Anda di halaman 1dari 35

1

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

DENGAN LUKA BAKAR PADA PASIEN TN. R

DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT

RSUD CIBABAT CIMAHI

dibuat untuk memenuhi tugas Stase Keperawatan Gawat Darurat

Oleh:

Kelompok 2

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BUDI LUHUR

CIMAHI

2020
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan ke hadirat Allah SWT karena atas limpahan
taufiq dan hidayah-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan penyusunan tugas
akhir ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Gawat Darurat dengan Luka Bakar
pada Tn. R di ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD Cibabat Cimahi”.
Kami menyadari bahwa laporan ini tidak dapat selesai tanpa kerja keras,
semangat dan doa dari berbagai pihak. Dengan segenap ketulusan dan
kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada:
1. Ibu Rizky Amelia S.Kep., Ners., M.Kep selaku pembimbing
akademik yang telah banyak memberikan masukan kepada kami.
2. Bapak Dianto S.,Kep., Ners., MARS sebagai Ketua Instalasi
Gawat Darurat RSUD Cibabat sekaligus pembimbing lapangan yang telah
banyak memberikan masukan kepada kami.
3. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang
telah turut membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam
penyusunan laporan ini dan diharapkan adanya adanya saran dan kritik yang
sifatnya membangun untuk perbaikan yang lebih baik.

Cimahi, Maret 2020

Penyusun,

i
3

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................... 1
B. Tujuan Penelitian.................................................................. 2
C. Manfaat Penelitian................................................................ 3
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi ................................................................................. 4
B. Etiologi ................................................................................. 4
C. Manifestasi Klinis …………………………………………........ 5
D. Klasifikasi ............................................................................ 6
E. Patofisiologi ........................................................................ 7
F. Komplikasi ........................................................................... 9
G. Penatalaksanaan.................................................................. 9
H. Metode Asuhan Keperawatan .............................................. 10
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TN.R
A. Pengkajian............................................................................ 22
B. Analisa Data
C. Diagnosa Keperawatan
D. Intervensi Keperawatan
E. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan............................. 26

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan........................................................................... 33
B. Saran.................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA
4

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Luka bakar adalah luka yang paling sering dialami oleh manusia
dibandingkan dengan luka lain. Luka bakar dapat terjadi karena adanya
kontak dengan sumber panas ataupun suhu yang sangat rendah, zat kimia,
listrik, radiasi dan cahaya. Berbagai aktifitas sehari-hari yang dilakukanpun
dapat menjadi penyebab terjadinya luka bakar misalnya kecelakaan yang
menyebabkan meledaknya kendaraan, memegang peralatan dalam keadaan
panas sewaktu memasak, tersengat arus listrik ataupun karena sebab
lainnya (Azhari, 2012).
Luka bakar telah menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang
bertanggung jawab terhadap kematian sekitar 195.000 orang per tahun.
Berdasarkan angka kejadian di Amerika Serikat luka bakar menjadi penyebab
kematian terbesar yang setiap tahunnya sejumlah 2,5 juta orang mengalami
luka bakar dan sekitar 12.000 orang meninggal dunia yang disertai cedera
inhalasi. Menurut World Fire Statistics Centre pada tahun 2003 sampai 2005
mengenai terjadinya luka bakar negara dengan prevalensi terendah yaitu
Singapura dengan persentase 0,12% per 100.000 orang. Dan yang tertinggi
adalah Hongaria dengan persentase 1,98% (Artawan, 2013 dan Adhy dkk,
2014).
Menurut Riskesdas 2013, melaporkan luka bakar menempati urutan
ke -6 dalam daftar penyebab cedera tidak disengaja dengan tingkat
prevalensi 0,7% dari jumlah penduduk Indonesia. Prevalensi luka bakar di
Jawa Barat adalah 7,2 % dari seluruh kejadian cedera total. Data yang
diperoleh dari Unit Luka Bakar RSCM dari tahun 2009-2010 menunjukkan
bahwa penyebab luka bakar terbesar adalah ledakan tabung gas LPG (30,4
Persen) diikuti kebakaran (25,7 %) dan tersiram air panas (19,1 %) dengan
mortalitas pasien luka bakar mencapai 34 %. Sebagian besar pasien dirawat
karena luka bakar dengan luas 20-50%, yang menempati angka mortalitas
1
5

tertinggi (58,25%) dari keseluruhan kasus kematian akibat luka bakar (34%)
(RISKESDAS, 2013).
Tujuan penatalaksanaan luka bakar di unit gawat darurat yaitu untuk
mempertahankan jaringan yang ada, mencegah infeksi, menghentikan
proses luka bakar dan mempertahankan jalan pernapasan dan sirkulasi
(Pamela, 2011).
Pasien dengan cedera luka bakar dianggap sebagai pasien trauma
multiple dikarenakan efek fisiologik dari luka bakar pada sistem organ dan
seringkali pasien juga mengalami cedera traumatik. Oleh karenanya asuhan
keperawatan komprehensif yang diberikan ketika terjadi luka bakar
merupakan hal penting untuk pencegahan kematian dan kecacatan.
Sehingga penting bagi perawat untuk memiliki pengertian yang jelas tentang
perubahan yang saling berhubungan pada semua sistem tubuh setelah
terjadinya cedera dan motivasi terhadap dampak emosional dari cedera pada
korban luka bakar dan keluarganya.
Berdasarkan paparan konsep dan penelitian terdahulu, maka penulis
tertarik untuk menulis tentang asuhan keperawatan pada kegawat daruratan
pada pasien dengan luka bakar.

B. Tujuaan
1. Tujuan Umum
Dapat melakukan asuhan keperawatan gawat darurat pada kasus
luka bakar secara komprehensif.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian gawat darurat terhadap pasien luka
bakar.
b. Mampu menentukan diagnosa keperawatan pada pasien luka
bakar.
c. Mampu menentukan intervensi keperawatan pada pasien luka
bakar.
6

d. Mampu melakukan implementasi keperawatan pada pasien luka


bakar.
e. Mampu melakukan evaluasi pada asuhan keperawatan gawat
darurat dengan kasus luka bakar.

C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Sebagai wadah pengembangan pengetahuan, wawasan serta sebagai
sarana untuk mengaplikasikan ilmu dan teori keperawatan gawat darurat
yang telah dipelajari.
2. Bagi pasien
Memberikan bekal pengetahuan pada pasien dan keluarga tentang tanda
gejala yang terjadi pada pasien dengan luka bakar.
3. Institusi pelayanan (Rumah Sakit)
Sebagai bahan masukan dan informasi bagi institusi rumah sakit dalam
memberikan asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien luka bakar.
4. Institusi Pendidikan
Dapat menjadi sebuah masukan materi dan penyempurnaan dalam
penatalaksanaan gawat darurat pada kasus luka bakar.
7

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan
kimia, listrik, dan radiasi (Artawan, 2013).
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan
yang disebabkan kontak dengan sumber panas dan suhu sangat rendah
(Adhy dkk, 2014:386).
Luka bakar adalah salah satu cedera yang paling luas yang
berkembang di dunia. Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan
jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air
panas, bahan kimia, listrik dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu jenis
trauma dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi (Pitoyo, 2013:2).

