Anda di halaman 1dari 19

Makalah Kimia

BAB 11 Sistem Koloid

Kelompok 1:
1. Agis Watri Yanto
2. Akmal Hidayat
3. Aldrik Sumantri
4. Ataya Khalda S
5. Aulia Dwi Rahmasari
6. Ayu Nadia R
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Sistem Koloid ini
tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas guru pada bidang studi Kimia. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang Sistem Koloid bagi para pembaca dan juga bagi
penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada ibu guru, selaku guru bidang studi
Kimia yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan
dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi
sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.

Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi
kesempurnaan makalah ini.

Tangeran, 22 April 2020

Daftar Isi
Kata Pengantar…………………………….......................................................i
Bab 11 Sistem Koloid…………………..…...............................................ii
A. Sistem Dispersi…………………..….....................................................4
1. Depresi kasar...........................................5
2. Depresi halus............................................................5
3. Depresi koloid............................................ .........6
B. Jenis-jenis koloid.................................................................7
C. Pengelompokan Sistem Koloid……...........................................9
D. Sifat dan Penerapan Sistem Koloid…........................11
1. Efek Tyndall....................................................................11
2. Gerak brown........................................................11
3. Adsorpsi..............................................................................12
4. Koagulasi..................................................................12
5. Elektroforesa....................................................................12
6.Koloid Liofil dan Koloid Liofob......................................13
7. Koloid pelindung..................................................................13
8. Dialisis..................................................................14
E. Pembuatan Koloid……………………..........................................14
F. Manfaat Koloid dalam kehidupan............................. ...............16
Daftar Pustaka…………………………....................................…...18
A. Sistem Dispersi
Sistem dispersi merupakan campuran antara zatterlarut dan pelarut. Dalam sistem
dispersi, jumlah zat terlarut lebih sedikit dibandingkan dengan zat pelarut. Zat
terlarut dinamakan fase terdispersi, sementara itu, zat pelarut dinamakan medium
pendispersi. Jadi, sistem dispersi adalah campuran antara fase terdispersi dengan
medium pendispersi yang bercampursecara merata.
Sistem dispersi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu dispersi kasar, dispersi halus,
dan dispersi koloid.
1.Dispersi Kasar
Dispersi kasar disebutjuga suspensi. Suspensi merupakan campuran heterogen
antara fase terdispersi dengan medium pendispersi. Oleh karena itu, antara fase
terdispersi dan medium pendispersi dapat dibedakan dengan jelas. Fase terdispersi
biasanya berupa padatan, sedangkan medium pendispersi berupa zat cair. Fase
terdispersi mempunyai ukuran partikel lebih besar dari 10-5 cm sehingga akan
terlihat adanya endapan. Contoh campuran pasir dengan air. Dalam campuran pasir
dengan air, antara fase terdispersi (pasir) dengan medium pendispersi (air) dapat
dibedakan karena pasir mengendap di dasar wadah.
2.Dispersi Halus
Dispersi halus disebut juga dispersi molekuler atau larutan sejati.
Dalam larutan sejati terbentuk campuran homogen karena fase terdispersi
larutsempuma dalam medium pendispersi. Campuran homogen ini disebut juga
larutan. Dalam larutan fase terdispersi dapat berupa zat padat atau cair, sedangkan
medium pendispersi berupa zat cair. Contoh larutan teh dalam air. Diameter
partikel fase terdispersi dalam larutan < 10-7 cm sehingga larutan tampak satu fase
dan homogen.
3.Dispersi Koloid
Dispersi koloid merupakan sistem dispersi antara dispersi kasar dan dispersi halus.
Campuran fase terdispersi dengan medium pendispersi dalam koloid tampak
homogen. Namun sesungguhnya, dispersi koloid merupakan campuran heterogen.
Hal ini akan tampak dengan jelas saat dispersi koloid diamati menggunakan
mikroskop ultra. Contoh dispersi koloid yaitu agar-agar. Partikel fase terdispersi
dalam koloid berukuran antara 10~7-10~5 cm sehingga fase terdispersi dapat larut
dalam medium pendispersi dan tampak homogen.

