Anda di halaman 1dari 6

2.

1 Pemberantasan Penyakit Menular


Program pemberantasan penyakit menular mempunyai peranan dalam
menurunkan angka kesakitan dan kematian. Tujuan tersebut dapat dicapai
dengan penerapan teknologi kesehatan secara tepat oleh petugas kesehatan
yang didukung peran aktif masyarakat.
1. ISPA (Infeki Saluran Pernapasan Akut)

ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang utama. Beberapa


penyakit ISPA antara lain adalah influenza, sinusitis, laryngitis, faringitis,
tonsilitis, epiglotitis dan pneumoni. Pneumonia merupakan salah satu penyakit
ISPA yang menjadi pembunuh utama balita di Indonesia. Oleh karena itu
upaya Pemberantasan dan Pencegahan ISPA (P2ISPA), merupakan hal yang
sangat penting dilakukan baik oleh tenaga kesehatan maupun oleh masyarakat
sampai ketingkat keluarga yaitu orang tua terutama yang mempunyai balita.
Menurut WHO tahun 2012, sebesar 78% balita yang datang berkunjung ke
pelayanan kesehatan adalah akibat ISPA (Mardiah, dkk, 2017)

Salah satu yang berisiko tinggi terkena ISPA adalah anak-anak berusia
di bawah dua tahun, karena dapat mengalami penurunan daya tahan tubuh.
Komplikasi terberat terjadi jika infeksi mencapai paru-paru. Penyakit
influenza hingga saat ini masih mem-pengaruhi sebagian besar populasi
manusia setiap tahunnya. Menurut WHO dikatakan bahwa Virus influenza ini
mudah bermutasi, memproduksi strain baru, mungkin saja manusia tidak atau
belum mempunyai imunitas terhadapnya. Ketika keadaan ini terjadi, influenza
bisa berkembang dengan cepat. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
juga dikatakan bahwa, secara global influenza diperkirakan menyerang 5-10%
populasi orang dewasa dan 20-30% pada populasi anak (Mardiah, dkk, 2017)

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat,


melansir bahwa grafik penyebaran penyakit menular di wilayah Kabupaten
Pangandaran mengalami fluktuasi (naik-turun). Berdasarkan laporan Bidang
Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kabid P2PL
Dinkes Pangandaran, mengatakan bahwa penyakit yang rentan menular di
Pangandaran, diantaranya ISPA. Penularan influenza pada Balita seringkali
terjadi, Influenza akibat virus ditandai demam tinggi tiba-tiba, batuk kering,
sakit kepala dan sendi, lemas, radang tenggorokan,pilek dan batuk yang
berlangsung hingga dua minggu. Dampak yang yang paling dirasakan adalah
sesak nafas, pilek, demam, kelelahan dan kele-mahan sehingga balita
berkurang aktifitasnya, padahal proses tumbuh kembang pada balitas
sangatlah penting. Jika tidak segera ditangani dengan benar, hal ini dapat
menyebabkan penyakit lainnya seperti Otitis media, faringitis, pneumonia dan
penyakit infeksi lainnya (Mardiah, dkk, 2017)

Virus influenza sangat mudah menular, termasuk dari cipratan cairan


penderita, misalnya saat berbicara. Umumnya, orang dewasa yang terinfeksi
bisa menularkan pada orang lain sejak satu hari sebelum gejala dialami hingga
5-7 hari setelah sakit. Gejalanya mulai terjadi 1-4 hari setelah virus masuk
tubuh (Mardiah, dkk, 2017)

Pencegah penularan ISPA dapat dilakukan dengan imunisasi, ada


vaksin tiga jenis virus utama flu yang formulanya berganti tiap tahun untuk
menghindari risiko virus kebal pada vaksin. Cara lain yang utama adalah
menjaga daya tahan tubuh lewat perilaku hidup sehat, termasuk
mengkonsumsi makanan bergizi seimbang dan cukup istirahat (Mardiah, dkk,
2017).

Sebelum dibawa ke Puskesmas, Rumah Sakit atau ke tempat praktek


pengobatan, sangatlah penting bagi kader dan orang tua balita untuk
memahami penyakit ini meliputi gejala gejalanya dan bagaimana
penanganannya di rumah. Kader kesehatan adalah tenaga yang berasal dari
masyarakat yang dipilih oleh masyarakat dan bekerja bersama untuk
masyarakat secara sukarela dan dilatih untuk menanggani masalah-masalah
kesehatan perseorangan maupun masyarakat serta untuk bekerja dalam
hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan
kesehatan terutama tentang pencegahan dan perawatan balita dengan ISPA
(Mardiah, dkk, 2017).

Perawatan penyakit ISPA pada balita di rumah yang melibatkan


keluarga (orang tua balita) karena keluarga (orang tua) merupakan orang yang
pertama mengetahui tanda dan gejala ISPA, demikian pula petugas puskesmas
seperti perawat dan bidan yang merupakan tenaga kesehatan di daerah
tersebut. Peran serta orang tua, kader kesehatan dan perawat serta bidan
puskesmas sangat diperlukan untuk pencegahan dan perawatan penyakit ISPA
pada balita tersebut agar balita dapat beraktifitas kembali sehingga tumbuh
kembang tidak mengalami hambatan berjalan secara optimal dan jika ini
berhasil angka kesakitan dan kematian pada balita juga menurun. Jika sudah
terkena ISPA yang lebih berat, anak balita harus mendapat perawatan di
Rumah Sakit dengan biaya yang cukup besar. Selain ditempatkan di unit
perawatan intensif (ICU), pasien mendapat obat penunjang di luar anti virus
flu, termasuk antibiotik guna mencegah infeksi sekunder oleh bakteri
(Mardiah, dkk, 2017).

