Anda di halaman 1dari 43

KIMIA ANALISA II

IODOMETRI

DISUSUN OLEH
M VITTO RAMADHANI 122019003

DOSEN PEMBIMBING : Ir. Ummi Kalsum, MT.


KELAS : II A

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................i
BAB I KIMIA ANALISIS.......................................................................................1

A. Titrimetrik (Volumetrik)...................................................................................1

B. Gravimetrik.......................................................................................................5

C. Metode Instrumental.........................................................................................6

BAB II IODOMETRI..............................................................................................7

A. Teori Yodometri................................................................................................7

B. Prinsip Iodometri..............................................................................................8

C. Macam-macam Titrasi Iodometri.....................................................................9

D. Larutan Baku...................................................................................................13

E. Standardisasi...................................................................................................18

F. Penentuan Titik Akhir.....................................................................................25

G. Reagen yang Digunakan Pada Titrasi Iodometri............................................26

H. Faktor yang Mempengaruhi Titrasi Iododmetri..............................................30

I. Contoh Titrasi Iodometri.................................................................................32

BAB III KESIMPULAN........................................................................................37


DAFTAR PUSTAKA............................................................................................39

i
BAB I

KIMIA ANALISIS

Kimia analitik berhubungan dengan teori dan praktek dari metode-metode


analisa yang dipakai untuk mengetahui komposisi pada suatu bahan. Dalam hal
ini, akan digunakan prinsip-prinsip dari berbagai bidang ilmu, baik fisika, kimia,
biologi, teknik, ilmu komputer, dan lain-lain.

Kimia analitik dibagi menjadi bidang-bidang yang disebut analisis


kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif merupakan metode analisa yang
digunakan untuk mengetahui senyawa apa yang terkandung pada suatu bahan.
Sedangkan analisa kuantitatif adalah suatu metode analisa yang digunakan untuk
menentukan berapa banyak suatu zat tertentu yang terkandung dari suatu bahan.

Analisis kuantiatif bertujuan untuk menentukan banyaknya zat atau


senyawa yang terdapat dalam suatu sampel. Analisis kuantitatif dibedakan
menjadi 3 yaitu:

a. Metode titrimetrik (volumetrik)

Melibatkan pengukuran volume suatu larutan dengan konsentrasi yang telah


diketahui, yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan zat yang akan ditentukan
kadarnya.
b. Metode gravimetrik
Melibatkan pengukuran bobot suatu zat dengan cara mengendapkannya.
c. Metode instrumental

Melibatkan instrumen-instrumen dalam pengukuran suatu sampel.

A. Titrimetrik (Volumetrik)

Titrasi adalah sebuah metode analisa yang digunakan untuk


menentukan kadar suatu sampel berdasarkan pengukuran volume. Caranya
adalah dengan menetesi (menambahi sedikit-sedikit) larutan yang akan dicari

1
konsentrasinya (analit) dengan sebuah larutan hasil standarisasi yang sudah
diketahui konsentrasi dan volumenya (titrant). Tetesan titrant dihentikan
ketika titik ekuivalen telah tercapai. Titik ekuivalen adalah titik
dimana titrant dan analit tepat bereaksi atau jumlah volume
larutan titrant dengan mol tertentu telah sama dengan mol larutan analit. Titik
ekuivalen ini susah diamati, karena kebanyakan larutan sampel yang
dianalisis tidak berwarna. Yang bisa diamati adalah titik akhir titrasi. Titik
akhir titrasi ditentukan dengan menggunakan larutan indikator. Indikator ini
akan berubah warna jika volume larutan titrant yang menetesi analit berlebih
atau dengan kata lain saat larutan analit sudah bereaksi semua. Akhir reaksi
selama titrasi diketahui dengan bantuan suatu indikator.

Indikator yang digunakan merupakan asam organik lemah yang


memiliki warna berbeda ketika berada dalam bentuk ion dan molekulnya.
Keadaan ini terjadi pada kondisi keasaman yang berbeda. Suatu indikator
harus dipilih untuk menandai akhir titrasi tersebut dengan pertimbangan pH
larutan pada saat tercapai titik ekivalen.

Jenis-jenis titrasi dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terjadi.


Beberapa jenis titrasi diantaranya adalah :

1. Titrasi asam basa

Titrasi asam basa merupakan metode analisis kuantitatif yang


berdasarkan reaksi asam basa. Sesuai persamaan umum reaksi asam basa :
asam + basa menjadi garam + air. Indikator yang biasa digunakan adalah
indikator yang dapat memprofilkan perubahan warna pada trayek pH
tertentu. Kurva titrasi asam basa biasanya dapat dibuat dengan membuat
plot antara ml titran (sb.x) dengan pH larutan (sb.y).

Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat diketahui kadarnya
dengan menggunakan metode titrimetri. Jika HA mewakili asam yang
akan ditentukan dan B mewakili basa, reaksinya adalah sebagai berikut:

2
HA + OH- A- + H2O

Atau

B + H3O+ BH+ + H2O

Titran pada umumnya adalah larutan standar dari elektrolit kuat, seperti
natrium hidroksida dan asam klorida.

2. Titrasi oksidasi reduksi (redoks) 

Titrasi redoks sesuai namanya merupakan jenis titrasi dengan


reaksi redoks. Secara umum ada tiga macam reaksi redoks.

 titrasi iodometri
Titrasi redoks dengan menggunakan I2 dan merupakan jenis
reaksi tidak langsung. Karena I2 yang akan bereaksi harus dibuat
terlebih dahulu dengan reaksi redoks sebelumnya.
 Titrasi iodimetri
Titrasi redoks dengan I2 juga. Bedanya dengan iodometri,
I2 yang digunakan langsung dalam wujud I2 sehingga disebut juga
reaksi langsung.
 Titrasi permanganometri
Reaksi titrasi dengan memanfaatkan ion Mn2+. Indikator
yang digunakan biasanya amilum yang dapat membentuk
kompleks dengan I2 yaitu iodo-amilum berwarna biru.

Selain itu bisa juga menggunakan autoindikator. Dimana kelebihan larutan


standar yang menetes pada larutan hasil reaksi utama yang telah stoikiometris
akan menunjukkan gejala tertentu seperti perubahan warna yang menandai
titrasi harus dihentikan.

Titrasi Pengenda

3
3. an (Argentometri)

Titrasi argentometri adalah jenis titrasi yang digunakan khusus


untuk reaksi pengendapan. Prinsip umumnya adalah mengenai kelarutan
dan tetapan hasil kali kelarutan dari reagen-reagen yang bereaksi. Secara
umum, metode titrasi argentometri ada tiga macam.

 Metode Mohr, Pada metode ini tidak ada indikator yang


digunakan. Sehingga untuk menandai titik akhir titrasi adalah
tingkat kekeruhan dari larutan sampel. Ketika larutan standar telah
mengalami reaksi stoikiometris dengan larutan sampel, maka ml
larutan standar berikutnya yang menetes pada larutan sampel akan
menghasilkan endapan karena larutan hasil reaksi titrasi telah
jenuh. Namun, dapat juga digunakan indikator yang dapat bereaksi
dengan kelebihan larutan standar dan membentuk endapan dengan
warna yang berbeda dari endapan reaksi utama.
 Metode Volhard, Metode ini menggunakan indikator yang akan
bereaksi dengan kelebihan larutan standar membentuk ion
kompleks dengan warna tertentu.
 Metode Fajans, Metode ini menggunakan indikator adsorpsi.
Endapan yang terbentuk dari reaksi utama dapat menyerap
indikator adsorpsi pada permukaannya sehingga endapan tersebut
terlihat berwarna.

4. Titrasi kompleks

Titrasi kompleksasi merupakan jenis titrasi dengan reaksi


kompleksasi atau pembentukan ion kompleks. Biasanya digunakan untuk
menganalisa kadar logam pada larutan sampel yang dapat membentuk
kompleks dengan larutan standar yang biasanya merupakan ligan.
Indikator yang digunakan biasanya akan bereaksi dengan kelebihan titran
(sama-sama membentuk ion kompleks) dan menunjukkan perubahan
warna. Pada titrasi jenis ini ada banyak hal yang harus ditimbang dan

4
diperhatikan mengingat pembentukan ion kompleks adalah spesifik pada
kondisi tertentu. Misalnya pada pH tertentu sehingga larutan sampel harus
didapar dengan buffer pH tertentu pula.

