Anda di halaman 1dari 66

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP LANSIA DENGAN

PEMANFAATAN POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT


TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS JATIWARNA KOTA BEKASI

TAHUN 2019

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh :

NAMA : TENI SULISTIOWATI

NPM : 175059042

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA
JAKARTA
2019
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP LANSIA DENGAN
PEMANFAATAN POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT
TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS JATIWARNA KOTA BEKASI

TAHUN 2019

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar Sarjana

Kesehatan Masyarakat (SKM)

Oleh :

NAMA : Teni Sulistiowati

NPM : 175059042

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA
JAKARTA
2019
PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Teni Sulistiowati

NPM : 175059042

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “Hubungan

Pengetahuan Dan Sikap Lansia Dengan Pemanfaatan Pos Pembinaan

Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) Di Wilayah Kerja

Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019” adalah benar-benar hasil karya

sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya, dan

belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya

bertanggung jawabkan atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan skripsi

ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa adanya

tekanan dan paksaan dari pihak manapun serta bersedia mendapat sanksi

akademik jika ternyata di kemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Jakarta, Maret 2019

Yang Menyatakan

Teni Sulistiowati
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini diajukan oleh :

Nama : Teni Sulistiowati

NPM : 175059042

Program Studi : Kesehatan Masyarakat (S1)

Peminatan : Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

Judul Skripsi : Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Lansia Dengan Pemanfaatan


Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU
PTM) Di Wilayah Kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun
2019

dengan ini menyatakan bahwa skripsi tersebut diatas adalah karya saya sendiri
belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam daftar pustaka dibagian akhir skripsi ini.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Di buat di : Jakarta

Tanggal : Maret 2019

Yang Menyatakan,

Teni Sulistiowati
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Respati Indonesia, saya yang bertanda tangan
dibawah ini :

Nama : Teni Sulistiowati

NPM : 175059042

Program Studi : Kesehatan Masyarakat (S1)

Peminatan : Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku

Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Respati Indonesia atas karya ilmiah saya yang berjudul : Hubungan
Pengetahuan Dan Sikap Lansia Dengan Pemanfaatan Pos Pembinaan Terpadu
Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) Di Wilayah Kerja Puskesmas
Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019. Dengan memberikan hasil karya (Skripsi)
kepada Universitas Respati Indonesia, maka Universitas berhak menyimpan dan
mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa
perlu meminta ijin dari saya sebelum mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Di buat di : Jakarta

Tanggal : Maret 2019

Yang Menyatakan

Teni Sulistiowati
PERNYATAAN PERSETUJUAN

JUDUL SKRIPSI

Skripsi ini telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing dan ketua Program

Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu KesehatanUniversitas Respati


Indonesia

Jakarta, Maret 2019

Pembimbing

(Prof. Dr. drg. Budiharto, SKM)

NIP.

Mengetahui,

Ketua Program Studi

(Zainal Abidin, MSc)

NIDN. 030506490
LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL SKRIPSI

Skripsi ini telah diperiksa dan disahkan oleh tim penguji ujian sidang skripsi

Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Respati Indonesia guna melengkapi syarat-syarat untuk mencapai

gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

Jakarta, Maret 2019

Ketua

( )

NIDN.

Anggota

( )

NIDN.

Anggota

( )
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS RESPATI INDONESIA
PROGRAM SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT (SKM)
Skripsi, Maret 2019

Teni Sulistiowati
Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Lansia Dengan Pemanfaatan Pos Pembinaan
Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) Di Wilayah Kerja
Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019.
xviii+ xx halaman, xx tabel, x gambar, x lampiran
ABSTRAK
POSBINDU PTM merupakan suatu bentuk pelayanan yang melibatkan peran
serta masyarakat melalui upaya promotif-preventif untuk mendeteksi dan
mengendalikan secara dini keberadaan faktor risiko PTM secara terpadu.
Berdasarkan Data dinas Kesehatan Kota Bekasi Tahun 2018, distribusi
POSBINDU PTM untuk wilayah Kota Bekasi sebanyak xxx POSBINDU yang
tersebar di 31 wilayah kerja puskesmas. Di puskesmas Jatiwarna terdapat 51
POSBINDU.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap lansia
dengan pemanfaatan pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (POSBINDU
PTM) di wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019.
Metode penelitian menggunakan analitik observasional dengan desain Cross
Sectional study yang bersifat kuantitatif, dengan sampel yang digunakan
berjumlah 100 orang yang dijadikan sebagai responden. Teknik pengambilan
sampel menggunakan proportional random Sampling. Analisis data menggunakan
analisis univariat dan analisis bivariat. Hasil uji statistik menggunakan analisis
Chi- Square, data dikumpulkan dengan wawancara dan kuesioner. Penelitian
dilakukan pada bulan April 2019.
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara tingkat
pengetahuan lansia dengan (p value 0,04) , sikap lansia dengan (p value 0,017)
terhadap pemanfaatan pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu
PTM) di wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi tahun 2019.
Daftar bacaan : 34 (2003-2017)
Kata kunci : Pengetahuan, Sikap, Pemanfaatan Pos Pembinaan Terpadu
(Posbindu)
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS
Nama : Teni Sulistiowati
NPM : 175059042
Peminatan : Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku(PKIP)
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 4 Mei 1990
Alamat : Graha Raflesia Blok F11/10 Desa Ciakar,
Kecamatan Panongan Citra Raya Kabupaten
Tangerang

II. RIWAYAT PENDIDIKAN


1. TK TUNAS KUWERA tahun 1995-1996
2. SDN SUKATANI 1 DEPOK tahun 1996-2002
3. SMPN 11 DEPOK tahun 2002-2005
4. SMAN 4 DEPOK tahun 2005-2008
5. AKDEMI KEPERAWATAN PASAR REBO tahun 2008-2011

III. RIWAYAT PEKERJAAN


1. Rumah Sakit ADMIRA Pulomas Kayu Putih Jakarta Timur
2. RSIA Harapan Mulia Tigaraksa Tangerang
3. Ciputra Hospital Citra Raya Tangerang
4. Enumerator RISKESDAS Kabupaten Tangerang

Jakarta, Maret 2019

( Teni Sulistiowati)
DAFTAR LAMPIRAN

1. Informed Consent ( Persetujuan responden)


2. Instrumen Penelitian (Kuesioner)
3. Surat balasan Penelitian
4. Catatan Bimbingan Dosen
5. Gambar Denah Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi
6. Gambar kegiatan selama mengadakan penelitian di wilayah kerja
Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi
KATA PENGANTAR

Dengan rahmat Allah SWT dan puji syukur atas kehadirat dan karunia –
Nya yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
proposal Skripsi dengan judul “Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Lansia Dengan
Pemanfaatan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU
PTM) Di Wilayah Kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019.”

Penulisan proposal skripsi ini dimaksudkan sebagai suatu syarat dalam


menyelesaikan Program Sarjana Kesehatan Masyarakat (S1 ) Universitas Respati
Indonesia. Dalam penulisan proposal skripsi ini, saya menyadari masih jauh dari
sempurna, sehingga masih terdapat kekurangan baik dalam penyusunan materi
maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan karena keterbatasan, kemampuan
penulis, namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, proposal
skripsi ini dapat selesai dengan baik.

Pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima


kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Prof. Dr. Tri Budi Wahyuni Rahardjo, drg, MS selaku Rektor Universitas
Respati Indonesia
2. Dr. Hadi Siswanto, SKM, MPH selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Respati Indonesia
3. Zainal Abidin, Msc selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat
Universitas Respati Indonesia
4. Prof. Dr. drg. Budiharto, SKM selaku dosen Pembimbing skripsi yang
senantiasa memberikan bimbingan, masukan serta motivasinya pada
penulis
5. .................. selaku dosen Penguji materi skripsi yang senantiasa
memberikan perhatian, masukan serta motivasinya kepada penulis
6. .................... selaku Pembimbing lapangan yang senantiasa memberikan
bimbingan dan motivasi kepada penu lis
7. ..................... selaku Kepala Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi yang telah
memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian
8. Seluruh teman-teman yang bertugas di puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi
9. Seluruh kader-kader kesehatan yang bertugas membantu di lapangan di
wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi
10. Seluruh responden yang telah membantu dalam penelitian yang
dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi
11. Kedua orang tua, suami dan anakku yang telah mendoakan dan
memberikan dukungan baik moril maupun materiil
12. Seluruh teman-teman mahasiswa Urindo yang selama ini bersama-sama
berjuang dalam menempuh pendidikan di Universitas Respati Indonesia.
Dan semua pihak yang sadar atau pun tidak sadar telah memberikan
bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa
penulis sebutkan satu persatu.
Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan
berharap skripsi ini dapat memberikan banyak manfaat.

Jakarta, Maret 2019

Teni Sulistiowati
DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL ............................................................................................. i

LEMBAR PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT .............................................

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................ iii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ........................... iii

LEMBAR PERSETUJUAN JUDUL SKRIPSI............................................ iii

LEMBAR PENGESAHAN JUDUL SKRIPSI.................................................. ii

ABSTRAK ........................................................................................................ iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP.......................................................................... iv

KATA PENGANTAR ......................................................................................... iv

DAFTAR ISI ....................................................................................................... vii

DAFTAR TABEL ............................................................................................... ix

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... ix

DAFTAR SINGKATAN ..................................................................................... xi

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ x

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1-17

1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah Dan Pertanyaan Penelitian ................................... 4
1.2.1 Rumusan Masalah ...............................................................
1.2.2 Pertanyaan Penelitian .........................................................
1.3 Tujuan Penelitian ..............................................................................
1.3.1 Tujuan Umum ..................................................................
1.3.2 Tujuan Khusus ..............................................................
1.4 Manfaat Penelitian ...............................................................................
1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti .....................................................
1.4.2 Manfaat Bagi institusi Pendidikan Universitas Respati
Indonesia ..........
1.4.3 Manfaat Bagi Puskesmas ............................................

BAB II KAJIAN PUSTAKA ...........................................................................

2.1 Deskripsi Teori ..............................................................................

2.1.1 Pengertian Pengetahuan ..............................................................

2.1.2 Tingkat Pengetahuan .............................................................

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ....................

2.1.4 Proses Memperoleh Pengetahuan ...........................................

2.1.5 Fungsi Pengetahuan ...............................................................

2.1.6 Pengukuran Pengetahuan .............................................................

2.2 Pengertian Sikap ..............................................................................

2.2.1 Fungsi Sikap ..........................................................................

2.2.2 Ciri-ciri Sikap .........................................................................

2.2.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Sikap ...................................