Secara umum perbedaan antara ketiga sistem dispersi tersebut di atas disajikan
dalam Tabel berikut.

No Dispersi
Dispersi Halus Dispersi Koloid
. Kasar

Heteroge
1. Homogen Tampak homogen
n

Dua fase (dilihat dengan


2. Dua fase Satu fase
mikroskop ultra)

Keruh ada
3. Jernih Keruh tanpa endapan
endapan

Dapat Dapat disaring (dengan


4. Tidak dapat disaring
disaring kertas saring ultra)

Tidak
5. Stabil Stabil
stabil

6. Diameter Diameter partikel <10- Diameter partikel 10-7-1 O-


partikel 7 5
 cm  cm
>10-5 cm

B.Jenis-jenis Koloid
Berdasarkan fase terdispersi dan medium pendispersinya, koloid dibedakan
menjadi beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut.

1. Aerosol
Aerosol merupakan jenis koloid di mana fase terdispersinya berupa zat padat atau
cair dan medium pendispersinya berupa gas. Jika fase terdispersinya padat, maka
disebut aerosol padat. Jika fase terdispersinya cair, maka disebut aerosol cair.
Contoh koloid jenis aerosol adalah minyak wangi (parfum), obat nyamuk semprot,
dan cat semprot.

2. Sol
Sol merupakan jenis koloid di mana fase terdispersinya berupa zat padat,
sedangkan medium pendispersinya berupa zat cair atau zat padat. Jika medium
pendispersinya zat padat, disebut sol padat. Contoh koloid jenis sol cair adalah
tinta, sol belerang, dan sol emas. Contoh sol padat adalah kaca hitam, intan hitam,
dan paduan logam.

3. Emulsi
Emulsi merupakan jenis koloid di mana fase terdispersinya zat cair dan medium
pendispersinya juga zat cair. Lalu, apa bedanya dengan larutan? Pada emulsi,
kedua zat cair tidak saling melarutkan. Hal itu karena adanya peran zat
pengemulsi. Contoh emulsi adalah kasen di dalam susu, kuning telur, santan, dan
mayones.

4. Buih
Buih merupakan jenis koloid di mana fase terdispersinya berupa gas, sementara
medium pendispersinya berupa zat cair. Jikamedium pendispersinya berupa zat
padat, maka disebut buih padat. Contoh koloid jenis buih ini adalah sabun,
detergen, karet busa (buih padat), dan batu apung (buih padat).

