Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN KASUS

MANAJEMEN KEPERAWATAN

Disusun Oleh :
Kelompok 1 (Ruang Gelatik)

Arif Rahmanto
Novikha Nur Khumala Dewi
Nursyadza Pasmasari
Puput Lupita Sari
Yuriana Cahya Ningrum

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk profesional yang
merupakan bagian intergral dari pelayanan kesehatan .pelayanan
keperawatan menjadi bagian terdepan dari pelyanan kesehatan yang
menentukan kualitas pelayanan, 40%-60% pelayanan rumah sakit adalah
pelayanan keperawatan (Gillies, 2009). Untuk mewujudkan pelayanan
keperawatan yang berkualitas, pengelolaan pelayanan keperawatan haruslah
,mendapatkan perhatian secara menyeluruh.
Kualitas pelayanan keperawatan dalam tatanan pelayanan dirumah
sakit dipengaruhi banyak factor. Faktor-faktor tersebut harus dapat dikelola
secara efektif dan efisien dengan menggunakan proses
manajemen,khusunya manajemen keperawatan. Manajemen keperawatan
dilaksanakan melalui tahap-tahap yaitu pengkajian (kajian situasional),
perencanaan (strategi dan operasional) implementasi dan evaluasi.
Manajemen keperawatan adalah suatu proses kerja yang dilakukan oleh
anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara
prifesional untuk menjalankan fungsi manajemen agar berhasil secara
optimum. Seorang manajer keperawatan dituntut untuk dapat melakukan
suatu proses ysng meliputi 4 fungsi utama dari manajemen yaitu
perencanaan, pengorganisasian ,pengarahan dan kontrol.
Pelaksanaan praktek kepemimpinan dan manajemen keperawatan
dalam tatanan pelayanan kesehatan nyata. Bentuk pelayanan belajar dengan
praktek klinik dan seminar serta mengintergrasikannya pada keperawatan
klinik dalam prktek profesi.
Perawat sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, dituntut
untuk memiliki kemampuan manajerial yang tangguh sehingga pelayanan
yang diberikan mampu memuaskan kebutuhan klien. Kemampuan
manajerial yang dimiliki perawat dapat dicapai melalui banyak cara. Salah
satu cara untuk dapat meningkatkan ketrampilan manajemen yang handal
selain didapatkan di bangku kuliah juga harus melalui pembelajaran di lahan

1
praktik. Mahasiswa Program Studi Profesi Ners Universitas Aisyah
Pringsewu dituntut untuk dapat mengaplikasikan langsung pengetahuan
manajerialnya, yang berlangsung selama dengan arahan dari pembimbing
lapangan maupun dari pembimbing pendidikan yang intensif. Adanya
praktik manajemen ini diharapkan mahasiswa mampu menerapkan ilmu
yang didapat dan mengelola ruang perawatan dengan pendekatan proses
manajemen.
Peningkatan kualitas tenaga keperawatan dapat melalui upaya
pengenalan beberapa metode penugasan. Mengungkapkan bahwa metode
penugasan tenaga keperawatan merupakan salah satu cara agar asuhan
keperawatan dapat diberikan dengan tepat, baik dari segi efisiensi tenaga
maupun waktu, meningkatkan keterampilan dan motivasi kerja. Adapun
metode penugasan tenaga keperawatan yaitu metode fungsional,metode
kasus ,metode tim, dan metode keperawatan primer.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah melakukan praktik keperawatan mahasiswa praktik managemen
keperawatan mampu melakukan pengelolaan asuhan dan unit pelayanan
sesuai dengan konsep dan langkah-langkah manajeral keperawatan.
2. Tujuan khusus
a. Melakukan kajian situasi sebagai dasar untuk menyusun rencana
staregi
b. Mengidentifikasi, menganalisa dan menetapkan prioritas masalah
c. Merencanakan kegiatan berdasarkan masalah (membuat POA)
d. Melakukan implementasi sesuai POA
e. Melakukan evaluasi program yang sudah dilaksanakan.

2
C. Manfaat Penulisan
1. Ruangan
Dapat meningkatkan mutu pelayanan dan Asuhan keperawatan
profesional melalui pengelolaan managemen keperawatan termasuk
peran dan fungsi managemen di Ruangan.
2. Perawat
Dapat meningkatkan mutu pengetahuan dan kemampuan dalam
memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan pada pasien di tingkat
unit atau Asuhan keperawatan di suatu tatanan pelayanan kesehatan di
Ruangan Rumah Sakit Provinsi Lampung.
3. Bagi Pasien
Dengan adanya program MPKP di rumah sakit diharapkan pasien
merasakan pelayanan yang optimal, serta mendapat kenyamanan dalam
pemberian Asuhan keperawatan sehingga tercapai kepuasan pasien.
4. Bagi Mahasiswa
Sebagai sumber informasi khususnya bagi mahasiswa program profesi
Ners dalam aplikasi konsep kepemimpinan dan managemen
keperawatan secara langsung.

3
BAB II
TINJUAN TEORI

A. Manajemen Keperawatan
1. Pengertian Managemen Keperawatan
Manajemen merupakan suatu metode yang dipakai untuk membuat
suatu sistem berjalan sesuai dengan visi dan misi yang ada (Rosyidi,
2013). Menurut Gillies (2005) manajemen didefinisikan sebagai suatu
proses dalam menyelesaikan masalah pekerjaan melalui orang lain.
Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif
dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi (Rosyidi, 2013).
Manajemen keperawatan merupakan suatu bentuk koordinasi dan
integrasi sumber-sumber keperawatan dengan menerapkan proses
manajemen untuk mencapai tujuan dan obyektifitas asuhan keperawatan
dan pelayanan keperawatan (Huber, 2000).
Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui
anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara
profesional (Rosyidi, 2013). Dalam suatu manajemen keperawatan
diperlukan adanya manajer atau kepemimpinan yang merencanakan,
mengorganisasi, memimpin, dan mengevaluasi sarana dan prasarana
yang tersedia untuk memberikan asuhan keperawatan yang efektif dan
efisien bagi individu, keluarga, dan masyarakat. Manajer penting agar
tujuan dan kepentingan tiap perawat di dalamnya sesuai dengan visi dan
misi yang dituju (Rosyidi, 2013).
Manajemen keperawatan memahami dan memfasilitasi pekerjaan
perawat pelaksana serta mengelola kegiatan keperawatan. Lingkup
manajemen keperawatan adalah manajemen pelayanan kesehatan dan
manajemen asuhan keperawatan (Suysnto,2009). Manajemen pelayanan
keperawatan adalah pelayanan di rumah sakit yang dikelola oleh bidang
perawatan melalui tiga tingkatan manajerial yaitu manajemen puncak
(kepala bidang keperawatan), manajemen menengah (kepala unit
pelayanan atau supervisor), dan manajemen bawah (kepala ruang

4
perawatan). Keberhasilan pelayanan keperawatan sangat dipengaruhi
oleh manajer keperawatan melaksanakan peran dan fungsinya.

2. Fungsi Managemen
Fungsi manajemen keperawatan adalah memudahkan perawat
dalam menjalankan asuhan keperawatan yang holistik sehingga seluruh
kebutuhan klien di rumah sakit terpenuhi (Rosyidi, 2013).
a. Planning (Perencanaan)
Menurut Swanburg (2000) dalam Rosyidi (2013), planning
adalah memutuskan seberapa luas akan dilakukan, bagaimana
melakukannya, dan siapa yang melakukannya. Fungsi perencanaan
merupakan suatu penjabaran dari tujuan yang ingin dicapai,
perencanaan sangat penting untuk melakukan tindakan (Rosyidi,
2013).
 Tujuan perencanaan:
a) Untuk menimbulkan keberhasilan dalam mencapai sasaran dan
tujuan
b) Agar penggunaan personel dan fasilitas yang tersedia efektif
c) Membantu dalam koping terhadap situasi krisis
d) Efektif dalam hal biaya
e) Membantu menurunkan elemen perubahan, karena
perencanaan berdasarkan masa lalu dan akan datang
f) Dapat digunakan untuk menemukan kebutuhan untuk berubah
 Tahapan dalam perencanaan:
a) Menetapkan tujuan
b) Merumuskan keadaan sekarang
c) Mengidentifikasi kemudahan dan hambatan
d) Mengembangkan serangkaian kegiatan
 Jenis perencanaan:
1. Perencanaan strategi
Perencanaan yang sifatnya jangka panjang yang ditetapkan
oleh pemimpin dan merupakan arahan umum suatu organisasi.