2.2.4 Pembentukan Sikap ...............................................................

2.2.5 Perubahan Sikap ..............................................................

2.2.6 Pengukuran Sikap ...................................................................

2.3 Pengertian Lansia ................................................................................

2.3.1 Batasan Lansia ..............................................................

2.4 Pengertian Penyakit Tidak Menular.. ....................... 18

2.5 Pengertian Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu


PTM)...... 25
2.6 Pengertian Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan ..................................

2.7 Penelitian Yang Relevan .....................................................................

2.8 Kerangka Teori ..................................................................................

2.8.1 Faktor Pendukung ...................................................................

2.8.2 Faktor Pemungkin ..................................................................

2.8.3 Faktor Penguat .......................................................................

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN ............................................................

III.1 Kerangka Konsep-Variabel ...........................................................


III.2 Hipotesis .........................................................................................
III.3 Definisi Operasional .......................................................................

BAB IV METODE PENELITIAN .................................................................

4.1 Pendekatan Penelitian .............................................................


4.2 Tempat dan waktu Penelitian ...................................................
4.3 Instrumen Penelitian .....................................................................
4.4 Populasi dan Sampel Penelitian .................................................
4.4.1 Populasi ......................................................................................
4.4.2 Sampel ...................................................................................
4.5 Teknik Pengumpulan Data ...........................................................
4.6 Analisis Data ........................................................................
4.7 Metode Penelitian .........................................................................
4.7.1 Analisis Univariat .................................................................
4.7.2 Analisis Bivariat ....................................................................
4.7.3 Uji Chi Square ........................................................................

BAB V HASIL PENELITIAN ........................................................................

5.1 Gambaran Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi


5.2 Analisa Data ..................................................................
5.2.1 Hasil Uji Analisis Univariat ...............................................
5.2.2 Pengetahuan Dan Sikap Lansia Dengan Pemanfaatan Pos
Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU
PTM) .......................................................................
5.3 Hasil uji Analisis Bivariat ...........................................................

BAB VI PEMBAHASAN .................................................................................

6.1 Keterbatasan Penelitian .............................................................


6.2 Pembahasan Penelitian ............................................................
6.2.1 Hubungan Pengetahuan Lansia Dengan Pemanfaatan Pos
Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM)
Di Wilayah Kerja Puskesmas Jatiwarna Tahun 2019 ................
6.2.2 Hubungan Sikap Lansia Dengan Pemanfaatan Pos Pembinaan
Terpadu Penyakit Tidak Menular (POSBINDU PTM) Di Wilayah
Kerja Puskesmas Jatiwarna Tahun 2019 ....................................

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN .............................................................

7.1 Simpulan ....................................................................................

7.2 Saran ..............................................................................................

7.2.1 Bagi Peneliti Lain .................................................................

7.2.2 Bagi Lansia .........................................................................

7.2.3 Bagi Institusi Puskesmas ......................................................

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Jenis Ketenagaan di Puskesmas Ballaparang Tahun 2015.................... 57

Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur ....................... 59

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .............................. 59

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir .................... 60

Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ...................... 61

Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan............................ 61

Tabel 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan ............................ 62

Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan ................................. 62

Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Status Kesehatan .......................... 63

Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Penyakit yang diderita ...... 63

Tabel 4.11 Distribusi Responden Berdasarkan Dukungan Kader Kesehatan ...... 64

Tabel 4.12 Distribusi Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga ................... 64

Tabel 4.13 Distribusi Responden Berdasarkan Pemanfaatan Posbindu................ 65

Tabel 4.14 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pemanfaatan Posbindu ........ 65

Tabel 4.15 Hubungan Status Pekerjaan dengan Pemanfaatan Posbindu ............. 66

Tabel 4.16 Hubungan Pengetahuan dengan Pemanfaatan Posbindu ................... 67


Tabel 4.17 Hubungan Status Kesehatan dengan Pemanfaatan Posbindu ............ 68

Tabel 4.18 Hubungan Dukungan Kader Kesehatan dengan Pemanfaatan


Posbindu....................... 69

Tabel 4.19 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pemanfaatan Posbindu ........ 70

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.7 : Kerangka Teori ........................................................................

Gambar 3.1 : Kerangka Konsep ...................................................................


DAFTAR SINGKATAN

APE = Arus Puncak Ekspirasi

CBE = Clinical Breast Examination

DEPKES = Departemen Kesehatan

DINKES = Dinas Kesehatan

GDS = Gula Darah Sewaktu

IVA = Inspeksi Visual Asam asetat

LSM = Lembaga Swadaya Masyarakat

NCD = Non Communicable Disease

KEMENKES = Kementerian Kesehatan

PJK = Penyakit Jantung Koroner

PKK = Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga

POSBINDU = Pos Pembinaan Terpadu

PPOK = Penyakut Paru Obstruktif Kronik

PTM = Penyakit Tidak Menular

UKBM = Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat


UIN = Universitas Islam Negeri

WHO = World Health Organization

DAFTAR LAMPIRAN

1. Kuesioner Penelitian
2. Surat Izin Penelitian dari Fakutas Kesehatan Masyarakat Universitas Respati
Indonesia
3. Surat Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi
4. Surat Izin Penelitian dari Puskesmas Jatiwarna
5. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari Puskesmas Jatiwarna
6. Master Tabel
7. Hasil Analisis SPSS
8. Dokumentasi Hasil Penelitian
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pola kejadian penyakit saat ini telah mengalami perubahan yang ditandai
dengan transisi epidemiologi. Perubahan pola penyakit yang semula
didominasi oleh penyakit infeksi beralih pada penyakit tidak menular (PTM).
Perhatian dunia terhadap penyakit tidak menular semakin meningkat seiring
dengan peningkatan frekuensi kejadiannya. Dua dari sepuluh penyebab utama
kematian di dunia disebabkan oleh penyakit tidak menular, stroke dan
penyakit jantung iskemik bahkan menjadi penyebab kedua teratas baik di
negara maju maupun berkembang (WHO, 2014).
Penyakit tidak menular telah menjadi penyebab utama kematian secara
global pada saat ini (Shilton, 2013). Data WHO menunjukkan bahwa
sebanyak 57 juta (63%) angka kematian yang terjadi di dunia dan 36 juta
(43%) angka kesakitan disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular. Global
status report on NCD World Health Organization (WHO) tahun 2010
melaporkan bahwa 60% penyebab kematian semua umur di dunia adalah
karena PTM dan 4% meninggal sebelum usia 70 tahun. Seluruh kematian
akibat PTM terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60 tahun, 29% di
negara-negara berkembang, sedangkan di negara-negara maju sebesar 13%
(Remais, 2012). Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi PTM
mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013, antara lain
kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi.
Prevalensi kanker naik dari 1,4 % (Riskesdas 2013) menjadi 1,8%; prevalensi
stroke naik dari 7 % menjadi 10,9%; dan penyakit ginjal kronik naik dari 2 %
menjadi 3,8 %. Berdasarkan pemeriksaan gula darah, diabetes melitus naik
dari 6,9 % mejjadi 8,5 %; dan hasil pengukuran tekanan darah, hipertensi naik
dari 25,8 % menjadi 34,1 %.
Salah satu bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang
baru dikembangkan oleh Pemerintah sesuai dengan rekomendasi WHO agar
memusatkan penanggulangan PTM melalui tiga komponen utama, yaitu
surveilans faktor risiko, promosi kesehatan, dan pencegahan melalui inovasi
dan reformasi manajemen pelayanan kesehatan adalah pos pembinaan terpadu
penyakit tidak menular (Posbindu PTM) (Kemenkes, 2012).
Dalam hal mencegah berbagai faktor risiko secara dini. Salah satu strategi
adalah dengan pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat. Masyarakat
diberi fasilitas dan bimbingan dalam mengembangkan wadah untuk berperan,
dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali masalah di
wilayahnya, mengidentifikasi, merumuskan dan menyelesaikan
permasalahannya sendiri berdasarkan prioritas dan potensi yang ada. Upaya
pengendalian PTM dibangun berdasarkan komitmen bersama dari seluruh
elemen masyarakat yang peduli terhadap ancaman PTM melalui Posbindu
PTM. Posbindu PTM merupakan suatu bentuk pelayanan yang melibatkan
peran serta masyarakat melalui upaya promotif-preventif untuk mendeteksi
dan mengendalikan secara dini keberadaan faktor risiko PTM secara terpadu.
Posbindu PTM merupakan peran serta masyarakat dalam melakukan
kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTM Utama yang
dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik. Faktor risiko penyakit tidak
menular (PTM) meliputi merokok, konsumsi minuman beralkohol, pola
makan tidak sehat, kurang aktifitas fisik, obesitas, stres, hipertensi,
hiperglikemi, hiperkolesterol serta menindak lanjuti secara dini faktor risiko
yang ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasilitas
pelayanan kesehatan dasar.
Pengembangan Posbindu PTM merupakan bagian integral dari sistem
pelayanan kesehatan, diselenggarakan berdasarkan permasalahan PTM yang
ada di masyarakat dan mencakup upaya promotif dan preventif serta pola
rujukannya. Komitmen Negara dalam upaya pencegahan dan pengendalian
PTM tercantum dalam Undang-Undang RI No.36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan pasal 158 ayat 1 yang menyatakan bahwa pemerintah, pemerintah
daerah dan masyarakat melakukan upaya pencegahan, pengendalian dan
penanganan PTM beserta akibat yang ditimbulkan. Untuk itu deteksi dini
faktor risiko PTM berbasis masyarakat perlu untuk dikembangkan.
Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kota Bekasi tahun 2018, distribusi
Posbindu PTM untuk wilayah Bekasi sebanyak xxx Posbindu yang tersebar di
31 wilayah kerja puskesmas (Dinkes Kota Bekasi, 2018) Berdasarkan data
dari Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi, jumlah kunjungan Posbindu PTM
pada tahun 2017 sebanyak xxx kunjungan sedangkan pada tahun 2018
mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar xxx kunjungan (Profil
Puskesmas Jatiwarna, 2018).
Perilaku seseorang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan ditentukan
oleh tiga faktor, yaitu faktor predisposisi (antara lain pengetahuan, sikap,
kepercayaan, nilai, karakteristik individu), faktor pemungkin (antara lain
ketersediaan sarana kesehatan, jarak tempuh, hukum pemerintah, keterampilan
terkait kesehatan), dan faktor penguat (antara lain keluarga, teman sebaya,
guru, tokoh masyarakat) (Handayani, 2012). Di antara ketiga faktor tersebut,
pengetahuan dan sikap sangat penting karena sebagai faktor predisposisi
perilaku seseorang.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap lansia dengan
pemanfaatan pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM)
di wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019.

