Anda di halaman 1dari 21

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3

“ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KELAINAN KULIT


AKIBAT ALERGI MAKANAN”

Disusun Oleh :

Eva Kartika Putri (1811007)

Shinta Maudi Herista (1811017)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

STIKES PATRIA HUSADA BLITAR

2019/2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga makalah yang berjudul
“ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KELAINAN KULIT
AKIBAT ALERGI MAKANAN” bisa terselesaikan dengan baik, adapun tujuan
dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata kuliah
“Keperawatan Medikal Bedah”.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah


membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini.

Penulis sadar makalah ini belum sempurna dan memerlukan berbagai


perbaikan,oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan
oleh penulis demi kesempurnaan penyusun makalah nanti.

Akhir kata,semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca

BLITAR,19 MARET 2020

PENULIS

ii
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1


1.2 Rumusan masalah 2
1.3 Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN KONSEP DASAR PENYAKIT 3
2.1 Definisi 3
2.2 Etiologi 3
2.3 Klasifikasi 4
2.4 Patofisiologi 7
2.5 Pathway 9
2.6 Manifestasi Klinis 10
2.7 Penatalaksanaan 10
2.8 Komplikasi 11
BAB III KONSEP ASKEP 13
3.1 Pengkajian 13
3.2 Diagnosa keperawatan 14
3.3 Intervensi keperawatan 14
BAB IV PENUTUP 18
A. Kesimpulan 18
B. Saran 19
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Alergi merupakan salah satu jenis penyakit yang banyak dijumpai di
masyarakat. Umumnya masyarakat menganggap bahwa penyakit alergi hanya
terbatas pada gatal-gatal di kulit. Alergi sebenarnya dapat terjadi pada semua
bagian tubuh, tergantung pada tempat terjadinya reaksi alergi tersebut. Alergi
merupakan manifestasi hiperresponsif dari organ yang terkena seperti kulit,
hidung, telinga, paru, atau saluran pencernaan. Pada hidung gejala alergi yang
timbul berupa pilek; pada paru-paru berupa asma; pada kulit berupa
urtikaria/biduran, eksema, serta dermatitis atopik; sedangkan pada mata
berupa konjungtivitis. Gejala hiperresponsif ini dapat terjadi karena
timbulnya respon imun dengan atau tanpa diperantarai oleh IgE (Mahdi,
2003).
Pada studi populasi, penyakit alergi dapat timbul pada usia yang
berbeda-beda, seperti alergi makanan dan eksim terutama pada anak-anak,
asma didapatkan pada anak dan dewasa, dan rinitis alergika didapatkan pada
dekade kedua dan ketiga (Mahdi, 2003). Di Indonesia, prevalensi alergi pada
anak-anak dan dewasa cukup tinggi. Penyakit alergi akan timbul pada
individu yang mempunyai kecenderungan yang didasari faktor genetik, yang
biasanya diwariskan dari kedua orangtua. Bila kedua orangtua menderita
alergi kemungkinan anak menunjukkan gejala alergi sekitar 50%, namun bila
hanya salah satu yang menderita alergi kemungkinannya hanya 25%
(Hidayati, 2002).
Alergi merupakan kepekaan tubuh terhadap benda asing (alergen) di
dalam tubuh. Reaksi setiap individu terhadap alergen berbeda-beda, sehingga
individu yang satu bisa lebih peka daripada individu yang lain. Untuk
mencegah reaksi alergi, selain menghindari kontak dengan alergen,
masyarakat banyak menggunakan obat kimiawi karena menganggap obat
kimiawi cepat menyembuhkan serta mudah diperoleh. Seiring dengan

1
timbulnya kesadaran akan dampak buruk produk-produk kimiawi, timbul
pula kesadaran akan pentingnya kembali ke alam (back to nature).
Masyarakat mulai beralih pada pengobatan 2 alami dengan menggunakan
berbagai tanaman obat dalam mengobati penyakit alergi. Salah satu tanaman
obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit alergi adalah pegagan
(Centella asiatica).

1.2 RUMUSAN MASALAH


a. Dapat menjelaskan tentang definisi alergi.
b. Dapat menjelaskan tentang etiologi alergi
c. Dapat menjelaskan tentang klasifikasi alergi
d. Dapat menjelaskan tentang manifestasi klinis alergi
e. Dapat menjelaskan tentang penatalaksanaan alergi
f. Dapat menjelaskan tentang komplikasi alergi

1.3 TUJUAN
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang alergi
b. Agar mahasiswa dapat melaksanakan dan memahami makalah asuhan
keperawatan alergi

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Alergi makanan adalah respon abnormal tubuh terhadap suatu makanan
yang dicetuskan oleh reaksi spesifik pada sistem imun dengan gejala yang
spesifik pula. Alergi makanan adalah kumpulan gejala yang mengenai banyak
organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap bahan
makanan. Dalam beberapa kepustakaan alergi makanan dipakai untuk
menyatakan suatu reaksi terhadap makanan yang dasarnya adalah reaksi
hipersensitifitas tipe I dan hipersensitifitas terhadap makanan yang dasaranya
adalah reaksi hipersensitifitas tipe III dan tipe IV.

2.2 ETIOLOGI
Alergi makanan bisa menyerang siapa saja dengan kadar yang berbeda
beda. Pada saat seseorang menyantap makanan kemudian timbul perasaan
tidak enak pada tubuhnya maka mereka akan beranggapan bahwa mereka
alergi terhadap makanan tersebut. Fakta membuktikan, tidak semua anggapan
tersebut benar. Hanya 1% pada orang dewasa dan 3% pada anak anak yang
terbukti jika mereka memang benar benar alergi terhadap makanan tertentu.
Faktor yang berperan dalam alergi makanan kami bagi menjadi 2 yaitu :
a. Faktor Internal
1. Imaturitas usus secara fungsional (misalnya dalam fungsi-fungsi :
asam lambung, enzym-enzym usus, glycocalyx) maupun fungsi-fungsi
imunologis (misalnya : IgA sekretorik) memudahkan penetrasi alergen
makanan. Imaturitas juga mengurangi kemampuan usus mentoleransi
makanan tertentu.
2. Genetik berperan dalam alergi makanan. Sensitisasi alergen dini mulai
janin sampai masa bayi dan sensitisasi ini dipengaruhi oleh kebiasaan
dan norma kehidupan setempat.
3. Mukosa dinding saluran cerna belum matang yang menyebabkan
penyerapan alergen bertambah.

3
b. Fakor Eksternal
Faktor pencetus : faktor fisik (dingin, panas, hujan), faktor psikis (sedih,
stress) atau beban latihan (lari, olah raga).

2.3 KLASIFIKASI
Terdapat empat jenis reaksi alergi atau yang biasa disebut dengan reaksi
hipersensitifitas. Berikut jenis – jenis Reaksi Hipersensitifitas :
a. Reaksi Hipersensitifitas tipe I ( reaksi atopik atau anafilatik )
Ini merupakan reaksi alergi yang diperantarai oleh antibodi IgE. Pada
reaksi tipe I, antigen terikat ke antibodi IgE. Kompleks IgE – Antigen
menyebabkan degranulasi sel mast dan pelepasan histamin, serta mediator
peradangan lainnya. Mediator ini menyebabkan vasodilatasi perifer dan
pembengkakan ruang interstisium. Gejala – gejala bersifat spesifik
bergantung pada dimana respon alergi tersebut berlangsung. Pengikatan
antigen di saluran hidung menyebabkan  rinitis alergi disertai kongesti
hidung dan peradangan jaringan, sementara pengikatan antigen disaluran
cerna mungkin menimbulkan diare atau muntah. Suatu reaksi
hipersnsitivitas tipe I yang parah adalah reaksi anafilaktik. Anafilaktik
melibatkan respon cepat IgE. Sel mast setelah perjalanan ke suatu antigen
dimana individu sangat peka terhadapnya. Dapat terjadi dilatasi seluruh
sistem pembuluh akibat histamin sehingga tekanan darah kolaps.
Penurunan hebat tekanan darah selama reaksi anafilaktik disebut syok
anafilaktik. Karena histamin adalah konstriktor kuat bagi otot polos
bronkiolus, maka anafilaksisjuga merupakan penutupan saluran napas.
Anafilaksis sebagai respon terhadap obat misalnya penisilin atau sebagi
respon terhadap sengatan lebah dan bersifat fatal pada orang yang sangat
peka.
b. Reaksi Hipersensitifitas tipe II ( reaksi sitotoksik atau sitolitik )
Hal ini terjadi sewaktu antibodi IgG atau IgM menyerang antigen –
antigen jaringan. Reaksi tipe II terjadi akibat hilangnya toleransi diri dan
dianggap suatu reaksi autoimun, sel – sel sasaran biasanya dihancurkan.
Pada reaksi tipe II, pengikatan antibodi – antigen menyebabkan

4
pengaktifan komplemen, degranulasi sel mast, oedema, kerusakan
jaringan, dan lisis sel. Reaksi tipe II menyebabkan fagositosis sel – sel
penjamu oleh makrofag.
Contoh – contoh penyakit autoimun tipe II :
1. Penyakit grave dimana terjadi pembentukan antibodi terhadap kelenjar
tiroid.
2. Anemia hemolitik autoimun dimana antibodi dibentuk terhadap sel
darah merah.
3. Reaksi tranfusi yang melibatkan pembentukan antibodi terhadap sel
darah kotor.
4. Purpura trombositopenik autoimun dimana terjadi pembentukan
antibodi terhadap trombosit.
c. Reaksi Hipersensitifitas tipe III ( reaksi Arthus atau komplek toksik )
Terjadi sewaktu komplek antigen – antibodi yang bersirkulasi dalam
darah mengendap di pembuluh darah atau jaringan sebelah hilir. Antibodi
disini biasanya jenis IgG. Antibodi tidak ditunjukan kepada jaringan
tersebut tetapi terperangkap di dalam jaringan kapilernya. Reaksi tipe III
mengaktifkan komplemen yang kemudian melepaskan macrophage
chemotaktik factor. Macrophage yang dikerahkan ke tempat tersebut akan
merusak jaringan sekitar tempat tersebut. Neutrofil tertarik ke daerah
tersebut dan mulai memfagositosis sel – sel yang rusak sehingga terjadi
pelepasan enzim – enzim sel serta penimbunan sisa sel. Hal ini
menyebabkan siklus peradangan berlanjut.
Antigen dapat berasal dari infeksi kuman patogen yang persisten
(malaria), bahan yang terhirup ( spora jamur yang menimbulkan alveolitis
ekstrinsik alergi ) atau dari jaringan sendiri ( penyakit autoimun ) infeksi
tersebut disertai dengan antigen dalam jumlah yang berlebihan tetapi tidak
disertai dengan respon antibodi yang efektif. Pembentukan kompleks imun
dalam pembuluh darah menjadikan antigen ( Ag ) dan antibodi ( Ab )
bersatu membentuk komplek imun mengaktifkan komplemen ( C ) dan
melepas C3a dan C5a yang merangsang leukosit basofil dan trombosit

5
untuk melepas berbagai mediator antara lain histamin yang menimbulkan
pengerutan sel endotil sehingga permeabilitas vaskuler meninggi.
Dalam keadaan normal komplek imun dimusnahkan oleh sel fagosit
mononuklear terutama dalam hati, limpa, paru tanpa bantuan komplemen.
Dalam proses tersebut ukuran kompleks merupakan faktor penting. Pada
umumnya kompleks yang besar, mudah dan cepat dimusnahkan dalam
hati, kompleks kecil sulit untuk dimusnahkan, oleh karena itu dapat lebih
lama ada dalam sirkulasi. Diduga bahwa gangguan fungsi fagosit
merupakan sebab mengapa komleks sulit dimusnahkan. Kompleks imun
yang ada dalam sirkulasi meskipun untuk jangka waktu lama, biasanya
tidak berbahaya. Permasalahan akan timbul bila kompleks imun
mengendap di jaringan.
Contoh – contoh reaksi hipersensitifitas tipe III :
1. Penyakit Serum dimana terbentuknya antibodi terhadap darah asing,
seiring sebagai respon terhadap penggunaan obat IV, kompleks antigen
– antibodi mengendap di sistem pembuluh, sendi, ginjal, dan lain –
lain.
2. Glomerulonefritis dimana terbentuk kompleks antigen – antibodi
sebagai respon terhadap suatu infeksi, sering oleh bakteri streptokokus
dan mengendap di kapiler glomerolus ginjal.
3. Lupus Eritematosus Sistemik dimana terbentuk kompleks antigen –
antibodi terhadap kolagen dan DNA sel dan mengendap di berbagai
tempat di seluruh tubuh.
d. Reaksi Hipersensitifitas tipe IV ( reaksi seluler atau hipersensitifitas tipe
lambat )
Reaksi tipe IV yang juga disebut reaksi hipersensitifitas lambat,
timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh terpapar oleh antigen. Reaksi
terjadi karena respon sel T yang sudah disensitasi bereaksi spesifik
dengan suatu antigen tertentu sehingga menimbulkan reaksi makrofag.
Serta membentuk indurasi jaringan pada daerah tempat antigen tersebut.
Reaksi ini sama sekali tidak memerlukan antibodi seperti pada ketiga tipe
terdahulu, bahkan tidak memerlukan aktivasi komplemen.

6
Oleh karena itu itu reaksi ini timbulnya agak lambat, sekitar 24 – 48
jam, maka secara klinis reaksi dikenal dengan istilah hipersensitifitas tipe
lambat. Ada dua macam mekanisme yang turut berperan di dalam
terbentuknya hipersensitifitas tipe lambat lambat ini, yakni mekanisme
aferen dan eferen. Mekanisme aferen merupakan mekanisme spesifik dan
timbul pada waktu sensitized lymphocyte cells dengan resptor yang
spesifik ; bereaksi dengan antigen tertentu sehingga sel tersebut
mengeluarkan mediator limfokin. Kemudian zat tersebut akan bekerja
secara non spesifik pada mekanisme aferen dan mempengaruhi limfosit,
makrofag, monosit.
Contoh – contoh reaksi hipersensitifitas tipe IV :
1. Tiroiditis autoimun dimana terbentuknya sel T terhadap jaringan,
tiroid, penolakan tandur dan tumor.
2. Reaksi alergi tipe lambat, misal alergi terhadap poison IVX.
3. Uji kulit tuberkulin, mengisyaratkan adanya imunitas selular terhadap
hasil tuberkulosis.

2.4 PATOFISIOLOGI
Saat pertama kali masuknya alergen (ex. telur ) ke dalam tubuh
seseorang yang mengkonsumsi makanan tetapi dia belum pernah terkena
alergi. Namun ketika untuk kedua kalinya orang tersebut mengkonsumsi
makanan yang sama barulah tampak gejala – gejala timbulnya alergi pada
kulit orang tersebut.Setelah tanda – tanda itu muncul maka antigen akan
mengenali alergen yang masuk yang akan memicu aktifnya sel T , dimana sel
T tersebut yang akan merangsang sel B untuk mengaktifkan antibodi ( Ig E ).
Proses ini mengakibatkan melekatnya antibodi pada sel mast yang
dikeluarkan oleh basofil. Apabila seseorang mengalami paparan untuk kedua
kalinya oleh alergen yang sama maka akan terjadi 2 hal yaitu,:
1. Ketika mulai terjadinya produksi sitokin oleh sel T. Sitokin memberikan
efek terhadap berbagai sel terutama dalam menarik sel – sel radang
misalnya netrofil dan eosinofil, sehingga menimbulkan reaksi peradangan
yang menyebabkan panas.

7
2. Alergen tersebut akan langsung mengaktifkan antibodi ( Ig E ) yang
merangsang sel mast kemudian melepaskan histamin dalam jumlah yang
banyak , kemudian histamin tersebut beredar di dalam tubuh melalui
pembuluh darah. Saat mereka mencapai kulit, alergen akan menyebabkan
terjadinya gatal, prutitus, angioderma, urtikaria, kemerahan pada kulit dan
dermatitis. Pada saat mereka mencapai paru paru, alergen dapat
mencetuskan terjadinya asma. Gejala alergi yang paling ditakutkan dikenal
dengan nama anafilaktik syok. Gejala ini ditandai dengan tekanan darah
yang menurun, kesadaran menurun, dan bila tidak ditangani segera dapat
menyebabkan kematian

8
2.5 PATHWAY
Makanan

Masuk ke tubuh

Difagositosis

Masuk ke sel T di kelenjar limfe

Pelepasan sitokinin oleh sel T

Sel beta terangsang membentuk IgE

Sel-sel reseptor IgW (sel mast, basophil, eosinophil) mengikat IgE

Degranulasi sel mast

Degranulasi mengeluarkan berbagai mediator kimia

Histamine, bradikinin, prostaglandin

Integument Kardiovaskuler Respiratorius Gastrointestinal

Reaksi alergi Disritmia Inflamasi/alergi Inflamasi/alergi


saluran nafas saluran cerna
Masuk ke Hipotensi
pembuluh darah Gangguan
Udema laring, Kram abdomen
perifer reabsorbsi
bronkospasme
Lemah, letih, lesu usus
Vomitus,
Gatal, prutitus,
Asma bronkial nausea
angioderma, Diare
urtikaria, kemerahan
pada kulit dan Intoleransi
dermatitis aktifitas
Pola nafas tidak Reiko ketidak
efektif seimbangan cairan
Gangguan integritas
kulit/jaringan
9
2.6 MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis alergi biasanya mengenai berbagai organ sasaran seperti
kulit, saluran nafas, saluran cerna, mata, telinga, saluran vaskuler. Organ
sasaran bisa berpindah-pindah, gejala sering kali sudah dijumpai pada masa
bayi. Makanan dan obat-obatan tertentu bisa menyebabkan gejala tertentu
pada seseorang anak, tetapi pada anak lain bisa menimbulkan gejala lain.
Pada seseorang makanan atau obat yang satu bisa mempunyai organ sasaran
yang lain dengan factor  yang lain, misalnya udang menyebabkan urtikaria,
sedangkan kacang tanah menyebabkan sesak nafas. Susu sapi bisa
menimbulkan gejala alergi pada saluran nafas, saluran cerna, kulit dan
anafilaksis. Bischop (1990) mendapatkan pada penderita yang alergi susu sapi
: 40% dengan gejala asma, 21% eksema, 43% dengan rinitis. Peneliti lain
mendapatkan gejala alergi susu sapi berupa : urtikaria, angionerotik udema,
pucat, muntah, diare, eksema dan asma.
Berikut gejala umum dari suatu reaksi alergi terhadap alergen yang
terhirup atau kulit meliputi:
a. Gatal
b. mata berair
c. Bersin
d. hidung beringus
e. Ruam
f. Merasa lelah atau sakit
g. Hives (gatal-gatal dengan bercak merah dibangkitkan)
Eksposur lainnya dapat menyebabkan reaksi alergi yang berbeda:
a. Alergi makanan : Reaksi alergi terhadap alergen makanan juga bisa
menyebabkan kram perut, muntah, atau diare.
b. Sengatan serangga. Reaksi alergi terhadap sengatan dari lebah atau
serangga lain menyebabkan pembengkakan lokal, kemerahan, dan nyeri