5
Digunakan untuk mengembangkan pelayanan perawatan dan
merevisi pelayanan perawatan yang sudah tidak sesuai.
2. Perencanaan operasional
Menguraikan aktivitas dan prosedur yang akan digunakan,
menyusun jadwal pencapaian tujuan, menentukan perawat
yang bertanggung jawab untuk setiap aktivitas dan prosedur,
menggambarkan cara menyiapkan perawat dalam bekerja, dan
menyiapkan prosedur untuk mengevaluasi pasien.
 Manfaat Perencanaan
1. Membantu proses manajemen dalam menyesuaikan diri
dengan perubahan-perubahan lingkungan
2. Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran
operasi lebih jelas
3. Membantu penetapan tanggung jawab lebih tepat
4. Memberikan cara pembrian perintah yang tepat untuk
pelaksanaan
5. Memudahkan koordinasi
6. Membuat tujuan lebih khusus, lebih terperinci dan lebih mudah
di pahami
7. Meminimalkan pekerjaan yang idak pasti
8. Menghemat waktu dan dana
 Keuntungan Perencanaan
1. Meningkatkan peluang sukses
2. Membutuhkan pemikiran analitis
3. Mengarahkan orang ke tindakan
4. Memodifikasi gaya manajemen
5. Fleksibilitas dalam pengambilan keputusan
6. Meningkatkan keterlibatan anggota
 Kelemahan Perencanaan
1. Kemungkinan pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan
berlebihan pada konstribusi nyata
2. Cenderung menunda kegiatan

6
3. Terkadang kemungkinan membatasi inovasi dan inisiatif
4. Terdapat rencana yang diikuti oleh / atau dengan rencana yang
tidak konsisten
a. Organizing (pengorganisasian)
Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk
menetapkan, mengelompokan,dan mengatur berbagai macam
kegiatan penetapan tugas tugas dan wewenang seseorang,
pendelegasian wewenang dalam rangka mencapai tujuan.
Fungsi pengorganisasian adalah alat untuk memadukan semu
kegiatan yang beraspek personil, finansial, material, dan tata
cara dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(muninjaya,1999)
b. Gerak Aksi ( actuating )
Actuating atau disebut juga “gerak aksi “ mencakup
kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer keperawatan
untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang telah
ditetapkan dalam unsur perencanaan dan pengorganisasian
agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
a. Pengelolaan Staf ( staffing)
Fungsi staffing mencakup memperoleh, menempatkan,
dan mempertahankan anggota atau staff pada posisi yang
dibutuhkan dalam pekerjaan keperawatan.
b. Pengarahan (directing)
Seorang manajer keperawatan harus mampu memberikan
pengarahan kepada staf keperawatan sehingga mereka menjadi
perawat yang berpengatuhuan dan mampu bekerja secara
efektif guna mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
c. Pengendalian ( controlling )
Controlling adalah proses pemeriksasn apakah kegiatan
yang terjadi sesuai dengan rencana yang telah disepakati,
instruksi yang dikeluarkan, serta prinsip-prinsip yang
ditetapkan, yang bertujuan untuk menunjukkan kekurangan dan

7
kesalahan agar dapat diperbaiki dan tidak terjadi lagi (Fayol,
1949 dikutip Swanburg 2001)

3. Komponen Manajemen Keperawatan


Terdapat tiga komponen penting dalam manajemen asuhan
keperawatan, yaitu : Sistem pengorganisasian dalam pemberian asuhan
keperawatan, sistem klasifikasi pasien dan metode proses asuhan
keperawatan
a. Sistem pengorganisasian
Sistem pengorganisasian dalam pemberian asuhan keperawatan terdiri
dari
1) Metode fungsional
Metode fungsional yaitu suatu metode pemberian asuhan
keperawatan dengan cara membagi habis tugas pada perawat yang
berdinas.
 Kelebihan metode fungsional
 Menekankan efisiensi, pembagian tugas jelas dan
pengawasan baik untuk RS yang kekurangan tenaga.
 Perawat senior bertanggung jawab pada tugas manajerial
sedangkan perawat junior bertanggung jawab pada
perawatan pasien.
 Kelemahan metode fungsional
 Pasien merasa tidak puas karena pelayanan keperawatan
yang terpisah-pisah atau tidak dapat menerapkan proses
keperawatan.
 Perawat hanya melakukan tindakan yang berkaitan dengan
ketrampilan saja.
2) Metode tim
Metode tim yaitu pemberian asuhan keperawatan secara total
kepada sekelompok pasien yang telah ditentukan. Perawat terdiri
dari tenaga profesional, teknikal dan pembantu.

8
a) Konsep metode tim
 Ketua TIM harus mampu menerapkan berbagai teknik
kepemimpinan.
 Komunikasi yang efektif agar rencana keperawatan
tercapai.
 Anggota TIM harus menghargai kepemimpinan ketua tim.
b) Kelebihan metode tim
 Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
 Mendukung pelaksanaan proses perawatan
 Komunikasi antara tim berjalan dengan baik sehingga
konflik mudah diatasi
 Memberikan kepuasan pada anggota tim
c) Kelemahan metode tim
 Komunikasi antar anggota tim dalam bentuk konferensi
tim yang sulit terbentuk pada waktu-waktu sibuk.
2) Model keperawatan primer
Metode primer yaitu metode pemberian asuan asuhan
kerawatan komprehensif yang merupakan penggabungan model
praktik keperawatan profesional. Setiap perawat profesional
bertanggunng jawab terhadap asuhan keperwatan pasien yang
menjadi tanggung jawabnya.
a) Konsep dasar metode primer
 Ada tanggung jawab dan tanggung gugat.
 Ada otonomi
 Ketertiban pasien dan keluarga.
b) Ketenagaan metode primer
 Setiap perawat primer adalah perawat “bed side”
 Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat
 Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal
 Perawat primer dibantu oleh perawat profesional lainnya
maupun non profesional sebagai perawat asisten.

9
c) Kelebihan metode keperawatan primer
 Bersifat kontinuitas dan komprehensif
 Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi
terhadap hasil dan memungkinkan pengembangan diri.
d) Kelemahan metode keperawatan primer
 Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki
pengalaman dan pengetahuan yang memadai dan kriteria
assertife, self direction, kemampuan mengambil keputusan
yang tepat, menguasai keperawatan klinik, accountable
serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
2. Sistem klasifikasi Pasien
Sistem klasifikasi pasien yaitu mengelompokkan pasien sesuai
dengan ketergantungannya dengan perawat atau waktu dan kemampuan
yang dibutuhkan untuk memberi asuahan keperawatan yang
dibutuhkan.
Klasifikasi tingkat ketergantungan pasien menurut Douglas (1984),
adalah :
1) Minimal care
Perawatan minimal memerlukan waktu selama 1-2 jam/24
jam/dengan kriteria :
 Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
 Makan dan minum dilakukan sendiri
 Ambulasi dengan pengawasan.
 Observasi tanda- tanda vital dilakukan tiap shiff
 Pengobatan minimal, status psikologis stabil
 Persiapan pengobatan memerlukan prosedur
2) Intermediet care
Memerlukan waktu 3-4 jam/24 jam dengan kriteria :
 Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
 Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam
 Ambulasi dibantu, Pengobatan lebih dan sekali

10
 Klien dengan pemasangan infus, persiapan pengobatan
memerlukan prosedur.
3) Perawatan intensif
Perawatan total care memerlukan waktu 5-6/24 jam dengan
kriteria :
 Segalanya diberikan atau dibantu
 Posisi diatur, observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
 Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi intra vena
 Pemakaian suction
 Gelisah atau disorientasi
3. Metode Proses Keperawatan
Menurut Ali (1997) proses keperawatan adalah metode asuhan
keperawatan yang ilmiah,sistematis,dinamis,dan terus-menerus serta
berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan
pasien/klien,di mulai dari pengkajian (pengumpulan data, analisis data
dan penentuan masalah), diagnosis keperawatan, pelaksanaan, dan
penilaian tindakan keperawatan. Metode proses keperawatan mencakup
tahap-tahap dalam proses keperawatan, yaitu :
1) Pengkajian
Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap
dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah
kesehatan dan keperawatan yang di hadapi pasien baik fisik, mental,
sosial maupun spiritual dapat ditentukan.tahap ini mencakup tiga
kegiatan,yaitu pengumpulan data, analisis data dan penentuan
masalah kesehatan serta keperawatan.
a) Pengumpulan data
Tujuanya adalah diperoleh data dan informasi mengenai
masalah kesehatan yang ada pada pasien sehingga dapat
ditentukan tindakan yang harus di ambil untuk mengatasi masalah
tersebut yang menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual
serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Data tersebut
harus akurat dan mudah dianalisis. Jenis data antara lain, data

11
objektif, yaitu data yang diperoleh melalui suatu pengukuran,
pemeriksaan, dan pengamatan, misalnya suhu tubuh, tekanan
darah, serta warna kulit. Data subjekyif, yaitu data yang diperoleh
dari keluhan yang dirasakan pasien, atau dari keluarga
pasien/saksi lain misalnya, kepala pusing, nyeri dan mual.
Adapun fokus dalam pengumpulan data meliputi :
 Status kesehatan sebelumnya dan sekarang
 Pola koping sebelumnya dan sekarang
 Fungsi status sebelumnya dan sekarang
 Respon terhadap terapi medis dan tindakan keperawatan
 Resiko untuk masalah potensial
 Hal-hal yang menjadi dorongan atau kekuatan klien
b) Analisa data
Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan
kemampuan berpikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu
pengetahuan.
c) Perumusan masalah
Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa
masalah kesehatan. Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat
diintervensi dengan asuhan keperawatan (masalah keperawatan)
tetapi ada juga yang tidak dan lebih memerlukan tindakan medis.
Selanjutnya disusun diagnosis keperawatan sesuai dengan
prioritas. Prioritas masalah ditentukan berdasarkan criteria
penting dan segera. Penting mencakup kegawatan dan apabila
tidak diatasi akan menimbulkan komplikasi, sedangkan segera
mencakup waktu misalnya pada pasien stroke yang tidak sadar
maka tindakan harus segera dilakukan untuk mencegah
komplikasi yang lebih parah atau kematian. Prioritas masalah
juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut
Maslow, yaitu : Keadaan yang mengancam kehidupan, keadaan
yang mengancam kesehatan, persepsi tentang kesehatan dan
keperawatan.