1.2 Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian


1.2.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka penulis tertarik dengan
judul hubungan pengetahuan dan sikap lansia dengan pemanfaatan pos
pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM), dimana
ditemukannya lansia yang menderita penyakit tidak menular yang masih
tinggi. Pengetahuan yang kurang dan sikap lansia yang negatif terhadap
pemanfaatan pos pembinaan terpadu menjadi masalah yang menyebabkan
lansia yang menderita penyakit tidak menular.

1.2.2 Pertanyaan Penelitian


1. Apakah ada hubungan pengetahuan lansia dengan pemanfaatan pos
pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM) di
wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019?
2. Apakah ada hubungan sikap lansia dengan pemanfaatan pos
pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM) di
wilayah kerja di Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan menjelaskan hubungan pengetahuan dan
sikap lansia dengan pemanfaatan pos pembinaan terpadu penyakit tidak
menular (POSBINDU PTM) di wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna
Kota Bekasi Tahun 2019.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya hubungan pengetahuan lansia dengan pemanfaatan
pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (POSBINDU PTM)
di wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019.
2. Diketahuinya hubungan sikap lansia dengan pemanfaatan pos
pembinaan terpadu penyakit tidak menular (POSBINDU PTM) di
wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Peneliti
1. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai hubungan
pengetahuan dan sikap lansia dengan pemanfaatan pos pembinaan
terpadu penyakit tidak menular (POSBINDU PTM) di wilayah kerja
Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019.
2. Meningkatkan kemampuan dalam menilai pemanfaatan pos
pembinaan terpadu penyakit tidak menular (POSBINDU PTM)
3. Meningkatkan keterampilan dalam pelaksanaan promosi kesehatan
pada lansia di pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular
(POSBINDU PTM) di wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi
Tahun 2019.

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan Universitas respati Indonesia


1. Mendapatkan masukan sebagai bahan tambahan informasi bagi
jurusan promosi kesehatan dan ilmu perilaku Universitas Respati
Indonesia
2. Menjadi bahan informasi dalam pengembangan proses pembelajaran
di kampus Universitas Respati Indonesia
3. Dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya
1.4.3 Bagi Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi
1. Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan di Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi dalam pemanfaatan
pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (POSBINDU PTM)
2. Sebagai informasi dalam peningkatan pelayanan kesehatan di
Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi terutama pada pemanfaatan pos
pembinaan terpadu penyakit tidak menular (POSBINDU PTM)
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1.1 Deskripsi Teori


1.1.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah
orangmengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terhadap objek terjadi melalui panca indera manusia yakni penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan tersendiri. Pada waktu
penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi
oleh intensitas perhatian persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2012 hal 138).
1.1.2 Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2012, hal 138), pengetahuan mempunyai enam
tingkatan yaitu :
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari keseluruhan
bahan yang dipelajari atau rangsang yang telah diterima. Oleh sebab
itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata
kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
antara lain : menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan dan
sebagainya.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan, contoh
menyimpulkan dan meramalkan terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real sebenarnya. aplikasi
disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau pengguna hukum-hukum,
rumus, metode, prinsip dalam konteks atau situasi yang lain.
d. Analisa (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja
seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,
mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis yaitu menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru, misalnya dapat menyusun frmulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi yaitu berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penialain terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-
penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria-kriteria yang telah ada
(Notoatmodjo, 2012).
1.1.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Health (2009 dalam Linawati, 2013 : 3), ada beberapa faktor
yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, antara lain :
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur
hidup. Pendidikan mempegaruhi proses belajar, makin tinggi
pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima
informasi. Namun perlu ditekankan bahwa seseorang yang
berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula.
Pengetahuan seseorang tentang sesuatu objek jua mengandung dua
aspek yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek inilah yang
akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu.
Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui, akan
menumbuhkan sikap makin positif terhadap objek tersebut.
b. Media massa/ Informasi
Informasi yang diperoleh baik dari penelitian formal mapun non
formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek sehingga
menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. sebagai
sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi,
radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan opini atau kepercayaan orang. adanya informasi
baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru.
c. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula
daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang
diperolehnya semakin membaik.
d. Pekerjaan
Pekerjaan adalah aktivitas yang dilakukan sehari-hari, jenis
pekerjaan yang dilakukan dapat dikategorikan adalah tidak bekerja,
wiraswasta, pegawai negeri dan pegawai swasta dalam semua bidang
pekerjaan pada umumnya diperlukan adanya hubungan sosial yang
baik. Pekerjaan memiliki peranan penting dalam menentukan kualitas
manusia, pekerjaan membatasi kesenjangan antara informasi kesehatan
dan praktek yang memotivasi seseorang untuk memperoleh informasi
dan berbuat sesuatu untuk menghadapi masalah kesehatan
(Notoatmodjo, 2007).

1.1.4 Proses Memperoleh Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2012) mengatakan bahwa cara memperoleh
pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu cara tradisional dan
cara modern (ilmiah).
a. Cara tradisional atau non ilmiah
Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain
meliputi cara coba salah, cara kekuasaan, berdasarkan pengalaman
pribadi, melalui jalan dan pikiran.
1)Cara coba salah (Trial and Error)
Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan
dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut
tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain, dan apabila
kemungkinan tersebut tidak berhasil pula dicoba kemungkinan
yang lain pula sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. Itulah
sebabnya cara ini disebut coba salah (trial and error).
2)Cara Kekuasaan (Otoriter)
Sumber pengetahuan ini dapat berupa pemimpin
masyarakat baik formal maupun non formal, ahli agama, pemegang
pemerintahan, ahli ilmu pengetahuan dan sebagainya. Dengan kata
lain, pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau
kekuasaan.
3)Berdasarkan Pengalaman pribadi
Cara ini dengan mengulang kembali pengalaman yang
diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada
masa lalu. Apabila dengan cara yang digunakan tersebut orang
dapat pula menggunakan cara tersebut. Tetapi bila ia gagal, ia tidak
dapat mengulangi cara itu dan berusaha untuk mencari jawaban
yang lain, sehingga dapat berhasil memecahkannya.
4)Melalui Jalan pikiran
Yaitu dengan menggunakan penalaran dalam memperoleh
kebenaran pengetahuan. Penalaran dengan menggunkan jalan
pikiran ada dua yaitu dengan cara induktif dan deduktif. Penalaran
induktif yaitu penalaran yangberdasar atas cara bepikir untuk
menarik kesimpulan umum dari sesuatu yang bersifat khusus
dividual. Penalaran deduktif yaitu penalaran yang berdasar atas
cara berpikir yang menarik kesimpulan yang khusus dari sesuatu
yang bersifat umum (Nursalam, 2013).
b. Cara modern atau cara ilmiah
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan disebut
metode penelitian ilmiah atau cara popular disebut metodologi
penelitian (Research methodology). Metode ilmiah adalah upaya
memecahkan masalah melalui berpikir rasional dan berpikir empiris
merupakan prosedur untuk mendapatkan ilmu.
Metode ilmiah pada dasarnya menggabungkan berpikir rasional
dengan berpikir empiris, artinya pertanyaan yang dirumuskan disatu
pihak dapat diterima oleh akal sehat dan dipihak lain dapat dibuktikan
melalui data dan fakta secara empiris (Nursalam,2013).
1.1.5 Fungsi Pengetahuan
Menurut fungsi ini manusia mempunyai dorongan dasar untuk ingin
tahu, untuk mencari penalaran dan untuk mengorganisasikan
pengalamannya. Adanya unsur-unsur pengalaman yang semula tidak
konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu akan disusun, ditata
kembali atau diubah sedemikian rupa sehingga tercapai sesuatu yang
konsisten (Notoatmodjo, 2012).
1.1.6 Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
angket yang menanyakan tentang isi materi atau objek. Penelitian-
penelitian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2012). Pada
penelitian ini cara untuk mengukur pengetahuan lansia menggunakan
kuesioner tentang pemanfaatan pos pembinaan terpadu penyakit tidak
menular sebanyak 20-30 soal disetiap soal memiliki pilihan
apabilajawaban benar memiliki poin satu dan apabila salah memiliki poin
nol (kosong) sehingga jumlah pertanyaan yang dijawab benar dibagi
jumlah soal dan di kali 100.
Menurut Arikunto (2010), pengukuran pengetahuan dapat dilakukan
dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang
akan diukur dan disesuaikan dengan tingkatannya. Adapun jenis
pertanyaan yang dapat digunakan untuk pengukuran pengetahuan secara
umum dibagi menjadi dua jenis yaitu :
a. Pertanyaan subjektif
Penggunaan pertanyaan subjektif dengan jenis pertanyaan assay
disunakan dengan penialaian yang melibatkan faktor subjektif dari
penilaian, sehingga hasil nilai akan berbeda dari setiap penialai dari
waktu ke waktu.
b. Pertanyaan objektif
Jenis pertanyaan objektif seperti pilihan ganda (multiple choice),
betul-salah dan pertanyaan menjodohkan dapat dinilai secara pasti oleh
penilai. Menurut Arikunto (2010), pengukuran tingkat pengetahuan
dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu :
1) Pengetahuan baik bila responden dapat menjawab 76-100 & dengan
benar dari total soal jawaban pertanyaan
2)Pengetahuan cukup bila responden dapat menjawab 56-75 % dengan
benar dari total jawaban pertanyaan
3) Pengetahuan kurang bila responden dapat menjawab < 56 % dari
total jawaban pertanyaan
2.2 Pengertian Sikap
Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau
peristiwa.Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu. Sikap
mungkin dihasilkan dari perilaku tetapi sikap tidak sama dengan perilaku.
Menurut Fishbein dalam Ali (2006:141) “Sikap adalah predisposisi emosional
yang dipelajari untuk merespons secara konsisten terhadap suatu objek”.
Sedangkan menurut Secord dan Backman dalam Saifuddin Azwar (2012:88)
“Sikap adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran
(kognitif), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek
di lingkungan sekitarnya”.
Menurut Randi dalam Imam (2011:32) mengungkapkan bahwa
“Sikap merupakan sebuah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap
dirinya sendiri atau orang lain atas reaksi atau respon terhadap stimulus
(objek) yang menimbulkan perasaan yang disertai dengan tindakan yang
sesuai dengan objeknya”.
Sikap yang menjadi suatu pernyataan evaluatif, penilaian terhadap
suatu objek selanjutnya yang menentukan tindakan individu terhadap
sesuatu. Menurut Azwar S (2012:33) struktur sikap dibedakan atas 3
komponen yang saling menunjang, yaitu:
1) Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh
individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotype
yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamarkan penanganan
(opini) terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang
kontroversal.
2) Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek
emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam
sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan
terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap
seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki
seseorang terhadap sesuatu.
3) Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu
sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Dan berisi tendensi atau
kecenderungan untuk bertindak/ bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-
cara tertentu dan berkaitan dengan objek yang dihadapinya adalah logis
untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam
bentuk tendensi perilaku.
2.2.1 Fungsi Sikap

Sikap yang sudah berkembang dalam diri seseorang (menjadi


bagian dari dirinya dalam kehidupan sehari-hari) akan cenderung
dipertahankan dan sulit sekali diubah, karena mengubah sikap yang sudah
mendasar berarti mengadakan penyesuaian baru terhadap objek atau situasi
yang dihadapi.

