Anda di halaman 1dari 2

Vitharina Sarijowan

18101101008
CAMPURAN CAIRAN VOLATIL

I. Distilasi

Distilasi/penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan


kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Dalam penyulingan, campuran zat
dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan.
Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Penerapan proses ini
didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik
didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.

a. Menurunkan Tekanan Pada Suhu Tetap

Grafik terdiri dari tiga daerah, yaitu cair di bagian atas, cair bercampur uap di tengah dan uap
di bagian bawah. Di mana sumbu komposisi dinamai z A, yaitu fraksi mol keseluruhan di dalam
sistem. Pada bagian atas garis atas hanya ada cairan maka z A = xA dan pada bagian bawah garis
bawah hanya ada uap maka zA = yA. Titik pada daerah grafik menunjukkan adanya cairan dan uap
secara kualitatif, juga jumlah relatif masing-masing secara kualitatif.

Campuran dapat diubah menjadi uap dengan memperkecil tekanan di atasnya. Mula-mula
keadaannya adalah a1 lalu tekanannya diturunkan menjadi P2. Kemudian, cairan memiliki komposisi
a2 dan uap (yang hanya ada sedikit) mempunyai komposisi a` 2. Jika tekanannya kembali diturunkan
menjadi P3, maka akan menghasilkan uap dengan komposisi a3 serta uap berfase cair a`.3

b. Menaikkan Suhu Pada Tekanan Tetap

Mula-mula cairan dengan komposisi a dipanaskan, cairan mendidih ketika temperatur


mencapai T1. Kemudian, cairan memiliki komposisi a1 dan uap (yang hanya sedikit) mempunyai
komposisi a`1. Dari lokasi a`1 kita dapat menyatakan komposisi uap pada titik didih. Dari lokasi
garis hubung yang menghubungkan a1 dan a`1 kita dapat membaca temperatur didih campuran
cairan semula.

Dalam destilasi sederhana, uapnya diambil dan dikondensasi. Jika dalam bentuk contoh ini
uap diambil dan dikondensasi seluruhnya, tetesan merupakan cairan dengan komposisi a3. Kita
dapat mengikuti perubahan yang terjadi dengan melihat apa yang terjadi jika kondensat dengan
komposisi a3 dipanaskan kembali. Diagram fase memperlihatkan bahwa campuran ini mendidih
pada T4 dan menghasilkan uap dengan komposisi a4. Uap ini diambil dan tetesan pertama
berkondensasi menjadi cairan dengan komposisi a5. Siklus ini dapat diulang-ulang sampai akhirnya,
A yang hampir murni.
Vitharina Sarijowan
18101101008
II. Azeotrop

Azeotrop adalah campuran dari dua atau lebih komponen yang memiliki titik didih yang
konstan. Azeotrop dapat menjadi gangguan yang menyebabkan hasil distilasi menjadi tidak
maksimal. Komposisi dari azeotrop tetap konstan dalam pemberian atau penambahan tekanan.
Akan tetapi ketika tekanan total berubah, kedua titik didih dan komposisi dari azeotrop berubah.
Sebagai akibatnya, azeotrop bukanlah komponen tetap, yang komposisinya harus selalu konstan
dalam interval suhu dan tekanan, tetapi lebih ke campuran yang dihasilkan dari saling memengaruhi
dalam kekuatan intramolekuler dalam larutan.

a. Azeotrop High Boiling

Azeotrop high boiling disebut juga azeotrop negatif atau azeotrop tekanan minimum serta
diketahui bahwa titik didih azeotropnya lebih besar dari pada konstituennya. Salah satu contoh
pembentukan azeotrop high boiling adalah asam khlorida/air, yang bersifat azeotrop pada
komposisi 80% (massa) air dan mendidih tanpa berubah pada temperatur 108,6oC. Pada grafik
azeotrop high boiling ditandai dengan garis berwarna merah vertikal.

b. Azeotrop Low Boiling

Azeotrop low boiling disebut juga azeotrop positif atau azeotrop tekanan maksimum serta
diketahui bahwa titik didih azeotropnya kurang dari suhu titik didih setiap konstituennya. Contoh
dari azeotrop positif adalah 95,63% etanol dan 4,37% air (berat). Etanol mendidih pada 78,4°C, air
mendidih pada 100°C, tetapi azeotrop mendidih pada 78,2°C, yang merupakan lebih rendah
daripada salah satu dari konstituennya. 78,2°C adalah suhu minimum di mana setiap larutan
etanol/air dapat mendidih pada tekanan atmosfer. Pada grafik azeotrop low boiling ditandai dengan
garis berwarna merah vertikal.

Jika dua pelarut dapat membentuk azeotrop positif, maka distilasi dari setiap campuran
tersebut konstituen akan menghasilkan distilat yang lebih dekat dalam komposisi untuk azeotrop
daripada campuran awal. Sebagai contoh, jika 50/50 campuran etanol dan air suling sekali, distilat
akan 80% etanol dan 20% air, yang lebih dekat ke campuran azeotropik dari aslinya. Penyulingan
campuran 80/20% menghasilkan distilat yang 87% etanol dan 13% air. Selanjutnya distilasi
berulang akan menghasilkan campuran yang semakin dekat dengan rasio azeotrop dari 95.5/4.5%.
Sehingga, jawaban dari pertanyaan mengapa distilasi campuran alkohol (etanol) dan air
hanya akan menghasilkan larutan dengan kadar etanol maksimum 96%? Ialah karena adanya
ikatan hidrogen antara etanol dan air, sehingga sedikit molekul air akan ikut terbawa bersama
dengan etanol dalam proses distilasi yang dilakukan berulang tersebut.