Anda di halaman 1dari 14

Analisa Potensi kecelakaan pada industri pemotongan kayu

Dosen Pengampu : Masjuli, S.K.M., M.K.K.K.

Disusun :

Sheilda Ade Pratiwi


17020037
FIRE AND SAFETY A

PROGRAM STUDI FIRE AND SAFETY


AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN
INDRAMAYU
2019
Pendahuluan
Secara umum industri kehutanan Indonesia (khususnya pengelolaan hutan alam)
saat ini berada dalam kondisi yang “bergejolak dan penuh ketidak pastian” sehingga tidak
heran bila sementara pihak mulai mengangkat isue “moratorium” dan menyebutnya
sebagai “sunset industry”. Pembangunan industri kehutanan (wood based industry) di
Indonesia didorong oleh upaya pencapaian tujuan pembangunan ekonomi meningkatkan
penghasilan devisa melalui eksport, meningkatkan penciptaan lapangan kerja, dan
mencapai nilai tambah. Industri kehutanan selalu dianggap sebagai sektor ekonomi utama
yang mempunyai keunggulan comparative karena melimpahnya bahan baku dan upah
buruh yang murah.

Maraknya kebutuhan kayu untuk masyarakat Indonesia seperti pembangunan


rumah, alat rumah tangga, dan lain-lain mendorong banyaknya perusahaan atau home
industri tentang pemotongan kayu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dalam setiap bidang kegiatan manusia selalu terdapat kemungkinan terjadinya


kecelakaan, tidak ada satu bidang kerjapun yang dapat memperoleh pengecualian.
Kecelakaan dalam industri sesungguhnya merupakan hasil akhir dari suatu aturan dan
kondisi kerja yang tidak aman (ILO, 1989:15). Kecelakaan tidak terjadi kebetulan
melainkan ada sebabnya, oleh karena itu kecelakaan dapat dicegah asal kita cukup
kemauan untuk mencegahnya (Suma’mur PK., 1996:212).

Kecelakaan juga timbul sebagai hasil gabungan dari beberapa faktor. Faktor yang
paling utama adalah faktor perlatan teknis, lingkungan kerja, dan pekerja itu sendiri.
Misalnya dalam suatu industri mungkin saja kekurangan peralatan yang aman, atau
dengan perkataan lain mesin-mesin tidak dirancang baik untuk dilengkapi dengan alat
pengamanan secukupnya. Lingkungan kerja yang bising sehingga tenaga kerja tidak
mendengar isyarat bahaya. Suhu ruangan buruk sehingga para pekerja jadi mudah letih
dan tak mampu lagi untuk berkonsentrasi terhadap tugas-tugas yang ditanganinya, kurang
baiknya pengaturan sirkulasi udara menyebabkan terkumpulnya uap beracun yang pada
akhirnya mengakibatkan kecelakaan. Demikian pula para pekerja itu sendiri dapat
menjadi faktor penyebab bila mereka tidak mendapat latihan yang memadai atau mereka
belum berpengalaman dalam tugasnya (ILO, 1989:16). Secara garis besar, Kecelakaan
Kerja disebabkan oleh dua faktor. Faktor tersebut dikelompokan berdasarkan cara
perlakuannya. Kedua faktor tersebut yaitu:

1. Unsafe Condition  (Kondisi Tidak Aman)

Dengan kondisi kerja yang tidak aman dapat menyebabkan kecelakaan


kerja. Biasanya penyebab kondisi tidak aman ini dapat berasal dari keadaan
mesin, perlatan, dan/atau bahan baku yang tidak sesuai semestinya,
lingkungan kerja yang tidak diperhatikan oleh pekerja, proses kerja yang tidak
sesuai dengan aturan, dan/atau sifat kerja yang tidak bertanggung jawab dan
disiplin.