Daniel Katz dalam Rina (2013:18) membagi fungsi sikap dalam 4


kategori sebagai berikut:
1) Fungsi utilitarian. Melalui instrumen suka dan tidak suka, sikap positif
atau kepuasan dan menolak yang memberikan hasil positif atau
kepuasan.
2) Fungsi ego defensive. Orang cenderung mengembangkan sikap
tertentu untuk melindungi egonya dari abrasi psikologi. Abrasi
psikologi bisa timbul dari lingkungan yang kecanduan kerja. Untuk
melarikan diri dari lingkungan yang tidak menyenangkan ini, orang
tersebut membuat rasionalisasi dengan mengembangkan sikap positif
terhadap gaya hidup yang santai.
3) Fungsi value expensive. Mengekspresikan nilai-nilai yang dianut
fungsi itu memungkinkan untuk menngkspresikan secara jelas citra
dirinya dan juga nilai-nilai inti yang dianutnaya.
4) Fungsi knowledge-organization. Karena terbatasnya kapasitas otak
manusia dalam memproses informasi, maka orang cendrung untuk
bergantung pada pengetahuan yang didapat dari pengalaman dan
informasi dari lingkungan.

2.2.2 Ciri-ciri Sikap

Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat
mendorong atau menimbulkan perilaku tertentu. Meskipun demikian,
sikap mempunyai segi-segi perbedaan dengan pendorong-pendorong lain
yang ada dalam diri manusia tersebut. Oleh karena itu, untuk membedakan
sikap dengan pendorong-pendorong lain, ada beberapa ciri atau sifat dari
sikap tersebut. Adapun ciri-ciri sikap menurut Purwanto dalam Rina
(2013:16) adalah:
1) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau
dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan
objeknya. Sifat ini yang membedakannya dengan sifat motif-
motif biogenis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat.
2) Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan
sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat
keadaankeadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah
sikap orang itu.
3) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai
hubungan tertentu terhadap suatu objek dengan kata lain sikap
itu terbentuk dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan
dengan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan
jelas.
4) Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga
merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
5) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan,
sifat alamiah yang membedakan sikap dan
kecakapankecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang
dimiliki orang.
2.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap
Menurut Azwar (2013:17) faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
terhadap objek sikap antara lain:
1) Pengalaman pribadi Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap,
pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena
itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi
tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.
2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting Pada umumnya, individu
cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan
sikap orang yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain
dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
3) Pengaruh kebudayaan Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan
garis pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah.Kebudayaan
telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karna kebudayaanlah
yang memberi corak pengalaman individu-individu masyarakat
asuhannya.
4) Media massa Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau
media komunikasi lainnya, berita yang seharusnya faktual
disampaikan secara objektif cenderung dipengaruhi oleh sikap
penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama Konsep moral dan ajaran
dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat menentukan
sistem kepercayaa tidaklah mengherankan jika pada gilirannya konsep
tersebut mempengaruhi sikap.
6) Faktor emosional Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan
pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam
penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan
ego.
2.2.4 Pembentukkan sikap
Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami
oleh individu. Interaksi sosial mengandung arti lebih daripada sekedar
adanya kontak sosial dan hubungan antar individu sebagai anggota
kelompok sosial. Dalam interaksi sosial, terjadi hubungan saling
mempengaruhi di antara individu yang satu dengan yang lainnya.
Menurut Saifuddin Azwar (2012:30) “faktor – faktor yang
mempengaruhi pembentukkan sikap adalah pengalaman pribadi,
pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan,
media masa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, pengaruh faktor
emosional.”
1) Pengalaman Pribadi
Pengalaman pribadi yang telah dan sedang kita alami akan ikut
membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus
sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentukknya sikap.
Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus
mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis.
Middlebrook dalam Azwar (2012:31) mengatakan “ bahwa tidak
adanya pengalaman yang dimiliki oleh seseorang dengan suatu objek
psikologis, cenderung akan membentuk sikap negative terhadap objek
tersebut”.
2) Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting
Orang lain disekitar kita merupakan salah satu diantara komponen
sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap
penting, seseoramg yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak
tingkah dan pendapat kita, seseoramg yang tidak ingin kita kecewakan,
atau seseorang yang berarti khusus bagi kita (significant others) , akan
banyak mempengaruhi pembentukkan sikap kita terhadap sesuatu.
3) Pengaruh Kebudayaan
Kebudayaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
pembentukkan pribadi seseorang. Kebudayaan memberikan corak
pengalaman bagi individu dalam suatu masyarakat. Kebudayaan lah
yang menanamkan garis pengaruh sikap individu terhadap berbagai
masalah.
4) Media Masa
Berbagai bentuk media massa seperti radio, televisi, surat kabar,
majalah, dan lain – lain mempunyai pengaruh yang besar dalam
pembentukkan opini dan keprcayaan orang. Media masa memberikan
pesan – pesan yang sugestif yang mengarahkan opini seseorang.
Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan
pengetahuan baru bagi terbentukknya sikap terhadap hal tersebut. Jika
cukup kuat, pesan – pesan sugestif akan memberikan dasar afektif
dalam menilai sesuatu hal sehingga
terbentuklah arah sikap tertentu.
5) Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai suatu sistem
mempunyai pengaruh dalam pembentukkan sikap karena keduanya
meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.
Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang
boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari
pusat keagamaan serta ajaran – ajarannya.
6) Pengaruh Faktor Emosional
Suatu bentuk sikap terkadang didasari oleh emosi, yang befungsi
sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap
yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang, akan
tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan
lama.
2.2.5 Perubahan Sikap
Menurut Kelman dalam Azwar S (2012:55) ada tiga proses yang
berperan dalam proses perubahan sikap yaitu :
1) Kesedihan (Compliance)
Terjadinya proses yang disebut kesedihan adalah ketika individu
bersedia menerima pengaruh dari orang lain atau kelompok lain
dikarenaka ia berharap untuk memperoleh reaksi positif, seperti pujian,
dukungan, simpati, dan semacamnya sambil menghindari hal – hal yang
dianggap negatif. Tentu saja perubahan perilaku yang terjadi dengan cara
seperti itu tidak akan dapat bertahan lama dan biasanya hanya tampak
selama pihak lain diperkirakan masih menyadari akan perubahan sikap
yang ditunjukkan.
2) Identifikasi (Identification)
Proses identifikasi terjadi apabila individu meniru perilaku tau sikap
seseorang atau sikap sekelompok orang dikarenakan sikap tersebut
sesuai dengan apa yang dianggapnya sebagai bentuk hubungan
menyenangkan antara lain dengan pihak yang dimaksud. Pada dasarnya
proses identifikasi merupakan sarana atau cara untuk memelihara
hubungan yang diinginkan dengan orang atau kelompok lain dan cara
menopang pengertiannya sendiri mengenai hubungan tersebut.
3) Internalisasi (Internalization)
Internalisai terjadi apabila individu menerima pengaruh dan bersedia
menuruti pengaruh itu dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa yang
ia percaya dan sesuai dengan system nilai yang dianutnya. Dalam hal ini,
maka isi dan hakekat sikap yang diterima itu sendiri dianggap
memuaskan oleh individu. Sikap demikian itulah yang biasnya
merupakan sikap yang dipertahankan oleh individu dan biasanya tidak
mudah untuk berubah selama sistem nilai yang ada dalam diri individu
yang bersangkutan masih bertahan.
2.2.6 Pengukuran Sikap

a. Skala Thurstone (Method of Equal-Appearing Intervals)

Teknik ini disusun oleh Thurstone yang didasarkan pada asumsi


nilai skala yang berasal dari rating para penilai tidak dipengaruhi oleh
sikap terhadap isu. Metode ini menempatkan sikap seseorang pada
rentangan kontinyu dari yang sangat unfavorable sampai yang sangat
favorable terhadap suatu objek sikap.