B. Etiologi
Etiologi luka bakar antara lain adalah sebagai berikut: 1) Luka bakar
suhu tinggi (thermal burn) yang disebabkan oleh karena terpapar atau
kontak dengan api, cairan panas dan bahan padat. Luka bakar api
berhubungan dengan asap atau cedera inhalasi. 2) Luka bakar bahan kimia
(chemical burn) disebabkan oleh kontaknya jaringan kulit dengan asam atau
basa yang kuat. Konsentrasi zat kimia, lamanya kontak dan banyaknya
jaringan yang terpapar menentukan luasnya injuri karena zat kimia ini. Luka
bakar kimia dapat terjadibmisalnya karena kontak dengan zat-zat pembersih
yang sering digunakan untuk keperluan rumah tangga dan berbagai zat
kimia yang digunakan dalam bidang industri, pertanian dan militer. Lebih dari
25.000 produk zat kimia diketahui dapat menyebabkan luka bakar kimia. 3)
Luka bakar sengatan listrik (electrical burn) disebabkan karena lewatnya
tenaga listrik bervoltase tinggi melalui jaringan menyebabkan perubahan
menjadi tenaga panas, ia menimbulkan luka bakar yang tidak hanya
4
8

mengenai kulit dan jaringan subkutis, tetapi juga semua jaringan pada jalur
arus listrik tersebut. Luka bakar listrik biasanya disebabkan oleh kontak
dengan sumber tenaga bervoltase tinggi. Anggota gerak merupakan kontak
yang terlazim, dengan tangan dan tangan yang lebih sering cedera daripada
tungkai dan kaki. Kontak sering menyebabkan gangguan jantung dan atau
pernafasan, dan resusitasi kardiopulmonal sering diperlukan pada saat
kecelakaan tersebut terjadi. Luka pada daerah masuknya listrik biasanya
gosong dan tampak cekung. 4) luka bakar radiasi (radiasi injury) disebabkan
oleh terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe injuri ini seringkali
berhubungan dengan penggunaan radiasi ion pada industri atau sumber dari
radiasi untuk keperluan terapeutik pada dunia kedokteran. Terpapar oleh
sinar matahari akibat terpapar yang terlalu lama juga merupakan salah satu
tipe luka bakar radiasi (Musliha, 2010).

C. Manifestasi
Manifestasi luka bakar antara lain adalah nyeri lokal, eritema,
kemerahan, pucat, menggigil, sakit kepala, mual dan muntah, lepuh berisi air
dan berselaput tipis, area yang rusak berlilin dan putih, perubahan suara,
batuk, mengi, sputum gelap pada luka bakar mukosa (Wolters dkk, 2013).
Manifestasi tentang luka bakar dapat ketahui dengan derajat luka yang
dibagi menjadi 4 derajat yaitu: 1) Grade I dengan kerusakan jaringan hanya
terjadi pada epidermis, nyeri, warna kulit kemerahan, kering, pada tes jarum
terdapat hiperalgesia, lama sembuh ±7 hari kulit menjadi normal. 2) Grade II:
terdapat grade II a dimana jaringan yang rusak adalah sebagian dermis,
folikel rambut, dan kelenjar keringat utuh, rasa nyeri, warna kemerahan pada
lesi, adanya cairan pad bula, waktu sembuh 7-14 hari. Dan pada grade II b
dimana jaringan yang rusak sampai dermis, hanya kelenjar keringat yang
utuh, eritema, terkadang ada sikatrik, waktu sembuh 14-21 hari. 3) Grade III
yaitu jaringan yang rusak meliputi seluruh epidermis dan dermis, kulit kering,
kaku, terlihat gosong, terasa nyeri karena ujung saraf rusak, waktu sembuh
lebih dari 21 hari. 4) Grade IV dimana luka bakar mengenai seluruh lapisan
9

kulit, otot bahkan tulang, penderita tidak akan merasakan nyeri karena
kerusakan saraf, warna kulit menjadi abu-abu, kehitaman, kering dan
mengelupas (Muttaqin dan Kumala, 2011)
.
D. Klasifikasi
Macam-macam luka bakar antara lain yaitu:
1. Berdasarkan kedalaman luka:
a. Derajat 1 (superficial)luka bakar akan sembuh dalam waktu singkat,
paling lambat satu minggu tanpa dilakukannya pengobatan atau dapat
diberikan analgetik apabila merasa kesakitan dan berikan obat-obatan
topikal pada kulit yang tampak kemerahan tanpa ada kerusakan
jaringan kulit.
b. Derajat 2 (partial thickness) terdiri dari superfisial (superficial partial
thickness) dan dalam (deep partial thickness). Pada luka derajat 2
superfisial kulit berwarna merah dan adanya bula (gelembung), organ
kulit seperti kelenjar sebasea dan kelenjar kulit masih utuh. Pada luka
bakar ini terjadi keruskan epidermis yang ditandai rasa nyeri dan akan
sembuh dalam waktu 10 sampai dengan 14 hari dan dapat dilakukan
kompres dengan menggunakan NaCl. Untuk luka bakar derajat 2
dalam kulit menjadi kemerahan disertai adanya jaringan yang
terkelupas (kerusakan dermis dan epidermis), organ-organ kulit seperti
kelenjar keringat folikel rambut, kelenjar sebasea sebagian besar
masih utuh, proses penyembuhan pada luka derajat 2 dalam biasanya
memerlukan waktu penyembuhan yang lama tergantung jaringan epitel
yang masih tersisa.
c. Derajat 3 (full thickness)ditandai dengan seluruh dermis dan epidermis
mengalami kerusakan, tidak dijumpai rasa nyeri dan kehilangan
sensasi karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami
kerusakan/kematian bahkan bisa merusak jaringan lemak dan otot
walaupun jaringan tersebut tidak mengalami nekrosis. Proses
penyembuhan terjadi lama karena tidak terbentuk epitelisasi jaringan
10

dari dasar luka yang spontan. Kulit yang terbakar berwarna abu-abu
dan pucat. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang
dikenal sebagai eskar.
d. Derajat 4 (fourth degree)semua jaringan sudah terjadi kerusakan
bahkan dapat menimbulkan jaringan nekrotik.
2. Berdasarkan ukuran luas luka Rule Of Nine menunjukkan persentase
luas luka bakar yaitu: Kepala dan leher 9%, Dada depan dan belakang
18%, Abdomen depan dan belakang 18%, Tangan kanan dan kiri 18%,
Paha kanan dan kiri 18%, Kaki kanan dan kiri 18%, Genitalia 1%.

3. Berdasarkan diagram penentuan luas luka dijelaskan dengan diagram


Lund dan Bowder pada orang dewasa yaitu sebagai berikut: kepala 7,
leher 2, dada dan perut 13, punggung 13, pantat kiri 2,5, pantat kanan
2,5, kelamin 1, lengan atas kanan 4, lengan atas kiri 4, lengan bawah
kanan 3, lengan bawah kiri 3, tangan kanan 2,5, tangan kiri 2,5, paha
kanan 9,5, paha kiri 9,5, tungkai bawah kanan 7, tungkai bawah kiri 7,
kaki kanan 3,5 dan kaki kiri 3,5 (Musliha, 2010).

