Anda di halaman 1dari 7

INDUK KEJAHATAN

(ummahatul khabaits)

Islam adalah agama fitrah (QS Ar-Ruum: 30). Islam mengatur manusia untuk
berjalan pada perintah dan hukum Allah. Hal-hal yang dilarang oleh Islam, yang
merupakan induk dari segala kejahatan (ummahatul khabaits) antara lain adalah:

(1) minum minuman keras/khamr,

(2) menggunakan narkoba,

(3) berzina,

(4) mencuri,

(5) makan makanan yang haram, riba, dan syuhubat.

Khabaits adalah suatu keburukan bagi manusia, melemahkan, merusak, merugikan,


dan membahayakan manusia. Kelima kejahatan tsb merupakan pelanggaran terhadap
fitrah manusia. Allah SWT menciptakan manusia untuk hidup mengikuti
aturan-aturan dan hukum-hukumNya. Mengikuti hukum Allah adalah bagian dari
fitrah manusia. Penyelewangan terhadap aturan Allah berarti penyelewengan
terhadap fitrah manusia yang berakibat otomatis pada adanya hukuman-hukuman
terhadap pelakunya. Maka ketika manusia melakukan pelanggaran terhadap fitrah,
ia akan mendzalimi dan menyiksa dirinya sendiri. Ia akan melakukan kejahatan
terhadap dirinya sendiri.

Kelima kejahatan yang disebutkan di atas adalah penyakit moral yang banyak
terjadi pada masyarakat. Kejahatan tsb bisa terjadi baik pada masyarakat yang
sudah maju, maupun yang masih terbelakang. Suatu kejahatan kadang hampir atau
bahkan sudah menjadi budaya, sesuatu yang terbiasa di tengah-tengah suatu
masyarakat; contohnya "budaya korupsi, atau suap-menyuap, atau menipu", "budaya
minum minuman keras", "budaya seks bebas", dll.

Akibat yang ditimbulkan oleh ummahatul khabaits adalah kesesatan semata. Begitu
besar bahaya yang ditumbulkan olehnya, karena induk kejahatan tsb merupakan
penyebab bencana, pemicu permusuhan yang tak kunjung selesai, menyebabkan
sempitnya hidup, tidak terkabulnya doa, dan pelakunya menjadi teman dan
tentaranya setan. Kejahatan tsb juga merupakan pangkal kehancuran masyarakat.
Marilah kita cermati satu-persatu akibat dari pelanggaran terhadap fitrah
manusia ini.

A. Minum Minuman Keras/Khamr

− Gangguan kesadaran dan akal, penyebab skandal dan penghianatan, dll.

− Gangguan psikologis, kehilangan kehendak dan kemampuan kontrol diri, cepat


marah, kehilangan sensitivitas, mematikan persaan dan hati, dll.

− Gangguan kesehatan, gagal fungsi lever, kerusakan saraf, tidak nafsu makan,
kekebalan tubuh melemah, dll.

− Berpengaruh pada keturunan, bayi lahir cacat/abnormal, kecerdasan lemah, dll.

− Penyebab kecelakaan pada pengendara mobil/motor, yang dapat merugikan


badan/cacat fisik, maupun merengut nyawa korban kecelakaan, dll.

− Kehilangan pekerjaan, dan merusak rumah tangga.

Islam dengan tegas mengharamkan khamr. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
Ahmad dan Abu Ya'la, RasuluLlah SAW bersabda, "Bukankah setiap yang memabukkan
itu adalah khamr. Setiap khamr adalah haram." Dalam hadits lain yang
diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Abu Daud dan Nasa'i disebutkan, Nabi saw
bersabda, "Setiap yang memabukkan adalah haram."

"Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya
itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya
lebih besar dari manfaatnya". (QS Al-Baqarah: 219)

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi,


(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji
termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan
permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi
itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah
kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)." (QS Al-Maa-idah: 90-91).

B. Menggunakan Narkoba
Pengaruh dari narkoba adalah sama seperti pengaruh khamr. Narkoba lebih
berbahaya karena mengakibatkan ketergantungan, dan efek yang lebih kuat dalam
merusak saraf. Khamr dan narkoba adalah pangkal dari kiminalitas. Khamr dan
narkoba jelas-jelas merusak masyarakat.