Caranya yaitu dengan memberikan orang tersebut beberapa item sikap


yang telah ditentukan derajat favorabilitasnya. Pembuat skala perlu
membuat sampel pernyataan sikap sekitar 100 buah atau lebih, kemudian
pernyataan-pernyataan tersebut diberikan kepada beberapa orang penilai
untuk menentukan derajat favorabilitasnya. Rentang favorabilitas dari 1
sampai 11. Median dari penilaian antar penilai terhadap item ini
dijadikan sebagai nilai skala masing-masing item. Pembuat skala
menyusun item dari skala terendah sampai tertinggi, kemudian, memilih
item untuk kuesioner skala sikap yang sesungguhnya ada dan selanjutnya
diberikan kepada responden untuk menunjukkan seberapa benar
kesetujuan atau ketidaksetujuannya pada masing-masing item (Wawan &
Dewi,2011).
c. Skala Likert (Method of Summateds Ratings)
Item dalam skala Likert dibagi menjadi kelompok favorable dan
unfavorable. Untuk item favorable, jawaban sangat stujunilainya
5,sedangkan jawaban sangat tidak setuju nilainya 1. Item unfavorable,
nilaiuntuk jawaban sangat setuju adalah 1, sedangkan jawaban untuk
sangat tidak setuju diberi nilai 5. Skala Likert disusun dan diberi skor
sesuai dengan skala interval sama (Riyanto,2011).
d. Skala Guttman
Pengukuran dengan menggunakan skala Guttman hanya akan ada
dua jawaban, yaitu “ya-tidak”, “benar-salah”, “pernah-tidak pernah”,
“setuju-tidak setuju”, dan lain-lain.
Skala Guttman digunakan apabila ingin mendapatkan jawban yang
tegas tentang permasalahan yang dipertayakn. Penilaian pada skala
Guttman untuk jawaban setuju diberi skor 1 dan jika tidak setuju diberi
skor 0 (Sugiyono,2009).
Sikap dikatakan positif (mendukung) bila hasil mean lebih besar
daripada rata-rata, sedangkan dikatakan negatif (tidak mendukung) bila
hasil mean lebih rendah daripada rata-rata.
2.3 Pengertian Lansia
Di Indonesia, batasan mengenai lanjut usia adalah 60 tahun ke atas.
Lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas,
baik pria maupun wanita (Kushariyadi, 2011). Lansia sendiri bukan
merupakan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu
proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh
untuk beradaftasi dengan stres lingkungan(Pudjiastuti, 2003 dalam Efendi,
2009). Proses tua tersebut alami terjadi dan ditentukan oleh Tuhan Yang
Maha Esa. Setiap orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua
merupakan akan mengalami kemunduran fisik mental, dan sosial secara
bertahap (Azizah, 2011).
2.3.1 Batasan Lansia
Berikut ini batasan-batasan usia yang mencakup batasan usia lansia
dari berbagai pendapat ahli (Azizah, 2011):
Menurut world health organization (WHO), ada empat tahapan usia, yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) usia 60-74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun.
d. Usia sangat tua (very old) usia > 90 tahun.
Depkes RI (2013) mengklasifikasikan lansia dalam kategori berikut :
a. Pralansia, seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
b. Lansia, seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.
c. Lansia resiko tinggi, seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih
dengan masalah kesehatan.
d. Lansia potensial, lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan
dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa.
e. Lansia tidak potensial, lansia yang tidak berdaya mencari nafkah
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.

2.4 Pengertian Penyakit Tidak Menular

Penyakit tidak menular merupakan penyakit yang tidak memiliki


tanda klinis secara khusus sehingga menyebabkan seseorang tidak
mengetahui dan menyadari kondisi tersebut sejak permulaan perjalanan
penyakit (Kemenkes RI, 2014). Kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan
dalam penanganan dan menimbulkan komplikasi PTM bahkan berakibat
kematian. Beberapa karakteristik PTM antara lain, ditemukan di negara
industri maupun negara berkembang, tidak ada rantai penularan, dapat
berlangsung kronis, etiologi atau penyebab tidak jelas, multikausal atau
penyebabnya lebih dari satu, diagnosis penyakit sulit, biaya mahal dan tidak
muncul dipermukaan seperti fenomena gunung es serta mortalitas dan
morbiditasnya tinggi. PTM dapat dicegah melalui pengendalian faktor
risikonya dengan upaya promotif dan preventif (Bustan, 2007).
2.4.1 Jenis – Jenis Penyakit Tidak Menular
Menurut Kemenkes RI (2014), jenis-jenis PTM adalah sebagai
berikut:
a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (PJPD)
Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyakit yang
menyerang organ tubuh jantung dan pembuluh darah yang
menyebabkan gangguan pada organ tersebut (Depkes RI, 2007).
Penyakit jantung terjadi ketika gumpalan darah menyumbat salah satu
arteri jantung. Aliran darah yang rendah atau lambat menyebabkan
jantung kekurangan oksigen, sehingga merusak sel-sel jantung.
Penyumbatan terjadi ketika arteri menyempit disebabkan oleh
munculnya plak (kumpulan sisa lemak, rokok, dan sebagainya) di
sepanjang dinding arteri. Penyakit jantung memiliki gejala khas yaitu
nyeri dada. Kebanyakan orang mungkin tidak merasakan atau hanya
merasakan sedikit nyeri dada, sehingga mereka mengabaikan gejala
tersebut dan dapat menyebabkan penderitanya mengalami kematian
mendadak. Berikut ini adalah macam-macam PJPD :
1) Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner merupakan salah satu bentuk
utama penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung dan pembuluh
darah), menjadi penyebab kematian nomor wahid di dunia (Bustan,
2007). PJK terjadi akibat penyempitan pembuluh darah koroner pada
jantung yang menyebabkan serangan jantung dan kematian
penderitanya. PJK ini berkaitan dengan gaya hidup (lifestyle) atau
dengan keadaan sosial ekonomi masyarakat.
2) Stroke
Stroke adalah penyakit defisit neurologis akut yang
disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara
mendadak dan menimbulkan gejala dan tanda yang sesuai dengan
daerah otak yang terganggu (Bustan, 2007). Stroke adalah kejadian
sakit mendadak yang ditandai dengan adanya lumpuh pada sebagian
sisi tubuh atau seluruh tubuh, bicara seperti orang pelo dan disertai
penurunan kesadaran yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah
ke otak akibat sumbatan oleh plak misalnya penumpukan lemak atau
pecahnya pembuluh darah otak.
3) Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan
dimana tekanandarah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan
diastolik ≥90 mmHg. Hipertensi merupakan kondisi peningkatan
tekanan darah yang dapat berlanjut ke suatu organ seperti stroke
(untuk otak), PJK (untuk pembuluh darah jantung) dan hipertrofi
ventrikel kanan (untuk otot jantung) (Bustan, 2007).
b. Kanker
Kanker merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya
sel/jaringan abnormal yang bersifat ganas, tumbuh cepat tidak
terkendali dan dapat menyebar ke tempat lain dalam tubuh
penderita (Kemenkes RI, 2014). Menurut Bustan (2007), sel
kanker bersifat ganas dan dapat merusak sel-sel normal
disekitarnya sehingga merusak fungsi jaringan. Jenis kanker
berdasarkan jaringan yang diserang yaitu diberi istilah karsinoma,
limfoma dan sarkoma. Karsinoma adalah kanker yang mengenai
jaringan epitel (sel-sel kulit, ovarium, payudara, serviks, kolon,
pankreas dan esophagus). Limfoma adalah kanker jaringan limfe
(kapiler limfe, lakteal, limpa dan pembuluh limfa). Sarkoma adalah
kanker jaringan ikat termasuk sel-sel otot dan tulang. Jenis-jenis
kanker yang paling sering terjadi adalah sebagai berikut:
1) Kanker Payudara Kanker payudara adalah tumor ganas yang
tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh
di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun
jaringan ikat pada payudara. Pengertian lain berdasarkan
Kemenkes RI (2014), kanker payudara adalah keganasan yang
berasal dari sel kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan
penunjang payudara, tidak termasuk kulit payudara.
2) Kanker Leher Rahim Kanker leher rahim adalah keganasan
yang terjadi pada sel leher rahim. Gejala dini adanya kanker
serviks adalah keputihan, Contact bleeding (perdarahan waktu
bersetubuh), sakit waktu koitus dan terjadinya perdarahan
walaupun memasuki masa menopause (Bustan, 2007).
c. Diabetes Mellitus
Diabetes adalah gangguan kesehatan yang berupa
kumpulan gejala yang disebabkan oleh peningkatan kadar gula
(glukosa) akibat kekurangan ataupun resistensi insulin (Bustan,
2007). Diabetes mellitus adalah suatu penyakit menahun yang
ditandai dengan kadar gula dalam darah melebihi nilai normal,
yaitu hasil pemeriksaan Gula Darah vena Sewaktu (GDS) ≥200
mg/dL dan Gula Darah vena Puasa (GDP) ≥126 mg/dL
(Kemenkes, 2014).

d. Penyakit Paru Menahun

1) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

PPOK adalah penyakit kronik saluran napas yang ditandai


dengan hambatan aliran darah ke dalam paru-paru (khususnya
udara ekspirasi).

2) Asma Bronkial

Suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik


saluran napas yang menyebabkan hiperaktifitas bronkus,
sehingga menyebabkan gejala episodik berulang berupa mengi,
sesak napas, rasa berat di dada dan batuk terutama malam atau
dini hari.

2.4.2 Karakteristik Penyakit Tidak Menular


Berbeda dengan penyakit menular, PTM mempunyai beberapa
karakteristik tersendiri, seperti :
a. Penularan penyakit tidak melalui suatu rantai penularan tertentu
b. Masa inkubasi yang panjang dan laten
c. Perlangsungan penyakit yang berlarut-larut (kronis)
d. Banyak menghadapi kesulitan diagnosis
e. Mempunyai variasi yang luas
f. Memerlukan biaya yang tinggi dalam upaya pencegahan maupun
penanggulangannya
g. Faktor penyebabnya bermacam-macam (multikausal), bahkan tidak
jelas. Perbedaan PTM ini dengan penyakit menular memerlukan
pendekatan epidemiologi tersendiri, mulai dari penentuannya sebagai
masalah kesehatan masyarakat sampai pada upaya pencegahan dan
penanggulangannya. Misalnya, ketika melakukan observasi keadaan
PTM di lapangan. Dalam mengamati PTM yang perlangsungannya
kronis dan masa latent yang panjang, dapat ditemukan beberapa
kesulitan dengan hanya melakukan pengamatan observasional yang
berdasarkan pengalaman pribadi dari anggota masyarakat saja. Jika
observasi ini ditujukan untuk menentukan hubungan antara
keterpaparan dengan terjadinya penyakit, maka beberapa kesulitan
dapat dihadapi. Situasi-situasi dimana pengamatan perorangan
dianggap kurang cukup untuk menetapkan hubungan antara paparan
dengan penyakit dapat disebabkan oleh faktor-faktor berikut :
a. Masa laten yang panjang antara exposure dengan penyakit
b. Frekuensi paparan faktor risiko yang tidak teratur
c. Insiden penyakit yang rendah
d. Risiko paparan yang kecil
e. Penyebab penyakit yang multikompleks
Dalam menangani masalah PTM ini, pendekatan dan prinsip-prinsip
epidemiologi perlu diterapkan. Adapun peranan epidemiologi dalam
masalah PTM adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana distribusi PTM dalam masyarakat
sehingga dapat diidentifikasi besarnya masalah PTM dalam kesehatan
masyarakat.
2. Untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab tingginya distribusi
PTM dalam suatu masyarakat, dibandingkan dengan daerah/komuniti
lainnya.
3. Untuk menentukan pilihan prioritas dalam menangani masalah
PTM.
4. Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Faktor risiko PTM adalah
kondisi yang dapat memicu terjadinya PTM pada seseorang atau
kelompok tertentu. Faktor risiko PTM dibedakan menjadi 2 kelompok,
yaitu:
a. Faktor risiko tidak dapat diubah, antara lain: umur, jenis kelamin dan
keturunan (genetik).
b. Faktor risiko yang dapat diubah, antara lain:
1) Faktor risiko perilaku: merokok, diet rendah serat, konsumsi garam
berlebih, kurang aktifitas fisik, konsumsi alkohol dan stress.
2) Faktor risiko lingkungan: polusi udara, jalan raya dan kendaraan
yang tidak layak jalan, infrastruktur yang tidak mendukung untuk
pengendalian PTM serta stres sosial.
3) Faktor risiko fisiologis: obesitas, gangguan metabolisme kolesterol
dan tekanan darah tinggi (Kemenkes RI, 2014). Salah satu faktor risiko
perilaku yang dapat diubah adalah pola konsumsi makanan.
Pada saat ini, ilmu kedokteran dan gizi telah membuktikan kelebihan
dan tidak seimbangnya konsumsi makanan atau zat gizi tertentu dapat
menimbulkan berbagai penyakit degeneratif, seperti penyakit-penyakit
kardiovaskuler, obesitas dan diabetes melitus.

