Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

Daftar isi................................................................................................................................................................1
Kata pengantar...................................................................................................................................................2
BAB I........................................................................................................................................................................3
Pendahuluan........................................................................................................................................................3
A. Latar belakang......................................................................................................................................3
B. Rumusan masalah...............................................................................................................................3
C. Tujuan......................................................................................................................................................3
BAB II......................................................................................................................................................................4
Pembahasan.........................................................................................................................................................4
A. Gugus fungsi..........................................................................................................................................4
B. Reaksi-reaksi senyawa organik..................................................................................................11
BAB III...................................................................................................................................................................13
Penutup................................................................................................................................................................13
Kesimpulan.........................................................................................................................................................13
Daftar Pustaka...................................................................................................................................................14

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas segala karunia-Nya, Allah SWT., sehingga penulisan karya ilmiah yang
berjudul “ Gugusan Fungsi “ telah dapat diselesaikan dengan baik.
Penyusunan makalah yang ditunjukan sebagai salah satu syarat nilai pada mata kuliah
kimia dasar, pada pelaksanaan tentu mengalami kendala. Semua kendala yang ada, tidak
mungkin dapat terselesaikan tanpa bantuan dari banyak pihak. Untuk itu pada kesempatan kali
ini kami ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Drs. H. Nahdudin Islamy, M.Si, selaku Direktur Akademi Minyak Dan Gas
Balongan
2. Bapak Amiroel Pribadi M, SKM, M.KKK, selaku Ketua Program Studi Fire and Safety
3. Ibu Rosiyah, M. Selaku dosen mata kuliah kimia dasar
4. Kedua orang tua kami, terima kasih telah memberi dukungan baik secara moral maupun
material.
5. Terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyusun
makalah ini
6. dan terima kasih kepada banyak pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu
Makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis sangat menantikan
kritikdan saran untuk perbaikan kedepannya
Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi
pembaca yang berminat pada umumnya

Indramayu, 03 Januari 2019

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah tentang kimia organik diawali sejak pertengahan abad 17. pada waktu
itu, tidak dapat dijelaskan perbedaan antara senyawa yang diperoleh dari organisme
hidup (hewan dan tumbuhan) dengan senyawa yang diperoleh dari bahan-bahan
mineral. Senyawa yang diperoleh dari tumbuhan dan hewan sangat sulit diisolasi. Ketika
dapat dimurnikan, senyawa-senyawa yang diperoleh tersebut sangat mudah
terdekomposisi dari pada senyawa yang diperoleh dari bahanbahan mineral.

Banyak ahli kimia pada masa itu hanya menjelaskan perbedaan senyawa organik
dan senyawa anorganik dalam hal bahwa senyawa organik harus mempunyai energi
vital (vital force) sebagai hasil dari keaslian mereka dalam tubuh makhluk hidup. Salah
satu akibat dari energi vital ini adalah para ahli kimia percaya bahwa senyawa organik
tidak dapat dibuat maupun dimanipulasi di laboratorium sebagaimana yang dapat
dilakukan terhadap senyawa anorganik. Teori vitalitas ini kemudian mengalami
perubahan ketika MichaelChevreul (1816) menemukan sabun sebagai hasil reaksi
antara basa dengan lemak hewani.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang medasari penulisan makalah ini antara lain :

1.      Apa pengertian gugus fungsi?

2.      Apa saja gugus fungsi yang termasuk dalam senyawa organik?

3.      Reaksi apa sajakah yang dapat terjadi pada senyawa organik?

4.      Apa saja produk-produk  petanian yang diolah dengan proses organik?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, makalah ini bertujuan :

1.      Mahasiswa mampu memahami pengertian gugus fungsi organik.

2.      Mahasiswa mampu menyebutkan gugus fungsi organik, struktur kimia, dan


contohnya.

