Anda di halaman 1dari 8

SILABUS

I. Mata Kuliah : HUKUM ACARA PERDATA


Kode :
Fakultas : Syari’ah dan Hukum
Program Studi : Ilmu Hukum
Program : S.1
Bobot SKS : 3 SKS
Sifat : Wajib

II. Deskripsi Mata Kuliah

III.Tolok Ukur Indikator Kompetensi (Target Hasil Belajar)


1. Mahasiswa dapat memahami, mengerti luas baik secara aktual dan kontekstual
mengenai ruang lingkup hukum acara baik dari segi teori dan praktik. Diharapkan
mahasiswa dapat memberikan uraian yang berimbang secara argumentatif dan
proporsional antara teori dan praktik, serta berwawasan akademis dan praktis.
Sehingga mahasiswa dapat ikut mewujudkan tegaknya proses pemeriksaan dan
peradilan yang jujur.
2. Mahasiswa dapat mengetahui landasan yang teoritis dan sistematis tentang
bagaimana praktik pada peradilan tingkat pertama di Pengadilan Negeri.
3. Mahasiswa dapat memahami tentang hukum acara perdata dan dapat menguraikan
tentang bagaimana menggunakan peraturan-peraturan hukum acara perdata yang
berlaku di Indonesia.
4. Mahasiswa dapat memahami dan mengkaji uraian teoritis yang memberi dasar
akademik dan pengetahuan tentang putusan-putusan peradilan tingkat pertama di
Pengadilan Negeri.

IV. Topik Inti


1. Pengertian, Sumber, Azaz-Azaz Hukum Acara Perdata Serta Surat Kuasa.
a. Pengertian, Sifat dan Berakhirnya Kuasa.
b. Jenis Kuasa (Umum, Khusus, Istimewa).
c. Kuasa Menurut Hukum.
d. Bentuk Kuasa Di Depan Pengadilan.
e. Permasalahan Penerapan Surat Kuasa Khusus.

2. Gugatan Permohonan Atau Voluntair.


a. Pengertian Gugatan Permohonan.
b. Landasan Hukum Yurisdiksi Voluntair.
c. Fundamentum Petendi.
d. Petitum Permohonan.
e. Proses Pemeriksaan Permohonan.
f. Penegakan Prinsip Pembuktian Gugatan Permohonan.
g. Putusan Permohonan.
h. Kekuatan Pembuktian Penetapan.
i. Upaya Hukum Terhadap Penetapan.
j. Upaya Koreksi Terhadap Permohonan yang Keliru.

3. Gugatan Kontentiosa.
a. Pengertian Gugatan Kontentiosa.
b. Bentuk Gugatan Kontentiosa.
c. Formulasi Surat Gugatan Kontentiosa.
d. Tata Cara Pemeriksaan Gugat Kontentiosa.
e. Pengguguran Gugatan Kontentiosa.
f. Pencabutan Gugatan Kontentiosa.
g. Perubahan Gugatan Kontentiosa.
h. Penggabungan Gugatan Kontentiosa.
i. Pihak Dalam Gugatan Kontentiosa.
1) Kekeliruan Pihak Menimbulkan Gugatan Error In Persona.
2) Akibat Hukum Kesalahan Pihak.
3) Penerapan Pihak Dihubungkan Dengan Kasus Perdata.

4. Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Action).


a. Sejarah dan Pengertian Gugatan Perwakilan Kelompok.
b. Tujuan Gugatan Perwakilan Kelompok.
c. Syarat-Syarat Formil Gugatan Perwakilan Kelompok.
d. Formulasi Gugatan Perwakilan Kelompok.
e. Proses Pemeriksaan Awal Gugatan Perwakilan Kelompok.

Kekuasaan Mengadili.
a. Sejarah Peradilan.
b. Sistem Peradilan dan Penyelesaiana Sengketa.
c. Kekuasaan Absolut Mengadili.
d. Kewenangan Relatif Pengadilan Negeri.
e. Sengketa Kewenangan Mengadili.

