Anda di halaman 1dari 5

Ringkasan Materi

1. Konsep Dasar Organisasi Keguruan


Di dalam perkembangannya, organisasi profesi kependidikan telah banyak mengalami
diferensiasi dan diversifikasi. Hal ini sejalan dengan terjadinya diferensiasi dan diversifikasi
profesi kependidikan. Sebagaimana dinyatakan dalam UU No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 6
bahwa “pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen,
konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang
sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.”
2. Pengertian, Tujuan dan Fungsi Organisasi Profesional
Organisasi Profesi merupakan organisasi yang anggotanya adalah para praktisi yang
menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-
fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam kapasitas mereka sebgai individu.
Berdasarkan peraturan pemerintah No. 38 tahun 1992 pasal 61 yang menyatakan ada lima
misi dan tujuan organisasi kependidikan, yaitu :
a. Meningkatkan dan atau menngembangkan karier anggota, merupakan upaya
organisasi profesi kependidikan dalam mengembangkan karier anggota sesuai dengan
bidang pekerjaan yang diembannya.
b. Meningkatkan dan atau mengembangkan kemampuan anggota, merupakan upaya
terwujudnya kompetensi kependidikan yang handal dalam diri tenaga kependidikan
atau guru, yang mencakup: performance component, subject component, profesional
component.
c. Meningkatkan dan mengembangkan kewenangan profesional anggota, ini merupakan
upaya para profesional untuk menempatkan anggota suatu profesi sesuai dengan
kemampuannya.
d. Meningkatkan dan atau mengembangkan martabat anggota, ini merupakan upaya
organisasi profesi kependidikan agar anggotanya terhindar dari perlakuan tidak
manusiawi dari pihak lain, dan tidak melakukan praktik yang melecehkan nilai-nilai
kemanusiaan.
e. Meningkatkan dan mengembangkan kesejahteraan, ini merupakan upaya organisasi
profesi kependidikan untuk meningkatkan kesejahteraan lahir batin anggotanya.
Organisasi profesi kependidikan berfungsi sebagai berikut:
1. Fungsi pemersatu
Organisasi profesi kependidikan merupakan wadah pemersatu berbagai potensi
profesi kependidikan dalam menghadapi kompleksitas tantangan dan harapan
masyarakat pengguna jasa kependidikan.
2. Fungsi peningkatan kemampuan profesional
Fungsi ini secara jelas tertuang dalam PP No. 38 tahun 1992, pasal 61 yang berbunyi
“Tenaga kependidikan dapat membentuk ikatan profesi sebagai wadah untuk
meningkatkan dan mengembangkan karier, kemampuan, kewenangan profesional,
martabat dan kesejahteraan tenaga kependidikan”.

3. Analisis Peranan Organisasi Profesi Keguruan


1. Keadaan yang ditemui
Suatu perkembangan yang menggembirakan muncul menyusul keluarnya Undang-
undang Rep. Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dalam UU
tersebut, tenaga kependidikan mendapat perhatian yang amat besar, melebihi bidang-bidang
lain. Ada 6 pasal (pasal 39 s/d 44) terdiri atas 17 ayat, yang secara khusus menyangkut tenaga
kependidikan. Ini menunjukan bahwa kedudukan tenaga kependidikan begitu penting dalam
rangka upaya memajukan pendidikan secara keseluruhan.
B. Pengertian Kode Etik Guru

Etika (ethic) bermakna sekumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak,


tata cara (adat, sopan santun) nilai mengenai benar dan salah tentang hak dan kewajiban yang
dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.

1. Tujuan Kode Etik Profesi Guru

Tujuan merumuskan kode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota
dan kepentingan organisasi profesi itu sendiri. Secara umum tujuan mengadakan kode etik
adalah sebagai berikut :

1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi

Dalam hal ini kode etik dapat menjaga pandangan dan kesan dari pihak luar atau
masyarakat, agar mereka jangan sampai memendang rendah atau remeh terhadap
suatu profesi.
2. Kesejahteraan dalam konteks ini meliputi kesejahteraan yang bersifat lahir (material)
ataupun kesejahteraan yang bersifat batin (spiritual atau mental).
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi

4. Untuk meningkatkan mutu profesi

Untuk meningkatkan mutu profesi, kode etik juga memuat norma-norma dan anjuran
agar para anggota profesi selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pengabdian para
anggotanya.

5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi

Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi, maka diwajibkan kepada setiap anggota
untuk secara aktif berpartisipasi dalam membina organisasi profesi dan kegiatan-
kegiatan yang dirancang organisasi

2. Fungsi Kode Etik Guru

Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma moral
yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya dengan
peserta didik, orangtua/wali siswa, sekolah dan rekan seprofesi, organisasi profesi, dan
pemerintah sesuai dengan nilai-nilai agama, pendidikan, sosial, etika dan kemanusiaan.

Secara umum, kode etik ini diperlukan dengan beberapa alasan, antara lain:

 Untuk melindungi pekerjaan sesuai dengan ketentuan dan kebijakan yang telah
ditetapkan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
 Untuk mengontrol terjadinya ketidakpuasan dan persengketaan dari para pelaksana,
sehingga dapat menjaga dan meningkatkan stabilitas internal dan eksternal pekerjaan.
 Melindungi para praktisi di masyarakat, terutama dalam hal adanya kasus-kasus
penyimpangan tindakan.
 Melindungi anggota masyarakat dari praktek-praktek yang menyimpang dari
ketentuan yang berlaku.

3. Penerapan Kode Etik Guru Dalam Kehidupan Masyarakat

Kode etik guru sebagai pedoman guru dalam berperilaku sesungguhnya dapat
diterapkan di masyrakat. Guru ketika berinteraksi dengan masyarakat harus berpegang teguh
pada kode etiknya. Perilaku yang ditunjukkan harus mencermikan nilai-nilai luhur kode etik
itu sehingga kandungannya menjelma dalam perilakunya.
Pengawasan terhadap pelaksanaan kode etik keguruan

Kode etik guru terdiri dari dua bagian, yakni :

1. Kode Etik Guru Indonesia

2. Kode Etik Jabatan Guru

Kedua kode etik ini berkenaan dengan karakteritik perilaku yang baik secara umum,
perilaku yang standar yang seharusnya ditampilkan oleh seorang guru dalam melakukan
tugasnya. Ada beberapa dimensi keprofesionalan kode etik, yaitu :

1. Pengetahuan (know-what)

2. Ketrampilan (know-how)

3. Sikap-sikap dan nilai-nilai yang melandasi pengetahuan dan ketrampilan,


pengalaman dan kemauan.

Penyimpangan terhadap kode etik yang dibuat oleh PGRI hendaknya pula diawasi
oleh PGRI. Kode etik tersebut hendaknya menjadi patokan perilaku anggotanya, agar setiap
anggota terhindar dari pelanggaran larangan dan terhindar pula dari sanksi yang mungkin
diberikan organisasi profesi. Sebagai penjaga organisasi profesi mempunyai fungsi kontrol
terhadap anggotanya. Di lain hal persoalan-persoalan yang ditangani Dewan Kehormatan
PGRI adalah misalnya perilaku guru yang jarang mengajar, mengajar menggunakan kata-kata
yang tidak pantas dan ketidakprofesionalan guru (bersifat indisipliner). Jika kasus dan
masalah pelanggarannya terasa lebih berat atau bersifat perdana, maka hal tersebut akan
ditangani oleh pihak kepolisian.

Nama : Junettina Z Siagian


Kelas : Pendidikan Ekonomi B
Nim : 7193141016