Contoh dari reaksi dimana terbentuk suatu kompleksstabil antara


ion perak dan sianida:

Ag+ + 2CN- Ag(CN)2-

Dalam metode titrasi dikenal beberapa istilah, yaitu:

a. Titran = suatu zat yang ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam sampel
dan telah diketahui konsentrasinya.

b. Titrat = zat yang belum diketahui kadarnya, yang ditambahkan sedikit


demi sedikit oleh titran.

c. Titik ekivalen = titik dimana terjadi kesetimbangan stokhiometri antara


titran dan titrat.

d. Titik akhir = titik dimana terjadinya perubahan warna pada indikator yang
menandakan penitaran berakhir.

Tidak semua reaksi kimia dapat digunakan sebagai basis untuk titrasi.
Berikut merupakan syarat-syarat reaksi yang dapat digunakan sebagai basis
titrasi :

1. Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan reaksi kimia tertentu.


Seharusnya tidak ada reaksi sampingan.

2. Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik


ekivalensi. Dengan kata lain, konstanta kesetimbangan haruslah amat
besar dan menyebabkan perubahan yang besar dalam konsentrasi titran
atau titrat pada titik ekivalensi.

5
3. Harus tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan titik ekivalensi
tercapai. Harus tersedia beberapa indikator atau metode instrumental agar
analis dapat menghentikan penambahan dari titran.

4. Diharapkan reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat


diselesaikan dalam beberapa menit.

Dalam metode titrimetrik, dilakukan standardisasi titran untuk


mengetahui konsentrasi titran yang digunakan. Proses standardisasi
menggunakan larutan standar yang telah diketahui secara pasti
konsentrasinya. Larutan ini disebut larutan standar primer.

Reaksi antara titran dengan substansi yang terpilih sebagai standar


primer harus memenuhi sejumlah persyaratan untuk analisis titrimetrik. Di
samping itu, standar primer harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Harus tersedia dalam bentuk murni, atau memiliki tingkat kemurnian


yang diketahui. Secara umum, jumlah total dari pengotor tidak boleh
melebihi 0,01 sampai 0,02%, dan harus dilakukan tes untuk tes untuk
menentukan kuantitas dari pengotor.

2. Zat yang digunakan sebagai larutan standar primer haruslah stabil. Harus
mudah dikeringkan dan tidak higroskopis sehingga tidak banyak meyerap
air selama proses penimbangan.

3. Yang diinginkan adalah standar primer tersebut mempunyai berat


ekivalen yang cukup tinggi agar meminimalisasi konsekuensi kesalahan
pada saat penimbangan.

B. Gravimetrik

Gravimetrik adalah suatu metode analisis yang digunakan untuk


menetapkan suatu kadar dari suatu sampel berdasarkan pengukuran bobor
dengan cara mengendapkan zat yang akan ditentukan dari suatu sampel.

6
Suatu metode analisis gravimetrik biasanya didasarkan pada reaksi
kimia seperti:

aA + rR → AaRr

dimana a molekul analit A, Bereaksi dengan r molekul reagen R. Produknya


AaRr, yang merupakan suatu endapan yang dapat ditimbang setelah
pengeringan atau bisa dibakar menjadi senyawa lain yang komposisinya
diketahui, untuk kemudian ditimbang.

Metode analisis gravimetri memiliki 2 persyaratan, yaitu:

1. Proses pemisahan haruslah sempurna sehingga kuantitas analit yang


terendapkan secara analisis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau
kurang, dalam menetapkan penyusunan utama dari suatu makro).
2. Zat yang ditimbang haruslah mempunyai susunan yang pasti dan harus
murni, atau sangat hampir murni. Bila tidak, hasil yang diperoleh tidak
akurat.
Persyaratan kedua itu lebih sukar dipenuhi para analis. Kesalahan-kesalahan
analisa yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti kelarutan endapan
umumnya dapat diminimalisasi dan jarang menimbulkan kesalahan analisa
yang signifikan. Masalahnya memperoleh endapan murni dan dapat disaring
menjadi permasalahan utama. Banyak penelitian telah dilakukan mengenai
pembentukkan dan sifat-sifat endapan, dan telah diperoleh cukup banyak
pengetahuan yang memungkinkan analis meminimalisasi masalah
kontaminasi endapan.

C. Metode Instrumental

Metode instrumental adalah metode analisis dengan melibatkan


instrumen-instrumen dalam pengukuran kadar dari suatu bahan. Dengan
metode ini, pengukuran sampel relatif lebih singkat dan lebih mudah
dibanding dengan metode titrimetrik dan gravimetrik.

7
8
BAB II

IODOMETRI

A. Teori Yodometri

Iodometri merupakan salah satu metode analisis kuantitatif volumetri


secara oksidimetri dan reduksimetri melalui proses titrasi (W Haryadi, 1990).
Titrasi oksidimetri adalah titrasi terhadap larutan zat pereduksi (reduktor)
dengan larutan standar zat pengoksidasi (oksidator). Titrasi reduksimetri
adalah titrasi terhadap larutan zat pengoksidasi (oksidator) dengan larutan
standar zat pereduksi (reduktor). Oksidasi adalah suatu proses pelepasan satu
elektron atau lebih atau bertambahnya bilangan oksidasi suatu unsur. Reduksi
adalah suatu proses penangkapan satu elektron atau lebih atau berkurangnya
bilangan oksidasi dari suatu unsur. Reaksi oksidasi dan reduksi berlangsung
serentak, dalam reaksi ini oksidator akan direduksi dan reduktor akan
dioksidasi sehingga terjadilah suatu reaksi sempurna.

Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi


(iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri).
Beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi
secara langsung dengan iodium.  Maka jumlah penentuan iodimetrik adalah
sedikit. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi
sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik.
Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang
ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan
larutan natrium tiosulfat.  Reaksi antara iodium dan tiosulfat berlangsung
secara sempurna.

Karena iod mudah larut dalam larutan iodida. Reaksi sel setengah itu
lebih baik ditulis sebagai:

I3- + 2e          →      3I-

9
Dan potensial reduksi standarnya adalah 0,5355 volt. Maka, iod atau
ion tri-iodida merupakan zat pengoksid yang jauh lebih lemah ketimbang
kalium permanganat, kalium dikromat, dan serium(IV) sulfat. Dalam
kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodimetri), digunakan suatu larutan
iod dalam kalium iodida, dan karena itu spesi reaktifnya adalh ion tri-iodida,
I3-. Untuk tepatnya, semua persamaan yang melibatkan reaksi-reaksi iod
seharusnya ditulis dengan I3- dan bukan dengan I2, misalnya:

I3- + 2S2O32- = 3I- + S4O62-

akan lebih akurat daripada:

I2 + 2S2O32- = 2I- + S4O62-

Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat
bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau
merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut sebagai karbon
tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan untuk
mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu
larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji-
iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium.

D. Prinsip Iodometri

Iod bebas seperti halogen lain dapat menangkap elektron dari zat
pereduksi, sehingga iod sebagai oksidator. ion I- siap memberikan elektron
dengan adanya zat penangkap elektron, sehingga I- bertindak sebagai zat
pereaksi.

Reaksinya :

I2 (padat) + 2e → 2I-

Chlorine akan membebaskan ion bebas dari larutan KI pada pH 8 atau


kurang. Iodium ini akan dititrasi dengan larutan standar sodium thiosulfate

10
dengan indikator starch dalam keadaan pH 3-4, sebab pada pH netral reaksi
ini tidak stoikiometri dengan reaksi oksidasi parsial thiosulfate menjadi sulfat.

E. Macam-macam Titrasi Iodometri

Diantara sekian banyak contoh teknik atau cara dalam analisis


kuantitatif terdapat dua cara melakukan analisis dengan menggunakan
senyawa pereduksi iodium yaitu secara langsung dan tidak langsung. Cara
langsung disebut iodimetri (digunakan larutan iodium untuk mengoksidasi
reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secara kuantitatif pada titik
ekivalennya). Namun, metode iodimetri ini jarang dilakukan mengingat
iodium sendiri merupakan oksidator yang lemah. Sedangkan cara tidak
langsung disebut iodometri (oksidator yang dianalisis kemudian direaksikan
dengan ion iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya
iodium dibebaskan secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan natrium
thiosilfat standar atau asam arsenit).