5. Gel
Gel merupakan jenis koloid yang terbentuk dari campuran zat padat dan zat cair.
Gel terbentuk karena fase terdispersi mampu mengadsorbsi medium pendipersinya.
Contoh gel adalah agar-agar, lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, dan gel silika.
Berdasarkan sifat elastisitasnya, gel dibagi menjadi dua, yaitu gel elastis dan non-
elastis.
Adsoprsi adalah peristiwa terserapnya ion atau senyawa lain oleh permukaan
koloid. Contohnya saat Quipperian menjernihkan air menggunakan tawas. Tawas
digunakan sebagai penjernih air karena memiliki kemampuan untuk menyerap
polutan di dalam air.
C. Pengelompokan Sistem Koloid
Terdapat tiga fase zat, yaitu padat, cair, dan gas. Dari ketiga fase zat ini dapat
dibuat Sembilan kombinasi campuran fase zat, tetapi yang dapat membentuk
system koloid hanya delapan. Kombinasi campuran fase gas dan fase gas selalu
menghasilkan campuran homogeny (satu fase) sehingga tidak dapat membentuk
system koloid.
1.Sistem Koloid Fase Padat-Cair (Sol)
Sistem koloid fase padat-cair disebut sol. Sol terbentuk dari fase terdispersi berupa
zat padat dan fase pendispersi berupa cairan. Sol yang memadat disebut gel.
2.Sistem Koloid Fase Padat-Padat (Sol Padat)
Sistem koloid fase padat-padat terbentuk dari fase terdispersi dan fase pendispersi
yang sama-sama berwujud zat padat sehingga dikenal dengan nama sol padat.
Lazimnya, istilah sol digunakan untuk menyatakan system koloid yang terbentuk
dari fase terdispersi berupa zat padat di dalam medium pendispersi berupa zat cair
sehingga tidak perlu digunakan istilah sol cair.
3.Sistem Koloid Fase Padat-Gas (Aerosol Padat)
Sistem koloid fase padat-gas terbentuk dari fase terdispersi berupa padat dan fase
pendispersi berupa gas. Partikel padat di udara disebut partikulat padat. Sistem
dispersi padat dalam medium pendispersi gas disebut aerosol padat. Sebenarnya,
istilah aerosol lazim digunakan untuk menyatakan system dispersi zat cair di dalam
medium gas sehingga tidak perlu disebut aerosol cair.
4.Sistem Koloid Fase Cair-Gas (Aerosol)
Sistem koloid fase cair-gas terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan fase
pendispersi berupa gas, yang disebut aerosol. Partikel-partikel zat cair yang
terdispersi di udara (gas) disebut partikulat cair.
5.Sistem Koloid Fase Cair-Cair (Emulsi)
Sistem koloid fase cair-cair terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan
medium pendispersi yang juga berupa cairan. Campuran yang terbentuk bukan
berupa larutan, melainkan bersifat heterogen. Misalnya, campuran antara minyak
dan air. Air yang bersifat polar tidak dapat bercampur dengan minyak yang bersifat
nonpolar. Untuk dapat “menyatukan” air dan minyak, harus ada zat penghubung
antara keduanya. Zat penghubung ini harus memiliki gugus polar (gugus yang
dapat larut di dalam air) dan juga harus memiliki gugus nonpolar (gugus yang
dapat yang dapat larut di dalam minyak) sehingga zat penghubung tersebut dapat
bercampur dengan air dan dapat pula bercampur dengan minyak. Sistem koloid
cair-cair disebut emulsi. Zat penghubung yang menyebabkan pembentukan emulsi
disebut emulgator (pembentuk emulsi). Jadi, tidak ada emulsi tanpa emulgator.
Contoh zat emulgator, yaitu sabun, deterjen, dan lesitin. Minyak dan air dapat
bercampur jika ditambahkan emulgator berupa sabun atau deterjen. Oleh karena
itu, untuk menghilangkan minyak yang menempel pada tangan atsu pakaian
digunakan deterjen atau sabun, yang kemudian dibilas dengan air.
6.Sistem Koloid Fase Cair-Padat (Emulsi Padat)
Sistem koloid fase cair-padat terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan
medium pendispersi berupa zat padat sehingga dikena dengan nama emulsi padat.
Sebenarnya, istilah emulsi hanya digunakan untuk system koloid fase cair-cair.
Jadi, emulsi berarti system koloid fase cair-cair (tidak ada isrilah emulsi cair).
7.Sistem Koloid Fase Gas-Cair (Busa)
Sistem koloid fase gas-cair terbentuk dari fase terdispersi berupa gas dan medium
pendispersi berupa zat cair. Jika anda mengocok larutan sabun, akan timbul busa.
Di dalam busa sabun terdapat rongga yang terlihat kosong. Busa sabun merupakan
fase gas dalam medium cair.
8.Sistem Koloid Fase Gas-Padat (Busa Padat)
Sistem koloid fase gas-padat terbentuk dari fase terdispersi berupa gas dan medium
pendispersi berupa zat padat, yang dikenal dengan istilah busa padat, sedangkan
dispersi gas dalam medium cair disebut busadan tidak perlu disebut busa cair.
D. Sifat dan Penerapan Sistem Koloid
1.Efek Tyndall
Hamburan cahaya oleh partikel - partikel koloid, sehingga jalannya sinar yang
melewati koloid dapat terlihat.
Sifat khas pada sistem koloid yang dibedakan dengan sistem dispersi yang lain
terkait dengan efek Tyndall dan gerak Brown.
Efek Tyndall adalah penghalang cahaya oleh partikel koloid. Efek ini dikemukakan
oleh John Tyndall, pakar fisika berkebangsaan Inggris. Partikel dalam sistem koloid
dapat membentuk molekul atau ion yang cukup besar akan menghamburkan cahaya
ke segala arah. Larutan sejati / larutan tidak menunjukkan efek Tyndall, karena
ukuran partikelnya terlalu kecil untuk menghamburkan cahaya.
Di Lingkungan kita sering terjadi efek Tyndall, dihabiskan:
-Terjadinya warna biru di langit pada siang hari dan warna merah atau jingga di
langit pada saat matahari terbenam di ufuk barat.
-Sorot lampu proyektor di gedung bioskop akan tampak jelas kompilasi secepatnya
ada rokok.
-Sorot lampu mobil pada malam hari yang berkabut.
-Berkas sinar matahari yang melalui celah daun pepohonan pada pagi hari yang
berkabut.
2.Gerak Brown
Gerakan partikel koloid terus-menerus dengan gerakan patah-patah (zig-zag), yang
diakibatkan oleh adanya tumbukan antara partikel-partikel koloid dengan medium
pendispersinya.
Gerak Brown adalah gerak acak (zig-zag) partikel koloid dalam medium
pendispersinya. Gerak ini ditemukan oleh Robert Brown. Gerak Brown terjadi
karena keberadaan tumbukan yang tidak seimbang antara molekul-molekul
terhadap partikel koloid. Semakin tinggi suhu semakin cepat gerak Brown
melanjutkan energi kinetik molekul meningkat semakin menghasilkan tumbukan
yang lebih kuat.Gerak Brown dalam sistem koloid menghasilkan partikel koloid
yang terdistribusi dalam medium pendispersinya dan tidak memisah karena
didiamkan (stabil).