2. Unsafe Action (Perlakuan yang Tidak Aman)

Kecelakaan kerja juga dapat terjadi karena perlakuan yang tidak aman
oleh para pekerja dan orang lain disekitar lingkungan kerja. Perlakuan tidak
aman ini biasanya bersumber dari kurangnya pengetahuan dan keterampilan
dari para pekerja dalam melakukan pekerjaannya, karakteristik fisik dari para
pekerja yang kurang sesuai, karakteristik mental dan psikologis dari para
pekerja, sikap dan/atau tingkah laku yang kurang sesuai dan tidak aman.
Pada industri Mebel yang lokasinya jauh dari kota besar mungkin tidak terdata
sehingga tidak masuk pada angka kecelakaan yang dilaporkan. Dimana kecelakaan kerja
itu adalah suatu kecelakaan yang berkaitan dengan hubungan kerja dengan pekerja.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui potensi terjadinya kecelakaan kerja
pada industri Mebel di daerah Dayung, Indramayu.

Agar dapat melakukan tindakan pencegahan dan keselamatan kerja, perlu


diketahui dengan tepat bagaimana dan mengapa kecelakaan kerja terjadi. Agar efektif
upaya pencegahan harus didasari pengetahuan penyebab kecelakaan yang lengkap dan
tepat. Pengumpulan dan pencatatan data kecelakaan dimaksudkan untuk mendapat
informasi yang lengkap guna upaya pencegahan kecelakaan tersebut (Syukri Sahab,
1997:60).
Hasil Pengamatan Lapangan

A. Perilaku Pekerja

Penggunaan alat pelindung diri yaitu penggunaan seperangkat alat yang


digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya
potensi bahaya atau kecelakaan kerja. APD tidak secara sempurna dapat melindungi
tubuhnya, tetapi akan dapat mengurangi tingkat keparahan yang mungkin terjadi (AM.
Sugeng Budiono, 2003:329). Penggunaan alat pelindung diri dapat mencegah kecelakaan
kerja sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan praktek pekerja dalam penggunaan
alat pelindung diri.

Namun, tingkat kesadaran pekerja untuk menggunakan alat pelindung diri di


industri mebel ini sangatlah rendah. Para pekerja, bekerja dengan tidak menggunakan
sepatu safety ditengah serutan kayu yang dapat melukai kaki pekerja, juga mengangkat
kayu yang berpotensi menimpah kaki pekerja. Para pekerja juga tidak menggunakan
masker dan kacamata safety saat melakukan penyerutan kayu yang dapat melukai mata
dan wajah pekerja, Juga tidak menggunakan sarung tangan untuk melindungi tangan
pekerja dari serutan kayu.

PROSES PEMOTONGAN DAN LETAK PENEMPATAN KAYU

Terdapat salah satu pekerja yang merokok di area pekerjaan, yang berpotensi
menyebabkan kebakaran pada area pekerjaan karna dekat dengan listrik dan juga area pekerjaan
yang terdapat banyak kayu.
B. Statistika Kecelakaan
Statistika Kecelakaan kerja selama 6 bulan terakhir, pada bulan Januari 2019 –
Juni 2019

Jenis Kecelakaan Jumlah Orang Mengalami


Kecelakaan
Kelilipan percikan kayu 15 orang
Tergores pisau pemotong kayu 10 orang
Terjepit kayu pada saat mengambil 7 orang
kayu yang akan dipindahkan
Tergores serpihan kayu 12 orang
Tertimpa kayu pada saat pemindahan 8 orang
kayu

Statistika Kecelakaan Pemotongan Kayu Pada Bulan Januari


2019 - Juni 2019
Tertimpa kayu pada saat pemindahan kayu
15%
Kelilipan Percikan Kayu
29%