3.      Mahasiwa mampu menjelaskan reaksi yang dapat terjadi pada senyawa organik.

4.      Mahasiswa mengetahui produk-produk pertanian organik yang telah beredar di


pasaran serta menyebtkan keunggulannya.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Gugus Fungsi

Kimia organik adalah studi ilmiah mengenai struktur, sifat, komposisi, reaksi,
dan sintesis senyawa organik. Senyawa organik dibangun oleh karbon dan hidrogen,
dan dapat mengandung unsur-unsur lain seperti nitrogen, oksigen, fosfor, dan belerang.
Sedangkan yang dimaksud dengan gugus fungsional adalah konfigurasi spesifik atom-
atom yang umumnya berikatan dengan kerangka karbon molekul organik dan umumya
terlibat dalam reaksi kimiawi.  Persenyawaan dengan gugus fungsional yang sama akan
mempunyai sifat kimia yang sama.

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai senyawa, baik senyawa


organik maupun anorganik. Senyawa organik sangat banyak jenisnya, sehingga perlu
adanya penggolongan senyawa organik.Penggolongan senyawa organik didasarkan
pada jenis gugus fungsi yang dimiliki oleh suatu senyawa. Gugus fungsi akan
menentukan kereaktifan kimia dalam molekul. Senyawa dengan gugus fungsi yang sama
cenderung mengalami reaksi kimia yang sama.

Gugus fungsi Golongan senyawa organik

C-C ikatantunggal R3-CH2-CR3alkana(R = H/ alkil)

C=C ikatan rangkap R2C = CR2alkena

C C ikatan ganda tiga RC CR alkuna

-X ikatan halide (X= F, Cl, Br, I) R-X haloalkana

OH gugus hidroksil R-OH alkohol

OR gugus alkoksil R-O-R’ eter

-C=O gugus karbonil R-CO-R’ keton

-COH gugus aldehid R-COH aldehid

-COOH gugus karboksilat R-COOH asamkarboksilat

-COOR’ gugus ester R-COOH asamkarboksilat

4
1. Alkana dan Alkil

Alkana termasuk senyawa alifatik jenuh karena tidak memiliki ikatan


rangkap. Rumus alkana : CnH2n + 2. Rumus alkil : CnH2n + 1

Sumber senyawa alkana : minyak bumi, batubara, gas alam. Sifat fisik


alkana yaitu non polar ketika terjadi tarik-menarik antar molekul lemah, tidak larut
dalam air, larut dalam senyawa organik (non polar) dan sedikit polar. Pada suhu
kamar dan tekanan 1 atm :

Adapun bau khas alkana ditentukan oleh pajang rantai alkana, yaitu :

C1 – C4 = gas (tidak berbau)

C5 – C17 = cair (berbau bensin)

C18 – dst = padat (tidak berbau)

Perlu diketahui bahwa titik didih senyawa rantai lurus > titik didih senyawa
rantai bercabang. Begitupun dengan massa atom relatifnya : Mr >> → titik didih >>.

Sedangkan sifat kimia alkana dan alkilnya antara lain :

- Kurang reaktif dibanding senyawa organik yang memiliki gugus fungsi.

- Tidak bereaksi dengan asam (stabil)

- Dapat bereaksi dengan halogen. Contoh : CH4 : metana, CH3 : metil, C2H6 : etana,
dan C2H5 : etil.

2. Alkena ( CnH2n )

Alkena adalah termasuk senyawa alifatik jenuh karena memiliki ikatan


rangkap. Ikatan rangkao yang dimiliki alkena yaeitu rangkap 2. Gugus fungsi alkena
dapat digambarkan sebagai – C = C –.

Tatanama alkena :

a.       Nama alkena yang mengandung satu ikatan rangkap mempunyai nama dari
alkana yang sesuai dengan mengganti ankhiran –ana menjadi -ena.

b.      Bila terdapat dua atau lebih ikatan rangkap namanya menjadi alkadiena,
alkatriena dan sebagainya.

c.       Tempat ikatan rangkap dinyatakan dengan nomor atom karbon yang


mendahului sesuai dengan alkana.

Contoh alkena :

CH2 =CH – CH2 – CH3 : 1-butena

5
3. Alkuna ( CnH2n )

Alkena termasuk ke dalam senyawa alifatik tak jenuh karena memiliki ikatan
rangkap. Ikatan rangkap yang dimiliki alkuna yaitu ikatan rangkap 3. Gugus fungsi
alkuna daat digambarkan sebagai : – C ≡ C –.

