Anda di halaman 1dari 12

MEKANISME NYERI

KELOMPOK 7
FITRIA RAHMADANI AGUSTIN (15.11.046)
GOSEN HASTUTI PARDEDE (15.11.048)
JESSICA TIARA Br. SITOMPUL (15.11.060)
PRISTA HOT MARINA PURBA (15.11.106)
RINA JUNARTI (
SULTAN HASANUDIN (15.11.134)
VIVI ELVIRA NABABAN (15.11.142)

DOSEN : NS. DEWI FRINTIANA SILABAN,S.KEP,M.KES

STIKes DELI HUSADA DELITUA


PROGRAM STUDI NERS
T.A 2015/2016
Kata Pengantar
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya
kepada saya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “ADK 224” yang bertema
“MEKANISME NYERI”.
Makalah yang kami kerjakan ini berisikan tentang bagaimana mekanisme nyeri. Kami berharap
makalah yang telah kami kerjakan ini dapat memberikan informasi kepada pembaca agar
mengetahui Apa itu mekanisme nyeri?
Kami menyadari bahwa makalah yang kami kerjakan ini jauh dari kata sempurna. Oleh
karenanya kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan dari setiap pihak atau
pembaca, demi sempurnanya makalah ini.
Akhir kata, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta
dalam pembuatan Makalah ini dari awal hingga akhir. Semoga senantiasa Tuhan menyertai kita
sekalian.

I
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ......………...……………………………………… I
DAFTAR ISI ......………...………………………………………………… II

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………. 1

A. Latar Belakang
B. Perumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………………. 2
A. Definisi Nyeri
B. Mekanisme terjadinya nyeri
C. Proses terjadinya nyeri
D. Klasifikasi nyeri
E. Karakteristik nyeri
F. Teori nyeri
BAB III PENUTUP……………………………………………………………….. 3
A. Kesimpulan
B. Saran

II
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Nyeri merupakan alasan yang paling umum seseorang mencari bantuan


perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama proses penyakit, pemeriksaan
diagnostik dan proses pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan
banyak orang. Perawat tidak bisa melihat dan merasakan nyeri yang dialami
oleh klien, karena nyeri bersifat subyektif (antara satu individu dengan individu
lainnya berbeda dalam menyikapi nyeri). Perawat memberi asuhan keperawatan
kepada klien di berbagai situasi dan keadaan, yang memberikan intervensi
untuk meningkatkan kenyamanan. Menurut beberapa teori keperawatan,
kenyamanan adalah kebutuhan dasar klien yang merupakan tujuan pemberian
asuhan keperawatan. Pernyataan tersebut didukung oleh Kolcaba yang
mengatakan bahwa kenyamanan adalah suatu keadaan telah terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Nyeri
Nyeri adalah gangguan rasa nyaman. Nyeri merupakan sensasi yang rumit,
unik, universal dan bersifat individual. (International Association for study of
pain ,1979), nyeri sebagai suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional
yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang bersifat
aktual atau potensial yang dirasakan di mana terjadi kerusakan.

B. Mekanisme terjadinya nyeri 


adalah rangsangan(mekanik, termal atau Kimia) diterima oleh reseptor nyeri
yang ada di hampir setiap jaringan tubuh. Rangsangan ini di ubah kedalam
bentuk impuls yang di hantarkan ke pusat nyeri di korteks otak. Setelah di
proses dipusat nyeri, impuls di kembalikan ke perifer dalam bentuk persepsi
nyeri (rasa nyeri yang kita alami).
Rangsangan yang diterima oleh reseptor nyeri dapat berasal dari berbagai faktor
dan dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Rangsangan Mekanik : Nyeri yang di sebabkan karena pengaruh mekanik
seperti tekanan, tusukan jarum, irisan pisau dan lain-lain.
2. Rangsangan Termal : Nyeri yang disebabkan karena pengaruh suhu, Rata-
rata manusia akan merasakan nyeri jika menerima panas diatas 45 C, dimana
mulai pada suhu tersebut jaringan akan mengalami kerusakan
3. Rangsangan Kimia : Jaringan yang mengalami kerusakan akan membebaskan
zat yang di sebut mediator yang dapat berikatan dengan reseptor nyeri
antaralain: bradikinin, serotonin, histamin, asetilkolin dan prostaglandin.
Bradikinin merupakan zat yang paling berperan dalam menimbulkan nyeri
karena kerusakan jaringan. Zat kimia lain yang berperan dalam menimbulkan
nyeri adalah asam, enzim proteolitik, Zat P dan ion K+ (ion K positif ).

