Anda di halaman 1dari 4

VITHARINA SARIJOWAN

18101101008
1. Sejarah dan Pekembangan Kimia Koordinasi
Pada tahun 1798 Tassaert (Prancis) menemukan jika larutan Kobalt (III) ditambah
larutan NH3 dan dibiarkan, akan terbentuk kristal-kristal CoCl3.6NH3 = CoN6H18Cl3 =
CoCl3(NH3)6 yang berwarna orange/pink. Inilah awal perkembangan teori-teori kimia
koordinasi. Berikut ini adalah penjelasan dari teori-teori tersebut :
a. Teori Amonium Graham
Teori ini dikemukakan oleh Thomas Graham (1805-1869). Berdasarkan teori ini,
amina-amina ligam dianggap sebagai senyawa-senyawa ammonium yang tersubstitusi.
Contohnya dapat digambarkan dalam senyawa kompleks pada diaminatembaga (II) klorida.
Menurut Graham, dua atom hydrogen, masing-masing satu dari setiap ion ammonium,
disubstitusi oleh sebuah atom tembaga. Dua atom hydrogen dapat disubstitusi oleh satu atom
tembaga karena tembaga memiliki valensi dua sedangkan hydrogen satu. Pada waktu Graham
mengajukan teori amoniumnya, teori tentang ikatan kovalen belum muncul, teori ikatan
kovalen baru muncul pada era Kossel dan Lewis, sekitar tahun 1916. Teori ammonium dari
Graham hanya dapat diterapkan bila jumlah NH3 ynag terikat pada atom logam jumlahnya
sama dengan valensi ligam atau elektrovalensi dari logam.

b. Teori Senyawa Molekuler Kekule


Pada tahun 1958 Kekule menerbitkan sebuah makalah. Dalam makalah itu, Kekule
mengemukakan bahwa : (1) atom karbon memiliki valensi empat (quadrivalent); (2) rumus
metana adalah CH4; (3) atom-atom karbon dapat membentuk rantai. Kekule juga berhasil
mengemukakan struktur dari benzene dengan tepat.
Berdasarkan pendapatnya tentang valensi konstan, Kekule membagi senyawa menjadi
dua golongan, yaitu senyawa atomic (atomic compound) dan senyawa molekuler (molecular
compound). Menurut Kekule senyawa atomic merupakan senyawa yang perbandingan jumlah
atom-atomnya bersesuaian dengan valensi tetapnya, misalnya H2O, NH3, HCl, PCl3, NaCl,
dan CoCl3. Senyawa molekuler oleh Kekule dianggap tersusun dari beberapa senyawa
atomic. Berdasarkan pendapat Kekule tersebut maka seharusnya senyawa-senyawa molekuler
bersifat tidak stabil dan mudah terurai menjadi senyawa-senyawa atomik penyusunnya.
atomic penyusunnya, seperti NH4Cl dan PCl5.

c. Teori Rantai Blomstrand-Jorgensen


Teori rantai (chain theory) dirintis oleh Christian Wilhelm Blomstrand (1826-1897)
yang kemudian disempurnakan oleh muridnya Sophus Mads Jorgensen (1837-1924).
VITHARINA SARIJOWAN
18101101008
Jorgensen adalah professor kimia pada salah satu universitas di Kopenhagen. Menurut
Blomstrand dan Jorgensen didalam senyawa kompleks, jumlah NH3 yang terikat pada atom
logam tergantung pada valensi logam. Misalnya, atom logam yang memiliki valensi tiga,
seperti kobalt, dapat mengikat tiga buah NH3 apabila tidak ada atom lain yang diikat oleh
atom kobalt tersebut. Namun, Struktur yang diajukan oleh Jorgensen adalah tidak cocok
dengan fakta-fakta eksperimen yang ada.

