Anda di halaman 1dari 16

TUGAS TERSTRUKTUR DOSEN PEMBIMBING

HUKUM ACARA PERDATA Basir, S.H.I., M.H.

PUTUSAN AKTA PERDAMAIAN

Kelompok 6 :

Irwan Junaidi (11820715093)

Indra Gunawan (11820712410)

Alfi Mardi Saputra (11820712176)

ILMU HUKUM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU

PEKANBARU

2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt. yang telah memberikan kesehatan kepada penulis dan
kita semua, sehingga makalah mata kuliah Peradilan Agama di Indonesia dengan judul
Putusan Akta Perdamain dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses
pembuatan makalah. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan bagi
kesempurnaan makalah ini pada masa yang akan datang.

Bangkinang, 14 Mei 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

2. Rumuan Masalah

3. Tujuan

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian Penyelesaian melalui perdamaian

2. Prosedur mediasi di pengadilan

3. Kriteria dasar untuk mendamaikan

4. Syarat formil putusan perdamaian

5. Putusan perdamaian yang bertentangan dengan undang-undang dapat dibatalkan

6. Kekuatan hukum yang melekat pada putusan akta perdamain

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

i
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Akta perdamaian adalah akta yang dinyatakan dan ditandatangani di depan


persidangan (depan hakim). Akta/Surat yg dibuat dan ditandatangani oleh para pihak
dengan maksud untuk dijadikan bukti dari suatu perbuatan hukum tetapi akta tersebut
tidak dibuat di hadapan seorang pejabat umum, maka dikategorikan sebagai akta di
bawah tangan. Apabila akta tersebut sudah diakui oleh para pihak, maka itu
memberikan kekuatan pembuktian yang sempurna bagi akta tersebut (lihat Pasal 6,
Pasal 2 Ordonansi 1867/29). Namun, dalam kasus ini salah satu pihak tidak mengakui
akta tersebut, maka akta tersebut tidak memberikan kekuatan pembuktian yang
sempurna. Berdasarkan hal tersebut, setelah adanya putusan pengadilan yang
berkekuatan hukum tetap, maka yang diberlakukan adalah putusan pengadilan

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa Penyelesaian melalui perdamaian ?


2. Apa Prosedur mediasi di pengadilan?
3. Apa Kriteria dasar untuk mendamaikan ?
4. Apa Syarat formil putusan perdamaian?
5. Apa Putusan perdamaian yang bertentangan dengan undang-undang dapat
dibatalkan ?
6. Apa Kekuatan hukum yang melekat pada putusan akta perdamain ?

1.3 Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas,
penulisan ini bertujuan untuk :
1. Mendeskripsikan pengertian Penyelesaian melalui perdamaian.
2. Mendeskripsikan Prosedur mediasi di pengadilan.
3. Mengetahui Kriteria dasar untuk mendamaikan.
4. Mengetahui Syarat formil putusan perdamaian.
5. Mengetahui Putusan perdamaian yang bertentangan dengan undang-undang
dapat dibatalkan.
6. Mengetahui Kekuatan hukum yang melekat pada putusan akta.

i
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyelesaian melalui perdamaian


Pengertian perdamian tersebut seperti yang dikemukakan dalam Pasal 1851:1
“Perdamaian adalah suatu persetujuan yang berisi bahwa dengan menyerahkan,
menjanjikan atau menahan suatu barang, kedua belah pihak mengakhiri suatu
perkara yang sedang diperiksa pengadilan ataupun mencegah timbulnya suatu
perkara bila dibuat secara tertulis.”
Perdamaian  dapat dilakukan di luar pengadilan dan di dalam pengadilan. Perdamaian
yang dilakukan di luar pengadilan biasanya meminta bantuan teman atau sahabat atau pak
lurah.Sedang yang menyangkut perdamaian di dalam pengadilan diatur dalam Pasal 130
HIR/154 RBG. Pasal ini mengatakan:2
1) Apabila pada hari sidang yang telah ditentukan kedua belah pihak hadir, maka
pengadilan dengan perantaraan ketua sidang berusaha mendamaikan mereka.
2) Jika perdamaian tercapai pada waktu persidangan dibuat suatu akta perdamaian yang
mana kedua belah pihak dihukum untuk melaksanakan perjanjian itu; akta perdamian
tersebut berkekuatan dan dapat dijalankan sebagaimana putusan yang biasa.
3) Terhadap putusan yang sedemikian itu tidak dapat dimohonkan banding.
Selain itu, dalam PERMA No. 1 Tahun 2002 juga dinyatakan bahwa hakim
berkewajiban mendorong para pihak untuk menyelesaikan perkara dimaksud melalui
perdamaian baik pada awal persidangan maupun selama berlangsungnya pemeriksaan
perkara.
Penyelesaian perkara melalui perdamaian, apakah itu dalam bentuk mediasi,
konsiliasi, expert determination, atau mini trial mengadung berbagai keuntungan subtansial
dan psikologis, yang terpenting di antaranya:3
1) Penyelesaian Bersifat Informal
Penyelesaian melaui pendekatan nurani, bukan berdasarkan hukum.Kedua belah pihak
melepaskan diri dari kekuan istilah hukum (legal term) kepada pendekatan yang
bercorak nurani dan moral.Menjauhikan pendekatan doktrin dan asas pembuktian ke
arah persamaan persepsi yang saling menguntungkan.