Tergores serpihan kayu


23%

Tergores Ppisau pemotong kayu


19%
Terjepit kayu pada saat mengambil kayu yang akan dipotong
13%
Kesimpulan dan Saran
Dari data yang diperoleh maka dapat diketahui bahwa potensi kecelakaan di
industry Mebel disebabkan oleh pekerja tidak memakai APD berupa sarung tangan
safety, kacamata safety, earplug, sepatu safety. Tidak ada pembatas antara tangan
operator dengan pisau mesin bandresaw, operator tidak memakai APD berupa sarung
tangan safety, kacamata safety dan earplug. Tidak adanya handle yang berguna sebagai
pemegang kayu, operator tidak menggunakan APD berupa masker, sarung tangan safety,
kacamata safety dan coverall. Metode JSA memberikan analisa perbaikan pada
kecelakaan yang terjadi pada proses produksi flooring. Berdasarkan dari Penilaian Skor
Resiko pada metode SHERPA diperoleh 3 kegiatan berbahaya yaitu kegiatan nomor 1.4,
2.4 dan 3.3. kegiatan tersebut dianalisis dan diberikan usulan perbaikan masing-masing,
melakukan training secara rutin, desian pelindung, desain pemegang (handle) operator
dan penggunaan APD lengkap yang telah berstandar safety untuk operator diseluruh
lantai produksi terutama lantai produksi flooring. Hasil dari analisis JSA yaitu berupa
form JSA sebagai pedoman perusahaan untuk melakukan perbaikan pada pekerjaan yang
berbahaya.
Analisa Sesuai Referensi Jurnal

KARYA TULIS

PENGGERGAJIAN KAYU

Oleh :
Arif Nuryawan, S.Hut, M.Si
NIP. 132 303 839

DEPARTEMEN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA MEDAN
AGUSTUS 2008
Arif Nuryawan : Penggergajian Kayu,
2008 USU e-Repository © 2008
PENGGERGAJIAN KAYU

A. PENDAHULUAN
Kegiatan mengkonversi pohon menjadi ukuran sortimen-sortimen kayu tertentu
dengan cara menggergaji log searah panjang panjang pohon merupakan aktivitas utama
dalam penggergajian. Sortimen-sortimen kayu tersebut dalam Bahasa Inggris disebut
sebagai lumber, dimana produk turunannya kita kenal sebagai kaso (joist), papan (plank),
balok (beam), gelegar (stringer), tiang (post & timber), dan lain-lain.
Pada tulisan ini disajikan hal-hal yang berkaitan dengan penggergajian kayu
secara umum yang diacu dari pustaka yang membahas mengenai penggergajian kayu.

B. MESIN-MESIN PENGGERGAJIAN
Ada tiga tipe utama mesin penggergajian (headsaw) yang digunakan untuk
memproduksi lumber, yaitu : frame saw, band saw, dan circular saw.
Penjelasan detail konstruksi, pola ketebalan lumber, dan operator yang
mengoperasikan dijelaskan pada Tabel 1 berikut :

Tabel 1. Perbedaan frame saw, band saw, dan circular saw dilihat dari konstruksi, pola
ketebalan lumber, dan operator yang mengoperasikan

Perbedaan frame saw band saw circular saw


Detail memiliki sejumlah bilah gergaji (blade) merupakan sebuah
konstruksi bilah gergaji lurus berbentuk pita dengan piringan dengan geligi
(blade) dengan geligi geligi di salah satu pada bagian pinggirnya
di salah satu sisinya sisinya bergerak (ada yang permanen, ada
bergerak secara memutar pada dua roda yang bisa dilepas) dan
vertikal atau yang ditempatkan secara berputar pada sebuah
horizontal berulang paralel poros
Waktu
tunggu untuk tidak ada ada ada
turning, set
ketebalan, &
carriage
Ketebalan dimensi harus dimensi bisa ditentukan dimensi bisa ditentukan
lumber ditentukan sebelum selanjutnya setelah selanjutnya setelah
pemotongan karena pemotongan pertama pemotongan pertama
akan dipotong karena pemotongannya karena pemotongannya
sekaligus bertahap (satu demi satu) bertahap (satu demi satu)
Operator skill, pengetahuan, skill, pengetahuan, skill, pengetahuan,
keahlian keahlian keahlian
TIDAK MUTLAK MUTLAK untuk MUTLAK untuk
untuk mendapatkan mendapatkan lumber mendapatkan lumber
lumber yang yang berkualitas yang berkualitas
berkualitas

2
Pada Tabel 2. disajikan perbedaan ketiga jenis mesin gergaji berdasarkan bahan
baku, kecepatan menggergaji, dan limbah yang dihasilkan.