d. Teori Koordinasi Werner


Alfred Werner merupakan salah satu pakar kimia yang merupakan pesaing dalam
Jorgensen dalam mengemukakan konstitusi atom-atom dalam suatu senyawa kompleks atau
struktur senyawa kompleks. Werner berhasil menyelesaikan analisis dan menuangkannya
dalam bentuk tulisan dalam waktu hanya 39 jam. Artikel tersebut berjudul : “Beitrag zur
Konstitution Anorganischer Verbindungen”, yang berarti “Kontribusi terhadap Konstitusi
senyawa-senyawa Anorganik”. Artikel ini merupakan artikel paling masyhur dari semua
artikel yang ditulis oleh Werner. Artikel inilah yang akhirnya menjadi landasan untuk
munculnya teori koordinasi Werner. Teori koordinasi Werner muncul sebelum ditemukannya
elektron oleh J. J Thompson pada tahun 1896.
Dalam teori koordinasi, Werner mempostulasikan adanya dua macam valensi, yaitu
valensi primer dan valensi sekunder. Dua macam valensi ini hanya dimiliki oleh atom logam
dalam senyawa kompleks. Valensi primer dari suatu atom logam hanya dapat dipenuhi oleh
anion. Valensi sekunder disebut juga dengan bilangan koordinasi. Valensi sekunder dapat
dipenuhi oleh anion atau molekul netral.

e. Teori Sidgwick
Pada tahun 1916, Lewis mengemukakan bahwa suatu ikatan kovalen terbentuk antara
dua atom dalam suatu molekul melalu pemakaian bersama suatu pasangan elektron. Konsep
Lewis ini selanjutnya dikembangkan oleh Sidgwick. Sidgwick mengemukakan suatu teori
untuk pembentukan ikatan koordinasi (kadang-kadang juga disebut sebagai ikatan polar).
Menurut Sidgwick, ligan mendonorkan pasangan elektron kepada ion logam,
sehingga membentuk suatu ikatan koordinasi. Arah pemberian elektron dari ligan kepada ion
logam ditunjukkan dengan tanda panah dari arah ligan menuju logam. Ikatan koordinasi tidak
jauh berbeda dengan ikatan kovalen, karena sama-sama menyangkut pemakaian bersama
pasangan elektron, perbedaannya hanya terletak pada pembentukan ikatan tersebut.
Contohnya pada kompleks [Co(NH3)6]3+.
VITHARINA SARIJOWAN
18101101008
2. Struktur dan Senyawa Koordinasi
Salah satu keistimewaan logam transisi adalah dapat membentuk senyawa koordinasi,
yaitu senyawa yang paling sedikit terdiri dari satu ion kompleks (terdiri dari kation logam
utama atau logam transisi sebagai atom pusat yang berikatan dengan molekul dan/atau anion
yang disebut sebagai ligan) yang berikatan dengan ion lainnya yang disebut ion counter.

Senyawa kompleks mempunyai atom pusat yang dikelilingi oleh ligan. Ketika
[Co(NH3)6]CI3(S) larut dalam air ion kompleks dan ion conter akan terpisah, sedangkan ligan
tetap terikat dengan atom pusat.
Bilangan koordinasi : jumlah ligan yang terikat secara langsung pada atom pusat,
contohnya pada ion [Co(NH3)6]3+ bilangan koordinasinya adalah 6.
Geometri : bentuk geometri ion kompleks tergantung pada bilangan koordinasinya
dan sifat dari ion logam pada ion kompleks itu sendiri.
VITHARINA SARIJOWAN
18101101008
Donor atom per ligan; ligan suatu ion kompleks adalah molekul atau anion yang
menyumbangkan satu atau lebih pasangan elektron bebas kepada ion logam yang membentuk
ikatan kovalen.

3. Berikan contoh soal-jawab dari materi di atas!


1) Jelaskan penyebab ditinggalkannya teori kimia koordinasi yang diajukan oleh
Graham!
Jawaban : Karena teori Graham hanya dapat diterapkan bila jumlah NH 3 yang terikat
pada atom logam jumlahnya sama dengan valensi logam atau elektrovalensi dari
logam, padahal fakta menunjukkan bahwa banyak senyawa kompleks yang
mengandung NH3 yang jumlahnya berbeda dengan valensi atom.

2) Sebutkan 3 contoh senyawa kompleks yang konduktifitasnya dapat dijelaskan baik


dengan teori rantai Blomstrand-Joorgensen maupun teori koordinasi Werner!
Jawaban : CoCl3.6NH3, CoCl3.NH3 dan CoCl3.4NH3.

3) Berikan contoh dari senyawa isomer geometri!


Jawaban :