E. Patofisiologi
Jaringan lunak akan mengalami cedera bila terkena suhu diatas
1150F (460C). Luasnya kerusakan bergantung pada suhu permukaan dan
lama kontak. Sebagai contoh pada kasus luka bakar tersiram air panas
11

pada orang dewasa, kontak selama 1 detik dengan air yang panas dari
shower dengan suhu 68,90C dapat menimbulkan luka bakar yang merusak
epidermis dan dermis sehingga terjadi cedera derajat tiga (full-thickness
injury). Sebagai manifestasi dari cedera luka bakar panas, kulit akan
melakukan pelepasan zat vasoaktif yang menyebabkan pembentukan
oksigen reaktif dan menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler dan
menyebabkan penurunan tekanan onkotik. Hal ini menyebabkan kehilangan
cairan serta viskositas plasma meningkat dengan menghasilkan suatu
formasi mikrotrombus. Cedera luka bakar dapat menyebabkan keadaan
hipermetabolik yang dimanifestasikan dengan adanya demam, peningkatan
laju metabolisme, peningkatan ventilasi, peningkatan curah jantung,
peningkatan glukoneogenesis, serta meningkatkan katabolisme otot viseral
dan rangka. Adanya luka pada sistem pernafasan misalnya pada wajah
yang merusak mukosa sehingga terjadi udema pada laring dapat
menimbulkan obstruksi jalan nafas dan menyebabkan ketidakefektifan pola
nafas. Terjebak kebakaran dalam ruangan tertutup juga dapat menyebabkan
cedera inhalasi sehingga terjadi cedera alveolar yang ditandai dengan
adanya sputum berkarbon yang memunculkan diagnosa ketidakefektifan
bersihan jalan nafas yang diakibatkan karena keracunan gas (PCO2 yang
meningkat sedangkan PO2 turun). Keracunan gas tersebut dan sebagai
akibat dari peningkatan permeabilitas kapiler akan menyebabkan adanya
penurunan cairan intravaskuler sehingga terjadi hipovolemia dan hipoksia
jaringan dan memunculkan diagnosa ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
(Muttaqin & Kumala, 2012: 200, Nurarif dan Hardhi, 2015: 212 ).
Masalah yang dapat timbul pada luka bakar yang luas yaitu
gangguan pada sistem hormonal dan gangguan keseimbangan cairan
elektrolit. Hal tersebut terjadi akibat kehilangan cairan serta dapat
menyebabkan penurunan jumlah limfosit sehingga luka beresiko mengalami
sepsis. Mediator inflamasi seperti (sitokin, TNF-α dan sel fagosit nekrotik)
dan gangguan metabolisme (protein, karbohidrat dan lemak) dapat muncul
sebagai akibat dari luka bakar yang luasnya >20% . Meningkatnya stress
12

oksidatif juga dapat menyebabkan peningkatan produksi radikal bebas


sehingga akan mengganggu fungsi imun (Adhy dkk, 2014: 386, Artawan,
2013).

F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus luka bakar yaitu infeksi
luka yang gejalanya sama dengan proses penyembuhan luka yaitu adanya
eritema, edema, dan nyeri tekan. Demam, malaise, dan gejala yang lebih
buruk dapat menyebabkan sepsis dan kerusakan yang lebih dalam. Luka
bakar juga dapat menyebabkan timbulnya syok, cedera inhalasi apabila
pasien menghirup udara di dalam ruangan tertutup (Lalani, 2013, Pamela,
2011: 189).
Luka bakar terutama dengan luas >20% dapat menyebabkan
gangguan metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Selain itu, semakin
berat kerusakan jaringan maka proses inflamasi juga semakin lama terjadi
dan tidak terkendali. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya inflamasi
sistemik dan penekanan sistem imun yang berbahaya karena dapat menjadi
SIRS dan MODS (Adhy dkk, 2014: 386).

G. Penatalaksanaan
Prioritas pertama perawatan pasien luka bakar adalah
menghilangkan sumber panas bila masih ada. Pakaian dan perhiasan yang
menghasilkan panas harus dilepas, dan setiap bahan kimia dalam bentuk
bubuk kering harus disingkirkan dari kulit. Bila sumber luka bakar telah
dihilangkan, perhatian pemberi perawatan beralih pada ABC (Airway,
Breathing dan Circulation). Cedera inhalasi harus dicurigai pada pasien yang
berada dalam lingkungan yang terbakar dalam ruangan tertutup atau pasien
yang tampak mengalami perubahan tingkat kesadaran. Cedera inhalasi
mungkin gejalanya tidak muncul selama beberapa jam setelah waktu cedera.
Siapkan untuk intubasi endotrakea profilaktik kemudian beri oksigen melalui
mask face atau endotracheal tube pada setiap pasien yang menunjukkan
13

mekanika pernapasan meragukan atau yang mempunyai indikasi klinis


adanya cedera inhalasi yang ditandai dengan hangusnya bulu hidung, suara
serak, batuk, sputum berkarbon, wheezing, takipne, dispnea, agitasi dan
stridor yang gejalanya mungkin tidak muncul beberapa jam setelah cedera
terjadi (Pamela, 2011: 189).
Luka bakar yang meliputi semua ekstremitas menyebabkan reaksi
kulit yang melepaskan zat vasoaktif yang menimbulkan pembentukan
oksigen reaktif sehingga permeabilitas kapiler meningkat. Kehilangan cairan
secara masif akan terjadi pada 4 jam pertama setelah cedera dengan
akumulasi maksimum edema pada 24 jam pertama setelah luka terjadi
sehingga akan sulit untuk melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pada
pasien. Oleh karena itu perlu dilakukan pemasangan selang infus dengan
diameter besar untuk resusitasi cairan dan pemasanngan kateter urin
sebagai indikator status sirkulasi yang harus dipantau dan diukur setiap jam.
Untuk resusitasi cairan formula yang sering digunakan yaitu formula
Parkland pada 24 jam pertama cidera. Pada formula tersebut cairan yang
digunakan adalah cairan Ringer Laktat dengan rumus 4ml/kgBB/% luka
bakar dimana setengah dari hasil penjumlahan yang telah dilakukan
diberikan dalam 8 jam pertama dan sisanya diberikan dalam 16 jam
berikutnya (Muttaqin dan Kumala, 2012: 207, Nurarif dan Hardhi, 2015).

METODE ASUHAN KEPERAWATAN

A. Metode Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Data Umum
Berisi mengenai identitas pasien yang meliputi nama, umur,
No.RM, jenis kelamin, agama, alamat, pendidikan, pekerjaan,
status perkawinan, jam datang, jam diperiksa, tipe kedatangan
dan informasi data.
14