1
2
3

i
2) Yang Menyelesaikan Sengketa Para Pihak Sendiri
Penyelesaian tidak diserahkan kepada kemauan dan kehendak hakim atau abiter,
tetapi diselesaikan oleh para pihak sendiri sesuai dengan kemauan mereka, karena
merekalah yang lebih tahu hal yang sebenarnya dan sesungguhnya atas sengketa yang
dipermasalah.
3) Jangka Waktu Penyelesaian Pendek
Pada umumnya jangka waktu peneyelsaian hanya satu atau dua minggu atau paling
lama satu bulan, asal ada ketulusan dan kerendahan hati dari kedua belah pihak.Itu
sebabnya disebut bersifat speedy (cepat), antara 5-6 minggu.
4) Biaya Ringan
Boleh dikatakan, tidak diperlukan biaya. Meskipun ada, sangat murah atau zero cost.
Hal ini merupakan kebalikan dari sistem peradilan atau arbitase, harus mengeluarkan
biaya mahal (very ecpensive).
5) Proses Penyelesaian Bersifat Konfidensial
Hal ini yang perlu dicatat, penyelesaian melalui perdamaian, benar-benar bersifat
rahasia atau konfidensial:
a.       Penyelesaian tertutup untuk umum,
b.      Yang tahu hanya mediator, konsiliator atau advisor maupun ahli yang bertindak
membantu penyelesaian.
6) Hubungan Para Pihak Bersifat Kooperatif
Oleh karena yang berbicara dalam penyelesaian adalah hati nurani, tejalin
penyelesaian berdasarkan kerja sama, mereka tidak menabuh genderang perang dalam
permusuhan atau antagonisme, tetaou dalam persaudaraan dan kerja sama.
7) Komunikasi dan Fokus Penyelesaian
Dalam penyelesaian perdamaian terwujud komunikasi aktif antara para pihak. Dalam
komunikasi itu, terpancar keinginan memperbaiki perselisihan dan kesalahan masa
lalu menuju hubungan yang baik untuk masa depan.
8) Hasil yang Dituju Sama Menang
Hasil yang dicari dan dituju para pihak dalam penyelesaian perdamaian, dapat
dikatakan sangat luhur:
a.       Sama-sama menang yang disebut konsep win-win solution, dengan menjauhkan
diri dari sifat egoistik dan serakah, mau menang sendiri.

i
b.      Dengan demikian, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang atau bukan
winning or losing seperti penyelesaian melalui putusan pengadilan atau
arbitrase.
9) Bebas Emosi dan Dendam
Penyelesaian sengketa melalui perdamaian, meredam sikap emosional tinggi dan
bergejolak, ke arah suasana bebas emosi selama berlangsung penyelesaian maupun
setelah penyelesaian dicapai.
1) Sistem manajemen melalui peradilan
Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Badan Peradilan di bawahnya senantiasa
berupaya membangun citra positif Peradilan melalui berbagai Kebijakan pembaruan untuk
mewujudkan Pengadilan yang Agung (Court of Excellence). Kebijakan ini sebagaimana tertuang
dalam Dokumen Perencanaan Jangka Panjang Badan Peradilan Indonesia, yang dinamakan Cetak
Biru (Blue Print) Pembaruan Peradilan Indonesia 2010-2035.Cetak Biru ini merupakan
penyempurnaan dari Cetak Biru yang diterbitkan tahun 2003, guna lebih mempertajam arah dan
langkah dalam mencapai cita-cita pembaruan Badan Peradilan secara utuh.Penyusunan Cetak Biru
ini dengan menggunakan pendekatan kerangka Pengadilan yang unggul (The Framework of Courts
Excellence). Kerangka ini terdiri dari 7 (tujuh)  Area “Peradilan yang Agung”  yang dibagi ke
dalam 3 (tiga) Fungsi, yaitu: Pengarah/Pengendali(Driver), Sistem dan Penggerak (System  and
Enabler), dan Hasil (Result).
Kepemimpinan Dan Manajemen Pengadilan

