Anda di halaman 1dari 12

“TEMA: AL-QUR’AN SEBAGAI WAY OF LIFE”

                                                             ُ ‫كاتُه‬
َ ‫َوبَ َر‬ ِ‫ال َّسالَ ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللا‬
 ‫ َو َعلَى‬  ,‫ف ْاألَ ْنبِيَا ِء َو ْال ُمرْ َسلِي َْن‬ِ ‫ َوال َّسالَ ُم َع ٰلى اَ ْش َر‬  ُ‫صالَة‬
َّ ‫ َوال‬,‫اَ ْل َح ْم ُد هللِ َربِّ ْال َعالَ ِمي َْن‬
ِ ‫تَبِ َعهُ ْم بِإِحْ َس‬  ‫ ٰالِ ِه َواَصْ َحابِ ِه َو َم ْن‬.
ِ َ‫ان اَلَى ي‬
‫ أ ّما بَعْد‬,‫وم ال ِّد ْي ِن‬
       Hadirin-Hadirat Kaum Muslimin Rahimakumullah.
       Pertama-tama marilah kita panjatkan pujia dan syukur kehadirat Allah SWT. tuhan yang
maha esa, yang memberikan berbagai nikmat kepada kita, terutama nikmat iman, islam,
kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul dan bersuah di tempat yang
bahagia ini dalam keadaan sehat wal’afiyat.
       Shalawat serta salam tidak henti-hentinya kita haturkan kepada baginda alam nabi besar
muhammad saw. awal pada kenabianya dan akhir dari kerasulannya.
       Saudara-saudara kaum muslimin rahima kumullah.
      Setiap penganut agama di dunia ini mempunyai sesuatu  kitab yang dianggapnya sebagai
kitab suci. Orang Hindu mempunyai Kitab Wedha. Orang Budha mempunyai Kitab Tripitaka.
Orang Yahudi mempunyai Kitab Taurat. Orang Nasrani mempunyai  Injil. Penganut
Konghucu mempunyai Kitab Tautehking. Orang Majusi mempunyai Kitab Zenavesta. Orang
Kebatinan mempunyai Kitab Serat Centani, Hidayat Jati, Darmo Gandul atau Gatolojo.
Sementara kita umat Islam oleh Allah diberikan Kitab Al-Quran Al-Karim oleh Allah.
Mengapa kita yakini bahwa Al-Qur’anulkarim ini sebagai kitab suci?
 Pertama: Al-Qur’an bebas dari intervensi dan investasi manusiawi.
       Al-Qur’an sepenuhnya, baik isi maupun redaksi adalah produk dari Allah Subhanahu
Wata’ala. Kita kini Al-Qur’an sebagai kitab suci karena sampai hari ini belum ada seorang
pun yang sanggup membuat seperti itu. Suatu kitab hanya dinamakan suci jika dia bersih dari
investasi dan intervensi manusia. Al-Qur’an, sejak turunnya 14 abad yang lalu telah
menantang, sebagai Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 23 yang
berbunyi:
 ‫ۖه َوا ْد ُعوْ ا ُشهَدَآ َء ِّم ْن ُدوْ ِن هللاِ اِ ْن‬wِِۖ ِ‫ب م ِّماَ نَ َّز ْلنَا ع َٰلى َع ْب ِدنَا فَأْتُوْ ابِسُوْ َر ٍة ِّم ْن ِم ْثل‬
ٍ ‫َواِ ْن ُك ْنتُ ْم فِ ْي َر ْي‬
ٰ ‫ُك ْنتُ ْم‬
)   23 : ‫قِ ْينَ ( البقرة‬   ‫ص ِد‬
 Artinya:“ Apabila kamu ragu-ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an yang Kami turunkan
kepada hamba Kami, Muhammad, atau kamu menyangka bahwa Al-Qur’an itu hanya
karangan Muhammad saja maka cobalah kamu buat sebuah surat semacam Al-
Qur’an. Apabila kamu tidak mampu melakukannya seorang diri maka ajaklah seluruh
teman-temanmu.” (QS. Al-Baqarah: 23)
       Apabila kamu ragu tentang kebenaran Al-Qur’an atau kamu menyangka bahwa Al-
Qur’an itu bikinan muhammad saja, cobalah buat satu surah saja semacam dan semisal Al-
Qur’an , jika kamu tidak mampu melaksanakan seorang diri, ajaklah seluruh manusia dan
para jin untuk membantu membuatnya.sejak tantangan ini turun sejak 14 abad yang lalu
sampai hari ini tidak seorangpun yang mampu membuat satu surah saja semacam Al-
Qur’anulkarim. Apakah belum pernah ada yang coba-coba ? sudah, dianataranya apa yang
dilakukan oleh musailamah Al-kadzab ia mencoba membuat satu surah semacam Al-Qur’an
yang kalimatnya sudah berbentuk bait-bait sya’ir tapi isinya jauh panggang daripada api.
Kedua: Kita meyakini Al-Qur’an sebagai kitab suci karena isi dan ajarannya sesuai dengan
fitrah manusia.
       Suatu kitab dinamakan suci jika ajarannya sejalan dengan fitrah manusia. Misalnya, laki-
laki memiliki nafsu terhadap perempuan dan perempuan suka terhadap laki-laki. Hal ini
adalah fitrahnya sebagai manusia. Jika ada kitab suci yang melarang manusia untuk menikah
maka kesucian kitab itu perlu diselidiki. Al-Qur’an adalah kitab suci yang sejalan dengan
fitrah manusia maka ia menganjurkan manusia yang mampu untuk melangsungkan
pernikahan. Contoh lain, adalah secara fitrah manusia perlu makan. Jika ada kitab suci yang
menyuruh manusia untuk puasa terus-menerus dari pagi sampai siang kemudian sore sampai
malam lalu puasa lagi sampai pagi hari maka hal itu sama saja menyuruh manusia untuk mati.
Al-Qur’an sesuai dengan fitrah manusia, maka Islam melarang puasa wishol atau
puasa ngableng atau puasa nyambung, artinya seseorang puasa dari mulai pagi hari sampai
pagi kembali dan tidak berbuka pada saat magrib. Puasa seperti ini bukan hanya tidak boleh
tetapi hukum melakukannya adalah haram. Kenapa? Karena hal itu bertentangan dengan
fitrah manusia.
Ketiga: Kita meyakini Al-Qur’an sebagai kitab suci karena isi Al-Qur’an tidak kontroversi
artinya isinya tidak saling bertentangan satu sama lain.
       Dalam ayat manapun Al-Qur’an mengajarkan bahwa Allah itu esa, jika satu kali Al-
Qur’an menjelaskan bahwa sesuatu itu haram, maka ia akan tetap berkata bahwa sesuatu itu
adalah haram. Jika ada sebuah kitab suci memiliki kontroversi, misalnya di satu ayat
mengajarkan bahwa Tuhan itu satu tetapi di ayat lainnya mengajarkan bahwa Tuhan itu ada
tiga, di ayat lain mengajarkan bahwa Tuhan itu ada empat, maka nama kitab itu adalah kitab
kacau. Bagaimana mungkin suatu kitab disebut suci kalau isinya kontroversil antara satu
dengan yang lainnya?
       Dari ketiga kriteria inilah kita meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci. Masalah
yang akan kita bahas pada kesempatan ini adalah bagaimana sikap kita terhadap Al-
Qur’anulkarim sebagai kitab suci.
