Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

PLASENTA PREVIA

Disusun oleh :
NISRINA MAIMUNAH
1609277044

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKES MUHAMMADIYAH CIAMIS

Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 20 Tlp/Fax (0265) 773052

Ciamis 46216
2019

LAPORAN PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen
bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan
lahir.
Menurut Prawiroharjo, plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan
jalan lahir (prae = di depan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud plasenta previa
ialah plasenta yang implantasinya tidak normal, rendah sekali hingga
menutupi seluruh atau sebagian ostium internum.
Menurut Cunningham, plasenta previa merupakan implantasi plasenta di
bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri internum, serta menimbulkan
perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim.
B. ETIOLOGI
Penyebab pasti dari placenta previa belum diketahui sampai saat ini.
Tetapi berkurangnya vaskularisasi pada segmen bawah rahim karena bekas
luka operasi uterus, kehamilan molar, atau tumor yang menyebabkan
implantasi placenta jadi lebih rendah merupakan sebuah teori tentang
penyebab palcenta previa yang masuk akal.
Selain itu, kehamilan multiple / lebih dari satu yang memerlukan
permukaan yang lebih besar untuk implantasi placenta mungkin juga menjadi
salah satu penyebab terjadinya placenta previa. Dan juga pembuluh darah
yang sebelumnya mengalami perubahan yang mungkin mengurangi suplai
darah pada daerah itu, faktor predisposisi itu untuk implantasi rendah pada
kehamilan berikutnya.
C. PATOFISIOLOGI
Perdarahan anter partum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20
minggu saat sekmen uterus telah terbentuk dan mulai melebar dan menipis.
Umumnya terjadi pada trimester ke tiga karena segmen bawah uterus lebih
banyak mengalami perubahan. Pelebaran sekmen bawah uterus dan
pembukaan servik menyababkan sinus uterus robek karena lepasnya
plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari
plasenta. Perdarahan tak dapat dihindarkankarena adanya ketidakmampuan
selaput otot segmen bawah uterus untuk  berkontraksi seperti pada plasenta
letak normal.
D. KLASIFIKASI
Klasifikasi Menurut Browne, klasifikasi plasenta previa didasarkan atas
terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu
tertentu, yaitu:
1. Plasenta Previa Totalis
Bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir pada tempat implantasi,
jelas tidak mungkin bayi dilahirkan in order to vaginam
(normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat.

2. Plasenta Previa Parsialis/Lateralis


Bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi jalan lahir.
Padatempat implantasi inipun risiko perdarahan masih besar dan
biasanya tetap tidak dilahirkan melalui pervaginam
3. Plasenta Previa Marginalis
Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir bisa
dilahirkan pervaginam tetapi risiko perdarahan tetap besar.