12
2) Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang
menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan
pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara
akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi
secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan,
membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito,2000). Perumusan
diagnosa keperawatan :
a. Actual : menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data
klinik yang ditemukan.
b. Resiko: menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika
tidak di lakukan intervensi.
c. Kemungkinan : menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan
untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan.
d. Wellness : keputusan klinik tentang keadaan
individu,keluarga,atau masyarakat dalam transisi dari tingkat
sejahtera tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi.
e. Syndrom : diagnose yang terdiri dar kelompok diagnosa
keperawatan actual dan resiko tinggi yang diperkirakan
muncul/timbul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.
3) Rencana tindakan keperawatan
Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu
klien beralih dari status kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di
uraikan dalam hasil yang di harapkan (Gordon,1994).
Rencana tindakan keperawatan merupakan pedoman tertulis
untuk perawatan klien. Rencana perawatan terorganisasi sehingga
setiap perawat dapat dengan cepat mengidentifikasi tindakan
perawatan yang diberikan. Rencana asuhan keperawatan yang di
rumuskan dengan tepat memfasilitasi kontinuitas asuhan perawatan
dari satu perawat ke perawat lainnya. Sebagai hasil, semua perawat

13
mempunyai kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas
tinggi dan konsisten. Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur
pertukaran informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas.
Rencana perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka
panjang. (potter,1997)
4) Tindakan keperawatan
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai
tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai dimulai setelah
rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk
membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu
rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. Adapun
tahap-tahap dalam tindakan keperawatan adalah sebagai berikut :
 Tahap 1 : persiapan yaitu tahap awal tindakan keperawatan ini
menuntut perawat untuk mengevaluasi yang diindentifikasi pada
tahap perencanaan.
 Tahap 2 : intervensi yaitu fokus tahap pelaksanaan tindakan
perawatan adalah kegiatan dan pelaksanaan tindakan dari
perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional.
Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan : independen,
dependen dan interdependen.
 Tahap 3 : dokumentasi yaitu pelaksanaan tindakan keperawatan
harus diikuti oleh pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap
suatu kejadian dalam proses keperawatan.
5) Evaluasi tindakan keperawatan
Perencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan
keberhasilan tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat
dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan
pedoman/rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan
dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian
pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan

14
pasien dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Sasaran
evaluasi adalah sebagai berikut :
 Proses asuhan keperawatan, berdasarkan criteria/ rencana yang
telah disusun.
 Hasil tindakan keperawatan ,berdasarkan criteria keberhasilan
yang telah di rumuskan dalam rencana evaluasi.
Terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu :
 Tujuan tercapai,apabila pasien telah menunjukan
perbaikan/kemajuan sesuai dengan criteria yang telah di tetapkan.
 Tujuan tercapai sebagian,apabila tujuan itu tidak tercapai secara
maksimal, sehingga perlu di cari penyebab dan cara
mengatasinya.
 Tujuan tidak tercapai, apabila pasien tidak menunjukan
perubahan/kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah
baru.dalam hal ini perawat perlu untuk mengkaji secara lebih
mendalam apakah terdapat data, analisis, diagnosa, tindakan, dan
faktor-faktor lain yang tidak sesuai yang menjadi penyebab tidak
tercapainya tujuan.
6) Dokumentasi keperawatan
Dokumentasi adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak
yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu
yang berwenang. (Potter, 2005)
Banyak para ahli menyusun sistem dokumentasi keperawatan.
Sistem dokumentasi ini masing-masing memiliki keunikan
tersendiri, namun pada dasarnya tidak banyak perbedaan. Ada
beberapa sistem pendokumentasian yang sering dipakai antara lain :
Catatan Berorientasi Pada Sumber (Source Oriented Record ISOR).
Sistem ini memberi kemudahan dalam menempatkan catatan
mengenai data yang diperoleh karena biasanya masing-masing
format telah dibuat secara spesifik. Namun demikian sistem ini
memiliki kelemahan antara lain informasi menjadi sulit dipelajari

15
secara lengkap karena masing-masing data berada pada format yang
berbeda. Komponen SOR meliputi hal berikut :

a. Lembar penerimaan
Lembar ini berisi data demografi pasien/klien, seperti, nama,
alamat, tempat dan tanggal lahir, status perkawinan
serta,diagnosis pada saat masuk rumah sakit.
b. Lembar instruksi dokter
Lembar ini digunakan untuk mencatat setiap instruksi dokter
yang dilengkapi dengan tanggal dan, tanda tangan dokter yang
bersangkutan.
c. Lembar riwayat medik.
Lembar ini berisi catatan tentang hasil pemeriksaan fisik,
kondisi kesehatan klien, perkembangan, dan tindak lanjut.
d. Catatan perawat
Catatan ini mencakup catatan, pengkajian, diagnosis,
intervensi dan evaluasi.
e. Catatan dan laporan khusus
Catatan ini berisi tentang hasil konsultasi, pemeriksaan
laboratorium, laporan operasi, berbagai terapi fisik, tanda-tanda
vital, masukan dan haluaran cairan serta pengobatan.
Terdapat 3 model dokumentasi yang saling berhubungan, saling
ketergantungan dan dinamis, yaitu komunikasi, proses keperawatan
dan standar dokumentasi.
a. Ketrampilan komunikasi secara tertulis
adalah ketrampilan perawat dalam mencatat dengan jelas,
mudah dimengerti. Dalam kenyataannya dengan kompleknya
pelayanan keperawatan dan peningkatan kualitas, keperawatan,
perawat dituntut untuk dapat mendokumentasikan secara benar.
Keterampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat
untuk mengkomunikasikan kepada tenaga kesehatan lain.

16
b. Dokumentasi proses keperawatan
Perawat memerlukan keterampilan dalam mencatat proses
keperawatan. Pencatatan proses keperawatan merupakan, metode
yang tepat untuk pengambilan, keputusan yang sistematis,
problem solving, dan riset lebih lanjut. Format proses
keperawatan merupakan kerangka atau dasar keputusan dan
tindakan termasuk juga pencatatan hasil berfikir dan tindakan
keperawatan. Dokumentasi adalah bagian integral proses, bukan
sesuatu yang berbeda dan metode problem solving.
c. Standar Dokumentasi 
Perawat memerlukan suatu, ketrampilan untuk dapat
memenuhi standar yang sesuai. Standar dokumentasi adalah suatu
pernyataan tentang kualitas dan kuantitas dokumentasi yang
dipertimbangkan secara adekuaat dalam suatu situasi tertentu.
Dengan adanya standar dokamentasi memberikan informasi
bahwa adanya suatu ukuaran terhadap kualitas dokumentasi
keperawatan.
d) Keterampilan Dalam Dokumentasi
Ketrampilan dalam dokumentasi sangat bergantung pada 5
komponen yaitu :
1. Novice (orang baru)
Dengan keberadaan orang baru akan diharapkan membawa
perubahan dan pembaharuan.
2. Advanced Beginer (pemula lanjut)
Pola pikir yang maju. ilmiah dan dilandasi motivasi yang
tinggi terhadap keprofesian mudah untuk menunjang
ketrampilan dan kemampuan pendokumentasian.
3. Competent (mampu)
Merupakan ciri yang harus dimiliki oleh perawat yang bertugas
memberikan arahan keperawatan.
4. Proficient (cakap)

17
Kemampuan tanpa diikuti kecakapan akan menjadikan diri
terbelakang dan kemajuan.
5. Expert (ahli)
Keahlian dalam melakukan dokumentasi proses keperawatan
sangat diperluakan oleh seorang perawat.
4. Proses Manajemen Keperawatan
Manajemen keperawatan merupakan suatu proses yang dilaksanakan
sesuai dengan pendekatan sistem terbuka. Oleh karena itu manajeman
keperawatan terdiri atas beberapa elemen yang tiap-tiap elemen saling
berinteraksi. Pada umumnya suatu sistem dicirikan oleh 5 elemen, yaitu
input, proses, output, kontrol dan mekanisme umpan balik.
Input dalam proses manajemen keperawatan antara lain berupa
informasi, personel, peralatan, dan fasilitas. Proses pada umumnya
merupakan kelompok manajer dari tingkat pengelola keperawatan tertinggi
sampai keperawatan pelaksana yang mempunyai tugas dan wewenang
untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan. Output atau
keluaran umumnya dilihat dari hasil atau kualitas pemberian asuhan
keperawatan dan pengembangan staf, serta kegiatan penelitian untuk
menindaklanjuti hasil atau keluaran. Kontrol dalam proses manajemen
keperawatan dapat dilakukan melalui penyusunan anggaran yang
proporsional, evaluasi penampilan kerja perawat, pembuatan prosedur
sesuai dengan standar dan akreditasi. Sedangkan umpan balik dilakukan
melalui laporan keuangan, audit keperawatan dan survei kendali mutu,
serta penampilan kerja perawat.
Proses manajemen keperawatan dalam aplikasi di lapangan berada
sejajar dengan proses keperawatan sehingga keberadaan manajemen
keperawatan dimaksudkan untuk mempermudah pelaksanaan proses
keperawatan. Proses manajemen sebagaiman juga proses keperawatan
terdiri atas kegiatan pengumpulan data, identifikasi masalah, pembuatan
rencana, pelaksanaan kegiatan dan kegiatan penilaian hasil. (Gillies, 1985)

