Anda di halaman 1dari 80

TIM PENELITI PUSAT PERANCANGAN HUKUM FH UNUD

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI


TENTANG PENYELENGGARAAN
KETERTIBAN
UMUM DAN KETENTRAMAN MASYARAKAT

BALI
2015

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA


KERJA SAMA
SATUAN POLISI PAMONG PRAJA PROVINSI BALI

PUSAT PERANCANGAN HUKUM |


KAMPUS SANGLAH JALAN BALI NOMOR 1 DENPASAR 80114 TELP (0361)
222666
NASKAH AKADEMIK RANCANGAN PERATURAN
DAERAH
PROVINSI BALI
TENTANG PENYELENGGARAAN KETERTIBAN UMUM DAN
KETENTRAMAN MASYARAKAT

TIM PENELITI
Prof. Dr. I Gusti Ngurah Wairocana.,SH.,MH
Dr. I Ketut Wirawan.,SH.,MH.
I Ketut Sudiarta, SH., MH.
Ni Luh Gede Astariyani, SH., MH.
A.A. Istri Ari Atu Dewi., MH.

PEMERINTAH PROVINSI BALI BEKERJA SAMA


DENGAN PUSAT PERANCANGAN HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA
2015

1
PUSAT PERANCANGAN HUKUM
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA
Jalan Bali Nomor 1 Denpasar
Tlp. (0361)222666
KATA PENGANTAR

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia


Tahun 1945, penyelenggaraan pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri
atas daerah-daerah kabupaten dan kota. Setiap daerah tersebut
mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.
Penyelenggaraan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat merupakan kewajiban pemerintah sebagaimana diamanatkan
dalam Undang_undang Dasar 1945. Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat adalah bagian dari hak asasi manusia dalam
tertib kehidupan masyarakat bernegara sebagaimana dijamin dalam Pasal
28 J UUD 1945
Ketertiban didukung oleh tatanan yang mempunyai sifat berlain-
lainan karena norma-norma yang mendukung masing-masing tatanan
mempunyai sifat yang tidak sama. Oleh karena itu, dalam masyarakat yang
teratur setiap manusia sebagai anggota masyarakat harus memperhatikan
norma atau kaidah, atau peraturan hidup yang ada dan hidup dalam
masyarakat. Ketertiban dapat membuat seseorang disiplin, Ketertiban dan
Kedisiplinan sebagai Landasan Kemajuan. Tertib dan disiplin adalah matra
yang amat menentukan keberhasilan sebuah proses pencapaian tujuan.
Dengan ketertiban, seseorang berusaha mengetahui dan mencermati
aturan agar perjalanan menjadi lebih lancar. Disiplin adalah sikap yang
diperlukan untuk menjalani proses tersebut.

Tim Peneliti
DAFTAR ISI

Kata Pengantar >> i


Daftar Isi >> ii
Daftar Gambar >> iii
Daftar Tabel >> iv
BAB I. PENDAHULUAN >>> 1
A. Latar Belakang >>> 1
B. Identifikasi Masalah >>> 6
C. Tujuan dan Kegunaan Penyusunan Naskah
>>> 6
Akademik
D. Metode Penelitian >>> 7
BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS >>> 9
A. Kajian Teoritis >>> 9
B. Kajian Terhadap Asas yang Terkait Dengan
Penyusunan Norma >>> 11
C. Kajian Terhadap Praktik Penyelenggaraan >>> 15
D. Kajian Terhadap Implikasi Penerapan
Terhadap Masyarakat Dan Dampaknya
Terhadap Beban Keuangan Daerah >>> 19
BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT >>> 21
A. Kondisi Hukum Yang Ada dan Statusnya >>> 21
B. Keterkaitan Peraturan Daerah Baru Dengan
Peraturan Perundang-undangan Yang Lain >>> 23
C. Rencana Pengaturan Dari Pemerintah
Provinsi Bali Tentang Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat >>> 26
BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN >>> 28
YURIDIS
A. Validitas Peraturan Perundang-undangan :
Landasan Filosofis, Sosiologis dan Yuridis. >>> 28
B. Relevansi Validitas Dalam Penyusunan

i
Peraturan Daerah Tentang Penyelenggaraan
>>> 33
ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat
BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG
LINGKUP MATERI MUATAN PERATURAN
DAERAH PROVINSI BALI TENTANG
PENYELENGGARAAN KETERTIBAN UMUM DAN
KETENTRAMAN MASYARAKAT >>> 36
A. Arah dan Jangkauan Pengaturan >>> 36
B. Ruang Lingkup Materi Muatan >>> 38
BAB VI PENUTUP >>>48
A. RANGKUMAN >>>48
B. SARAN >>>41
DAFTAR PUSTAKA >>>50
LAMPIRAN
1. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Bali tentang
Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat.

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1: Kewengan Satpol PP dalam menjaga >>> 4

Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman


masyarakat

Tabel 2: Data Penegakan Peraturan Daerah Tahun 2013 >>> 18

Tabel 3: Data Rekapitulasi Penegakan Peraturan Daerah >>> 18


Tahun 2014

Tabel 4 : Keterkaitan dengan Undang-Undang Lainnya. >>>24


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Hidup berkelompok ini merupakan kodrat manusia dalam memenuhi


kebutuhannya. Selain itu juga untuk mempertahankan hidupnya, baik
terhadap bahaya dari dalam maupun yang datang dari luar. Setiap manusia
akan terdorong melakukan berbagai usaha untuk menghindari atau
melawan dan mengatasi bahaya-bahaya itu. Dalam hidup berkelompok itu
terjadilah interaksi antar manusia.
Sebagai manusia yang menuntut jaminan kelangsungan hidupnya,
harus diingat pula bahwa manusia adalah mahluk sosial. Menurut
Aristoteles, manusia itu adalah Zoon Politikon, yang dijelaskan lebih lanjut
oleh Hans Kelsen “man is a social and politcal being” artinya manusia itu
adalah mahluk sosial yang dikodratkan hidup dalam kebersamaan dengan
sesamanya dalam masyarakat, dan mahluk yang terbawa oleh kodrat
sebagai mahluk sosial itu selalu berorganisasi. Kehidupan dalam
kebersamaan (ko-eksistensi) berarti adanya hubungan antara manusia yang
satu dengan manusia yang lainnya. Hubungan yang dimaksud dengan
hubungan sosial (social relation) atau relasi sosial. Yang dimaksud
hubungan sosial adalah hubungan antar subjek yang saling menyadari
kehadirannya masing-masing. Dalam hubungan sosial itu selalu terjadi
interaksi sosial yang mewujudkan jaringan relasi-relasi sosial (a web of
social relationship) yang disebut sebagai masyarakat. Dinamika kehidupan
masyarakat menuntut cara berperilaku antara satu dengan yang lainnya
untuk mencapai suatu ketertiban.
Ketertiban didukung oleh tatanan yang mempunyai sifat berlain-lainan
karena norma-norma yang mendukung masing-masing tatanan mempunyai
sifat yang tidak sama. Oleh karena itu, dalam masyarakat yang teratur
setiap manusia sebagai anggota masyarakat harus memperhatikan norma
atau kaidah, atau peraturan hidup yang ada dan hidup dalam masyarakat.
Ketertiban dapat membuat seseorang disiplin, Ketertiban dan Kedisiplinan
sebagai Landasan Kemajuan. Tertib dan disiplin adalah matra yang amat
menentukan keberhasilan sebuah proses pencapaian tujuan. Dengan
ketertiban, seseorang berusaha mengetahui dan mencermati aturan agar
perjalanan menjadi lebih lancar. Disiplin adalah sikap yang diperlukan
untuk menjalani proses tersebut.
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
merupakan kewajiban pemerintah sebagaimana diamanatkan dalam
Undang_undang Dasar 1945. Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat adalah bagian dari hak asasi manusia dalam
tertib kehidupan masyarakat bernegara sebagaimana dijamin dalam Pasal
28 J UUD 1945 yang mengatur bahwa :
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam
tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib
tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang
dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta
penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk
memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral,
nilai-nilai agama, keamanan, dan Penyelenggaraan ketertiban umum
dan ketentraman masyarakat dalam suatu masyarakat demokratis.
Kata kata ini Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
merupakan kewajiban pemerintah sama halnya dengan apa yang ada dalam pasal 6
huruf i UU No 12 tahun 2011 tentang ketertiban dan kepastian hukum

Dalam ayat (2) ditegaskan kewajiban setiap orang untuk tunduk


kepada pembatasan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan
dalam menjalankan hak dan kebebasannya. Tujuan pembatasan adalah
untuk menjamin pembatasan serta penghormatan atas hak dan kebebasan
orang lain dan untuk untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan
pertimbangan moral, nilai-nilai, agama, keamanan dan Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat dalam suatu masyarakat
yang demokratis.
Tujuan dari pembatasan ini untuk ketertiban dan ketentraman
masyarakat sama halnya dengan yang ada dalam pasal 6 ayat 1 huruf I
yaitu
“Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan
pelindungan untuk menciptakan ketentraman masyarakat.”
Dengan adanya desentralisasi, memberikan kewenangan
penyelenggaraan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat dan masyarakat tersebut juga menjadi kewajiban dari
masyarakat. Kewenangan ini diselenggarakan oleh Satuan Polisi Pamong
Praja ( Satpol PP) sebagai bagian perangkat daerah dalam penegakan
Peraturan Daerah. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun
2011 tentang satuan Polisi Pamong Praja dan Perturan menteri Dalam
Negeri No 40 Tahun 2011 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja
Kewenangan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masayarakat
dilakukan oleh masyarakat juga diatur dalam pasal 8 ayat 2 yaitu
“Yang dimaksud dengan “berdasarkan kewenangan” adalah penyelenggaraan urusan
tertentu pemerintahan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan”

1
Satpol PP, di Provinsi Bali diatur dalam Peraturan Gubernur No 86
Tahun 2011 tentang Rincian Tugas Pokok Satuan Polisi Pamong Praja
Provinsi Bali. Dalam Pasal 3 Peraturan Gubernur No 86 Tahun 2011
tentang Rincian Tugas Pokok Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali
mengatur :
Satuan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 menyelenggarakan fungsi :
a. penyusunan program dan pelaksanaan penegakan Peraturan
Daerah, penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat serta perlindungan masyarakat;
b. pelaksanaaan kebijakan penegakan Peraturan Daerah dan
Peraturan Kepela Daerah
c. pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat di daerah;
d. pelaksanaan kebijakan perlindungan masyarakat;
e. peleksanaan koordinasi penegakan Peraturan Daerah dan
Peraturan Kepala Daerah, penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dengan Kepolisian Negara Republik
Indonesia, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah dan/atau
aparatur lainnya;

Fungsi SATPOL PP sebagai penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman


masyarakat serta perlindungan masyarakat diatur juga dalam Pasal 6
Ayat (1) Huruf a
“Yang dimaksud dengan “asas pengayoman” adalah bahwa setiap Materi Muatan
Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan pelindungan untuk
menciptakan ketentraman masyarakat.”

Seiring dengan perkembangan dinamika dan kebutuhan masyarakat,


maka pengaturan ini dirasakan harus dituangkan dalam Peraturan Daerah
Adanya dasar kewenangan satpol PP dalam melakukan penegakan terhadap
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat adalah
dalam Pasal 255 UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(1) Satuan polisi pamong praja dibentuk untuk menegakkanPerda dan
Perkada, menyelenggarakan Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dan ketenteraman, serta menyelenggarakan
pelindungan masyarakat.
(2) Satuan polisi pamong praja mempunyai kewenangan:
a. melakukan tindakan penertiban non-yustisial terhadap warga
masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang
b. melakukan pelanggaran atas Perda dan/atau Perkada;
c. menindak warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum
yang mengganggu Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dan ketenteraman masyarakat;
d. melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang diduga melakukan
pelanggaran atas Perda dan/atau Perkada;dan
e. melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yangmelakukan pelanggaran atas
Perda dan/atau Perkada.

Kewenangan yang diberikan kepada satpol pp harus sesuai dengan apa yang ada
dalam pasal 8 ayat 2 yaitu
“Yang dimaksud dengan “berdasarkan kewenangan” adalah penyelenggaraan urusan
tertentu pemerintahan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan”
Dalam Lampiran bagian E Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang
Ketenteraman Dan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat Serta Perlindungan Masyarakat dalam UU No 23 Tahun 2014
Tentang Pemerintahan Daerah Juga Mengatur Tenmtang Kewenangan
Satpol PP Dalam Menjaga Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat Sebagaimana Dalam Table Dibawah Ini

Tabel 1 : Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Ketenteraman Dan


Ketertiban Umum Serta Perlindungan Masyarakat
No Sub Pusat Daerah Provinsi Kabupaten/Kot
Urusan Daerah a
Pemerint
ah
1 Ketenteram a. Standardis a. Penanganan a. Penanganan
an dan asi tenaga gangguan gangguan
Penyelengg satuan ketenterama ketenterama
ar aan polisi n dan n dan
ketertiban pamong ketertiban Penyelenggar
umum dan praja. umum aa n
ketentrama b. Penyelenggar lintas ketertiban
n aan Daerah umum dan
masyarakat pendidikan kabupaten/ ketentraman
dan kot a dalam masyarakat
pelatihan, 1 (satu) dalam 1
danpengangk Daerah (satu) Daerah
ata n provinsi. kabupaten/k
penyidik b. Penegakan ota
pegawai Perda b. Penegakan
negeri Provinsi Perda
sipil dan Kabupaten/
(PPNS) peraturan Kot a dan
penegaka gubernur. peraturan
n Perda. c. Pembinaan bupati/walik
PPNS ota
provinsi. c. Pembina
an PPNS
kabupaten/ko
ta
Sumber : Lampiran Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun
2014 Tentang Pemerintahan Daerah Pembagian Urusan
Pemerintahan Konkuren Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah
Provinsi Dan Daerah Kabupaten/Kota Matriks Pembagian
Urusan Pemerintahan Konkuren Antara Pemerintah Pusat Dan
Daerah Provinsi Dan Daerah Kabupaten/Kota E. Pembagian
Urusan Pemerintahan Bidang Ketenteraman Dan Ketertiban
Umum Serta Perlindungan Masyarakat

Terkait dengan dasar kewenangan dalam Undang-Undang Pemerintah


Daerah menunjukkan bahwa antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi
dan pemerintah kabupaten memiliki kewenangan masing-masing. Dalam
kaitannya dengan rencana pembentukan Rancangan Peraturan Daerah
tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
pemerintah provinsi bali memiliki kewenangan :
a. Penanganan gangguan ketenteraman dan ketertiban umum lintas
Daerah kabupaten/kota dalam 1 (satu) Daerah provinsi.
b. Penegakan Perda Provinsi dan peraturan gubernur.
c. Pembinaan PPNS provinsi.

