Anda di halaman 1dari 1

Masalah stunting di Indonesia menjadi salah satu pusat perhatian.

Hal ini dikarenakan


Stunting adalah kondisi dimana gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun),
menyebabkan kekurangan gizi kronis pada anak sehingga anak terlalu pendek untuk
usianya. Kekurangan gizi juga terjadi sejak bayi masih dalam kandungan dan pada masa
awal setelah bayi lahir. Akan tetapi, kondisi stunting baru terlihat setelah bayi berusia 2
tahun. Menurut data terakhir dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dikeluarkan pada
2013, jumlah balita yang kekurangan gizi kembali mengalami peningkatan dari data
sebelumnya di tahun 2010, yaitu dari 17,9 persen menjadi 19,6 persen. Data RISKESDAS juga
menunjukkan bahwa prevalensi balita stunting pada 2018 mencapai 30,8 persen. Itu artinya,
satu dari tiga balita mengalami perawakan pendek akibat malanutrisi kronis.

Stunting menjadi permasalahan karena berhubungan dengan status kesehatan dan


kecerdasan pada anak. Terdapat dua faktor utama penyebab stunting yaitu penyebab
langsug dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung adalah kurangnya asupan
makanan dan adanya penyakit infeksi. Sedangkan penyakit tidak langsung yaitu kondisi
dimana lingkungan yang sangat berpengaruh sebesar 70% terhadap kejaidan stunting,
pengetahuan ibu yang kurang, pola asuh yang salah, sanitasi dan hygiene yang buruk, serta
rendahnya pelayanan kesehatan. Untuk itu langkah dalam menyelesaikan persoalan
masalah sunting adalah dengan memperbaiki tingkat literasi gizi
masyarakat. Literasi gizi adalah faktor penentu dalam menentukan status
gizi dalam suatu masyarakat. Sadar atau tidaknya permasalahan dari
stunting bukan hanya mengenai persoalan gizi buruk semata, tetapi juga
karena faktor pengetahuan atau informasi masyarakat dalam memahami
kecukupan nutrisi.

Berdasarkan data kejadian stunting di Kecamatan Sirah Pulau Padang


tepatmya di Desa Tanjung Alai tahun 2018, terdapat 3 balita yang sudah
terdata stunting dan pada tahun 2020 jumlah balita stunting tetap 3.
Namun pada tahun 2018 balita yang beresiko stunting sebanyak 6 balita
dan meningkat pada tahun 2020 menjadi 7 balita yang telah beresiko
stunting. Hal ini disebabkan karena masih belum terpenuhinya sanitasi
lingkungan yang baik serta masih kurangnya pengetahuan ibu dalam
pemenuhan gizi saat hamil dan pemenuhan gizi pada balita.

Referensi

- Estimasi dari Riset Kesehatan Dasar 2013 dan 2018


- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka
Kecukupan Gizi yang dianjurkan bagi masyarakat Indonesia