Anda di halaman 1dari 3

NAMA : DESI INTAN MUTIARA

NIM : 10011381722140

MATA KULIAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN PEMUKIMAN LAHAN BASAH

PEMINATAN AKK 2017

PERENCANAAN DAN INTERVENSI PENGELOLAAN PEMUKIMAN


LAHAN BASAH

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 LAHAN BASAH
Lahan basah adalah wilayah daratan yang digenangi air atau memiliki
kandungan air yang tinggi, baik permanen maupun musiman. Ekosistemnya
mencakup rawa, danau, sungai, hutan mangrove, hutan gambut, hutan banjir,
limpasan banjir, pesisir, sawah, hingga terumbu karang. Lahan ini bisa ada di
perairan tawar, payau maupun asin, proses pembentukannya bisa alami maupun
buatan.
2.2 PERMUKIMAN LAHAN BASAH
Permukiman dalam UU No.1 tahun 2011 adalah bagian dari lingkungan
hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai
prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi
lain dikawasan perkotaan atau kawasan perdesaan. Lahan basah merupakan
salah satu alternatif yang dapat dijadikan sebagai daerah pemukiman bagi
manusia dan juga mengatasi masalah kekurangan lahan tempat tinggal.
2.3 PERENCANAAN PERMUKIMAN LAHAN BASAH
Perencanaan adalah proses yang mendefinisikan tujuan, membuat strategi
digunakan untuk mencapai tujuan, serta mengembangkan rencana.
Perencanaan merupakan proses fungsi manajemen. Tanpa perencanaan
(Planning) fungsi pengorganisasian, pengontrolan, maupun pengarahan tidak
akan dapat berjalan.
Perencanaan pemukiman lahan basah adalah merancang pemukiman sesuai
dengan bentuk lokasi dan kontruksi sesuai dengan lahan basah untuk tetap
menjaga fungsi lahan agar tidak mengganggu ekosistem serta merusak alam.
2.4 INTERVENSI PERMUKIMAN LAHAN BASAH
Intervensi adalah campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak (orang,
golongan, negara dan sebagainya). Intervensi memiliki arti dalam kelas nomina
atau kata benda sehingga intervensi dapat menyatakan nama dari seseorang,
tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.
Penggunaan lahan merupakan hasil akhir dari setiap bentuk campur tangan
kegiatan (intervensi) manusia terhadap lahan dipermukaan bumi yang bersifat
dinamis dan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup baik meterial maupun
spiritual (Arsyad, 1989).
2.5 CONTOH KASUS
Berdasarkan Jurnal Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Oleh
Muhammad Ramdhan dapat dijelaskan bahwa kegiatan perencanaan dan
intervensi persepsi masyarakat terhadap kebijakan restorasi lahan gambut
adalah sebagai berikut :
Melakukan sosialisasi mengenai program restorasi lahan gambut masih
sangat perlu untuk ditingkatkan, Sosialisasi kebijakan/ketentuan/peraturan
perundangan yang berlaku secara terpadu. Pemerintah harus lebih aktif dan
memonitoring program ini melalui Badan restorasi gambut dalam melaksanakan
program ini agar bisa merangkul pihak masyarakat sekitar lahan gambut di
Provinsi Kalimantan Tengah untuk lebih menjaga keberadaan ekosistem lahan
gambut.
Diperlukan suatu program jangka panjang dan berkelanjutan (sustainable)
dalam pelaksanaan restorasi lahan gambut di Kalimantan Tengah perlu
melibatkan tiga pilar para pihak (stakeholder) yakni 1) Pilar pemerintahan: Desa,
Camat, Dinas-Dinas terkait 2) Pilar dunia usaha: perusahaan swasta hulu-hilir,
perbankan, koperasi dan 3) Pilar Masyarakat: tokoh masyarakat, LSM,
komunitas. Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan dan intervensi dalam
mengetahui masyarakat terhdap kebijakan restorasi lahan gambut yakni :
1. Diperlukan suatu program jangka panjang dan berkelanjutan
(sustainable) dalam pelaksanaan restorasi lahan gambut di Kalimantan
Tengah perlu melibatkan tiga pilar para pihak (stakeholder) yakni :
 Pilar pemerintahan: Desa, Camat, Dinas-Dinas terkait
 Pilar dunia usaha: perusahaan swasta hulu-hilir, perbankan,
koperasi dan
 Pilar Masyarakat: tokoh masyarakat, LSM, komunitas.
2. Pembentukan lembaga Masyarakat Desa Peduli Gambut (MDPG)
berbasis dukungan stakeholder adalah sebagai berikut:
 Sosialisasi kegiatan restorasi gambut terhadap seluruh
stakeholder oleh BRG dan Pemda
 Pembentukan Lembaga MDPG dengan keanggotaan seluruh
stakeholder
 Penyusunan struktur organisasi dan pengurus lembaga MDPG
yang mendapat dukungan seluruh stakeholder.
3. Pembuatan kebijakan teknis pengelolaan lahan gambut yang harus
dimiliki oleh tiap Provinsi yang memiliki lahan gambut sesuai PP No. 71
tahun 2014 tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut.

Untuk intervensi dari masyarakat Kalimantan Tengah yang tinggal di lahan


gambut mayoritas belum mengetahui program pengelolaan lahan gambut dari
pemerintah. Namun mereka mendukung adanya program pemerintah untuk
melakukan upaya pengelolaan lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah.
Masyarakat juga lebih banyak yang bersedia untuk bekerjasama dengan
pemerintah dalam melaksanakan program restorasi gambut. Pembentukan
lembaga masyarakat desa peduli gambut dapat menjadi solusi pengelolaan
lahan gambut yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah. Kegiatan Pembinaan
Desa Peduli Gambut (DPG) merupakan kegiatan pembinaan terhadap
masyarakat desa yang kegiatan usaha ekonominya terimbas dengan kegiatan
Restorasi Gambut berupa rewetting dan revegetasi. Pembinaan DPG diharapkan
bisa jangka panjang dan berkelanjutan, sehingga masyarakat akan merasakan
dampak positif upaya pembinaan yang dilakukan dan turut berpartisipasi dalam
upaya restorasi gambut dalam jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA
(‘LAHAN BASAH’, no date)‘LAHAN BASAH’ (no date). Available at:
https://indonesia.wetlands.org/id/wetlands/apa-lahan-basah-itu/.

(‘PEMUKIMAN LAHAN BASAH’, no date)‘PEMUKIMAN LAHAN BASAH’ (no date).


Available at: https://www.scribd.com/document/366743348/PEMUKIMAN-LAHAN-
BASAH.

(Ramdhan, 2017)Ramdhan, M. (2017) ‘ANALISIS PERSEPSI MASYARAKAT


TERHADAP KEBIJAKAN RESTORASI LAHAN GAMBUT DI KALIMANTAN
TENGAH’, 4(1), pp. 60–72.