b. Keadaan umum pada pasien luka bakar dengan gawat darurat yang
berisi tentang observasi umum mengenai penghentian proses luka
bakar dan pemeriksaan status ABC (Airway, Breathing dan
Circulation) (Pamela, 2011).
c. Pengkajian primer
1. Airway: mengkaji ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas,
sumbatan total atau sebagian, distress pernafasan, ada tidaknya
aliran udara dan adanya gangguan pada jalan nafas misalnya
edema tipe torniket pada daerah leher yang dapat menyumbat
pernafasan (Karika, 2011).
Masalah airway yang timbul pada pasien luka bakar yaitu pasien
sulit bernafas, terdapat edema di jalan nafas, batuk, suara
serak, stridor, takipne, dispnea, agitasi adanya sputum
mengandung karbon (Pamela, 2011).
2. Breathing: mengkaji adanya henti nafas dan adekuatnya
pernafasan, frekuensi nafas dan pergerakan dinding dada(naik
turunnya dinding dada), suara pernafasan melalui hidung atau
mulut, merasakan udara yang dikeluarkan dari jalan nafas
(Kartika, 2011:44).
Masalah breathing yang timbul pada pasien luka bakar yaitu
terganggunya ekspansi dada akibat adanya krustal tebal pada
luka bakar derajat 3 yang mengelilingi dada, adanya
penggunaan otot bantu pernafasan, pasien sulit bernafas, RR >
24x/menit, irama nafas tidak teratur, nafas cepat dan pendek,
suara nafas wheezing (Pamela, 2011).
3. Circulation: mengkaji ada tidaknya denyut nadi, kemungkinan
syok, dan adanya perdarahan eksternal, denyut nadi, kekuatan
dan keteraturan, warna kulit dan kelembaban, tanda-tanda
perdarahan eksternal, tanda- tanda jejas atau trauma.
Masalah circulation yang timbul pada pasien luka bakar yaitu
peningkatan curah jantung dalam beberapa menit pertama
15

cedera, nadi tidak dapat diraba, tingkat kesadaran menurun


(Pamela, 2011).
4. Disability: mengkaji kondisi neuromuskular pasien, keadaan
status kesadaran(GCS), keadaan ekstrimitas, kemampuan
motorik dan sensorik.
Pada pasien luka bakar yang diakibatkan oleh luka bakar listrik
dapat terjadi penurunan kesadaran, paralisis motorik,
disorientasi dan defisit sensorik (Lalani, 2013).
5. Exposure and environment control: pemaparan dan kontrol
lingkungan tentang kondisi pasien secara umum (Kartika, 2011).
d. Pengkajian sekunder
1. Riwayat keperawatan :
Riwayat penyakit sekarang meliputi keluhan utama
pasien, riwayat penyakit saat ini, riwayat pengobatan,
pengobatan yang sedang dijalani, riwayat keluarga dan sosial,
serta review sistem (Kartika, 2011).
Pengkajian subjektif nyeri meliputi: P (penyebab, yang
menimbulkan nyeri, adakah hal yang menyebabkan kondisi
memburuk/membaik), Q (kualitas, keluhan klien), R (arah
perjalanan nyeri, daerah nyeri), S (skala nyeri 1-10), T (lamanya
nyeri dirasakan, terus menerus/ hilang timbul) (Kartika , 2011:44).
Pengkajian Objektif tanda-tanda vital meliputi tekanan
darah meliputi systole > 100-140 mmHg, diastole > 60-90 mmHg,
nadi 60-100 kali/ menit atau lebih, suhu: 36-37,5 C atau
meningkat dan pernafasan lebih dari 16- 24 kali/menit (Kartika,
2011: 44).
2. Pemeriksaan fisik per sistem yang biasa timbul pada luka bakar
yaitu:
a. Sistem neurologi
Menurut metode Glascow Coma Scale (GCS) dengan
penilaian Eye (4 untuk buka mata spontan, nilai 3 dengan
16

suara, nilai 2 dengan nyeri dan 1 tanpa respon), penilaian


Verbal (5 apabila orientasi bagus, 4 jika pasien bingung, 3
apabila kalimat tidak jelas, 2 jika suara tidak jelas/bergumam
dan 1 jika tidak ada respon) serta motorik (6 bila pasien dapat
mengikuti perintah dengan baik, 5 bila pasien mampu
melokalisasi nyeri, 4 bila pasien menghindari nyeri, 3 bila fleksi
abnormal, 2 bila ekstensi abnormal dan 1 bila tanpa respon)
(Kartika, 2011: 58).
Pada kasus luka bakar dapat ditemukan penurunan
kesadaran yaitu nyeri pada respon membuka mata, gangguan
verbal, dan gangguan motorik karena adanya cedera (Lalani,
2013).
b. Sistem respirasi
Periksa bagian wajah, dada, dan leher pasien atas
adanya tanda-tanda distress pernafasan seperti penggunaan
otot aksesori, keteraturan retraksi dada, keteraturan pola
nafas, dan suara nafas abnormal (Kartika, 2011: 61).
Pada kasus luka bakar dapat ditemukan adanya batuk,
suara serak, stridor, takipne, dispnea, agitasi adanya sputum
mengandung karbon, penggunaan otot bantu pernafasan,
pasien sulit bernafas, RR lebih atau kurang dari 24x/menit,
irama nafas tidak teratur, nafas cepat dan pendek, suara nafas
wheezing(Pamela, 2011).
c. Sistem kardiovaskuler
Kaji atas adanya keluhan nyeri pada dada, normalitas
tanda-tanda vital, dan denyut jantung yang cepat, pelan atau
tidak teratur (Kartika, 2011).
Dalam pengkajian sistem kardiovaskuler pada kasus
luka bakar akan terjadi peningkatan curah jantung dalam
beberapa menit cedera, dan nadi sulit diraba (Pamela, 2011).
d. Sistem pencernaan
17

Periksa adanya distensi abdomen, jejas, dan adanya


luka. Auskultasi keempat kuadran dan pastikan status
peristaltik usus. Palpasi adanya nyeri, hepatomegali, dan
limpa. Perkusi untuk mngetahui ukuran organ dan memeriksa
daerah cairan atau rongga intra abdominal (Kartika, 2011).
Pada luka bakar akan ditemukan adanya penurunan
metabolik sebagai akibat dari respon sistemik pada 24 jam
pertama cedera (Gurnida, 2011).
e. Sistem muskuloskeletal
Gangguan muskuloskeletal di unit gawat darurat
berhubungan dengan trauma dan infeksi. Kaji luka atas
adanya edema, eritema, jejas, dan nyeri. Periksa pergerakan
dan status neurovaskular pasien untuk mendeteksi masalah.
Lepaskan semua perhiasan dan pakaian ketat dari daerah
luka (Kartika, 2011: 62).
Pada pasien luka bakar dapat ditemukan edema
jaringan dan nekrosis (Lalani, 2013: 357).
f. Sistem perkemihan
Catat frekuensi urin, adanya inkontinensia, terasa
panas, atau bau aneh dan status nyeri pada sistem urinaria.
Pada pasien luka bakar akan ditemukan urine
berwarna kemerahan yang menunjukkan adanya
hemokromogen dan mioglobin akibat kerusakan otot karena
luka bakar yang dalam (Muttaqin dan Kumala, 2012).
g. Sistem integumen
Meliputi pemeriksaan warna, tekstur, turgor, suhu,
kepucatan, sianosis dan kekuningan (Kartika, 2011).
Pada sistem integumen pasien luka bakar mengalami
gangguan integritas kulit seperti kulit berwarna abu-abu dan
pucat, dan adanya krustal (Pamela, 2011, Nurarif dan
Hardhy, 2015).
18

h. Sistem endokrin
Perhatikan adanya gangguan endokrin jika pasien
merasa sering lelah, lemah, terjadi penurunan BB, poliuri,
polidipsi dan polifagi (Kartika, 2011:64).