Tabel 2. Perbedaan frame saw, band saw, dan circular saw berdasarkan bahan baku,
kecepatan menggergaji, dan limbah yang dihasilkan.

Perbedaan frame saw band saw circular saw


Bahan baku harus dikelas-kelaskan
log berdasar diameter karena
bilah gergaji di-set di tidak perlu dikelas- tidak perlu dikelas-
awal, konsekuensinya kelaskan kelaskan
butuh waktu untuk
menyortir & tempat luas
untuk menampung hasil
pengkelasan tersebut
Diameter log # vertikal : Ø 40 – 80 cm Ø < 40 cm, karena
yang diproses (bisa hingga Ø 1,25 m) vertikal/ horizontal : hanya
# horizontal:Ø 0,6 – 2 m Ø1–2m 1/3 bagian piringan
gergaji yang
digunakan untuk
menggergaji
Kecepatan
feeding & cepat lama lama
menggergaji
Limbah
(serbuk ++ + +++
gergaji yang (sedikit) (lebih sedikit) (banyak)
dihasikan
dari kerf)

Selain headsaw yang berupa frame saw, band saw, atau circular saw, mesin
penggergajian dilengkapi pula oleh resaw, edger, dan trimmer yang biasanya digerakkan
oleh tenaga listrik (Gambar 1)
1996)

tnya. Bentuk bilah gergaji ditentukan oleh tipe mesin utama. Dimensi dan morfologi geligi tergantung dari 3 sudut geligi, yaitu

Tabel 3. Penjelasan mengenai Bilah Gergaji

Perbedaan frame saw band saw circular saw


Dimensi P : 1,10 – 1,50 m Panjang tergantung Ø roda Ø : 1,30 m
bilah (normal), pemutar dan jarak Tebal :
gergaji range 0,8 – 2,5 m maksimum, dirumuskan : 1/ 250 Ø – 1/200
L : 12 – 18 cm M = 2 ( a + π d / 2 ), dengan Ø
T : 1,2 – 2,5 mm M : panjang bilah gergaji (m)
a : jarak maks dari roda (m)
d : Ø roda (m)
π : 3,14
Kerf 3 – 5 mm 2 – 5 mm 4 – 10 mm
D. PENYIMPANAN LOG
Tujuan log yang disimpan dalam air (logpound, sungai, danau, laut) adalah :
# melindungi serangan jamur dan serangga
# menghindari retak dan pecah
# menghindari log kotor dan bebatuan kecil menempel
# memudahkan proses mekanis
# menghilangkan kandungan pati (starch)
Kerugian log yang disimpan dalam air (logpound, sungai, danau, laut) adalah :
# akan terjadi polusi air jika merupakan air tergenang (menyuburkan bakteri)
# akan terjadi pelunturan warna kayu (discoloration)
# log bisa saja tenggelam atau hanyut
# beresiko terserang marine borer (jika di laut) atau airnya beku (jika musim salju)

E. METODE PENGGERGAJIAN
Penggergajian log menjadi lumber melewati 2 proses, yaitu primer & sekunder,
di mana :
1. Proses primer  primary breakdown  penggergajian log dengan headsaw
(frame saw, band saw, atau circular saw)

flitch atau cant

2. Proses sekunder  penggergajian flitch atau cant dengan resaw, edger, atau
trimmer

lumber
Pola penggergajian dipengaruhi mesin, penggunaan lumber, jenis kayu, diameter
log, rendemen, dan biaya.