Tatanama :

a.       Sama dengan tatanama pada alkena, akhiran –ena digati –una.

b.      Aturan selanjutnya sama dengan aturan pada alkuna, yag perlu diingat bahwa
pada alkuna memiliki ikatan rangkap 3.

Contoh :

CH3 – CH2 – C ≡ C – CH3 : 2 pentuna

4. Alkohol ( CnH2n + 1 OH )

a. Sifat Alkohol

Sifat fisis pada alkohol mempunyai titik cair dan titik didih yang
relatif tinggi. Pada suhu kamar, alkohol suku rendah berbentuk
cairan yang bersifat cair, suku sedang berupa cairan kental,
sedangkan suku tinggi berbentuk padatan. Sifat kimia pada gugus OH
merupakan gugus yang cukup reaktif sehingga alkohol mudah
terlibat dalam berbagai jenis reaksi. Reaksi dengan logam aktif
misalnya logam natrium dan kalium membentuk alkoksida dan gas
hidrogen. Alkohol sederhana mudah terbakar membentuk gas
karbondioksida dan uap air. Jika alkohol dipanaskan bersama asam
sulfat pekat akan mengalami dehidrasi (melepas molekul air)
membentuk eter atau alkena.

Alkohol primer bisa dioksidasi baik menjadi aldehid maupun


asam karboksilat tergantung pada kondisi-kondisi reaksi. Oksidasi
parsial alkohol akan menghasilkan aldehid jika digunakan alkohol
yang berlebihan, dan aldehid bisa dipisahkan melalui distilasi sesaat
setelah terbentuk. Oksidasi alkohol sempurna akan menjadi asam
karboksilat. Alkohol sekunder dioksidasi menjadi keton. Jika dilihat
kembali tahap kedua reaksi alkohol primer, akan terlihat bahwa ada
sebuah atom oksigen yang disisipkan antara atom karbon dan atom
hidrogen dalam gugus aldehid untuk menghasilkan asam karboksilat.
Untuk alkohol sekunder, tidak ada atom hidrogen semacam ini,
sehingga reaksi berlangsung lebih cepat. Jika diperhatikan dengan
apa yang terjadi dengan alkohol primer dan sekunder, akan terlihat
bahwa agen pengoksidasi melepaskan hidrogen dari gugus -OH, dan
sebuah atom hidrogen dari atom karbon terikat pada gugus -OH.
Alkohol tersier tidak memiliki sebuah atom hidrogen yang terikat
pada atom karbon tersebut. Reaksi antara alkohol dengan logam
natrium menghasilkan gas hidrogen. Reaksi ini dapat digunakan

6
untuk menentukan senyawa dengan rumus umum CnH2n+2O
termasuk alkohol atau eter.

Berdasarkan letak ikatan –OH pada atom C, alkohol dibedakan


menjadi :

- Alkohol primer : gugus –OH terikat pada atom C primer

- Alkohol sekunder : gugus –OH terikat pada atom C sekunder

- Alkohol tersier : gugus –OH terikat pada atom C tersier

b. Tatanama

Alkohol dapat dipandang sebagai turunan alkana, dimana satu atom


H dari alkana diganti dengan gugus hidroksil ( OH ). Sehingga nama alkohol
diambil dari alkana dimana akhiran –a diganti dengan akhiran –ol,
sedangkan letak gugus OH terikat dinyatakan dengan angka. Atau diambil
nama radikal alkil + alkohol.

Contoh :

CH3 – CH2 – CH2 – OH : 1 propanol = propil alkohol

c. Sifat-sifat fisik alkohol

1)      Cairan encer, mudah bercampur dengan air dalam segala


perbandingan.

2)      Alkohol mempunyai titik didih tinggi dibanding alkana yang jumlah


atom C sama, karena antar molekul alkohol membentuk ikatan hidrogen.

d. Kegunaan Alkohol

1)      Etanol didapatkan pada minuman keras, dalam jumlah kecil


menyebabkan pembuluh darah dan tekanan darah menurun. Dalam jumlah
besar menyebabkan keracunan, merusak hati dan menyebabkan kematian.

