Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN HASIL IDENTIFIKASI BAHAYA PADA

GEDUNG AKAMIGAS BALONGAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Identifikasi Bahaya
Dosen pengampu :

Ir. Bambang, SP, M.KKK

Oleh Kelompok VI :

Layli Agusti Wachid :17020005


Siti Aisyah :17020049
Wawan Hermawan :17020054

PROGRAM STUDI FIRE AND SAFETY

AKADEMI MINYAK DAN GAS BALONGAN

INDRAMAYU

2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahaya (hazard) adalah segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan


yang berpotensi menimbulkan kecelakaan atau cidera pada manusia,
kerusakan atau gangguan lainnya. Karena hadirnya bahaya maka di
perlukan upaya pengendalian agar bahaya tersebut tidak menimbulkan
akibat yang merugikan. Bahaya merupakan sifat yang melekat (inherent)
dan menjadi bagian dari suatu zat, sistem,kondisi atau peralatan. (Ramli
Soehatman 2010).

Setiap tempat kerja selalu mengandung berbagai potensi bahaya yang


dapat menyebabkan timbulnya kecelakaan kerja ataupun PAK(Penyakit
akibat Kerja).Potensi bahaya adalah  segala sesuatu yang berpotensi
menyebabkan terjadinya kerugian, kerusakan, cidera, sakit, kecelakaan atau
bahkan dapat mengakibatkan kematian yang berhubungan dengan proses
dan sistem kerja. Undang Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja (1) menyatakan bahwa tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan,
tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau
sering dimasuki tempat kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana
terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya sebagaimana diperinci dalam
pasal 2; termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan, halaman dan
sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau berhubung dengan tempat
kerja tersebut.Bahaya dibagi menjadi 6 yaitu Bahaya Mekanik
(Biomechaical hazards), Bahaya Fisik (Physical hazards), Bahaya Kimia
(Chemical hazards),bahaya kimia(chemical hazards, Bahaya Psikososial
(Psychosocial hazards),bahaya ergonomi(ergonomic hazards).
Sebagai seorang ahli k3 kita tentu harus mengidentifikasi bahaya atau
yang lebih dikenal dengan HIRADC(Hazard Identification Risk Asessment
Determine Control). Dalam OHSAS 18001:2007 pengontrolan bahaya atau
yang lebih dikenal dengan Hirarki control dibagi menjadi 5 yaitu
eliminasi,substitusi,rekayasa engineering,administrasi,dan APD.

1.2 Tujuan

1. Memahami pengimplementasian HIRADC


2. Memahami tata cara pengisian form identifikasi bahaya
3. Dapat mempraktekan Identifikasi bahaya
4. Memahami jenis bahaya dan cara pengendaliannya
BAB II
DASAR TEORI
2.1.Dasar Teori
Dalam OHSAS 18001 : 2007 menyatakan bahwa identifikasi bahaya
dapat diartikan sebagai proses untuk mengetahui adanya suatu sumber,
situasi atau tindakan yang berpotensi menciderai manusia atau kondisi
kelainan fisik atau mental yang teridentifikasi berasal dari dan/atau
bertambah buruk karena kegiatan kerja dan/atau situasi yang terkait
pekerjaan dan menentukan karakteristiknya. Secara umum isentifikasi
bahaya adalah upaya untuk mengetahui, mengenal dan mengevaluasi
bahaya dalam suatu sistem kerja agar dapat dilakukan pengendalian
bahaya dalam menimbulkan insiden SISTEM KERJA peralatan, insatalasi,
unit kerja, prosedur kerja dan lain-lainTujuan dari identifikasi bahaya
Identifikasi Bahaya merupakan landasan dari program pencegahan
kecelakaan atau pengendalian risiko.tanpa mengenal bahaya, maka risiko
tidak dapat ditentukan sehingga upaya pencegahan dan pengendalian risiko
tidak dapat dijalankan (Ramli, 2010). Manfaatnya yaitu
 Mengetahui bahaya-bahaya yang ada
 Mengetahui lokasi bahaya & potensi bahaya dari aktivitas perusahaan
sehingga dapat meninngkatkan kewaspadaan dalam menjalankan operasi
perusahaan.
 Mengetahui potensi bahaya dalam menimbulkan insiden
 Mengetahui bahaya-bahaya yang sudah dikendalikan
 Mengetahui bahaya-bahaya yang tidak akan menimbulkan cidera
 Untuk analisis lebih lanjut
 Sebagai landasan sekaligus masukan untuk menentukan strategi pencegahan
dan pengamanan yang tepat dan efektif. Dengan mengenal bahaya yang ada,
manajemen dapat menentukan skala prioritas penanganannya sesuai dengan
tingkat risikonya sehingga diharapkan hasilnya akan lebih efektif.
 Memberikan informasi yang terdokumentasi mengenai sumber bahaya
dalam perusahaan kepada semua pihak khususnya pemangku kepentingan.
Dengan demikian mereka dapat memperoleh gambaran mengenai risiko
suatu usah yang akan dilakukan.