18
19
Gambar 2.1 Sistem Manajemen Bangsal Keperawatan

MASUKAN/INPUT HASIL/OUTPUT
PROSES

Data Perawatan Pasien

Personalia

Pengumpulan Perencan Pengatur Pengelolaan Kepemimpin Pengawas Pengemba


Peralatan
Data aan an Pegawai an an ngan Staf

Persediaan
Riset

Informasi ttg : Tujuan Sistem : Bentuk Klasifikasi Pasien : Kekuasaan : Kendali mutu :
 Pasien  Standar Organisasi :  Penentuan  Pemecahan  Audit
 Pegawai  Kebijakan  Uraian kebutuhan masalah  Penampilan
 Sumber-  Budget jabatan / pegawai  Pengambilan kerja
sumber pekerjaaan  Penjadwalan keputusan  Disiplin
 Evaluasi  Penugasan  Mengatasi  Hubungan kerja
pekerjaan  Pengurangan konflik  Komputer
 Kerja Tim / absen  Komunikasi dan sistem
kelompok  Pengurangan sistem analisis
pindah transaksional
 Pengembangan
pegawai
Sumber : Gillies, 1985

20
Gambar 2.2 Proses Manajemen Keperawatan Mendukung Proses Keperawatan

Diagnosis Perencanaan Implementasi

Evaluasi
Pengkajian

Pengelolaan Kepegawaian

Pengumpulan Data Perencanaan Kepemimpinan Pengawasan

PROSES MANAJEMEN

Sumber : Gillies, 1985

21
5. Fungsi Manajemen Dalam Keperawatan
Teori manajemen keperawatan berkembang dari teori manajemen
umum yang memerintahkan penggunaan sumber daya manusia dan
materi secara efektif. Empat elemen besar dari teori manajemen adalah
perencanaan, pengorganisasian, mengarahkan atau memimpin, dan
mengendalikan atau mengevaluasi. Seluruh aktifitas manajemen,
kognitif, dan psikomotor, berada dalam satu atau lebih dari fungsi-fungsi
utama yang bergerak secara simultan.
Fungsi manajemen keperawatan adalah sebagai berikut :
1. Planning
Planning atau perencanaan dimaksudkan untuk menyusun suatu
perencanaan yang strategis dalam mencapai suatu tujuan organisasi
yang telah ditetapkan. Perencanaan disini dimaksudkan nntuk
menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan kepada semua
pasien, menegakkan tujuan, mengalokasikan semua anggaran belanja,
memutuskan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan,
membuat pola struktur organisasi yang dapat mengoptimalkan
efektifitas staff serta menegakkan kebijaksanaan dan prosedur
operasional untuk mencapai visi dan misi institusi yang telah
ditetapkan. (Nursalam, 2002)
2. Organizing
a. Struktur Organisasi
Masing-masing organisasi memiliki struktur formal dan
informal yang menentukan alur kerja dan hubungan timbal balik
antar pribadi. Struktur fotmal direncanakan dan dipublikasikan,
struktur informal tidak direncanakan dan samar. Seorang manajer
perawatan harus mengerti dan memakai keduanya secara efektif.
Struktur formal organisasi merupakan penyusunan resmi jabatan
kedalam pola hubungan kerja yang akan mengatur usaha banyak
pekerja dari bermacam-macam kepentingan dan kemauan.
Struktur informal organisasi terdiri dari hubungan timbal balik
pribadi yang tidak resmi diantara para pekerja yang mempengaruhi

22
efektifitas kerja mereka. Kualitas hubungan timbal balik seorang
manajer dengan lainnya langsung dikaitkan dengan kemampuan
kepemimpinannya. Mengingat struktur formal dan informal
organisasi saling melengkapi, manajer perawat bisa memakai
struktur organisasi informal unttuk mengganti kerugian karena
kekurangan atau kegagalan dalam struktur formal.
b. Job Deskriptions
Merupakan suatu uraian pembagian tugas sesuai peran yang ia
jalankan, misalnya sorang kepala ruang maka tugas dan tanggung
jawabnya, jadi antara satu dengan yang lainnya mempunyai tugas
dan tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan perannya.
c. Metode Penugasan
Metode penugasan yang ditetapkan harus dapat memudahkan
pembagian tugas perawat yang disesuaikan dengan pengetahuan
dan ketrampilan perawat dan sesuai dengan kebutuhan klien.
Apabila metode penugasan tidak diterapkan maka pelayanan
asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien menjadi tidak
opimal.
Jenis model asuhan keperawatan menurut Grant & Massey
(1997) dan Marquis & Houston (1998), antara lain :
1) Model Fungsional
Metode fungsional dilakukan oleh perawat dalam
pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada
saat perang dunia ke II. Pada saat itu karena masih terbatasnya
jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya
melakukan 1 sampai 2 jenis intervensi (merawat luka kepada
semua pasien di bangsal).

23
Gambar 2.3 Skema Model Fungsional

Kepala Ruang

Perawat Perawat Perawat Perawat Visite


Pengobatan Perawatan Luka Menyuntik

Pasien

2) Model Tim
Model ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota
yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap
sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi dalam group kecil
yang saling membantu.

Gambar 2.4 Skema Model Tim

Kepala Ruang

Ketua Tim Ketua Tim

Anggota Tim Anggota Tim

Pasien Pasien

3) Model Primer
Model penugasan dimana 1 orang perawat bertanggung
jawab penuh selama 24 jam terhadap askep pasien mulai dari
pasien masuk sampai keluar rumah sakit.

24
Gambar 2.5 Skema Model Primer

Dokter Kepala Ruang Penunjang

Primary Nurse

Pasien

Tugas Gilir Tugas Gilir Tugas Gilir Sesuai


Sore Malam
Kebutuhan

4) Manajemen Kasus
Setiap perawat di tugaskan untuk melayani seluruh
kebutuhan pasien saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh
perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan
bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari
bberikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan 1
pasien 1 perawat, dan hal ini umumnya dilakukan untuk
perawat privat atau keperawatan khusus seperti isolasi dan
intensive care.
5) Model Tim Primer.
Pada model ini digunakan kombinasi dari kedua sistem.
Menurut Ratna S. Sudarsono (2000), penerapan model ini
didasarkan pada beberapa alasan yaitu :
 Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena
sebagai perawat primer harus mempunyai latar belakang
pendidikan S1 keperawatan atau setara.
 Keperawatan tim tidak digunakan secara murni karena
tanggung jawab asuhan keperawatan pasien terfragmentasi
pada berbagai tim.

25
 Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapkan
kontinuitas asuhan keprawatan dan accountabilitas asuhan
keperawatan terdapat pada primer.
Hal-hal yang perlu di pertimbangkan dalam penentuan
pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan (Marquis &
Houston, 1998), yaitu :
1. Sesuai dengan visi dan misi institusi
2. Dapat diterapkannya proses keperawatan dalam askep
3. Efisien dan efektif dalam penggunaan biaya
4. Terpenuhinya kepuasan klie, keluarga dan masyarakat
5. Kepuasan kinerja perawat
6. Terlaksananya komunikasi yang adequate antara perawat dan
tim kesehatan lainnya.
3. Actuiting
a. Motivasi
Motivasi adalah karakteristik psikologi manusia yg memberi
konstribusi pada tingkat komitmen seseorang, hal ini termasuk
faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan
tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu (Stoner, Freman
11995). Motivasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu (Ngalim, 2000). Dari pengertian diatas
dapat diambil 3 point penting yaitu : kebutuhan, dorongan dan
tujuan.
Kebutuhan muncul apabila seseorang merasakan sesuatu yg
kurang baik fisiologis maupun psikologis, dorongan merupakan
arahan untuk memenuhi kebutuhan tadi sedangkan tujuan adalah
akhir dari satu siklus motivasi. ( Luthan, 2000)
b. Sistem klasifikasi pasien
Sistem klasifikasi pasien adalah metode pengelompokan
pasien menurut jumlah dan kompleksitas persyaratan perawatan
mereka. Di dalam kebanyakan sistem klasifikasi, pasien
dikelompokkan sesuai dengan kebergantungan mereka pada