4. Low Lying Placenta (Plasenta Letak Rendah)


Lateralis plasenta, tempat implantasi beberapa millimeter atau cm
dari tepi jalan lahir risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang
kecil, danbisa dilahirkan pervaginam dengan aman. Pinggir plasenta
berada kira-kira 3 atau 4 cm diatas pinggir pembukaan, sehingga tidak
akan teraba pada pembukaan jalan lahir. Penentuan macamnya
plasenta previa tergantung pada besarnya pembukaan, misalnya
plasenta previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah
menjadi plasenta previa parsialis padapembukaan 8 cm, penentuan
macamnya plasenta previa harus disertai dengan keterangan mengenai
besarnya pembukaan
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Perdarahan pervaginam tanpa sebab, tanpa rasa nyeri dan biasanya
berulang. Darah pervaginam biasanya berwarna merah segar
2. Awitan perdarahan terjadi tiba-tiba, Biasanya terjadi pada trimester ke
tiga, Kemungkinan karena iritabilitas uterus
3. Kelainan presentasi (bokong, letak lintang, kepala mengambang
4. Anemis
5. Fundus uteri masih rendah
6. Bagian bawah janin belum turun
F. KOMPLIKASI
1. Plasenta abruptio. Pemisahan plasenta dari dinding rahim
2. Perdarahan sebelum atau selama melahirkan yang dapat menyebabkan
histerektomi (operasi pengangkatan rahim).
3. Plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta
4. Prematur atau kelahiran bayi sebelum waktunya (< 37 minggu)
5. Kecacatan pada bayi
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. USG (Ultrasonographi)
Dapat mengungkapkan posisi rendah berbaring placnta tapi apakah
placenta melapisi cervik tidak biasa diungkapkan
2. Sinar X
Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-
bagian tubuh janin.
3. Pemeriksaan laboratorium
Hemoglobin dan hematokrit menurun. Faktor pembekuan pada umumnya
di dalam batas normal.
4. Pengkajian vaginal
Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda
jika memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik
sesuadah 34 minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan
ganda (double setup procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril
pada vagina yang dilakukan di ruang operasi dengan kesiapan staf dan alat
untuk efek kelahiran secara cesar.
5. Isotop Scanning
Atau lokasi penempatan placenta.
6. Amniocentesis
Jika 35 – 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada
amniocentesis untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin /
spingomyelin [LS] atau kehadiran phosphatidygliserol) yang dijamin.
Kelahiran segera dengan operasi direkomendasikan jika paru-paru fetal
sudah mature.
H. PENATALAKSANAAN / TERAPI SPESIFIK
1. Terapi ekspektatif
Tujuan terapi ekspektatif adalah supaya janin tidak terlahir prematur,
pasien dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melaui kanalis
servisis. Upaya diagnosis dilakukan secara non invasif. Pemantauan klinis
dilaksanakan secara ketat dan baik.
Syarat pemberian terapi ekspektatif :
a. Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian
berhenti.
b. Belum ada tanda-tanda in partu.
c. Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas
normal)
d. Janin masih hidup.
b. Rawat inap, tirah baring, dan berikan antibiotik profilaksis.
c. Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi placenta,
usia kehamilan, profil biofisik, letak, dan presentasi janin.
d. Berikan tokolitik bila ada kontriksi :
- MgSO4 4 gr IV dosis awal dilanjutkan 4 gr tiap 6 jam
- Nifedipin 3 x 20 mg/hari
- Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru
janin
e. Uji pematangan paru janin dengan Tes Kocok (Bubble Test) dari
test amniosentesis.
f. Bila setelah usia kehamilan di atas 34 minggu placenta masih
berada di sekitar ostinum uteri internum, maka dugaan plasenta
previa menjadi jelas sehingga perlu dilakukan observasi dan
konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan gawat darurat.
g. Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 mingu
masih lama, pasien dapat dipulangkan untuk rawat jalan (kecuali
apabila rumah pasien di luar kota dan jarak untuk mencapai RS
lebih dari 2 jam) dengan pesan segera kembali ke RS apabila terjadi
perdarahan ulang.
2. Terapi aktif (tindakan segera)
a. Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang
aktif dan banyak harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa
memandang maturitas janin.
b. Untuk diagnosis placenta previa dan menentukan cara menyelesaikan
persalinan, setelah semua persyaratan dipenuhi, lakukan PDOM jika :
1) Infus / tranfusi telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap
2) Kehamilan ≥ 37 minggu (BB ≥ 2500 gram) dan in partu
3) Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor
(misal : anensefali)
4) Perdarahan dengan bagian terbawah jsnin telah jauh melewati PAP
(2/5 atau 3/5 pada palpasi luar)
I. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Seksio Cesaria (SC)
a. Prinsip utama dalam melakukan SC adalah untuk menyelamatkan ibu,
sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya harapan hidup
tindakan ini tetap dilakukan.
b. Tujuan SC antara lain :
- Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera
berkontraksi dan menghentikan perdarahan
- Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada cervik uteri,
jika janin dilahirkan pervaginam
c. Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi
sehingga cervik uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan
mudah robek. Selain itu, bekas tempat implantasi placenta sering
menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi dan
susunan serabut otot dengan korpus uteri.
d. Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu
e. Lakukan perawatan lanjut pascabedah termasuk pemantauan
perdarahan, infeksi, dan keseimbangan cairan dan elektrolit.
2. Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada placenta. Penekanan
tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a. Amniotomi dan akselerasi
Umumnya dilakukan pada placenta previa lateralis / marginalis dengan
pembukaan > 3cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban,
placent akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala
janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih lemah akselerasi
dengan infus oksitosin.
b. Versi Braxton Hicks
Tujuan melakukan versi Braxton Hicks adalah mengadakan tamponade
placenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak
dilakukan pada janin yang masih hidup.
c. Traksi dengan Cunam Willet
Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian diberi
beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang
efektif untuk menekan placentadan seringkali menyebabkan
perdarahan pada kulit kepala. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada
janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif.
J. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Usia
Ibu saat hamil dengan usia 35thn atau lebih, makin besar kemungkinan
kehamilan plasenta previa, dibanding dengan usia dibawah 25thn.
b. Keluhan utama
Perdarahan berwarna segar tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri saattidak
beraktifitas
c. Riwayat penyakit keluarga
Kehamilan ganda, penyakit HT, DM.
d. Riwayat obstetric
Pada riwayat obstetri yang lalu perlu dikaji pada kasus plasenta
previayaitu riwayat operasi rahim atau memiliki kelainan rahim,
riwayatkehamilan kembar dan riwayat plasenta previa sebelumnya.
e. Riwayat Haid/Menstruasi
Pada riwayat menstruasi yang perlu ditanyakan atau diketahui yaitu
menarche (untuk mengetahui usia pertama haid. Usia menarche
dipengaruhi oleh keturunan, keadaan gizi, bangsa, lingkungan, iklim
dankeadaan umum), siklus (untuk mengetahui klien mempunyai siklus
15normal atau tidak), lamanya (jika lama haid ≥15 hari berarti
abnormal ldan kemungkinan adanya gangguan yang
mempengaruhinya),banyaknya (untuk mengetahui apakah ada gejala
kelainan banyaknya darah haid), nyeri haid (untuk mengetahui
apakah klien menderita nyerisetiap haid).