5. Tata Cara Pemanggilan Dan Proses Yang Mendahului.


a. Tahap dan Tindakan yang Mendahului Pemanggilan.
1) Pengertian.
2) Penyampaian Gugatan Ke Pengadilan Negeri.
3) Pembayaran Biaya Perkara.
4) Registrasi.
5) Penetapan Majelis Oleh Ketua Pengadilan Negeri.

b. Tahap Pemanggilan.
1) Majelis Memerintahkan Pemanggilan.
2) Yang Melaksanakan Pemanggilan.
3) Bentuk Panggilan.
4) Isi Surat Panggilan Pertama Kepada Tergugat.
5) Cara Panggilan Yang Sah.
6) Pemanggilan Tergugat Yang Berada Di Luar Negeri Maupun Tergugat
Meninggal.
7) Larangan Melakukan Panggilan.
8) Otentikasi Surat Panggilan.

6. Putusan Akta Perdamaian.


a. Penyelesaian Melalui Perdamaian.
1) Sistem Manajemen Dalam Peradilan.
2) Sistem Penggabungn Pengadilan Dengan Arbitrase.
b. Prosedur Mediasi Di Pengadilan.
c. Kriteria Dasar Untuk Mendamaikan.
d. Syarat Formil Putusan Perdamaian.
e. Putusan Perdamaian Yang Bertentangan Dengan Undang-Undang Dapat
Dibatalkan.
f. Kekuatan Hukum Yang Melekat Pada Putusan Akta Perdamaian.

7. Penyitaan.
a. Pengertian dan Tujuan Penyitaan.
b. Beberapa Prinsip Pokok Sita.
c. Sita Revindikasi.
1) Pengertian, Urgensi, Penerapan Dalam Transaksi Tertentu, Syarat/ Alasan
Sita, Serta Tata Cara Sita Revindikasi.
2) Memanggil Para Pihak Menghadiri Sidang.
3) Menyerahkan Barang Berharga Kepada Penggugat.
4) Memerintahkan Pencabutan Sita Apabila Gugatan Ditolak.
d. Sita Jaminan.
1) Pengertian, Penerapan, Obyek Sita Jaminan, Dan Tata Cara Pelaksanaan Sita
Jaminan.
2) Sita Jaminan Atas Barang Bergerak Dan Barang Tidak Bergerak.
3) Penyitaan Di Tangan Pihak Ketiga.
e. Sita Harta Bersama.
Pengertian, Pengaturan, Lingkup Penerapan Sita Harta Bersama
f. Kriteria Sita Harta Bersama, Berakhirnya Sita Harta Bersama, dan Ijin Menjual
Atau Mengagunkan Barang Sitaan

8. Verstek
a. Pengertian dan Syarat Acara Verstek.
b. Penerapan Acara Verstek.
1) Penerapan Acara Verstek Tidak Imperatif.
2) Penerapan Acara Verstek Apabila Tergugat Lebih Dari Satu Orang.
3) Saat Putusan Verstek Dijatuhkan.
c. Bentuk Putusan Verstek.
d. Upaya Hukum Terhadap Putusan Verstek.
e. Proses Pemeriksaan Perlawanan.
f. Putusan Perlawanan.
g. Verstek Atas Verstek Tidak Dapat Di Verzet.
h. Eksekusi Putusan Verstek.

9. Eksepsi dan Bantahan Pokok Perkara


a. Eksepsi
1) Pengertian dan Tujuan.
2) Cara Mengajukan Eksepsi.
3) Pengajuan Eksepsi Sekaligus.
4) Cara Penyelesaian Eksepsi.
5) Upaya Hukum Terhadap Putusan Eksepsi.
6) Jenis Eksepsi.
b. Bantahan Pokok Perkara.
c. Perumusan Bantahan Yang Dibarengi Eksepsi.

10. Gugat Rekonvensi


a. Pengertian dan Tujuan Gugat Rekonvensi
b. Syarat Materiil Gugat Rekonvensi
c. Syarat Formil Gugat Rekonvensi
d. Larangan Mengajukan Gugat Rekonvensi.
e. Sistem Pemeriksaan Konvensi dan Rekonvensi.

11. Pembuktian
a. Prinsip Umum Pembuktian.
b. Beban Pembuktian.
c. Batas Minimal Pembuktian.
d. Klasifikasi Kekuatan Pembuktian yang Melekat pada Setiap Alat Bukti
Dikaitkan Dengan Batas Miunimal Pembuktian
e. Alat-Alat Bukti

12. Alat Bukti


Tulisan.
Saksi.
a. Syarat Alat Bukti Keterangan Saksi.
b. Testimonium de auditu.
c. Pengunduran Diri Pejabat Penyimpan Rahasia Jabatan Sebagai Saksi.
d. Tata Cara Pemeriksaan Saksi.
e. Kuasa Cakap Menjadi Saksi.