C. Proses Terjadinya Nyeri


Reseptor nyeri dalam tubuh adalah ujung-ujung saraf yang ditemukan hampir
pada setiap jaringan tubuh. Impuls nyeri dihantarkan ke Sistem Saraf Pusat
(SSP) melalui dua sistem Serabut. Sistem pertama terdiri dari serabut bermielin
halus bergaris tengah 2-5 µm, dengan kecepatan hantaran 6-30 m/detik. Sistem
kedua terdiri dari serabut C tak bermielin dengan diameter 0.4-1.2 µm, dengan
kecepatan hantaran 0,5-2 m/detik.
Serabut bermielin halus berperan dalam menghantarkan "Nyeri cepat" dan
menghasilkan persepsi nyeri yang jelas, tajam dan terlokalisasi, sedangkan
serabut C menghantarkan "nyeri Lambat" dan menghasilkan persepsi samar-
samar, rasa pegal dan perasaan tidak enak.
Pusat nyeri terletak di talamus, kedua jenis serabut nyeri berakhir pada neuron
traktus spinotalamus lateral dan impuls nyeri berjalan ke atas melalui traktus ini
ke nukleus posteromidal ventral dan posterolateral dari talamus. Dari sini
impuls diteruskan ke gyrus post sentral dari korteks otak.

D. Klasifikasi Nyeri
Nyeri dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria antara lain:
a. Klasifikasi nyeri berdasarkan waktu, dibagi menjadi nyeri akut dan nyeri
kronis
- Nyeri Akut adalah Nyeri yang terjadi secara tiba-tiba dan terjadinya singkat
contoh nyeri trauma
- Nyeri Kronis adalah nyeri yang terjadi atau dialami sudah lama contoh kanker
b. Klasifikasi nyeri berdasarkan Tempat terjadinya nyeri
- Nyeri Somatik adalah Nyeri yang dirasakan hanya pada tempat terjadinya
kerusakan atau gangguan, bersifat tajam, mudah dilihat dan mudah ditangani,
contoh Nyeri karena tertusuk
- Nyeri Visceral adalah nyeri yang terkait kerusakan organ dalam, contoh nyeri
karena trauma di hati atau paru-paru.  
- Nyeri Reperred : nyeri yang dirasakan jauh dari lokasi nyeri, contoh nyeri
angina.  
c. Klasifikasi Nyeri Berdasarkan Persepsi Nyeri
- Nyeri Nosiseptis adalah Nyeri yang kerusakan jaringannya jelas  
- Nyeri neuropatik adalah nyeri yang kerusakan jaringan tidak jelas. contohnya
Nyeri yang diakitbatkan oleh kelainan pada susunan saraf.  

E. Karakteristik Nyeri
Karakteristik nyeri ada 4, yaitu:

a. Nyeri berdasarkan sifatnya


1.Incidental Pain, yaitu nyeri yang timbul sewaktuwaktu lalu menghilang.
2. Steady Pain, yaitu nyeri yang timbul dan menetap serta dirasakan dalam waktu
yang lama.
3. Paroximal Pain, nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan kuat sekali. Nyeri
tersebut biasanya menetap ± 10-15 menit lalu menghilang kemudian timbul lagi.

 b. Nyeri berdasarkan tempatnya


1). Pheriperal Pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh misalnya pada
kulit, mukosa.
2). Deep Pain, nyeri yang terasa pada permukaan tubuh yang lebih dalam atau
organ-organ tubuh viseral
3). Refered Pain, nyeri dalam yang disebabkan karena penyakit organ/struktur
dalam tubuh yang ditransmisikan ke bagian tubuh di daerah yang berbeda, bukan
daerah asal nyeri.
4). Central Pain, nyeri yang terjadi karena perangsangan pada sistem saraf pusat,
spinal cord, batang otak, talamus.