B. Pengertian Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular


(POSBINDU PTM)
Posbindu PTM merupakan bentuk peran serta masyarakat dalam
kegiatan deteksi dini, pemantauan dan tindak lanjut dini faktor risiko
PTM secara mandiri dan berkesinambungan. Kegiatan ini
dikembangakan sebagai bentuk kewaspadaan dini terhadap PTM
karena sebagian besar faktor risiko PTM pada awalnya tidak
memberikan gejala (Kemenkes RI, 2014).
Kegiatan Posbindu bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dini
masyarakat terhadap faktor risiko PTM melalui pemberdayaan dan
peran serta masyarakat dalam deteksi dini, pemantauan faktor risiko
PTM dan tindak lanjut dini, sehingga dampak yang fatal dari PTM
dapat dihindari. Sasaran kegiatan Posbindu PTM adalah kelompok
masyarakat yang sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia ≥15
tahun.
Kegiatan Posbindu PTM dapat dilakukan di lingkungan tempat tinggal
dalam lingkup desa/kelurahan ataupun fasilitas publik lainnya seperti
sekolah dan perguruan tinggi, tempat kerja, tempat ibadah, pasar,
tempat kos, terminal dan lain sebagainya. Pelaksana kegiatan Posbindu
PTM adalah kader kesehatan yang sudah terbentuk atau kelompok
orang dalam organisasi/lembaga/tempat kerja yang bersedia
mengadakan kegiatan Posbindu PTM yang dilatih secara khusus,
dibina atau difasilitasi untuk melakukan pemantauan faktor risiko PTM
di masing-masing kelompok atau organisasi tersebut berada.
Menurut Kemenkes RI (2014), klasifikasi Posbindu PTM adalah
sebagai berikut :
a. Posbindu PTM Dasar

Posbindu PTM dasar meliputi pemeriksaan deteksi dini faktor risiko


yang dilakukan dengan wawancara terarah melalui penggunaan
instrumen atau formulir untuk mengidentifikasi riwayat PTM dalam
keluarga dan yang telah diderita sebelumnya, pengukuran berat badan,
tinggi badan, lingkar perut, Indeks Massa Tubuh (IMT) , pemeriksaan
tekanan darah serta konseling.

b. Posbindu PTM Utama

Posbindu PTM Utama meliputi kegiatan Posbindu PTM Dasar


ditambah dengan pemeriksaan gula darah, kolesterol total, trigliserida,
pengukuran Arus Puncak Ekspirasi (APE), konseling dan pemeriksaan
Inspeksi Visual Asam asetat (IVA) serta Clinical Breast Examination
(CBE), pemeriksaan kadar alkohol dalam darah dan tes amfetamin urin
bagi pengemudi, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter,
bidan, perawat kesehatan/ tenaga ahli teknologi laboratorium
medik/lainnya). Kemitraan dalam penyelenggaraan Posbindu PTM
perlu diadakan mulai pada tatanan desa/kelurahan seperti bermitra
dengan forum desa/kelurahan siaga untuk mendapatkan dukungan dari
pemerintah daerah setempat. Selain itu kemitraan dengan pos
kesehatan desa/ kelurahan, industri, dan klinik swasta perlu dijalin
guna terlaksananya kegiatan dan pengembangan Posbindu. Kemitraan
dengan pihak swasta lebih baik menggunakan pola kesetaraan,
keterbukaan dan saling menguntungkan melalui fasilitas puskesmas.
Dukungan dapat berupa sarana/prasarana lingkungan yang kondusif
untuk menjalankan pola hidup sehat misalnya fasilitas olah raga atau
sarana pejalan kaki yang aman dan sehat serta ruang terbuka hijau
(Kemenkes RI, 2014).

3. Tujuan, Sasaran dan Manfaat Posbindu PTM

Adapun tujuan dari penyelenggaraan Posbindu PTM yaitu untuk


meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penemuan
dini faktor risiko PTM.

Sasaran Posbindu PTM yaitu, kelompok masyarakat sehat, berisiko dan


penyandang PTM atau orang dewasa yang berumur 15 tahun keatas.
Pada orang sehat agar faktor risiko tetap terjaga dalam kondisi normal.
Pada orang dengan faktor risiko adalah mengembalikan kondisi berisiko
ke kondisi normal. Pada orang dengan penyandang PTM adalah
mengendalikan faktor risiko pada kondisi normal untuk mencegah
timbulnya komplikasi PTM.

Beberapa manfaat dibentuknya Posbindu PTM antara lain sebagai


berikut :
a. Membudayakan gaya hidup sehat dengan berperilaku cek kondisi
kesehatan anda secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktifitas
fisik, diet yang sehat dengan kalori seimbang, istirahat yang cukup,
kelola stres dalam lingkungan yang kondusif di rutinitas kehidupannya.
b. Mawas diri yaitu faktor risiko PTM yang kurang menimbulkan
gejala secara bersamaan dapat terdeteksi & terkendali secara dini.
c. Metodologis & bermakna secara klinis yakni kegiatan dapat
dipertanggung jawabkan secara medis dan dilaksanakan oleh kader
khusus dan bertanggung jawab yang telah mengikuti pelatihan metode
deteksi dini atau edukator PPTM.
d. Mudah dijangkau karena diselenggarakan di lingkungan tempat
tinggal masyarakat/ lingkungan tempat kerja dengan jadwal waktu
yang disepakati.
e. Murah karena dilakukan oleh masyarakat secara kolektif dengan
biaya yang disepakati/sesuai kemampuan masyarakat.

3. Langkah-Langkah Penyelenggaraan Posbindu PTM


a. Identifikasi Kelompok Potensial
Identifikasi merupakan kegiatan mencari, menemukan, mencatat
data mengenai kelompok-kelompok masyarakat potensial yang
merupakan sasaran atau subyek dalam pengembangan Posbindu
PTM (Kemenkes RI, 2014).
Identifikasi diperlukan untuk menyesuaikan kebutuhan dan
ketersediaan sumber daya, sehingga masyarakat dapat mandiri dan
kegiatan Posbindu dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Kelompok potensial merupakan kelompok orang yang secara rutin
berkumpul untuk melakukan kegiatan bersama, yaitu antara lain
karang taruna, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga
(PKK)/dasawisma, pengajian, Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM), organisasi profesi, klub olah raga, koperasi dan kelompok
masyarakat di tempat kerja, perguruan tinggi, sekolah dan lain-lain.
Identifikasi dilakukan pada tingkat kabupaten sampai wilayah kerja
puskesmas. Informasi didapat dari kegiatan wawancara, pengamatan,
angket, partisipasi dan fokus diskusi kelompok terarah (Kemenkes
RI, 2014).
c. Sosialisasi dan Advokasi
Sosialisasi dan advokasi dilakukan kepada kelompok potensial
terpilih, mereka diberi informasi tentang besarnya permasalahan
PTM yang ada, dampaknya bagi masyarakat dan dunia usaha,
upaya pencegahan dan pengendalian serta tujuan dan manfaat
kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTM melalui
Posbindu PTM. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan
pengetahuan masyarakat agar diperoleh dukungan dan komitmen
dalam menyelenggarakan Posbindu PTM. Tindak lanjut dari
advokasi adalah kesepakatan bersama berupa penyelenggaraan
kegiatan Posbindu PTM (Kemenkes RI, 2014).

d. Pelatihan Petugas Pelaksana Posbindu PTM


Menurut Kemenkes RI (2014), pelatihan adalah kegiatan
memberikan pengetahuan tentang PTM, faktor risiko, dampak dan
upaya yang diperlukan dalam pencegahan dan pengendalian PTM,
memberikan kemampuan dan keterampilan dalam memantau faktor
risiko PTM dan melakukan konseling serta tindak lanjut lainnya.
Peserta pelatihan adalah calon kader pelaksana kegiatan
Posbindu PTM, setiap Posbindu PTM paling sedikit mempunyai
lima kader dengan kriteria mau dan mampu melakukan kegiatan
Posbindu PTM, dapat membaca dan menulis dan lebih utama
berpendidikan minimal SLTA atau sederajat. Peserta pelatihan
maksimal 30 orang agar pelatihan berlangsung efektif, jadi
maksimal ada enam Posbindu PTM yang akan dilaksanakan oleh
kader. Waktu pelaksanaan pelatihan berlangsung selama 3 hari atau
disesuaikan dengan kondisi setempat dengan modul yang telah
dipersiapkan.
4. Surveilans Faktor Risiko PTM Berbasis Posbindu PTM
Surveilans (surveillance) adalah pengamatan terus-menerus
terhadap suatu penyakit atau suatu kelompok masyarakat tertentu.
Surveilans digunakan untuk memperoleh informasi-informasi yang
dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan perencanaan program
atau menilai keberhasilan program. Surveilans sering diidentikkan
dengan pemantauan atau monitoring, sehingga dapat dikatakan
bahwa surveilans adalah pemantauan terhadap suatu kejadian yang
terkait dengan perkembangan kesehatan masyarakat, khususnya
kejadian suatu penyakit di masyarakat yang juga disertai tindakan
lebih lanjut (Notoatmodjo, 2010).
Surveilans faktor risiko PTM berbasis Posbindu adalah
bentuk kegiatan menganalisis secara sistematis dan terus-menerus
terhadap faktor risiko PTM yang berbasis Posbindu PTM agar dapat
melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien
melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran
informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan
yang terkait (Kemenkes RI, 2014).
Data faktor risiko PTM dan data terkait yang diperoleh dari
Posbindu PTM adalah data riwayat PTM keluarga dan diri sendiri,
faktor risiko PTM dari hasil wawancara, faktor risiko PTM dari hasil
pengukuran dan pemeriksaan, konseling, data rujukan dan saran.
Berikut ini adalah langkah-langkah surveilans faktor risiko PTM.
a. Pengumpulan Data
Data berupa informasi demografi, data wawancara, pengukuran,
konseling dan rujukan.

b. Pengolahan dan Analisis Data

1) Pengolahan dan analisis data dilakukan secara manual dan/atau


dengan bantuan software sistem informasi manajemen PTM.