3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan pada luka bakar meliputi laboratorium
meliputi kadar elektrolit serum yang mungkin normal pada
awalnya tetapi akan berubah selama program tindakan awal,
BUN (nitrogen urea darah) dan kreatinin mungkin meningkat
palsu berkaitan dengan kekurangan cairan, glukosa darah yang
mungkin meningkat sebagai akibat respon stres, gas darah arteri
awalnya Po2 mungkin normal pada cedera inhalasi tetapi penting
untuk mendokumentasikan pH pada pasien yang menderita luka
bakar listrik karena umumnya akan mengalami asidosis
metabolik ringan yang akan membaik dengan resusitasi secara
adekuat, hitung darah lengkap dimana pada awalnya hemoglobin
dan hematokrit mungkin meningkat sebagai akibat pergeseran
cairan intraseluler, albumin serum kadarnya mungkin rendah
karena protein plasma terutama albumin hilang ke dalam jaringan
yang cedera sekunder akibat peningkatan permeabilitas kapiler,
skrining obat dan alkohol serum serta skrining obat dalam urine
secara khusus apabila pasien tidak sadar atau tingkat
kewaspadaannya menurun, karboksihemoglobin serum pada
pasien dengan dugaan cedera inhalasi dengan peningkatan
kadar >10%, mioglobulin urine harus dilakukan untuk pasien luka
bakar listrik karena mioglobulin dilepaskan ketika jaringan otot
mengalami kerusakan dimana mioglobulin dapat menyebabkan
kerusakan pada tubulus ginjal bila ginjal tidak dibilas dengan baik
dan urine akan berubah menjadi merah terang atau berwarna
teh, radiografi dada untuk mengetahui perubahan radiograf dada
19

yang biasanya terlihat sekitar 48 jam setelah cedera inhalasi,


elektrokardiogram terutama di indikasikan pada luka bakar listrik
karena disertai komplikasi disritmia jantung dan juga CT scan
untuk menyingkirkan hemoragi intrakranial pada pasien dengan
penyimpangan neurologik yang menderita cedera listrik (Pamela,
2011).
2. Analisa Data
Analisa data dilakukan setelah memperoleh hasil pengkajian
kemudian data telah divalidasi untuk menentukan diagnosa.
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada luka bakar, yaitu:
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya
cedera alveolar yang ditandai dengan sputum berkarbon, suara
serak, rambut nasal terbakar, penurunan PO2 atau peningkatan
PCO2.
b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan adanya edema
dan efek inhalasi.
c. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
edema seluruh tubuh, jaringan vaskular, penurunan curah jantung,
dan hipovolemia.
d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
aktif akibat peningkatan evaporasi (Nurarif dan Hardhy, 2015: 216,
Pamela, 2011: 199, Nugroho, 2011).

4. Intervensi
Tabel 3.1 Intervensi Keperawatan
No. Intervensi
Dx NOC & KH NIC

1. NOC: a. Kaji kepatenan jalan jalan


nafas.
i. Respiratory status:
20

ventilation. b. Lakukan pembebasan


jalan nafas.
j. Respiratory status: airway
patency. c. Berikan O2 sesuai resep.

KH: d. Siapkan untuk intubasi


a. Suara nafas bersih, tidak endotrakea
ada dyspnea.
e. Pasang slang nasogastrik
b. Tidak ada sputum. untuk mencegah aspirasi
pada pasien tidak sadar.
c. Irama dan frekuensi nafas
dalam rentang normal f. Kolaborasi pemberian
(RR=16-24x/menit, irama bronkodilator jika perlu.
nafas teratur).

NOC:
a. Kaji karakteristik pola
a. Respiratory status: nafas (frekuensi,
ventilation. kedalaman, irama).
2.
b. Respiratory status: airway b. Kaji adanya penggunaan
patency. otot bantu pernafasan.

c. Vital sign status c. Berikan posisi kepala


lebih tinggi 30˚
KH:
d. Kolaborasi pemberian O2
a. Pola nafas pasien
regular(RR=16-24x/menit),
irama nafas teratur.

b. Tidak tampak adanya


21

retraksi dinding dada

c. Tanda vital dalam rentang


normal (TD: sistole <130,
diastol <90 mmHg, S:
36,5-37,5˚C, RR: 16-
24x/menit, HR: 60-
100x/menit).
a. Kaji keadaan umum dan
TTV.

b. Observasi perubahan
NOC:
pasien dalam merespon
a. Circulation status
stimulus.

b. Tissue perfusion: cerebral


c. Kolaborasi pemberian

KH: obat.

a. Tidak ada tanda-tanda d. Batasi gerakan pada


peningkatan tekanan kepala, leher dan
intrakranial (tidak lebih punggung.
3. dari 15 mmHg).
e. Sambungkan monitor
b. TTV dalam batas jantung, monitor saluran
normal(TD: sistole<130, oksigen, dan manset TD
diastol<90 mmHg, S: 36,5- otomatis ke pasien.
37,5˚C, RR: 16-24x/menit,
HR: 60-100x/menit).

c. Komunikasi jelas.

d. Menunjukkan perhatian,
konsentrasi dan orientasi.

a. Pertahankan catatan
22

NOC: intake dan output yang


a. Fluid balance akurat.

b. Hydration b. Monitor status hidrasi


(kelembapan membran
c. Nutritional Status: food mukosa dan nadi
and fluid adekuat).

d. Intake c. Monitor status cairan


intake dan output.

KH: d. Dorong pasien untuk


a. Urine output sesuai menambah intake oral.
dengan usia dan BB
e. Kolaborasi pemberian
b. Tanda-tanda vital dalam cairan IV
4. batas normal

c. Elastisitas turgor kulit baik,


membran mukosa lembab,
tidak ada rasa haus
berlebihan.

(Nurarif dan Hardhy, 2015).

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TN.R

A. Pengkajian
23

Nama Pasien : Tn. R

Pekerjaan : Karyawan PLTU

Pendidikan : SMA

Umur : 20

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Laki-laki

No. RM : 1324624

Nama Keluarga : Tn. H

Pekerjaan : Karyawan PLTU

Diagnosa Medik : Electric Burn Injury

Agama : Islam

Alamat Kantor : Palabuhan Ratu

Alamat Rumah : Jln. Jendral Sudirman Sandang Agung

Ds. Gunung Sugih Kec. Bukit Tinggi

Datang Ke RS Tanggal : 29/02/2020

Pukul : 01.45 WIB

Kendaraan : Mobil Perusahaan

Tanggal Pengkajian : 29/02/2020

1) Diagnosa ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan


edema dan hipovolemia
Tindakan keperawatan dilakukan selama 1x30 menit untuk kriteria
hasil dari ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan
edema dan hipovolemia yaitu TTV dalam batas normal(TD:
sistole<130, diastol<90 mmHg, S: 36,5-37,5˚C, RR: 16-24x/menit,
HR: 60-100x/menit), menunjukkan perhatian, konsentrasi dan
orientasi.
24