3.Adsorpsi
Kemampuan partikel koloid mengikat materi di permukaan
Adsorpsi adalah proses penempatan zat di permukaan zat lain. Zat yang diserap
disebut fase terserap dan zat yang menyerap disebut adsorpen. Peristiwa gaya
molekul menarik molekul di permukaan adsorpen.

Contoh penggunaan adsorpsi:


Penyembuhan sakit perut yang disebabkan oleh bakteri patogen dengan serbuk
karbon atau norit. Di usus, norit akan menjadi koloid yang dapat mengadsorpsi zat
racun (bakteri patogen)

Penjernihan air keruh dengan tawas Al2 (SO4) 3. Dalam air tawas terhidrolisis
menjadi Al (OH) 3 yang membentuk koloid dan mampu mengadsorpsi kotoran
dalam air khusus zat warna.Penjernihan air tebu pada pembuatan gula pasir dengan
tanah diatome dan arang tulang (pemutihan gula) .Zat warna dalam gula akan
diadsorpsi sehingga diperoleh gula yang putih.Adsorpsi gas oleh zat padat,
misalnya pada masker gas.Adsorbsi keringat oleh alumium stearat yang ada dalam
rol pada deodoran.Partikel koloid mampu mengadsorpsi ion positif dan ion negatif
sehingga koloid menjadi bermuatan listrik. Koloid yang bermuatan positif
contohnya Fe (OH) 3 dan yang bermuatan negatif contohnya As2S3.
4.Koagulasi

Koagulasi atau penggumpalan adalah partikel pengendapan partikel-partikel koloid


sehingga fase terdispersi terpisah dari medium pendispersinya. Koagulasi peran
dikembalikan kestabilan untuk mempertahankan partikel-partikel agar tetap
didistribusikan di dalam medium pendispersinya. Koagulasi dapat dilakukan secara
mekanis, fisis dan kimia

1) Mekanik, menggumpalkan koloid dengan pemanasan, pengadukan, dan


pendinginan. Proses ini akan mengurangi udara atau ion di sekeliling koloid
sehingga koloid akan mengendap.Contohnya: protein, agar-agar dalam udara akan
menggumpal bila didinginka.

2) Fisis
Contoh: penggunakan alat cottrel. Alat Cottrel biasanya digunakan pada cerobong
asap di industri-industri besar, untuk menggumpalkan asap dan debu. Hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi pencemaran secepatnya dan debu yang
berbahaya. Caranya dengan segera keluar atau debu pada Cottrel sebelum keluar
dari cerobong pabrik. Alat ini terdiri dari dua pelat elektroda bertegangan
tinggi. Bila sudah jenuh, elektroda sudah habis.