1. Titrasi Langsung Iodimetri

Merupakan titrasi langsung dengan menggunakan baku iodium


(I2) dan digunakan untuk analisis kuantitatif senyawa-senyawa yang
mempunyai potensial oksidasi lebih kecil daripada sistem iodium-iodida
atau dengan kata lain digunakan untuk senyawa-senyawa yang bersifat
reduktor yang cukup kuat seperti Vitamin C, tiosulfat, arsenit, sulfide,
sulfit, Stibium (III), timah (II), dan ferosianida. Daya mereduksi dari
berbagai macam zat ini tergantung pada konsentrasi ion hydrogen, dan
hanya dengan penyesuaian pH dengan tepat yang dapat menghasilkan
reaksi dengan iodium secara kuantitatif. Namun, metode iodimetri ini
jarang dilakukan mengingat iodium sendiri merupakan oksidator yang
lemah. Prinsip penetapannya yaitu apabila zat uji (reduktor) langsung
dititrasi dengan larutan iodium. ( I2 ) sebagai larutan standar.

11
Reaksinya : Reduktor  → oksidator + e

          I2 + 2e  → 2I

Misalnya pada titrasi Na2S2O3 oleh I2.

2Na2S2O3 + I2 → 2NaI + Na2S4O6

Subtansi-subtasi penting yang cukup kuat sebagai unsur-unsur


reduksi untuk dititrasi langsung dengan iodin adalah tiosulfat,
arsenik(III), antimony(III), sulfida, sulfit, timah(II), dan ferosianida.

Berikut beberapa analit yang dapat ditentukan dengan metode


titrasi langsung iodimetri:

ANALIT REAKSI

Antimon (III) HSbOC4H6O6 + H2O ↔ HSbO2C4H4O6 + 2H+ + 2I-

Arseni (III) HAsO2 + I2 + 2H2O ↔ H3AsO4 + 2H+ + 2I-

Ferosianida 2Fe(CN)64- + I2 ↔ 2Fe(CN)63- + 2I-

Hidrogen sianida HCN + I2 ↔ ICN + H+ + I-

Hidrazin N2H4 + 2I2 ↔ N2 + 4H+ + 4I-

Belerang (sulfida) H2S + I2 ↔ 2H+ + 2I- + S

Belerang (sulfida) H2SO3 + I2 + H2O ↔ H2SO4 + 2H+ +2I-

Tiosulfat 2S2O32- + I2 ↔ S4O62- + 2I-

Timah (II) Sn2+ + I2 ↔ Sn4+ + 2I-

2. Titrasi Tidak Langsung Iodometri

Merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk


menetapkan senyawa-senyawa yang mempunyai oksidasi lebih besar dari
sistem iodium-iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat oksidator

12
seperti CuSO4 5H2O. Pada Iodometri, sampel yang bersifat oksidator
direduksi dengan kalium iodida berlebih dan akan menghasilkan iodium
yang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku tiosulfat. Banyaknya
volume tiosulfat yang digunakan sebagai titran setara dengan iod yang
dihasilkan dan setara dengan banyaknya sampel. Prinsip penetapannya
yaitu bila zat uji (oksidator) mula-mula direaksikan dengan ion iodida
berlebih, kemudian iodium yang terjadi dititrasi dengan larutan tiosulfat.

Reaksinya :     oksidator + KI      → I2

                I2 + 2 Na2S2O3   → 2NaI + Na2S4O6

Agen pengoksidasi yang membutuhkan suatu larutan asam untuk


bereaksi dengan iodin, natrium thiosulfat biasanya dipergunakan sebagai
titrannya. Titrasi dengan arsenic(III) membutuhkan sebuah larutan yang
sedikit alkalin.

Metode titrasi langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi


dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi tak langsung (iodometri)
adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi
kimia.

Pada metode iodimetri dan iodometri, larutan harus dijaga supaya


pH larutan lebih kecil dari 8 karena dalam larutan alkali iodium bereaksi
dengan hidroksida (OH-) menghasilkan ion hipoiodit yang pada akhirnya
menghasilkan ion iodat menurut reaksi :

 I2 + OH-               HI + IO-

 3IO-                      IO3- + 2I-

Sehingga apabila ini terjadi maka potensial oksidasinya lebih


besar daripada iodium akibatnya akan mengoksidasi tiosulfat (S2O32-) tapi
juga menghasilkan sulfat (SO42-)  sehingga menyulitkan perhitungan

13
stoikiometri (reaksi berjalan tidak kuantitatif). Oleh karena itu, pada
metode iodometri tidak pernah dilakukan dalam larutan basa kuat.

Berikut beberapa analit yang dapat ditentukan dengan metode


titrasi tidak langsung iodometri:

ANALIT REAKSI

Arsenik (V) H3AsO4 + 2H+ + 2I- ↔ HAsO2 + I2 + 2H2O

Bromin Br2 + 2I- ↔ 2Br- + 3I2 + 3H2O

Bromat BrO3- + 6H+ + 6I- ↔ Br- + 3I2 + 3H2O

Klorin Cl2 + 2I- ↔ 2Cl- + I2

Klorat ClO3- + 6H+ + 6I- ↔ Cl- + 3I2 + 3H2O

Tembaga (II) 2Cu2+ + 4I- ↔ 2CuI(s) + I2

Dikromat Cr2O72- + 6I- + 14H+ ↔ Cr3+ + 3I2 + 7H2O

Hidrogen Peroksida H2O2 + 2H+ + 2I- ↔ I2 + 2H2O

Iodat IO3- + 5I- + 6H+ ↔ 3I2 + 3H2O

Nitrit 2HNO2 + 2I- + 2H+ ↔ 2NO + I2 + 2H2O

Oksigen O2 + 4Mn(OH)2 + 2H2O ↔ 4Mn(OH)3

2Mn(OH)3 + 2I- + 6H+ ↔ 2Mn2+ + I2 + 6H2O

Ozon O3 + 2I- + 2H+ ↔ O2 + I2 + H2O

Periodat IO4- + 7I- + 8H+ ↔ 4I2 + 4H2O

Permanganat 2MnO4- + 10I- + 16H+ ↔ 2Mn2+ + 5I2 + 8H2O

Meskipun titrasi langsung iodimetri dan titrasi tidak langsung


iodometri termasuk ke dalam titrasi oksidasi-reduksi,namun metode titrasi
langsung iodimetri dan titrasi tidak langsung iodometri terdapat beberapa

14
perbedaan. Berikut tabel perbedaan titrasi langsung iodimetri dan titrasi tidak
langsung iodometri.

Iodometri Iodimetri
Termasuk kedalam Reduktometri Termasuk kedalam Oksidimetri
Larutan  Na2S2O3 (Tio) sebagai Larutan  I2  sebagai Penitar (Titran)
penitar (Titran)
Penambahan Indikator Kanji disaat Penambahan Indikator kanji saat
mendekati titik akhir. awal penitaran
Termasuk kedalam Titrasi tidak Termasuk kedalam Titrasi
langsung langsung
Oksidator sebagai titrat Reduktor sebagai titrat
Titrasi dalam suasana asam Titrasi dalam suasana sedikit
basa/netral
Penambahan KI sebagai zat Penambahan NaHCO3 sebagai zat
penambah penambah
Titran sebagai reduktor Titran sebagai oksidator

F. Larutan Baku

a. Pembuatan larutan baku Iodium

Menurut FI Ed III, larutan iodium 0,1 N dibuat dengan


melarutkan 12,69 g iodium P ke dalam larutan 18 g kalium iodida P
dalam 100 ml air, kemudian diencerkan dengan air hingga 1000 ml.
Larutan iodium yang lebih encer (0,02 : 0,001 N) dibuat dengan
mengencerkan larutan iodium 0,1 N.

0,335 gram iod melarut dalam 1 dm3 air pada 25⁰C. Selain


keterlarutan yang kecil ini , larutan air iod mempunyai tekanan uap yang
cukup berarti, karena itu konsentrasinya berkurang sedikit disebabkan
oleh penguapan ketika ditangani. Kedua kesulitan ini dapat diatasi
dengan melarutkan iod itu dalam larutan air kalium iodida. Makin pekat
larutan itu,makin besar keterlarutan iod.

