian keluaran pendidikan akan mampu
memberikan kontribusi secara optimal dalam upaya membangun masyarakat berbasis
pengetahuan (knowledge-based society). 

3. Landasan Psikopedagogis
Kurikulum 2013 dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan perwujudan konsepsi
pendidikan yang bersumbu pada perkembangan peserta didik beserta konteks kehidupannya
sebagaimana dimaknai dalam konsepsi pedagogik transformatif. Konsepsi ini menuntut bahwa
kurikulum harus didudukkan sebagai wahana pendewasaan peserta didik sesuai dengan
perkembangan psikologisnya dan mendapatkan perlakuan pedagogis sesuai dengan konteks
lingkungan dan jamannya. Kebutuhan ini terutama menjadi prioritas dalam merancang
kurikulum untuk jenjang pendidikan menengah khususnya SMK. Oleh karena itu implementasi
pendidikan di SMK yang selama ini lebih menekankan pada pengetahuan, perlu dikembangkan
menjadi kurikulum yang menekankan pada proses pembangunan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan kejuruan peserta didik melalui berbagai pendekatan yang mencerdaskan, mendidik

10
dan memandirikan. Penguasaan substansi mata pelajaran tidak lagi ditekankan pada pemahaman
konsep yang steril dari kehidupan masyarakat melainkan pembangunan pengetahuan melalui
pembelajaran otentik. Dengan demikian kurikulum dan pembelajaran selain mencerminkan
muatan pengetahuan sebagai bagian dari peradaban manusia, juga mewujudkan proses
pembudayaan peserta didik sepanjang hayat. 

4. Landasan Teoritis
Kurikulum 2013 dikembangkan atas teori “pendidikan berdasarkan standar” (standard-
based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum).
Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal
warganegara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar
pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar
pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk
memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan
kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak.
Kurikulum 2013 menganut: (1) pembelajaan yang dilakukan guru (taught curriculum)
dalam bentuk proses yang dikembangkan berupa kegiatan pembelajaran di sekolah, kelas, dan
masyarakat; dan (2) pengalaman belajar langsung peserta didik (learned-curriculum) sesuai
dengan latar belakang, karakteristik, dan kemampuan awal peserta didik. Pengalaman belajar
langsung individual peserta didik menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar
seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum. 

5. Landasan Yuridis
Landasan yuridis Kurikulum 2013 adalah:
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional, beserta segala ketentuan yang dituangkan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional; dan
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional

11
Pendidikan.

b. Muatan Mata Pelajaran Kurikulum 2013

Struktur Kurikulum SD/MI terdiri atas mata pelajaran umum kelompok A dan mata
pelajaran umum kelompok B. Mata pelajaran umum kelompok A merupakan program kurikuler
yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan
kompetensi keterampilan peserta didik sebagai dasar penguatan kemampuan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mata pelajaran umum kelompok B merupakan
program kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi
pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik terkait lingkungan dalam bidang sosial,
budaya, dan seni. Khusus untuk MI, dapat ditambah dengan mata pelajaran keagamaan yang
diatur oleh Kementerian Agama. Struktur kurikulum SD/MI adalah sebagai berikut:

1) Mata pelajaran Kelompok A merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan
acuannya dikembangkan oleh pusat.
2) Mata pelajaran Kelompok B merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan
acuannya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan/konten lokal.
3) Mata pelajaran Kelompok B dapat berupa mata pelajaran muatan lokal yang berdiri
sendiri.
4) Muatan lokal dapat memuat Bahasa Daerah
5) Satu jam pelajaran beban belajar tatap muka adalah 35 menit.
6) Beban belajar penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri, maksimal 40% dari waktu
kegiatan tatap muka mata pelajaran yang bersangkutan.
7) Satuan pendidikan dapat menambah beban belajar per-minggu sesuai dengan kebutuhan
belajar peserta didik dan/atau kebutuhan akademik, sosial, budaya, dan faktor lain yang
dianggap penting.
8) Untuk Mata Pelajaran Seni Budaya dan Prakarya, satuan pendidikan wajib
menyelenggarakan minimal 2 aspek dari 4 aspek yang disediakan. Peserta didik
mengikuti salah satu aspek yang disediakan untuk setiap semester, aspek yang diikuti

12
dapat diganti setiap semesternya.
9) Khusus untuk Madrasah Ibtidaiyah struktur kurikulum dapat dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan yang diatur oleh Kementerian Agama.
10) Kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas Pendidikan Kepramukaan (wajib), usaha kesehatan
sekolah (UKS), palang merah remaja (PMR), dan lainnya sesuai dengan kondisi dan
potensi masing-masing satuan pendidikan.
11) Pembelajaran menggunakan pendekatan pembelajaran Tematik Terpadu kecuali mata
pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

Beban Belajar
Beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta didik dalam
satu minggu, satu semester, dan satu tahun pelajaran. Beban belajar di SD/MI dinyatakan dalam
jumlah jam pelajaran per minggu.
1) Beban belajar satu minggu Kelas I adalah 30 jam pelajaran.
2) Beban belajar satu minggu Kelas II adalah 32 jam pelajaran.
3) Beban belajar satu minggu Kelas III adalah 34 jam pelajaran.
4) Beban belajar satu minggu Kelas IV, V, dan VI adalah 36 jam pelajaran.
Beban belajar di Kelas I, II, III, IV, dan V dalam satu semester paling sedikit 18 minggu minggu
efektif. 3. Beban belajar di kelas VI pada semester ganjil paling sedikit 18 minggu minggu
efektif. Beban belajar di kelas VI pada semester genap paling sedikit 14 minggu minggu efektif.