Mengenai tulisan Terkait dengan dasar kewenangan dalam Undang-Undang


Pemerintah Daerah menunjukkan bahwa antara pemerintah pusat, pemerintah
provinsi dan pemerintah kabupaten memiliki kewenangan masing-masing sama
halnya yang ada dalam Pasal 42 (1)
“ Perencanaan penyusunan Peraturan Perundang-undangan lainnya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) merupakan kewenangan dan disesuaikan dengan
kebutuhan lembaga, komisi, atau instansi masing-masing. “

Dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Dalam Negeri No 40 Tahun 2011


tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja
mengatur bahwa : Satpol PP mempunyai tugas menegakkan Perda dan
menyelenggarakan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat serta perlindungan masyarakat.
Dalam Pasal 5 ayat (1) Peraturan Menteri Negeri No 54 Tahun 2011
tentang Standar Operasional Polisi Pamong Praja, mengatur bahwa :
(1) SOP Satpol PP meliputi:
a. Standar Operasional Prosedur penegakan peraturan daerah;
b. Standar Operasional Prosedur ketertiban umum dan ketenteraman
masyarakat;
c. Standar Operasional Prosedur pelaksanaan penanganan unjuk rasa
dan kerusuhan massa;
d. Standar Operasional Prosedur pelaksanaan pengawalan
pejabat/orang-orang penting;
e. Standar Operasional Prosedur pelaksanaan tempat-tempat penting;
dan
f. Standar Operasional Prosedur pelaksanaan operasional patroli.

Terkait dengan pengaturan kebijakan SOP di Provinsi diatur dalam


Pasal 6 ayat (1), mengatur bahwa Petunjuk teknis SOP Satpol PP provinsi
ditetapkan oleh gubernur.
Tidak adanya pengaturan tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat di Provinsi Bali, menimbulkan dampak hukum dengan
adanya banyak pelanggaran terhadap penegakan hukum terkait dengan penegakan
Peraturan Daerah. Disamping itu dengan tidak adanya pengaturan tentang
Penyelenggaraan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
dan Ketentraman Masyarakat Bali, juga mengakibatkan tindakan Satpol PP tidak
berlandaskan pada adanya dasar hukum sehingga perlu dibentuk Peraturan Daerah
tentang penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban masyarakat, sehingga sangat
perlu disusun Peraturan Daerah Provinsi Bali tentang Penyelenggaraan Ketertiban
UmumDan Ketentraman Masyarakat.

Terkait dengan tidak adanya pengaturan tentang Penyelenggaraan ketertiban umum


dan ketentraman masyarakat di Provinsi Bali, menimbulkan dampak hukum dengan
adanya banyak pelanggaran terhadap penegakan hukum terkait dengan penegakan
Peraturan Daerah, seharusnya bali menerapkan apa yang ada dalam pasal 15 ayat 3
yaitu
Tidak adanya pengaturan tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat di Provinsi Bali, menimbulkan dampak hukum dengan
adanya banyak pelanggaran terhadap penegakan hukum terkait dengan penegakan
Peraturan Daerah.
1.2. IDENTIFIKASI MASALAH

Masalah yang diuraikan dalam Naskah Akademik ini meliputi 4 (empat)


masalah pokok:
1. Landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis penyusunan Rancangan
Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat
2. Arah, jangkauan, dan ruang lingkup pegaturan Rancangan
Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat
3. Perlunya Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
4. Belum optimalnya pelaksanaan penegakan Peraturan Daerah di
daerah.

1.3. TUJUAN DAN KEGUNAAN KEGIATAN PENYUSUNAN NASKAH


AKADEMIK
Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan
di atas, tujuan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan
Daerah tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat dirumuskan sebagai berikut:
1. Merumuskan perimbangan filosofis, sosiologis, dan yuridis
penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
2. Merumuskan arah, jangkauan, dan ruang lingkup pegaturan
Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan ketertiban
umum dan ketentraman masyarakat
3. Menjelaskan perlunya Rancangan Peraturan Daerah tentang
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
sebagai dasar untuk memastikan objek dan subjek
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ,
serta struktur dan besarnya tarif Penyelenggaraan ketertiban
umum dan ketentraman masyarakat .
Point no 3 ini diatur dalam bab 3 UU no 12 tahun 2011 tentang
rancangan peraturan daerah
4. Melakukan koordinasi dengan Satpol PP seluruh Bali
Kegunaan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan
Daerah Provinsi Bali tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat adalah sebagai acuan:
a. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Bali
tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat .
b. Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Bali
tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat .
c. Partisipasi masyarakat dalam memberikan masukan tertulis
dan/atau masukan lisan baik dalam penyusunan maupun
pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Bali
tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat .
d. Adanya landasan hukum dalam penyelenggaraaan
penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat
Yang tertera di point a tentang penyusunan rancang perda bali tentang ketertiban
umum dilaksanakan di prolegda seperti yang tertera dalam pasal 32 yaitu
“Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan dalam Prolegda
Provinsi.”

1.4. METODE
Penyusunan Naskah Akademik ini yang pada dasarnya merupakan
suatu kegiatan penelitian penyusunan Naskah Akademik • digunakan
metode yang berbasiskan metode penelitian hukum.
Metode penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian
penyusunan Naskah Akademik ini melalui cara-cara sebagai berikut:
1. Melakukan studi tekstual, yakni menganalisis teks hukum yaitu
pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan dan kebijakan
publik (kebijakan negara) secara kritikal dan dijelaskan makna dan
implikasinya terhadap subjek hukum (terutama dalam hal ini adalah
Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Bali tentang Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ).
2. Melakukan studi kontekstual, yakni mengaitkan dengan konteks saat
peraturan perundang-undangan itu dibuat ataupun ditafsirkan
dalam rangka pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi
Bali tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat
Metode penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian
penyusunan Naskah Akademik ini berada dalam paradigma interpretivisme
terkait dengan hermeneutika hukum. Hermeneutika hukum pada intinya
adalah metode interpretasi atas teks hukum, yang menampilkan segi
tersurat yakni bunyi teks hukum dan segi tersirat yang merupakan gagasan
yang ada di belakang teks hukum itu. Oleh karena itu untuk mendapatkan
pemahaman yang utuh tentang makna teks hukum itu perlu memahami
gagasan yang melatari pembentukan teks hukum dan wawasan konteks
kekinian saat teks hukum itu diterapkan atau ditafsirkan. Kebenaran
dalam ilmu hukum merupakan kebenaran intersubjektivitas, oleh karena
itu penting melakukan konfirmasi dan konfrontasi dengan teori, konsep,
serta pemikiran para sarjana yang mempunyai otoritas di bidang
keilmuannya berkenaan dengan penyusunan Naskah Akademis Rancangan
Peraturan Daerah Provinsi Bali tentang Penyelenggaraan ketertiban umum
dan ketentraman masyarakat

Metode dalam kajian ini menggunakan Penyusunan Naskah Akademik, yang pada
dasarnya merupakan suatu kegiatan penelitian penyusunan Naskah Akademik sama halnya
dengan apa yang ada dalam pasal 1 ayat 11 yaitu
Naskah Akademik adalahBAB II hasil penelitian atau pengkajian hukum dan hasil
naskah
KAJIAN
penelitian TEORITIS
lainnya DAN
terhadap PRAKTIK
suatu masalahEMPIRIS
tertentu yang dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai pengaturan masalah tersebut dalam
suatu Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi, atau
Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota sebagai solusi terhadap permasalahan
dan kebutuhan hukum masyarakat.

A. KAJIAN TEORITIS

Ketertiban asal kata tertib yang berarti teratur; menurut aturan; rapi.
Sedangkan ketertiban yaitu peraturan atau keadaan serba teratur baik.
Ketertiban adakalanya diartikan sebagai “ketertiban, kesejahteraan, dan
keamanan”, atau disamakan dengan Penyelenggaraan ketertiban umum
dan ketentraman masyarakat, atau sinonim dari istilah “keadilan”.
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat dalam
bukunya hukum Perdata Internasional Indonesia mengibaratkan lembaga
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ini
sebagai “rem darurat” yang kita ketemukan pada setiap kereta api. 1
Pemakainya harus secara hati-hati dan seirit mungkin karena apabila kita
terlampau lekas menarik rem darurat ini, maka “kereta HPI” tidak dapat
berjalan dengan baik. Lebih lanjut Sudargo Gautama mengatakan bahwa
lembaga Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
ini digunakan jika pemakaian dari hukum asing berarti suatu pelanggaran
yang sangat daripada sendi-sendi azasi hukum nasional hakim. Maka
dalam hal-hal pengecualian, hakim dapat menyampingkan hukum asing .
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dan
membutuhkan bantuan dengan sesamanya. Dengan adanya hubungan
sesama seperti itulah perlu adanya keteraturan sehingga individu dapat
berhubungan secara harmoni dengan individu lain sekitarnya. Oleh karena
itu diperlukan aturan yang disebut “Hukum”. Hukum diciptakan dengan
tujuan yang berbeda-beda, ada yang menyatakan bahwa tujuan hukum
adalah keadilan, ada juga yang menyatakan kegunaan, ada yang
menyatakan kepastian hukum.
Hukum yang ada kaitannya dengan masyarakat mempunyai tujuan
utama yaitu dapat direduksi untuk ketertiban (order). Menurut Mochtar
Kusumaatmadja “Ketertiban” adalah tujuan pokok dan pertama dari segala
hukum, Kebutuhan terhadap ketertiban ini merupakan syarat
1 Sudargo Gaotama, 1985, Hukum Perdata Internasional, Alumni Bandung,

hal 120
pokok(fundamental)bagi adanya suatu masyarakat manusia yang teratur,
ketertiban sebagai tujuan hukum, merupakan fakta objektif yang berlaku
bagi segala masyarakat manusia dalam segala bentuknya untuk mencapai
ketertiban ini diperlukan adanya kepastian dalam pergaulan antar manusia
dalam masyarakat. Di setiap aspek kehidupan sudah barang tentu terdapat
sebuah aturan yang mengatur. Baik di lingkungan keluarga, masyarakat,
sekolah, atau pun di bidang sosial, politik maupun agama. Kenapa? Karena
dengan adanya aturan akan menciptakan ketertiban dan membuat keadaan
menjadi lebih tenang, damai, aman, dan sentosa. Bahkan, dengan adanya
ketertiban itulah terselenggaralah kehidupan di dunia dan alam semesta
ini. Aturan merupakan sebuah kata yang mempunyai makna sesuatu yang
harus dipatuhi. Aturan juga disebut dengan norma. Sebuah norma adalah
sebuah aturan, patokan atau ukuran, yaitu sesuatu yang bersifat pasti dan
tidak berubah. Dengan adanya norma kita dapat memperbandingkan
sesuatu hal lain yang hakikatnya, ukurannya, serta kualitasnya kita
ragukan. Norma berguna untuk menilai baik-buruknya tindakan
masyarakat sehari-hari. Sebuah norma bisa bersifat objektif dan bisa pula
bersifat subjektif. Norma objektif adalah norma yang dapat diterapkan
diterapkan secara langsung apa adanya, maka norma subjektif adalah
norma yang bersifat moral dan tidak dapat memberikuan ukuran atau
patokan yang memadai.
Dalam hal yang dibicarakan disini yaitu Aturan merupakan sebuah kata
yang mempunyai makna sesuatu yang harus dipatuhi. Aturan juga disebut
dengan norma. Sebuah norma adalah sebuah aturan, patokan atau ukuran,
yaitu sesuatu yang bersifat pasti dan tidak berubah. Itu juga ada
korelasinya dengan pasal 1 ayat 2 yang berbunyi
Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat
norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan
oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang
ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan.
Aturan bisa diterapakan dalam kehidupan keluarga agar tercipta
kehidupan rumah tangga yang berjalan tentram, indah, bersih, dan
bahagia. Aturan juga terdapat pada Negara yang disebut dengan undang-
undang. Dalam kehidupan masyarakat, sesuatu yang bersifat mengatur
disebut hukum. Dengan adanya hukum itulah terjadi ketertiban dan
ketentraman dalam kehidupan masyarakat. Bila hukum tidak ada atau
tidak berfungsi, maka akan terjadi hukum rimba. Siapa kuat dialah yang
berkuasa. Tentunya, ini akan berbahaya. Bahaya dari hukum rimba itu
adalah anarki, dan kekacauan sosial akan terjadi dimana-mana. Sedikit
lebih rendah dari norma, hukum dalam masyarakat juga berlaku sebagai
norma sopan-santun yang mencerminkan etika seseorang.
Sesuatu yang bersifat aturan juga terdapat dalam alam semesta. Kita
mengenal hukum alam, itulah aturan yang bekerja di alam semesta.
Ketertiban alam semesta dikenal di dalam agama Buddha sebagai Niyama
artinya Hukum Tertib Kosmis. Sesungguhnya, di dalam segenap bidang
kehidupan berlaku aturan dan ketertiban. Ketertiban itu pulalah yang
dikuak oleh ilmu pengetahuan lewat teori. Sedangkan hukum-hukum di
dalamnya sebagai bidangnya.
Tidak ada lagi jaminan dan perlindungan terhadap hak asasi, tidak
ada rasa aman, tidak ada lagi perlindungan terhadap hak milik, tidak ada
lagi kebenaran. Semua serba kacau dan orang akan melakukan sesuatu
dengan sesuka hatinya. Tidak ada bedanya antara benar dan salah, tidak
ada bedanya antara kebijaksanaan dan keegoisan, antara giat dan malas,
antara sukses dan gagal. Oleh karena itu aturan sangat penting bagi
kehidupan manusia. Karena aturan itu akan menciptakan kedamaian,
ketentraman. Aturan juga harus jelas, sehingga antara yang menjalankan
maupan yang melanggarnya tahu akan akibat dari pelanggaran aturan yang
ia lakukan. Ketertiban pada prinsipnya dapat membuat seseorang disiplin,
sebab Ketertiban dan Kedisiplinan sebagai Landasan Kemajuan tertib dan
disiplin adalah matra yang amat menentukan keberhasilan sebuah proses
pencapaian tujuan. Dengan ketertiban, kita berusaha mengetahui dan
mencermati aturan agar perjalanan menjadi lebih lancar. Disiplin adalah
sikap yang diperlukan untuk menjalani proses tersebut.
Pernyataan tentang Tidak ada lagi jaminan dan perlindungan terhadap hak asasi,
tidak ada rasa aman, tidak ada lagi perlindungan terhadap hak milik, tidak ada lagi
kebenaran sangat bersebrangan dengan pasal 6 ayat 1 huruf b yaitu
“Yang dimaksud dengan “asas kemanusiaan” adalah bahwa setiap Materi Muatan
Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan pelindungan dan
penghormatan hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan
penduduk Indonesia secara proporsional”

B.KAJIAN TERHADAP ASAS YANG TERKAIT DENGAN PENYUSUNAN


NORMA

Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, yang


secara teoritik meliputi asas pembentukan peraturan perundang-undangan
yang baik yang bersifat formal dan asas pembentukan peraturan
perundang-undangan yang baik yang bersifat materiil.2

2 A. Hamid S. Attamimi; “Peranan Keputusan Presiden Republik


Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara”, Disertasi,
(Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 1990), hlm. 345-
346. I.C. Van Der Vlies, Buku Pegangan Perancang Peraturan Perundang-
undangan, terjemahan, (Direktorat Jenderal Peraturan Perundangan-
undangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Jakarta, 2005),
hal 238-309.
Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik yang
bersifat formal dituangkan dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (khususnya
dalam pembentukan Peraturan Daerah, asas-asas tersebut diatur dalam
Pasal 237 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah), dengan sebutan “asas pembentukan Peraturan Perundang-
undangan yang baik”, yang meliputi:
a. kejelasan tujuan;
b. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat;
c. kesesuaian antara jenis dan materi muatan;
d. dapat dilaksanakan;
e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;
f. kejelasan rumusan; dan
g. keterbukaan.
Asas asas yang disebutkan diatas telah sesuai dengan apa yang ada didalam UU No
12 Tahun 2011

Asas-asas materiil pembentukan peraturan perundang-undangan yang


baik diatur dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan , yakni:
materi muatan Peraturan Perundang-undangan mengandung asas:
a. pengayoman;
b. kemanusiaan;
c. kebangsaan;
d. kekeluargaan;
e. kenusantaraan;
f. bhineka tunggal ika;
g. keadilan;
h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;
i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau
j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.