Persangkaan.
a. Pengertian Persangkaan.
b. Pengaturan Persangkaan.
c. Klasifikasi Alat Bukti Persangkaan.
d. Persangkaan Undang-Undang.
e. Persangkaan Hakim dan Kualitas Persangkaan Hakim.
f. Kualitas Persangkaan.

Pengakuan.
a. Pengertian dan Pengaturan.
b. Yang Berwenang Memberi Pengakuan.
c. Pengakuan yang Memenuhi Syarat Formil dan Nilai Kekuatan Pembuktiannya.
d. Pengakuan yang Tidak Dapat Ditarik Kembali.
e. Peristiwa yang Tidak Boleh Diakui.
f. Pengakuan Di Luar Sidang Pengadilan.
g. Klasifikasi Pengakuan.
h. Pengakuan Tidak Boleh Dipisah-Pisah.

Sumpah.
a. Pengertian.
b. Syarat Formil Sumpah.
c. Sumpah Pemutus.
d. Sumpah Tambahan.
e. Sumpah Penaksir.

13. Pemeriksaan Setempat Dan Pendapat Ahli.


a. Pemeriksaan Setempat
1) Pengertian dan Pengaturan.
2) Oleh Hakim Atau Atas Permintaan Para Pihak.
3) Perintah Dituangkan Dalam Putusan Sela.
4) Pelaksanaan Pemeriksaan Setempat.
5) Pendelegasian Pemeriksaan Sewtempat.
6) Biaya.
7) Nilai Kekuatan Pembuktian.

b. Pendapat Ahli
1) Pengertian.
2) Pengangkatan Ahli.
3) Alasan Pemeriksaan Ahli.
4) Bentuk Dan Penyampaian Pendapat Ahli.
5) Yang Tidk Cakap Menjadi Ahli.
6) Nilai Kekuatan Pembuktian Pendapat Ahli.

14. Putusan
a. Arti Putusan.
b. Asas Putusan.
1) Memuat Dasar Alasan Yang Jelas dan Rinci.
2) Wajib Mengadili Seluruh Bagian Gugatan.
3) Tidak Boleh Mengabulkan Melebihi Tuntutan.
4) Diucapkan Di Muka Umum.
c. Formulasi Putusan
1) Membuat Secara Ringkas dan Jelas Pokok Perkara, Jawaban, Pertimbangan
dan Amar Putusan.
2) Mencantumkan Biaya Perkara.
d. Mencari dan Menemukan Hukum.
1) Pengadilan Tidak Boleh Menolak Memeriksa dan Mengadili Perkara.
2) Prinsip Curia Novit Jus.
3) Mencari dan Menemukan Hukum Obyektif dari Sumber Hukum.
e. Otonomi Kebebasan Hakim Menjatuhkan Putusan.
f. Putusan Ditinjau dari Berbagai Aspek.
1) Aspek Kehadiran Para Pihak.
2) Apek Sifatnya.
3) Aspek Saat Penjatuhan Putusan.
g. Putusan Yang Dapat Dijalankan Lebih Dahulu.
1) Pengertian dan Landasan Hukum.
2) Syarat Putusan Yang Dapat Dijalankan Lebih Dahulu
3) Eksekusi Putusan Yang Dapat Dijalankan Lebih Dahulu.
h. Pemulihan Kembali Eksekusi Terlebih Dahulu.