2) Data yang diolah adalah faktor risiko PTM dengan


memperhitungkan jumlah penduduk di suatu wilayah.
3) Produk pengolahan dan analisis berupa proporsi hasil pemeriksaan
faktor risiko dan cakupan penduduk yang melakukan pemeriksaan.
4) Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data, maka dilakukan
penyajian dalam bentuk narasi, tabel, grafik, spot map, area map, dan
lainnya.
5) Analisis data dilakukan secara deskriptif menurut variabel orang
(umur, jenis kelamin, pendidikan dan lainnya), tempat (antar wilayah)
dan waktu
(antar waktu).
c. Interpretasi Data
Hasil analisis data dihubungan dengan data lain seperti demografi,
geografi, gaya hidup/perilaku dan pendidikan.
d.Disseminasi Informasi
e. Laporan hasil analisis data dan interpretasi dikirim oleh unit
penanggung jawab kepada jenjang struktural yang lebih tinggi, dari
puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten/kota, dari dinas kesehatan
kabupaten/kota ke dinas kesehatan provinsi dan kementerian
kesehatan (Kemenkes RI, 2014).

C. Pengertian Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan dan Jenis Pelayanan Kesehatan

Menurut pendapat Levey dan Loomba (1973) yang dimaksud dengan


pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau
secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun
masyarakat (Azwar, 1996).

Sedangkan menurut Budioro (1998), pelayanan kesehatan dapat


diartikan sebagai segala kegiatan yang secara langsung atau tidak langsung
berupaya untuk menghasilkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan atau
dituntut oleh masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatannya. Menurut
Hodgetts dan Cascio (1983) yang dikutip oleh Azwar (1996), pelayanan
kesehatan dibagi menjadi dua jenis yaitu:
a. Pelayanan Kedokteran
Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok pelayanan
kedokteran jika ditinjau dari macam pelayanan yang diselenggarakan
secara umum dapat dibedakan atas dua macam yakni :
1) Menyediakan satu macam pelayanan kedokteran saja, misalnya
praktek dokter umum dan prakek dokter spesialis
2) Menyediakan lebih dari satu macam pelayanan kedokteran, misalnya
yang diselenggarakan oleh balai pengobatan ibu dan anak.

b. Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kelompok pelayanan


kesehatan masyarakat ditandai dengan cara pengorganisasian yang
umumnya secara bersama-sama dalam suatu organisasi, tujuan utamanya
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit,
serta sasarannya terutama untuk kelompok dan masyarakat.

3. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan


Perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan atau perilaku penggunaan
sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan menyangkut upaya atau tindakan
seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan
tersebut berupa mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan
modern yang diadakan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga kesehatan
swasta yang dikategorikan ke dalam balai pengobatan, puskesmas dan
rumah sakit (Notoatmodjo, 2003).
Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan adalah respon terhadap
fasillitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat-obatan
yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan penggunaan
fasilitas dan petugas (Effendi, 1998).
Kunjungan pasien ke Puskesmas dapat diterapkan teori Demand pelayanan
kesehatan. Keputusan untuk menggunakan pelayanan kesehatan
mencerminkan kombinasi normatif dan kebutuhan yang dirasakan. Kajian
tentang demand terhadap pelayanan kesehatan adalah untuk menentukan
faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan dalam pemanfaatan
pelayanan kesehatan oleh pemakainya (Wijono, 1999).

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan


Berdasarkan model sistem kesehatan (health system model ) yang berupa
model kepercayaan kesehatan yang dikemukakan Anderson (1974) yang
dikutip dalam Soekidjo (2003) faktor-faktor yang menentukan
pemanfaatan pelayanan kesehatan dibagi menjadi 3 :

a. Karakteristik Predisposisi (predisposising characteristics)


Kecenderungan individu untuk mempergunakan pelayanan kesehatan
ditentukan oleh serangkaian variabel-variabel karena adanya ciri-ciri
individu yang digolongkan ke dalam 3 kelompok :

1) Ciri-ciri demografi :

a) Umur

Menurut Greeen (1980), umur merupakan salah satu karakteristik


individu yang dapat mempermudah atau mendasari untuk terjadinya
perilaku tertentu. Melalui perjalanan umurnya yang semakain dewasa,
seseorang akan melakukan adaptasi perilaku hidupnya terhadap
lingkungannya disamping secara alamiah, juga berkembang perilaku yang
sifatnya naluriah (Budioro, 1998). Sedangkan, menurut Elizabeth
B.Hurlock (2004), masa dewasa dimulai umur 18 tahun. Pada masa ini
seseorang mengalami perubahan dalam menentukan pola hidup baru,
tanggung jawab baru dan komitmen-komitmen baru termasuk dalam
menentukan memanfaatkan atau tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan
apabila sedang sakit.

b)Jenis kelamin

Jenis kelamin merupakan variabel penting karena distribusi beberapa


penyakit bervariasi menurut jenis kelamin. Alasan lain bagi penentuan jenis
kelamin adalah untuk menetukan jenis kelamin pengambil keputuasan
dalam rumah tangga (F.J Bennet, 1987). Sedangkan menurut Bart Smet
(1994), wanita lebih banyak melaporkan adanya gejala penyakit dan
berkonsultasi dengan dokter lebih sering daripada laki – laki.

2) Struktur sosial

a) Tingkat Pendidikan Pendidikan dan pengetahuan yang kurang,


membutuhkan lebih banyak perhatian khusus. Karena latar belakang
pendidikan akan mempengaruhi apa yang akan dilakukan dan bagaimana
tindakannya. (FJ. Bennet, 1987). Menurut Dictionory of Education yang
dikutip dalam Achmad Munib (2007), pendidikan adalah proses seseorang
mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku
lainnya di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial yakni orang
dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol,
sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan
sosial dan kemampuan individu yang optimal.

b) Pekerjaan Masyarakat yang berpenghasilan rendah dan berpendidikan


formal rendah yang menimbulkan sikap masa bodoh dan pengingkaran serta
rasa takut yang tidak mendasar.

c) Kesukuan atau ras Menurut Helman (1990), penyakit atau gejala yang
sama bisa ditafsirkan sangat berbeda oleh dua pasien yang berasal dari
budaya yang berbeda. Hal ini juga akan mempengaruhi perilaku mereka
serta jenis perawatan yang dicari (Bart Smet, 1994). Variabel-variabel ini
mencerminkan keadaan sosial dari individu atau keluarga di dalam
masyarakat. Individu yang berbeda tingkat pendidikan, pekerjaan dan
kesukuan atau ras mempunyai kecenderungan yang tidak sama dalam
mengerti dan berinteraksi terhadap kesehatan mereka. Orang-orang dengan
latar belakang struktur sosial yang berbeda akan menggunakan pelayanan
kesehatan dengan cara yang tertentu pula (Notoatmodjo, 2003).

3) Manfaat-manfaat kesehatan
Yang dimaksud seperti keyakinan bahwa pelayanan kesehatan dapat
menolong proses penyembuhan penyakit. Apabila individu merasa dirinya rentan

untuk penyakit-penyakit yang dianggap gawat, ia akan melakukan suatu tindakan


tertentu. Tindakan ini akan tergantung pada manfaat yang dirasakan yang
ditemukan dalam mengambil tindakan tersebut. Selanjutnya Anderson percaya
bahwa :

a) Setiap individu atau orang mempunyai perbedaan-perbedaan karakteristik,


mempunyai perbedaan tipe dan frekuensi penyakit dan mempunyai perbedaan
pola penggunaan pelayanan kesehatan

b) Setiap individu mempunyai perbedaan struktur sosial, mempunyai perbedaan


gaya hidup dan akhirnya mempunyai perbedaan pola penggunaan pelayanan
kesehatan

c) Individu percaya adanya kemanjuran dalam penggunaan pelayanan kesehatan.


b. Karakteristik Pendukung (enabling characteristic)

Karaktersitik ini mencerminkan bahwa meskipun mempunyai predisposisi untuk


menggunakan pelayanan kesehatan, ia tak akan bertindak untuk menggunakannya
kecuali bila ia mampu menggunakannya. Penggunaan pelayanan kesehatan yang
ada tergantung pada kemampuan konsumen untuk membayar.

c. Karakteristik Kebutuhan (need characteristics)

Faktor predisposisi dan faktor yang memungkinkan untuk mencari pengobatan


dapat terwujud di dalam tindakan apabila itu dirasakan sebagai kebutuhan.Faktor
tersebut menunjukkan kebutuhan individu untuk menggunakan pelayanan
kesehatan yang ditunjukkan oleh adanya kebutuhan karena alasan yang sangat
kuat yaitu penyakit yang dirasakan serta adanya jawaban atas penyakit tersebut
dengan cara mencari pelayanan kesehatan. Dengan kata lain kebutuhan
merupakan dasar dan stimulus langsung untuk menggunakan pelayanan kesehatan
bilamana tingkat predisposisi dan enabling itu ada. Kebutuhan dapat
dikategorikan dalam dua hal :
1) Penilaian individu (subject assesment): merupakan keadaan kesehatan yang
dirasakan oleh individu, besarnya ketakutan tentang penyakitnya dan hebatnya
rasa sakit yang diderita.

