Anda di halaman 1dari 9

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

DOSEN : RIZKY KHAIRUR MASRUR ISFIA, S.IP

Disusun Oleh : Muhammad Ridho Pratama


Wahyu Rahmadani
Urwah

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN


INSAN MADANI AIR MOLEK

Tp. 2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan
mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di
Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam
perkembangan ilmu pengetahuandikemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya
kecenderungan yang lain.Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu
kesatuan kemudianmenjadi terpecah-pecah (Bertens, 1987, Nuchelmans, 1982).Lebih
lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa denganmunculnya ilmu
pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat
dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlahdikemukakan bahwa sebelum abad
ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut
sejalan dengan pemikiran VanPeursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu
ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada
sistemfilsafat yang dianut.
Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono(1999), filsafat
itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasidengan menunjukkan
bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuhmekar-bercabang secara subur.
Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri
dan masing-masing mengikutimetodologinya sendiri-sendiri.Dengan demikian,
perkembangan ilmu pengetahuan semakin lamasemakin maju dengan munculnya
ilmu-ilmu baru yang pada akhirnyamemunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan
baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-
spesialisasi. Olehkarena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985),
bahwailmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalitaat asas
(konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknyadapat
ditentukan.Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagiandalam
ilmu pengetahuan, sejak F.Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya
“Knowledge Is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan
terhadap kehidupan manusia, baik individualmaupun sosial menjadi sangat
menentukan. Karena itu implikasi yangtimbul menurut Koento Wibisono (1984),
adalah bahwa ilmu yang satusangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain
serta semakinkaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan
ilmuterapan atau praktis.Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu
yanglainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani sertamewadahi
perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlahyang mampu
mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapatImmanuel kant (dalam kunto
Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang
mampu menunjukkan batas- batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara
tepat. Oleh sebab ituFrancis bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat
sebagai ibuagung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).
Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena pengetahuan
ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”,maka lahirlah filsafat ilmu
sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang
filsafat menempatkan objeksasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat
ilmu terutamadiarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga
bagieksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal inididukung oleh
Israel Scheffler (dalam The Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa filsafat ilmu
mencari pengetahuan umum tentang ilmuatau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan
oleh ilmu.
1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana kedudukan Filsafat dalam Pengetahuan?
2. Apa pengertian filsafat menurut para ahli?
1.3.Tujuan
1. Menjelaskan mengenai kedudukan Filsafat dalam Pengetahuan.
2. Mengetahui pengertian filsafat menurut para ahli
BAB II
PEMBAHASAN
1. Sistem, Struktur, dan susunan Ilmu Pengetahuan
Peter R Senn  dalam Ilmu Dalam Perspektif (Jujun Suriasumantri) meskipun
tidak secara gamblang ia menyampaikan bahwa ilmu memiliki bangunan struktur
Van Peursen menggambarakan lebih tegas bahwa “Ilmu itu bagaikan bangunan yang
tersusun dari batu bata. Batu atau unsur dasar tersebut tidak pernah langsung di dapat
di alam sekitar. Lewat observasi ilmiah batu-batu sudah dikerjakan sehingga dapat
dipakai kemudian digolongkan menurut kelompok tertentu sehingga dapat
dipergunakan.Upaya ini tidak dilakukan dengan sewenang wenang, melainkan
merupakan hasil petunjuk yang menyertai susunan limas ilmu yang menyeluruh akan
makin jelas bahwa teori secara berbeda- beda meresap sampai dasar ilmu
Hidayat Nataatmaja menggambarkan dalam bahasanya sendiri mengenai hal
tersebut di atas bahwa “ilmu memiliki struktur dan struktur ilmu itu beberapa lapis.
Beliau membagi lapisan ilmu ke dalam 2 golongan/ kategori yaitu lapisan yang
bersifat terapan dan lapisan yang bersifat paradigmatik. Kedua kategori memiliki
karakter sendiri-sendiri. Lapisan terapan besifat praktikal dan lapisan paradigmatik
bersifat asumtif spekulatif

Dalam penerapannya, ilmu dapat dibedakan atas berikut di bawah ini:


a. Ilmu Murni (pure science)

Yang dimaksud dengan Ilmu murni adalah ilmu tersebut hanya murni bermanfaat
untuk ilmu itu sendiri dan berorientasi pada teoritisasi, dalam arti ilmu pengetahuan
murni tersebut terutama bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan ilmu
pengetahuan secara abstrak yakni untuk mempertinggi mutunya.
b. Ilmu Praktis (applied science)

Yang dimaksud dengan ilmu praktis adalah ilmu tersebut praktis langsung dapt
diterapkan kepada masyarakat karena ilmu itu sendiri bertujuan untuk
mempergunakan hal ikhwal ilmu pengetahuan tersebut dalam masyarakat banyak.
c. Ilmu Campuran

Yang dimaksud dengan ilmu campuran dalam hal ini adalah sesuatu ilmu yang
selain termasuk ilmu murni juga merupakan ilmu terapan yang praktis karena dapat
dipergunakan dalam kehidupan masyarakat umum.