15
Keterlarutan yang bertambah ini disebabkan oleh pembentukan
ion triiodida:

I2 + I                        I3-

Larutan yang dihasilkan mempunyai tekanan uap yang jauh lebih


rendah ketimbang suatu larutan iod dalam air murni, akibatnya
kehilangan oleh penguapan menjadi sangat jauh berkurang. Meskipun
demikian, tekanan uapnya masih cukup berarti sehingga harus selalu
diambil tindakan-tindakan pencegahan untuk menjaga agar bejana-bejana
yang mengandung iod tetap tertutup,kecuali sewaktu titrasi yang
sesungguhnya. Bila larutan iod dalam iodida dititrasi dengan suatu
reduktor,iod yang bebas bereaksi dengan zat pereduksi itu. Ini menggeser
kesetimbangan ke kiri, dan akhirnya semua triiodida terurai, jadi larutan
berperilaku seakan-akan adalah suatu larutan iod bebas.

Untuk penyiapan larutan iod standar harus digunakan iod pro


analisis atau yang disublimasi-ulang dan kalium iodida yang bebas iodat
(misalnya pro analisis).

Larutan dapat distandarisasi terhadap arsen(III) oksida murni atau


dengan suatu larutan natrium tiosulfat yang baru saja distandarkan
terhadap kalium iodat.

Larutan iod paling baik diawetkan dalam botol kecil yang


bersumbat-kaca. Ini harus diisi sepenuhnya,dan disimpan di tempat yang
gelap dan dingin.Kontak dengan gabus atau tutup karet harus dihindari.

Selain menggunakan larutan iodium dalam iodimetri dapat


digunakan larutan baku KIO3 dan KI. Larutan ini cukup stabil dalam
menghasilkan iodium bila ditambahkan asam menurut reaksi :

IO3- + 5I- + 6 H+ → 3I2 + 3H2O

16
Larutan KIO3 dan KI memiliki dua kegunaan penting, pertama
adalah sebagai sumber dari sejumlah iod yang diketahui dalam titrasi, ia
harus ditambahkan kepada larutan yang mengandung asam kuat, ia tak
dapat digunakan dalam medium yang netral atau memiliki keasaman
rendah. Yang kedua, dalam penetapan kandungan asam dari larutan
secara iodometri, atau dalam standarisasi larutan asam keras.

Pada penggunaan iodium untuk titrasi ada dua sumber kesalahan


yaitu :

1. Hilangnya iodium karena mudah menguap

2. Iodida dalam larutan asam mudah dioksidasi oleh udara menurut


reaksi :

4I + O2 + 4H+ → 2I2 + 2H2O

Penguapan dari iodida dapat dikurangi dengan adanya kelebihan


iodida karena terbentuk ion triiodida. Dengan 4% KI, maka penguapan
iodium dapat diabaikan, asalkan titrasinya tidak terlalu lama. Titrasi
harus dilakukan dalam labu tertutup dan dingin. Oksidasi iodida oleh
udara dalm larutan netral dapat diabaikan, akan tetapi oksidasinya
bertambah jika pH larutan turun. Reaksi ini dikatalisis oleh logam dengan
valensi tertentu (terutama tembaga), ion nitrit dan cahaya matahari yang
kuat. Oleh karena itu titrasi tidak boleh dilakukan pada cahaya matahari
langsung. Oksidasi iodida oleh udara dapat dipengaruhi oleh reaksi
antara iodida dengan oksidator terutama jika reaksinya berjalan lambat.
Oleh karena itu larutan yang mengandung iodida dan asam tidak boleh
dibiarkan terlalu lama, maka larutan itu harus dibebaskan dari udar
sebelum penambahan iodida. Udara dikeluarkan dengan menambahkan
karbondioksida.

17
b. Pembuatan larutan baku Natrium Tiosulfat

Menurut FI edisi III, larutan baku Na₂S₂O₃ 0,1 N dibuat dengan


cara 26 gram natrium tiosulfat P dan 200 mg natrium carbonat P
dilarutkan dalam air bebas CO₂ P segar hingga 1000 ml. Larutan
Na₂S₂O₃ yang lebih encer 0,05 N ; 0,02 N ; 0,01 N : 0,1 N dibakukan
sebelum digunakan.

Natrium tiosulfat Na₂S₂O₃.5H₂O mudah diperoleh dalam


keadaan kemurnian yang tinggi, tetapi selalu ada sedikit ketidakpastian
akan kandungan air yang setepatnya, karena sifat efloresen (melapuk-
lekang) dari garam itu dan karena alasan - alasan lain . Karena itu zat ini
tidak sesuai sebagai standar primer.

Larutan baku tiosulfat jika disimpan lama - lama akan berubah


titernya. Beberapa hal yang menyebabkan sangat kompleks dan saling
bertentangan akan tetapi beberapa faktor yang dapat menyababkan
terurainya larutan tiosulfat dapat disebutka sebagai berikut :

1. Keasaman

Larutan tiosulfat dalam suasana alkali atau netral relatif


stabil, tidak dikenal adanya asam tiosulfat atau hidrogen tiosulfat.
Proses peruraiannya sangat rumit, tetapi fakta yang dapat
dikemukakan adalah jika konsentrasi ion hidrogen lebih besar dari
2,5 x 10⁻⁵ maka terbentuk ion hidrogen sulfit yang sangat tidak
stabil dan terurai menurut reaksi :

HS₂O₃⁻      →        HSO₃⁻  +    S

Kemudian secara perlahan – lahan akan terurai lagi dan


terbentuk pentationat menurut reaksi :

18
6H⁺    +    6S₂O₃    →        2S₅O₆2⁻   +  3H₂O

Jika HCl pekat maka yang terjadi adalah hidrogen sulfida dan
hidrogen polisulfida dan tidak terbentuk ditionat atau sulfat,
sedangkan dengan HCl yang kurang pekat terutama jika ada
katalisator arsen trioksida maka akan terbentuk pentationat. Larutan
tiosulfat paling stabil pada pH antara 9 - 10. Tops menganjurkan
pemberian natrium carbonat, pada pembuatan larutan baku tiosulfat,
akan tetapi hal ini akan mengakibatkan terjadinya reaksi samping
pada saat titrasi larutan iodium yang netral. Di samping itu pada
larutan yang sangat alkalis maka kemungkinan terjadi reaksi sebagai
berikut :

3Na₂S₂O₃  +  6NaOH     →    2Na₂S + 4Na₂SO₃  + 3H₂O

Mohr juga menunjukan bahwa larutan tiosulfat dalam air


diuraikan oleh asam karbonat menurut reaksi :

H₂O  + CO₂     →   H₂CO₃

Na₂S₂O₃ + H₂CO₃  →    NaHCO₃   +  NaHSO₃ + S

2. Oksidasi oleh udara

Tiosulfat secara perlahan-lahan akan dioksidasi oleh udara.


Reaksinya terjadi dalam dua tingkat :
Na₂S₂O₃ + H₂SO₄            →    Na₂SO₃     +  S      (lambat)
Na₂S₂O₃ + ½O₂                →  Na₂SO₄        (dapat diukur)

Na₂S₂O₃    +  ½O₂            →   Na₂SO₄     +   S

3. Mikroorganisme

Dari beberapa percobaan ternyata bahwa sumber utama


peruraian larutan baku tiosulfat adalah disebabkan adanya

19
mikroorganisme dalam larutan tersebut. Ternyata ada
mikroorganisme dalam udara yang menggunakan sulfur dengan cara
mengambil sulfur dari tiosulfat menjadi sulfit yang oleh udara
langsung dioksidasi menjadi sulfat. Ada beberapa bakteri dalam
udara yang bersifat demikian. Proses metabolisme dari bakteri itu
mungkin melalui reaksi sebagai berikut :

Na2S2O4 +   H2O +  O      →        Na2S2O3  + 2NaOH,      dan

Na2S2O4                            →        NaSO3     +      S

Na2SO4  + O                     →        NaSO3             dan

S    +   3O  +  H2O            →        H2SO4

Oleh karena itu larutan tiosulfat yang dibuat steril akan stabil
sekali dan hanya kalau terjadi kontaminasi bakteri belerang maka
akan terurai perlahan - lahan.

G. Standardisasi

a. Standardisasi Larutan Natrium Tiosulfat

Tiosulfat yang dipakai dalam titrasi iodometri dapat distandarisasi


dengan menggunakan senyawa oksidator yang memiliki kemurnian
tinggi (analytical grade) seperti K2Cr2O7, KIO3, KBrO3, atau senyawaan
tembaga(II).