2. TB-Paru

TB yang diupayakan pemberantasannya dari bumi Indonesia kini telah


merebak kembali bahkan Indonesia tercatat sebagai Negara yang memberikan
kontribusi penderita TB nomor 3 terbesar di dunia setelah India dan Cina.
Penyakit tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang masih tetap
merupakan masalah kesehatan di dunia. Tuberkolosis (TB) adalah suatu
penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobakterium tubercolosis,
sebagian besar kuman TB menyerang paru tetapi juga dapat menyerang organ
tubuh lainnya. Bakteri Mycobakterium tubercolosis ini berbentuk batang,
mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, sehingga
dikenal juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Dalam jaringan tubuh kuman
ini dapat dormant atau tertidur lama selama beberapa tahun. Bakteri ini
pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1982,
sehingga untuk mengenang jasanya bakteri ini diberi nama Koch. Bahkan,
penyakit TB pada paru-paru disebut sebagai Koch Pulmonum (KP) (wahyudi,
dkk, 2019).
Sumber penularan adalah penderita TB-BTA positif. Pada waktu batuk
atau bersin, penderita menyebarkan kuman dalam bentuk droplet (percikan
dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu
kamar selama beberapa jam tergantung dari ada tidaknya sinar ultraviolet,
ventilasi yang buruk dan kelembapan. Dalam suasana yang lembab dan gelap
kuman dapat bertahan berhari hari sampai berbulan bulan. Orang dapat
terifeksi kalau droplet terhirup ke dalam saluran pernapasan. Kuman tersebut
dapat menyebar dari paru-paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistim
peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran napas, atau penyebaran
langsung ke bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita
ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin
tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita
tersebut ) (wahyudi, dkk, 2019).
a. Pencegahan
Beberapa tingkat dalam pencegahan penyakit antara lain )
(wahyudi, dkk, 2019):
1) Pencegahan tingkat pertama (primary prevention)
Sasaran pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat
kesehatan dan pencegahan khusus terhadap penyakit tertentu.
2) Pencegahan tingkat kedua (secondary prevention)
Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit melalui
diagnosis dini dan pengobatan tepat.
3) Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention)
Sasaran terhadap penderita penyakit tertentu jangan sampai
bertambah berat penyakitnya atau cacat dan meliputi rehabilitasi
Sejauh ini cara terbaik untuk mencegah tuberculosis adalah dengan
diagnosis kasus infeksi dengan cepat dan setelah diagnosis ditegakkan
kemudian memberikan pengobatan dan penanganan yang tepat. Perawatan
di rumah sakit di anjurkan pada fase awal, dalam hal ini dengan perawatan
di rumah sakit menghindarkan penyebaran tuberculosis di lingkungan
tempat tinggal dari penderita. Selain itu memungkinkan penderita untuk
mendapatkan penanganan yang tepat dan istirahat yang cukup yang dapat
mempercepat masa penyembuhannya, yang mungkin sulit untuk
didapatkan dilingkungan tempat tinggalnya. Selain itu ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya
infeksi, antara lain ) (wahyudi, dkk, 2019) :
1) Terhadap infeksi TB
a) Pencegahan terhadap sputum yang infeksius yaitu, dengan isolasi
penderita, mengobati serta ventilasi rumah harus baik.
b) Pengelolaan sputum dengan cara meludah pada suatu wadah atau
tempat yang tertutup.
c) Pasteurillisasi oleh karena banyak susu sapi yang menderita TB
2) Meningkatkan daya tahan tubuh
a) Memperbaiki standar hidup yaitu makan 4 sehat 5 sempurna,
perumahan dengan ventilasi yang cukup, tidur teratur dan olaraga
b) Meningkatkan daya tahan tubuh dengan vaksinasi BCG.
3) Pencegahan dengan mengobati penderita yang sakit, terapi INH
diberikan kepada:
a) Semua orang yang kontak dengan pasien TB Paru
b) Pasien yang toraks fotonya mencurigakan proses TBC yang
lama.
c) Pasien TBC yang inaktif.
b. Pengobatan
Obat ± obatan tuberkolosis (OAT) digolongkan atas dua kelompok
yaitu ) (wahyudi, dkk, 2019):
1) Obat primer: Isozianid (INH), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin,
Pirazinamid, memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan
toksisitas yang masih dapat disembuhkan dengan obat ± obatan ini.
2) Obat sekunder: Etionamid, Paraminosalisilat, Sikloserin, Amikasin,
Karepreomisin dan Kanamisin
Departemen kesehatan melalui Program TBC Nasional, telah
bekerja sama dengan Rumah Sakit (RS), Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM), dokter praktek pribadi, organisasi keagamaan dan ingin
meningkatkan kerja sama dengan kelompok masyarakat pekerja dan
pengusaha untuk memberantas TB Paru.