A. Fungsi Sistem dan Penggerak, berada dalam Area:


1) Kebijakan-Kebijakan Pengadilan;
2) Sumber Daya Manusia, Sarana-Prasarana Dan Keuangan;
3) Penyelenggaraan Persidangan;
B. Sedangkan Fungsi hasil dalam Area:
1) Kebutuhan Dan Kepuasan Pengguna Pengadilan;
2) Pelayanan Pengadilan Yang Terjangkau;
3) Kepercayaan Dan Keyakinan Masyarakat   Pada Pengadilan;
Tujuh Area ini dikembangkan berdasarkan kerangka Pengadilan yang Agung (Court
Excellence Framework)  yang merupakan Kerangka Pikir dan Kerja Bagi Pengadilan yang ingin
meningkatkan Kinerjanya.Kerangka ini telah dikembangkan dan digunakan secara Internasional.

i
2) Sistem penggabungan pengadilan dengan arbitrase
Sesuai yang tertuang pada pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999
Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Arbitraseadalah cara penyelesaian
suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase
yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.
Alternatif ini menjadi lebih banyak diminati pelaku bisnis karena beberapa hal, antara
lain karena lebih efisien (baik dari sisi waktu maupun biaya) dan menerapkan prinsip win-
win solution. Proses persidangan dan putusan arbitrase pun bersifat rahasia sehingga tidak
dipublikasikan, tetapi tetap bersifat final dan mengikat. Di samping itu, arbiter yang ditunjuk
sebagai pemeriksa perkara pun merupakan seorang yang ahli dalam permasalahan yang
tengah disengketakan sehingga dapat memberikan penilaian lebih matang dan objektif.4
Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum
yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang
bersengketa (berdasarkan pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa).
Adapun pada saat berlakunya UU No. 30 Tahun 1999 ini, ketentuan mengenai
arbitrase sebagaimana diatur dalam pasal 615 sampai 651 Rv, Pasal 377 HIR, dan Pasal 705
Rbg tidak berlaku lagi. Adanya UU No. 30 Tahun 1999 telah berusaha mengakomodir semua
aspek mengenai arbitrase baik dari segi hukum maupun substansinya dengan ruang lingkup
baik nasional.
Di Indonesia sendiri, minat untuk menyelesaikan sengketa melalui jalur arbitrase ini
meningkat semenjak diundangkannya UU No. 30 Tahun 1999 tersebut. Adapun beberapa hal
yang menjadi keuntungan Arbitrase dibandingkan menyelesaikan sengketa melalui jalur
litigasi adalah :5
1) Sidang tertutup untuk umum ;
2) Prosesnya cepat (maksimal enam bulan) ;
3) Putusannya final dan tidak dapat dibanding atau kasasi ;
4) Arbiternya dipilih oleh para pihak, ahli dalam bidang yang disengketakan, dan
memiliki integritas atau moral yang tinggi ;
5) Walaupun biaya formalnya lebih mahal daripada biaya pengadilan, tetapi tidak ada
'biaya-biaya lain' ; hingga,

4
5

i
6) Khusus di Indonesia, para pihak dapat mempresentasikan kasusnya dihadapan Majelis
Arbitrase dan Majelis Arbitrase dapat langsung meminta klarifikasi oleh para pihak.
Seiring perkembangannya, penyelesaian sengketa melalui arbitrase ini
menemui beberapa permasalahan. Masalah utama adalah terkait dengan pelaksanaan
atau eksekusi putusan arbitrase. Dalam ruang lingkup internasional, putusan arbitrase
internasional dapat diakui dan dilaksanakan di Indonesia apabila tidak bertentangan
dengan ketertiban umum, telah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat, serta apabila salah satu pihak dalam sengketa adalah Negara Republik
Indonesia maka hanya dapat dilaksanakan setelah ada eksekuatur dari Mahkamah
Agung - RI. Permasalahannya, pengadilan di Indonesia seringkali "dicap" enggan
untuk melaksanakan pelaksanaan putusan arbitrase internasional dengan alasan bahwa
putusan tersebut bertentangan dengan ketertiban umum.
B. Prosedur Mediasi Peradilan Agama (PERMA No. I Tahun 2016)
1) Tahap Pra Mediasi

a. Pada Hari Sidang Pertama yang dihadiri kedua belah pihak Hakim
mewajibkan para pihak untuk menempuh mediasi.

b. Hakim Menunda proses persidangan perkara untuk memberikan kesempatan


proses mediasi paling lama 30 Hari Kerja.

c. Hakim menjelaskan prosedur mediasi kepada para pihak yang bersengketa.


