Anda di halaman 1dari 20

KIMIA ANALISAH

TEORI ASAM BASA

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 7

Amelia Putri (122019020)

Rizkina syalsabilah (1220190

DOSEN PEMBIMBING : IR. UMMI KALSUM, M. T.

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG

KATA PENGANTAR

ii.
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga makalah mengenai Asam Basa
dapat terselesaikan. Makalah ini merupakan tugas dalam mata kuliah Kimia
Anorganik II yang bertujuan untuk memberikan pendekatan belajar agar
mahasiswa lebih mudah memahami materi yang terkandung, juga
membangun motivasi mahasiswa untukdapat mengaitkan suatu materi pada
kehidupan sehari-hari.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari


kesempurnaan, maka penulis menerima kritik dan saran yang membangun
untuk menyempurnakan makalah ini. Akhirnya, penulis berharap semoha
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya dan dapat memenuhi
harapan kita semua.

Palembang, 2 Mei 2020

Penulis

DAFTAR ISI

ii.
KATA PENGANTAR .........................................................................................i

DAFTAR ISI ......................................................................................................ii

PEMBAHASAN

A. Pengerian asam dan basa................................................................3


B. Teori asam basa..............................................................................3
1. Basa lemak basa monovalen.....................................................5
2. Teori asam basa bronsted dan lowry........................................5
3. Teori asam basa lewis...............................................................7
C. Sifat sifat asam danbasa................................................................14

1. Sifat asam............................................................................14

2. Sifat basa..............................................................................15
D. Jenis asam dan basa......................................................................16
E. Indikator asam dan basa................................................................17
F. Daftar pustaka..........................................................................19

ii.
PEMBAHASAN

A. Pengertian Asam dan Basa


Sekitar tahun 1800, banyak kimiawan Prancis termasuk Antoine Lavoisier
secara keliru berkeyakinan bahwa semua asam mengandung oksigen. Lavoisier
mendefinisikan asam sebagai zat mengandung oksigen karena pengetahuannya
akan asam kuat hanya terbatas pada asam-asam okso dan karena is tidak
mengetahui komposisi sesungguhnya dari asamasam halida, HCI, HBr, dan HI.
Lavoisier-lah yang memberi nama oksigen dari dua kata bahasa Yunani
yaitu oxus (asam) dan gennan (menghasilkan) yang berarti “penghasil/pembentuk
asam”. Setelah unsur klorin, bromin, dan iodin teridentifikasi dan ketiadaan
oksigen dalam asam – asam halida ditemukan oleh Sir Humphry Davy pada tahun
1810, definisi oleh Lavoisier tersebut kemudian ditinggalkan. Kimiawan Inggris
pada waktu itu, termasuk Humphry Davy berkeyakinan bahwa semua asam
mengandung hidrogen. Setelah itu pada tahun 1884, ahli kimia Swedia yang
bernama Svante August Arrhenius dengan menggunakan landasan ini,
Istilah asam berasal dari bahasa Latin “Acetum” yang berarti cuka, karena
diketahui zat utama dalam cuka adalah asam asetat. yaitu zat yang berasa masam.
Basa (alkali) berasal dari bahasa arab yang berarti abu. Secara umum basa yaitu
zat yang berasa pahit dan bersifat kaustik. Definisi umum dari basa adalah
senyawa kimia yang menyerap ion hydronium ketika dilarutkan dalam air. Basa
adalah lawan dari asam, yaitu ditujukan untuk unsur/senyawa kimia yang
memiliki pH lebih dari 7. Kostik merupakan istilah yang digunakan untuk basa
kuat. Basa dapat dibagi menjadi basa kuat dan basa lemah. Kekuatan basa sangat
tergantung pada kemampuan basa tersebut melepaskan ion OH dalam larutan dan
konsentrasi larutan basa tersebut.

B . Teori Asam Basa


1. Teori Asam Basa Arrhenius (Svante August Arrhenius)
Teori asam basa Arrhenius didasarkan pada pembentukan ion dan pada
larutan berair (aqueous solution).
ii.
 Asam adalah spesies yang menghasilkan ion H+ atau H3O+ dalam larutan
berair.
contoh: HCl, H2SO4, H2CO3, H3PO4,HCN, HNO3
HCl + H2O à H+ + Cl- + H2O
 Basa adalah spesies yang menghasilkan ion OH- dalam larutan berair.
contoh: NaOH, KOH, Ba(OH)2, Ca(OH)2
NH3 + H2O à NH4+ + OH-
Secara umum :
Asam + Basa Garam + Air