Muatan Pembelajaran
Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada SD/MI dilakukan melalui pembelajaran dengan
pendekatan tematik-terpadu dari Kelas I sampai Kelas VI. Mata pelajaran Pendidikan Agama
dan Budi Pekerti dikecualikan untuk tidak menggunakan pembelajaran tematik-terpadu.
Pembelajaran tematik terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan
berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema seperti berikut ini.
Daftar Tema Kelas I, II, III, IV, V, dan VI Sekolah Dasar sebagai berikut:
1) Daftar Tema Kelas I
Diriku
Kegemaranku

13
Kegiatanku
Keluargaku
Pengalamanku
Lingkungan bersih, sehat, dan asri
Benda, hewan, dan tanaman di sekitarku
Peristiwa alam
2) Daftar Tema Kelas II
Hidup rukun
Bermain di lingkunganku
Tugasku sehari-hari
Aku dan sekolahku
Hidup bersih dan sehat
Air, bumi, dan matahari
Merawat hewan dan tumbuhan
Keselamatan di rumah dan perjalanan
3) Daftar Tema Kelas III
Perkembangbiakan hewan dan tumbuhan
Perkembangan teknologi
Perubahan di alam
Peduli lingkungan
Permainan tradisional
Indahnya persahabatan
Energi dan perubahannya
Bumi dan alam semesta
4) Daftar Tema Kelas IV
Indahnya kebersamaan
Selalu berhemat energy
Peduli terhadap lingkungan hidup
Berbagai pekerjaan
Pahlawanku
Indahnya negeriku

14
Cita-citaku
Tempat tinggalku
Makananku sehat dan bergizi
5) Daftar Tema Kelas V
Benda-benda di lingkungan sekitar
Peristiwa dalam kehidupan
Kerukunan dalam bermasyarakat
Sehat itu penting
Bangga sebagai bangsa Indonesia
Organ tubuh manusia dan hewan
Sejarah peradaban Indonesia
Ekosistem
Lingkungan sahabat kita
6) Daftar Tema Kelas VI
Selamatkan makhluk hidup
Persatuan dalam perbedaan
Tokoh dan penemu
Globalisasi
Wirausaha
Kesehatan masyarakat
Organisasi di sekitarku
Bumiku
Menjelajah angkasa luar

C. Alasan Perubahan Kurikulum KTSP ke K13

Perubahan Mendasar Kurikulum 2013 dengan Kurikulum 2006 (KTSP)


Kurikulum 2013 menggantikan Kurikulum 2006 atau yang lebih dikenal Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sejak Juli 2014. Terdapat empat esensi perubahan dalam
Kurikulum 2013, yaitu:
 standar kompetensi lulusan;

15
 standar isi;
 standar proses;
 standar penilaian.

Pembelajaran dalam Kurikulum 2013


Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 menguatkan pendekatan saintifik dalam proses
pembelajarannya melalui mengamati, menanya, mencoba, dan menalar. Selain itu, kurikulum ini
juga mendorong peserta didik untuk mencari tahu, bukan diberi tahu (discovery learning). Oleh
karena itu, kemampuan berbahasa sebagai alat komunikasi, pembawa pengetahuan, dan berpikir
logis, sistematis, dan kreatif juga dikuatkan dalam proses pembelajaran.

Proses Penilaian Kurikulum 2013


Proses penilaian juga mengalami perkembangan. Peserta didik akan diberikan
pertanyaan-pertanyaan yang lebih membutuhkan pemikiran mendalam (bukan hanya hafalan)
sehingga melatih kemampuan peserta didik dalam memahami dan berpikir kritis. Pada akhirnya,
pengajar juga harus mengukur proses kerja siswa, bukan hanya hasil kerja siswa.
Kurikulum ini didesain untuk menyiapkan anak didik menjadi manusia-manusia yang
kompeten dalam menjawab tantangan abad 21. Organisasi The Partnership for 21st Century
Skills (P21) menjelaskan kemampuan yang dibutuhkan untuk mencetak peserta didik yang
menguasai bidangnya secara profesional dan kompeten. Ketiga elemen itu adalah Life and
Career Skills, Learning and Innovation Skills, dan Information, Media and Technology Skills.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)


Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan Bab 1 Pasal 1 Ayat (15) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah
“Kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan
pendidikan.” KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 (KBK). Berdasarkan
definisi tersebut, maka pihak sekolah diberikan kewenangan penuh untuk mengembangkan dan
mengimplementasikan kurikulum. Implementasi KTSP menuntut kemampuan sekolah dengan

16
cara memberikan otonomi yang lebih besar kepada sekolah dalam pengembangan kurikulum
karena masing-masing sekolah lebih mengetahui tentang kondisi satuan pendidikannya. Hal itu
juga dipertimbangkan dari keberagaman sekolah dan komponen-komponen pendidikan yang ada
di dalamnya seperti tenaga pendidik, peserta didik, lingkungan, alat-alat pendidikan, kurikulum,
dan fasilitas yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.

Tujuan KTSP
Secara umum, KTSP dilaksanakan dengan tujuan untuk memandirikan dan
memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga
pendidikan. KTSP memberikan kesempatan kepada sekolah untuk berpartisipasi aktif dalam
pengembangan kurikulum. Secara khusus tujuan diterapkan KTSP adalah:
 Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam
mengembangkan kurikulum, mengelola, dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
 Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan
kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
 Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan
yang akan dicapai.

Karakteristik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)


Sebagai sebuah konsep dan program, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan memiliki
karakteristik sebagai berikut.
 KTSP menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun
klasikal. Dalam KTSP peserta didik dibentuk untuk mengembangkan pengetahuan,
pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat yang pada akhirnya akan membentuk
pribadi yang terampil dan mandiri.
 KTSP berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
 Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendeketan dan metode yang bervariasi.
 Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur
edukatif.
 Penilaian yang menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau
pencapaian suatu kompetensi (Kunandar, 2007:138).

17
Dilihat dari karakteristiknya, kewenangan tingkat satuan pendidikan atau sekolah untuk
mengembangkan dan mengelola kurikulum lebih besar. Hal ini memungkinkan berkurangnya
materi pembelajaran yang banyak dan padat, tersusunnya perangkat standar dan patokan
kompetensi yang perlu dikuasai oleh peserta didik, berkurangnya beban tugas guru yang selama
ini sangat banyak dan beban belajar siswa yang selama ini sangat berat, serta terbukanya
kesempatan bagi sekolah untuk mengembangkan kemandirian sesuai dengan kondisi yang ada di
sekolah. Kebehasilan atau kegagalan implementasi kurikulum di sekolah sangat bergantung pada
kepala sekolah dan guru karena dua figur tersebut merupakan kunci yang menentukan dan
menggerakkan berbagai komponen di lingkungan sekolah.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, makalah ini telah membahas tentang
landasan pengembangan KTSP, komponen KTSP, kalender pendidikan, silabus, dan RPP. Dalam
kurikulum 13, makalah ini telah membahas mengenai landasan pengembangan K13, muatan
mata pelajaran, dan beban belajar. Alasan perubahan dalam KTSP menjadi K13 adalah
perubahan mendasar, pembelajaran dalam K13, proses penilaian, tujuan KTSP dan karakteristik
KTSP.
B. Saran
Makalah ini tentu masih mempunyai banyak kekurangan dan kesalahan, karena itu
kepada para pembaca untuk berkenan menyumbangkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi bertambahnya wawasan kami di bidang ini. Akhirnya kepada Allah jualah
penulis memohon taufik dan hidayah. Semoga usaha penulis ini mendapat manfaat yang baik,
serta mendapat ridho dari Allah SWT. Amin ya rabbal ‘alamin.

19
DAFTAR PUSTAKA

Asri, M. 2017. Dinamika Kurikulum Di Indonesia. Jurnal Program Studi Pendidikan Guru
Madrasah Aliyah. Volume 4 Nomor 2. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Endarta. 2018. Kerangka Dasar Kurikulum 2013. Artikel dipublikasikan.


http://putrautama.id/index.php/kurikulum-2013/kerangka-dasar-kurikulum-2013/8-
kurikulum. Diakses pada tanggal 31 Oktober 2019 pukul 19.23 WIB.

Melayu, jamaris. 2014. KI-KD, Beban Belajar, dan Muatan Pembelajaran Kurikulum SD/MI.
https://www.jamarismelayu.com/2014/09/ki-kd-beban-belajar-dan-muatan.html. Diakses
pada tanggal 31 oktober 2019 pukul 18.36 WIB

Pendidikan, membumikan. 2019. Perubahan Mendasar Kurikukum 2013 dengan Kurikulum


2006. https://www.membumikanpendidikan.com/2015/01/perubahan-mendasar-kurikulum-
2013.html. Diakses pada tanggal 31 oktober pukul 19.42 WIB

Rohman, Abdul. 2015. Perbandingan Konsep Kurikulum KTSP 2006 dan Kurikulum 2013
(Kajian Standar Isi Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Jenjang SMP). Skripsi
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Dipublikasikan. Semarang: Universitas Islam
Negeri Walisongo.

20