3) Kimia
Cara ini dilakukan dengan menggunakan zat elektrolit ke dalam koloid.
Contoh:
- Proses pengolahan karet dari bahan mentah (lateks) dengan menambahkan asam
formiat atau cuka.
- Pembentukan delta di muara sungai
- Proses penjernihan air dengan menambahkan tawas. Tawas digunakan untuk
menggumpalkan partikel koloid dalam udara.

5.Elektroforesa

Pergerakan partikel koloid di medan listrik


Elektroforesis adalah pergerakan partikel koloid di bawah pengaruh medan
listrik. Partikel-partikel dapat bermuatan listrik karena terjadi ion pada permukaan
koloid. Kestabilan sistem koloid memunculkan muatan listrik di permukaan partikel
koloid, selain karena ada gerak Brown. Pada peristiwa elektroforesis, partikel
koloid akan dinetralkan muatannya dan digumpalkan pada elektroda. Kegunaan
dari sifat ini adalah untuk menentukan muatan yang dimiliki oleh suatu partikel
koloid.

Pada elektroforesis ini, ke dalam elektrolit dimasukkan dua batang elektroda


kemudian pindah dengan sumber arus searah, maka partikel-partikel koloid akan
bergerak ke salah satu elektroda tergantung pada jenis muatannya. Koloid yang
bermuatan negatif akan bergerak ke anoda (elektode positif) sedangkan koloid yang
bermuatan positif bergerak ke katoda (elektroda negatif).

6.Koloid Liofil dan Koloid Liofob

Sistem koloid sol (zat padat dalam medium pendispersi cair) dapat bersifat liofil
dan juga bersifat liofob. Pada sol yang bersifat liofil, zat terdispersi dapat menarik
atau mengikat medium pendispersi. Pada sol yang bersifat liofob, zat terdispersi
tidak dapat mengikat medium pendispersinya.

7.Koloid Pelindung

Koloid pelindung merupakan suatu system koloid yang ditambahkan pada system
koloid lainnya agar diperoleh koloid yang stabil. Contoh koloid pelindung adalah
gelatin yang merupakan koloid padatan dalam medium air. Gelatin biasa digunakan
pada pembuatan es krim untuk mencegah pembentukan Kristal es yang kasar
sehingga diperoleh es krim

yang lebih lembut.

8.Dialisis

Pada proses dialis, koloid yang mengandung ion-ion di masukan ke dalam kantung

penyaring, kemudian dicelupkan ke dalam medium pendispersi (air). Ion-ion dapat


keluar melewati penyaring sehingga partikel koloid terbebas dari ion-ion. Kantung
penyaring merupakan selaput semiperemeabel yang hanya dapat di lewati ion dan
air, tetapi tidak dapat dilewati partikel koloid.

E. Pembuatan Koloid
Adapun cara pembuatan koloid adalah sebagai berikut.

1. Cara kondensasi

Cara kondensasi merupakan cara untuk membentuk koloid melalui proses


penggumpalan partikel larutan agar menjadi partikel koloid. Penggumpalan tersebut
bisa dilakukan dengan metode berikut.

A.Reaksi pengendapan

Reaksi pengendapan dilakukan dengan cara mencampurkan larutan elektrolit agar


dihasilkan endapan, contohnya sebagai berikut.

B.Reaksi hidrolisis

Reaksi hidrolisis dilakukan dengan cara mencampurkan suatu zat dengan air,
contohnya sebagai berikut.
C.Reaksi redoks

Sistem koloid juga dapat dibentuk dari reaksi redoks, contohnya sebagai berikut.

D.Reaksi pergeseran

Contoh reaksi pergeseran bisa Quipperian lihat pada proses pembuatan sol As2S3.
Sol As2S3 dibuat dengan cara mengalirkan gas H2S ke dalam larutan H3AsO3
encer pada suhu tertentu. Adapun contoh reaksinya adalah sebagai berikut.