2)      Etanol digunakan sebagai pelarut yang baik.

3)      Gasohol adalah campuran etanol dengan gasolin dipakai untuk bahan


bakar.

4)      Spiritus adalah campuran metanol + etanol + zat warna metilen blue.

5)      Etanol 70% dipakai untuk desinfektan.

6)      Metanol dikenal sebagai alkohol kayu, merupakan racun dapat


menyebabkan kebutaan, kehilangan kontrol dan menimbulkan kematian.

7)      Metanol juga sebagai pelarut dan sebagai bahan dasar pembuatan


formaldehid.

7
5. Eter ( R – O – R’)
a. Tatanama

Nama eter, mula-mula disebutkan dulu nama alkil pertama kemudian


alkil kedua diikuti kata eter. Alkil pertama adalah huruf awalnya terletak lebih
depan dalam urutan abjad. Eter dapat dipandang sebagai turunan alkana dimana
sebuah atom H-nya diganti dengan gugus alkoksi : CnH2n+1 O. Sehingga nama
eter mula-mula disebutkan dulu nama alkoksi, alkil yang lain disebutkan senama
alkana yang bersangkutan.

Contoh :

CH3 – O – CH3 : dimetil eter = metoksi metana

CH3 – CH2 – O – CH3 : etil metil eter = metoksi etana

CH3 – CH2 – O – CH2 – CH3 : dietil eter = etoksi etana

b. Perbedaan antara alkohol dan alkoksi alkana / eter

ALKOHOL

- dapat bereaksi dengan logam alkali

- dapat dioksidasi menjadi aldehid/keton

- dapat bereaksi dengan PCl5 atau PCl3 membebaskan HCl

- titik didih relatif tinggi karena adanya ikatan hidrogen

ALKOKSI ALKANA / ETER

- tidak dapat bereaksi dengan logam alkali

- tidak dapat dioksidasi

- dapat bereaksi dengan PCl5 jika dipanaskan tapi tidak membebaskan HCl

- titik didih relatif rendah

c. Kegunaan eter

Dalam kehidupan sehari-hari, eter sering digunakan sebagai pelarut zat-


zat organik dan dalam dunia medis berfungsi untuk obat bius.

6. Alkanal (–C=OH)
a. Tatanama

Nama alkanal (aldehid) berasal dari nama alkana yang bersangkutan


dengan mengganti akhiran –ana dengan –al.

Contoh :

8
( pentanal (IUPAC) = valeraldehida (Trivial) )

( butanal (IUPAC) = butiraldehida (Trivial) )

Isomer pada alkanol bisa disebabkan perbedaan posisi gugus fungsi (isomer
posisi) dan pada rantai karbonnya.

b. Kegunaan
 Larutan 40% formaldehid disebut formalin digunakan untuk pengawet
preparat anatomi. Formaldehid bersifat mengubah protein menjadi zat yang
kenyal dan padat.
 Formaldehid dengan fenol berpolimerisasi membentuk plastik.
 Formaldehid untuk pembuatan lem kayu.
 Asetaldehid adalah bahan baku DDT

7. Alkanon (–C=O)
a. Tatanama

Nama alkanon (keton) berasal dari alkana yang bersangkutan dengan


mengganti akhiran –ana dengan akhiran –anon.

Contoh :

( 4-metil, 2-pentanon )

Isomer pada alkanon terjadi karena perbedaan posisi gugus karbonil dan rantai
karbonnya, juga dijumpai isomer fungsional dengan aldehida.

b. Kegunaan

1)      Bahan yang penting bagi berbagai sintesis

2)      Bahan pembuatan kosmetik (cat kuku, parfum, dsb)

3)      Bahan dasar pembuatan kloroform, iodoform

c. Perbedaan aldehida dan keton

ALDEHIDA

a.    Bereaksi dengan reagen Fehling menghasilkan endapan merah bata, Cu2O.

b.    Bereaksi dengan reagen Tollens menghasilkan cermin perak, Ag.

c.    Bereaksi dengan reagen Benedict menghasilkan endapan merah bata, Cu2O.

d.   Dioksidasi menjadi asam karboksilat.