V. Alternatif Kegiatan / Metode Pembelajaran


1. Pertemuan awal dilakukan “kontrak belajar” untuk menyepakati rambu-rambu yang
harus ditaati selama perkuliahan.
2. Kegiatan pengenalan setiap konsep baru, dapat dilakukan dengan alternatif strategi :
a. Brain stroming dan Elisitasi.
b. Interactive Lecturing dan Dynamic Lecturing / ceramah dinamis,
Ceramah yang diselingi tanya jawab, untuk materi yang diperkirakan sama
sekali baru bagi mahasiswa.
c. Apresiasi
Dosen menggali informasi awal kepada mahasiswa mengenai persepsi
mahasiswa terhadap lingkup Hukum Acara Perdata, antara lain yaitu: Azaz-
Azaz Hukum Acara Perdata Serta Surat Kuasa; Gugatan Permohonan; Gugatan
Kontentiosa; Gugatan Perwakilan Kelompok; Kekuasaan Mengadili; Tata Cara
Pemanggilan dan Proses Yang Mendahului; Putusan Perdamaian; Penyitaan;
Verstek; Eksepsi dan Bantahan Pokok Perkara; Gugatan Rekonvensi;
Pembuktian; Pemeriksaan Setempat dan Pendapat Ahli; Putusan.
d. Reading Guide.
Mahasiswa membaca dan menganalisis lingkup Hukum Acara Perdata.
e. Small Discussion.
Mahasiswa dibagi per kelompok untuk membaca dan mendiskusikan
lingkup Hukum Acara Perdata yang berlaku di Indonesia pada buku ajar.
Maksimal anggota kelompok adalah empat orang dengan keharusan setiap orang
membaca dalam buku tersebut.

3. Pendalaman / perluasan pemahaman materi dilakukan dengan menggunakan


alternatif strategi:
a. Information Search dan Interactive Lecturing
Dosen menyampaikan beberapa hal yang masih baru bagi mahasiswa
dari buku-buku sumber referensi yang lain dengan menunjukkan alternatif
sumber informasinya.
b. Mixed between information search, concept mapping strategy, and small
discussion/active debate.
Mahasiswa diminta untuk membaca dan menganalisis buku-buku yang
berkaitan dengan permasalahan-permasalahan dalam Hukum Acara Perdata
serta membaca dan menganalisis putusan/permohonan pada Pengadilan Negeri
menyatakan bahwa akta perdamaian adalah akta yang dinyatakan dan ditandatangani di depan
persidangan (depan hakim). Dalam hal ini, akta perdamaian dimaksud saya asumsikan telah
disepakati, dan ditandatangani di luar persidangan/hakim, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai
akta perdamaian yang sah.

Akta/Surat yg dibuat dan ditandatangani oleh para pihak dengan maksud untuk dijadikan bukti dari
suatu perbuatan hukum tetapi akta tersebut tidak dibuat di hadapan seorang pejabat umum, maka
dikategorikan sebagai akta di bawah tangan. Apabila akta tersebut sudah diakui oleh para pihak, maka
itu memberikan kekuatan pembuktian yang sempurna bagi akta tersebut (lihat Pasal 6, Pasal 2
Ordonansi 1867/29). Namun, dalam kasus ini salah satu pihak tidak mengakui akta tersebut, maka akta
tersebut tidak memberikan kekuatan pembuktian yang sempurna. Berdasarkan hal tersebut, setelah
adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, maka yang diberlakukan adalah putusan
pengadilan.
dan Pengadilan Agama. Pekerjaan ini dilakukan secara kelompok maksimal
enam kelompok. Untuk mempercepat pengerjaan tugas membaca, mahasiswa
membagi tugas bacaan secara keseluruhan, kemudian didiskusikan dengan
anggota kelompoknya.
c. Team quiz
(Bila perlu dosen menyediakan reward apapun bentuknya). Kelompok
mahasiswa yang ada digabungkan hingga membentuk tiga kelompok saja.
Untuk memudahkan diberi nama dengan kelompok A,B,C. Masing-masing
kelompok dipersilahkan membuat pertanyaan antara 3-6 soal, kemudian
pertanyaan dibagi dua yang menjawab secara bergiliran. Ketika A membaca
pertanyaan, kelompok B bertugas menjawab, sementara kelompok C sebagai
penilai. Dosen bekerja sebagai pencatat nilai atau meminta bantuan seorang
volunteer. Agar fair kemudian dibalik dengan pertanyaan sebagian lagi.