Dalam identifikasi bahaya ada beberapa teknik yang digunakan, antara lain ;
A. Teknik Pasif
Bahaya dapat dikenal dengan mudah jika kita mengalaminya sendiri
secara langsung. Cara ini bersifat primitif dan terlambat karena kecelakaan
telah terjadi, baru kita mengenal dan mengambil langkah pencegahan.
Metoda ini sangat rawan, karena tidak semua bahaya dapat menunjukan
eksistensinya sehingga dapat terlihat. Sebagai contoh, di dalam suatu pabrik
kimia, terdapat berbagai jenis bahan dan peralatan. Selama bertahun-tahun
dipabrik tersebut tidak terjadi kecelakaan atau kejadian lainnya. Dalam hal
ini, belum tentu bahwa pabrik tersebut aman dan tidak mengandung bahaya
jika tidak dilakukan identifikasi bahaya secara baik. Jika tidak dilakukan
identifikasi bahaya, mungkin masih terdapat sumber bahaya yang setiap saat
dapat menimbulkan kecelakaan
B. Teknik Semiproaktif
Teknik ini disebut juga belajar dari pengalaman orang lain karena
kita tidak perlu mengalaminya sendiri. Teknik ini lebih baik karena tidak
perlu mengalami sendiri setelah itu baru mengetahui adanya bahaya. Namun
teknik ini juga kurang efektif karena :
a. Tidak semua bahaya telah diketahui atau pernah menimbulkan
dampak kejadian kecelakaan.
b. Tidak semua kejadian dilaporkan atau diinformasikan kepada
pihak lain untuk diambil sebagai pelajaran.
Kecelakaan telah terjadi yang berarti tetap menimbulkan kerugian,
walaupun menimpa pihak lain. Sejalan dengan hal ini, setiap sistem K3
mensyaratkan untuk melakukan penyelidikan kecelakaan sebagai “lesson
learning” agar kejadian serupa tidak terulang kembali
C. Teknik Proaktif
Metoda terbaik untuk mengidentifikasi bahaya adalah cara proaktif
atau mencari bahaya sebelum bahaya tersebut menimbulkan akibat atau
dampak yang merugikan. Metoda ini telah berkembang berbagai macam
teknik identifikasi bahaya yang bersifat proaktif antara lain :
a. HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control)
Metode HIRARC (Hazard Indentification Risk Assessment And
Risk Control) adalah serangkaian proses identifikasi bahaya yang terjadi
dalam aktivitas rutin maupun non rutin di perusahaan yang diharapkan
dapat dilakukan usaha untuk pencegahan dan pengurangan terjadinya
kecelakaan kerja yang terjadi diperusahaan, dan menghindari serta
minimalisir risiko dengan cara yang tepat dengan menghindari dan
mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja serta pengendaliannya
dalam melakukan proses kegiatan perbaikan dan perawatan sehingga
prosesnya menjadi aman (Journal of Industrial Hygiene and
Occupational Health, 2017).