Selain asas tersebut, peraturan perundang-undangan tertentu dapat


berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-
undangan yang bersangkutan. Mengenai asas-asas materiil yang lain sesuai
dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan tertentu dijelaskan
dalam Penjelasan Pasal 6 ayat (2) UU Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan , yang
dimaksud dengan asas sesuai dengan bidang hukum masing-masing antara
lain:
a. dalam Hukum Pidana misalnya asas legalitas, asas tiada
hukuman tanpa kesalahan, asas pembinaan narapidana, dan
asas praduga tak bersalah; dan
b. dalam Hukum Perdata misalnya dalam hukum perjanjian
antara lain asas kesepakatan, kebebasan berkontrak, dan
itikad baik.
Hal ini mempunyai kesamaan dengan pasal 6 ayat 1 huruf c
karena Indonesia adalah negara hukum, yaitu
“Yang dimaksud dengan “asas kebangsaan” adalah bahwa
setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus
mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang
majemuk dengan tetap menjaga prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia”
Relevansi asas-asas formal pembentukan peraturan perundang-
undangan yang baik dengan pengaturan Penyelenggaraan ketertiban umum
dan ketentraman masyarakat dapat diuraikan sebagai berikut:
Pertama, kejelasan tujuan. Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat bertujuan: (1) memberikan kepastian bagi
masyarakat mengenai siapa yang bertanggung jawab dan apa tanggung
jawabnya terhadap pengelolaan Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat ; dan (2) memperkuat dasar hukum bagi
Pemerintah Daerah melakukan Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dan pelayanan kepada masyarakat. Tujuan
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat adalah
efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas pengelolaan Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat .
Point yang pertama ini sangat relevan dengan yang ada dalam pasal 6
ayat 1 huruf a yaitu
“Yang dimaksud dengan “asas pengayoman” adalah bahwa setiap Materi
Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan
pelindungan untuk menciptakan ketentraman masyarakat.”
Kedua, kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. Contoh:
Pengaturan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat dengan Peraturan Daerah dilakukan. Rancangan dapat berasal
dari dari DPRD Provinsi Bali.
Point yang kedua ini sangat relevan dengan apa yang ada dalam pasal
75 ayat 1 tentang
“Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan oleh
DPRD Provinsi bersama Gubernur”
Ketiga, kesesuaian antara jenis dan materi muatan. Penyelenggaraan
Pendididkan harus dengan Peraturan Daerah. Adapun materi pokok yang
diatur dengan Peraturan Daerah mengacu pada Peraturan Pemerintah.
Materi muatan yang ada dalam perda mengacu pada pasal 33 ayat 2
yaitu
“Materi yang diatur serta keterkaitannya dengan Peraturan
Perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan keterangan mengenai konsepsi Rancangan Peraturan Daerah
Provinsi yang meliputi: a. latar belakang dan tujuan penyusunan; b.
sasaran yang ingin diwujudkan; c. pokok pikiran, lingkup, atau objek yang
akan diatur; dan d. jangkauan dan arah pengaturan.”
Keempat, dapat dilaksanakan. Agar asas ini dapat diwujudkan
dengan dibentuknya Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan ketertiban
umum dan ketentraman masyarakat adalah harus memperhatikan
beberapa aspek: (1) filosofis, yakni ada jaminan keadilan dalam pengenaan
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ; (2)
yuridis, adanya jaminan kepastian dalam Penyelenggaraan ketertiban
umum dan ketentraman masyarakat , termasuk substansinya tidak boleh
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi; dan
(3) sosiologis, pengaturan Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat memang dapat memberikan manfaat, baik bagi
pemerintah daerah maupun bagi masyarakat, termasuk substansinya tidak
boleh bertentangan dengan kepentingan umum.
Asas keadilan yang ada dalam point 4 ini mengacu juga pada pasal 6 ayat 1
huruf g yaitu
“Yang dimaksud dengan “asas keadilan” adalah bahwa setiap Materi
Muatan Peraturan Perundangundangan harus mencerminkan keadilan
secara proporsional bagi setiap warga negara”
Kelima, kedayagunaan dan kehasilgunaan. Asas ini dapat diwujudkan
sepanjang pengaturan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam
mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan benegara. Salah satu
indikasi pengaturan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat memang benar-benar dibutuhkan adalah adanya wajib
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ,
sebagaimana telah dikemukakan dalam kondisi eksisting di atas.
Yang kelima ini ada korelasi dengan asas kenusantaraan dalam pasl
6 ayat 1 huruf e yaitu
“Yang dimaksud dengan “asas kenusantaraan” adalah bahwa setiap
Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan
kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan Materi Muatan Peraturan
Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem
hukum nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.”
Keenam, kejelasan rumusan. Asas ini dapat terwujud dengan
pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan ketertiban umum
dan ketentraman masyarakat sesuai persyaratan teknik penyusunan
peraturan perundang-undangan, sistematika dan pilihan kata atau
terminologi, serta bahasa hukum yang jelas dan mudah dimengerti,
sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam
pelaksanaannya. Singkatnya, rumusan aturan hukum dalam Peraturan
Daerah tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat yang menjamin kepastian.
Point yang keenam juga ada korelasinya dengan asas ketertiban dan
kepastian hukum yang tertera dalam pasal 6 ayat 1 Huruf i yaitu
“Yang dimaksud dengan “asas ketertiban dan kepastian hukum”
adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus
dapat mewujudkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan
kepastian hukum”
Ketujuh, keterbukaan. Proses pembentukan Peraturan Daerah ini
harus menjamin partisipasi masyarakat, dalam artian masyarakat dijamin
haknya untuk memberikan masukan, baik tertulis maupun lisan, serta
kewajiban Pemerintah Daerah untuk menjamin masukan tersebut telah
dipertimbangkan relevansinya. Untuk terselenggaranya partisipasi
masyarakat itu, maka terlebih dulu Pemerintah Daerah memberikan
informasi tentang proses pembentukan Peraturan Daerah bersangkutan.
Point ketujuh juga mempunyai korelasi dengan asas keterbukaan yang ada dalam
pasal 5 huruf g yaitu
“Yang dimaksud dengan “asas keterbukaan” adalah bahwa dalam Pembentukan
Peraturan Perundangundangan mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan,
pengesahan atau penetapan, dan pengundangan bersifat transparan dan terbuka.
Dengan demikian, seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-
luasnya untuk memberikan masukan dalam Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan”

Mengenai asas-asas materiil yang lain, sebagaimana dimaksud Pasal


6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan, dalam pengaturan tentang
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat , yakni:
1. adil dan merata secara vertikal artinya sesuai dengan tingkatan
kelompok masyarakat dan horizontal artinya berlaku sama bagi
setiap anggota kelompok masyarakat.
2. secara politis dapat diterima oleh masyarakat, sehingga timbul
motivasi dan kesadaran pribadi untuk melaksanakan
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat .
Dalam point ini juga ada korelasinya dengan asas bhineka
tunggal ika yang tetera dalam pasal 6 ayat 1 Huruf f
“Yang dimaksud dengan “asas bhinneka tunggal ika” adalah
bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus
memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan
golongan, kondisi khusus daerah serta budaya dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”

c. KAJIAN TERHADAP PRAKTIK PENYELENGGARAAN

Berdasarkan Pasal 255 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014


tentang Pemerintahan Daerah, Satuan polisi pamong praja dibentuk untuk
menegakkan Perda dan Perkada, menyelenggarakan ketertiban umum dan
ketenteraman, serta menyelenggarakan pelindungan masyarakat.
Hal diatas mempunnyai korelasi dengan Pasal 6 Ayat (1) Huruf a
“Yang dimaksud dengan “asas pengayoman” adalah bahwa setiap
Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi
memberikan pelindungan untuk menciptakan ketentraman
masyarakat.”
Berdasarkan Pasal 6 Peraturan pemerintah nomor 6 Tahun 2010
tentang Satuan Polisi Pamong Praja, mengatur bahwa Polisi Pamong Praja
berwenang:
a. melakukan tindakan penertiban nonyustisial terhadap warga
masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang melakukan
pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah;
b. menindak warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum
yang mengganggu ketertiban umum dan ketenteraman
masyarakat;
c. fasilitasi dan pemberdayaan kapasitas penyelenggaraan
perlindungan masyarakat;
d. melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang diduga melakukan
pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah; dan
e. melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran
atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah.

Dalam Pasal 3 Peraturan Gubernur No 86 Tahun 2011 tentang


Rincian Tugas Pokok Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali mengatur :
Satuan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 menyelenggarakan fungsi :
a. penyusunan program dan pelaksanaan penegakan Peraturan
Daerah, penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat serta perlindungan masyarakat;
b. pelaksanaaan kebijakan penegakan Peraturan Daerah dan
Peraturan Kepela Daerah
c. pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat di daerah;
d. pelaksanaan kebijakan perlindungan masyarakat;
e. peleksanaan koordinasi penegakan Peraturan Daerah dan
Peraturan Kepala Daerah, penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dengan Kepolisian Negara Republik
Indonesia, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Daerah dan/atau
aparatur lainnya;

Di Provinsi Bali pelaksanaan tugas Satpol PP didasarkan pada Keputusan


Gubernur Bali No 2383/05/HK/2013 tentang Pembentukan Dan Susunan
Keanggotaan Tim Penegakan Peraturan Daerah dan Pemberdayaan Penyidik
Pegawai Negeri Sipil PPNS. Penegakan Peraturan Daerah dan
pemberdayaan PPNS yang menitik beratkan penegakan pada :
1. Penegakan Peraturan daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 1992
tentang Pemakaian Tanah Yang Dikuasai Oleh Pemerintah
Provinsi Daerah Tingkat I Bali
2. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 6 Tahun 2000 tentang
Retribusi Pelayanan Kesehatan
3. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun2000 tentang
Pembatasan Memasukkan Kendaraan bermotor
4. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2000 tentang
Larangan Menaikkan Layan-Layang dan Permainan Sejenis di
Bandara Ngurah Rai dan sekitarnya
5. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2003 tentang
Pengeluaran Ternak Potong Sapi
6. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun tentang
Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung
7. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2005 tentang
Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup
8. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2006 tentang
Penanggulangan HIV / AIDS
9. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2007 tentang
Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Bali No 8 Tahun
2002 tentang Lembaga Perkreditan Desa
10. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 7 Tahun2007 tentang
Pengelolaan Barang Milik Daerah
11. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 10 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Barang Milik Daerah
12. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2008 tentang
Pramuwisata
13. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Pencegahan dan Penanganan Korban Perdagangan Orang
14. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 15 Tahun 2009 tentang
Penanggulangan Rabies
15. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 tentang
Rencana Tata Ruang Wilyah Provinsi Bali 2009-2029
16. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 tahun 2010 tentang
Usaha Jasa Perjalanan Wisata
17. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 10 Tahun 2011 tentang
Kawasan Tanpa Rokok.
18. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2011 tentang
Retribusi Jalan Umum
19. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2011 tentang
Retribusi Jasa Usaha
20. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2011 tentang
Pengelolaan Sampah
21. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Pajak Daerah
22. Peraturan Daerah Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3
tahun 2013 tentang Perlindungan Buah Lokal
23. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2013 tentang
Retribusi Perizinan Tertentu
24. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tathu 2014 tentang
Pelestarian Warisan Budaya
25. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Perlindungan Anak

Berdasarkan data dari Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali


Tahun 2014 jumlah penegakan hukum dapat dilihat dalam table di
bawah ini.
Tabel 2 : Data Penegakan Peraturan Daerah Tahun 2013

No Peraturan Daerah Jumlah Memenuhi Tidak


Sasaran Persyaratan Memenuhi
Obyek Persyaratan
1. Perda 10 Tahun 2001 362 190 172
tentang Retribusi Angkutan
Orang Dengan Kendaraan
Umum
2. Perda 8 Tahun 2000 tentang 284 42 242
Pembatasan Memasukkan
Kendaraan bermotor Bekas
3. Perda 5 Tahun 2008 tentang 96 78 18
Pramuwisata
4. Perda 2 Tahun 2011 tentang 33 - 33
Retribusi Jasa Umum
Sumber : Laporan Akhir Kegiatan Penegakan Peraturan daerah dan
Pemberdayaan PPNS, Bidang Ketentraman dan ketertiban Satuan
polisi Pamong Praja Provinsi Bali Tahun Anggaran 2013.

Berdasarkan data dari Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Bali Tahun
2014 jumlah penegakan hukum dapat dilihat dalam tabel di bawah ini
Tabel 3 :Data Rekapitulasi Penegakan Peraturan Daerah Tahun 2014

No Peraturan Daerah Total


1. Peraturan Daerah Provinsi Bali No 2 Tahun 1992 -
tentang Pemakaian Tanah Yang Dikuasai Oleh
Pemerintah Provinsi Bali
2. Peraturan Daerah Provinsi Bali No 8 Tahun 2000 236
tentang Pembatasan Memasukkan Kendaraan
Bermotor Bekas
3. Peraturan Daerah Provinsi Bali No 2 Tahun 2003 -
tentang Pengeluaran Ternak Sap Potong Bali
4. Peraturan Daerah Provinsi Bali No 7 Tahun 2007 -
tentang Usaha Penyediaan Sarana Wisata Tirta
5. Peraturan Daerah Provinsi Bali No 5 Tahun 2008 7
tentang Pramuwisata
6. Peraturan Daerah Provinsi Bali No 5 Tahun 2009 1
tentang Penanggulangan Rabies
7. Peraturan Daerah Provinsi Bali No1 Tahun 2010 2
tentang Usaha Perjalanan wisata
8. Peraturan Daerah Provinsi Bali No 3 Tahun 2011 -
tentang Retribusi Jasa Umum
9. Peraturan Daerah Provinsi Bali No 10 Tahun 2011 1
tentang Kawasan Tanpa Rokok
10. Peraturan Daerah Provinsi Bali No 5 Tahun 2012 1
tentang Pengendalian dan Peredaran Minuman
Beralkohol
Total 294
Sumber : Laporan Akhir Pelaksanaan Kegiatan Penegakan Peraturan
daerah dan Pemberdayaan PPNS, Seksi Penegakan Hukum Bidang
Ketentraman dan ketertiban Satuan polisi Pamong Praja provinsi Bali
Tahun 2014.