26
pemberi perawatan atau sesuai dengan waktu pemberian perawatan
dan kemampuan yang diperlukan untuk memberikan perawatan.
Tujuan setiap sistem klasifikasi pasien adalah untuk mengkaji
pasien dan menghargai masing-masing nilai angkanya yang
mengukur volume usaha yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan perawatan pasien.
Untuk dapat mengembangkan sistem klasifikasi pasien yang
akan dijalankan, manajer perawat harus menentukan jumlah
kategori pembagian pasien; karakteristik pasien di masing-masing
kategori, jumlah dan jenis prosedur perawatan yang akan
dibutuhkan oleh jenis pasien di dalam masing-masing kategori, dan
waktu yang dibutuhkan untuk melakukan prosedur tersebut,
memberikan dukungan emosional serta memberikan pengajaran
kesehatan kepada pasien masing-masing kategori. Karena tujuan
sistem klasifikasi pasien adalah menghasilkan informasi mengenai
perkiraan beban kerja keperawatan, masing-masing sistem
membolehkan usaha kualifikasi waktu.
c. Ketenagaan keperawatan dan pasien
Tujuan manajemen ketenagaan di ruang rawat adalah untuk
mendayagunakan tenaga keperawatan yang efektif dan produktif
yang dapat memberikan pelayanan bermutu sehingga dapat
memenuhi pengguna jasa.
Perkiraan kebutuhan perawat harus memperhatikan kategori
klien yang dirawat, ratio perawat dan metode penugasan.
Terdapat beberapa formula dalam perhitungan kebutuhan
tenaga, yaitu sebagai berikut :
1) Rumus Gillies
Σ jam kep yg dibutuhkan klien/hr X rata-rata klien/hr X Σ
hr/tahun
Σ hr/tahun – hr libur perawat X Σ jam kerja/hari
= Σ jam kep yg dibutuhkan klien / tahun
Σ jam kerja / tahun

27
Catatan :
 Waktu perawatan menurut Gillies (1989) :
a. Waktu perawatan langsung
- Self care = ½ X 4 jam = 2 jam
- Partial care = ¾ X 4 jam = 3
jam
- Total care = 1 – 1½ X 4 jam = 4-6 jam
- Intensive care = 2 x 4 jam = 8 jam
- Rata-rata perawatan langsung = 4-5 jam
b. Waktu perawatan tak langsung : 38
menit/klien/hari
c.Waktu penyuluhan : 15 menit/klien/hari
 Ratio perawat ahli : trampil : 55 % : 45 %
 Proporsi dinas pagi : sore : malam : 47 % : 36 % : 17 %
2) Rumus Douglas

Σ perawat = Σ klien X derajat ketergantungan

Tabel 2.1 Derajat Ketergantungan Klien

Minimal care Partial care Total care


Σ
klien Mala Mala Sor Mala
Pagi Sore Pagi Sore Pagi
m m e m
0,3
1 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,20
0
0,6
2 1,34 0,28 0,14 0,54 0,30 0,20 0,72 0,40
0

28
3) Rumus Depkes 2003
Berdasarkan :
 Tingkat ketergantungan klien
 Rata-rata klien/hari
 Jam perawatan yang diperlukan/hari/klien
 Jam perawatan yang diperlukan/ruangan/hr
 Jam kerja efektif setiap perawat
Cara perhitungan :
 Hitung jumlah perawat yang tersedia
a. Σ jam perawat
= A
Jam kerja efektif per shift
 Tambahkan dengan faktor koreksi hari libur/cuti/hr besar dan
tugas-tugas non keperawatan
b. Σ hr minggu/th + cuti + hr besar
X hasil A = B
Jumlah hari kerja efektif
c. Tugas non keperawatan
= Jumlah tenaga keperawatan + B X 25% = C
 Jumlah perawat yang dibutuhkan adalah : A + B + C
 Berdasarkan hasil workshop Depkes di Ciloto di tetapkan
bahwa :
- Libur minggu: 52 hari
- Cuti tahunan : 12 hari
- Libur Nasional : 10 hari
- Sakit/ijin : 7-12 hari
d. Penjadwalan
Penjadwalan adalah satu aspek dari fungsi kepegawaian.
Kepegawaian adalah perhimpunan dan persiapan pekerja yang
dibutuhkan untuk melakukan misi dari sebuah organisasi.
Penjadwalan adalah penentuan pola jam kerja masuk dan libur
mendatang untuk pekerja dalam sebuah unit, seksi atau divisi.
Agar supervisor dan kepala perawat dapat mengatur jadwal
waktu personil yang libur dan yang masuk secara adil, harus ada

29
departemen atau divisi yang mengatur kebijaksanaan penjadwalan
untuk memandu pembuatan keputusan. Apabila kebijaksanaan
menyangkut persoalan berikut tidak ada, maka manajer perawat
harus bersatu sebagai sebuah kelompok untuk menyusun :
1) Orang dengan jabatan yang bertanggung jawab
mempersiapkan jadwal waktu untuk personil di masing-masing
unit.
2) Periode waktu untuk diliputi oleh masing-masing jadwal
masuk / libur.
3) Banyaknya pemberitahuan di muka yang diberikan para
pekerja menyangkut jadwal masuk/libur .
4) Waktu masuk/libur total yang diperlukan oleh masing-
masing pekerja per – hari, minggu atau bulan.
5) Hari dimulainya minggu kerja
6) Dimulai dan diakhirinya waktu untuk masing-masing
pergiliran tugas.
7) Jumlah pergiliran yang harus dipergilirkan diantara masing-
masng pekerja.
8) Frekuensi yang diperlukan dari pergiliran pergantian.
9) Keperluan pergiliran dari satu unit ke lain unit dan frekuensi
pergiliran tersebut.
10) Keperluan penjadwalan dua hari libur per minggu atau rata-
rata dua hari libur per minggu.
11) Frekuensi libur akhir pekan untuk masing-masing kategori
personil.
12) Definisi dari “ libur akhir pekan” untuk personil tugas
malam.
13) Perlunya perluasan hari libur yang berurutan dan yang tak
berurutan.
14) Hari kerja berurutan maksimum yang diperbolehkan.
15) Jarak waktu minimum yang diharuskan antara urutan
pergantian tugas

30
16) Jumlah hari libur yang dibayar untuk diberikan pada masing-
masing pekerja.
17) Jumlah hari libur yang diharuskan per tahun saat pegawai
harus dijadwalkan libur kerja.
18) Panjangnya pemberitahuan dimuka untuk diberikan
pegawaimengenai jadwal tugas liburan masuk / libur.
19) Prosedur yang harus diikuti dalam meminta libur kerja pada
hari libur tertentu.
20) Jumlah hari-hari libur yang dibayar untuk di berikan pada
masing-masing pekerja.
21) Lamanya waktu pemberitahuan di muka untuk diberikan
pegawai mengenai jadwal liburan.
22) Prosedur yang diikuti dalam memohon waktu libur khusus.
23) Pembatasan pada penjadwalan liburan selama hari libur,
natal, tahun baru.
24) Jumlah personil masing-masing kategori yang akan
dijadwalkan untuk liburan atau hari libur pada saat tertentu.
25) Prosedur penyelesaian perselisihan antar personil
sehubungan dengan permintaan waktu liburan dan hari libur.
26) Prosedur pemrosesan permintaan “ darurat” untuk
penyesuaian jadwal waktu.
e. Pengembangan Staff
Program pendidikan dan pelatihan dirancang untuk
meningkatkan prestasi kerja, mengurangi absensi dan perputaran,
serta memperbaiki kepuasan kerja. Ada beberapa metode
pendidikan dan latihan yang akan digunakan untuk meningkatkan
prestasi kerja. (Moenir, 1994)
1) Metode Seminar atau Konferensi
Biasanya diselenggarakan bagi pegawai yang menduduki
jabatan sebagai kepala atau pegawai yang dalam waktu singkat
akan diserahi jabatan sebagai kepala. Masalah-masalah baik

31
yang menyangkut segi manajemen maupun penyelenggaraannya
atau proses dari kegiatan yang dipermasalahkan.
2) Metode Lokakarya (Workshop)
Penyelenggaraannya tidak jauh berbeda dengan seminar,
letak perbedaannya dengan seminar adalah pada materinya.
Pada materi lokakarya bersifat teknis, administrative dan sedikit
bersifat manajerial.
3) Metode Sekolah atau Kursus
Metode ini digunakan sebagai usaha memberikan informasi
adanya aturan-aturan atau hal – hal baru dalam organisasi yang
harus dimengerti dan dilaksanakan oleh peserta.
Metode ini juga digunakan untuk menambah pengetahuan
baru bagi peserta yang ada kaitannya dengan pekerjaan peserta.
Pada akhir sekolah atau kursus, biasanya diberikan ujian-ujian
dengan atau tanpa kriteria kelulusan.
4) Metode Belajar Sambil Bekerja (Learning by Doing)
Pada metode ini latihan ketrampilan menjadi tujuan utama
sehingga mereka dapat menguasai teknik dalam melaksanakan
pekerjaan yang dibebankan kepada mereka. Biasanya metode ini
dilakukan oleh atasan pada bawahan secara langsung dalam
membimbing pegawai kantor.
Dalam prakteknya metode pendidikan dan latihan ini
disesuaikan dengan pertimbangan tujuan, fasilitas yang tersedia,
biaya, waktu dan kegiatan instansi lainnya.
4. Controlling
a. Definisi
Controling merupakan suatu upaya yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu dalam
menetapkan penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan
standart yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara
penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia,