KETON

a.    Tidak bereaksi dengan reagen Fehling.

b.    Tidak bereaksi dengan reagen Tollens.

9
c.    Tidak bereaksi dengan reagen Benedict.

d.   Sukar dioksidasi.

8. Asam Alkanoat / Karboksilat (–COOH)


a. Tatanama

1)             Asam karboksilat alifatik diberi nama mengikuti nama alkana dengan


jumlah atom C yang sama dengan mengganti akhiran –ana menjadi –anoat.

2)             Atom C pada gugus –COOH selalu diberi nomor satu.

3)             Nama trivial (biasa) asam karboksilat seringkali diturunkan dari nama


seumbernya. Untuk menyebutkan letak substitusinya atom-atom karbon diberi
tanda α, β, γ, dan seterusnya.

4)             Atom C alfa adalah atom C yang terletak langsung dibelakang gugus –


COOH.

b. Sifat-sifat

Berupa zat cair tidak berwarna, berbau merangsang dan jika terkena
kulit akan melepuh. Karena mengandung gugus aldehid, asam format dapat
bereaksi dengan reagen Tollens maupun Fehling. Mudah dioksidasi membentuk
gas CO2 dan H2O.

9. Ester (–COO–R)

Ester adalah hsil reaksi asam karboksilat dan alkohol. Reaksi pembentukan
ester disebut esterifikasi.

a. Tatanama

Nama ester diawali dengan nama alkil dari alkohol diikuti nama asam
asalnya (alkil alkanoat).

Contoh :

: Etil etanoat (IUPAC) = Etil asetat (Trivial)

: Metil propanoat (IUPAC) = Metil propionat (Trivial)

: Etil butanoat (IUPAC) = Etil butirat (Trivial)

b. Sifat Ester

1) Banyak ester dari alkohol suku rendah dengan asam karboksilat suku
rendahnya berbau jharum / buah sehingga digunakan sebagai essence dan
parfum.

10
2) Lebih mudah menguap dibandingkan alkohol dan asamnya, sedikit larut
dalam air.

3) Ester bereaksi dengan air (hidrolisis).

+ R – OH → + H2O

Hidrolisis ester kebalikan dari esterifikasi.

10. Haloalkana ( R – X )

Halogen alkana adalah turunan alkana yang sama atom H-nya diganti gugus
halogen (Cl, Br, I).

a. Tatanama

1)         Gugus halogen disebut terlebih dahulu sebelum gugus (cabang) yang


lain.

2)         Sedangkan aturan yang lain sama dengan alkana.

b. Kegunaan

1)         Kloroform (CHCl3) : sebagai obat bius lokal tetapi sangat beracun

2)         Tetra klor metana (CCl) :

3)         Sebagai pelarut

4)         Pembersih minyak dan lemak

5)         Bahan pemadam kebakaran

6)         Monoklor etana (CH3CH2Cl) : obat bius lokal

B. Reaksi-reaksi Senyawa Organik

Berdasarkan panjang rantaaia dan gugus fungi yang dimiliki masing-masing


senyawa kaarbon, banyak reaksi yangdapat terjadi pada atom karbon. Reaksi-reaksi
yang terjadi pada atom karbon antara lain yaitu :

a. Reaksi Substitusi : Penggantian gugus atau atom yang terikat pada atom
karbon.

Reaksi pertukaran gugus fungsi terjadi saat atom atau gugus atom dari
suatu senyawa karbon digantikan oleh atom atau gugus atom lain dari
senyawa yang lain. Misalnya reaksi alkana dengan Cl2 dengan adanya radiasi

11
ultraviolet menghasilkan alkil klorida. Satu atom Cl dari Cl2 menggantikan
posisi H pada alkana, dan dua produk baru terbentuk.

Suatu reaksi subtitusi terjadi bila sebuah atom atau gugus yang berasal
dari pereaksi menggantikan sebuah atom atau gugus dari molekul yang
bereaksi. Subtitusi dapat terjadi pada karbon jenuh maupun tidak jenuh.