E.Reaksi penggantian pelarut

Pembuatan koloid jenis ini bisa Quipperian lihat pada pembuatan gel kalsium asetat
di mana larutan kalsium asetat harus ditambahkan alkohol 96% agar terbentuk gel
kalsium asetat.

2. Cara dispersi

Cara dispersi kebalikan dari kondensasi, yaitu dilakukan dengan memperkecil


partikel suspensi agar menjadi partikel koloid. Cara dispersi ini bisa dilakukan
dengan beberapa metode berikut.

A.Cara mekanik
Pembuatan koloid dengan cara mekanik dilakukan menggunakan penggilingan atau
penggerusan partikel suspensi. Dengan demikian, akan dihasilkan partikel yang
lebih kecil dan lembut. Contoh pembuatan partikel koloid dengan cara mekanik
adalah sebagai berikut.

1) Gumpalan tawas yang sudah digiling akan membentuk koloid saat dicampurkan
dengan air.

2) Karbon dihaluskan dengan penggiling koloid agar dihasilkan tinta.

3) Belerang dan gula dihaluskan dalam penggiling koloid, sehingga dihasilkan sol
belerang.

B.Cara peptisasi

Koloid bisa dibentuk melalui proses peptisasi, yaitu dengan menambahkan ion
sejenis, sehingga partikel endapan akan mengalami pemecahan oleh zat kimia.
Adapun contoh peptisasi adalah sebagai berikut.

1) Sol Fe(OH)3dipeptisasi oleh FeCl3.

2) Sol NiS dipeptisasi oleh H2S.

3) Karet dipeptisasi oleh bensin.

C.Cara busur bredia/bredig

Cara busur bredia dilakukan dengan mencelupkan dua kawat logam yang dialiri
arus listrik ke dalam air. Dengan demikian, kawat tersebut akan membentuk
partikel koloid berupa debu di dalam air.

D.Cara ultrasonik
Pada prinsipnya, cara ini hampir sama dengan cara mekanik, hanya saja proses
penghancuran partikel besarnya menggunakan gelombang ultrasonik

F. Manfaat Koloid dalam Kehidupan

1.Koloid biasa digunakan dalam industri kosmetik untuk membuat foundation,


sampo, pembersih wajah, deodoran, dan pelembab badan.

2.Dalam industri tekstil, koloid biasa dimanfaatkan dalam bentuk sol untuk
membuat warna pakaian.

3.Dalam industri farmasi, koloid digunakan dalam bentuk sol untuk membuat obat-
obatan.

4.Dalam industri sabun, koloid dihasilkan dalam bentuk emulsi, contohnya sabun
dan detergen.

5.Dalam industri makanan, koloid bisa ditemukan dalam kecap, saus, susu,
mayones, dan mentega.

6.Elektroforesis bisa digunakan untuk mengidentifikasi DNA.


Daftar Pustaka
https://www.pelajaran.co.id/2016/07/penjelasan-sistem-koloid-dan-sistem-dispersi.html

https://medium.com/@jatiedukasi/pengertian-jenis-sifat-sifat-koloid-terlengkap-774413c16e1a

https://www.utakatikotak.com/kongkow/detail/5849/CARA-PEMBUATAN-KOLOID-Secara-Dispersi-dan-
Secara-Kondensasi

http://organiksmakma3b30.blogspot.com/2013/04/manfaat-koloid-dalam-kehidupan-sehari.html

https://bocahkampus.com/contoh-kata-pengantar

https://www.google.com/search?
q=logo+sman+15+tangerang&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=f04aCwK62cy_MM%253A
%252CbAjjmYIPFwEbnM%252C_&vet=1&usg=AI4_-kRoAD47QQ1FpX3T2rQ-
kXfHrT2XOQ&sa=X&ved=2ahUKEwjtrZTurPjoAhUWXisKHa8cDvwQ9QEwAHoECAoQHA#imgrc=f04aCwK6
2cy_MM:

https://cdn.utakatikotak.com/20170410/20170410_074310pembuatan-koloid.jpg

https://blog.ruangguru.com/hs-fs/hubfs/fase%20koloid.png?width=1024&name=fase%20koloid.png