D. KAJIAN TERHADAP IMPLIKASI PENERAPAN TERHADAP


MASYARAKAT DAN DAMPAKNYA TERHADAP BEBAN KEUANGAN
DAERAH

Dalam lingkup pengaturan Penyelenggaraan ketertiban umum dan


ketentraman masyarakat , terdapat dua komponen yaitu komponen yang
sifatnya statis, dan komponen yang sifatnya dinamis. Komponen yang
sifatnya statis meliputi:
a. Asas, fungsi, tujuan, dan prinsip Penyelenggaraan ketertiban
umum dan ketentraman masyarakat ;
b. Struktur atau kelembagaan dalam Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ;
c. Tugas dan wewenang kelembagaan dalam Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ;
d. Komposisi keanggotaan di dalam setiap kelembagaan;
e. Kelengkapan organisasi/kelembagaan Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ;
f. Ketenagaan;
g. Kekayaan; dan
h. Sanksi.

Sedangkan yang dimaksud pengaturan penyelenggaran


Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat yang
sifatnya dinamis adalah pengaturan kelembagaan Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat .
Memperhatikan uraian tersebut di atas, dengan adanya Peraturan
Daerah tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat ini berdampak terhadap beban keuangan daerah dan justru
juga dapat menimbulkan adanya penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat melalui penegakan Peraturan Daerah. Penegakan
dilakukan terhadap pelanggaran ketentuan Perda yang dapat diketahui
melalui :
1. Laporan dari masyarakat, lembaga, instansi
maupuninstitusi.
2. Anggota Satuan Polisi Pamong Praja hasil dari patrol wilayah
3. Diketahui langsung oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil.
4. Tertangkap tangan baik-baik oleh petugas maupun
masyarakat.
BAB III
EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT

A. KONDISI HUKUM YANG ADA DAN STATUSNYA


Dalam ketentuan Pasal 236 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengatur bahwa untuk
menyelenggarakan Otonomi Daerah dan Tugas Pembantuan, Daerah
membentuk Perda.
Provinsi Bali belum memiliki Peraturan Daerah tentang
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ,
berdasarkan Pasal 255 UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah.
(2) Satuan polisi pamong praja dibentuk untuk menegakkanPerda dan
Perkada, menyelenggarakan Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dan ketenteraman, serta menyelenggarakan
pelindungan masyarakat.
Bahwa Satuan Polisi Pamong Praja dapat diumpamakan sebagai salah satu
penjaga dalam penegakan suatu perda dan perkada. Melihat kewenangan
yang sangat besar dimiliki oleh Satuan Polisi Pamong Praja tentu membuat
institusi tersebut untuk berperan aktif keterlibatannya dalam proses
pembentukan serta mengawal perjalanan perda dan perkada.

(3) Satuan polisi pamong praja mempunyai kewenangan:


a. melakukan tindakan penertiban non-yustisial terhadap warga
masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang
Tindakan penertiban non-yustisial adalah tindakan yang dilakukan
oleh Pol PP dalam rangka menjaga dan/atau memulihkan
ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat terhadap
pelanggaran Perda dan/atau Perkada dengan cara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan tidak sampai
proses peradilan.
b. melakukan pelanggaran atas Perda dan/atau Perkada;
c. menindak warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum
yang mengganggu Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dan ketenteraman masyarakat;
Menindak adalah melakukan tindakan hukum terhadap pelanggaran
Perda untuk diproses melalui peradilan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

d. melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat,


aparatur, atau badan hukum yang diduga melakukan
pelanggaran atas Perda dan/atau Perkada;dan

e. melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat,


aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran
atas Perda dan/atau Perkada.
Tindakan administratif adalah tindakan berupa pemberian surat
pemberitahuan, surat teguran/surat peringatan terhadap
pelanggaran Perda dan/atau Perkada.

Dalam Pasal 6 Peraturan Pemerintah No 6 Tahun 2010 tentang


Satuan Polisi Pamong Praja, mengatur tentang Wewenang, Hak dan
Kewajiban, Polisi Pamong Praja berwenang:
a. melakukan tindakan penertiban nonyustisial terhadap warga
masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang melakukan
pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah;
b. menindak warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum
yang mengganggu Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dan ketenteraman masyarakat;
c. fasilitasi dan pemberdayaan kapasitas penyelenggaraan
perlindungan masyarakat;
d. melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang diduga melakukan
pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah; dan
e. melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran
atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah

Dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Dalam Negeri No 40 Tahun 2011


tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja
mengatur bahwa : Satpol PP mempunyai tugas menegakkan Perda dan
menyelenggarakan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat
Dalam Pasal 5 ayat (1) Peraturan Menteri Negeri No 54 Tahun 2011 tentang
Standar Operasional Polisi Pamong Praja, mengatur bahwa :
(1) SOP Satpol PP meliputi:
a. Standar Operasional Prosedur penegakan peraturan daerah;
b. Standar Operasional Prosedur ketertiban umum dan ketenteraman
masyarakat;
c. Standar Operasional Prosedur pelaksanaan penanganan unjuk rasa
dan kerusuhan massa;
d. Standar Operasional Prosedur pelaksanaan pengawalan
pejabat/orang-orang penting;
e. Standar Operasional Prosedur pelaksanaan tempat-tempat penting;
dan
f. Standar Operasional Prosedur pelaksanaan operasional patroli.
g. Terkait dengan pengaturan kebijakan SOP di Provinsi diatur dalam
Pasal 6 ayat (1), mengatur bahwa Petunjuk teknis SOP Satpol PP
provinsi ditetapkan oleh gubernur.

Dalam Pasal 3 Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2008


tentang Urusan Pemerintahan Daerah Provinsi Bali, yang menjadi
Kewenangan Provinsi Bali. Merupakan urusan wajib sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) meliputi: t. otonomi daerah, pemerintahan
umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian,
dan persandian;
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (selanjutnya disebut UU 12 / 2011)
menentukan, Rancangan Peraturan Daerah disertai dengan penjelasan atau
keterangan dan/atau Naskah Akademik (Pasal 63 jo Pasal 56 ayat (2) UU 12
/ 2011). Perkataan “dan/atau” menunjukkan pilihan antara: (1) Rancangan
Peraturan Daerah disertai dengan keterangan (atau penjelasan) dan Naskah
Akademik; atau (2) Rancangan Peraturan Daerah disertai dengan
keterangan (atau penjelasan) atau Naskah Akademik. Pilihan kedua juga
memuat pilihan, memilh Naskah Akademik atau keterangan (atau
penjelasan).
Dalam Pasal 1 Peraturan Gubernur Provinsi Bali No 12 Tahun 2006
tentang Penataan Kembali Kawasan civic centre Niti Mandala Denpasar
mengatur bahwa kawasan civic centre Niti Mandala berlokasi di Denpasar
dengan batas-batas :
a. Sebelah utara : Jalan Letda Tantular dan Cok Agung Tresna;
b. Sebelah Timur : Jalan Prof Moh Yamin;
c. Sebelah Selatan : Jalan Raya Puputan;
d. Sebelah Barat : Jalan Raya Puputan dan Letda Tantular.
Mengingat pentingnya posisi Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat baik terhadap masyarakat maupun terhadap
pemerintah, maka diperlukan penyusunan Naskah Akademik.

B. KETERKAITAN PERATURAN DAERAH BARU DENGAN PERATURAN


PERUNDANG-UNDANGAN YANG LAIN

Materi Pokok Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman


masyarakat yang hendak diatur dalam Peraturan Daerah yang sedang
disusun Naskah Akademiknya, mempunyai keterkaitan dengan sejumlah
peraturan perundang-undangan.
Tabel 4. Keterkaitan dengan Undang-Undang Lainnya.

Materi KETERKAITAN
Muatan DENGAN
UU No. 23 Tahun Peraturan Peraturan Menteri
2014tentang Pemerintah Dalam Negeri
Pemerintahan Republik Indonesia Nomor
Daerah Nomor 6 Tahun 40 Tahun
2010Tentang 2011
Satuan Polisi Tentang Pedoman
Pamong Praja Organisasi Dan
Tata Kerja Satuan
Polisi Pamong Praja
Ketentu Pasal 255 Pasal 6 Pasal 3
an (3)Satuan a. melakukan Satpol PP
Umum polisi tindakan mempunyai tugas
Tertib Jalan pamong praja penertiban
Dan dibentuk untuk nonyustisial menegakkan
Angkutan menegakkan terhadap warga Perda dan
Sungai Perda dan masyarakat, menyelenggarakan
Tertib Perkada, aparatur, atau Penyelenggaraan
Jalur menyelenggarak badan hukum ketertiban umum
Hijau an yang dan ketentraman
Taman Penyelenggaraa melakukan masyarakat
Dan Tempat n ketertiban pelanggaran dan
Umum umum dan atas Perda ketenteraman
Tertib Sungai ketentraman dan/atau masyarakat
Saluran masyarakat peraturan
kolam Dan dan kepala daerah; serta perlindungan
Lepas ketenteraman, b. menindak masyarakat
Pantai serta warga Pasal 4
menyelenggara masyarakat,
Tertib kan aparatur, atau (1) Dalam
Lingkungan pelindungan badan hukum melaksanakan
Tertib masyarakat yang tugas
mengganggu sebagaimana
Usaha Penyelenggaraa dimaksud
Tertentu n ketertiban
Tertib umum dan dalam Pasal 3,
Bangunan ketentraman Satpol PP
Tertib Sosial masyarakat dan mempunyai
Tertib ketenteraman fungsi:
Kesehatan masyarakat; a. penyusunan
Tertib c. fasilitasi program
dan dan
Peran sera pemberdayaa pelaksanaan
Masyarakat n kapasitas penegakkan
Tertib penyelenggar Perda
Hiburan dan aan dan
Keramaian perlindungan Peraturan
Pengawasan masyarakat; Kepala
dan d. melakukan Daerah,
Penegakan tindakan penyelenggar
Hukum penyelidikan aa n
Sanksi terhadap warga ketertiban
Administra masyarakat, umum
tif aparatur, atau dan
Ketentuan badan hukum ketenterama
Penyidikan yang diduga n
Petentuan melakukan masyarakat
Pidana pelanggaran serta
Ketentuan atas Perda perlindungan
Peralihan dan/atau masyarakat;
Ketentuan peraturan
Penutp kepala daerah; b. pelaksanaan
dan kebijakan
e. melakukan penegakkan
tindakan Perda
administratif dan Peraturan
terhadap warga Kepala
Daerah;
masyarakat, c. pelaksanaan
aparatur, atau kebijakan
badan hukum penyelenggara
yang an ketertiban
melakukan umum

dan
ketenteraman
masyarakat
di
daerah;
d.
pelaksanaa
n
kebijakan
perlindung
an
masyaraka
t;
e. pelaksanaan
koordinasi
penegakan
Perda dan

Peraturan
Kepala
Daerah
serta
penyelenggara
an ketertiban
umum
dan
ketenteraman
masyarakat
dengan
Kepolisian
Negara
Republik
Indonesia,
Penyidik
Pegawai
Negeri
Sipil
daerah,
dan/atau
aparatur
lainnya;
f. pengawasan
terhadap
masyarakat,
aparatur,
atau badan
hukum
agar
mematuhi
dan
mentaati
penegakkan
Perda
dan Peraturan
Kepala
Daerah; dan
g. pelaksanaa
n tugas
lainnya.

(2) Pelaksanaan
tugas

lainnya
sebagaimana
dimaksud
pada
ayat (1) huruf
g meliputi:
a. mengikuti
proses
penyusunan
peraturan
perundang-
undangan
serta
kegiatan
pembinaan
dan
penyebarluasa
n produk

hukum
daerah;
b. membantu
pengamanan
dan
pengawalan
tamu VVIP

termasuk
pejabat
negara
dan tamu
negara;
c. pelak
sanaan
pengamanan
dan penertiban
aset
yang
belum
teradministras
i sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-
undangan;
d. memba
ntu
pengamanan
dan penertiban
penyelenggara
an pemilihan
umum dan
pemilihan
umum
kepala daerah;
e. me
mbantu
pengamanan
dan penertiban
penyelenggara
an keramaian
daerah
dan/atau
kegiatan
yang berskala
massal; dan
f.pelaksanaan
tugas
pemerintahan
umum
lainnya
yang

diberikan
oleh

kepala
daerah
sesuai
dengan
prosedur dan

ketentuan
peraturan
perundang-
undangan.
Sumber : Diolah dari UU Pemerintahan Daerah, PP Satpol PP dan Pedoman
Organisasi dan Pedoman Tata Kerja Satpol PP

C. RENCANA PENGATURAN DARI PEMERINTAH DAERAH PROVINSI


BALI TENTANG PENYELENGGARAAN KETERTIBAN UMUM DAN
KETENTRAMAN MASYARAKAT
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu urusan wajib yang menjadi
kewenangan pemerintah daerah adalah Penyelenggaraan ketertiban umum
dan ketentraman masyarakat dan ketenteraman masyarakat sebagaimana
dimaksud dalam ketentuan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah
berkomitmen untuk menyelenggarakanurusan wajib dimaksud dalam
rangka penegakkan Peraturan Daerah, menjaga ketenteraman dan
ketertiban guna terwujudnya Kesejahteraan.

Sehingga untuk membantu  kepala daerah dalam menegakkan Perda dan


penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat dibentuk
Satuan Polisi Pamong Praja. Pembentukan dan susunan organisasi Satuan
Polisi Pamong Praja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada
Peraturan Pemerintah.