f. Riwayat kehamilan dan Persalinan Sekarang


Kemungkinan klien merasa mual, muntah serta perdarahan,
kapanpergerakan janin pertama kali dirasakan. Apakah ibu telah
melakukan kunjungan antenatal dengan tenaga kesehatan, ibu
mendapat imunisasi TT dan belum ada tanda-tanda
persalinan.Pada klien dengan plasenta previa terjadi perdarahan
bewarna merah segar pada TM III, perdarahan sedikit dan sesekali
mungkin terjadi pada TM I dan TM II. perdarahan biasanya tidak
disertasi rasa sakit walaupunkram rahim pada beberapa wanita.
Sebagian wanita tidak mengalamiperdarahan sama sekali.
g. Riwayat kehamilan yang lalu
Adanya kemungkinan klien pernah mengalami seksio saisaria
curettageyang berulang-ulang.
h. Pemeriksaan fisik :
1) Mata: Conjungtiva terlihat pucat dan anemishal ini disebabkan
olehperdarahan yang banyak
2) Rambut dan kulit
-    Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan
linea nigra.
-    Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan
paha.
-   Laju pertumbuhan rambut berkurang.Wajah
3) Hidung
4) Gigi dan mulut
5) Leher
6) Payudara
- Peningkatan pigmentasi areola putting susu
- Bertambahnya ukuran dan noduler
7) Jantung dan paru
- Volume darah meningkat
- Peningkatan frekuensi nadi
- Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu
darah pulmonal.
- Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
- Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
- Diafragma meningga.
- Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
8) Abdomen
- Menentukan letak janin
- Menentukan tinggi fundus uteri
9) Vagina
- Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan (
tanda Chandwick)
- Hipertropi epithelium
10) System musculoskeletal
- Persendian tulang pinggul yang mengendur
- Gaya berjalan yang canggung
- Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan
diastasis rectal
11) Khusus
Inspeksi
Perdarahan pervagianam yang keluar banyak, sedikit,
darah beku dan sebagainya
Palpasi
Pada klien dengan plasenta previa, hasil pemeriksaan
palpasi abdomen yang didapat yaitu :
a) Janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri masih
rendah
b) Sering dijumpai kesalahan letak janin
c) Bila cukup pengalaman(ahli), dapat dirasakan suatu
bantalan pada segmen bawah rahim, terutama pada ibu
yang kurus
d) Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak
kepala,biasanyakepala masih goyang atau terapung
(floating) atau di ataspintu ataspanggul
Auskultasi:
Secara auskultasi, kemungkinan dapat terdengar bunyi
jantungjanin, frekuensinya teratur atau tidak.Pada klien dengan
plasenta previa,denyut jantung janin dapat bervariasi dari
normal sampai asfiksia dankematian dalam rahim.
i. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 Ds: Segmen bawah Kurangnya
Pasien mengatakan uterus melebar dan volume cairan
mengalami perdarahan menipis
pervaginam berwarna
merah segar, ganti pembalut
3-5x dalam sehari dan Servik membuka
pembalut terisi penuh.