Beberapa reaksi substitusi :

1) Reaksi alkila halida dengan basa kuat

2) Reaksi alkohol dengan PCl3

3) Reaksi alkohol dengan logam Natrium

4) Reaksi klorinasi

5) Reaksi esterifikasi (pembentukan ester)

6) Reaksi saponifikasi (penyabunan)

b. Reaksi Adisi : Reaksi pemutusan ikatan rangkap

Terjadi ketika dua reaktan bergabung satu sama lain menghasilkan


produk baru tanpa adanya atom yang pergi. Reaksi antara suatu alkena
dengan HBr:

Reaksi adisi terjadi jika senyawa karbon yang mempunyai ikatan


rangkap menerima atom atau gugus atom lain sehungga ikatan rangkap
berubah menjadi ikatan tunggal. Reaksi adisi terjadi dari ikatan tak jenuh
(ikatan rangkap) menjadi ikatan jenuh (ikatan jenuh).  Molekul tidak jenuh
dapat menerima tambahan atom atau gugus dari pereaksi tanpa melebihi
angka koordinasi maksimum dari atomnya sendiri. Ikatan rangkap dua dan
rangkap tiga karbon-karbon dan rangkap dua karbon-oksigen merupakan
jenis struktur yang paling umum yang mengalami reaksi adisi.

c. Reaksi Eliminasi : Reaksi pembentukan ikatan rangkap

Reaksi eliminasi merupakan kebalikan dari reaksi adisi, terjadi


ketika reaktan tunggal menghasilkan dua produk pecahan. Beberapa atom
dipisahkan dari sebuah molekol untuk membentuk ikatan ganda atau siklis.
Secara umum reaksi eliminasi mengikuti persamaan sebagai berikut. Bila
suatu alkil halida direaksikan dengan suatu basa kuat, terjadi suatu reaksi
eliminasi. Dalam reaksi ini sebuah molekul kehilangan atom-atom atau ion-
ion dari struktur-strukturnya. Produk organik dari suatu reaksi eliminasi
alkil halida adalah alkena. Dalam reaksi eliminasi ini, unsur Hidrogen dan X
keluar dari dalam alkil halida ; oleh karena itu reaksi ini disebut reaksi
dehidrohalogenasi. (awalan de- berarti “minus” atau “hilangnya”).

BAB III

12
KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah mengenai kimia organik diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Gugus fungsi yang terasuk ke dalam golongan senyawa alifatik antara lain alkana,
alkena dan, alkuna.
2. Senyawa turunan alkana antara lain yaitu alkohol, eter, aldehid, keton, ester, asam
karboksilat, dan alkil halida.
3. Reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa organik antara lain reaksi substitusi, reaksi
adisi, dan reaksi eliminasi.
4. Alkohol adalah kelompok senyawa yang mengandung satu atau lebih gugus
fungsi hidroksil (-OH).
5. Alkohol ditentukan oleh posisi atau letak gugus fungsi OH pada rantai utama
karbon.
6. Terdapat tiga jenis alkohol yaitu alkohol primer, alkohol sekunder dan
alkohol tersier
7. Jenis alkohol tersebut dapat di oksidasi menjadi aldehid, asam karboksilat,
keton.
8. Alkohol banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang baik itu
menguntungkan manusia atau merugikan jika disalahgunakan
pemakaiannya.

13
DAFTAR PUSTAKA

 Jtk.unsri.ac.id. Pengaruh Larutan Heksana dan Etanol, Volume pelarut dan Waktu
Ekstraksi terhadap Hasil Ekstraksi si Minyak ( diakses tanggal 23 Mei 2017)
 Ejournal.unsri.ac.id . gugus fungsional alkohol (diakses tanggal 23 mei 2017)
  Http://jurnal.ugm.ac.id Note oxidation of benzylic secondary alkohol ( diakses

tanggal 23 mei 2017)


 Lib.ui.ac.id studi pemisahan (diakses tanggal 23 mei 2017)
 Lib.ui.ac.idStudi film polyvinil alkohol (diakses tanggal 23 mei 2017)

14