Intervensi keperawatan dibuat sesuai dengan diagnosa


keperawatan yang ditegakkan pada Tn.A: kaji keadaan umum dan
TTV, observasi perubahan pasien dalam merespon stimulus,
batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung.
Implementasi yang dilakukan pada tanggal 25 Mei 2016 jam 12.10
WIB yaitu mengkaji keadaan umum dan tanda-tanda vital,
mengobservasi perubahan pasien dalam merespon stimulus dan
membatasi gerakan pada (kepala, leher dan punggung). Respon
yang didapatkan S: pasien kooperatif, O: masih terdapat edema
pada kedua kaki pasien, CRT 3 detik, TTV (tensi 130/70mmHg,
nadi 98x/menit, suhu 38,80C), A: masalah belum teratasi, dan P:
lanjutkan intervensi.
Evaluasi yang diperoleh pada jam 12.45 WIB yaitu S: pasien
mengatakan kakinya masih bengkak, O: ekstremitas bawah
pasien (kedua kaki) masih membengkak, CRT 3 detik, TTV (tensi
130/70mmHg, nadi 98x/menit, suhu 38,80C), A: masalah belum
teratasi dan P: lanjutkan intervensi.
2) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan akibat peningkatan evaporasi
Tindakan keperawatan dilakukan selama 1x30 menit dan
diharapkan kekurangan volume cairandapat terpenuhi dengan
kriteria hasil dari yaitu TTV dalam batas normal, elastisitas turgor
kulit baik, membran mukosa lembab, dan tidak ada rasa haus
berlebihan.
Intervensi keperawatan dibuat sesuai dengan diagnosa
keperawatan yang ditegakkan yaitu: monitor status hidrasi
(kelembapan membran mukosa dan nadi adekuat), dorong pasien
untuk menambah intake oral, dan kolaborasi pemberian cairan
intravena.
Implementasi yang dilakukan pada tanggal 25 Mei 2016 jam 12.20
WIB yaitu memonitor status hidrasi (kelembapan membran
25

mukosa dan nadi adekuat), medorong pasien untuk menambah


intake oral, dan melakukan kolaborasi pemberian cairan infus RL
30tpm. Respon yang didapatkan S: pasien mengatakan masih
merasa panas, O: pasien tampak lemah, mukosa bibir masih
tampak kering, konjungtiva tampak anemis dan turgor kulit pasien
masih, A: masalah belum teratasi, dan P: lanjutkan intervensi.
Evaluasi yang diperoleh pada jam 12.55 WIB yaitu S: pasien
mengatakan masih merasa panas, O: pasien tampak lemah,
mukosa bibir pasien tampak kering, konjungtiva pasien masih
anemis dan turgor kulit kering, A: masalah belum teratasi dan P:
lanjutkan intervensi.
3) kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan kerusakan
jaringan subkutis
Tindakan keperawatan dilakukan selama 1x30 menit untuk kriteria
hasil: diharapkan temperatur jaringan dalam rentang normal
(360C), warna kulit dalam rentang normal ( tidak kehitaman karena
sel kulit mati), dan menunjukkan adanya regenerasi jaringan kulit
luka bakar.
Intervensi: observasi ekstremitas untuk warna, panas, edema, dan
luka, lakukan perawatan luka bakar yang tepat dan tindakan
kontrol infeksi, monitor warna dan temperatur kulit, kolaborasi
pemberian obat (Ketorolac 3x1miligram, Ranitidin 2x1miligram dan
Ceftriaxone 2x1gram) serta kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet
TKTP (tinggi karbohidrat tinggi protein).
Implementasi yang dilakukan pada tanggal 25 Mei 2016 jam 12.30
WIB yaitu: mengobservasi ekstremitas untuk warna, panas,
edema dan luka, melakukan observasi tanda vital, dan melakukan
kolaborasi pemberian obat (Ketorolac 1x1miligram, Ranitidin
1x1miligram dan Ceftriaxone 1x1gram). Respon yang didapatkan
S: pasien mengatakan kakinya masih sulit digerakkan, O:masih
terdapat lekukan ketika dilakukan palpasi ulang, kulit pada area
26

luka masih tampak kering dan mengelupas, warna kulit pasien


masih tampak abu pucat dan kehitaman, A: masalah belum
teratasi, dan P: lanjutkan intervensi.
Evaluasi yang diperoleh pada jam 13.05 WIB yaitu S: pasien
mengatakan kakinya masihsulit digerakkan, O: masih terdapat
lekukan saat dilakukan palpasi ulang pada kulit kedua kaki, kulit
pasien masih berwarna abu pucat dan kehitaman, kulit tampak
kering dan mengelupas, A: masalah belum teratasi dan P:
lanjutkan intervensi.

B. Pembahasan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn. A dengan kasus
luka bakar berdasarkan analisa data yang diperoleh saat pengkajian
tanggal 25 Mei 2015 pukul 11.45 WIB adalah ketidakefektifan perfusi
jaringan berhubungan dengan adema dan hipovolemia, kekurangan
volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat peningkatan
evaporasi dan kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan
kerusakan jaringan subkutis. Berikut ini adalah pembahasan dari masing-
masing diagnosa :
4.2.1 Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan edema dan
hipovolemia
Apabila luas luka bakar menutupi tubuh >30%, maka perpindahan
cairan akan terjadi, baik pada jaringan yang terbakar atau jaringan
yang tidak terbakar. Edema yang berkembang sebagian besar
disebabkan oleh hiponatremia akibat dari kehilangan protein di
dalam jaringan yang terbakar dan luasnya berkurang oleh kerja
substansi vasoaktif yang bersirkulasi. Selain itu cedera panas
menurunkan potensial membran sel, membiarkan natrium dan air
masuk kedalam sel sehingga menyebabkan pembengkakan
(Mima, 2010).
27

Pada kasus luka bakar yang disebabkan sengatan listrik akan


terjadi penurunan cardiac output yang diakibatkan oleh penurunan
tekanan darah arterial yang akan mengaktivasi beberapa sistem
saraf dan sistem hormonal. Peningkatan aktifitas sistem saraf
simpatis memacu kontraksi miocardium, frekuensi denyut jantung,
dan tonus vena (menimbulkan peningkatan perload). Takikardi dan
peningkatan kontraktilitas miocardium memacu terjadinya iskemik
pada pasien dengan penyakit arteri coroner dan peningkatan
preload. Aktivasi sistem saraf simpatis juga meningkatkan
resistensi perifer, jika aktivasi ini sangat meningkat akan
menurunkan aliran darah ke ginjal dan jaringan, sehingga suplai
oksigen menjadi berkurang (Kusmastuti, 2012).
Daerah dengan luka bakar terutama yang melingkar bisa
membengkak 7-10 hari setelah perlukaan. Edema dapat
menghambat sirkulasi. Elevasikan anggota gerak untuk membantu
mengurangi edema. Untuk mencegah timbulnya kontraktur akibat
luka bakar, sendi harus dijaga berada dalam posisi ekstensi atau
netral selama luka bakar menyembuh (Lia Kartika dan Laura S.
Himawan, 2007). Penjelasan tersebut sesuai dengan implementasi
yang diberikan yaitu batasi gerakan pada kepala, leher dan
punggung dengan tujuan untuk mencegah kontraktur akibat luka
bakar.