Bila digunakan Cu(II) maka pH harus dibuffer pada pH 3 dan


dipakai tiosianat untuk masking agent, KSCN ditambahkan pada waktu
mendektitik akhir titrasi dengan tujuan untuk menggantikan I2 yang
teradsorbsi oleh CuI. Bila pH yang digunakan tinggi maka tembaga(II)
akan terhidrolisis dan akan terbentuk hidroksidanya. Jika keasaman
larutan sangat tinggi maka cenderung terjadi reaksi I- sebagai akibat
adanya Cu(II) dalam larutan yang megkatalis reaksi tersebut.

20
1. Dengan Kalium Iodat

Adapun cara pembakuannya dilakukan dengan cara sebagai


berikut: Timbang kurang lebih 150 mg kalium iodat yang sudah
dikeringkan pada suhu 120⁰ C secara seksama, larutkan dalam 25 ml
air yang telah dididihkan. Tambahkan 2 gram kalium iodida yang
bebas iodat dan 5 ml HCl pekat dalam erlenmeyer bertutup. Iodium
yang dibebaskan dititrasi dengan natrium tiosulfat yang akan
dibakukan sambil terus dikocok. Bila larutan menjadi kuning pucat
tambah 100 ml air dan 3 ml larutan kanji. Titrasi dilanjutkan sampai
warna biru tepat hilang (tidak berwarna).
Pada pembakuan di atas reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut:
KIO₃  +  5KI  +  6HCl     →     3I₂       +   6KCl   +  3H₂O
I₂   +  2Na₂S₂O₃              →     2NaI    +   Na₂S₄O₆

Pada reaksi di atas valensinya adalah 6 karena 1 mol


KIO₃ setara dengan 3 mol I₂, sedangkan 1 mol I₂ setara dengan 2e.
Sehingga 1 mol KIO₃ setara dengan 6e akibatnya BE KIO₃ sama
dengan BM/6. Reaksi iodatnya berjalan cukup cepat, reaksi ini juga
hanya membutuhkan sedikit kelebihan ion hidrogen untuk
keberlangsungan reaksi.
Namun, dengan menggunakan kalium iodat sebagai larutan
standar primer untuk menstadardisasi larutan natrium tiosulfat
memiliki kerugian. Kerugian utama dari garam ini sebaai standar
primer adalah bahwa berat ekivalennya yang relatif kecil, yakni
35,67. Untuk menghindari kesalahan yang signifikan pada saat
penimbangan, dilakukan pembuatan larutan stok ke dalam labu
volumetrik untuk kemudian diencerkan secara terukur.
Perhitungan normalitas dari natrium tiosulfat:
      Mgrek natrium tiosulfat          =          mgrek kalium iodat

21
ml Na₂S₂O₃                       =           mg KIO₃ x Valensi
                                                   BM KIO₃ x ml Na₂S₂O₃

2. Dengan Kalium Dikromat

Senyawa ini bisa didapat dengan tingkat kemurnian yang


tinggi. Senyawa ini memiliki berat ekivalen yang cukup tinggi, tidak
higroskopis, dan padat serta larutan-larutannya amat stabil.
Kalium dikromat direduksi oleh larutan kalium iodida yang
asam dan ion dibebaskan.
Cr₂O₇²-     + 6I- + 14H⁺  →      2Cr³⁺ + 3I₂ + &H₂O
Reaksi dapat terkena jumlah sesatan :
(1)   Jumlah iodida (dari kelebihan iodida dan asam) mudah
teroksidasi oleh udara, terutama dengan adanya garam - garam
kromium III, dan
(2)   Reaksi tidak berlangsung cepat. Karena itu, paling baik aliran
arus karbondioksida melalui labu reaksi sebelum dan selama
titrasi (suatu metode yang lebih memudahkan tetapi kurang
efisien adalah dengan menambahkan sedikit natrium
hidrogenkarbonat padat kepada larutan yang asam itu, serta
menjaga agar labu tertutup sebanyak mungkin), serta
membiarkan selama 5 menit untuk kelengkapan reaksi.
Taruh 100 cm³ air suling dingin, yang baru dididihkan, dalam
sebuah labu erlenmeyer 500 cm³, sebaiknya 3 g kalium iodida yang
bebas iodida, dan 2 g natrium hidrogenkarbonat yang murni, dan
kocok sampai garam-garam  itu melarut. Tambahkan 6 cm³ asam
klorida pekat perlahan-lahan sambil mengolak labu perlahan-lahan
untuk mencampurkan cairan-cairan : alirka 25,0 cm³ kalium
dikromat 0,1 N standar (1), campurkan larutan-larutan baik-baik, dan
cuci dinding tabung dengan sedikit air yang telah dididihkan, dari
botol pencuci. Sumbat labu (atau tutupi dengan sebuah kaca arloji

22
kecil), dan diamkan di tempat gelap selama 5 menit untuk
melenkapkan reaksi. Bilas sumbat atau kaca arloji; dan encerkan
larutan  dengan 300 cm³ air dingin yang telah dididihkan
sebelumnya. Titrasi iod yang dibebaskan dengan larutan natrium
tiosulfat yang terkandung dalam sebuah buret, sementara terus-
menerus  cairan diolak supaya larutan-larutan bercampur. Bila
bagian terbesar iod telah bereaksi  seperti ditunjukkan oleh larutan
yang memperoleh warna hijau kekuningan, tambahkan 2 cm³ larutan
kanji dan bilas ke arah bawah dinding labu; warna harus berubah
menjadi biru. Teruskan penambahan larutan tiosulfat setetetes demi
setetes, dan olak cairan terus-menerus, sampai 1 tetes mengubah
warna dari biru kehijauan  menjadi hijau muda. Titik akhir tajam,
dan mudah diamati pada cahaya yang baik dengan latar belakang
putih. Lakukan suatu penetapan blanko, dengan  mengganti larutan
kalium dikromat dengan air suling; jika kalium iodida itu bebas
iodat, blanko ini mestinya kecil terabaikan.
Catatan:
Jika ini lebih disukai, boleh ditimbang dengan cermat kira-kira 0,20
g kalium dikromat pro analis, larutkan dalam 50 cm³ air dingin, yang
sebelumnya telah dididihkan, dan lakukan titrasi seperti diperinci di
atas.
Prosedur pilihan lain tersebut, mempergunakan serunutan tembag
sulfat sebagai katalis untuk meningkatkan kecepatan reaksi;
akibatnya, asam yang lebih lemah (asam asetat) boleh digunakan,
dan oksidasi oleh atmosfer terhadap asam iodida akan berkurang.
Taruh 25,0 cm³  kalium dikromat 0,1 N dalam sebuah labu
erlenmeyer 250 cm³, tambahkan 5,0 cm³ asam asetat glasial, 5 cm³
tembaga sulfat 0,001 M, dan cuci dinding labu dengan air suling.
Tambahkan  30 cm³ larutan kalium iodida 10 persen, dan titrasi iod
yang dibebaskan dengan larutan tiosulfat kira-kira 0,1 N, dengan
memasukkan sedikit indikator kanji menjelang akhir. Titrasi boleh
dilengkapkan dalam 34 menit setelah penambahan larutan kalium

23
iodida. Kurangi 0,05 cm³ sebagai perhitungan atas iod yang
dibebaskan oleh katalis tembaga sulfat.
Suatu larutan kalium permanganat yang telah distandarisasi dapat
digunakan sebagai ganti larutan kalium dikromat, dengan
menambahkan 2 cm³ asam klorida pekat kepada tiap porsi @ 25 cm³
larutan kalium permanganat; dalam hal ini prosedur pilihan lain,
dimana ditimbang suatu bagian dari garam bersangkutan, tak dapat
dipakai.

3. Dengan larutan iod standar

Jika suatu larutan iod standar tersedia, ini dapat digunakan


untuk menstandarkan larutan tiosulfat. Ukuran satu porsi
@25cm3 larutan iod standar dan masukkan dalam sebuah labu
erlenmeyer 250cm3 , tambahkan kira-kira 150cm3 air suling dan
titrasi dengan larutan tiosilfat, dengan menambahkan 2cm3 larutan
kanji ketika cairan berwarna kuning pucat.
Bila larutan tiosulfat ditambahkan kepada suatu larutan yang
mengandung iod, reaksi keseluruhan yang terjadi dengan cepat dan
secara stoikiometris pada kondisi-kondisi eksperimen biasa (pH <5)
adalah:
2 S2O32- + I2 → S4O62- +2I- atau 2 S2O32- + I3- → S4O62- + 3I-
Telah diperlihatkan bahwa zat perantara S2O3I- yang tak berwarna,
terbentuk oleh reaksi reversibel yang cepat:
S2O32-  + I2 ↔ S2O3I- + I-
Zat perantara ini bereaksi dengan ion tiosulfat dengan memberi
bagian utama dari reaksi keseluruhan :
S2O3I- + S2O32- → S4O62- + I-
Zat perantara ini juga bereaksi dengan ion iodida :
2 S2O3I- + I- → S4O62- + I3-
Ini menjelaskan pemunculan kembali iod setelah titik akhir pada
titrasi larutan-larutan iod yang sangat encer dengan tiosulfat.