Kondisi tersebut akan menjadi daya tarik bagi masyarakat luar


daerah untuk datang dan berkunjung serta menanamkan investasi yang
pada akhirnya memberikan kontribusi dalam pengembangan dan
pembangunan. Di Provinsi Bali pengaturan mengenai Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat harus diarahkan guna
pencapaian kondisi yang kondusif bagi seluruh aspek kehidupan
masyarakat Provinsi Bali. Dinamika perkembangan dan kebutuhan
masyarakat Bali yang dinamis dirasakan memerlukan Peraturan Daerah
yang menjangkau secara seimbang antara subjek dan objek hukum yang
diatur. Oleh karena itu, dalam upaya menampung persoalan dan mengatasi
kompleksitas permasalahan dinamika perkembangan masyarakat
diperlukan penyempurnaan terhadap Peraturan Daerah dimaksud.
Peraturan Daerah ini diharapkan implementasi terhadap penyelenggaraan
ketenteraman masyarakat dan Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dapat diterapkan secara optimal guna
menciptakan Bali Mandara ( aman, damai dan sejahtera). Peraturan Daerah
ini mempunyai posisi yang sangat strategis dan penting untuk memberikan
motivasi dalam menumbuhkembangkan budaya disiplin masyarakat Bali
BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS,
DAN YURIDIS

A. VALIDITAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN: LANDASAN


FILOSOFIS. SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS

Istilah validitas atau geldigheid berarti keabsahan. Selain itu ada


istilah gelding yang berarti keberlakuan. Banyak penulis yang
mensinonimkan istilah validitas atau geldigheid dan istilah gelding, ungkap
Bruggink. Menurutnya, bahwa istilah validitas digunakan untuk logika,
yakni tentang penalaran yang sah (valid) jika suatu penalaran memenuhi
syarata-syarat yang dituntut oleh kaidah dan aturan logikal. 3
Satjipto Rahardjo dengan mendasarkan pada pandangan Gustav
Radbruch mengungkapkan, bahwa validitas adalah kesahan berlaku
hukum serta kaitannya dengan nilai-nilai dasar dari hukum. Bahwasanya
hukum itu dituntut untuk memenuhi berbagai karya dan oleh Radbruch
disebut sebagai nilai-nilai dasar dari hukum, yakni keadilan, kegunaan
(zweckmaszigkeit), dan kepastian hukum.4
Satjipto Rahardjo menguraikan timbulnya masing-masing nilai-nilai
dasar dari hukum itu. Pertama, hukum adalah karya manusia yang berupa
norma-norma berisikan petunjuk-petunjuk tingkah laku. Ia merupakan
pencerminan dari kehendak manusia tentang bagaimana seharusnya
masyarakat itu dibina dan ke mana harus diarahkan. Oleh karena itu,
pertama-tama hukum itu mengandung rekaman dari ide-ide yang dipilih
oleh masyarakat tempat hukum itu diciptakan. Ide-ide ini adalah ide
mengenai keadilan. Kedua, hukum yang sengaja dibuat itu mengikatkan
diri kepada masyarakat sebagai basis sosialnya. Ini berarti, bahwa ia harus
memperhatikan kebutuhan dan kepentingan anggota-anggota masyarakat
serta memberikan pelayanan kepadanya. Meski tidak disebutkan oleh

3 J.J.H. Bruggink, Refleksi Tentang Hukum, terjemahan Arief Sidharta


dari judul asli: Rechts Reflecties, (Penerbit PT Citra Aditya Bakti, Bandung,
1996), hal. 147.
4 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Penerbit PT Citra Aditya
Bakti, 2000), hal. 19, yang mendasarkan pada Gustav Radbruch,
Einfuhrung in die Rechtswissenschaft, (Sttugart: K.F. Koehler, 1961), hal.
36.
Satjipto Rahardjo, inilah yang dimaksud dengan kemanfaatan sebagai salah
satu nilai-nilai dasar dari hukum. Ketiga, masyarakat tidak hanya ingin
keadilan diciptakan dalam masyarakat dan kepentingan-kepentingannya
dilayani oleh hukum, melainkan juga menginginkan agar dalam masyarakat
terdapat peraturan yang menjamin kepastian dalam hubungan-hubungan
mereka satu sama lain.5
Gustav Radbruch memahami hukum sebagai konsep budaya, yaitu
konsep yang berkenaan dengan nilai. Hukum sebagai konsep budaya
berurusan dengan nilai hukum dan ide hukum, yaitu hukum yang
diartikan sebagai gagasan untuk menjabarkan ide hukum. Gustav
Radbruch mengetengahkan 3 (tiga) ide hukum/cita hukum (the idea of the
law), yakni keadilan (justice), kelayakan/kemanfaatan (expediency), dan
kepastian hukum (legal certainty). Masing-masing ide dasar hukum itu
adalah:
1. Hakekat keadilan sebagai keadilan distributif atau kesetaraan yaitu
suatu bentuk perlakuan yang setara terhadap mereka yang memiliki
keadaan setara, dan perlakuan yang tidak setara bagi mereka yang
berada dalam keadaan yang berbeda, baik terhadap sesama manusia
maupun hubungan-hubungan diantara mereka.
2. Kemanfaatan atau kelayakan atau tujuan bersifat relatif, yaitu
tergantung pada pandangan-pandangan yang berbeda dari pihak-
pihak yang terlibat di dalam perkembangan sistematis tentang
hukum dan negara. Hukum sebagai pengatur kehidupan bersama
tidak dapat diserahkan kepada keinginan-keinginan perseorangan
dalam masyarakat itu, melainkan haruslah berlaku satu hukum bagi
kehidupan mereka.
3. Kepastian hukum menghendaki (1) hukum dalam bentuk positif
dalam artian jika ada sesuatu yang tidak dapat diselesaikan, maka
apa yang seharusnya atau apa yang dianggap benar yang harus
diberlakukan; dan (2) ini harus dilakukan oleh suatu badan atau

5 Satjipto Rahardjo, Ibid., hal. 18-19.


petugas yang mampu menerapkan apa yang diharuskan
diberlakukan.6
Gagasan hukum dari Gustav Radbruch tersebut diuraikan pula oleh
W. Friedmann. Menurut Radbruch, gagasan hukum sebagai gagasan
kultural tidak bisa formal, tetapi harus diarahkan kepada cita-cita hukum,
yakni keadilan. Selanjutnya dikemukakan:
1. Keadilan sebagai suatu cita, seperti telah ditunjukkan oleh
Aristoteles tidak dapat mengatakan lain kecuali yang sama harus
diperlakukan sama, yang tidak sama diperlakukan tidak sama.
2. Pengertian kegunaan hanya dapat dijawab dengan menunjukkan
pada konsepsi-konsepsi yang berbeda tentang negara dan hukum.
Untuk mengisi cita keadilan ini dengan isi yang konkret, harus
menoleh pada kegunaannya sebagai unsur kedua dari cita hukum.
3. Untuk melengkapi formalitas keadilan dan relativitas kegunaan,
keamanan dimasukkan sebagai unsur ketiga dari cita hukum.
Kegunaan menuntut kepastian hukum. Hukum harus pasti.
Tuntutan akan keadilan dan kepastian merupakan bagian-bagian
yang tetap dari cita hukum, dan ada di luar pertentangan-
pertentangan bagi pendapat politik. Kegunaan memberi unsur
relativitas. Tetapi tidak hanya kegunaan sendiri yang relatif,
hubungan antara tiga unsur dari cita hukum itu juga relatif.
Seberapa jauh kegunaan lebih kuat dari keadilan, atau keamanan
lebih penting dari kegunaan, merupakan masalah yang harus
diputuskan oleh sistem politik masing-masing.7
Ketiga elemen dari ide hukum itu bersifat saling melengkapi antara
satu dengan lainnya – dan pada keadaan yang lain saling bertentangan satu
dengan yang lainnya.8 Satjipto Rahardjo menanggapi hubungan yang
demikian dapat dimengerti, oleh karena ketiga-tiganya berisi tuntutan yang
berlain-lainan dan yang satu sama lain mengandung potensi untuk

6 Gustav Radbruch, “Legal Philosophy”, dalam Kurt Wilk, ed., The


Legal Philosophies Of Lask, Radbruch, And Dabin, (Cambridge: Havard
University Press, 1950), hlm. 107-109.
7 W. Friedmann, Teori & Filsafat Hukum: Idealisme Filosofis & Problema
Keadilan (susunan II), terjemahan Muhamad Arifin dari judul asli: Legal
Theory, (Jakarta: Penerbit CV Rajawali, 1990), hal. 43.
8 Ibid., hlm. 109 -110.
bertentangan. Sebagai contoh, kepastian hukum, sebagai nilai ia segera
menggeser nilai-nilai keadilan dan kegunaan ke samping. Yang utama bagi
kepastian hukum adalah adanya peraturan itu sendiri. Tentang apakah
peraturan itu harus adil dan mempunyai kegunaan bagi masyarakatnya,
adalah di luar pengutamaan nilai kepastian hukum.9
Teori tentang validitas berpengaruh pada hukum positif di Indonesia.
Ini tampak pada keharusan adanya pertimbangan filosofis, sosiologis, dan
yuridis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. UU P3 2011
memberikan penjelasan mengenai unsur-unsur filosofis, sosiologis, dan
yuridis sebagai muatan konsiderans menimbang. Angka 18 dan 19 TP3
(vide Pasal 64 ayat (2) UU P3 2011) menentukan konsiderans memuat
uraian singkat mengenai pokok pikiran yang menjadi pertimbangan dan
alasan pembentukan Peraturan Perundang–undangan. Pokok pikiran pada
konsiderans Undang–Undang, Peraturan Daerah Provinsi, atau Peraturan
Daerah Kabupaten/Kota memuat unsur filosofis, sosiologis, dan yuridis
yang menjadi pertimbangan dan alasan pembentukannya yang
penulisannya ditempatkan secara berurutan dari filosofis, sosiologis, dan
yuridis. Kemudian masing-masing unsur-unsur ini dijelaskan sebagai
berikut:
1. Unsur filosofis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk
mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum
yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia
yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang- Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Unsur sosiologis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek.
3. Unsur yuridis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk
untuk mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan
hukum dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang
akan diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian
hukum dan rasa keadilan masyarakat.

9 Satjipto Rahardjo, Ibid., hal. 19-20.


Pemahaman mengenai unsur-unsur filosofis, sosiologis, dan yuridis,
dapat pula diperoleh dari teknik penyusunan naskah akademik rancangan
peraturan perundang-undangan. Dasar hukum teknik penyusunan naskah
akademik rancangan peraturan perundang-undangan terdapat dalam Pasal
57 UU No 12/2011, yang menentukan:
(1) Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Provinsi
dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan Naskah Akademik.
(2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Naskah Akademik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.
Penulis sudah menuliskan secara lengkap dengan Pendapat beberapa Ahli
yang mudah dimengerti.
Berikutnya dalam Pasal 63 UU No 12/2011 ditentukan bahwa
ketentuan mengenai penyusunan Peraturan Daerah Provinsi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 56 sampai dengan Pasal 62 berlaku secara mutatis
mutandis terhadap penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Artinya, ketentuan tentang teknik penyusunan Naskah Akademik yang
berlaku bagi Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah
Provinsi, berlaku pula bagi Penyusunan Naskah Akademik Rancangan
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Adapun penjelasan masing-masing
unsur-unsur tersebut, yang disebut landasan filosofis, landasan sosiologis,
dan landasan yuridis, adalah sebagai berikut:
1. Landasan filosofis merupakan pertimbangan atau alasan yang
menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk
mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum
yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia
yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Landasan sosiologis merupakan pertimbangan atau alasan yang
menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek. Landasan sosiologis
sesungguhnya menyangkut fakta empiris mengenai perkembangan
masalah dan kebutuhan masyarakat dan negara.
3. Landasan yuridis merupakan pertimbangan atau alasan yang
menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk mengatasi
permasalahan hukum atau mengisi kekosongan hukum dengan
mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang akan diubah, atau
yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum dan rasa
keadilan masyarakat. Landasan yuridis menyangkut persoalan
hukum yang berkaitan dengan substansi atau materi yang diatur
sehingga perlu dibentuk Peraturan Perundang-Undangan yang baru.
Beberapa persoalan hukum itu, antara lain, peraturan yang sudah
ketinggalan, peraturan yang tidak harmonis atau tumpang tindih,
jenis peraturan yang lebih rendah dari Undang-Undang sehingga
daya berlakunya lemah, peraturannya sudah ada tetapi tidak
memadai, atau peraturannya memang sama sekali belum ada.
Bagan: Unsur sosiologis dalam konteks pembentukan dan
pelaksanaan UU atau Perda.
Aspek

sosiologis dalam perancangan peraturan perundang-undangan


dimanfaatkan dalam konteks pembentukan dan bukan dalam
konteks pelaksanaan peraturan perundang-undangan seperti
dalam bagan diatas.

B. RELEVANSI VALIDITAS DALAM PENYUSUNAN PERATURAN DAERAH


TENTANG PENYELENGGARAAN KETERTIBAN UMUM DAN
KETENTRAMAN MASYARAKAT

Berdasarkan pemahaman tentang validitas tersebut, maka unsur


filosofis, sosiologis dan yuridis, yang menjadi latar belakang
pembuatan undang-undang atau peraturan daerah, dapat dimaknai
sebagai berikut:
1. Unsur filosofis adalah nilai-nilai filosofis yang dianut oleh suatu
Negara (bagi Indonesia yang termaktub dalam Pancasila dan
Pembukaan UUD 1945) yang menjadi latar belakang dan alasan
pembuatan undang-undang atau peraturan daerah.
2. Unsur yuridis adalah peraturan perundang-undangan yang menjadi
latar belakang dan alasan pembuatan undang-undang atau
peraturan daerah, yang meliputi:
a. Dasar hukum formal, yakni peraturan perundang-undangan yang
menjadi dasar kewenangan pembentukan suatu peraturan
perundang-undangan. Termasuk keharusan mengikuti prosedur
tertentu.
b. Dasar hukum substansial, yakni peraturan Perundang-undangan
yang memerintahkan materi muatan tertentu diatur dalam suatu
Peraturan Perundang-undangan. Termasuk kesesuaian jenis dan
materi muatan.
3. Unsur sosiologis adalah gejala dan masalah sosial-ekonomi-politik
yang berkembang di masyarakat yang menjadi latar belakang dan
alasan pembuatan undang-undang atau peraturan daerah.

Pertama, Landasan Filosofis. Negara Kesatuan Republik Indonesia


merupakan negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bertujuan
untuk memberikan pengayoman dan memajukan kesejahteraan
masyarakat dalam rangka mewujudkan tata kehidupan bangsa yang
aman, tertib, sejahtera, dan berkeadilan. Sejalan dengan itu, dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
ditentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-
daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah
kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu
mempunyai pemerintahan daerah. Masing-masing pemerintahan
daerah itu mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Otonomi dimaksud
adalah otonomi seluas-luasnya.
Ketentuan konstitusional tersebut dilaksanakan dengan Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Dengan
berlakunya Undang-Undang ini, maka penyelenggaraan
pemerintahan daerah dilakukan dengan memberikan kewenangan
yang seluas-luasnya, disertai dengan pemberian hak dan kewajiban
menyelenggarakan otonomi daerah dalam k esatuan sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara.
Kedua, Landasan sosiologis adalah dengan disusunya Perda ini
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
daerah bukan merupakan sumber pendapatan daerah yang penting
guna membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah. Dalam
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
Berdasarkan uraian tersebut dapat ditegaskan, landasan filosofis
bahwa Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat harus mampu menjamin pemerataan kesempata
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ,
peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan
kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan
pembaharuan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Jadi,
Pemerintahan Daerah membuat Peraturan Daerah tentang
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat ,
berdasarkan prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peranserta
masyarakat, dan akuntabilitas. Adapun tujuan pembentukan Perda
ini adalah sebagai landasan hukum Penyelenggaraan ketertiban
umum dan ketentraman masyarakat di Provinsi Bali.
Ketiga, Landasan Yuridis yaitu memberikan arahan, landasan dan
kepastian hukum bagi aparatur pemerintah daerah dan para
pemangku kepentingan dalam Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat.