Sedangkan dalam fungsi kerjanya, ilmu juga dapat dibedakan atas berikut ini:
d. Ilmu teoritis rasional

Ilmu teoritis rasional adalah ilmu yang memakai cara berpikir dengan sangat
dominan, deduktif dan mempergunakan silogisme, misalnya dogmatis hukum.
e. Ilmu empiris praktis

Ilmu empiris praktis adalah ilmu yang cara penganalisaannya induktif saja,
misalnya dalam pekerjaan social atau dalam mewujudkan kesejahteraan umum dalam
masyarakat.
f. Ilmu teoritis empiris

Ilmu teoritis empiris adalah ilmu yang memakai cara gabungan berpikir, induktif-
deduktif atau sebaliknya deduktif-induktif.
2. Jenis Pengetahuan
Pengetahuan yang dimiliki umat manusia dapat dibagi menjadi
dua jenis, yaitu pengetahuan yang berasal dari manusia itu sendiri, dan yang berasal d
ari luar manusia. Jenis pengetahuan yang kedua inilah yang dianggap atau dipercaya
berasal dari Pencipta Manusia dan Alam (yang olehorang beragama disebut Tuhan)
diistilahkn wahyu. Golongan materialismetidak mempercayai adanya jenis
pengetahuan kedua ini karena mereka tidakmempercayai adanya Tuhan. Al-Kindi
menyebut pengetahuan jenis pertamaitu pengetahuan Ilahi, yang dasarnya keyakinan
dan jenis kedua: pengetahuan, yang dasarnya pemikiran.
Tiga kategori pengetahuan
Pengetahuan manusia itu dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu:
1. Pengetahuan indera
Pengetahuan indra yaitu apa yang kita lihat, rasakan, sentuh,cium. Pengalaman
pancar indra ini melalui proses pemikiranlangsung menjadi pengetahuan.
2. Pengetahuan Ilmu
Pengetahuan ilmu ialah hasil berfikir secara sistematis danmendalam, disertai
riset dan eksperimen. Hasil berikir dan berbuat dengan metode ini membentuk suatu
3. Pengetahuan Filsafat
Pengetahuan filsafat ialah pemikiran secara sistematik, radikal,dan
universal.Ketiganya dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan pengetahuan, ilmu
pengetahuan, dan filsafat.
Batas-batas pengetahuan
1.Pengetahuan indera: lapangannya segala sesuatu yang dapatdisentuh oleh
pancaindera secara langsung; batasnya sampaikepada segala sesuatu yang tidak
tertangkap oleh pancaindera.
2.Pengetahuan ilmu: lapangannya segala sesuatu yang dapatditeliti (riset dan/atau
eksperimen); batasnya sampai kepadayang tidak atau belum dapat dilakukan
penelitian;
3.Pengetahuan filsafat; segala sesuatu yang dapat dipikirkan
oleh budi (rasio) manusia yang alami (bersifat alam) dan nisbi(relative, terbatas);
batasnya ialah batas alam, namun demikiania juga mencoba memikirkan sesuatu yang
di luar alam, yangdisebut oleh agama Tuhan.
3. Pengertian Filsafat menurut para ahli
1. Plato (427SM - 347SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhurmurid
Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafatadalah pengetahuan
tentang segala yang ada (ilmu pengetahuanyang berminat mencapai kebenaran
yang asli).

2. Aristoteles (384 SM - 322SM) mengatakan : Filsafat adalah


ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnyaterkandung
ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika,ekonomi, politik, dan estetika
(filsafat menyelidiki sebab danasas segala benda).
3. Marcus Tullius Cicero (106 SM - 43SM) politikus dan
ahli pidato Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuantentang sesuatu
yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.

4. Ibnu Sina dalam pernyataannya yang terkenal menyatakan, Jiwa berbeda


dengan Jasad (The Soul si distinct krom The Brody).

5. Al-Farabi (meninggal 950M), filsuf Muslim terbesar sebelumIbnu Sina,


mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuantentang alam maujud dan
bertujuan menyelidiki hakikat yangsebenarnya.6.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jadi, dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah sistem kebenaran tentang segala
sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil dari berfikir secara radikal, sistematis, dan
universal. Pengertian ini merupakan kumpulan dari pendapat para ahli mengenai
filsafat.Sedangkan kedudukan filsafat dalam pengetahuan adalah filsafat bertugas
memberi landasan filosofis untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori
suatu disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori
ilmiah.

Ontologi ilmu pengetahuan dalam filsafat ilmu adalah suatu yang sangat
penting karena segi lapis terdalam dari fondasi dunia itu pengetahuan. Ia adalah
sebuah ruang tempat diletakkannya “Undang-undang dasar  dunia ilmu pengetahuan”.
Disanalah ditetapkannya kearah manakah Sains Modern menuju dan kita sebagai
seorang pengguna, sadar atau tidak adalah orang-orang yang sedang bersama-sama
bergerak menuju arah yang sudah ditetapkan oleh para pendiri sains modern.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/6194367/MAKALAH_FILSAFAT_ILMU?auto=download
https://www.academia.edu/35425283/Makalah_Filsafat_Ilmu_Pengetahuan?
auto=download
https://www.slideshare.net/biliyanjaya/makalah-filsafat-ilmu-revisi