24
b. Standardisasi Larutan Iodium
1. Dengan Arsen Trioksida
Adapun cara pembakuannya dilakukan dengan cara sebagai
berikut. Timbang kurang lebih 150 mg arsen trioksid secara seksama
dan larutkan dalam 20 ml NaOH 1 N bila perlu dengan pemanasan,
encerkan dengan 40 ml air dan tambah dengan 2 tetes metil orange
dan diikuti dengan penambaha HCl encer sampai warna kuning
berubah menjadi pink. Tambahkan 2 gram NaHCO3, 20 ml air dan 3
ml larutan kanji. Titrasi dengan baku iodium perlahan-lahan hingga
timbul warna biru tetap.
Arsen trioksid sukar larut dalam air akan tetapi mudah larut
dalam larutan natrium hidroksida (NaOH) dengan membentuk
natrium arsenit menurut reaksi :
As2O3 + 6 NaOH → 2 Na2AsO3 + 3 H20
Jika iodium ditambahkan pada larutan alkali maka iodium
akan bereaksi dengan NaOH membentuk natrium hipoiodit atau
senyawa-senyawa serupa yang mana tidak akan bereaksi secara
cepat dengan natrium arsenit
2 NaOH + I2 → NaIO + NaI + H2O
Kelebihan natrium hidroksida dinetralkan dengan HCl
menggunakan metil orange sebagai indikator. Penambahan NaHCO3
untuk menetralkan asam iodida (HI) yang terbentuk yang mana asam
iodida ini menyebabkan reaksi berjalan bolak-balik (reversibel).
Natrium bikarbonat akan menghilangkan asam iodida secepat asam
iodida terbentuk sehingga reaksi berjalan ke kanan secara sempurna.
Reaksi secara lengkap pada pembakuan iodium dengan arsen
trioksid sebagai berikut :
As2O3 + 6NaOH → 2Na3AsO3 + 3H2O
Na3AsO3 + I2 + 2NaHCO3 → Na3AsO4 + 2NaI + 2CO2 + H2O
Pada reaksi diatas dapat diketahui bahwa valensinya adalah
empat. Karena 1 mol As2O3 setara dengan 2 mol Na3AsO3 sedangkan
1 mol Na3AsO3 setara dengan 1 mol I2 akibatnya 1 mol As2O3 setara

25
dengan 2 mol I2 sehingga perhitungan normalitas dari iodium setara
dengan 2 mol I2 sehingga perhitungan normalitas dari iodium :
mgrek iodium  =  mgrek arsen trioksid
ml I2 x N I2       = mmol As2O3 x valensi
N I2                   =  mg As2O3 x valensi
                                   BM As2O3 x ml I2

2. Dengan larutan Natrium Tiosulfat standar

Gunakanlah larutan natrium tiosulfat, yang baru saja


distandarkan, sebaiknya terhadap kalium iodat. Pindahkan 25
cm3 larutan iod itu ke sebuah Erlenmeyer 250 cm3, encerkan menjadi
100 cm3 dan tambahkan larutan tiosulfat standar dari buret sampai
larutan berwarna kuning pucat. Tambahkan 2 cm3 larutan kanji, dan
teruskan penambahan larutan tiosulfat perlahan-lahan sampai larutan
tepat tak berwarna.

Reaksi antara iodium dengan tiosulfat yang mana tiosulfat


dioksidasi oleh iodium menjadi tetrationat menurut reaksi :

2S2O32- + I2 → 2I- + S4O62-

Titrasi iodium dengan tiosulfat tidak dapat dilakukan dalam


suasana alkalis dan pH yang diperbolehkan tergantung dari
konsentrasi iodium. Supaya terjadi oksidasi yang kuantitatif dari
tiosulfat menjadi tetraionat oleh iodium maka pH harus kurang dari
7,6 untuk titrasi dengan iodium 0,1 N. Jika larutan iodium
konsentrasinya 0,01 N maka pH nya harus kurang dari 6,5 dan
kurang dari 5 jika konsentrasi iodium 0,001 N. Sedangkan untuk
iodium yang sangat encer sekali maka suasananya harus asam sekali.

26
H. Penentuan Titik Akhir

Larutan iodium dalam air yang mengandung iodida berwarna kuning


sampai coklat tergantung kadarnya. Iodium dapat berlaku sebagai indikator
sendiri tapi penglihatan kurang dapat menagkap perubahan warnanya, maka
digunakan indikator amilum.

Dalam lingkungan asam kuat amilum tidak dapat digunakan sebagai


indikator karena amilum akan terhidrolisa. Kepekaan warna indikator akan
menurun apabila :

1. Suhu dinaikan
2. Larutan mengandung alkaohol, pada konsentrasi alkohol >50% menjadi
tidak berwarna

Keuntungan menggunakan indikator amilum :

1. Harganya murah
2. Mudah didapat
3. Perubahan warna pada titik akhirtitrasi jelas

Kerugian/keburukan menggunakan indikator amlilum :

1. Sukar larut dalam air dingin


2. Tidak stabil mudah terhidolisa menjadi dekstrin
3. Dalam suasana asam kuat akan terhidrolisa
4. Larutan amilum dengan iodium menjadi kompleks yang sukar larut maka
pemberian amilum mendekati titik akhir.
5. Jika larutanya sangat encer akan terjadi pergeseran titik akhir titrasi.

Mengatasi keburukan-keburukan tersebut, dengan jalan menggunakan


tepung Natrium glikolat (sebagai pengganti amilum) yang sifatnya lebih baik
dari pada amilum :

27
1. Tidak higroskopis
2. Mudah larut dalam air
3. Lebih stabil
4. Dengan iodium tidak membentuk kompleks yang sukar larut, sehingga
penambahanya tidak perlu mendekat titik akhir.
5. Pada larutan yang encer, tidak terjadi pergeseran titik akhir.

Na-glikolat dengan larutan iodium pekat berwarna hijau dan bila


kadar iodium turun berubah menjadi biru.

Zat-zat organik seperti CCl4, CHCl3, dan CS2 (tidak dapat bercampur


dengan air) pada saat mendekati titik akhir titrasi kadar larutan +
CCl4/CS2/CHCl3yang akan turun ke dasar labu titrasi dengan warna merah
violet karena I2 terlarut didalamnya. Kemudian titrasi dilanjutkan sambil
dikocok keras sampai warna merah hilang.

I. Reagen yang Digunakan Pada Titrasi Iodometri

a. Larutan I2

Kelarutan iodida adalah serupa dengan klorida dan bromida yakni larut
dalam air. Garam perak iodida, merkurium (I) iodida, merkurium (II)
iodida, tembaga (I) iodida, dan timbal iodida merupakan garam iodida
yang paling sedikit larut.

b. Natrium Tiosulfat (Na2S2O3)

Sifat fisik Na2S2O3 ( Natrium tiosulfat)

o Berbentuk hablur putih tidak berbau

o Bersifat lembut

o Mengapung di atas air seperti minyak

28
o Dapat terbakar secara spontanitas(lazimnya tidak terbakar di bawah
1150ᴼC

o Tidak pernah di temukan sendiri di alam

Sifat kimia Na2S2O3 :

 Pengaruh pemanasan

 NaSO4 + H2O lalu dipanaskan maka menyebabkan Natrium  sulfat


tidak berubah.

 Na2S2O3 + H2O lalu dipanaskan maka menyebabkan Natrium


tiosulfat meleleh.