:
1. HIRARC
Tujuan dari HIRARC adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengidentifikasi semua faktor yang dapat menyebabkan kerusakan
pada pekerja dan lain-lain (yang memiliki resiko).
2. Untuk mempertimbangkan kemungkinan bahaya yang benar-benar akan
menimpa siapa
3. pun disituasi dan kondisi kasus tertentu dan tingkat keparahan mungkin bisa
bersumber dari hasil hal tersebut (resiko).
4. Untuk memungkinkan pengusaha untuk merencanakan, memperkenalkan
dan memantau langkah-langkah pencegahan untuk memastikan bahwa
resiko secara memadai dapat dikendalikan setiap saat.
 Proses HIRARC membutuhkan 4 langkah sederhana, yaitu :
1. Mengklasifikasikan kegiatan kerja.
2. Memutuskan apakah risiko dapat ditoleransi dengan menerapkan langkah-
langkah pengendalian (jika perlu).
3. Mengidentifikasi bahaya.
4. Melakukan penilaian risiko (menganalisa dan risiko perkiraan dari setiap
bahaya) dengan menghitung atau memperkirakan kemungkinan terjadinya
dan keparahan bahaya.

2. Daftar Periksa (Checklist)


Metoda sangat mudah dan sederhana yaitu dengan membuat daftar
periksa pemeriksaan bahaya ditempat kerja.
3 Analisa Bahaya Awal (Preliminary Hazard Analysis - PHA).
Analisa Bahaya Awal merupakan susatu sistem atau metode yang
biasanya digunakan untuk menjelaskan dengan teknik kualitatif untuk
identifikasi bahaya pada tahap awal dalam proses desain.

4. Analisa Pohon Kegagalan (Fault Tree Analysis - FTA).


FTA dapat digunakan untuk mengidentifikasi kombinasi kegagalan peralatan
dan kesalahan manusia yang dapat mengakibatkan kecelakaan.

5. Analisa What If (What If Analysis - ETA)


Merupakan teknik sederhana yang banayak digunakan pada tahap
awal,. Teknik what if merupakan salah satu teknik yang populer digunakan
untuk mengidentifikasi bahaya. Teknik ini bersifat brainstorming namun
seua anggota tim dipandu dengan menggunakan kata what-if.

6. Analisa Moda Kegagalan Dan Efek (Failure Mode And Effect


Analysis - FMEA).
Merupakan metode untuk mengidentifiikasi bahaya yang melibatkan
analisis modus kegagalan dari suatu entitas, penyebabnya, dampaknya, dan
hubungan kritikalitas dari kegagalan.

7. HAZOPS (Hazard and Operability Study).


HAZOPS adalah teknik identifikasi bahaya yang digunakan untuk
industri proses seperti industri kimia, petrokimia dan kilang minyak.
8. Analisa Keselamatan Pekerjaan (Job Safety Analysis - JSA).
Merupakan upaya untuk mempelajari/menganalisa dan serta pencatatan
tiap – tiap ururtan langkah kerja suatu pekerjaan, dilanjutkan dengan
identifiaksi potensi – potensi bahaya didalamnya kemudian diselsaikan
dengan menentukan upaya terbaik untuk mengurangi ataupun
menghilangkan/mengendalikan bahaya – bahaya pada pekerjaan yang
dianalisa tersebut.

9. Analisa Risiko Pekerjaan (Task Risk Analysis – TRA)


TRA adalah alat bantu yang terutama dapat digunakan untuk
pekerjaan yang mengandung potensi bahaya tinggi, pekerjaan yang belum
pernah dilakukan sebelumnya, atau pekerjaan yang sebelumnya pernah
mengalami kecelakaan.Penerapan teknik identifikasi bahaya ini dapat
dilakukan sepanjang daur hidup perusahaan mulai dari tahap pengembangan
sampai ke operasi.

