Anda di halaman 1dari 4

VITHARINA SARIJOWAN

18101101008
1. Isomer dalam Senyawa Koordinasi
Isomerisasi senyawa koordinasi dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu isomerisasi
struktural, isomerisasi ruang dan isomerisme optik.
1. Isomerisme Struktural
Senyawa-senyawa koordinasi yang menunjukan gejala isomerisme struktural adalah
memiliki rumus kimia sama akan tetapi strukturnya berbeda. Gejala isomerisme yang
termasuk isomerisme struktural adalah isomerisme tautan, isomerisme koordinasi,
isomerisme ionisasi dan isomerisme solvat.
1.1 Isomerisme Tautan (Lingkage Isomerism)
Ligan-ligan yang memiliki atom-atom donor yang berbeda seperti ligan SCN - dan
NO2- dapat berikatan dengan ion pusat melalui atom donor yang berbeda. Ligan SCN - dapat
berikatan dengan ion pusat melalui atom S atau atom N, sedangkan ligan NO 2- melalui atom
N atau O. Senyawa-senyawa kompleks yang menujukan gejala isomerisme tautan akan
memiliki ligan yang sama akan tetapi ikatan antara ion pusat dan ligan adalah melalui atom
donor yang berbeda.
Senyawa kompleks [Co(NH3)4(ONO)]Cl2 yang berwarna merah merupakan pasangan
isomerisme tautan dari [Co(NH3)4(NO2)]Cl2 yang berwarna kuning. Ion-ion kompleks kedua
senyawa tersebut adalah:
Ion pentaaminanitritokobalt(III) atau        Ion pentaaminanitrokobalt(III) atau
Ion pentaaminanitritokobalt(2+)                   Ion pentaaminanitrokobalt(2+)
                     
1.2 Isomerisme Koordinasi
Gejala isomerisme koordinasi hanya terjadi pada senyawa-senyawa kompleks yang
terdiri dari kation dan anion kompleks. Isomerisme ini terjadi apabila ligan-ligan yang terikat
pada satu ion pusat dapat dipertukarkan dengan ligan-ligan yang terikat pada ion pusat yang
lain. 
Contoh:
[Co(NH3)6][Cr(CN)6] dan [Cr(NH3)6][Co(CN)6]
[Co(NH3)6][PtCl4] dan [Pt(NH3)4][CoCl4]

1.3 Isomerisme Ionisasi


Gejala isomerisme ini hanya terjadi pada senyawa kompeleks ionik. Senyawa
kompleks ionik menunjukan gejala isomerisme ioisasi apabila terjadi pertukaran antara dua
macam ion dengan muatan yang sama atau berbeda. Pada pertukaran tersebut anion bukan
VITHARINA SARIJOWAN
18101101008
ligan berubah menjadi ligan, sebaliknya anion yang merupakan ligan berubah menjadi anion
bukan ligan sehingga diperoleh ion-ion kompleks yang sama atau berbeda muatannya.
Contoh:
[Co(NH3)5Br]SO4 dengan [Co(NH3)5OSO3]Br
 
1.4 Isomerisme Solvat
Isomerisme ini terjadi akibat adanya pertukaran antara ligan netral dengan anion
bukan ligan dan sebaliknya seperti pada senyawa-senyawa:
[Cr(H2O)6]Cl3.[Co(H2O)5Cl]Cl2.H2O, dan [Co(H2O)4Cl2]Cl.2H2O
            Pada senyawa tersebut H2O yang semula terikat pada ion Cr 3+ digantikan oleh anion
bukan ligan Cl-. Molekul air yang digantikan berubah fungsinya dari ligan menjadi air hidrat
atau air kristal.
 
2. Isomerisasi Ruang
Senyawa-senyawa kompleks yang menunjukan gejala isomerisme ruang disamping
memiliki rumus kimia yang sama, jenis-jenis ikatan antara ion pusat dan ligan-ligan yang ada
juga sama, akan tetapi susunan dalam ruang dari ligan-ligan yang ada adalah berbeda.
Isomerisme ruang meliputi isomerisme geometrik, isomerisme facial meridional dan
isomerisme lateral-diagonal.
2.1 Isomerisme Geometri (Isomerisme cis-trans)
2.2 Isomerisme Fasial-meridional (Isomerisme fac-mer)
2.3 Isomerisme Later-Diagonal (Isomerisme lat-diag)

3. Isomerisme Optik
Gejala isomerisme optik timbul apabila suatu senyawa atau ion kompleks tidak dapat
mengadakan penindih tepatan (superimposition) dengan bayangan cerminnya. Isomerisme ini
dapat terjadi pada senyawa atau ion kompleks yang berbentuk oktahedral, trigonal
bipiramidal, bujursangkar dan tetrahedral.