Relevansi landasan keabsahan tersebut dengan pengaturan


Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
adalah pengaturan Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat mendasarkan pada tiga landasan
keabsahan, yakni filofofis, yuridis, dan sosiologis, sebagaimana
diamanatkan UU Peraturan perundang undangan tahun 2011.
BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI
MUATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI
TENTANG PENYELENGGARAAN KETERTIBAN UMUM DAN
KETENTRAMAN MASYARAKAT

A. ARAH DAN JANGKAUAN PENGATURAN


Istilah “materi muatan “ pertama digunakan oleh A.Hamid
S.Attamimi sebagai terjemahan atau padanan dari “het onderwerp”.10 Pada
tahun 1979 A.Hamid S.Attamimi membuat suatu kajian mengenai materi
muatan peraturan perundang-undangan. Kata materi muatan
diperkenalkan oleh A.Hamid S.Attamimi sebagai pengganti istilah Belanda
Het ondrwerp dalam ungkapan Thorbecke “het eigenaardig onderwerp der
wet” yang diterjemahkan dengan materi muatan yang khas dari undang-
undang, Attamimi mengatakan :
“…dalam tulisan tersebut penulis memperkenalkan untuk pertama
kali istilah materi muatan.Kata materi muatan diperkenalkan oleh
penulis sebagai pengganti kata Belanda het onderwerp dalam
ungkapan ThorbPecke het eigenaardig onderwerp der wet. Penulis
menterjemahkannya dengan materi muatan yang khas dari undang-
undang, yakni materi pengaturan yang khas yang hanya dan semata-
mata dimuat dalam undang-undang sehingga menjadi materi muatan
undang-undang”.11

Dalam konteks pengertian ( begripen ) tentang materi muatan peraturan


perundang-undangan yang hendak dibentuk, semestinya harus
diperhatikan apa sesungguhnya yang menjadi materi muatan yang akan
dibentuk. Karena masing-masing tingkatan ( jenjang ) peraturan
perundang-undangan mempunyai materi muatan tersendiri secara
berjenjang dan berbeda-beda.12 Sri Sumantari juga berpendapat yang sama
bahwa masing-masing peraturan perundang-undangan mengatur materi

10 A.Hamid.S.Attamimi , A.Hamid.S.Attamimi, 1990, Peranan


Keputusan Presiden RI Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara,
Disertasi Doktor UI, Jakarta, hal. 193-194.
11 Ibid.
12 Gede Pantje Astawa & Suprin Na´a, 2008, Dinamika Hukum Dan
Ilmu Perundang- undangan di Indonesia, Penerbit Alumni Bandung, hal. 90.
muatan yang sama, apa yang diatur oleh undang-undang jelas akan
berbeda dengan apa yang diatur oleh Peraturan Daerah. Demikian pula
yang diatur dalam UUD 1945 juga berbeda dengan yang diatur dalam
Peraturan Presiden.13
Rosjidi Ranggawidjaja menyatakan yang dimaksud dengan isi
kandungan atau substansi yang dimuat dalam undang-undang khususnya
dan peraturan perundang-undangan pada umumnya.14 Dengan demikian
istilah materi muatan tidak hanya digunakan dalam membicarakan
undang-undang melainkan semua peraturan perundang-undangan.
Pedoman 98 TP3U menentukan, ketentuan umum berisi: a.batasan
pengertian atau definisi ; b. singkatan atau akronim yang dituangkan
dalam batasan pengertian atau definisi ; dan/atau c. hal-hal lain yang
bersifat umum yang berlaku bagi pasal atau beberapa pasal berikutnya
antara lain ketentuan yang mencerminkan asas, maksud, dan tujuan tanpa
dirumuskan tersendiri dalam pasal atau bab. Pedoman 109 TP3U
menentukan, urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum
mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. pengertian yang mengatur tentang
lingkup umum ditempatkan lebih dahulu dari yang berlingkup khusus;
b.pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang diatur
ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu; dan c.pengertian yang
mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya yang diletakkan
berdekatan secara berurutan.
Beberapa hal yang relevan dicantumkan sebagai ketentuan umum
dalam pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan ketertiban
umum dan ketentraman masyarakat adalah:
A. JUDUL
B. PEMBUKAAN
1. Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa

13 Sri Sumantri Martosoewignjo & Bintan R.Saragih,1993,


Ketatanegaaan Indonesia Dalam Kehidupan Politik Indonesia ; 30al Tahun
Kembali ke UUD 1945, Pustaka Sinar Harapan Jakarta, h 62.
14 Rosjidi Rangga Widjaja, 1999, Ilmu Perundang-Undangan,Mandar
Maju Bandung hal. 53.

37
2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-
undangan
3. Konsiderans
4. Dasar Hukum
5. Diktum
C. BATANG TUBUH
1. Ketentuan Umum
2. Materi Pokok yang Diatur
3. Ketentuan Pidana (jika diperlukan)
4. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan)
5. Ketentuan Penutup
D. PENUTUP
E. PENJELASAN (jika diperlukan)
F. LAMPIRAN (jika diperlukan)
Dalam rancangan peraturan daerah ini isinya sudah sesuai dengan ketentuan
umum dalam pembentukan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat

B.RUANG LINGKUP MATERI MUATAN


Ruang lingkup materi muatan raperda Penyelenggaraan ketertiban
umum dan ketentraman masyarakat adalah jangkauan materi pengaturan
yang khas yang dimuat dalam raperda Penyelenggaraan ketertiban umum
dan ketentraman masyarakat , yang meliputi materi yang boleh dan materi
yang tidak boleh dimuat dalam raperda Penyelenggaraan ketertiban umum
dan ketentraman masyarakat 15 Jadi, yang dimaksud dengan materi
muatan baik mengenai batas materi muatan maupun lingkup materi
muatan.
Lingkup materi yang boleh dimuat ditentukan oleh asas otonomi
daerah dan tugas pembantuan maupun yang ditentukan secara objektif-
normatif dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi sebagai
materi muatan Perda tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat antara lain :

15 Pengertian ruang lingkup materi muatan diadaptasi dari Gede


Marhaendra Wija Atmaja, ”Ruang Lingkup Materi Muatan Peraturan Daerah
Tingkat II (Kasus Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan Kotamadya
Daerah Tingkat II Denpasar), Tesis Magister, (Program Pascasarjana
Universitas Padjadjaran, Bandung, 1995),hlm. 14.

1
a. Bab I Ketentuan Umum
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

1. Daerah adalah Provinsi Bali.


2. Pemerintah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Bali.
3. Gubernur adalah Gubernur Bali.
4. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, Walikota.
5. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja adalah Kepala Satuan Polisi
Pamong Praja Provinsi Bali.
6. Ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat adalah suatu keadaan
dinamis yang memungkinkan Pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat dapat melakukan kegiatannya dengan tenteram, tertib, dan
teratur.
7. Pejabat yang ditunjuk adalah pegawai negeri yang ditunjuk dan diberi
tugas tertentu di bidang perijinan sesuai dengan Peraturan Perundang-
Undangan yang berlaku.
8. Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PPNS adalah
Pejabat yang memiliki kewenangan khusus untuk melakukan
penyidikan dan penyelidikan atas pelanggaran Peraturan Daerah.
9. Badan adalah sekumpulan orang dan / atau modal yang merupakan
kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan
usaha yang meliputi perseroan terbatas, Perseroan Komanditer,
Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau daerah dengan
nama dan dalam bentuk apapun, Firma, Kongsi, Koperasi, Dana
Pensiun, Persekutuan, Perkumpulan, Yayasan, Organisasi massa,
Organisasi sosial politik atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk
usaha tetap dan bentuk badan lainnya.
10. Pengemis adalah orang-orang yang mendapat penghasilan dengan
meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan
untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain.
11. Bangunan adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu
dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di
atas dan atau di dalam tanah dan atau air, yang berfungsi tidak
sebagai tempat melakukan kegiatan.
12. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian
jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di
atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan / atau air,
serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan
jalan kabel.
13. Tempat umum adalah fasilitas umum yang menjadi milik, dikuasai dan
/ atau dikelola oleh pemerintah daerah.
14. Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau
mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat
tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang
sengaja ditanam.
15. Jalur Hijau adalah salah satu jenis Ruang Terbuka Hijau fungsi
tertentu.
16. Taman adalah ruang terbuka segala kelengkapannya yang
dipergunakkan dan dikelola untuk keindahan dan antara lain
berfungsi sebagai paru-paru kota.
17. Ruang milik jalan adalah ruang manfaat jalan dan sejalur tanah
tertentu di luar manfaat jalan yang diperuntukkan bagi ruang manfaat
jalan, pelebaran jalan, penambahan jalur lalu lintas di massa datang
serta kebutuhan ruangan untuk pengamanan jalan dan dibatasi oleh
lebar, kedalaman dan tinggi tertentu.
18. Civic centre adalah pusat kegiatan atau pusat perkantoran.

b. Bab II Tugas Dan Wewenang


BAB II
TUGAS DAN WEWENANG

Pasal …..

Tugas Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi meliputi :


a. menegakkan Perda;
b. menyelenggarakan ketertiban umum;
c. ketenteraman masyarakat; dan
d. perlindungan masyarakat.

Pasal…..

Satuan Polisi Pamong Praja berwenang:


a. melakukan tindakan penertiban nonyustisial terhadap
pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah;
b. melakukan tindakan terhadap warga masyarakat, aparatur, atau
badan hokum yang mengganggu ketertiban umum dan
ketenteraman masyarakat;
c. memfasilitasi dan pemberdayaan kapasitas
penyelenggaraan perlindungan masyarakat;
d. melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang diduga melakukan
pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah; dan
e. melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas
Perda dan/atau peraturan kepala daerah.

c. Bab III Pelaksanaan Ketertiban Umum Dan Ketentraman Masyarakat

BAB III
PELAKSANAAN KETERTIBAN UMUM DAN KETENTRAMAN MASYARAKAT

Bagian kesatu
KERJASAMA DAN KOORDINASI
Pasal……

(1) Satuan Polisi Pamong Praja dalam melaksanakan tugasnya


sebagaimana dimaksud dalam Pasal……dapat bekerja sama dengan
Kepolisian NegaraRepublik Indonesia dan/atau lembaga lainnya.
(2) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas
hubungan fungsional, saling membantu, dan saling menghormati
dengan mengutamakan kepentingan umum.

Pasal…..

(1) Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi mengkoordinasikan


penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat
lintas kabupaten/kota.
(2) Rapat koordinasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dilakukan
secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan atau
sewaktu- waktu sesuai dengan kebutuhan.

Bagian kedua
PENEGAKAN PERDA DAN
PERKADA
Pasal….

(1) Penegakan Perda dan Perkada meliputi :


a. Memberikan pengarahan kepada masyarakat dan badan hukum
yang melanggar Peraturan daerah dan/atau Peraturan Kepala
Daerah;
b. Melakukan pembinaan dan atau sosialisasi kepada masyarakat dan
badan Hukum;
c. Melakukan tindakan Preventif non yustisial; dan
d. Penindakan yustisial.
(2) Penegakan Perda dan Perkada sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan, apabila lintas Kabupaten/Kota;
(3) Penegakan Perda dan Perkada Provinsi dapat dilakukan di
Kabupaten/Kota, apabila belum ada pengaturannya.
(4) Tata cara penindakan Preventif non yustisial sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf c dan penindakan yustisial sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf d diatur dengan Peraturan Gubernur.

Bagian ketiga

KETERTIBAN UMUM DAN KETENTRAMAN MASYARAKAT

Pasal…….

Pemerintah Daerah menjamin penyelenggaraan ketertiban umum dan


ketentraman masyarakat.
Pasal…..

(1) Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman


masyarakat meliputi :
a. Tertib tata ruang;
b. Tertib jalan;
c. Tertib angkutan jalan dan angkutan sungai;
d. Tertib jalur hijau, taman dan tempat umum;
e. Tertib sungai, saluran, kolam, dan pinggir pantai;
f. Tertib lingkungan;
g. Tertib tempat usaha dan usaha tertentu;
h. Tertib bangunan;
i. Tertib sosial;
j. Tertib kesehatan;
k. Tertib tempat hiburan dan keramaian;
l. Tertib peran serta masyarakat;
m. Ketentuan lain sepanjang telah di tetapkan dalam peraturan daerah.
(2) Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan kerjasama dan
koordinasi dengan Kabupaten/Kota.

Pasal ….

(1) Setiap orang dan/atau badan dilarang :


a. Berjualan di dalam lapangan Niti Mandala Renon Denpasar tanpa
seijin instansi berwenang;
b. Berjualan di sempadan jalan pada kawasan civic centre Renon
Denpasar.
c. Memasang sepanduk, atribut, reklame dikawasan civic centre Niti
Mandala Renon Denpasar tanpa seijin instansi berwenang;
d. Membeli barang dagangan yang dibawa oleh para pedagang di
Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar.

(2) Kawasan Civic Centre Niti Mandala Renon Denpasar berlokasi di


Denpasar dengan batas-batas :
a. sebelah utara : Jalan Cok Agung Tresna;
b. sebelah timur : Jalan Prof. Moh. Yamin;
c. sebelah selatan : Jalan Raya Puputan dan
d. sebelah barat : Jalan Letda Tantular.

(3) Tanah-tanah dalam kawasan Civic Centre Niti Mandala Renon Denpasar
dipergunakan untuk sarana pemerintahan yang perencanaan dan
pembangunannya ditentukan oleh Gubernur.

Pasal …….

Tertib jalur hijau, taman dan tempat umum sebgaimana dimaksud dalam
Pasal… ayat (1) huruf d dilakukan dengan larangan :
a. mengalihkan fungsi jalur hijau, taman dan tempat umum tanpa izin
dari Pemerintah Daerah.
b. berjualan atau berdagang, menyimpan atau menimbun barang di
jalur hijau, taman dan tempat umum yang tidak sesuai dengan
peruntukannya;
c. mencoret-coret, menulis, melukis, menempel iklan di dinding atau di
tembok, jembatan lintas, halte, tiang listrik, pohon dan sarana
umum lainnya;
d. membuang dan menumpuk sampah di jalan, jalur hijau, taman,
sungai dan tempat-tempat lain yang dapat merusak keindahan dan
kebersihan lingkungan;
e. memasang dan / atau menempelkan kain bendera, kain bergambar,
spanduk dan/atau sejenisnya disepanjang jalan, rambu-rambu lalu
lintas, tiang penerangan jalan, pohon, bangunan fasilitas umum
dan/atau fasilitas sosial tanpa ada izin dari Pemerintah Daerah;
f. menebang dan / atau merusak pohon pelindung dan / atau
tanaman lainnya yang berada di fasilitas umum tanpa ada izin dari
Pemerintah Daerah;
g. mengotori, mencoret dan merusak jalan dan /atau jembatan beserta
bangunan pelengkapnya, rambu lalu lintas, pohon, fasilitas umum
dan fasilitas sosial.