Akibat yang lebih berat adalah datangnya azab dari Allah. AzabNya tidak hanya
ditimpakan kepada peminum dan penggunanya saja, tetapi juga pada
masyarakat/negara yang terlibat khamr/narkoba. "Jibril datang kepadaku dan
berkata, `Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah melaknat (dalam masalah
khamar) ini produsen (pembuatnya), distributor (pengedarnya), penjualnya,
pembelinya, peminumnya, pemakan uang hasilnya, pembawanya, yang dibawakan
untuknya, penuangnya, (orang) yang dituangkan (khamar) untuknya," (HR Imam
Ahmad dengan sanad shahih, dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya, serta
al-Hakim, dan dikatakan shahih oleh Mundziri).

"Barangsiapa minum khamar tidak sampai mabuk, maka Allah berpaling darinya
selama empat puluh malam. Barangsiapa minum sampai mabuk, tidak diterima
sedekah dan perbuatannya selama empat puluh malam. Apabila ia mati (dalam
keadaan demikian, maka ia mati) seperti (matinya) penyembah berhala, dan Allah
pasti memberikan minuman thinatul khabal." Lalu para sahabat bertanya, "Apakah
thinatul khabal itu, wahai Rasulullah?" Nabi saw menjawab, "(Yaitu air) perahan
tubuh penghuni neraka (yaitu) nanah dan darah," (HR al-Hakim).

"Tiga golongan yang diharamkan Allah atasnya surga, (yaitu) peminum khamar,
yang durhaka kepada kedua orang tua, dan dayyuts yaitu yang membiarkan
kemungkaran pada keluarganya," (Musnad Imam Ahmad No.6059 dari Salim bin Ibnu
Umar).

"Takkan masuk surga siapa yang durhaka kepada kedua orang tua dan tidak pula
para peminum khamar," (HR Nasa'i, Ahmad, al-Bazar, al-Hakim dengan sanad
shahih).

C. Berzina

Perendahan dan pelecehan harga diri manusia: hubungan seks yang dibolehkan
adalah hubungan yang dilakukan suami-istri dalam kerangka perkawinan yang
sakral.Oleh karena itu, hubungan seks di luar nikah menempatkan manusia pada
posisi seperti hewan.

Bagi perempuan yang mengandung karena hubungan di luar nikah, zina adalah
pangkal dari kepedihan dan kesakitan (akibat mengugurkan kandungan),
penderitaan dan kesusahan (karena tidak ada orang lain yang ikut menafkahi
anaknya), dll.

Sumber penyakit kelamin.

Sumber kegelisahan karena takut perbuaatannya terungkap, keresahan hati karena


pengkhianatan terhadap istri/suami.

Pangkal permusuhan dan kekeringan hubungan suami-istri, kehilangan ketaatan


terhadap suami/istri, kehilangan kepercayaan dan keharmonisan rumahtangga, yang
berakibat kehancuran rumah tangga dan perceraian, serta anak-anak yang broken
home.

Pangkal kehancuran masyarakat.

Firman Allah: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah
suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS Al-Israa': 32)

Dalam surah Al-Furqaan: 68-70 Allah berfirman bahwa orang yang berzina akan
mendapat balasan dosa, akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan
dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.

D. Mencuri

Dalam kategori ini juga bisa dimasukkan kejahatan berupa korupsi dan suap.
Allah dengan tegas melarang mencuri (korupsi):

"Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara
kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu
kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang
lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui." (QS Al-Baqarah:
188)

Dalam suatu hadits, RasuluLlah SAW melaknat orang yang memberikan, menerima
suap, dan orang-orang yang menjadi perantaranya.

Akibat-akibat dari pelanggaran jenis ini antara lain:


− Kehilangan kepercayaam masyarakat, perusakan moral masyarakat.

− Kerusakan struktur ekonomi, kerusakan keseimbangan keuangan, dll.

− Hidup dalam suasana khawatir bagi pelakunya, takut kalau perbuatannya


terbongkar.

− Hilangnya rasa solidaritas dan kepekaan sosial.