4.2.2 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan


cairan akibat peningkatan evaporasi
Selama terjadi fase hipermetabolik, insulin akan meningkat,
namun peningkatan level katekolamin, glukagon, dan kortisol akan
menetralkan hampir semua efek metabolik dari insulin.
Peningkatan mobilisasi asam amino dan free fatty acids dari
simpanan otot perifer dan jaringan adiposa merupakan akibat dari
ketidakseimbangan hormon-hormon tersebut. Beberapa hormon
akan mengeluarkan substrat yang digunakan untuk produksi
28

energi salah satunyasecara langsung sebagai trigliserid. Substrat


lainnya akan berkontribusi terhadap sintesis protein di liver,
dimana mediator humoral akan meningkatkan produksi reaktan
fase akut. Sintesis protein yang serupa juga terjadi pada sistem
imun guna menyembuhkan kerusakan jaringan. Meskipun fase
hipermetabolik ini melibatkan proses katabolik dan anabolik,
hasilnya adalah kehilangan protein secara signifikan, yang ditandai
dengan keseimbangan nitrogen negatif dan penurunan simpanan
lemak. Hal ini akan menuju pada modifikasi komposisi tubuh
secara keseluruhan, ditandai dengan kehilangan protein,
karbohidrat, dan simpanan lemak disertai dengan meluasnya
kompartemen cairan ekstraselular (Fitri, 2014).
Demam merupakan kompensasi tubuh terhadap adanya infeksi
yaitu dengan bekerjanya sistem imun berupa produksi sel darah
putih yang didukung oleh pirogen. Pirogen mempunyai peranan
yang kompleks dalam tubuh manusia yaitu sebagai pengerah
leukosit ke lokasi infeksi dan menimbulkan demam yang akan
membantu membunuh virus (Purwanti dan Winarsih,2008:81).
Penderita luka bakar memerlukan penggantian cairan segera
untuk melawan ketidakseimbangan osmotik akibat kehilangan
cairan yang disebabkan evaporasi akibat meningkatnya suhu
tubuh. Bila tersedia, ganti cairan dengan resusitasi cairan
intrevena atau terapi enteral. Formula yang direkomendasikan
adalah 4 mililiter cairan RL (Ringer Laktat) kali berat badan pasien
(kg) kali setiap persen total luas permukaan tubuh dengan luka
bakar derajat kedua dan ketiga. Volume ini diberikan dalam 24 jam
pertama sejak waktu perlukaan, separuhnya pada 8 jam pertama.
Penderita dengan tambahan cedera inhalasi dapat memerlukan
sampai 40-50% cairan lebih banyak. Untuk memperkirakan total
luas permukaan tubuh yang terkena, gunakan luasaan telapk
tangan terbuka (jari mengumpul) untuk setiap 1 persennya
29

(Ledbetter, 2010:8). Pemberian cairan pada Tn.A adalah infus RL


30 tpm sesuai teori yaitu bertujuan mengganti cairan untuk
melawan ketidakseimbangan osmotik karena kehilangan cairan.

4.2.3 Kerusakan integritas jaringan kulit berhubungan dengan


kerusakan jaringan subkutis
Lapisan hipodermis atau subkutis adalah tenunan pengikat
longgar yang menghubungkan korium dengan bagian-bagian lain
dari tubuh. Hipodermis sebagian besar terdiri dari serat-serat
kolagen dan elastin berdasarkan penelitian oleh Pusat
Pengembangan Pendidikan (PPP) UGM pada tahun 2011.
Kerusakan yang ditimbulkan pada luka bakar full thickness yaitu
kerusakan seluruh lapisan kulit sehingga kulit berwarna
kecoklatan, kasar dan tidak nyeri (Gurnida, 2011).
Ceftriaxon merupakan golongan antibiotik cephalosporin yang
digunakan secara parenteral. Ceftriaxon bekerja untuk
menghambat sintesis dinding sel bakteri yang menyebabkan lisis
bakteri. Besar dosis yang diberikan untuk dewasa dan anak-anak
yang berumur lebih dari 12 tahun sebesar 1-2 gram ceftriaxone
diberikan sekali sehari (setiap 24 jam). Pada kasus yang parah
atau infeksi yang disebabkan oleh organisme cukup sensitif, dosis
dapat dinaikkan menjadi 4 gram, diberikan sekali sehari. Untuk
pemberian melalui injeksi intravena, ceftriaxon-AFT 500 mg
dilarutkan dengan air steril dalam 5ml, atau ceftriaxon-AFT 1 g
dalam 10 ml. Pemberian intravena harus diberikan selama 2-4
menit. Hal tersebut sesuai dengan implementasi yang diberikan
pada Tn.A yaitu injeksi Ceftriaxon 1x1 gram. Pemberian dosis
sebesar 2x1 gram sudah sesuai dalam teori karena usia Tn.A
adalah 19 tahun. Kegunaan dari injeksi pada Tn.A adalah untuk
mencegah adanya infeksi atau sepsis pada luka bakar sesuai
dengan fungsi kerjanya (Pharmaceuticals, 2016).
30

Ketorolac merupakan obat non steroid anti inflamasi (NSAID). Efek


dari ketorolac ini adalah menghambat biosintesis prostaglandin
dan memberikan efek anti inflamasi. Pada pasien dewasa
ketorolac diberikan dosis 30 mg ketorolac tromethamine/dosis
secara injeksi intravena. Efek analgesik ketorolac selama 2-3 jam
tergantung pada dosis yang diberikan (Pharmaceuticals, 2016).
Hal tersebut sesuai dengan kondisi pasien yang mengalami
pembengkakan pada kaki sehingga ketorolac dapat mencegah
peradangan pada luka bakarnya.
Pada pemberian injeksi ranitidin 1x1 miligram merupakan obat anti
histamin yang digunakan untuk mengurangi produksi asam
lambung. Ranitidin injeksi intravena ditoleransi dengan baik pada
tingkat dosis sampai dengan 100 mg 4 kali sehari. Ranitidin
diindikasikan untuk pengobatan ulkus duodenum, ulkus lambung
jinak, refluks esofagitis, dan kondisi lain dimana terjadi
peningkatan asam lambung seperti induksi lesi, baik ulkus dan
erosi, gejala gastrointestinal, profilaksis perdarahan berulang dari
perdarahan ulkus, termasuk pencegahan asam aspirasi syndrom
(Kline, 2015).
Pasca trauma pasien luka bakar proses glukogenesis akan terus
berlangsung. Asam amino yang dihasilkan dari katabolisme
protein di otot diambil oleh liver dalam jumlah besar akan lebih
digunakan untuk memproduksi glukosa daripada digunakan
sebagai bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan energi.
Kebutuhan energi akan disediakan oleh cadangan lemak (sekitar
80-90%). Pasien dengan luka bakar berat mengalami empat kali
peningkatan ambilan glukosa oleh ekstremitas yang terkena luka
bakar. Pada saat yang sama area yang terbakar memproduksi
sejumlah besar laktat yang merupakan hasil dari respirasi
anaerobik sel. Laktat ini akan dikembalikan ke liver untuk proses
glukoneogenesis, dalam siklus Cori. Satu mol glukosa
31

menghasilkan 2 ATP melalui glikolisis tetapi melalui


glukoneogenesis membutuhkan 3 ATP. Hal ini menambah
peningkatan laju metabolisme berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Fitri (2014:88). Dari uraian tersebut pemberian
berupa injeksi Ranitidin diperlukan sebagai terapi untuk mencegah
ulkus akibat peningkatan asam lambung.
Pengobatan yang diberikan yaitu setelah resusitasi cairan
diberikan, maka obat antibiotik dapat dititrasi dalam dosis
intravena. Tekanan darah, denyut nadi, tingkat pernapasan, dan
keadaan kesadaran harus dipantau setiap saat. Jadi, berdasarkan
uraian tersebut pemberian implementasi observasi tanda-tanda
vital sudah tepat sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Stander (2011:29).
Pemberian diet tinggi protein yang dilakukan pada penderita luka
bakar harus meningkatkan jumlah asupan protein dalam diet
karena protein dapat membantu membangun dan memperbaiki
kulit. Diet tinggi protein juga menjaga kesehatan untuk melawan
infeksi. Makanan kaya protein antara lain: susu, yoghurt, dadih,
keju, daging, kacang-kacangan, keledai (tempe/tahu), lentil, buah
kering, dan kacang polong (Ledbetter, 2010:9).