32
serta menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut
untuk lebih meningkatkan mutu. (Azwar, 1996)
Fungsi pengawasan (controling) merupakan fungsi yang
terakhir dari proses manajemen. Fungsi ini mempunyai kaitan erat
dengan ketiga fungsi manajemen lainnya, terutama dengan fungsi
perencanaan. Melalui fungsi pengawasan dan pengendalian,
standart keberhasilan (target, prosedur kerja, dsb) selalu harus
dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai atau yang mampu
dikerjakan. Jika ada kesenjanganatau penyimpangan diupayakan
agar penyimpangannya dapat dideteksi secara dini, dicegah,
dikendalikan atau dikurangi. Kegiatan fungsi pengawasan dan
pengendalian bertujuan agar efisiensi penggunaan sumber daya
dapat lebih berkembang dan efektifitas tugas-tugas staf untuk
mencapai tujuan program dapat lebih terjamin.
b. Peran leadhershipt dalam controlling
 Mendorong staf untuk aktif terlibat dalam pengawasan mutu
 Mengkomunikasikan secara jelas standart yang diharapkan
terhadap staf
 Mendorong / memotivasi standart tertinggi untuk kualitas yang
maksimal dengan menyediakan standart keamanan minimum
 Mengimplementasikan pengawasan mutu secara proaktif serta
reaktif
 Menggunakan pengawasan sebagai metode untuk menentukan
mengapa tujuan tersebut tidak dapat dicapai
 Secara aktif mensyahkan hasil pengawasan mutu yang
ditemukan yang mempunyai kesatuan profesi dan kosumen
 Menghargai antara standart klinis dengan standar menggunakan
sumber-sumber yang meyakinkan pasien untuk menerima
perawatan sesuai yang diharapkan
 Bertindak sebagai role model terhadap staf untuk menerima
tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap tindakan
keperawatan

33
 Secara aktif berpartisipasi dalam usaha-usaha penelitian untuk
mengidentifikasi dan mengukur sensitifitas keperawatan
sebagai hail pelayanan pasien
c. Fungsi manajemen dalam controlling
Menghubungi individu dalam organisasi, membentuk standart
ukuran yang jelas terhadap keperawatan dan menentukan metode
yang paling tepat untuk mengukur standart yang ada.
d. Manfaat controlling
Apabila fungsi controling dapat dilaksanakan secara tepat,
organisasi akan memperoleh manfaat sebagai berikut :
1) Dapat diketahui apakah suatu kegiatan atau program telah
dilaksanakan sesuai dengan standart atau rencana kerja dengan
menggunakan sumber daya yang telah ditetapkan.
2) Dapat diketahui adanya peny impangan pada pengetahuan dan
pengertian staf dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
3) Dapat diketahui apakah waktu dan sumber daya lainnya telah
mencukupi kebutuhan dan telah digunakan secara benar.
4) Dapat diketahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan
5) Dapat diketahui staf yang perlu diberikan penghargaan atau
bentuk promosi dan latihan lanjutan.

34
BAB III
HASIL KAJIAN DAN ANALISI

A. Pengumpulan Data
1. MAN
a. Ketenagaan
Analisis kebutuhan perawat di ruang rawat inap berdasarkan
klasifikasi pasien, penghitungannya berdasarkan :
1) Tingkat ketergantungan pasien berdasarkan jenis kasus
2) Rata-rata pasien perhari
3) Jumlah perawat yang diperlukan / hari / pasien
4) Jam perawatan yang diperlukan / ruangan / hari
5) Jam kerja efektif tiap perawat 7 jam per hari
Klasifikasi klien berdasarkan tingkat ketergantungan menurut
(Douglas, 1984 dalam Swansburg, 1999) membagi klasifikasi klien
berdasarkan tingkat ketergantungan klien dengan menggunakan
standar sebagai berikut :
1) Kategori I : Self Care/Perawatan mandiri, memerlukan waktu
1-2 jam/hari
a) Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
b) Makan dan minum dilakukan sendiri
c) Ambulasi dengan pengawasan
d) Observasi tanda-tanda vital setiap pergantian shift
e) Minimal dengan status psikologi stabil
f) Perawatan luka sederhana
2) Kategori II : Intermediete care / Perawatan partial, memerlukan
waktu 3-4 jam/hari
a) Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
b) Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam
c) Ambulasi dibantu
d) Pengobatan dengan injeksi

35
e) Klien dengan kateter urine, pemasukan dan pengeluaran
intake output cairan dicatat/dihitung
f) Klien dengan infuse, persiapan pengobatan yang
memerlukan prosedur
g) Penampilan klien sedang sakit
h) Tindakan keperawatan pada pasien ini monitor tanda-tanda
vital, periksa urin reduksi, fungsi fisiologis, status
emosional, kelancara drainage atau infuse. Pasien
memerlukan bantuan pendidikan kesehatan untuk support
emosi 5-10 menit/shift atau 30-60 menit/shift dengan
mengobservasi efek samping obat atau reaksi alergi
3) Kategori III : Total Care / Intensif Caare, memerlukan waktu
56 jam/24jam. Kebutuhan sehari-hari tidak bisa dilaksanakan
sendiri, semua dibantu oleh perawat. Penampilan sakit berat,
pasien memerlukan observasi terus menerus.
a) Semua kebutuhan pasien dibantu
b) Perubahan posisi setiap 2 jam dengan bantuan
c) Observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam
d) Makan dan minum melalui selang lambung
e) Pengobatan intravena “perdrip”
f) Dilakukan suction
g) Gelisah/disorientasi
h) Perawatan luka kompleks

b. Struktur Organisasi
Struktur organisasi Rumah Sakit Bandar Lampung menggunakan
organisasi Lini dan Staf. Organisasi Lini dan Staf adalah kombinasi
dari organisai lini dan organisasi fungsional. Pelimpahan
wewenang dalam organisasi ini berlangsung secara vertical dari
seorang atasan pimpinan hingga pimpinan dibawahnya. Untuk
membantu kelancaran dalam mengelola organisasi tersebut seorang
pimpinan mendapat bantuan dari para staf di bawahnya. Tugas para

36
staf disini adalah untuk membantu memberikan pemikiran nasehat
atau saran-saran, data, informasi dan pelayanan kepada pimpinan
sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan suatu keputusan
atau kebijaksanaan.
Pada struktur organisasi ini hubungan antara atasan dengan
bawahan secara tidak langsung.
Ciri-ciri struktur organnisasi Lini dan Staf :
1) Hubungan atasan dan bawahan tidak seluruhnya secara
langsung
2) Karyawan banyak
3) Organisasi besar
4) Ada dua kelompok kerja dalam organisasi sehingga di tekankan
adanya spesialisasi :
- Personel lini
- Personel staf
Keuntungan dari struktur organisasi Lini dan Staf :
1) Ada pembagian tugas yang jelas
2) Kerjasama dan koordinasi dapat dilaksanakan dengan jelas
3) Pengembangan bakat segenap anggota organisasi terjamin
4) Staffing dilaksanakan sesuai prinsip the right man on the right
place
5) Bentuk organisasi ini fleksibel untuk diterapkan
Kerugian dari struktur organisasi Lini dan Staf :
1) Tugas pokok orang-orang sering dinomorduakan
2) Proses decision makin berliku-liku
3) Jika pertimbangan tidak terkontrol maka sering menimbulkan
nepotism spoilystem patronage
4) Persaingan tidak sehat antara pejabat yang satu dengan pejabat
lainnya.

37
c. Jumlah Tenaga
Jumlah tegana keperawatan yang terdapat di ruang rawat inap
Rumah Sakit di Bandar Lampung yaitu sebanyak 80 tenaga
keperawatan dengan jenjang pendidikan sebagai berikut :
D III Kep : 70 Orang
S1 Kep. : 7 Orang
Ners : 2 Orang
SPK : 1 Orang
Berdasarkan data diatas sebagian besar perawat berpendidikan 2
orang S1 Kep. Ners, 7 orang S1 Kep., 70 orang berpendidikan DIII
Kep, dan 1 orang SPK, sehingga perlu ditingkatkan lagi ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi bagi perawat DIII Kep.
diharapkannya dengan peningkatan pendidikan perawat lebih up to
date dengan ilmu-ilmu keperawatan terbaru, dan lebih mampu
mengembangkan ilmu keperawatan untuk meningkatkan pelayanan
keperawatan rumah sakit.
Dalam setiap ruangan rawat inap rumah sakit Bandar lampung
terdapat tenaga non keperawatan yaitu berjumlah 1 orang sebagai
tenaga administrasi.

38
d. Tingkat Kepuasan Pelayanan
Hasil survey yang didapatkan dari tingkat kepuasan menunjukan
70% tidak puas dengan pelayanan yang diberikan. Hal ini
menunjukan bahwa pelayanan sangat penting diberikan oleh
perawat sesuai dengan SOP yang telah berlaku kepada pasien dan
keluarga pasien untuk meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga
pasien, sehingga dapat meningkatkan mutu rumah sakit.