4. Isomerisme Polimerisasi
Disamping isomerisme-isomerisme yang telah diuarikan di atas dikenal pula
isomerisme polimerisasi. Isomerisme ini pada dasarnya bukanlah isomerisme yang
sebenarnya karena terjadi antara senyawa-senyawa kompleks yang memiliki rumus empirik
yang sama tetapi berbeda massa molekulnya, misalnya senyawa kompleks [Pt(NH 3)2Cl2],
VITHARINA SARIJOWAN
18101101008
[Pt(NH3)4][PtCl4], dan [Pt(NH3)3Cl]2[PtCl4]. Rumus empirik senyawa tersebut adalah
H6Cl2N2Pt. Isomerisme polimerisasi dapat disebabkan karena senyawa kompleks yang ada
memiliki ion pusat yang sama.

2. Teori Medan Ligan


Teori medan ligan (Bahasa Inggris: Ligand Field Theory), disingkat LFT, adalah
sebuah teori yang menjelaskan ikatan pada senyawa kompleks koordinasi. Ia merupakan
aplikasi teori orbital molekul pada kompleks logam transisi. Ion logam transisi mempunyai
enam orbital atom terhibridisasi dengan energi yang sama untuk berikatan dengan ligan-
ligannya. Analisis LFT bergantung pada geometri kompleks. Walaupun begitu, untuk tujuan
tertentu, kebanyakan analisis berfokus pada kompleks oktahedral dengan enam ligan
berkoordinasi dengan logam.
2.1 Ikatan σ
Orbital-orbital molekul yang dibentuk oleh koordinasi dapat dilihat sebagai akibat
dari donasi dua elektron oleh tiap-tiap donor σ ligan ke orbital-d logam. Pada kompleks
oktahedral, ligan mendekat ke logam sepanjang sumbu x, y, dan z, sehingga orbital simetri σ
nya membentuk kombinasi ikatan dan anti-ikatan pada orbital dz2 dan dx2−y2.
Orbital dxy, dxz dan dyz yang tersisa menjadi orbital non-ikatan. Beberapa interaksi ikatan
(dan anti-ikatan) yang lemah dengan orbital s dan p logam juga terjadi, menghasilkan total 6
orbital molekul ikatan (dan 6 orbital anti-ikatan).

Ligand-Field scheme summarizing σ-bonding in the octahedral complex [Ti(H2O)6]3+


VITHARINA SARIJOWAN
18101101008
2.2 Ikatan π
Ikatan π pada kompleks oktahedral terbentuk dengan dua cara: via orbital p ligan yang
tidak digunakan pada ikatan σ, ataupun via orbital molekul π atau π* yang terdapat pada
ligan. Orbital-orbital p logam digunakan untuk ikatan σ, sehingga interaksi π terjadi via
orbital d, yakni dxy, dxz dan dyz. Orbital-orbital ini adalah orbital yang tidak berikatan
apabila hanya terjadi ikatan σ.
Stabilisasi yang dihasilkan oleh ikatan logam ke ligan diakibatkan oleh donasi muatan
negatif dari ion logam ke ligan. Hal ini mengizinkan logam menerima ikatan σ lebih mudah.
Kombinasi ikatan σ ligan ke logam dan ikatan π logam ke ligan merupakan efek sinergi dan
memperkuat satu sama lainnya.

3. Berikan contoh soal-jawab dari materi di atas!


1) Jelaskan secara singkat mengenai teori medan ligan!
Jawab : Teori medan ligan (Ligand Field Theory) adalah sebuah teori yang
menjelaskan ikatan pada senyawa kompleks koordinasi. Ia merupakan
aplikasi teori orbital molekul pada kompleks logam transisi. Ion logam
transisi mempunyai enam orbital atom terhibridisasi dengan energi yang
sama untuk berikatan dengan ligan-ligannya.

2) Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme
solvat adalah:
a. [Fe(CN)6]3-                                             c. [Pt(en)2][PtCl4]
b. [Cu(NH3)4]SO4                                      d. [Co(H2O)4Cl2]Cl.H2O

3) Ion kompleks atau senyawa kompleks yang dapat menunjukkan gejala isomerisme
geometrik adalah:
a. [Pt(NH3)2Br2]                                        c. [Co(NCS)4]2-
b. [Rh(H2O)5Cl]2+                                      d. [AuCl4]-