− Penindasan terhadap orang/rakyat yang uangnya dikorupsi.

− Kehilangan harga diri (tidak layak dihormati) pelaku dan penerima suap.

− Hilangnya batasan-batasan, perampasan hak-hak masyarakat, yang kuat memakan


yang lemah, hak negara berpindah ke golongan orang tertentu, hak orang-orang
berpindah kepada orang lain dengan cara tidak legal.

− Masyarakat hancur, idealisme hilang, negara ambruk.

E. Makanan yang haram, riba, dan syubhat

"Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah
kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja
menyembah." (QS An-Nahl: 114)

Makanan adalah sumber penghidupan manusia. Makanan akan menjadi darah yang akan
disirkulasikan ke seluruh bagian tubuh kita. Kalau makanan tsb haram, baik dari
substansinya (daging babi, darah, hewan yang tidak disembelih secara Islam,
dll) maupun dari cara mendapatkannya atau dibeli dari uang yang tidak halal
(mencuri, merampok, korupsi, kolusi dan nepotisme, menipu, riba, rentenir,
dll), maka darah tsb akan mengotori jiwa dari si pemilik tubuh. Makanan haram
akan mengubah perilaku si pemakan.

Firman Allah: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa
yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan;
karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS Al-Baqarah:
168)

Seperti disebutkan dalam firman Allah di atas, bahwa makan yang haram berarti
mengikuti langkah-langkah setan. Manusia yang dipenuhi dengan makanan haram
akan berperilaku buruk, cenderung mengikuti setan yang merupakan musuh
orang-orang yang beriman. Oleh karena itu Allah tidak akan mengabulkan doanya,
karena Allah baru bisa menemui, menerima doa dan mengabulkan amal saleh
hambanya yang suci (fitri), karena Allah sendiri Maha Suci. RasuluLlah SAW,
juga Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin-nya mengatakan: "Bersihkanlah
makananmu maka dikabulkanlah doa'mu."

Riba adalah juga sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Berikut adalah beberapa
alasannya mengapa riba atau bunga bank diharamkan:

− riba adalah sesuatu penghasilan tanpa bekerja,

− riba adalah pendapatan keuntungan tanpa risiko merugi,

− riba dapat mengorbankan persaudaraan dan tolong menolong,

− riba berlandaskan keserakahan, selfishness (peduli hanya pada diri sendiri),


pelit, keras hati, dll, yang merupakan sifat setan dalam dunia keuangan,

− riba/bunga bank adalah faktor yang mempengaruhi inflasi,

− riba adalah penghambat kemajuan ekonomi,

institusi/bank yang menjalankan riba menjadikan modalnya tidak produktif atau


tidak tersedia bagi yang memerlukannya; bank memberikan pinjaman kepada siapa
yang mampu membayar bunganya, bukan kepada siapa yang membutuhkan dananya.

Ayat-ayat dalam Al Quran yang berhubungan dengan riba, antara lain Ar-Ruum: 39;
Al-Baqarah: 275-276, 278; An-Nisaa': 161.

Allah telah memberi petunjuk (dengan jelas) mana atau apa-apa yang haram.
Itulah salah satu rahmat dari Nya. Adapun terhadap hal-hal yang syubhat (suatu
persoalan yang tidak begitu jelas antara halal dan haramnya bagi manusia),
sikap yang diharuskan oleh Islam adalah sikap berhati-hati, yaitu dengan
menjauhi dan menghindarinya, karena yang syubhat itu mendekati haram, sehingga
dengan menjauhi syubhat kita tidak akan terseret kepada yang haram.

Demikianlah, konsekuensi logis dari ummahatul khabaits. Pelakunya akan


mendapatkan kehidupan yang sempit di dunia dan azab di akhirat.

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya


penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam
keadaan buta". (QS Taahaa: 124)
Marilah kita hindari azab dari Allah, marilah kita hindari ummahatul khabaits.

Dari ummul mukminin Zainab binti Jahsyin Ra. Berkata; "Ya RasuluLlah apakah
akan diturunkan pada kami semua bencana sedang di tengah-tengah kami ada
orang-orang sholeh?" Jawab Rasul SAW: "Ya apabila kebejatan moral (kekejian)
merajalela."