Para pihak memilih Mediator dari daftar nama yang telah tersedia, pada hari
Sidang Pertama atau paling lama 2 hari kerja berikutnya.

d. Apabila dalam jangka waktu tersebut dalam point 4 para pihak tidak dapat
bersepakat memilih Mediator yang dikehendaki.

e. Ketua Majelis Hakim segera menunjuk Hakim bukan pemeriksa pokok


perkara untuk menjalankan fungsi Mediator.

2) Tahap Proses Mediasi.


a. Dalam waktu paling lama 5 hari kerja setelah para pihak menunjuk Mediator
yang disepakati atau setelah ditunjuk oleh Ketua Majelis Hakim, masing –
masing pihak dapat menyerahkan resume perkara kepada Hakim Mediator
yang ditunjuk.
b. Proses Mediasi berlangsung paling lama 30 hari kerja sejak Mediator dipilih
oleh para pihak atau ditunjuk oleh Majelis Hakim.

i
c. Mediator wajib memperseiapkan jadwal pertemuan Mediasi kepada para pihak
untuk disepakati.
d. Apabila dianggap perlu Mediator dapat melakukan “Kaukus”. Mediator
berkewajiban menyatakan mediasi telah Gagal jika salah satu pihak atau para
pihak atau Kuasa Hukumnya telah 2 kali berturut – turut tidak menghadiri
pertemuan Mediasi sesuai jadwal yang telah disepakati tanpa alasan setelah
dipanggil secara patut.

C. Mediasi Mencapai Kesepakatan

a. Jika mediasi menghasilkan kesepakatan perdamaian maka wajib dirumuskan


secara tertulis dan ditandatangani oleh para pihak dan Mediator.

b. Jika mediasi diwakili oleh Kuasa Hukum para maka pihak wajib menyatakan
secara tertulis persetujuan atau kesepakatan yang dicapai.

c. Para pihak wajib menghadap kembali kepada Hakim pada hari Sidang yang
telah ditentukan untuk memberi tahukan kesepakatan perdamaian tersebut.

d. Para pihak dapat mengajukan kesepakatan perdamaian kepada Hakim untuk


dikuatkan dalam bentuk “Akta Perdamaian”.

e. Apabila para pihak tidak menghendaki kesepakatan perdamaian dikuatkan


dalam bentuk Akta perdamaian maka harus memuat clausula pencabutan
Gugatan dan atau clausula yang menyatakan perkara telah selesai.

D. Mediasi Tidak Mencapai Kesepakatan

a. Jika Mediasi tidak menghasilkan kesepakatan, Mediator wajib menyatakan


secara tertulis bahwa proses mediasi telah gagal dan memberitahukan
kegagalan tersebut kepada Hakim.

b. Pada tiap tahapan pemeriksaan perkara Hakim pemeriksa perkara tetap


berwenang untuk mengusahakan perdamaian hingga sebelum pengucapan
Putusan.

c. Jika mediasi gagal, pernyataan dan pengakuan para pihak dalam proses
mediasi tidak dapat digunakan sebagai alat bukti dalam proses persidangan.

E. Tempat Penyelenggaraan Mediasi

a. Mediator Hakim tidak boleh menyelenggarakan Mediasi diluar Pengadilan.

i
b. Penyelenggaraan mediasi disalah satu ruang Pengadilan Agama tidak
dikenakan biaya

F. Perdamaian di tingkat Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali

a. Para pihak yang bersepakat menempuh perdamaian di tingkat Banding /


Kasasi / Peninjauan Kembali wajib menyampaikan secara tertulis kepada
Ketua Pengadilan Agama yang mengadili.