       Berangkat dari sebuah hadits, dimana Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam pernah
memberikan tawaran. Beliau bersabda :
ْ َ‫َم ْن َج َع َل ْالقُرْ آنَ اَ َما َمهُ قَا َدهُ اِل َى ْال َجنّ ِة َو َم ْن َج َع َل ْالقُرْ آن‬
ِ َّ‫خَلفَهُ َسقَّاهُ اِل َى الن‬
 ‫ار‬
Artinya: “Siapa saja yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imam maka Al-Qur’an akan
membimbing ia ke dalam surga tetapi siapa saja yang menjadikan Al-Qur’an sebagai
makmum maka Al-Qur’an akan mendorong ia ke dalam neraka.”
       Hadirin-Hadirat kaum muslimin rahima kumullah.
       Pilihan itu terserah kepada kita. Siapa saja yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imam,
ditempatkannya Al-Qur’an di depan, dia ikuti petunjuk dan ajaran Al-Qur’an maka Al-
Qur’an akan membimbingnya ke dalam surga. Baik surga dunia maupun surga akhirat. Tetapi
sebaliknya, siapa saja yang menempatkan Al-Qur’an di belakangnya, dia belakangi Al-
Qur’an, dia belakangi ajaran-ajaran dan perintah Al-Qur’an, dia menuruti hawa nafsunya
dalam kehidupan maka Al-Qur’an akan mendorong ia ke dalam neraka. Baik neraka dunia
maupun neraka akhirat. Pilihan itu terserah kepada kita.
       Saya ingin bertanya, kira-kira Al-Qur’an dalam hidup kita itu sebagai imam atau sebagai
makmum? Kalau Al-Qur’an sebagai imam, artinya kita sebagai umat islam jadi makmum.
Resiko dan logikanya adalah makmum harus mengikuti imam. Imam takbir, makmum takbir.
Imam ruku’, makmum ruku’. Imam sujud, makmum sujud. Imam tahiyat,
makmum juga tahiyat. Itu namanya Al-Qur’an menjadi imam dan kita menjadi makmum.
Artinya dalam kehidupan adalah kita mengikuti ajaran Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an
mengatakan merah maka kita juga mengatakan merah. Hijau kata Al-Qur’an, hijau kita
bilang. Ke barat kata Al-Qur’an, ke barat kita pergi. Ke timur kata Al-Qur’an, ke timur kita
berangkat. Halal kata Al-Qur’an, halal kata kita. Haram kata Al-Qur’an, haram kita bilang.
Itu artinya Al-Qur’an sebagai imam dan kita sebagai makmum.
       Tetapi kenyataannya kadang-kadang berbalik. Nyatanya kadang-kadang kontradiktif.
Merah kata Al-Qur’an, ‘hijau dong kata kita’. Halal kata Al-Qur’an, ‘ah.. remang-
remang’ kita bilang. Ke barat kata Al-Qur’an, ke timur kita pergi. Dalam praktek kita mau
menjadi makmum tetapi kita menyuruh Al-Qur’an sebagai imam. Kita sesuaikan Al-Qur’an
dengan selera kita. Mana ayat yang menguntungkan, mana ayat-ayat yang sesuai dengan
keinginan kita. Itu yang kita baca kuat-kuat, itu yang kita sampaikan ke tengah masyarakat
ramai. Tapi manakala Al-Qur’an itu bertentangan dengan nafsu kita, bertentangan dengan
gaya dan kepribadian kita maka kita sembunyikan itu Al-Qur’an. Kadang-kadang kita tuduh
Al-Qur’an itu ketinggalan zaman, kita anggap Al-Qur’an tidak relevan lagi dengan situasi
dan kondisi. Kalau sudah begitu, maka kita sudah melangkah terlalu jauh.
       Saudara-saudara kaum muslimin rohimakumullah !
       Inilah makna hadits nabi yang diriwayatkan dari Imam Ali Bin Abi Thalib, dimana
Rasulullah bersabda:
ْ ‫َم ْن قَ َرأَ ْالقُرْ آنَ فَا ْست‬
  َ‫َظهَ َرهُ فَ َح َّل َحآل لَهُ َو َح َّر َم َح َرا َمهُ اَ ْد َخلَهُ هللاُ ْال َجنَّة‬
Artinya: “Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an lalu memperhatikannya kemudian
menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram maka Allah akan memasukkan
orang itu ke dalam surga (surga dunia dan surga akhirat).”
       Apabila kita renungi hadits ini maka untuk berimam kepada Al-Qur’an ada tiga jalan
utama yang harus kita laksanakan, yaitu:
 Pertama, dari kata Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an artinya siapa saja yang ingin
menjadikan Al-Qur’an sebagai imam di dalam kehidupan maka jalan pertama yang harus dia
tempuh adalah menanamkan kegemaran membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an akan menjadi asing,
Al-Qur’an akan menjadi jikalau terletak di tengah rumah orang islam yang tidak suka
membaca Al-Qur’an. Jadi langkah pertama adalah tanamkanlah kegemaran membaca Al-
Qur’an.
       Saya tidak menyalahkan kalau remaja kita gandrung kepada Stevie Wonder, senang
kepada suara emasnya Michael Jackson, atau suaranya Madonna. Tapi kalau sampai harus
mengalahkan kecintaan mereka kepada membaca Al-Qur’an maka ini adalah sebuah ironi.
Sebagai orang tua, kalau anak-anak kita buta huruf latin, katanya menghambat pembangunan.
Bahkan pemerintah Indonesia menggalakan bebas buta aksara agar rakyat bisa membaca
huruf latin. Kalau anak-anak kita buta huruf latin disebut sebagai penghambat pembangunan,
lalu bagaimana dengan anak-anak kita yang buta akan huruf Al-Qur’an ? Itu jelas
menghambat proses kesadaran dan kebangkitan dari dunia islam itu sendiri.
       Satu contoh ringan, dulu sebelum pembangunan merata, listrik belum masuk desa,
kampung gelap dan rumah memakai lampu minyak. Kalau kita masuk kampung maka terasa
banyak orang islam. Kenapa? Di rumah sebelah sana kita mendengar ada anak muda yang
sedang latihan membaca rawi, di sebelah sana ibu-ibu sedang sholawatan dan di rumah sana
ada remaja yang sedang membaca Al-Qur’an. Kemudian pembangunan pun maju dan listrik
masuk desa tetapi justru terjadi proses pergeseran nilai. Setelah listrik masuk desa maka yang
terjadi, orang-orang meyetel volume radionya dengan keras dan berlomba-lomba membeli
televisi yang paling besar. Sedangkan membaca Al-Qur’an sudah menjadi barang yang aneh
dan langka. Lihatlah sekarang di kampung-kampung, ada remaja yang sedang membaca Al-
Qur’an, rasanya kok aneh, tidak umum. Sesuatu yang baik malah menjadi nilai-nilai
keanehan.
       Saudara-saudara kaum muslimin rohimakumullah.
       Tanamkanlah kegemaran membaca Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits nabi berpesan:
   َ‫ت ْالقُرْ آن‬
ِ ‫ن َِّو رُوْ بُيُوْ تَ ُك ْم بِتِآل َو‬
Artinya: “Sinarilah rumah tanggamu dengan bacaan Al-Qur’an.”
       Sebab listrik ini hanya bisa menerangi gelap tapi tidak akan sanggup menerangi hati
manusia. Al-Qur’an adalah produk Allah. Selalu tepat dan pantas dibaca dalam setiap
keadaan. Lihat saja, orang yang sedih kemudian membaca Al-Quran ia menjadi terhibur.
Orang gembira membaca Al-Qur’an, ia menjadi tidak lupa diri. Di rumah mewah ada yang
membaca Al-Qur’an, itu bagus. Di gubuk di pinggir sungai ada yang membaca A-
Qur’an, cocok. Orang menikah dibacakan Al-Qur’an, bagus. Orang mati dibacakan Al-
Qur’an, tidak jelek. Dalam segala keadaan, in all season Al-Qur’an pantas dibaca, bahkan
orang sakit gigi pun jika dibacakan Al-Qur’an ia tidak akan marah. Coba saja, dia senang
betul dengan lagu Michael Jacson tapi begitu sakit gigi coba puterin lagu Michael Jacson kalo
nggak mencah-mencah, ‘kamu gila apa’, tapi coba bacakan Al-Qur’an. Begitu besar manfaat
dan daya pengaruhnya.
       Abu Jahal dan Abu Lahab pernah rapat.  Abu Jahal berkata, “Abu Lahab, setelah
diperhatikan mengapa orang-orang kita Quraisy ikut kepada ajaran Muhammad, salah satu
diantaranya adalah karena mereka terpesona setelah mendengar keindahan bacaan Al-Qur’an.
Kita blokir saja !” Abu Lahab bertanya, “Bagaimana caranya?” Abu Jahal meneruskan
idenya, “Berikanlah larangan kepada kaum Quraisy untuk tidak boleh mendengarkan
Muhammad membaca Al-Qur’an. Kamu juga tidak boleh, Abu Lahab ! Begitu pun dengan
saya.” Abu Lahab menganggukkan kepala, “Kita berjanji, kita tidak akan pernah mendengar
Muhammad membaca Al-Qur’an.” Kemudian kedua petinggi kaum Quraisy itu bersalaman
dan pulang ke rumah masing-masing.
       Dalam jangka satu hari, Abu Jahal tahan untuk tidak mendengar Al-Qur’an. Hari kedua
pun sama. Dia masih kukuh akan pendiriannya. Namun setelah seminggu ke atas Abu Jahal
merasakan rindu untuk mendengarkan ayat Al-Qur’an. Karena secara pribadi dia mengakui
keindahan gaya bahasa Al-Qur’an, itu jauh lebih tinggi daripada kemampuan para penyair
Quraisy, isi dan ajarannya sangat mendalam dan menyentuh segi-segi kehidupan manusia.
Abu Jahal sudah tidak tahan lagi, maka pada suatu malam ia keluar dari rumahnya secara
sembunyi-sembunyi dan pergi ke rumah Nabi, Ia ingin mendengar Nabi Muhammad
membaca Al-Qur’an. Dan ternyata Abu Lahab pun melakukan hal yang sama. Abu Jahal
berpikir ‘ah, Abu Lahab tidak akan keluar rumah untuk mendengarkan ayat Al-Qur’an’, dan
Abu Lahab juga berpikiran sama, ‘Jahal pasti tidak keluar rumah’.
       Mereka berdua sama-sama keluar dari rumah tapi bedanya, Abu Jahal mengendap-endap
dari sisi sebelah barat rumah nabi sedangkan Abu Lahab dari sisi sebelah timur. Mereka
bergeser sedikit demi sedikit mencari posisi untuk mendengarkan ayat Al-Qur’an yang lebih
baik, bergeser terus akhirnya ketemu di satu sudut yang sama. Spontan mereka  kaget bukan
kepalang. ‘lahab ? ngapain kamu di sini ?, abu lahab menjawab:’ lalu kamu ngapain juga
kesini?, akhirnya sama-sama malu dan sama-sama mengakui, ‘kita harus mengakui
bagaimanapun Al-Qur’an ini memiliki daya tarik yang tinggi dan pesona yang luar biasa. Itu
baru dari segi bacaan belum dari segi isi ataupun ajarannya.
       Tanamkanlah kegemaran membaca Al-Qur’an. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas R.a,
dimana nabi saw. bersabda:
  ‫ب‬ ِ ‫ت ْالخ‬
ِ ‫َر‬ ِ ‫ْس فِ ْي َجوْ فِ ِه َش ْي ٌء ِمنَ ْالقُرْ آن َ َكا ْالبَ ْي‬
َ ‫اِ َّن الَّ ِذي لَي‬
 “Orang yang dari tenggorokannya belum pernah keluar satu huruf Al-Qur’an, belum pernah
membaca satu pun ayat Al-Qur’an maka orang itu seperti rumah yang kosong.” (HR. Al-
Tirmidzi, Ahmad bin Hanbal, Al-hakim).
‫صلَى هللا َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َم ْن قَ َرأَ َحرْ فًا‬
َ ِ‫ قَال َرسُوْ ُل هللا‬: ‫ض َي هللا َع ْنهُ قَا َل‬ ِ ‫ع َْن َع ْب ِد هللاِ ْب ِن َم ْسعُوْ ٍد َر‬
‫ف‬ٌ ِ‫ف َولَ ِك ْن أل‬ ٌ ْ‫ الَ أَقُوْ ُل "الم" َحر‬.‫ب هللاِ تَ َعال َى قَلَهُ بِ ِه َح َسنَةٌ َو ْال َح َسنَةٌ بِ َع ْشر أَ ْمثَالِهَا‬
ِ ‫ِمن ِكتَا‬
‫ف‬ٌ ْ‫ َو ِم ْي ٌم َحر‬,‫ف‬ ٌ ْ‫ف َوالَ ٌم َحر‬ ٌ ْ‫َحر‬
 Artinya: Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa
membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka ia akan memperoleh pahala satu
amall kebajikan, dan pahala satu amal kebajikan dilipatkan sepuluh kali. Saya tidak
mengatakan bahwa ‘Alif-lam-mim’b itu satu huruf, tetapi ‘alif’ adalah satu huruf, ‘lam’
adalah satu huruf, ‘mim’ juga satu huruf.” (HR. Tarmidzi dan Al-Darimi).
       Saudara-saudara kaum muslimin rohimakumullah.
       Jadi, orang mukmin yang tidak pernah keluar satu huruf dan kalimat Al-qur’an dari
tenggorokannya itu seperti rumah usang atau kosong, lihat saja rumah kosong walaupun
perabotannya lengkap tapi jika kosong setan, kuntilanak, memedih betah benar disitu. Dalam
satu percontohan Nabi mengatakan:
   َ‫رأ ُ القُرْ آن‬ َ ِ‫قَا َل َرسُوْ ُل هللا‬: ‫ع َْن أَبِي ُموْ َسى األَ ْش َع ِرى قَا َل‬
َ ‫ ال ُم ْؤ ِم ُن الَّ ِذي يَ ْق‬:‫صلَى الل َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬
‫َويَ ْع َمل بِ ِه َكاْألُ ْت ُرجَّة طَ ْع ُمهَا طَيِّبٌ َو ِر ْي ُحهَا طَيِّبٌ َوال ُم ْؤ ِم ُن الَّ ِذي الَ يَ ْق َرأُ القُرْ آنَ َويَ ْع َم ُل بِهَاْلتَّ ْم َر ِة‬
‫ َو َمثَ ُل ال ُمنَافِق الَّ ِذي يَ ْق َرأُ القُرْ آنَ َكالرِّ ْي َجانَ ِة ِر ْي ُحهَا طَيِّبٌ َوطَ ْع ُمهَا ُمر‬,‫طَ ْع ُمهَا طَيِّبٌ َوالَ ِري َْح لَهَا‬
ٌ ‫ق الَّ ِذي الَيَ ْق َرأُ القُرْ آنَ َك ْال َح ْنظَلَ ِة طَ ْع ُمهَا ُم ٌر َو ِر ْي ُحهَا َخبِي‬
‫ْث‬ ِ ِ‫ َو َمثَ ُل ال ُمنَاف‬.
Artinya:
Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang mu’min
yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya, ibarat buah jeruk manis, rasanya enak
dan baunya harum. Sedangkan orang mu’min yang tidak membaca Al-Qur’an tetapi
mengamalkan isinya, ibarat buah kurma, rasanya enak dan manis tetapi tidak ada baunya.
Adapun perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an, maka ibarat minyak wangi,
baunya harum tetapi rasanya pahit. Sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al-
Qur’an, ibarat buah kamarogan, rasanya pahit dan baunya busuk.”
(HR. Al-Bukhari, Muslim , Al-Tirmidzi, Abu Dawud, Al-Nasai, Ibnu Majah, Al-Darini, dan
Ahmad).
       Saudara-saudara kaum muslimin rohimakumullah.
       Tanamkanlah kegemaran membaca Al-Qur’an karena hal itu merupakan ibadah yang
besar dan bahkan orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat, Nabi
bersabda:
ُ َ‫ َوالَّ ِذي يَ ْق َرأُ ْالقُرْ آنَ َويَتَتَ ْعت‬,‫الَّ ِذي يَ ْق َرأُ ْالقُرْ آنَ َوهُ َو َما ِه ٌر بِ ِه َم َع ال َّسفَ َر ِة ال ِك َر ِام ْالبَ َر َر ِة‬
  ‫ع فِ ْي ِه‬
‫لَهُ أَجْ َرا ِن‬   ‫ق‬
ٌ ‫َوهُ َو َعلَ ْي ِه َشا‬
Artinya: “Orang yang membaca Al-Qur’an dan dia mahir membacanya, dia bersama para
malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur’an namun dia tidak tepat dalam
membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari & Muslim)
        Selain itu nabi saw. juga bersabda:
ِ ْ‫ض ُل ِعبَا َد ِة أُ َّمتِ ْي قِ َرآ َءةُ ْالقُر‬
  ‫آن‬ َ ‫أَ ْف‬
 Artinya: “Nilai ibadah yang paling baik dari hambaku adalah ibadah membaca Al-Qur’an.”
       Membaca Al-Qur’an dalam sholat memiliki nilai ibadah yang lebih besar daripada di luar
sholat. Membaca Al-Qur’an dengan berwudhu lebih besar pahalanya daripada tanpa wudhu.
Mengerti Al-Qur’an lebih besar pahalanya daripada tidak mengerti. Tapi tidak mengerti pun
dan ia mendengarkan ayat Al-Qur’an maka ia mendapatkan pahala mendengar Al-Qur’an.
Itulah penjelasan pertama dari makna hadits diatas yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib
bahwa kita harus senantiasa menanamkan kegemaran membaca Al-Qur’an.
       Dalam hadits diatas yang di riwayatkan imam Ali r.a, berbunyi Barangsiapa yang
membaca Al-Qur’an lalu memperhatikannya, maka makna selanjutnya dalam hadits ini
adalah kita harus memperhatikan Al-Qur’an setelah membacanya. Pahamilah isi Al-Qur’an.
Jangan seperti monyet yang memakai mahkota. Dia tertawa girang dan cengengesan, tetapi
dia tidak mengerti arti dari kebesaran mahkota yang disandangnya. Kita bangga akan Al-
Qur’an tetapi tidak mengerti kandungan arti di dalamnya.
       Bagaiamana caranya untuk memahami Al-Qur’an? Mudah saja. Contoh, jika kita ingin
mengerti cara membuat tahu maka jangan bertanya kepada montir mobil. Montir mobil
sangat ahli dalam urusan mesin tetapi jika urusan tahu maka tanyakanlah kepada ahli
pembuat tahu. Untuk mengerti rahasia dan seluk-beluk Al-Qur’an maka kita harus bertanya
kepada orang yang mengerti arti dan seluk-beluk Al-Qur’an yaitu para ulama, para kyai dan
para ustadz yang kita tahu kualitas keilmuannya dan kita yakini loyalitas dan integritasnya
kepada islam. Kenapa? Ayat-ayat Al-Qur’an itu elastis. Dia dibawa kemana saja dia mau.
Bisa ditafsirkan menurut kemauan orang. Yang paling celaka adalah, orang yang belajar tidak
mempunyai dasar dan orang yang mengajar memiliki maksud yang lain. Hal ini sesat dan
menyesatkan. Orang yang ngajar mempunyai nafsu dan ambisi dan orang yang belajar
menjadi tikus budeg, yang memang tidak mempunyai dasar apa-apa. Sekali belajar, langsung
menafsirkan ayat. Cara wudhu yang baik saja belum mengerti, cara ruku’ dan sujud yang baik
saja belum bisa dan tidak tahu apa saja yang membatalkan sholat. Belajar menafsirkan Al-
Qur’an itu tidak jelek, tetapi alangkah lebih baiknya jika orang yang mau belajar itu memiliki
dasar penunjang dari nilai-nilai keilmuan islam untuk pembelajarannya nanti.
       Di sinilah perlunya menghidupkan majlis-majlis ta’lim. Sebab jika Al-Qur’an dipahami
dan diotak-atik menurut kemauan rasio saja, sedangkan kekuatan rasio manusia itu terbatas-,
saya khawatir nantinya akan timbul pendapat-pendapat dimana Al-Qur’an disesuaikan
dengan otak. Bukan otak yang mengikuti Al-Qur’an tetapi Al-Qur’an yang disuruh mengikuti
otak.
       Contoh, jika Saudara mengukur kayu menggunakan meteran, apakah meteran itu ikut
kayu atau kayu yang mengikuti meteran? Jika meteran mengikuti kayu maka tidak ada
meteran yang benar di dunia ini. Jika kayunya terlalu pendek maka meterannya yang
dipotong. Yang benar adalah kayu yang harus mengikuti meteran. Otak harus ikut wahyu
jangan wahyu yang disuruh untuk mengikuti otak. Manusia ikut Al-Qur’an, jangan
sebaliknya.
      Kaum orientalis, orang barat yang non-muslim yang mempelajari dan mendalami Islam,
untuk mencari kelemahan umat islam dan untuk menghantam umat islam, mereka sengaja
mencari ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka kumpulkan untuk menghancurkan umat
islam. Supaya umat islam sendiri meragukan Al-Qur’an dan meninggalkan Al-Qur’an.
Timbullah pendapat ada ayat Al-Qur’an yang sudah tidak sesuai lagi dengan situasi dan
kondisi sekarang. Seolah-olah otak manusia sudah jauh lebih pintar daripada Al-
Qur’anulkarim.
       Saudara-saudara kaum muslimin rohimakumullah !
        Untuk memahami Al-Qur’an, kita harus bertanya kepada orang yang ahli dalam Al-
Qur’an dan menghidupkan  majlis-majlis ta’lim. Jangan sampai Al-Qur’an menjadi awam di
tengah masyarakat islam itu sendiri. Ini adalah jalan yang kedua dalam menjadikan Al-
Qur’an sebagai imam kita yaitu dengan memahami isinya. Sehingga demikian manakala Al-
Qur’an dibacakan oleh orang, kita tidak lagi terpusat kepada kemerduan suara orang yang
melantunkan ayat suci Al-Qur’an itu tetapi tertuju kepada isi yang dikandungnya. Sehingga
dalam kondisi semacam itu, boleh jadi setiap kali dibacakan Al-Qur’an, nilai iman kita
semakin bertambah.
       Kita mendengar orang membacakan ayat dari surat Al-Fil, “alam taro kaifa fa’ala
robbuk biashaabil fil”, maka kita terbayang bagaimana Raja Abrahah akan menghancurkan
Ka’bah dengan pasukan gajah. Allah cukup mengirimkan burung Ababil dan hancurlah raja
besar itu beserta dengan seluruh pasukan gajahnya. Hancur berantakan, berkeping-keping,
berserakan. Allah Maha Besar, Allah Maha Kuasa, Tambah iman. Dengan mendengar dan
mengerti arti dari ayat itu maka bertambahlah iman di dada kita.
        Jika kita tidak memahami Al-Qur’an maka seperti mayoritas terjadi di masyarakat,
misalnya ketika Al-Qur’an menceritakan adzab (siksa), kita malah merasa senang. Contoh
kita mendengar ayat Walakum adzabun alim artinya Dan kamu akan mendapat siksa
yang    pedih, kita yang mendengar di sudut majlis berteriak Toyyib, Toyyib ! artinya baik,
baik. Allah, Allah ! Alhamdulillah ! Al-Qur’an sedang menceritakan adzab malah berteriak
bahwa itu adalah hal yang baik. Kita menyukai bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan oleh
Qori/Qori’ah dengan suara mereka yang merdu, itu adalah hal yang baik, Alhamdulillah.
Tetapi akan lebih baik lagi apabila kita mengerti arti dari ayat Al-Qur’an yang kita
dengarkan. Sebab perintah membaca (iqra) Al-Qur’an, juga tersirat perintah untuk
memahami Al-Qur’an. Perintah memahami, tersirat makna untuk mengamalkannya. Dengan
kata lain, kita hanya bisa mengamalkan Al-Qur’an dengan baik apabila kita mengerti isinya.
Kita hanya bisa mengerti isinya apabila kita rajin membacanya, baik membaca yang tersirat
maupun yang tersurat dengan petunjuk dari para alim ulama, para kyai dan orang-orang yang
ahli di bidang Al-Qur’an.
       Saudara-saudara kaum muslimin rohimakumullah.
        Inilah jalan kedua. Upayakanlah memahami isi Al-Qur’an. Hidupkan kajian-kajian
agama. Hidupkan majlis-majlis ta’lim. Jangan sampai Al-Qur’an menjadi asing di hati kita
sendiri. Jangan sampai kita awam terhadap makna dan kandungan Al-Qur’an, sementara kita
yakini bahwa Al-Qur’an siap  membimbing kita sejak dari dunia hingga akhirat nanti. 
  َ‫راُوْ ن‬ ِ ‫اَ ْلقُرآنَ غ‬
َ ‫َريْبٌ فِ ْي َما بَ ْينَ قَوْ ِم اَل يَ ْق‬
Artinya: “Al-Qur’an akan jadi asing, Al-Qur’an akan jadi aneh kalau terletak ditengah rumah
orang islam yang tidak suka membaca Al-Qur’an”.
       Langkah selanjutnya untuk berimam kepada Al-Qur’an setelah menanamkan kegemaran
membaca lalu berupaya memahami isinya adalah mengamalkannya dalam kehidupan sesuai
dengan kemampuan yang kita miliki. Nabi saw. bersabda:
  ‫ع ْل َم َمالَ ْم يَ ْعلَ ْم‬ِ ‫َم ْن َع ِم َل بِ َما َعلِ َم َو َرثَهُ هللا‬
Artinya: “Barangsiapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, amka Allah akan memebrikan
kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui”.
      Al-Qur’an tidak akan membawa berkah apabila ajaran yang terkandung di dalamnya, kita
baca, tetapi kemudian kita menginjak-injaknya dalam praktek kehidupan. Al-Qur’an
mengatakan riba haram, tetapi dalam praktek kehidupan kita lebih senang kepada riba. Al-
Qur’an mengajarkan untuk menjaga persatuan dan kesatuan dan ukhuwah islamiyah tetapi
praktek yang kita lakukan malah centang-perenang, malah saling bertolak-belakang, malah
kadang menjegal kawan seiring, menggunting dalam lipatan, saling ribut sesama
manusia, ramai kita dengan kita, lalu kelemahan pun menjadi kenyataan dimana-mana. Sekali
lagi, Al-Qur’an tidak akan membawa berkah apabila Al-Qur’an yang kita baca malah kita
injak-injak (artinya tidak kita amalkan).
       Tentang pengamalan Al-Qur’an ini, Allah berfirman:
ِ َ‫ َو ِم ْنهُ ْم ُم ْقت‬  ‫ْنضا ِم ْن ِعبَا ِدن َۗا فَ ِم ْنهُ ْم ظَا لِ ٌم لِّنَ ْف ِس ِه‬
  ‫ص ٌد َو ِم ْنهُ ْم‬ َ ‫َاب الَّ ِذذ ْينَ اصْ طَفَي‬ َ ‫ثُ َّم أَوْ َر ْثنَا ْال ِكت‬
‫ ٰذلِكَ هُ َو ْالفَضْ ُل ْال َكبِ ْي ُر‬wِ‫ۚهللا‬
ِۚ ‫ت بِإ ِ ْذ ِن‬
ِ ‫ق بِ ْالخَ ي َْرا‬
ٌ ِ‫َساب‬
Artinya: “Kemudian kami wariskan Al-Qur’an ini kepada hamba-hamba Kami yang Kami
pilih. Diantara mereka ada yang dzolim kepada diri mereka sendiri, kemudian ada yang
muqtasid (setengah-setengah) dan ada yang berlomba-lomba mengamalkannya atas izin
Allah.”  (QS. Fatir : 32).
       Kita lihat ayat ini, Al-Qur’an kitab pilihan diberikan kepada ummat pilihan kita-kita ini.
Lalu bagaimana umat ini setelah menerima Al-Qur’an ? terbagi dalam 3 kelompok besar.
Pertama:  ‫س ِه‬ ِ ‫فَ ِم ْنهُ ْم ظَا لِ ٌم لِّنَ ْف‬ (Dzalim kepada diri mereka sendiri).
       Ketika Al-Qur’an turun ada orang yang dzalim kepada diri mereka sendiri, artinya hanya
mulutnya saja yang menerima Al-Qur’an tapi perbuatannya menginjak-nginjak Al-Qur’an
orang semacam ini sudah dzalim kepada Allah, sudah dzalim kepada rasulullah tetapi orang
semacam ini dzalim kepada dirinya sendiri. Dia terima Al-Qur’an dengan mulutnya tapi dia
injak-injak Al-Qur’an dengan perbuatannya.
Kedua: ‫َص ٌد‬ِ ‫و ِم ْنهُ ْم ُم ْقت‬ َ (fivety- fivety/setengah-setengah)
       Diantara mereka ada yang setelah menerima Al-Qur’an lalu Muqtashid, dia ini fivety-
fivety, orang yang ngambil jalan tengah. Ajaran Al-Qur’an di pake ajaran setan dikerjain,
artinya juga perintah Al-Qur’an oke, larangan Qur’an iya. Ini yang bingung malaikat,
perintah Qur’an dikerjain larangan Qur’an pun dikerjain.
Ketiga:   ‫رات‬ َ ‫ق بِ ْال َخ ْي‬
ٌ ِ‫ َو ِم ْنهُ ْم َساب‬ ‫بِإ ِ ْذ ِن هللا‬ (Berlomba-lomba mengamalkanAl-Qur’an dengan
ijin Allah)
       Diantara mereka ada yang setelah menerima Al-Qur’an lalu berlomba-lomba
melaksanakannya, berlomba-lomba mengamalkan kebaikan dan itu hanya bisa terjadi
dengan Bi’ijnillah, hidaya dari Allah. Berapa banyak orang yang mengerti Al-Qur’an tapi
jauh dari cahaya Qur’an, berapa banyak orang yang ahli qur’an tapi cahaya Qur’an tidak
menerangi kehidupannya, berapa banyak orang yang ahli hukum tapi bikin bingung
masyarakat dengan fatwanya. Kenapa bisa terjadi ? tidak ada hidayah, tidak ada ijin dari
Allah.
       Maka jika bisa membaca al-Qur’an Alhamdulillah, bisa memahaminya kita bersyukur
kehadirat Allah lebih penting dari itu mohon hidayah agar kita mengamalkan sesuai dengan
kemampuan kita.
       Sodara-sodara kaum muslimin rahima kumullah.
       Mana yang lebih banyak di zaman sekarang ini? Kita bisa analisa, ada yang menerima
Al-Qur’an hanya dengan mulutnya saja. Jika ditanya, ‘tuhanmu siapa?’, ‘Allah’, ‘kiblatmu
mana?’, ‘ka’bah, ‘kitab sucimu apa?’, ‘Al-Qur’an’, kau bisa baca ?’, ‘Nggak!’. Yah kalo
nggak bisa baca barangkali masih, tapi kadang-kadang Al-Qur’an pun tidak punya ini yang
ironi, ini yang menyedihkan.
       Tanpa melaksanakan konsepsi al-Qur’an didalam kehidupan maka kesenangan kita
membacanya, pengertian kita kepada Al-Qur’an barangkali tidak bisa berbuat terlalu banyak
dalam kehidupan. Maka sekarang ada terjemahan al-Qur’an dalam bahasa indonesia, dalam
bahasa daerah, dalam bahasa ingris yang masih dan harus terus dan ditingkatkan adalah
terjemahan Al-Qur’an didalam kehidupan, dengan kata lain kita ummat islam menunggal
dengan Al-Qur’an kita jangan Cuma jadi kebanggan qur’an gaya bahasanya tinggi sehingga
tidak ada yang menandingi , Qur’annya!, tapi ummatnya kadang-kadang kita ini jauh
panggang daripada api.
       Kita bersyukur bahwa Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) telah diadakan dengan biaya
bermiliyaran rupiah mulai tingkat kelurahan, kecematan, walikota, provinsi sampai pada
tingkat nasional untuk menanamkan kegemaran membaca Al-Qur’an, setelah itu hendaknya
diadakan peningkatan untuk memahaminya sehingga pada suatu saat kita adakan Msabaqah
Pengamalan Al-Qur’an (MPQ), hadiahnya sudah langsung dari Allah. ini yang perlu kita
berlomba, berlomba untuk mengamalkan ajaran al-Qur’an. Oleh karena Al-Qur’an
menjelaskan secara Global kita memerlukan tuntunan sunnah dari rasulullah saw.
umpamanya Qur’an hanya mengajarkan “Aqimussholah”, dirikanlah sholat. Caranya
bagaimana? Tidak ada cara sholat dalam Al-Qur’an dari aman kita tau cara sholat? Dari
sunnah. Karena selain Al-Qur’an jadi sumber utama kita perlu kedudukan sunnah sebagai
sumber kedua. Bahwa sholat pake takbiratul ihram di Al-Qur’an tidak ada, bahwa sholat pake
tahiyat dalam Al-Qur’an tidak ada. Jadi kalo orang Cuma Al-Qur’an saja tidak ada sunnah
itu!, yah bagaimana kita sholat?, Al-Qur’an hanya mengatakan ‘Waatimmul hajja wal umrata
lillah’, laksanakan haji dan rumah karena Allah. Bagaimana tata cara dan manasik haji ?
bagaimana cara sa’i ? bagaimana cara melontar tidak ada dalam Al-Qur’an yang memuat itu
tidak lain sunnah untuk memahami al-Qur’an dan sunnah ini kita memerlukan orang yang
menguasai Al-Qur’an dan sunnah oleh karena itu kita perlu kepada para ulama itu sebabnya
Allah SWT. Berfirman:
 ... ‫ر‬ َ ِ‫وم ْاآل ِخ ِر ٰذل‬
ٌ ‫ك َخ ْي‬ ِ َ‫فَإ ِ ْن تَنَا زَ ْعتُ ْم فِ ْي َش ْي ٍء فَ ُر ُّدوْ هُ اِل َى هللاِ َوال َّرسُوْ ِل اِ ْن ُك ْنتُ ْم تُ ْئ ِمنُوْ نَ باِهللِ َو ْالي‬
ً‫ ِو ْيال‬   ْ‫َواَحْ َس ُن تَأ‬
Artinya:”..Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah pada Allah (Al-
Qur’an) dan Rasulnya (sunnah). Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.
Yang demikian itu lebih utama (Bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa: 59)
       Apabila kamu berbeda pendapat tentang suatu perselisihan kemabalikan kepada Allah
dan rasul, kembalikan kepada Allah dan rasul artinya kembalikan pada Al-Qur’an dan As-
sunnah , siapa yang mengerti Al-Qur’an dan sunnah? Para ulama yang kualitas dan
loyalitasnya tinggi serta integritas keislamannya bisa jadi panutan.
   
        Sodara-sodara kaum muslimin rahima kumullah.
        Dengan demikian jika orang berkata:’ langsung saja memahami Al-Qur’an sekarangkan
sudah banyak terjemahannya, tidak usah lewat ulama-ulamaan’. Tidak mencela cuman agak
menghawatirkan kalau dia hanya memahami Al-Qur’an lewat terjemahannya saja sangat
mungkin jadi dia salah paham. Kita memerlukan bantuan sunnah, kita memerlukan petunjuk
para ulama yang ahli di bidang itu. Kembalikan kepada Al-Qur’an dan sunnah artinya
kembalikan kepada orang yang memahami al-Qur’an dan sunnah. Tapikan nanti akan terjadi
perbedaan pendapat?  Perbedaan pendapat sesuatu yang halal semasa tidak menyebabkan kita
berpecah belah, halal berbeda pendapat asal diletakkan pada proporsinya apalagi bperbedaan
pendapat Cuma masalah furu’ (cabang) bukan masalah prinsip kenapa tidak kembalikan saja
pada tuntunan Al-Qur’an:
.... َ‫َولَنَا أَ ْع َما لُنَا َولَ ُك ْم أَ ْع َمالُ ُك ْم َونَحْ ُن لَهُ ُمصْ لِحُوْ ن‬
Artinya:” ...Bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-nya
kami mengikhlaskan hati” (QS. Al-Baqarah: 139).
       Kami akan mengamalakan amalan yang kami yakini benarnya dan sodara silahkan
mengamalkan amalan yang sodara yakini benarnya, sama-sama halal, sama-sama punya dalil,
tidak usah saling menyalahkan. Jangan merasa paling benar orang lain salah semua.
Kemukakan argumen jangan sentimen, harus dengan semangat mencari kebenaran bukan
untuk mencapai kemenangan. Jika sentimen lebih penting dari argumen,  kalo kemenangan
lebih di utamakan dari mencari kebenaran, yang terjadi kadang-kadang gengsi jika sudah
gengsi yang bicara emosi, jika sudah emosi nanti ngambek, gedean ambeknya dari ilmunya.
Kadang-kadang ‘saya kalau nggak jadi imam nggak mau sholat di situ’, orang lain
dianggapnya tidak sah sembahyangnya,’ pokoknya kalo tidak ngaji sama saya islamnya tidak
benar’, mengklaim. Perbedaan pendapat halal asal tidak menyebabkan kita berpecah belah
dan sewajarnya kita berusaha lebih mencari titik pertemuan, memperbesar persamaan dan
bukan mengutak-utik perbedaan. Inilah penyakit kita, ada yang Qunut ada yang tidak, bisa
satu RT. Satu usholli satu tidak, bisa satu RW. Satu khutbah sekali, satu khutbah dua kali
bikin mesjid baru lagi. Kenapa bukan persamaannya yang dicari ? kenapa titik perbedaannya
yang diperbesar hal semacam ini sampai kiamat tidak akan selesai. Kan akan lebih baik jika
kita ditanya oleh orang:” pak, subuh pake qunut apa tidak sih?”, “kalo saya pake”, “kalo yang
tidak pake qunut bagaimana pak?”, “betul!, kata yang tidak pake qunut”, “kalau yang pake
qunut betul, yang tidak pake qunut betul, yang salah yang mana pak ?”, “yang salah itu yang
subuh tidak sembahyang!”. Lebih objektif, umat tidak berpecah belah. Yang kaprah kadang-
kadang khotbah jumat sampe membongkar khilafiyah, menghantam tahlil, menghantam
qunut. Selesai sembahyang jumat apa yang terjadi? Umat resah masyarakat gelisah polemik
timbul dan masalah tidak terselesaikan.
       Orang yang jadi khatib itu raja, siapa yang mau membantah dia? Jika memang mau
bongkar itu persoalan khilafiyah bikin forum khusus adakan pengkajian, bicarakan secara
luas mendalam dan mendasar  jangan mengklaim dan menfonis berikan kebebasan kepada
ummat untuk menilai, masalah selesai dan yang tidak puas bisa bertanya.
       Soadara-soadara kaum  muslim rahima kumullah.
       Sudah lewat rasanya kita meributkan persoalan semacam ini, sudah datang waktunya
diamana kita lebih meninjau dan memebicarakan hal-hal yang lebih mendesak dan
bermanfaat seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan umpamanya, peluang bagi
pendidikan yang layak bagi anak-anak kita yang memiliki otak cerdas tapi tidak mempunyai
kekuatan ekonomi, itu lebih objektif ketimbang kita membicarakan masalah-masalah yang
sampe kiamat tidak akan selesai yang hanya akan membuat kita menjadi lemah, persatuan
goyah, hubungan sosial lalu menurun, saling curiga menjadi tumbuh karenanya dan pada
akhirnya kita tidak akan mampu berbuat banyak. Untung jika tidak menjadi tertawaan orang
yang berdiri diluar pagar.
       Al-Qur’an tidak akan membawa berkah jika yang kita baca kita injak-injak, oleh
karenanya untuk beriman kepada Al-Qur’an yaitu tanamkan kegemaran membaca, yang
kedua upayakan memahami isinya melalui bimbingan orang yang ahli di bidang itu, yang
ketiga amalkan sesuai dengan kemampuan. Sebab itu ada prinsip jikalau isi suatu hadis
nampaknya bertentangan dengan otak, keshohihan hadis itu boleh di periksa tapi jika ayat
Qur’an nampaknya bertentangan dengan otak, otaknya yang harus diperiksa jangan
Qur’annya disesuaikan dengan otak. Sebab jika kita sudah berani berteori bahwa ada ayat Al-
Qur’an yang tidak sesuai dengan keadaan. Ayat yang mana? Yang ini, tahun depan
bertambah lagi, tahun depan lagi tambah lagi makin lama makin habis Al-Qur’an ini. Yang
perlu diperbaharui itu cara kita memahami Al-Qur’an bukan dengan mengemukakan teori
bahwa Al-Qur’an kekurangan relevansi cara kita memahami barangkali yang kurang relevan,
dalam konteksnya yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Jangan lupa, Al-Qur’an ini untuk
semua umur dia bisa dipahami secara filosofi, dia bisa dipahami dengan kacamata orang
awam tingkat kemampuan berfikir semua orang tidak sama kalau semua orang kita ajak
untuk berfilsafat menerung dalam-dalam lalu menerawang. Okelah buat mereka yang
terjangkau oleh perguruan tinggi tapi buat sodara-sodara kita pedagang dan petani di desa-
desa terpencil remaja-remaja yang jauh dari sentuhan tekhnologi canggih sanggupkah mereka
berfikir filosofi? Sementara mereka merupakan bagian terbesar dari kondisi umat ini.
       Sodara-sodara kaum muslimin rahima kumullah.
       Oleh karenanya di tekan untuk membaca, memahami dan mengamalkan. Rasulullah saw.
pernah memberikan suggesti, beliau bersabda:
In arattum aisusuada wamauta suhada wannajata yaumal hasri wajjila yaumal wal huda
minaddalalah faatimmu biqiraatil qur’an
Artinya: ”Apabila kamu ingin mendapatkan kehidupan yang bahagia, dan menginginkan mati
seperti matinya para suahada, dan mendapat keselamatan di yaumul hasyar (hari
pengumpulan), dan mendapat perlindungan dari Allah di hari yang sangat panas, dan
mendapat petunjuk dari kesesatan , maka biasakan olehmu membaca Al-Qur’an”.
       Hadis diatas merupakan keinginan kita semua, yaitu hidupa bahagia dan mati syahid,
walaupun tidak kaya asal bahagia sudah enak, dan disaat orang lain kepanasan di hari akhir
kita mendapat perlindungan dan orang lain kebingungan kita mendapat petunjuk, jika kita
menginginkan ini maka kuncinya adalah lajimkan mebaca Al-Qur’an. Tidak ada kata
terlambat!, idealnya memang dari kecil sebab lidah jika sudah kaku itu berat, disuruh baca
‘Innallaha laganiyyun hamid, Lidahnya berat ‘innallah lampu niyun hamid’, laganiyyun jadi
lampu niyun. Lidah itu kalau sudah berat memang berat, disuruh baca ‘Ya bani israil’,
lidahnya berat lalu baca ‘Ya bini siroil’. Memang harus dari kecil biar lidah itu terbiasa, jika
tidak, maka tidak ada istilah terlambat untuk belajar. “Saya malu pak belajar Alif-Alifan udah
gedde”, yah jangan alif-alifan lah, alif beneran bacanya kalo alif-lalifan kapan bisanya. Tidak
ada istilah terlambat dan tidak ada istilah malu untuk belajar al-Qur’an itu. Ini sugesti untuk
membaca.
       Lalu bagaimana sugesti untuk memahami?
َ ‫فَلَوْ اَل نَفَ َر ِم ْن ُكلِّ فِرْ قَ ٍة ِم ْنهُ ْم طَا ئِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْ ا فِي ال ِّدي ِْن َولِيُ ْن ِذرُوْ ا قَوْ َمهُ ْم إِ َذا َر‬
         ....‫جعُوْ ا‬
َ‫يَ ْخ َذرُوْ ن‬   ‫إِلَ ْي ِه ْم لَ َعلَّهُ ْم‬
Artinya:” ....Mengapa tidak pergi tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memeperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada
kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”
(QS. At-taubah : 122).
      Mengapa tidak ada diantara kamu segolongan orang yang memperdalam ilmu agama,
ditengah grup orang yang mendalami ekonomi, di tengah kelompok orang yang membidangi
hukum, ditengah orang-orang yang belajar tekhnologi, ditengah orang-orang yang sibuk
meneliti ilmu-ilmu kedokteran, mengapa tidak ada sekolompok orang yang
secara liyatafakkahu fiddin, mendalami agama ini, mendalami Al-Quran ini harus ada.
       Lalu bagaimana sugesti untuk mengamalkan?