RAGAM BAHAYA
1. Bahaya mekanis
2. Bahaya fisis
3. Bahaya kimia
4. Bahaya listrik
5. Bahaya ergonomi
6. Bahaya psikologis
7. Bahaya procedural

BAHAYA MEKANIS
1. Kinetis (pergerakan)
Gerak lateral : mengangkat, mengangkut, berjalan, benda melayang
dll
Gerak putar : roda, roda gigi, putaran batu mesin gerinda, bor dll.
2. Statis (diam)
Tajam, lancip, ketinggian, licin, dll
BAHAYA FISIS
1. Iklim kerja (Cahailbains , Trenchfoot, Frosbite, Hipotermia)
2. Pencahayaan (Kelelahan mata,Kelelahan psikis,Pegal seputar mata,
Sakitkepala, Kerusakan alat penglihayan, Peningkatan
kasus kecelakaan)
3. Bising (Gangguan (organ), pendengaran ,Gangguan konsentrasi
Pikiran, Tekanan darah naik, Kenaikan denyut jantung,
Sulit tidur, Sulit berkomunikasi)

4. Getaran (Gangguan kenyamanan Cepat lelah


Gangguan kesehatan (jangka panjang) Pusing Gangguan
penglihatan Raynauld Sakit pada tulang dan persendian)

5. Radiasi (Sinar UV; Bahaya terhadap kulit iritasi sampai


melepuh
Terhadap mata : konjugtivitis sampai katarak
Sinar IM ; Beban panas tubuh naik,Katarak )
BAHAYA KIMIA
1. Fokus : toksikologi
2. Toksikokinetik :
a. Absorbsi
b. Distribusi dan penyimpanan
c. Metabolisme
d. Ekskresi
(Mudah terbakar,Bisa terbakar, Korosif, Beracun,Gas
betekanan,Beracun,iritatif,Eksplosif,Piroforik,Reaktif terhadap
air,Karsinogen ,Pengoksidasi,Radioaktif)

BAHAYA LISTRIK
• Menyetrum
• Sumber panas kebakaran
• Panas lebih peralatan

BAHAYA ERGONOMI
• Alat-alat kerja tak sesuai dengan pekerja
• Ukuran perabotan tak sesuai
• Bekerja pada posisi yang sama terus menerus

BAHAYA PSIKOLOGI
• Serangan jantung
• Darah tinggi
• Dermatitis
• Eksim
• Nervous
• Emosional
• Lambung
• Usus 12 jari

BAHAYA BIOLOGI
• Bakteri
• Jamur
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Bahaya (hazard) adalah segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan
yang berpotensi menimbulkan kecelakaan atau cidera pada manusia,
kerusakan atau gangguan lainnya. Potensi bahaya adalah  segala sesuatu
yang berpotensi menyebabkan terjadinya kerugian, kerusakan, cidera, sakit,
kecelakaan atau bahkan dapat mengakibatkan kematian yang berhubungan
dengan proses dan sistem kerja. .Bahaya dibagi menjadi 6 yaitu Bahaya
Mekanik (Biomechaical hazards), Bahaya Fisik (Physical hazards), Bahaya
Kimia (Chemical hazards),bahaya kimia(chemical hazards, Bahaya
Psikososial (Psychosocial hazards),bahaya ergonomi(ergonomic hazards). ).
Dalam OHSAS 18001:2007 pengontrolan bahaya atau yang lebih dikenal
dengan Hirarki control dibagi menjadi 5 yaitu eliminasi,substitusi,rekayasa
engineering,administrasi,dan personal protektiv equipment.
4.2 Saran
Setelah dilakukannya identifikasi bahaya di ruangan fire,Drilling,dan
petroleum. Kami selaku mahasiswa yang masih perlu banyak pembelajaran
menyarankan sebagai berikut ;
1. Dalam pembuatan design ruangan perlu memanggil ahli agar
design ruangan sesuai dengan standart
2. Perlu dilakukannya inspeksi berkala agar barang barang yang
sudah tidak layak pakai diganti dengan yang baru atau diperbaiki.
3. Perlu ditingkatkan lagi masalah fasilitas ruangan, contohnya diberi
parfum ruangan