b. Ketua Pengadilan Agama yang mengadili segera memberitahukan kepada


Ketua Pengadilan Tinggi Agama (bagi perkara Banding) atau Ketua
Mahkamah Agung (bagi perkara Kasasi dan Peninjauan Kembali) tentang
kehendak para pihak untuk menempuh perdamaian. Hakim Banding / Kasasi /
Peninjauan Kembali wajib menunda pemeriksaan perkara yang bersangkutan
selama 14 hari kerja sejak menerima pemberitahuan tersebut.

c. Para pihak melalui Ketua Pengadilan Agama dapat mengajukan Kesepakatan


perdamaian secara tertulis kepada Majelis Hakim Banding / Kasasi /
Peninjauan Kembali untuk dikuatkan dalam Akta perdamaian. Akta
perdamaian ditanda tangani oleh Majelis Hakim Banding / Kasasi / Peninjauan
Kembali dalam waktu selambat – lambatnya 30 hari kerja sejak dicatat dalam
Register Induk Perkara.6

C. Kriteria Dasar Untuk Mendamaikan


1) Adanya persetujuan kedua belah pihak
Dalam usaha melaksanakan perdamaian yang dilakukan oleh majelis hakim
dalam persidangan, kedua belah pihak harus bersepekat dan menyetujui dengan
suka rela untuk mengakhiri perselisihan yang sedang berlangsung. Persetujuan itu
harus betul-betul murni dating dari kedua belah pihak. Persetujuan yang memenuhi
syarat formil adalah sebagai berikut:
1)     Adanya kata sepakat secara sukarela (toestemming).
2)     Kedua belah pihak cakap membuat persetujuan (bekwanneid).
3)     Obyek persetujuan mengenai pokok yang tertentu (bapaalde onderwerp).
4)     Berdasarkan alasan yang diperbolehkan (georrlosofde oorzaak).
2) Mengakhiri Sengketa

i
                       Apabila perdamaian telah dapat dilaksanakan maka dibuat putusan perdamaian
yang lazim disebut dengan akta perdamaian. Putusan perdamaian yang dibuat dalam
majelis hakim harus betul-betul mengakhiri sengketa yang sedang terjadi diantara
pihak-pihak yang berperkara secara tuntas. Putusan perdamaian hendaknya meliputi
keseluruhan sengketa yang diperkarakan, hal ini dimaksudkan untuk mencegah
timbulnya perkara lagi dengan masalah yang sama.
3) Mengenai Sengketa Yang Telah Ada
Syarat untuk dijadikan dasar putusan perdamaian itu hendaknya persengketaan
para pihak sudah terjadi, baik yang sudah terwujud maupun yang sudah nyata
terwujud tetapi baru akan diajukan ke pengadilan sehingga perdamaian yang dibuat
oleh para pihak mencegah terjadinya perkara di siding pengadilan.
4) Bentuk Perdamaian Harus Tertulis
Persetujuan perdamaian itu sah apabila dibuat secara tertulis, syarat ini bersifat
imperative (memaksa), jadi tidak ada persetujuan perdamaian apabila dilaksanakan
dengan cara lisan dihadapan pejabat yang berwenang. Jadi akta perdamaian harus
dibuat secara tertulis sesuai dengan format yang telah ditetapkan oleh ketentuan yang
berlaku.

D. Syarat Formil Putusan Perdamaian


Syarat formil putusan perdamaian yang diatur dalam BAB XVIII, Buku ketiga KUH
Perdata (Pasal 1851-1864), yaitu sebagai berikut:

1. Persetujuan perdamaian mengakhiri perkara


Syarat pertama, persetujuan perdamaian harus mengakhiri perkara secara tuntas dan
keseluruhan. Tidak boleh ada yang tertinggal. Perdamaian harus membawa pihak terlepas
dari sengketa.
2. Persetujuan perdamaian berbentuk tertulis
Syarat formil kedua yang digariskan Pasal 1851 KUH Perdata, yakni mengenai
bentuk persetujuan:
a. Harus berbentuk akta tertulis, boleh dibawah tangan (ditanda tangani para pihak) dan
dapat juga berbentuk akta autentik.
b. Tidak dibenarkan persetujuan dalam bentuk lisan
c. Setiap persetujuan yang tidak tertulis dinyatakan tidak sah

i
3. Pihak yang membuat persetujuan perdamaian adalah orang yang mempunyai
kekuasaan
Syarat ini berkaitan dengan ketentuan perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 ke-2 jo
Pasal 1330 KUH Perdata. Meskipun Pasal 1320 KUH Perdata mempergunakan istilah tidak
cakap dan Pasal 1852 istilah tidak mempunyai kewenangan, yang termasuk didalamnya tidak
mempunyai kedudukan dan kapasitas sebagai personal standi ini judicio.
4. Seluruh pihak yang terlibat dalam perkara ikut dalam persetujuan perdamaian
Syarat formil lain yang ikut terlibat dalam persetujuan tidak boleh kurang dari pihak
yang terlibat dalam perkara. Semua orang yang tidak bertindak sebagai penggugat dan
tergugat , mesti seluruhnya ikut ambil bagian sebagai pihak dalam pihak perdamaian.