 c. Nyeri berdasarkan durasinya


1. Nyeri Akut bersifat terbatas atau akan sembuh dalam beberapa hari atau minggu
contoh: nyeri pasca trauma, paska operasi dan nyeri obstetrik seperti halnya nyeri
yang diasosiasikan dengan kondisi medis kritis yang akut seperti miokard infark,
pancreatitis dan calculi renal.
2. Nyeri Kronis menetap dialami lebih 3 bulan atau 6 bulan dari akibat abnormal
penyembuhannya atau karena pengobatan yang tidak adekuat, contoh : kanker

 d. Nyeri berdasarkan tipe


1. Nyeri somatik Nyeri somatik dideskripsikan sebagai sakit, menggerogoti, dan
tajam dalam hal kualitas. Dapat dilokalisasi dan diinisiasi oleh aktivasi nosiseptor
di jaringan kulit dan jaringan dalam. Contoh nyeri somatic termasuk nyeri akut
pasca operasi dan patah tulang.
2. Nyeri visceral Nyeri visceral juga diasosiasikan dengan kerusakan jaringan,
khususnya infiltrasi, kompresi (hambatan) dan distensi (pembesaran) dari organ
dalam. Nyeri yang tumpul dan sukar dilokalisasi dan bisa menyebar ke tempat lain.
Misalnya nyeri perut yang disebabkan oleh konstipasi.
3. Nyeri neuropatik Nyeri neuropati dihasilkan dari kerusakan terhadap sistem
saraf baik pusat maupun perifer. Tertembak, sengatan listrik, ataupun luka bakar
sering bersamaan dengan latar belakang timbulnya sensasi nyeri dan terbakar.
Contohnya, neuropati diabetik dan neuralgia post herpetic.  
F. Teori – teori nyeri

1. Teori pola (pattern theory) adalah rangsangan nyeri masuk melalui akar
ganglion dorsal medulla spinalis atau rangsangan melalui badan sel tulang
belakang

2. Teori pemisahan (specificity theory) menurut teori ini rangsangan sakit masuk
ke spinal cord melalui dorsalis yang bertemu di daerah posterior kemudian naik ke
traktus hemifer dan menyilang ke garis media ke sisi lainnya dan berakhir di
korteks serebri.

3. Teori pengendalian gerbang (gate control theory), teori ini rangsangan atau
impuls nyeri yang disampaikan oleh syaraf perifer aferen ke korda spinalis dapat
dimodifikasikan sebelum transmisi ke otak.

4. Teori transmisi dan inhibisi. Adanya stimulus pada nociceptor memulai


transmisi impuls-impuls pada serabut besar yang memblok impuls pada serabut
lamban dan endogen opiate sistem supresif.

G. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri

• Usia usia merupakan yariabel yang penting dalam mempengaruhi nyeri pada
individu

 Jenis kelamin secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara signifikan
dalam berespons terhadap nyeri.
 Kebudayaan, dengan cara mengatasi nyeri berdasarkan kebudayaan masing-
masing.
 Pengalaman sebelumnya setiap individu belajar dari pengalaman nyeri.
Keletihan, keletihan yang dirasakan seseorang akan meningkatkan sensasi
nyeri dan menurunkan kemampuan koping individu

Penilaian skala nyeri dapat dibagi atas :

A. Pasien yang memiliki kemampuan verbal dan dapat melaporkan sendiri rasa
sakitnya (self reported).Pasien dengan ketidakmampuan verbal baik karena
terganggu kognitifnya, dalam keadaan tersedasi atau dianastesi, ataupun berada
dalam mesin ventilator.Nyeri dinilai berdasarkan tingkah laku manusia, yang
secara kultur mempengaruhi, sehingga latar belakang mempengaruhi ekspresi dan
pemahaman terhadap nyeri. Intensitas Nyeri

B. Skala Nyeri Non Verbal Biasanya digunakan untuk pasien yang mengalami
limitasi verbal baik karena usia, kognitif, maupun karena berada dibawah pengaruh
obat sedasi dan di dalam mesin ventilator. Berdasarkan guidelines yang
dikeluarkan AHCPR tahun 1992 menyatakan penggunaan baik fisiologis dan
respon tingkah laku terhadap nyeri untuk dilakukan penilaian ketika self-report
tidak bisa dilakukan.