Do: Terlepasnya
- KU : lemah plasenta dari dinding
- Kesadaran : uterus
composmentis
- Turgor kulit menurun,
mata cowong, Sinus uterus terobek
konjungtiva dan sclera
anemis. Ketidakmampuan
- Adanya perdarahan serabut otot segmen
merah segar. bawah uterus
- Mukosa bibir kering
- TTV Perdarahan hebat
TD: 90/70 mmHg
N : 120x/ menit
S : 36º C
RR : 24x/ menit
Ds: Gangguan
Pasien mengatakan Segmen bawah perfusi
mengalami perdarahan uterus melebar dan jaringan pada
pervaginam berwarna menipis janin
merah segar, ganti pembalut Servik membuka
3-5x dalam sehari dan
pembalut terisi penuh.
Terlepasnya
Do: plasenta dari dinding
- KU : lemah dan adanya uterus
syok hipovolemik
- Kesadaran : compos
mentis Sinus uterus terobek
- DJJ janin tidak normal
160/ menit
- Adanya kontraksi uterus Ketidakmampuan
- Adanya efek hipoksia serabut otot segmen
pada janin bawah uterus
- TTV
TD : 90/70 mmHg
N : 120x/ menit Gangguan perfusi
S : 36º C jaringan
RR : 24x/ menit
Ø Px USG : plasenta insersi Gangguan perfusi
di SBR menutup sebagian jaringan pada janin
atau seluruh OUI.

2. Diagnosa keperawatan
a. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan
(perdarahan yang berlebih
b. Gangguan perfusi jaringan pada janin berhubungan dengan hilangnya
(perdarahan)berlebih
c. Ansietas yang berhubungan dengan perdarahan kurangnya
pengetahuan mengenai efek perdarahan dan menejemennya.
d. Resiko tinggi cedera (janin) b/d Hipoksia jaringan / organ, profil darah
abnormal, kerusakan system imun.
3. Intervensi Keperawatan