E. Putusan Perdamaian Yang Bertentangan Dengan Undang-Undang Dapat Dibatalkan

Ada pengecualian yang memungkinkan sehingga suatu akta perdamaian bisa


dituntut pembatalannya. Akta perdamaian ini dapat dimintakan pembatalannya, yaitu
apabila isinya bertentangan dengan undang-undang.:

 Pasal 1858 KUHPerdata: “Di antara pihak-pihak yang bersangkutan, suatu


perdamaian mempunyai kekuatan seperti suatu keputusan hakim pada tingkat
akhir. Perdamaian itu tidak dapat dibantah dengan alasan bahwa terjadi kekeliruan
mengenai hukum atau dengan alasan bahwa salah satu pihak dirugikan.”

 Pasal 1859 KUHPerdata: “Namun perdamaian dapat dibatalkan bila telah terjadi
suatu kekeliruan mengenai orang yang bersangkutan atau pokok perselisihan.
Perdamaian dapat dibatalkan dalam segala hal, bila telah dilakukan penipuan
atau paksaan.”

 Pasal 1860 KUHPerdata: “Begitu pula pembatalan suatu perdamaian dapat


diminta, jika perdamaian itu diadakan karena kekeliruan mengenai
duduknya perkara tentang suatu alas-hak yang batal, kecuali bila para pihak
telah mengadakan perdamaian tentang kebatalan itu dengan pernyataan tegas.”

 Pasal 1861 KUHPerdata: “Suatu perdamaian yang diadakan atas dasar surat-
surat yang kemudian dinyatakan palsu, batal sama sekali.”.

i
F. Kekuatan Hukum Yang Melekat Pada Putusan Akta Perdamaian

Kekuatan hukum yang melekat pada putusan perdamaian diatur dalam pasal
1858KUHPerdata segala perdamaian mempunyai di antara para pihak suatu kekuatan
seperti suatu putusan hakim dalam tingkat yang penghabisan tidak dapatlah perdamaian itu
dibantah dengan alasan kehilafan mengenai hukum atau dengan alasan bahwa salah satu
pihak dirugikan, pasal tersebutmemberikan posisi hukum yang sangat kuat terkait
perdamaian, dimana segala perdamaian mempunyai di antara para pihak sesuatu kekuatan
seperti suatu putusan hakim dalam tingkat yang penghabisan. Bahkan lebih jauh diatur
bahwa tidak dapatlah perdamaian itu di bantah dengan alas an kekhilafan mengenai hukum
atau dengan alasan bahwa salah satu pihak dirugikan.dan pasal 130 ayat 2 dan 3 HIR
mengatur bahwa akta perdamaian itu berkekuatan dan akan dilakukan sebagai keputusan
hakim yang biasa, dan terhadap keputusan tidak dapat dimintakan banding.Putusan
perdamaian atau akta perdamaian memiliki bermacam-macam sifat diantara adalah:

a.Bersifat partai

b.Mengikat kepada para pihak

c.Putusan mempunyai nilai kekuatan pembuktian

d.Putusan mempunyai kekuatan eksekutorial

i
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan

Perdamaian adalah suatu persetujuan yang berisi bahwa dengan menyerahkan,


menjanjikan atau menahan suatu barang, kedua belah pihak mengakhiri suatu perkara
yang sedang diperiksa pengadilan ataupun mencegah timbulnya suatu perkara bila dibuat
secara tertulis.

i
Daftar Pustaka

Sophar Maru Hutagalung. 2012.  Peraktik Peradilan Perdata dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa. Jakarta: Sinar Grafika.

Soedharyo Soimin. 2001.  Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Jakarta: Sinar Grafika.

Abdul Manan.  Penerapan Hukum Acara Perdata.  

Moh. Taufik Makaro. 2004.  Pokok-pokok Hukum Acara Perdata. Jakarta: PT Rineka Cipta.