 Pengaruh asam encer

Na2S2O3 + HCl akan menyebabkan Lama-kelamaan natrium tiosulfat


larut terbentuk suspensi berwarna putih dan tercium bau belerang.

c. Kaliun dikromat (K2Cr2O7)

Kromat logam biasanya adalah merupakan zat padat berwarna yang


menghasilkan larutan berwarna kuning jika dilarutkan dalam air.

d. Kalium Iodat (KIO3)

Garam-garam alkali iodat larut dalam air. Iodat logam-logam lainnya


sangat sedikit larut dan umumnya kurang larut dari klorat dan bromat
padanannya.

e. Arsen Trioksida (As2O3)


Arsenik adalah zat padat yang berwarna abu-abu seperti baja, getas dan
memiliki kilap logam. Ketika dipanaskan, arsenik akan tersublimasi dan
timbul bau seperti bawang putih yang khas. Ketika dipanaskan dalam
aliran udara yang bebas, arsenik terbakar denga nyala api biru,

29
menghasilkan asap putih arsenik (III) oksida, As2O6. Semua senyawa
arsenik beracun. Unsur ini tidak larut dalam asam klorida, dan asam
sulfat encer, tetapi sangat mudah larut dalam asam nitrat encer.

f. Indikator Redoks

Indikator ini dipakai pada Iodometri dan Iodimetri, indikator yang biasa
digunakan adanya Amylum dan Chloroform. Pemakaian indikator ini
tidak terpengaruh oleh naik turunnya bilangan oksidasi atau potensial
larutan, melainkan berdasarkan pembentukan kompleks dengan iodium.
1) Amylum
Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak
larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati
merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk
menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam
jangka panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai
sumber energi yang penting.
Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan
amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa
memberikan sifat keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan
sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin
sedangkan amilopektin tidak bereaksi.

Sifat Fisika 

a. Berbentuk bubuk putih

b. Tidak berasa dan tidak berbau

Sifat Kimia

a. Karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air.

b. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan


untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis)

30
dalam jangka panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati
sebagai sumber energi yang penting.

Penggunaan Indikator ini berdasarkan pembentukan


kompleks Iod-Amylum yang larut dengan Iodium (I2) yang berwarna
biru cerah. Mekanisme pewarnaan biru ini karena terbentuknya suatu
senyawa dala dari amilum dan atom iod. Fraksi Amilosa-amilum
mempunyai bentuk helikal dan dengan itu membentuk celah
berbentuk saluran. Dalam saluran itu terdapat suatu rantai iod linear,
Warna biru disebabkan oleh ketujuh elektron luar atom Iod yang
mudah bergerak.

I2 + Amylum à Iod-Amylum (biru)


Iod-Amylum + S2O32-   (Warna Hilang)

Setelah penambahan titrant Tiosulfat maka kompleks ini


dipecah dan bila konsentrasi Iod habis maka warna biru tadi akan
hilang. Penambahan indikator amylum sebaiknya menjelang titik
akhir titrasi karena kompleks iod-amilum yang terbentuk sukar
dipecah pada titik akhir titrasi sehingga penggunaan Tiosulfat
kelebihan berakibat terjadi kesalahan titrasi. Bila Iod masih banyak
sekali bahkan dapat menguraikan amilum dan hasil penguraian ini
mengganggu perubahan warna pada titik akhir titrasi.
2) Chloroform
Penggunaan indikator ini untuk titrasi Iodometri, berdasarkan
fungsi Chloroform sebagai pelarut organik yang melarutkan iodium
dalam fase organik (fase nonpolar). Melarutnya Iodium dalam
Chloroform memberi warna violet. Hal ini patut dipahami karena
Iodium sukar larut dalam air, larut hanya sekitar 0,0013 mol perliter
pada suhu 25ᴼC. Tetapi sangat mudah larut dalam larutan KI karena
membentuk Ion TriIodida (I3-) dan dalam Chloroform. 
Setelah penambahan titrant Tiosulfat maka Iodium akan diubah

31
menjadi Iodida dan bila konsentrasi iod habis maka warna violet tadi
akan hilang.

J. Faktor yang Mempengaruhi Titrasi Iododmetri

LARUTAN STANDAR PRIMER

Iodium sukar larut dalam air, untuk mempertinggi larutannya maka


iodium dilarutkan dalam larutan KI sehingga terbentuk trioksida. Dimana
I2 diikat oleh KI sehingga menpunyai tekanan uap yang lebih rendah dari
pada air murni dan hasrat penguapannya berkurang. Makin besar kadar KI,
makin besar kelarutan I2 didalamnya. Pada penggunaan larutan Iodium
sebagai titran ada kesealahan yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Hilanganya Iodium karena mudah menguap pada suhu kamar


2. Penurunan kadar larutan selama penyimpanan disebabkan oleh reaksi
Iodium dengan air
3. Reaksi ini dikatalisir oleh cahaya, tambah pula iodida yang ada dalam
larutan dapat dioksidasi oleh oksigen dari udara menjadi iodium

LARUTAN SEKUNDER

Larutan standar tiosulfat Na2S2O3 . 5H2O mempunyai kemurnian yang


tinggi tetapi kadar airnya tidak tetap. Karena itu dapat digunakan sebagai
larutan primer larutan standar tiosulfat disebabkan oleh :

Adanya CO2 dalam air yang digunakan untuk membuat larutan


satandar dan juga karbon dioksida dari udara sehingga terjadi pengendapan
dari sulfur. Kekeruhan terjadi akibat endapan dari belerang, tetapi reaksi ini
lebih lambat dari pada reaksi S2O3  dengan iodium, sehingga titrasi masih
dapat dilakukan dalam suasana asam

1. Larutan tiosulfat mudah diuraikan oleh bakteri, , misalnya thibacilus,


thioparus

32
2. Maka untuk menjaga kesetabilan larutan thiosulfat (supaya tahan lama),
dilakukan tidakan-tindakan sebagai berikut :
 Larutan dibuat dengan aquadest yang venas carbón dioksida
 Ditambah pengawet 3 tetes CHCl3 atau 10 mg HgI2/liter larutan
 Lindungi larutan dari cahaya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi


Iodometri adalah sebagai berikut:

1. Penambahan amilum sebaiknya dilakukan saat menjelang akhir titrasi,


dimana hal ini ditandai dengan warna larutan menjadi kuning muda (dari
oranye sampai coklat akibat terdapatnya I2 dalam jumlah banyak),
alasannya kompleks amilum I2 terdisosiasi sangat lambat akibatnya maka
banyak I2 yang akan terabsorbsi oleh amilum jika amilum ditambahkan
pada awal titrasi, alasan kedua adalah biasanya iodometri dilakukan pada
media asam kuat sehingga akan menghindari terjadinya hidrolisis
amilum.

2. Titrasi harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalisasi terjadinya


oksidasi iodide oleh udara bebas. Pengocokan pada saat melakukan titrasi
iodometri sangat diwajibkan untuk menghindari penumpukan tiosulfat
pada area tertentu, penumpukkan konsentrasi tiosulfat dapat
menyebabkan terjadinya dekomposisi tiosulfat untuk menghasilkan
belerang. Terbentuknya reaksi ini dapat diamati dengan adanya belerang
dan larutan menjadi bersifat koloid (tampak keruh oleh kehadiran S).

H2SO3 + S + S2O32- + 2H+

Pastikan jumlah iod yang ditambahkan adalah berlebih sehingga semua analit
tereduksi dengan demikian titrasi akan menjadi akurat. Kelebihan iodide tidak
akan mengganggu jalannya titrasi redoks akan tetapi jika titrasi tidak
dilakukan dengan segera maka I- dapat teroksidasi oleh udara menjadi I2.

33
Titrasi Yodometri mengggunakan zat yang mudah terurai oleh udara
maupun cahaya, sehingga untuk melakukan titrasi yodometri sebaiknya
dilakukan beberapa hal yang dapat mencegah terurainya I2 dan Natrium
Tiosulfat, diantaranya:

1. Mengurangi terpaparnya I2 dengan udara dengan cara menggunakan


erlenmeyer yang bertutup (erlenmeyer asah).
2. Mengurangi terpaparnya I2 oleh cahaya, yakni denga menggunakan buret
gelap untuk titrasi iodimetri. Juga dapat dilakukan dengan cara
menyimpan larutan standar I2 di tempat yang gelap.
3. Natrium Tiosulfat bersifat tidak stabil dalam waktu lama, sehingga
diusahakan Natrium Tiosulfat yang telah dibuat dengan segera
digunakan, tidak disimpan dalam waktu lama.