      Kita bisa melihat peringatan Allah dalam Qs. Thaha ayat 124-127
  ‫) قَا َل َربِّ لِ َم‬124( ‫ضن ًكا َونَحْ ُش ُرهۥُ يَوْ َم ْٱلقِ ٰيَ َم ِة أَ ْع َم ٰى‬ َ ً‫ض عَن ِذ ْك ِرى فَإ ِ َّن لَ ۥهُ َم ِعي َش ۭة‬ َ ‫َو َم ْن أَ ْع َر‬
َ ِ‫) قَا َل َك ٰ َذلِكَ أَتَ ْتكَ َءا ٰيَتُنَا فَن َِسيتَهَا ۖ َو َك ٰ َذل‬125( ‫صيرًا‬
( ‫ك ْٱليَوْ َم تُن َس ٰى‬ ِ َ‫نت ب‬ ُ ‫َحشَرْ تَنِ ٓى أَ ْع َم ٰى َوقَ ْد ُك‬
)127( ‫ت َربِّ ِه َولَ َع َذابُ اآل ِخ َر ِة أَ َش ُّد َوأَ ْبقَى‬ ِ ‫ َو َك َذلِكَ نَجْ ِزي َم ْن أَس َْرفَ َولَ ْم ي ُْؤ ِم ْن بِآيَا‬ )126
Terjemahan:
124.  Dan barang siapa berpaling dari peringatanku, maka sungguh, dia akan menjalani
kehidupan yang sempit, dan kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan
buta.
125. Dia berkata, “Ya tuhanku, mengapa engkau kumpulkan kami dalam keadaan buta,
padahal dahulu aku dapat melihat?”
126. Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat kami,
dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.”
127.  Dan demikianlah kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya
kepada ayat-ayat tuhannya. Sungguh, azab akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.
(QS. Thaha: 124-127)
       Mari kita telusuri ayat diatas, ayat pertama barangsiapa yang yang berpaling dari
peringatanku, barangsiapa yang berpaling dari Al-Qur’an ini dia terima Al-Qur’an, dia imani
Al-Qur’an, tapi dia berpaling dari ajarannya dan dia injak-injak apa yang seharusnya dia
amalkan dia peturutkan hawa nafsunya. Maka kata Allah, fainnahu maisatan danka dia akan
diberikan suatu penghidupan yang sempit, innalilahi wainna ilahi rojiun. Diberikan hidup
yang sempit kalo hidup sudah terasa sempit walaupun luasnya rumah, kecil. Kalo hidup
sudah terasa sempit bagaimanapun banyaknya harta, sumpek. Kalo hidup sudah terasa sempit
bagaimanapun luasnya pergaulan, tidak ada terasa tempat bertanya, membagi rasa, melarikan
persoalan. Siapa yang berpaling dari Al-Qur’an dia akan diberikan penghidupan yang sempit.
Bukan dagangannya tidak untung, bukan karena kerjanya tidak di gaji, tapi kesempitan hati
dan ini lebih bahaya dari kesempitan ekonomi, itu di dunia.
       Lalu di akhirat, dan kami akan mengumpulkan kamu dalam keadaan buta, padahal ke
akhirat tumben, sekali ke akhirat buta. Inna lillah, di tempat kita lahir saja dulu kita melihat
setelah itu kita buta masih bingung padahal jalan itu sudah pernah kita lihat dan sudah pernah
kita tau bagaimana di padang mahsyar nanti? Kepada siapa kita hendak bertanya? Mana anak,
mana istri buta pula kita, ini merupakan tingkat kesengsaraan.
       Dikala semacam itu orang yang tadi protes, Ya tuhanku, mengapa engkau kumpulkan
kami dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?,  dulu waktu di dunia saya bisa
melihat gunung yang menjulang ke langit, melihat sawah, melihat keindahan pantai dan air
laut, saya saksikan keindahan alam, di dunia saya bisa melihat Allah. kenapa sekarang
engkau bangkitkan aku bersama orang-orang yang buta?, Protes dia tidak terima dengan
keadaannya seperti itu. Allah menjawab ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-
ayat kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu
diabaikan’.  Begitulah memang, dahulu waktu di dunia setelah datang ayat-ayat
kami  kepadamu telah turun Al-Qur’an telah datang agama, tapi kamu melupakan dia (kamu
lupakan Al-Qur’an kamu lupakan Islam) kamu berlaga masa bodo dan tidak mau tau, maka
pada hari ini begitulah kamu di lupakan  sebagaimana dulu waktu di dunia kamu telah
melupakan ayat-ayatku melupakan islam hari ini kamupun dilupakan. Demikianlah kami
membalas orang yang melampaui batas orang-orang yang berlebihan dan tidak percaya
kepada ayat-ayat tuhannya.
       kesengsaraan akhirat adalah siksaan yang kekal. Siksa dunia mungkin keparan,
kekurangan ekonomi, kekurangan pakaian tapi berapa hari? Seumur manusia (sekitar 60
sampai 70 tahun), tapi kesengsaraan akhirat lebih dahsyat dan lebih kekal. Di jaman sekarang
orang bukan hanya potong kompas, berpikirpun menganbil jalan pintas dia lebih memilih
kesenangan yang sedikit dengan mengorbankan kesenangan yang abadi, dia menghancurkan
syurga yang abadi dan mengganti dengan syurga yang sebentar. Syurga dunia itu hidup
cukup, rumah bagus, pakaian bagus, istri cantik dengan menghalalkan segala cara berpaling
dari kehidupan agama dan menginjak-nginjak Al-Qur’anulkarim. Kita berlindung kepada
Allah jangan sampai dimasukkan dalam kelompok yang di akhirat nanti dalam keadaan
buta, naudzubillah.
       Disini kita terkesan dengan apa yang dikatakan syeikh muhammad Abduh:
  ‫اإل ْسالَ ُم َمحْ جُوبٌ بِ ْال ُم ْسلِ ِمي ِْن‬
ِ
Artinya: ”Ajaran islam tertutup oleh perilaku kaum muslimin”
       Kebesaran islam kadang tertutup oleh tingkah laku umat islam islam itu sendiri
keluhuran dan kesempurnaan Al-Qur’an  tertutup oleh kebodohan umat islam itu sendiri,
sedangkan untuk mengungkapkan rahasia Al-Qur’an ini diperlukan keahlian yang komplek.
Sodara yang berada di jurusan tekhnik ungkap dan buka rahasia Al-Qur’an di bidang
tekhnologi, sodara yang dibidang kedokteran ungkap dan buka rahasia Al-Qur’an di bidang
kedokteran, sodara yang ahli di bidang geografi pelajari struktur perut bumi ungkap rahasia
Al-Qur’an sehingga pengkajian kita tentang tekhnologi, pengkajian kita tentang angkasa luar,
pengkajian kita tentang anatomi manusia akan berakhir kepada:
ِ ‫ َربَّنَا َما خَ لَ ْقتَ ٰه َذا بَا‬.....
  ......ً‫طال‬
Artinya: “...Ya Allah engkau tidak menciptakan semua ini sia-sia...” (QS. Ali Imron: 191).
       Perut bumi mengandung minyak kekayaan yang berharga untuk manusia, mempelajari
tekhnologi canggih yang akhirnya mmeperkuat nilai-nilai iman. Mempelajari berbagai ilmu
untuk mengkaji Al-Qur’an dan akhirnya bekerja sama dan bahu membahu dalam rangka
mengimani Al-Qur’an, mengamalkan Al-Qur’an, dan mengawal keluhuran Al-Qur’anulkarim
yang menjadi dasar tuntunan hidup. Untuknya kita berjuang dan dalam bimbingannya kita
ingin kembali menghadap Allah SWT.
       Demikianlah pertumuan yang singkat ini, mudah-mudahan ada manfaatnya, terima kasih
atas segala perhatian dan  mohon maaf atas segala kekurangan.
۞ ُ‫۞ َوال َّساَل ُم َعلَ ْي ُك ْم َو َرحْ َمةُ هللاِ َوبَ َر َكا تُه‬