Pasal………

Tertib sosial sebgaimana dimaksud dalam Pasal… ayat (1) huruf i


dilakukan dengan larangan :
a. meminta bantuan dan / atau sumbangan yang dilakukan sendiri-
sendiri dan / atau bersama-sama di jalan, pasar, kendaraan umum,
lingkungan pemukiman, rumah sakit, sekolah, kantor dan tempat
ibadah.
b. menyediakan tempat dan menyelenggarakan segala bentuk undian
dengan memberikan hadiah dalam bentuk apapun kecuali mendapat
izin dari Pemerintah Daerah.
c. Permintaan bantuan atau sumbangan untuk kepentingan sosial dan
kemanusiaan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan setelah mendapat izin dari Pemerintah Daerah.

Pasal ……

Setiap orang / keluarga yang memiliki anggota keluarga yang menderita


sakit jiwa wajib merawat dan tidak menelantarkannya

Pasal ………...

Setiap orang dan/atau badan dilarang :


a. beraktifitas sebagai pengemis, pengamen, pedagang asongan atau
pembersih kaca mobil di traffic ligt;
b. mengkoordinir untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan
dan pembersih kaca mobil di jalan atau tempat-tempat umum lainnya;
c. mengeksploitasi anak atau bayi untuk mengemis;
d. membeli kepada pedagang asongan atau memberikan sejumlah uang
atau barang kepada pengemis, pengamen dan pembersih kaca mobil di
jalan atau tempat-tempat umum; dan
e. berbuat asusila di jalan umum, di taman atau tempat-tempat umum
lainnya.

Pasal……

(1) Tertib tempat usaha dan usaha tertentu sebgaimana dimaksud


dalam Pasal… ayat (1) huruf g dilakukan dengan larangan :
a. menempatkan benda-benda dengan maksud untuk melakukan
sesuatu usaha di trotoar, di dalan taman dan tempat-tempat umum.
b. melakukan usaha dan mendirikan tempat kegiatan usaha yang dapat
mengganggu ketertiban umum.
(2) ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi
tempat-tempat yang telah mendapat izin oleh pemerintah daerah.

Pasal …………..

Setiap orang dan / atau badan yang bergerak di bidang usaha loundry atau
yang sejenisnya dilarang menjemur di pinggir jalan umum dan atau fasilitas
umum.

Pasal ……………

Setiap orang dan /atau badan dilarang mengedarkan, menyimpan dan


menjual minuman beralkohol tanpa izin dari pemerintah daerah

Pasal…………..

Tertib peran serta masyarakat sebgaimana dimaksud dalam Pasal… ayat


(1) huruf l dilakukan dengan :
a. Setiap orang dan / atau badan dapat menyampaikan laporan kepada
petugas Satuan Polisi Pamong Praja dan / atau aparat pemerintah
daerah apabila terjadi pelanggaran terhadap ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat.
b. Setiap orang yang memasuki Daerah Bali wajib memiliki identitas diri,
yang tinggal dan menetap wajib memenuhi persyaratan administrasi
kependudukan sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan.
c. Setiap pengelola villa, hotel, apartemen, dan sejenisnya yang menerima
orang asing wajib melaporkan penghuninya kepada Instansi berwenang.
d. Bab IV Pembinaan, Pengendalian Dan Pengawasan
BAB IV

PEMBINAAN, PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN

Pasal …….

(1) Kepala Daerah berwenang untuk melakukan


pembinaan,pengendalian dan pengawasan terhadap penyelenggaraan
ketentraman dan ketertiban umum.
(2) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh
Satuan Polisi Pamong Praja bersama Pegawai Penyidik Negeri Sipil
dengan Satuan kerja perangkat daerah terkait lainnya.
(3) Dalam melakukan pembinaan, pengendalian dan pengawasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan dengan
instansi lain dan pemerintah Kabupaten/Kota.

e. Bab V Sanksi Administrasi


BAB V

SANKSI ADMINISTRASI

Pasal …………….

(1) Setiap orang atau badan yang melanggar ketentuan dalam Peraturan
Daerah ini dikenakan hukuman sanksi administrasiberupa :
a. Teguran lisan;
b. Peringatan tertulis;
c. Penertiban;
d. Penghentian sementara dari kegiatan;
e. Denda administrasi; dan/atau
f. Pencabutan izin, pembekuan izin, dan/atau penyegelan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenani Tata cara penerapan sanksi
administrasi diatur dengan Peraturan Gubernur.

f. Bab VI Pendanaan
BAB VI
PENDANAAN
Pasal………………….

Pendanaan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman


masyarakat dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.
g. Bab VII Ketentuan Penyidikan
BAB VII
KETENTUAN PENYIDIKAN
Pasal ………….

(1) Selain Pejabat Penyidik Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai
Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang lingkup tugas
dan tanggungjawabnya di bidang Ketertiban dan Ketenraman Masyarakat,
diberi wewenang khusus sebagai Penyidik, sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
berwenang :
a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya
tindak pidana;
b. melakukan tindakan pertama pada saat itu di tempat kejadian dan
melakukan pemeriksaan;
c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal
diri tersangka;
d. melakukan penyitaan benda dan/atau surat;
e. mengambil sidik jari dan memotret seseorang;
f. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka
atau saksi;
g. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungan dengan
pemeriksaan perkara;
h. mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari
Penyidik Polri bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa
tersebut bukan merupakan tindak pidana, dan selanjutnya melalui
Penyidik Polri memberitahukan hal tersebut kepada Penuntut Umum,
tersangka atau keluarganya; dan
i. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat
dipertanggungjawabkan.
(3) PPNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya
penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Polri.

h. Bab VIII Ketentuan Pidana


BAB VIII
KETENTUAN PIDANA
Pasal

(1) Setiap orang dan/atau badan yang tidak melaksanakan kewajibannya


sebagaimana dimaksud dalam Pasal ….. diancam pidana kurungan
paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
pelanggaran.
(3) Selain ancaman pidana yang di maksud pada ayat (1) dapat juga
dikenakan sanksi sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang
berlaku.

e. Bab IX Ketentuan Penutup


BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal

Peraturan Perundang-undangan mulai berlaku dan mempunyai


kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan, kecuali ditentukan lain
di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan.
BAB VI
PENUTUP

A. Rangkuman
Berdasarkan kajian yang telah di lakukan di BAB terdahulu, dapat
ditarik konklusi bahwa Provinsi Bali belum mempunyai Peraturan
Daerah tentang Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat . Berdasarkan keseluruhan pengkajian secara normatif dan
praktek empiris, maka perlu disusun Peraturan Daerah tentang
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat . Dasar
kewenangan pendelegasian kewenangan mengatur diatur dalam Pasal
255 UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(1) Satuan polisi pamong praja dibentuk untuk menegakkan
a. Perda dan Perkada, menyelenggarakan
Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat
b. dan ketenteraman, serta menyelenggarakan pelindungan
c. masyarakat.
(2) Satuan polisi pamong praja mempunyai kewenangan:
a. melakukan tindakan penertiban non-yustisial terhadap warga
masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang
b. melakukan pelanggaran atas Perda dan/atau Perkada;
c. menindak warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum
yang mengganggu Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dan ketenteraman masyarakat;
d. melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang diduga melakukan
pelanggaran atas Perda dan/atau Perkada;dan
e. melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yangmelakukan pelanggaran atas
Perda dan/atau Perkada.

Pasal 6 Peraturan Pemerintah No 6 Tahun 2010 tentang Satuan


Polisi Pamong Praja, mengatur tentang Wewenang, Hak dan Kewajiban,
Polisi Pamong Praja berwenang:
a. melakukan tindakan penertiban nonyustisial terhadap warga
masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang melakukan
pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah;
b. menindak warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum
yang mengganggu Penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat dan ketenteraman masyarakat;
c. fasilitasi dan pemberdayaan kapasitas penyelenggaraan
perlindungan masyarakat;
d. melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang diduga melakukan
pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah; dan
e. melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran
atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah

Dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Dalam Negeri No 40 Tahun 2011


tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja
mengatur bahwa : Satpol PP mempunyai tugas menegakkan Perda dan
menyelenggarakan Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat.
Adanya kewenangan Pemerintah daerah dapat mengatur lebih lanjut
pelaksanaan tentang ketentraman dan ketertiban, sesuai dengan kondisi
daerah masingmasing melalui Peraturan Daerah.

B. Saran
1. Menyiapkan segera Peraturan Gubernur sebagai bentuk
pendelegasian kewenangan mengatur
2. Agar diselenggarakan proses konsultasi publik sehingga masyarakat
dapat memberikan masukan dalam penyusunan Rancangan
Peraturan Daerah Provinsi Bali tentang Penyelenggaraan ketertiban
umum dan ketentraman masyarakat , sesuai dengan asas
keterbukaan dan ketentuan tentang partisipasi masyarakat dalam
Pasal 96 UU P3 2011 dan Pasal 354 ayat (4) UU Pemerintahan Daerah
2004. Dalam Pasal 354 ayat (4) UU Pemerintahan Daerah 2004. Pasal
partisipasi masyarakat dalam bentuk :
a. konsultasi publik;
b. musyawarah;
c. kemitraan;
d. penyampaian aspirasi;
e. pengawasan; dan/atau
f. keterlibatan lain sesuai dengan ketentuan peraturan erundang-
undangan
DAFTAR PUSTAKA

Astawa Gede Pantje & Suprin Na´a, 2008, Dinamika Hukum Dan Ilmu
Perundang-undangan di Indonesia, Penerbit Alumni Bandung.
Attamimi; A. Hamid S. “Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia
dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara”, Disertasi, (Fakultas
Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 1990)
I.C. Van Der Vlies, Buku Pegangan Perancang Peraturan Perundang-
undangan, terjemahan, (Direktorat Jenderal Peraturan Perundangan-
undangan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, Jakarta,
2005).
Bruggink, J.J.H. Refleksi Tentang Hukum, terjemahan Arief Sidharta dari
judul asli: Rechts Reflecties, (Penerbit PT Citra Aditya Bakti,
Bandung, 1996).
Gaotama, Sudargo 1985, Hukum Perdata Internasional, Alumni Bandung.
Rahardjo, Satjipto Ilmu Hukum, (Bandung: Penerbit PT Citra Aditya Bakti,
2000), hal. 19, yang mendasarkan pada Gustav Radbruch, Einfuhrung
in die Rechtswissenschaft, (Sttugart: K.F. Koehler, 1961).
Radbruch, Gustav “Legal Philosophy”, dalam Kurt Wilk, ed., The Legal
Philosophies Of Lask, Radbruch, And Dabin, (Cambridge: Havard
University Press, 1950)
Martosoewignjo, Sri Sumantri & Bintan R.Saragih,1993, Ketatanegaaan
Indonesia Dalam Kehidupan Politik Indonesia ; 30al Tahun Kembali ke
UUD 1945, Pustaka Sinar Harapan Jakarta.
Widjaja, Rosjidi Rangga 1998, Ilmu Perundang-Undangan,Mandar Maju
Bandung.
Wija Atmaja, Gede Marhaendra”Ruang Lingkup Materi Muatan Peraturan
Daerah Tingkat II (Kasus Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan
Kotamadya Daerah Tingkat II Denpasar), Tesis Magister, (Program
Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung, 1995).
DAFTAR PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem


Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
Nasional( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor
244 , Tambahan Lembaran Negara Republik Indoesia Nomor 4301 ).

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5234).

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 244,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587),
sebagimana diubah beberapa kali terkhir dengan Undang-Undang No 2
tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 2 tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah
Menjadi Undang-Undang ( Lembaran Negara Republik Indoensia
Indonesia Tahun 2015 Nomor 24, Tambahan Lembaran negara
republik Indonesia Nomor 5657);

Peraturan Pemerintah No 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong


Praja ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 9,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indoesia Nomor 5094 )
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2010 Tentang
Penggunaan Senjata Api Bagi Satpol PP
Peraturan Menteri Dalam Negeri No 40 Tahun 2011 tentang Pedoman
Organisasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja . ( Berita
Negara Republik Indoensia Tahun 2011 No 590)
Peraturan Menteri Negeri No 54 Tahun 2011 tentang Standar Operasional
Polisi Pamong Praja ( Berita Negara Republik Indoensia Tahun 2011
No 705)
Peraturan Daerah Provinsi Bali No 2 Tahun 2008 Tentang Urusan
Pemerintahan Daerah Provinsi Bali Lembaran Daerah Tahun 2008
Nomor 2
Peraturan Gubernur Provinsi Bali No 12 Tahun 2006 tentang Penataan
Kembali Kawasan civic centre Niti Mandala Denpasar, Berita Daerah
Provinsi Bali Tahun 2006 Nomor 12.
Keputusan gubernur Bali Nomor 2383/05-A/HK/2013 tentang
Pembentukan Dan Susunan Keanggotaan Tim Penegakan Peraturan
Daerah dan Pemberdayaan Penyidik Pegawai negeri Sipil ( PPNS)

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH :


REVISI I FH

GUBERNUR BALI
PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI
NOMOR........TAHUN 2015
TENTANG
PENYELENGGARAAN KETERTIBAN UMUM DAN
KETENTRAMAN MASYARAKAT
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR BALI,

Menimbang : a. bahwa guna mewujudkan Provinsi Bali yang tertib,


tentram dan prilaku disiplin bagi setiap masyarakat,
maka perlu adanya upaya dalam meningkatkan
ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;
b. bahwa keberadaan masyarakat bali yang heterogen
dengan prilaku yang berbeda menunutut untuk
dilakukan perbaikan dalam segala bidang untuk
menunjang ketentraman dan ketertiban umum;
c. Bahwa untuk mendukung keberhasilan pembangunan
dan meningkatkan ketertiban umum dan ketentraman,
diperlukan suatu pengaturan sebagai arahan yang jelas
dalam penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c,perlu
menetapkan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan
Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang


Pembentukan Daerah daerah Tingkat I Bali, Nusa
Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 115,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
1649);

2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang


Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5234);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah diubah
beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9
Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5679);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2010 Tentang


Satuan Polisi Pamong Praja (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 9, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5094);

5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2011


Tentang Standar Operasional Prosedur Satuan Polisi
Pamong Ppraja (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 705);

6. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 2


Tahun 1988 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di
Lingkungan Pemerintah Provinsi Dati I Bali;

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI BALI

dan
GUBERNUR BALI,
MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENYELENGGARAAN


KETERTIBAN UMUM DAN KETENTRAMAN MASYARAKAT.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Provinsi Bali.
2. Pemerintah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Bali.
3. Gubernur adalah Gubernur Bali.
4. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, Walikota.
5. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja adalah Kepala Satuan Polisi Pamong
Praja Provinsi Bali.
6. Ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat adalah suatu keadaan
dinamis yang memungkinkan Pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat dapat melakukan kegiatannya dengan tenteram, tertib, dan
teratur.
7. Pejabat yang ditunjuk adalah pegawai negeri yang ditunjuk dan diberi
tugas tertentu di bidang perijinan sesuai dengan Peraturan Perundang-
Undangan yang berlaku.
8. Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PPNS adalah
Pejabat yang memiliki kewenangan khusus untuk melakukan
penyidikan dan penyelidikan atas pelanggaran Peraturan Daerah.
9. Badan adalah sekumpulan orang dan / atau modal yang merupakan
kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan
usaha yang meliputi perseroan terbatas, Perseroan Komanditer,
Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau daerah dengan nama
dan dalam bentuk apapun, Firma, Kongsi, Koperasi, Dana Pensiun,
Persekutuan, Perkumpulan, Yayasan, Organisasi massa, Organisasi
sosial politik atau yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap dan bentuk
badan lainnya.
10. Pengemis adalah orang-orang yang mendapat penghasilan dengan
meminta- minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk
mengharapkan belas kasihan dari orang lain.
11. Bangunan adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu
dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas
dan atau di dalam tanah dan atau air, yang berfungsi tidak sebagai
tempat melakukan kegiatan.
12. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian
jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di
atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan / atau air, serta
di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan
kabel.
13. Tempat umum adalah fasilitas umum yang menjadi milik, dikuasai dan /
atau
dikelola oleh pemerintah daerah.
14. Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau
mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat
tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang
sengaja ditanam.
15. Jalur Hijau adalah salah satu jenis Ruang Terbuka Hijau fungsi tertentu.
16. Taman adalah ruang terbuka segala kelengkapannya yang
dipergunakkan dan dikelola untuk keindahan dan antara lain berfungsi
sebagai paru-paru kota.
17. Ruang milik jalan adalah ruang manfaat jalan dan sejalur tanah tertentu
di luar manfaat jalan yang diperuntukkan bagi ruang manfaat jalan,
pelebaran jalan, penambahan jalur lalu lintas di massa datang serta
kebutuhan ruangan untuk pengamanan jalan dan dibatasi oleh lebar,
kedalaman dan tinggi tertentu.
18. Civic centre adalah pusat kegiatan atau pusat perkantoran.

BAB II
TUGAS DAN WEWENANG

Pasal 2

Tugas Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi meliputi :

a. menegakkan Perda;
b. menyelenggarakan ketertiban umum;
c. ketenteraman masyarakat; dan
d. perlindungan masyarakat.
Pasal 3
Satuan Polisi Pamong Praja berwenang:
a. melakukan tindakan penertiban nonyustisial terhadap pelanggaran atas
Perda dan/atau peraturan kepala daerah;
b. melakukan tindakan terhadap warga masyarakat, aparatur, atau badan
hokum yang mengganggu ketertiban umum dan ketenteraman
masyarakat;
c. memfasilitasi dan pemberdayaan kapasitas penyelenggaraan
perlindungan masyarakat;
d. melakukan tindakan penyelidikan terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang diduga melakukan pelanggaran atas
Perda dan/atau peraturan kepala daerah; dan
e. melakukan tindakan administratif terhadap warga masyarakat,
aparatur, atau badan hukum yang melakukan pelanggaran atas Perda
dan/atau peraturan kepala daerah.

BAB III
PELAKSANAAN KETERTIBAN UMUM DAN KETENTRAMAN MASYARAKAT

Bagian kesatu
Kerjasama Dan Koordinasi
Pasal 4

(1) Satuan Polisi Pamong Praja dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 2 dapat bekerja sama dengan Kepolisian
NegaraRepublik Indonesia dan/atau lembaga lainnya.
(2) Kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas
hubungan fungsional, saling membantu, dan saling menghormati
dengan mengutamakan kepentingan umum.

Pasal 5

(1) Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi mengkoordinasikan


penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat lintas
kabupaten/kota.
(2) Rapat koordinasi sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dilakukan
secara
berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan atau sewaktu-
waktu sesuai dengan kebutuhan.
Bagian kedua
Penegakan Perda dan/atau Perkada
Pasal 6

(1) Penegakan Perda dan Perkada meliputi :


a. Memberikan pengarahan kepada masyarakat dan badan hukum yang
melanggar Peraturan daerah dan/atau Peraturan Kepala Daerah;
b. Melakukan pembinaan dan atau sosialisasi kepada masyarakat dan
badan Hukum;
c. Melakukan tindakan Preventif non yustisial; dan
d. Penindakan yustisial.
(2) Penegakan Perda dan Perkada sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan, apabila lintas Kabupaten/Kota;
(3) Penegakan Perda dan Perkada Provinsi dapat dilakukan di
Kabupaten/Kota, apabila belum ada pengaturannya.
(4) Tata cara penindakan Preventif non yustisial sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf c dan penindakan yustisial sebagaimana dimaksud pada
ayat
(1) huruf d diatur dengan Peraturan Gubernur.
Bagian ketiga

Ketertiban Umum Dan Ketentraman Masyarakat


Pasal 7
Pemerintah Daerah menjamin penyelenggaraan ketertiban umum dan
ketentraman masyarakat.

Pasal 8

(1) Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat meliputi :


a. Tertib tata ruang;
b. Tertib jalan;
c. Tertib angkutan jalan dan angkutan sungai;
d. Tertib jalur hijau, taman dan tempat umum;
e. Tertib sungai, saluran, kolam, dan pinggir pantai;
f. Tertib lingkungan;
g. Tertib tempat usaha dan usaha tertentu;
h. Tertib bangunan;
i. Tertib sosial;
j. Tertib kesehatan;
k. Tertib tempat hiburan dan keramaian;
l. Tertib peran serta masyarakat;
m. Ketentuan lain sepanjang telah di tetapkan dalam peraturan daerah.
(4) Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan kerjasama dan
koordinasi dengan Kabupaten/Kota.

Pasal 9

(1) Setiap orang dan/atau badan dilarang :


a. Berjualan di dalam lapangan Niti Mandala Renon Denpasar tanpa
seijin instansi berwenang;
b. Berjualan di sempadan jalan pada kawasan civic centre Renon
Denpasar.
c. Memasang sepanduk, atribut, reklame dikawasan civic centre Niti
Mandala Renon Denpasar tanpa seijin instansi berwenang;
d. Membeli barang dagangan yang dibawa oleh para pedagang di
Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar.

(2) Kawasan Civic Centre Niti Mandala Renon Denpasar berlokasi di


Denpasar dengan batas-batas :
a. sebelah utara : Jalan Cok Agung Tresna;
b. sebelah timur : Jalan Prof. Moh. Yamin;
c. sebelah selatan : Jalan Raya Puputan dan
d. sebelah barat : Jalan Letda Tantular.

(5) Tanah-tanah dalam kawasan Civic Centre Niti Mandala Renon Denpasar
dipergunakan untuk sarana pemerintahan yang perencanaan dan
pembangunannya ditentukan oleh Gubernur.

Pasal 10

Tertib jalur hijau, taman dan tempat umum sebgaimana dimaksud dalam
Pasal 8 ayat (1) huruf d dilakukan dengan larangan :
a. mengalihkan fungsi jalur hijau, taman dan tempat umum tanpa izin dari
Pemerintah Daerah.
b. berjualan atau berdagang, menyimpan atau menimbun barang di jalur
hijau, taman dan tempat umum yang tidak sesuai dengan
peruntukannya;
c. mencoret-coret, menulis, melukis, menempel iklan di dinding atau di
tembok, jembatan lintas, halte, tiang listrik, pohon dan sarana umum
lainnya;
d. membuang dan menumpuk sampah di jalan, jalur hijau, taman, sungai
dan tempat-tempat lain yang dapat merusak keindahan dan
kebersihan lingkungan;
e. memasang dan / atau menempelkan kain bendera, kain bergambar,
spanduk dan/atau sejenisnya disepanjang jalan, rambu-rambu lalu
lintas, tiang penerangan jalan, pohon, bangunan fasilitas umum
dan/atau fasilitas sosial tanpa ada izin dari Pemerintah Daerah;
f. menebang dan / atau merusak pohon pelindung dan / atau tanaman
lainnya yang berada di fasilitas umum tanpa ada izin dari Pemerintah
Daerah;
g. mengotori, mencoret dan merusak jalan dan /atau jembatan beserta
bangunan pelengkapnya, rambu lalu lintas, pohon, fasilitas umum dan
fasilitas sosial.

Pasal 11

Tertib sosial sebgaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf i dilakukan
dengan larangan :
a. meminta bantuan dan / atau sumbangan yang dilakukan sendiri-sendiri
dan / atau bersama-sama di jalan, pasar, kendaraan umum, lingkungan
pemukiman, rumah sakit, sekolah, kantor dan tempat ibadah.
b. menyediakan tempat dan menyelenggarakan segala bentuk undian dengan
memberikan hadiah dalam bentuk apapun kecuali mendapat izin dari
Pemerintah Daerah.
c. Permintaan bantuan atau sumbangan untuk kepentingan sosial dan
kemanusiaan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan
setelah mendapat izin dari Pemerintah Daerah.

Pasal 12

Setiap orang/keluarga yang memiliki anggota keluarga yang menderita sakit


jiwa berkewajiban merawat dan tidak menelantarkannya.
Pasal 13
Setiap orang dan/atau badan dilarang :
a. beraktifitas sebagai pengemis, pengamen, pedagang asongan atau
pembersih kaca mobil di traffic ligt;
b. mengkoordinir untuk menjadi pengemis, pengamen, pedagang asongan
dan pembersih kaca mobil di jalan atau tempat-tempat umum lainnya;
c. mengeksploitasi anak atau bayi untuk mengemis;
d. membeli kepada pedagang asongan atau memberikan sejumlah uang atau
barang kepada pengemis, pengamen dan pembersih kaca mobil di jalan
atau tempat-tempat umum;
e. berbuat asusila di jalan umum, di taman atau tempat-tempat umum
lainnya.

Pasal 14

(1) Tertib tempat usaha dan usaha tertentu sebgaimana dimaksud dalam Pasal
8 ayat (1) huruf g dilakukan dengan larangan :
a. menempatkan benda-benda dengan maksud untuk melakukan sesuatu
usaha di trotoar, di dalan taman dan tempat-tempat umum;
b.melakukan usaha dan mendirikan tempat kegiatan usaha yang dapat
mengganggu ketertiban umum.
(2) ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi
tempat-tempat yang telah mendapat izin oleh pemerintah daerah.

Pasal 15

Setiap orang dan / atau badan yang bergerak di bidang usaha loundry atau
yang sejenisnya dilarang menjemur di pinggir jalan umum dan atau fasilitas
umum.

Pasal 16

Setiap orang dan /atau badan dilarang mengedarkan, menyimpan dan


menjual minuman beralkohol tanpa izin dari pemerintah daerah.

Pasal 17

Tertib peran serta masyarakat sebgaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1)
huruf l dilakukan dengan :
a. Setiap orang dan / atau badan dapat menyampaikan laporan kepada
petugas Satuan Polisi Pamong Praja dan / atau aparat pemerintah daerah
apabila terjadi pelanggaran terhadap ketertiban umum dan ketentraman
masyarakat.
b. Setiap orang yang memasuki Daerah Bali wajib memiliki identitas diri, yang
tinggal dan menetap wajib memenuhi persyaratan administrasi
kependudukan sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan.
c. Setiap pengelola villa, hotel, apartemen, dan sejenisnya yang menerima
orang asing wajib melaporkan penghuninya kepada Instansi berwenang.

BAB IV
PEMBINAAN, PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN
Pasal 18

(1) Kepala Daerah berwenang untuk melakukan pembinaan,pengendalian


dan pengawasan terhadap penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban
umum.
(2) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh
Satuan Polisi Pamong Praja bersama Pegawai Penyidik Negeri Sipil
dengan Satuan kerja perangkat daerah terkait lainnya.
(3) Dalam melakukan pembinaan, pengendalian dan pengawasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan dengan instansi
lain dan pemerintah Kabupaten/Kota.
BAB V
SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 19

(1) Setiap orang atau badan yang melanggar ketentuan dalam Peraturan
Daerah ini dikenakan hukuman sanksi administrasiberupa :
a. Teguran lisan;
b. Peringatan tertulis;
c. Penertiban;
d. Penghentian sementara dari kegiatan;
e. Denda administrasi; dan/atau
f. Pencabutan izin, pembekuan izin, dan/atau penyegelan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenani Tata cara penerapan sanksi administrasi
diatur dengan Peraturan Gubernur.

BAB VI
PENDANAAN
Pasal 20

Pendanaan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat


dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.

BAB VII
KETENTUAN PENYIDIKAN
Pasal 21

(4) Selain Pejabat Penyidik Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai
Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang lingkup tugas
dan tanggungjawabnya di bidang Ketertiban dan Ketenraman Masyarakat,
diberi wewenang khusus sebagai Penyidik, sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(5) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
berwenang :
j. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak
pidana;
k. melakukan tindakan pertama pada saat itu di tempat kejadian dan
melakukan pemeriksaan;
l. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal
diri tersangka;
m. melakukan penyitaan benda dan/atau surat;
n. mengambil sidik jari dan memotret seseorang;
o. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau
saksi;
p. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungan dengan
pemeriksaan perkara;
q. mengadakan penghentian penyidikan setelah mendapat petunjuk dari
Penyidik Polri bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut
bukan merupakan tindak pidana, dan selanjutnya melalui Penyidik Polri
memberitahukan hal tersebut kepada Penuntut Umum, tersangka atau
keluarganya; dan
r. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat
dipertanggungjawabkan.
(6) PPNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya
penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Polri.

BAB VIII
KETENTUAN
PIDANA
Pasal 22

(1) Setiap orang dan/atau badan yang tidak melaksanakan kewajibannya


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 13, Pasal
14, Pasal 16, Pasal 17 huruf b dan Pasal 17 huruf c diancam pidana
kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan


pelanggaran.

(3) Selain ancaman pidana yang di maksud pada ayat (1) dapat juga
dikenakan sanksi sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang
berlaku.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 23

Peraturan Perundang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan


mengikat pada tanggal diundangkan, kecuali ditentukan lain di dalam
Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Provinsi Bali.

Ditetpkan di Denpasar
Pada tanggal………..
GUBERNUR BALI,

MADE MANGKU PASTIKA

Diundangkan di Denpasar
Pada tanggal………

SEKRETARIS DAERAH PROVINSI


BALI

COKORDA NGURAH PEMAYUN

LEMBARAN DAERAH PROVINSI BALI … TAHUN … NOMOR…………..

NO.REG PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI: