Anda di halaman 1dari 7

Analisa Potensi kecelakaan pada bengkel pengelasan

Dosen Pengampu : Masjuli, S.K.M., M.K.K.K.

Disusun :

Desty Putri Adiastati


17020081
FIRE AND SAFETY B

PROGRAM STUDI FIRE AND SAFETY


AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN
INDRAMAYU
2019
Pendahuluan
Dalam dunia industri pastinya ada sebuah proses pengelasan dalam setiap
pengerjaannya. Namun sebagian besar masyarakat mengerti definisi pengelasan hanya
pada las listrik (las SMAW), las karbit (las OAW) dan las argon (Las TIG/GTAW).
Padahal selain jenis pengelasan tersebut masih ada banyak lagi macam macam pengelasan
yang perlu kita ketahui.

Pengertian Pengelasan adalah Sebuah ikatan karena adanya proses metalurgi pada


sambungan logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan cair. Dari pengertian tersebut
dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa pengertian las adalah sebuah sambungan setempat dari
beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas.

Dewasa ini jenis pengelasan semakin banyak dengan adanya kemajuan teknologi,
baik proses pengelasan yang menggunakan bahan tambah atau filler maupun yang tanpa
menggunakan bahan tambah. Yang terbaru adalah proses pengelasan yang menggunakan
energi putaran yang nantinya akan terjadi gesekan dan menimbulkan panas yang tinggi
dan dapat digunakan untuk proses pengelasan yang biasanya disebut dengan proses las
friction welding.

Dalam setiap bidang kegiatan manusia selalu terdapat kemungkinan terjadinya


kecelakaan, tidak ada satu bidang kerjapun yang dapat memperoleh pengecualian.
Kecelakaan dalam industri sesungguhnya merupakan hasil akhir dari suatu aturan dan
kondisi kerja yang tidak aman (ILO, 1989:15). Kecelakaan tidak terjadi kebetulan
melainkan ada sebabnya, oleh karena itu kecelakaan dapat dicegah asal kita cukup
kemauan untuk mencegahnya (Suma’mur PK., 1996:212).

Kecelakaan juga timbul sebagai hasil gabungan dari beberapa faktor. Faktor yang
paling utama adalah faktor perlatan teknis, lingkungan kerja, dan pekerja itu sendiri.
Misalnya dalam suatu industri mungkin saja kekurangan peralatan yang aman, atau
dengan perkataan lain mesin-mesin tidak dirancang baik untuk dilengkapi dengan alat
pengamanan secukupnya. Lingkungan kerja yang bising sehingga tenaga kerja tidak
mendengar isyarat bahaya. Suhu ruangan buruk sehingga para pekerja jadi mudah letih
dan tak mampu lagi untuk berkonsentrasi terhadap tugas-tugas yang ditanganinya, kurang
baiknya pengaturan sirkulasi udara menyebabkan terkumpulnya uap beracun yang pada
akhirnya mengakibatkan kecelakaan. Demikian pula para pekerja itu sendiri dapat menjadi
faktor penyebab bila mereka tidak mendapat latihan yang memadai atau mereka belum
berpengalaman dalam tugasnya (ILO, 1989:16). Secara garis besar, Kecelakaan Kerja
disebabkan oleh dua faktor. Faktor tersebut dikelompokan berdasarkan cara perlakuannya.
Kedua faktor tersebut yaitu:

1. Unsafe Condition (Kondisi Tidak Aman)


Dengan kondisi kerja yang tidak aman dapat menyebabkan kecelakaan
kerja. Biasanya penyebab kondisi tidak aman ini dapat berasal dari keadaan
mesin, perlatan, dan/atau bahan baku yang tidak sesuai semestinya, lingkungan
kerja yang tidak diperhatikan oleh pekerja, proses kerja yang tidak sesuai
dengan aturan, dan/atau sifat kerja yang tidak bertanggung jawab dan disiplin.

2. Unsafe Action (Perlakuan yang Tidak Aman)

Kecelakaan kerja juga dapat terjadi karena perlakuan yang tidak aman oleh
para pekerja dan orang lain disekitar lingkungan kerja. Perlakuan tidak aman
ini biasanya bersumber dari kurangnya pengetahuan dan keterampilan dari para
pekerja dalam melakukan pekerjaannya, karakteristik fisik dari para pekerja
yang kurang sesuai, karakteristik mental dan psikologis dari para pekerja, sikap
dan/atau tingkah laku yang kurang sesuai dan tidak aman.
Pada industri Pengelasan yang lokasinya jauh dari kota besar mungkin tidak terdata
sehingga tidak masuk pada angka kecelakaan yang dilaporkan. Dimana kecelakaan kerja
itu adalah suatu kecelakaan yang berkaitan dengan hubungan kerja dengan pekerja.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi terjadinya kecelakaan kerja
pada industri Pengelasan di daerah Paoman, Indramayu.