2.7 PENATALAKSANAAN
 Terapi ideal adalah menghindari kontak dengan allergen penyebab dan
eliminasi. Terapi simtomatis dilakukan melalui pemberian antihistamin

10
dengan atau tanpa vasokonstriktor atau kortikosteroid per oral atau local.
Untuk gejala yang berat dan lama, bila terapi lain tidak memuaskan dilakukan
imunoterapi melalui desensitisasi dan hiposensitisasi atau netralisasi.
Ada beberapa cara untuk mengobati reaksi alergi. Piliha tentang
pengobatan dan bagaimana cara pemberian disesuaikan dengan gejala yang
dirasakan :
a. Untuk jenis alergi biasa, seperti reaksi terhadap debu atau bulu binatang,
pengobatan yang di lakukan dilakukan disarankan adalah:Prescription
anthistamines, seperti cetirizine (Zyrtec), fexofenadine (allerga), dan
loratadine (Claritin), dapat mengurangi gejala tanpa menyebabkan rasa
ngantuk. Pengobatan ini dilakuan sesaat si penderita mengalami reaksi
alergi. Jangka waktu pemakaian hanya dalam satu hari, 24 jam. Nasal
corticosteroid semprot. Cara pengobatan ini di masukan ke dalam mulut
melalui injeksi. Berkerja cukup ampuh dan aman dalam penggunaan,
pengobatan ini tidak menyebabkan efek samping. Alat semprot bias
digunakan beberapa hari untuk meredakan reaksi alergi, dan harus
dipakai setiap hari. Contoh: fluticasone (Flonase), mometasone
(Nasonex), dan triamcinolone (Nasacort).
b. Untuk  reaksi alergi spesifik. Beberapa jenis pengobatan yang dapat
dilakukan untuk menekan gejala yang mengikuti : Epinephrine,
Antihistamines, seperti diphenhydramine (Benadryl), Corticosteroids.
c. Pengobatan lain yang bisa diberikan jika dibutuhkan :
Pada orang tertentu, cromolyn sodium semprot mencegah alergi rhinitis,
inflamasi di hidung. Decongestan dapat menghilangkan ingus pada sinus.
Tersedia dalam bentuk cairan yang dimasukan ke mulut dan semprot.
Digunakan hanya beberapa hari, namun terjadi efeksmping tekanan darah
yang meningkat, detang jantung yang menguat , dan gemetaran.

2.8 KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi yang dapat ditimbulkan dari reaksi alergi yaitu:
a. Polip hidung
b. Otitis media

11
c. Sinusitis paranasal
d. Anafilaksi
e. Pruritus
f. Mengi
g. Edema

12
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
meliputi nama
alamat
umur
jenis kelamin
agama
pendidikan
pekerjaan
suku/bangsa
bahasa yang digunakan
no registrasi
tanggal MRS
2. Kaji keluhan utama
3. Kaji riwayat penyakit saat ini
4. Kaji riwayat yang pernah di derita
5. Kaji riwayat penyakit keluarga
6. Kaji riwayat alergi
7. Kaji keluhan pasien
8. Kaji tanda tanda vital
 Kaji status neurology, perubahan kesadaran, meningkatnya fatigue,
perubahan tingkah laku
1. Kulit kemerahan
2. Ada bentol-bentol
3. Pasien muntah-muntah
4. Pasien terlihat susah bernapas
5. Pasien terlihat pucat

13
3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas
ditandai dengan dyspnea dan penggunaan otot bantu pernapasan
2. Gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan bahan kimia
iritatif ditandai dengan kemerahan.
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan
mengeluh lelah dan lemah
4. Resiko ketidakseimbangan cairan ditandai dengan disfungsi intestinal