4. Untuk melakukan review dapat digunakan alternarif strategi :


a. Everyone is Teacher Here
Dosen meminta beberapa orang volunteer sebagai perwakilan kelompok
untuk presentasi dan mengajukan pertanyaan kepada kelompok lain. Anggota
lain bisa membantu menjawab dan menjelaskan permasalahan yang belum bisa
diselesaikan.
Atau setiap mahasiswa mendapatkan 1 amplop yang berisi kasus dalam perkara
Hukum Acara Perdata yang harus diberikan solusinya serta adagium latin yang
berkaitan dengan hukum perdata. Mahasiswa dipersilakan untuk
mempresentasikan hasil jawabannya secara lisan sebagaimana dosen
meyampaikan lecturing. Mahasiswa yang lain diberikan kesempatan untuk
bertanya kepadanya atau mahasiswa yang sedang menjadi lecturer boleh
bertanya kepada mahasiswa lain. Setelah selesai, mahasiswa yang menjadi
lecturer meminta mahasiswa yang lain untuk melakukan hal yang sama, dan
seterusnya.

5. Untuk mengembangkan keterampilan dilakukan praktek aplikasi teori atau konsep,


seperti membandingkan antara asas-asas hukum acara perdata dalam teori dan
praktek pada Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri.

VI. Alternatif Media Pembelajaran


1. Papan Tulis
2. OHP
3. Fotocopy bahan / materi pilihan
4. Ruangan Kelas
5. Perpustakaan
6. Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri.

VII. Alternatif Evaluasi Pembelajaran


1. Untuk menilai proses pembelajaran mahasiswa digunakan model penilaian yaitu
kehadiran mahasiswa dalam perkuliahan (10%); partisipasi mahasiswa dalam
perkuliahan (10%) serta etika moral mahasiswa (10%).
2. Untuk menilai kemampuan mahasiswa dalam penguasaan materi perkuliahan
dilakukan tes yang berupa Ujian Tengah Semester (30%), Ujian Akhir Semester
(30%) dan komponen penilaian lain yang berupa Tugas Terstruktur (10%).

VIII. REFERENSI
 Referensi Wajib.
1. M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2005
2. Abdulkadir Muhammad, Hukum Acara Perdata Indonesia, Alumni, Bandung,
1986.
3. Pitlo, Pembuktian dan Daluarsa (terj), Intermasa, Jakarta, 1986.
4. Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata
dalam Praktek, Alumni, Bandung, 1983.
5. R. Soeroso, Praktek Hukum Acara Perdata, Contoh Bentuk-Bentuk Surat di
Bidang Kepengacaraan Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2009.
6. R. Soepomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, Pradnya Paramita,
Jakarta, 1993.
7. R. Soesilo, KUHP Beserta Komentar-Komentarnya,Politeia, Bogor, 1983.
8. R. Soesilo, RIB/HIR dengan Penjelasan, Politeia, Bogor, 1985.
9. R. Subekti, Hukum Pembuktian, Pradnya Paramita, Jakarta, 1987.
10. R. Subekti, Hukum Acara Perdata, Bina Cipta, Jakarta, 1977.
11. Sendari, Pengajuan Gugatan Secara Class Action, Universitas Atma Jaya Press,
Yogyakarta, 2002.
12. Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta,
1988.
13. Teguh Samudera, Hukum Pembuktian dalam Acara Perdata, Alumni, Bandung,
1992.
14. Wirjono Projodikoro, Hukum Acara Perdata di Indonesia, Sumur, Bandung,
1991.

 Referensi Anjuran.
1. Agus Budiarto, Kedudukan dan Tanggung Jawab Hakim, Ghalia, Bogor, 2002.
2. Andi Tahir Hamid, Beberapa Hal Baru Tentang Peradilan Agama dan
Bidangnya, Sinar Grafika, Jakarta, 1996.
3. Chidir Ali, Yurisprudensi Hukum Acara Perdata Indonesia, Armico, Bandung,
1983.
4. Marianne Termorshuizen, Kamus Hukum Belanda-Indonesia, Djambatan,
Jakarta.
5. M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan Mengenai Sistem Peradilan dan
Penyelesaiana Sengketa, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997.
6. M. Yahya Harahap, Arbitrase, Sinar Grafika, Jakarta, 2001.
7. Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 1996.
8. Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata, Alumni,
Bandung, 1992.
9. Sudarsono, Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, Mahkamah Agung,
Peradilan Tata Usaha Negara, Rineka Cipta, Jakarta, 1994.
10. Sudikno Mertokusumo, Sejarah Peradilan dan Perundang-undangannya Di
Indonesia Sejak 1942 dan Apakah Kemanfatannya Bagi Kita Bangsa Indonesia,
Liberty, Yogyakarta, 1983.