C. Keterbatasan Penelitian
1) Ketersediaan alat yang terbatas dimana pada kasus luka bakar
yang disebabkan oleh sengatan arus listrik dapat menyebabkan
gangguan pada jantung berupa penurunan curah jantung
sehingga diperlukan pemasangan alat monitor jantung otomatis
untuk mengobservasi perkembangan status tanda vital pasien
tetapi di ruangan jumlah alat tidak memadai.
2) Riwayat pemeriksaan medis pasien tidak disertakan ketika pasien
dibawa oleh keluarga kerumah sakit sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan ulang berupa pemeriksaan EKG (elektro kardio
32

gram) tetapi diruang instalasi gawat darurat tidak dilakukan


padahal hal tersebut sangat penting dalam penegakan diagnosa
dimana pasien beresiko mengalami syok yang ditandai dengan
adanya edema pada kedua kaki pasien.
3) Pemeriksaan laboratorium sangat penting tetapi hasil
pemeriksaan belum didapatkan dalam penegakan diagnosa pada
kasus pasien yang kedua kakinya membengkak sejak 1 tahun
yang lalu dan tidak kunjung sembuh, pada luka terdapat lekukan
ketika dilakukan palpasi serta pasien mengalami hipertermi yang
merupakan tanda adanya infeksi. Adanya infeksi dapat dipastikan
melalui jumlah leukosit dari pemeriksaan laboratorium tersebut.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pengkajian dilakukan pada tanggal 25 Mei 2015 di ruang Instalasi
Gawat Darurat. Pengkajian meliputi data umum, keadaan umum, pengkajian
primer dan pengkajian sekunder. Dari pengkajian tersebut didapatkan
diagnosa ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan edema dan
hipovolemia, kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan akibat peningkatan evaporasi, dan kerusakan integritas jaringan
berhubungan dengan kerusakan jaringan subkutis. Intervensi, implementasi,
dan evaluasi yang dilakukan berdasarkan dengan diagnosa keperawatan.

5.2 Saran
33

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan penulis memperoleh beberapa


saran yang dapat dipertimbangkan sebagai tambahan acuan untuk program
selanjutnya yaitu antara lain:
1. Bagi perawat
Dapat melaksanakan metode triase kegawatdaruratan yang sesuai
sehingga akan meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan gawat
darurat yang komprehensif dan meminimalkan masalah yang timbul
pada pasien luka bakar.
2. Bagi Mahasiswa
Sebagai sumber materi untuk menambah pengetahuan mahasiswa
mengenai asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien luka bakar
di instalasi gawat darurat dengan harapan dapat meningkatkan kualitas
pendidikan sehingga dapat tercipta tenaga keperawatan yang
profesional dan dapat memberikan asuhan keperawatan secara
komprehensif.
33
1. Bagi penulis lainnya
Untuk menggali secara lebih dalam dan meningkatkan teori serta
penemuan yang mendukung kasus Luka Bakar.
1

DAFTAR PUSTAKA

Artawan, IK dkk, 2013, “Efek Ekstrak Gel Daun Pegangan (Centella Asiatica)
dalam Mempercepat Waktu Penyembuhan Luka pada Tikus Putih
(Rattus Norvegicus Strain Wistar)”, Jurnal Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana.

Azhari Nefrianita, 2012, “Hubungan Body Image dengan Mekanisme Koping


yang Digunakan Penderita Luka Bakar yang Pernah Dirawat Di Ruang
Khusus Luka Bakar Bangsal Bedah RSUP Dr.M.Djamil Padang”,
Naskah Publikasi Keperawatan Medikal Bedah Fakultas Keperawatan
Universitas Andalas.

Fitri Y, Eka Yulia, 2014, “Respon Stres Pada Pasien Kritis”, Jurnal
Keperawatan Sriwijaya, Volume 1-Nomor 1, Juli 2014, ISSN No 2355 5459.

Gurnida Dida A. dan Melisa Lilisari, 2011, “Dukungan Nutrisi pada Penderita
Luka Bakar”, Naskah Publikasi Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Kartika, Dewi. 2011. “Dasar-dasar Keperawatan Gawat Darurat”. Salemba


Medika: Jakarta.

Kline, Glaxo Smith Inc. 2015. “Zantac”. Ontario: Johnson Inc.

Kusmastuti, Nurina, 2012, “Asuhan Keperawatan Pada Tn. K Dengan


Decompensasi Cordis Di Instalasi Gawat Darurat RSUD Sragen”,
Naskah Publikasi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta.

Lalani,MD Amina dan Suzan Schneeweiss, MD. 2013. Kegawatdaruratan


Pediatri. EGC: Jakarta.

Lia kartika dan Laura S. Himawan, 2007, “Penatalaksanaan Kasus Gangguan


Sendi Temporomandibula dengan Latihan Rahang”, Indonesian Jurnal
Of Dentistry,14(1): 12-17, ISSN 1693-9697.

Ledbetter, Kelly.2010. “Panduan HELP untuk Kontraktur Akibat Luka Bakar di


Negara Berkembang”. Health Education: Global HELP.

Mima, M Horne. 2010. Keseimbangan Cairan, Elektrolit Dan Asam Basa. Jakarta:
EGC.

Musliha. 2010. Keperawatan Gawat Darurat. Nusa Medika: Yogyakarta.

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Integumen. Salemba Medika: Jakarta.
2

Nugroho, Dr. Taufan. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah,


Penyakit Dalam. Nusa Medika: Yogyakarta.

Nurarif, Amin Huda dan Kusuma Hardhy. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NOC-NIC, Media Action:
Yogyakarta.

Pamela S. Kidd,2011, “Pedoman Keperawatan Emergensi”. Penerbit Buku


Kedokteran EGC: Jakarta.

Pharmaceuticals, AFT, 2016. “Ceftriaxone – AFT”. Takapuna Auckland: Po Box


33 – 203.

Pitoyo, 2013, “Efektivitas Perawatan Luka Bakar Derajat Dua Dalam Antara
Meggunakan Madu dan Minyak Zaitun pada Punggung Tikus Galur
Wistar”, Naskah Publikasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta.

Purwanti dan Winarsih, 2008, “Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Perubahan


Suhu Tubuh Pada Pasien Anak Hipertermia Di Ruang Rawat Inap RSUD
Dr. Moewardi Surakarta”, Jurnal, Berita Ilmu Keperawatan ISSN 19-2697,
Volume 1, No 2, Juni.

Pusat Pengembangan Pendidikan (PPP) UGM, 2011,”Laporan Perkembangan


Hibah Pembelajaran”,e-learning, Yogyakarta.

Riskesdas, 2013, “Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013”, http://www.profil-


kesehatan-indonesia-2013. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.

Stander, Melanie, 2011. “The Emergency Management And Treatment Of


Severe Burns”. Emergency Medicine International.

Wasis, S.Kep, Ns, S.Pd. Pedoman Riset Praktis Untuk Profesi Perawat. EGC:
Jakarta

Wolters dkk. 2013. Kapita Selekta Penyakit dengan Implikasi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC: Jakarta