K. Contoh Titrasi Iodometri

1. Pembakuan Larutan Na2S2O3


a. Tujuan
Membakukan Na2S2O3
b. Prinsip
Penetapan secara kuantitatif zat-zat yang dapat tereduksi berdasarkan
pada reaksi redoks.
c. Reaksi
Oksidator  +  I2  →  2I
Na2S2O3 +  I2 → NaI + Na2S4O6
d. Alat dan Bahan
Alat
 Buret
 Beaker Glass
 Gelas Ukur
 Pipet Volume
 Filler

34
 Statif
 Erlenmeyer tutup asah
 Corong

Bahan

 Na2S2O3
 K2Cr2O7 0,1 N
 HCl 6 N
 KI 20 %
 Indikator amilum 1 %
 Aquades

e. Cara Kerja

1) Memipet K2Cr2O7 0,1 N sebanyak 10,0 ml, kemudian masukan


secara kuantitatif ke dalam labu erlenmeyer 250ml.
2) Menambahkan  HCl 6 N sebanyak 5 ml dan KI 20 % sebanyak 5
ml secara kualitatif dengan menggunakan gelas ukur, kemudian
homogenkan dengan K2Cr2O7 dalam erlenmeyer.
3) Kemudian melakukan titrasi cepat-cepat dengan larutan
Na2S2O3 sampai kuning jerami.
4) Menambahkan amilum 1 % sebanyak 1-2 ml, dan titrasi di
lanjutkan lagi sampai terjadi perubahan dari biru ke hijau muda.
5) Menghitung normalitas Na2S2O3 yang telah di bakukan.

2. Penentuan Kadar Cu2+


a. Tujuan
Untuk menentukan kadar kemurnian tembaga II sulfat.
b. Prinsip

35
Penetapan secara kuantitatif zat-zat yang dapat tereduksi berdasarkan
pada reaksi redoks.
c. Reaksi

2Cu2+ +  4I-  → 2CuI(s) +  I2

I2 +  amilum →  I2-amilum

I2-amilum  +  2S2O32- → 2I +  amilum  +  S4O6-

d. Alat dan Bahan


Alat
 Buret
 Filler/karet pengisap
 Gelas arloji
 Gelas ukur
 Iodin flash 250 mL
 Klem dan statif
 Timbangan analitik
 Timbangan digital
Bahan
 Asam asetat 2 N
 Aquadest
 Kalium iodide
 Kanji
 Natrium bikarbonat
 Natrium tiosufat 0,1 N
e. Cara Kerja
1) Disiapkan alat dan bahan
2) Ditimbang seksama CuSO4 0,3277 gram (triplo)
3) Dimasukkan masing-masing kedalam iodine flash 250 mL
4) Dilarutkan dengan 25 mL aquadest

36
5) Ditambahkan 5 mL asam asetat 2 N dari leher erlenmmeyer
dantutupnya dibasahi dengan air,ditutup.
6) Ditamabahkan 2 gram KI dan 1 gram NaHCO3 dikocok hingga
larut
7) Dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3 sampai berwarna kuning
mudah,kemudian ditambahkan 2 mL indicator kanji 2% dan
titrasi dilanjutkan sampai warna biru pada larutan hilang.
8) Dihitung kadar kemurnian CuSO4

3. Penentuan Kadar Vitamin C


a. Tujuan
Untuk menentukan kadar Vitamin C dalam sampel.
b. Prinsip
Penetapan secara kuantitatif zat-zat yang dapat tereduksi berdasarkan
pada reaksi redoks.
c. Reaksi

d. Alat dan Bahan


Alat  yang digunakan:
 Buret 50ml
 Corong
 Erlenmeyer 250 ml
 Gelas ukur 50 ml dan 10 ml
 Gelas kimia 500 ml  dan 100 ml
 Labu ukur 100 ml

37
 Pipet tetes
 Sendok tanduk
 Timbangan analiti
Bahan yang digunakan:
 Aquadest
 Asam sulfat 10% 5 ml
 Indikator kanji 1%
 Larutan baku I2  0,1 N

Vitamin C 0,2 g

e. Cara Kerja
1) Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan
2) Asam askorbat ditimbang seksama sebanyak lebih kurang80 mg,
dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml
3) Air bebas CO2 ditambahkan sebanyak 15 ml air bebas CO2
4) Larutan H2SO4 10 % ditambahkan sebanyak 5 ml ke dalam
erlenmeyer.
5) Indikator larutan kanji ditambahkan sebanyak 2 ml
6) Larutan tersebut dititrasi dengan larutan baku I2 0,1389 N sampai
terbentuknya warna biru yang tidak hilang selama 30 detik.
7) Larutan iodum yang terpakai dicatat
8) Prosedur ini diulangi satu kali lagi (duplo)
9) Kadar kemurnian vitamin C dihitung

38
BAB III

SIMPULAN

Iodometri merupakan salah satu metode analisis kuantitatif volumetri


secara oksidimetri dan reduksimetri melalui proses titrasi (W Haryadi, 1990).
Titrasi oksidimetri adalah titrasi terhadap larutan zat pereduksi (reduktor) dengan
larutan standar zat pengoksidasi (oksidator). Titrasi reduksimetri adalah titrasi
terhadap larutan zat pengoksidasi (oksidator) dengan larutan standar zat pereduksi
(reduktor). Oksidasi adalah suatu proses pelepasan satu elektron atau lebih atau
bertambahnya bilangan oksidasi suatu unsur. Reduksi adalah suatu proses
penangkapan satu elektron atau lebih atau berkurangnya bilangan oksidasi dari
suatu unsur. Reaksi oksidasi dan reduksi berlangsung serentak, dalam reaksi ini
oksidator akan direduksi dan reduktor akan dioksidasi sehingga terjadilah suatu
reaksi sempurna.

Pada titrasi iodometri secara tidak langsung, natrium tiosulfat digunakan


sebagai titran dengan indikator larutan amilum. Natrium tiosulfat akan bereaksi
dengan larutan iodin yang dihasilkan oleh reaksi antara analit dengan larutan KI
berlebih. Sebaiknya indikator amilum ditambahkan pada saat titrasi mendekati
titik ekivalen karena amilum dapat membentuk kompleks yang stabil dengan
iodin.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi Iodometri


adalah sebagai berikut:

1) Penambahan amilum sebaiknya dilakukan saat menjelang akhir titrasi,


dimana hal ini ditandai dengan warna larutan menjadi kuning muda (dari
oranye sampai coklat akibat terdapatnya I2 dalam jumlah banyak), alasannya
kompleks amilum I2 terdisosiasi sangat lambat akibatnya maka banyak I2
yang akan terabsorbsi oleh amilum jika amilum ditambahkan pada awal
titrasi, alasan kedua adalah biasanya iodometri dilakukan pada media asam
kuat sehingga akan menghindari terjadinya hidrolisis amilum.

39
2) Titrasi harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalisasi terjadinya
oksidasi iodide oleh udara bebas. Pengocokan pada saat melakukan titrasi
iodometri sangat diwajibkan untuk menghindari penumpukan tiosulfat pada
area tertentu, penumpukkan konsentrasi tiosulfat dapat menyebabkan
terjadinya dekomposisi tiosulfat untuk menghasilkan belerang.

Titrasi Yodometri mengggunakan zat yang mudah terurai oleh udara


maupun cahaya, sehingga untuk melakukan titrasi yodometri sebaiknya dilakukan
beberapa hal yang dapat mencegah terurainya I2 dan Natrium Tiosulfat,
diantaranya:

4. Mengurangi terpaparnya I2 dengan udara dengan cara menggunakan


erlenmeyer yang bertutup (erlenmeyer asah).
5. Mengurangi terpaparnya I2 oleh cahaya, yakni denga menggunakan buret
gelap untuk titrasi iodimetri. Juga dapat dilakukan dengan cara menyimpan
larutan standar I2 di tempat yang gelap.
6. Natrium Tiosulfat bersifat tidak stabil dalam waktu lama, sehingga
diusahakan Natrium Tiosulfat yang telah dibuat dengan segera digunakan,
tidak disimpan dalam waktu lama.

40
DAFTAR PUSTAKA

Day, R. A., and Underwood, A. I. 1998. “Analisis Kimia Kuantitatif”. Erlangga.


Jakarta

Khopkar, S. M. 1990. “Konsep Dasar Kimia Analitik”. UI-Press. Jakarta.

Harjadi, W. 1986. “Ilmu Kimia Analitik Dasar”. PT. Gramedia. Jakarta.

https://nurirjawati.wordpress.com/bout-pharmacy/colap/iodo-iodimetri/

http://evelyta-appe.blogspot.co.id/2013/06/iodimetri-iodometri.html

http://robiciocool.blogspot.com/2015/11/jenis-jenis-titrasi-dan-pengertiannya.html

41