2) Diagnosis klinis (clinical diagnosis): merupakan penilaian beratnya penyakit


oleh dokter yang merawatnya. Dikarenakan rendahnya pengetahuan dan
kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, maka penyakit-penyakit
yang terjadi di masyarakat sering sulit terdeteksi. Bahkan kadang-kadang
masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan diobati penyakitnya. Hal ini akan
menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak
(Notoatmodjo, 2003)

Menurut F.J Bennet (1978), banyak faktor yang memengaruhi demand pelayanan
kesehatan diantaranya yaitu :

1)Pengetahuan
Permintaan akan pelayanan kesehatan bergantung dari pengetahuan
mengenai apa yang ditawarkan dalam pelayanan tersebut, bagaimana serta
kapan dan oleh siapa serta dengan biaya berapa. Pengetahuan sendiri
merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang
sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,
2003). Sebelum seseorang mengadopsi perilaku, ia harus tahu terlebih
dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya, termasuk
dalam perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2003).
2)Sikap dan pengalaman
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap juga merupakan kesiapan untuk
bereaksi terhadap lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap
objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi
merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap sering diperoleh
dari pengalaman sendiri atau dari orang lain paling dekat. Seseorang
memanfaatkan pelayanan kesehatan bisa saja karena ia mempunyai
pengalaman serta sikap yang baik saat memanfaatkan pelayanan kesehatan
(Notoatmodjo, 2003).
3) Fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia
Fasilitas pelayanan kesehatan pada hakikatnya mendukung atau
memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan (Notoatmodjo, 2003).
4) Kemudahan transportasi menuju ke tempat pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan harus dapat dicapai oleh masyarakat, salah satunya
tidak terhalang oleh keadaan geografis. Akses geografis diukur dengan
lama perjalanan dan jenis tranportasi ke pelayanan kesehatan (Imbalo
S.Pohan, 2002).
5) Biaya
Kemampuan membayar biaya pelayanan kesehatan merupakan aspek
ekonomi yang harus dapat dicapai oleh masyarakat (Imbalo S.Pohan,
2002).
6)Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Agar berhasil pelayanan kesehatan harus dapat dilaksanakan dalam waktu
dan cara yang tepat (Imbalo S.Pohan, 2002). Ketepatan waktu sangat
mempengaruhi dalam memilih tempat pelayanan kesehatan, berapa lama
waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

7) Jarak dengan pelayanan kesehatan

Tersedianya pelayanan kesehatan tidak lepas dari variabel jarak dengan


pelayanan kesehatan. King (1966) dikutip oleh Bennet (1978) menemukan
bahwa sebuah Puskesmas akan dimanfaatkan secara maksimal oleh
penduduk dalam jarak 5 km dari Puskesmas, dan pemanfaatan ini menurun
secara nyata setelah jarak tersebut melampaui 8 km.

2.7 Penelitian Yang Relevan


2.8 Kerangka Pikir

Green dalam buku Notoatmodjo (2003) menganalisis perilaku


manusia dari tingkatan kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat
dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yakni faktor perilaku (behaviour cause)
dan faktor dari luar perilaku (non behaviour cause). Selanjutnya perilaku
itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu yang pertama
faktor-faktor predisposisi (predisposing faktors), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya,
faktor pendukung (enabling faktors), yang terwujud dalam lingkungan fisik,
tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana
kesehatan misalnya puskesmas, obatobatan, alat-alat kontrasepsi, jamban,
jarak ke sarana pelayanan kesehatan dan sebagainya, dan faktor-faktor
pendorong (reinforcing faktors), yang terwujud dalam sikap dan perilaku
petugas kesehatan atau petugas yang lain, dukungan keluarga dan tokoh
masyarakat yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Sumber : Green LW, 1994. Community Health, Seventh edition, Mosby Year
Book, inc United States Of America

Gambar 1 Kerangka Teori Penelitian

Predisposing Faktors

1. Attitudes 2. Value 3. Belief

Enabling Faktors

1. Skills 2. Availability 3. Accessibility 4. Referrals

Reinforcing Faktors

Support from family, peers, teacher, employers, health providers


Behavioural Causes

Gambar 2 Kerangka Konsep Penelitian

Keterangan : : Variabel Independen

: Variabel Dependen
Faktor Predisposisi Tingkat Pendidikan Status Pekerjaan Pengetahuan Status
Kesehatan

Perilaku Pemanfaatan Posbindu PTM

Faktor Pendorong Dukungan Kader Kesehatan Dukungan Keluarga

Faktor Pendukung

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Lokasi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kuantitatif.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah tempat atau lokasi yang digunakan untuk


pengambilan kasus atau observasi. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja
Puskesmas Jatiwarna Kota Bekasi Tahun 2019.

B. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang akan digunakan adalah analitik observasional


dengan desain cross sectional study, dimana variabel bebas dan terikat
diobservasi sekaligus pada saat yang sama.

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti


(Notoatmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
masyarakat di wilayah kerja puskesmas tahun 2019 dengan usia ≥ 15 tahun
yang berjumlah 27074 orang.

2.Sampel

Sampel adalah sebagian dari yang diambil dari keseluruhan objek yang
diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005).

a. Besar Sampel Penentuan besar sampel dapat dilakukan dengan cara


perhitungan statistik yaitu dengan menggunakan Rumus Slovin digunakan
untuk menentukan sampel dari populasi yang telah diketahui jumlahnya
yaitu sebanyak 27074 orang.
Rumus Slovin :
Keterangan :

s = Jumlah sampel

N = Populasi

d = Batas Presisi yang diharapkan

Dari rumus diatas, maka didapatkan : n= N 1+N (d²) n= 27074 1+27074


(0.1²) n= 27074 1+27074 (0.01) n= 27074 1+270.74 n =27074 271.74 n =99,6
(dibulatkan menjadi 100) n = 100

n= N 1+N (d²)

Jadi, jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu sebanyak 100 orang.

b. Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan
Proportional Random Sampling yaitu teknik pengambilan sampel dari
setiap sub populasi dengan memperhitungkan besar kecilnya sub populasi
tersebut (Riyanto, 2011). Jumlah populasi yang telah didapat selanjutnya
dibagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan sub populasi agar penentuan
jumlah sampel dalam masing-masing kelompok mempunyai proporsi
yang sama.

Penentuan jumlah sampel pada setiap kelompok ditentukan melalui


rumus sebagai berikut :

Keterangan :

N1 : Populasi kelompok

N : Populasi

n : Jumlah sampel

1) Jumlah sampel di Kelurahan Buakana, yaitu : n1 = ×100 = 36,9


(dibulatkan menjadi 37) Jadi, sampel di Kelurahan Buakana sebanyak 37
orang.
2) Jumlah sampel di Kelurahan Rappocini, yaitu : n2 = ×100 = 27,2
(dibulatkan menjadi 27)

1= × n

Jadi, sampel di Kelurahan Rappocini sebanyak 27 orang.

3) Jumlah sampel di Kelurahan Ballaparang, yaitu : n3 = ×100 = 35,8


(dibulatkan menjadi 36) Jadi, sampel di Kelurahan Ballaparang sebanyak 36
orang.

D. Metode Pengumpulan Data

1. Pengumpulan Data Primer

Data primer adalah data yang secara langsung diambil dari objek/subjek oleh
peneliti. Dalam penelitian ini, data primer diperoleh dari jawaban kuesioner.
2. Pengumpulan Data Sekunder

Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi berupa laporan
bulanan dan data kunjungan Posbindu Tahun 2017 dan Tahun 2018 serta
data kunjungan Posbindu dari Puskesmas Jatiwarna.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti
dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya
lebih baik dalam arti cepat, lengkap, sistematis, sehingga lebih mudah diolah.
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner
yang berisi sejumlah pertanyaan maupun pernyataan untuk menggali
beberapa informasi dari responden.

F. Validasi dan Reliabilitasi Instrumen

Validasi merupakan ketepatan atau kecermatan pengukuran. Valid berarti


instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya
diukur (Sugiyono, 2014). Reliabilitas artinya kestabilan pengukuran, alat
dikatan reliable jika digunakan berulang-ulang dengan nilai sama. Sedangkan
pertanyaan dikatakan reliable jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan
konsisten atau stabil dari waktu-waktu (Riyanto, 2011).

G. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

1. Pengolahan Data

Data primer dan sekunder yang telah diperoleh dianalisis melalui proses
pengolahan data dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Statistic
Package for Sosial Science (SPSS) versi 20 yang mencakup kegiatan-
kegiatan sebagai berikut :

a. Editing, penyuntingan data yang dilakukan untuk menghindari kesalahan


atau kemungkinan adanya kuesioner yang belum terisi.

b. Coding, pemberian kode dan scoring pada tiap jawaban untuk


memudahkan proses entry data.

c. Entry data, setelah proses coding dilakukan pemasukan data ke komputer.


d. Cleaning, sebelum analisis data dilakukan pengecekan dan perbaikan
terhadap data yang sudah masuk.

e. Tabulating, dilakukan dengan membuat tabel distribusi frekuensi dan tabel


silang. Tabel silang meliputi analisis variabel independen dengan variabel
dependen. Setelah dilakukan pengolahan data dilakukan penyajian data,
penyajian data disajikan dalam bentuk tabel dan penjelasan tabel dalam
bentuk narasi.

2. Analisis Data

a. Univariat

Analisis univariat yang digunakan untuk mendeskripsikan setiap masing-


masing variabel yang diteliti, yaitu variabel independen dan variabel
dependen. Analisis ini berguna untuk menilai kualitas data dan menentukan
rencana analisis selanjutnya.

b. Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang tujuannya untuk mengetahui
pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. Teknik
analisa data yang digunakan adalah uji statistik chi-square dengan tingkat
kepercayaan 90%. Bila p < 0,05 berarti hasil perhitungan statistik
bermakna (signifikan). Uji chi-square digunakan untuk menguji hubungan
atau pengaruh dua buah variabel nominal dan mengukur kuatnya antara
variabel yang satu dengan variabel nominal lainnya.