3.3 INTERVENSI

D LUARAN INTERVENSI
X
1. Setelah dilakukan tindakan 2x24 Manajemen jalan napas :
jam dengan tingkatan pola napas Observasi :
membaik.  Monitor pola napas
Kriteria Hasil :  Monitor bunyi napas
1. Dyspnea (4)  Monitor sputum
2. Penggunaan otot bantu Terapeutik
napas (4)  Posisikan semi-Fowler atau
3. Frekuensi napas (4) fowler
 Berikan minum hangat
 Lekukan fisioterapi dada, jika
perlu
 Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
 anjurkan asupan cairan 2000
ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
2. Setelah dilakukan tindakan 2x24 Perawatan Integritas Kulit
jam dengan tingkatan integritas Observasi
kulit dan jaringan meningkat.  Identifikasi penyebab
Kriteria Hasil : gangguan integritas kulit
1. Kerusakan jaringan (4) (mis,perubahan
2. Kerusakan lapisan kulit (4) sirkulasi,perubahan status
3. Nyeri (4) nutrisi,penurunan
4. Kemerahan (4) kelembaban,suhu lingkungan

14
ekstrem,penurunan mobilitas)
Terapeutik
 Ubah posisi tiap 2 jam jika
tirah baring
 Lakukan pemijatan pada area
penonjolan tulang,jika perlu
 Bersihkan perineal dengan air
hangat,terutama selama
periode diare
 Gunakan produk berbahan
petroleum atau minyak pada
kulit kering
Edukasi
 Anjurkan menggunakan
pelembab
 Anjurkan minum air yang
cukup
 Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
 Anjurkan menghindari terpapar
suhu eksterm
3. Setelah dilakukan tindakan Terapi Aktifitas
keperawatan selama 2x24 jam, Observasi
diharapkan mendapat hasil  Identifikasi deficit tingkat
1. Saturasi oksigen (4) aktifitas
2. Kemudahan dalam  Identifikasi sumber daya
melakukan aktivitas (4) untuk aktifitas yang
3. Keluhan Lelah (4) diinginkan
4. Perasaan lemah (4) Terapeutik
5. Warna kulit (4)  Fasilitasi memilih aktitas dan
tetapkan tujuan aktitas yang
konsisten yang sesuai
kemampuan fisik, psikologis,
dan social
 Koordinasikan pemilihan
aktifitas sesuai usia
Edukasi
 Jelaskan metode aktivitas fisik
sehari-hari, jika perlu
 Ajarkan cara melakukan
aktifitas yang dipilih
Kolaborasi
 Kolaborasi dengan terapis
okupasi dalam merencanakan
dan memonitor program
aktifitas, jika sesuai
4. Setelah dilakukan tindakan 2x24 Manajemen cairan
jam dengan tingkatan Observasi

15
keseimbangan cairan meningkat  Monitor status hidrasi
Kriteria Hasil :  Monitor berat badan harian
1. Asupan cairan (4)  Monitor hasil pemeriksaan
2. Edema (4) laboratorium
3. Tekanan darah (4) Terapeutik
 Catat intake-output dan hitung
balance cairan 24 jam
 Berikan asupan cairan, sesuai
kebutuhan
 Berikan cairan intravena, jika
perlu
Edukasi
 Kolaborasi pemberian diuretic,
jika perlu

16
BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Alergi adalah kegagalan kekebalan tubuh dimana tubuh seseorang menjadi
hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang
umumnya nonimunogenik. Dengan kata lain,tubuh manusia bereaksi berlebihan
terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang ile tubuh dianggap asing atau
berbahaya. Bahan-bahan yang menyebabkan alergi tersebut adalah allergen.

4.2 SARAN
Harapan kami semoga dengan selesainya makalah asuhan keperawatan ini
dapat memenuhi kebutuhan materi bagi para pembaca terutama bagi mahasiswa
khususnya bagi kami,namun tidak menutup kemungkinan makalah ini bisa
sempurna. Maka dari itu kritik dan saran dari pembaca kami harapkan,terutama
dari dosen pembimbing.

17
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,


volume 3, Jakarta:EGC..
Carpenito LD.1995.Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek
Klinik. Jakarta: EGC.
Price & Wilson.2003.Patofisiologi konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit.Vol 2.Edisi 6.Jakarta:EGC.

18