2. Material/Machine
Ruang rawat inap Rumah Sakit Bandar Lampung terdiri dari 2 ruang
VIP, 2 ruang Kelas I, 4 ruang kelas II, dan 2 raun kelas III. Memiliki
jumlah tempat tidur sebanyak 120 tempat tidur.

3. Method
Metode yang diterapkan di ruang rawat inap rumah sakit Bandar
Lampung adalah metode fungsional, dengan uraian tugas masing-
masing bagian yang sudah ditentukan, namun belum berjalan dengan
optimal sesuai dengan perannya masing-masing.

Model fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan


asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saaat perang dunia
kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan
perawat maka setiap perawat hanya melakukan satu sampai dua jenis
intervensi.
Kelebihan :
a. Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tugas
yang jelas dan pengawasan yang baik

39
b. Sangat baik untuk rumah sakit yang keekurangan tenaga
c. Perawat senior menyibukan diri dengan tugas manajerial,
sedangkan perawat pasien diserahkan kepada perawat junior dan
atau belum berpengalaman
Kelemahan :
a. Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat
b. Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan
proses keperawatan
c. Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan
dengan keterampilan saja
Salah satu aspek penting tercapainya mutu pelayanan di suatu
rumah sakit adalah tersedianya tenaga keperawatan yang sesuai
dengan situasi dan kebutuhan. Untuk hal ini dibutuhkan kesiapan
yang baik dalam membuat perencanaan tentang metode penugasan.
Prinsip pemilihan metode penugasan adalah jumlah tenaga,
kualifikasi staf, dan klasifikasi pasien. Dalam hal ini ruang rawat
inap di rumah sakit Bandar Lampung kurang efektif dalam
merencanakan metode penugasan dengan memilih metode
fungsional dengan jumlah tenaga keperawatan 80 orang dan jumlah
tempat tidur 120. Menimbang dari metode fungsional hanya sangat
baik jika digunakan untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga,
dalam hal ini ruang rawat inap rumah sakit Bandar Lampung
memiliki jumlah tenaga perawat yang cukup. Sesuai dengan jenis-
jenis metode penugasan yang terdiri 4 metode yaitu, metode
fungsional, metode perawatan tim, metode kasus, dan metode
primer, ruang rawat inap rumah sakit Bandar Lampung lebih baik
menggunakan metode penugasan perawatan tim. Metode
perawatan tim adalah metode pemberian asuhan keperawatan
dimana seorang perawat professional memimpin sekelompok
tenaga keperawatan dengan berdasarkan konsep kooperatif &
kolaboratif (Douglas, 1992).

40
4. Money
Sumber dana gaji pegawai ruang rawat inap rumah sakit Banda Lampung berasal dari pemerintah daerah.

5. Market/Mutu
Mutu adalah terbebas dari kerusakan atau cacat guna memuaskan kebutuhan pelanggan.
a. BOR
Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan gambaran umum Jumlah tempat tidur di ruang rawat inap rumah sakit Bandar
Lampung adalah sebagai berikut :
No Shift VIP Kelas I Kelas II Kelas III BOR
. A B IA IB IIA IIB IIC IID IIIA IIIB
1. Pagi 6 bed 6 bed 10 bed 10 bed 12 bed 12 bed 12 bed 12 bed 20 bed 20 bed 78/120x100%
(3 ksg) (3 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (6 ksg) (6 ksg) = 65%
2. Sore 6 bed 6 bed 10 bed 10 bed 12 bed 12 bed 12 bed 12 bed 20 bed 20 bed 78/120x100%
(3 ksg) (3 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (6 ksg) (6 ksg) = 65%
3. Malam 6 bed 6 bed 10 bed 10 bed 12 bed 12 bed 12 bed 12 bed 20 bed 20 bed 78/120x100%
(3 ksg) (3 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (4 ksg) (6 ksg) (6 ksg) =65%

41
B. Analisis Data
Analisa Data Manajemen Ruang Rawat Inap Bandar Lampung

No. ASPEK AKTUAL IDEAL PROBLEM


1. MAN Hasil observasi data didapatkan dari Perawat meningkatkan lagi jenjang Masih banyak terdapat
80 orang perawat dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi perawat dengan jenjang
pendidikan DIII Kep 70 orang, terutama bagi perawat DIII Kep. pendidikan dibawah S1
S1Kep. 7 orang, S1 Ners 2 Orang Kep Ners.
dan 1 orang SPK yang masih aktif
di ruang rawat inap rumah sakit
Bandar Lampung.

2. MAN Hasil survey didapatkan kepuasan Meningkatkan pelayanan yang baik Ketidakpuasan klien
menunjukan 70% tidak puas sesuai dengan SOP yang telah terhadap pelayanan yang
dengan pelayanan yang diberikan. berlaku. diberikan.

3. Method Hasil observasi data didapatkan Ruang raat inap rumah sakit Bandar Kurang efektifnya
metode penugasan yang diterapkan Lampung menggunakan metode metode penugsan yang di
adalah metode fungsional, dengan penugasan perawatan tim. terapkan.
uraian tugas masing-masing bagian
yang sudah di tentukan, namun
belum berjalan dengan optimal
sesuai dengan perannya masing-
masing.

42
Masalah yang muncul
1. Masih banyak terdapat perawat dengan jenjang pendidikan dibawah S1
Kep. Ners.
2. Kurang efektifnya metode penugasan yang di terapkan.
3. Ketidakpuasan klien terhadap pelayanan yang diberikan.

Daftar scoring prioritas masalah


No Masalah Mg Sv M Nc Af Total Prioritas
. n
1. Masih banyak terdapat 3 3 2 5 4 360 3
perawat dengan jenjang
pendidikan dibawah S1
Kep. Ners
2. Kurang efektifnya 5 4 3 5 4 1200 1
metode penugasan yang
diterapkan.
3. Ketidakpuasan klien 4 3 4 5 3 720 2
terhadap pelayanan yang
diberikan.

Keterangan :
Dalam rangka memudahkan penentuan urutan masalah yang menjadi prioritas
maka dilakukan proses memproritaskan masalah dengan menggunakan matriks
multiple criteria utility assessment (MCUA ) dengan langkah-langkah sebagai
berikut
1. Menetapkan kriteria
2. Memberikan bobot kriteria
3. Membuat skor masing-masing kriteria terhadap masing-masing masalah
4. Mengalikan nilai skor dengan bobot

Proses mempriroritaskan masalah dilakukan dengan pembobotan dengan


memperhatikan aspek sebagai berikut :
1. Magnitude(Mg)yaitu kecenderungan dan sering nya jadian masalah
2. Severity(Sv) yaitu besar nya kerugian yang di timbulkan
3. Manageability(Mn) yaitu kemungkinan masalah yang bisa dipecahkan

43
4. Nursing Consent(Nc) yaitu melibatkan pertimbangan dan perhatian
perawat
5. Affordability(Af) yaitu ketersediaan sumber daya (imballo,2007)

Rentang nilai yang di gunakan 1 sampai 5, dengan ketentuan :


5 : Sangat penting
4 : Penting
3 : Cukup penting
2 : Kurang penting
1 : Sangat kurang

Prioritas Masalah
1. Kurang efektifnya metode penugasan yang diterapkan.
2. Ketidakpuasan klien terhadap pelayanan yang diberikan.
3. Masih banyak terdapat perawat dengan jenjang pendidikan dibawah S1
Kep. Ners.

44
ANALISIS SWOT

No. Masalah Strength/Kekuatan Weakness/Kelemahan Opportunity/Peluan Threat/Ancaman


g
1. Kurang efektifnya Sudah diterapkannya Belum berjalannya Adanya peningkatan Tugas yang
metode penugasan yang metode penugasan dengan optimal uraian pelayanan yang diberikan tidak
diterapkan. fungsional dengan uraian tugas yang sudah diberikan sesuai tugas berjalan sesuai
tugas masing-masing. ditentukan sesuai dengan masing-masing. perannya.
perannya masing-masing.
2. Ketidakpuasan klien Terdapatnya pelayanan Kurang optimalnya Meningkanya mutu Ketidakpuasan klien
terhadap pelayanan yang yang sudah diberikan oleh pelayanan yang diberikan pelayanan dan terhadap pelayanan
diberikan. perawat. yang tidak sesuai dengan kepuasan terhadap yang diberikan
SOP. klien. sehingga
menurunnya minat
klien terhadap RS.
3. Masih banyak terdapat Terdapat tenaga perawat Terdapat tenaga Adanya kesempatan Ada tuntutan tinggi
perawat dengan jenjang sebanyak 80 orang. keperawatan yang maasih melanjutkan untuk pelayanan
pendidikan dibawah S1 memiliki jenjang pendidikan ke jenjang yang lebih
Kep. Ners. pendidikan DIII Kep. yang lebih tinggi. professional dan up
to date.