Agar dapat melakukan tindakan pencegahan dan keselamatan kerja, perlu diketahui
dengan tepat bagaimana dan mengapa kecelakaan kerja terjadi. Agar efektif upaya
pencegahan harus didasari pengetahuan penyebab kecelakaan yang lengkap dan tepat.
Pengumpulan dan pencatatan data kecelakaan dimaksudkan untuk mendapat informasi
yang lengkap guna upaya pencegahan kecelakaan tersebut (Syukri Sahab, 1997:60).
Hasil Pengamatan Lapangan

A. Perilaku Pekerja

Penggunaan alat pelindung diri yaitu penggunaan seperangkat alat yang digunakan
tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya
atau kecelakaan kerja. APD tidak secara sempurna dapat melindungi tubuhnya, tetapi akan
dapat mengurangi tingkat keparahan yang mungkin terjadi (AM. Sugeng Budiono,
2003:329). Penggunaan alat pelindung diri dapat mencegah kecelakaan kerja sangat
dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan praktek pekerja dalam penggunaan alat
pelindung diri.

Namun, tingkat kesadaran pekerja untuk menggunakan alat pelindung diri di


industri pengelasan ini sangatlah rendah. Para pekerja, bekerja dengan tidak menggunakan
sepatu safety yang dapat melukai kaki pekerja, cidera yang paling umum yang diderita
ketika menggunakan gerinda adalah adanya percikan partikel atau biasa disebut 'gram'
yang mengenai mata.Juga penyebab lain yang mengakibatkan tangan lecet,tergores dan
tidak menutup kemungkinan terjadinya kecelakaan FATAL baik cacat tetap atau bahkan
menyebabkan kematian.

PROSES PEMOTONGAN DAN LETAK PENEMPATAN KAYU

Terdapat salah satu pekerja yang merokok di area pekerjaan, yang berpotensi
menyebabkan kebakaran pada area pekerjaan karna dekat dengan listrik dan juga area pekerjaan
yang terdapat banyak kayu.

B. Statistika Kecelakaan

Statistika Kecelakaan kerja selama 6 bulan terakhir, pada bulan Januari 2019 – Juni
2019
Jumlah Orang Mengalami
Jenis Kecelakaan
Kecelakaan
Terkena percikan api 3 orang
Tergores pisau las 1 orang
Tertimpa besi pada saat pemindahan 1 orang
besi untuk dilas

STATISTIKA KECELAKAAN PENGELASAN DALAM 3 BULAN TERAKHIR


(APRIL – JUNI 2019)

3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
i
ap las ila
s
an u d
sa k
cik pi nt
u
er es is u Column2
ap gor be
en r
erk Te an
T
dah
in
em
p
at
a sa
ad
sip
be
pa
r tim
Te
Analisa Sesuai Referensi Artikel

URL : https://www.cnzahid.com/2015/11/sebab-sebab-terjadinya-cidera-saat.html?
m=1

Gerinda merupakan alat vital bagi kita para pekerja fabrikasi konstruksi,pipa dan
mekanikal.Selain itu gerinda juga dipakai di berbagai bengkel las,bengkel tralis dan sekarang di
proyek bangunanpun juga memakai gerinda untuk memotong batu alam,keramik dan sebagainya.

Cara menggunakan gerinda cukup simple tinggal tekan ON dan OFF saja,semua orang dijamin
pasti cepat bisa menggunakannya.Tapi yang tidak disadari adalah bahaya yang timbul karena
penggunaan yang salah atau kurang hati-hati.

Cidera yang paling umum yang diderita ketika menggunakan gerinda adalah adanya percikan
partikel atau biasa disebut 'gram' yang mengenai mata.Juga penyebab lain yang mengakibatkan
tangan lecet,tergores dan tidak menutup kemungkinan terjadinya kecelakaan FATAL baik cacat
tetap atau bahkan menyebabkan kematian.

Tidak ada seorangpun yang mampu bereaksi dengan baik ketika partikel logam atau
bahkan lempengan cakram (batu gerinda)terbang liar dengan kecepatan 100 km / jam dengan
jarak kurang dari 50 cm. Oleh karena itu ada baiknya kita mengetahui hal-hal yang bisa
menyebabkan cidera saat menggunakan gerinda juga langkah antisipasi untuk meminimalisir atau
menghindari terjadinya kecelakaan.Berikut beberapa hal yang harus Anda ketahui
Kesimpulan dan Saran
Dari data yang diperoleh maka dapat diketahui bahwa potensi kecelakaan di
industry Mebel disebabkan oleh pekerja tidak memakai APD berupa sarung tangan safety,
kacamata safety, earplug, sepatu safety. Tidak ada pembatas antara tangan operator
dengan mesin gerindra, operator tidak memakai APD berupa sarung tangan safety,
kacamata safety dan earplug. Tidak adanya handle yang berguna sebagai pemegang mesin
gerindra, operator tidak menggunakan APD berupa masker, sarung tangan safety,
kacamata safety dan coverall.