Tujuan implementasi pada Nyeri


1. Mengurangi intensitas dan durasi keluhan nyeri
2. Menurunkan kemungkinan berubahnya nyeri akut menjadi gejala nyeri kronis
yang persisten
3. Mengurangi penderitaan dan ketidakmampuan akibat nyeri.
4. Meminimalkan reaksi tak diinginkan atau intoleransi terhadap terapi nyeri.
5. Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengoptimalkan kemampuan pasien
untuk menjalankan aktivitas seharihari

Strategi terapi

1. Terapi non-farmakologi 1. Intervensi psikologis: Relaksasi, hipnosis, dll. 2.


Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) untuk nyeri bedah,
traumatik, dan oral-facial
2. Terapi farmakologi :Analgesik

4 TAHAP MEKANISME NYERI

Ø  Transduksi

Merupakan proses dimana suatu stimuli nyeri dirubah menjadi suatu aktifitas
listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf. Stimuli ini dapat berupa stimuli fisik
(tekanan), suhu (panas) atau kimia (substansi nyeri).
Terjadi perubahan patofisiologis karena mediator-mediator nyeri mempengaruhi
juga nosiseptor diluar daerah trauma sehingga lingkaran nyeri meluas. Selanjutnya
terjadi proses sensitisasi perifer yaitu menurunnya nilai ambang rangsang
nosiseptor karena pengaruh mediator-mediator tersebut di atas dan penurunan pH
jaringan. Akibatnya nyeri dapat timbul karena rangsang yang sebelumnya tidak
menimbulkan nyeri misalnya rabaan. 
Sensitisasi perifer ini mengakibatkan pula terjadinya sensitisasi sentral yaitu
hipereksitabilitas neuron pada spinalis, terpengaruhnya neuron simpatis dan
perubahan intraseluler yang menyebabkan nyeri dirasakan lebih lama.Rangsangan
nyeri diubah

Ø  Transmisi
Merupakan proses penyampaian impuls nyeri dari nosiseptor saraf perifer melewati
kornu dorsalis, dari spinalis menuju korteks serebri. Transmisi sepanjang akson
berlangsung karena proses polarisasi, sedangkan dari neuron presinaps ke pasca
sinaps melewati neurotransmitter.

Ø   Modulas
Adalah proses pengendalian internal oleh sistem saraf, dapat meningkatkan atau
mengurangi penerusan impuls nyeri.
Hambatan terjadi melalui sistem analgesia endogen yang melibatkan bermacam-
macam neurotansmiter antara lain endorphin yang dikeluarkan oleh sel otak dan
neuron di spinalis. Impuls ini bermula dari area periaquaductuagrey (PAG) dan
menghambat transmisi impuls pre maupun pasca sinaps di tingkat spinalis.
Modulasi nyeri dapat timbul di nosiseptor perifer medula spinalis atau
supraspinalis.

Ø  Persepsi
Persepsi adalah hasil rekonstruksi susunan saraf pusat tentang impuls nyeri yang
diterima. Rekonstruksi merupakan hasil interaksi sistem saraf sensoris, informasi
kognitif (korteks serebri) dan pengalaman emosional (hipokampus dan amigdala).
Persepsi menentukan berat ringannya nyeri yang dirasakan.

PQRST DALAM PENENTUAN PENGKAJIAN KARAKTERITIK NYERI

Karakteristik Nyeri (PQRST)


Ø  P (pemacu) : faktor yg mempengaruhi gawat dan ringannya nyeri

Ø  Q (quality):seperti apa-> tajam, tumpul, atau tersayat

Ø  R (region) : daerah perjalanan nyeri

Ø  S (severity/SKALA NYERI) : keparahan / intensitas nyeri

Ø  T (time) : lama/waktu serangan atau frekuensi nyeri

2
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang
didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau
menggambarkan kondisi terjadinya.Sedangkan pengertian nyeri secara umum
keperawatan mendefinisikan nyeri sebagai apapun yg menyakitkan tubuh yg
dikatakan individu yg mengalaminya, yang ada kapanpun individu
mengatakannya.

B. Saran

Jadi berhati – hati lah ketika kita melakukan sesuatu dalam segala hal agar tidak
terjadi kecelakaan yang dapat mengakibatkan nyeri pada tubuh kita.Namun,
ketika kita merasakan nyeri pada bagian tubuh kita sebaiknya kita lakukan
pemeriksaan ke puskesmas agar rasa nyeri yang terjadi pada tubuh kita tidak
merambat ke bagian tubuh lainnya.