45
PLANNING OF ACTION (POAC)

No Masalah Kegiatan Tujuan Sasaran Waktu/ Media Metode PJ


. tempat
1. Kurang Melakukan Untuk memahami Kepala Kamis, Draft Ceramah Novikha
efektifnya sosialisasi tentang pentingnya metode ruangan dan 02 April contoh Diskusi Nur
metode metode penugasan di penugasan yang baik perawat. 2020 penerapan Khumala
penugasan rumah sakit. sesuai dengan situasi metode Dewi
yang dan kebutuhan. penugasa. Arif
diterapkan. Rahmanto
2. Ketidakpuasa Sosialisasi tentang Untuk meningkatkan Semua Jum’at, Lembar Ceramah Nursyadza
n klien penerapan pelayanan kepuasan klien perawat 03 April observasi Diskusi Pasmasari
terhadap yang optimal terhadap pelayanan 2020 hasil survey Yuriana
pelayanan terhadap klien. yang diberikan. tungkat Cahya
yang kepuasan Ningrum
diberikan. klien
3. Masih Menyarankan Meningkatkan Semua Sabtu, - Ceramah Puput
banyak kepada perawat kualitas perawat perawat 04 April Diskusi Lupita Sari
terdapat dengan jenjang sehingga mampu dengan 2020
perawat pendidikan dibawah memberikan asuhan jenjang
dengan S1 Kep. Ners. Untuk keperawatan yang pendidikan
jenjang melanjutkan bermutu pada pasien. dibawah S1
pendidikan pendidikan yang Kep. Ners
dibawah S1 lebih tinggi.
Kep. Ners.

46
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
No. Masalah Implementasi Pelaksanaan Evaluasi Rencana Tindak
Hasil Hambatan Lanjut
1. Kurang efektifnya Melakukan Kamis, 02 Kepala ruangan dan perawat Tidak ada Mengevaluasi
metode sosialisasi tentang April 2020 mengerti dan memahami kembali hasil yang
penugasan yang metode penugasan di tentang metode penugasan. sudah diterapkan
diterapkan. rumah sakit. Terdapat perubahan metode dengan
penugasan dari metode menggunakan
fungsional ke metode metode penugasan
perawatan tim. perawatan tim
2. Ketidakpuasan Sosialisasi tentang Jum’at, 03 Perawat mampu melakukan Tidak ada Tetap
klien terhadap penerapan pelayanan April 2020 pelayanan yang baik sesuai menganjurkan
pelayanan yang yang optimal dengan SOP yang telah kepada perawat
diberikan. terhadap klien. berlaku. untuk selalu
Kepuasan klien meningkat melakukan
terhadap pelayanan yang pelayanan yang
diberikan oleh perawat. baik.
3. Masih banyak Menyarankan Sabtu, 04 April Terdapat beberapa perawat Tidak ada Mendata kembali
terdapat perawat kepada perawat 2020 yang termotivasi untuk perubahan jenjang
dengan jenjang dengan jenjang melanjutkan pendidikan ke pendidikan
pendidikan pendidikan dibawah jenjang yang lebih tinggi. perawat.
dibawah S1 Kep. S1 Kep. Ners. Untuk
Ners. melanjutkan
pendidikan yang
lebih tinggi.

47
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pembahasan
Berdasarkan masalah yang didapatkan di ruang rawat inap rumah sakit
Bandar Lampung tentang peningkatan manajemen pelayanan maka
dilakukan kegiatan untuk meningkatkan pelaksanaan manajemen
pelayanan keperawatan. Melalui implementasi yang dilakukan akan
diketahui mengenai kesenjangan masalah yang didapatkan mengenai
manajemen pelayanan yang selanjutnyya dapat dilakukan pembahasan
sebagai berikut :
1. Kurang efektifnya metode penugasan yang diterapkan.
2. Ketidakpuasan klien terhadap pelayanan yang diberikan.
3. Masih banyak terdapat perawat dengan jenjang pendidikan
dibawah S1 Kep. Ners.

B. Kesenjangan Teori dan Penyelesaian


1. Kurang efektifnya metode penugasan yang diterapkan.
Model fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan
asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saaat perang dunia
kedua. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan
kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan satu
sampai dua jenis intervensi.
Metode yang diterapkan di ruang rawat inap rumah sakit Bandar
Lampung adalah metode fungsional, dengan uraian tugas masing-
masing bagian yang sudah ditentukan, namun belum berjalan
dengan optimal sesuai dengan perannya masing-masing.
Dari identifikasi masalah tersebut mahasiswa melakukan
penerapan metode penugasan yang lebih tepat dilakukan dengan
melakukan sosialisasi tentang metode penugasan dengan
menggunakan contoh penerapan metode penugasan keperawatan
tim. Menurut Douglas (1992) Metode perawatan tim adalah

48
metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat
professional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dengan
berdasarkan konsep kooperatif & kolaboratif.
Dari hasil implementasi yang dilakukan pada tanggal Kamis, 02
April 2020 didapatkan hasil kepala ruangan dan perawat mengerti
dan memahami tentang metode penugasan. Dan terdapat perubahan
metode penugasan dari metode fungsional ke metode perawatan
tim.
Untuk rencana tindak lanjut yang dilakukan oleh mahasiswa adalah
mengevaluasi kembali hasil yang sudah diterapkan dengan
menggunakan metode penugasan perawatan tim.

2. Ketidakpuasan klien terhadap pelayanan yang diberikan.


Pelayanan keperawatan yang berkualitas menjadi faktor penentu
tingkat kepuasan pasien. Pelayanan keperawatan yang diberikan
semakin baik akan meningkatkan kepuasan pasien (Butar-butar &
Simamora, 2016). Menurut Asmuji (2011) pelayanan keperawatan
merupakan hal utama yang harus diperhatikan, dijaga dan
ditingkatkan kualitasnya sesuai dengan standar pelayanan
keperawatan yang berlaku, sehingga masyarakat selaku konsumen
dapat merasakan pelayanan keperawatan yang memuaskan.
Namun pada prakteknya masih ditemukan pelayanan yang tidak
sesuai dengan standar pelayanan rumah saakit maupun standar
keperawatan, hal tersebut dapat dilihat dari kasus yang melibatka
tenaga keperawatan karena dianggap pelayanan keperawatan yang
diberikan tidak sesuai. Dari kepuasan pasien di ruang rawat inap
Rumah Sakit Bandar Lampung menunjukan angka 70% tidak puas
terhadap pelayanan yang diberikan.
Dari identifikasi masalah tersebut mahasiswa melakukan sosialisasi
tentang penerapan pelayanan yang optimal terhadap klien. Dan dari
hasil implementasi yang didapatkan perawat mampu melakukan
pelayanan yang baik sesuai dengan SOP yang telah berlaku, dan

49
kepuasan klien meningkat terhadap pelaayanan yang diberikan oleh
perawat.

50
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah melakukan manajemen pelayanan keperawatan pada ruang rawat
inap rumah sakit Bandar Lampung dapat di simpulkan masalah yang
teridentifikasi dari hasil data yang didapat adalah sebagai berikut :
1. Kurang efektifnya metode penugasan yang diterapkan.
2. Ketidakpuasan klien terhadap pelayanan yang diberikan.
3. Masih banyak terdapat perawat dengan jenjang pendidikan dibawah S1
Kep. Ners.

Dari kegiatan yang telah dilakukan diperoleh hasil :


1. Kepala ruangan dan perawat mengerti dan memahami tentang metode
penugasan.
Terdapat perubahan metode penugasan dari metode fungsional ke
metode perawatan tim.
2. Perawat mampu melakukan pelayanan yang baik sesuai dengan SOP
yang telah berlaku.
Kepuasan klien meningkat terhadap pelayanan yang diberikan oleh
perawat.
3. Terdapat beberapa perawat yang termotivasi untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

B. Saran
1. Dalam usaha meningkatkn kualitas pelayanan dan asuhan keperawatan
hendaknya usaha-usaha pembaharuan dalam rencana tindak lanjut
dapat diteruskan secara berkesinambungan.
2. Diharapkan untuk menambah motivasi kepada peraat dalam
melaksanakan asuhan keperawatan yangs sesuai SOP.
3. Kepada seluruh perawat agar memperhatikan dan melaksanakan peran
dan tanggung jawab masing-masing dalam pelaksanaan metode tim

51
dan berkomunikasi dalam melaporkan kondisi pasien baik kepada
perawat maupun dokter.

52
DAFTAR PUSTAKA

Widiasari, Hanny H. 2019. Kepuasan Pasien Terhadap Penerapan


Keselamatan Pasien Di Rumah Sakit. pISSN 14110-4490; eISSN
2354-9203. Jurnal Keperawatan Indonesia.
Easter, T. C. dkk. 2017. Hubungan Pelayanan Keperawatan Dengan
Kepuasan Pasien BPJS Rawat Inap Di Ruang Hana RSU
Pancaran Kasih GMIM Manado. E-journal Keperawatan.
Nursalam. 2012. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktek
Keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika.
Arwani & Heru S. 2005. Manajemen Keperawatan : Pengelolaan Tenaga
Keperawatan. Jakarta : EGC.
Kontoro, Agus. 2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Yogyakarta: Nuha
Medika.
S. Suarli dan Bahtiar, Yanyan. 2011. Manajemen Keperawatan dengan
Pendekatan Praktis. Jakarta: Erlangga Medical Series.

53