Diagnosa
No Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan
1 Kurangnya Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi TTV Dapat menumbuhkan rasa saling
volume cairan keperawatan 1 x 24 jam 2. Catat intek dan out put percaya sehingga mempermudah
berhubungan 3. Kaji dan catat jumlah dan bentuk tindakan medis.
volume cairan adekuat KH:
dengan pendarahan yang hilang. 2. Tekanan darah menurun dan
- Tanda vital norma 4. Anjurkan pasien bedtres total/ tidak nadi meningkat perkiraan kehilangan
hilangnya
cairan - Membran mukosa beraktivitas darah.
5. Anjurkan banyak minum 3. Dengan mengetahui intek dan
(perdarahan lembab
6. Kaji adanya syok, warna membrane out put cairan diketahui
yang berlebih - Tidak ada tanda- mukosa dan kulit. keseimbangan cairan dalam tubuh.
tanda anemia : 7. Monitor pergerakan uterus, janin dan 4. Mengetahui jumlah darah dan
kelembutan abdomen dengan bentuk pendarahan yang hilang.
pucat, lemah,
menggunakan USG maupun manual/
hipotensi, takikaradi dengan menggunakan tangan. 5. Perdarahan dapat berhenti
8. Hindari pemeriksaan rectal/ vagina dengan reduksi aktivitas.
(menggunakan speculum yang terlalu Peningkatan tekanan abdomen atau
dalam serta pemeriksaan VT). orgasme ( yang meningkatkan
9. Monitor intake/output, kaji berat jenis aktivitas uterus) dapat meransang
urin tiap jam. perdarahan
10. Kolaborasi dengan tim lab untuk 6. Minum yang sering dapat
pemeriksaan darah lengkap menambah pemasukan cairan
11. Kolaborasi dengan tim medis dalam melalui oral.
pemberian cairan intra vena, plasma, 7. Mengetahui ada atau tidaknya
darah utuh (transfuse darah anemia.
8. Untuk menmgetahui keadaan atau
kesejahteraan janin.
9. Dapat meningkatkan hemoragi,
khususnya bila plasenta previa
marginal/ total terjadi.
10. Dengan mengetahui intek dan
out put cairan diketahui
keseimbangan cairan dalam
tubuh
11. Untuk mencari kelainan pada
darah.
12. Membantu kebutuhan cairan
dalam tubuh.
2 Gangguan Setelah dilakukan tindakan 1. Mengobservasi TTV 1. Tekanan darah menurun dan nadi
perfusi 2. Kaji dan catat denyut jantung janin, catat meningkat perkiraan kehilangan
keperawatan 1 x 24 jam
jaringan pada takikardi/ bradikardi, catat perubahan darah.
janin perfusi jaringan adekuat.
aktivitas janin (hipoaktivitas/ hiperaktivitas). 2. Denyut jantung yang masih dalam
berhubungan
dengan KH: 3. Catat perdarahan ibu dan kontraksi uterus, keadaan normal dan aktif
hilangnya umur kehamilan dan tinggi fundus. menandakan janin dalam keadaan
- Tanda vital normal
(perdarahan)be - Membran mukosa 4.Anjurkan bedtrs dengan posisi lateral kiri. baik.
rlebih 5. Kolaborasi pemberian suplemenoksigen 3. Jika kontraksi uterus di sertai
warna merah muda,
pada ibu. dilatasi servik bedtres dan
tidak ada sianosis
6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pengobatan tidak aktif
pemberian pergantian cairan yang hilang. 4. Posisi lateral kiri meringankan
7. Kolaborasi dalam pemeriksaan USG tekanan inferior dan meningkatkan
sirkulasi gas janin dengan plasenta
5. Peningkatan oksigen dapat
mensuplai pada janin.
6. Memelihara volume sirkulasi
yang adekuat untuk transfer oksigen.
7. Untuk menmgetahui keadaan atau
kesejahteraan janin.
3 Ansietas Setelah dilakukan tindakan  Terapi bersama pasangan dan Kehadiran perawat dan pemahaman
berhubungan keperawatan selama 3 x 24 menyatakan perasaan. secara empati merupakan alat terapi
dengan diharapkan ansietas dapat  Menentukan tingkat pemahaman yang potensial untuk
kurangnya berkurang dengan kriteria pasangan tentang situasi dan mempersiapkan pasangan untuk
pengetahuan hasil : manajemen yang sudah direncanakan. menanggulangi situasi yang tidak
efek 1.    Pasangan dapat 3.    Berikan pasangan informasi tentang diharapkan.
perdarahan dan mengungkapkan manajemen yang sudah Hal yang diberikan perawat akan
manejemennya harapannya dengan direncanakan. memperkuat penjelasan dokter dan
. kata-kata tentang untuk memberitahu dokter jika ada
manajemen yang penjelasan yang penting.
sudah direncanakan, Pendidikan pasien yang diberikan
sehingga dapat merupakan cara yang efektif
mengurangi mencegah dan menurunkan rasa
kecemasan cemas. Pengetahuan akan
pasangan. mengurangi ketakutan akan ha-hal
yang tidak diketahui.
4 Resiko tinggi Kriteria evaluasi :  Kaji jumlah darah yang hilang. Pantau Hemoragi berlebihan dan menetap
cedera (janin) Menunjukkan profil darah tanda/gejala syok dapat mengancam hidup klien atau
b/d hipoksia dengan hitung SDP, Hb,  Catat suhu, hitung SDP, dan bau serta mengakibatkan infeksi pascapartum,
jaringan/ dan pemeriksaan koagulasi warna rabas vagina, dapatkan kultur bila anemia pascapartum, KID, gagal
organ,profil DBN normal. dibutuhkan. ginjal, atau nekrosis hipofisis yang
darah  Catat masukan/haluaran urin. Catat disebabkan oleh hipoksia jaringan
abnormal,kerus berat jenis urin. Berikan heparin, bila dan malnutrisi.
akan system diindikasikan Kehilangan darah berlebihan dengan
imun.  Berikan antibiotic secara parenteral penurunan Hb meningkatkan risiko
klien untuk terkena infeksi.
Penurunan perfusi ginjal
mengakibatkan penurunan haluaran
urin.
Heparin dapat digunakan pada KID
di kasus kematian janin, atau
kematian satu janin pada kehamilan
multiple, atau untukmemblok siklus
pembekuan dengan melindungi
factor-faktor pembekuan dan
menurunkan hemoragi sampai
terjadi perbaikan pembedahan
Mungkin diindikasikan untuk
mencegah atau meminimalkan
infeksi.