F. RENDEMEN

Rendemen untuk mengubah log/ kayu bulat menjadi lumber di kilang


penggergajian bervariasi 30-70%, dengan limbah berupa serbuk gergaji, slabs, trimming,
atau chip.
Rendemen (Y = Yield) dihitung dengan rumus :

Y % = lumber (m3) x 100 %


log (m3)

Rendemen dipengaruhi oleh :


# kayu (Ø, panjang, taper, cacat)
# mesin (kerf, kondisi & pemeliharaan alat/ mesin, variasi menggergaji)
# pola penggergajian (dimensi lumber, jumlah)
# lain-lain (perencanaan, kemampuan, pengalaman operator)
G. KUALITAS LUMBER

Kualitas lumber utamanya dipengaruhi oleh kualitas log, tetapi dapat dipengaruhi
cara menggergaji. Ada 2 hasil papan penggergajian, yaitu papan radial (quarter-sawn
lumber) dan papan tangensial (flat-sawn lumber). Perbedaannnya menurut Tsoumis
(1991) disajikan pada Tabel 4 sebagai berikut :

Tabel 4. Perbedaan papan radial dan papan tangensial menurut Tsoumis (1991)

Perbedaan papan radial papan tangensial


(quarter-sawn lumber) (flat-sawn lumber)
Kembang susut kecil pada arah lebar besar pada arah lebar
Melengkung kemungkinan kecil ada kecenderungan
Corak gambaran jari-jari gambaran mata kayu
Kemudahan produksi sulit mudah
Biaya mahal murah

Sedangkan Simpson & TenWolde (1999) mengungkapkan perbedaan papan radial


dan papan tangensial seperti yang tersaji pada Tabel 5 berikut.

Tabel 5. Perbedaan papan radial dan papan tangensial menurut


Simpson & TenWolde (1999)

papan radial papan tangensial


(quarter-sawn) (plain-sawn)
Kembang susut kecil pada arah lebar Kembang susut kecil pada arah tebal
Memangkuk, pecah permukaan, dan Lebih terlihat mata kayu bundar dan
belah kecil saat pengeringan maupun oval pada permukaan papan
penggunaan
Serat terangkat disebabkan oleh Retak-retak lebih mudah dijumpai
pemisahan lingkaran tahun tidak pasti
Pola corak dihasilkan dari jari-jari, serat Pola penggambaran lingkaran tahun
berpadu, dan serat berombak nampak lebih mencolok
nyata
Pada beberapa spesies kayu, tidak mudah Mudah untuk dikeringkan
ditembus cairan
Pada beberapa spesies, proses pengecatan Biaya produksi lebih murah karena lebih
lebih baik hasilnya mudah memproduksinya
Kayu gubal terlihat pada papan bagian -
ujung dan lebarnya dibatasi oleh lebar log
H. TINGKAT KUALITAS (GRADE) LUMBER

Tingkat kualitas (grade) lumber ditentukan oleh cacat (mata kayu : sehat atau
lepas), saluran damar, kayu tarik/ tekan, retak, pecah, serat berombak, pelunturan warna,
dan pingul. Tingkat kualitas (grade) lumber berbeda tergantung spesies (jenis kayu) dan
negara.

I. PENANGANAN LUMBER

Penanganan lumber dari kilang penggergajian ke tempat penimbunan untuk


kemudian menuju pengeringan (alami/ secara kiln) dilakukan dengan mempertimbangkan
jenis (spesies), dimensi, dan tingkat kualitas (grade). Lumber yang akan dikapalkan
harus diberi perlakuan pengeringan & pengawetan.

DAFTAR PUSTAKA

Haygreen, J.G. and Bowyer, J.L. 1996. Forest Products and Wood Science - An
Introduction, 3rd ed. Iowa State University Press.)

Simpson, W and A.TenWolde. 1999. Physical Properties and Moisture Relations of


Wood. In Wood Handbook Wood as an Engineering Material. USDA.Madison

Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood Structure, Properties, Utilization.


Van Nostrand Reinhold New York