Konsep asam basa Arrhenius terbatas hanya pada larutan air,


sehingga tidak dapat diterapkan pada larutan non-air, fasa gas dan fasa
padatan dimana tidak ada H+ dan OH-.
Sedangkan kekurangan atau kelemahan dari teori asam basa Arrhenius yaitu:
 Teori asam basa Arrhenius terbatas dalam pelarut air, namun tidak dapat
menjelaskan reaksi asam-basa dalam pelarut lain atau bahkan reaksi tanpa
pelarut.
 Teori asam basa Arrhenius hanya terbatas sifat asam dan basa pada
molekul, belum mampu menjelaskan sifat asam dan basa ion seperti kation
dan anion.
 Tidak menjelaskan mengapa beberapa senyawa, yang mengandung
hidrogen dengan bilangan oksidasi +1 (seperti HCl) larut dalam air untuk
membentuk larutan asam, sedangkan yang lain seperti CH4 tidak.
 Tidak dapat menjelaskan mengapa senyawa yang tidak memiliki OH-,
seperti Na2CO3 memiliki karakteristik seperti basa.
Asam dan basa dapat dikelompokan menjadi asam basa monovalen dan
asam basa polivalen. Asam basa monovalen yaitu senyawa yang valensi asam atau
basa adalah satu.
a. asam lemah monovalen
Contohnya : asam asetat

ii.
CH3COOH à H+ + CH3COO-
1). Basa Lemah Monovalen
Contohnya : natrium hidroksida
NH4OH à NH4+ + OH-
Sedangkan asam basa polivalen yaitu senyawa yang valensi asam atau
basa adalah lebih dari satu. Asam dan basa polivalen mengion secara bertahap dan
tiap tahap memiliki nilai tetapan kesetimbangan sendiri.
Contohnya : Asam sulfat
H2SO4 à H+ + HSO4-
HSO4- à H+ + SO42-
Pasangan asam-basa konjugasi secara singkat yaitu asam makin lemah, basa
konjugasinya makin kuat.
Ka x Kb = Kw
2. Teori Asam Basa Brønsted-Lowry (Bronsted dan Lowry)
Teori asam basa Brønsted-Lowry didasarkan pada transfer proton.
 Asam adalah spesies pemberi (donor) proton.
 Basa adalah spesies penerima (akseptor) proton.
Amfiprotik/ Amfoter: bisa bersifat asam atau basa
Contoh : H2O, NH3, HCH3COO, H2PO4-
HCl + H2O à H3O+ + Cl-
Asam basa
H2O + NH3 à NH4+ + OH-
Asam basa
Reaksi asam basa akan menyebabkan reaksi perpindahan proton dari asam
ke basa dan membentuk asam dan basa konjugasi.
 Asam kuat: basa konjugasi lemah
 Basa kuat: asam konjugasi lemah
HCl + H2O à H3O+ + Cl-
Asam1 basa1 asam2 basa2
Asam konjugasi memiliki atom H lebih banyak daripada basa
konjugasinya sedangkan basa konjugasi memiliki muatan negatif lebih banyak
ii.
daripada asam konjugasinya. Semua asam basa Arrhenius adalah asam basa
bronsted lowry
H2PO4- à HPO42-
asam konjugasi basa konjugasi
Berdasarkan teori ini, reaksi antara gas HCl dan NH3 dapat dijelaskan sebagai
reaksi asam basa, yaitu:
HCl(g) + NH3(g) →NH4Cl(s)
simbol (g) dan (s) menyatakan zat berwujud gas dan padat. Hidrogen
khlorida mendonorkan proton pada amonia dan berperan sebagai asam.
Menurut teori BrΦnsted dan Lowry, zat dapat berperan baik sebagai asam maupun
basa. Bila zat tertentu lebih mudah melepas proton, zat ini akan berperan sebagai
asam dan lawannya sebagai basa. Sebaliknya, bila zuatu zat lebih mudah
menerima proton, zat ini akan berperan sebagai basa.
Dalam suatu larutan asam dalam air, air berperan sebagai basa.
HCl + H2O → Cl– + H3O+
asam1+basa 2 → basa konjugat1+asam konjugat2
 Basa konjugat dari suatu asam adalah spesi yang terbentuk ketika satu
proton pindah dari asam tersebut.
 Asam konjugat dari suatu basa adalah spesi yang terbentuk ketika satu
proton ditambahkan ke basa tersebut.
Dalam reaksi di atas, perbedaan antara HCl dan Cl– adalah sebuah proton, dan
perubahan antar keduanya adalah reversibel. Hubungan seperti ini disebut
hubungan konjugat, dan pasangan HCl dan Cl– juga disebut sebagai pasangan
asam-basa konjugat.
Larutan dalam air ion CO3 2– bersifat basa. Dalam reaksi antara ion
CO32– dan H2O, yang pertama berperan sebagai basa dan yang kedua sebagai
asam dan keduanya membentuk pasangan asam basa konjugat.
H2O + CO32– → OH– + HCO3–
asam1+basa 2 → basa konjugat1+asam konjugat2

ii.
Zat disebut sebagai amfoter bila zat ini dapat berperan sebagai asam atau basa. Air
adalah zat amfoter. Reaksi antara dua molekul air menghasilkan ion hidronium
dan ion hidroksida adalah contoh reaksi zat amfoter.
H2O + H2O → OH– + H3O+
asam1+basa 2 → basa konjugat1+asam konjugat2
Adapun kelebihan teori asam dan basa Bronsted – Lowry yaitu konsep
yang telah disampaikan Bronsted dan Lowry mengenai Teori Asam Basa tidak
terbatas hanya pada pelarut air saja, namun konsepnya dapat dengan jelas
menjelaskan dan menerjemahkan mengenai reaksi asam dan basa dalam pelarut
air, bahkan mengenai reaksi tanpa pelarut.
Contoh : Reaksi antara asam klorida, HCl, dengan amonia, NH3 dengan
menggunakan pelarut benzena. Reaksinya seperti ini :
HCl (benzena) + NH3 (benzena) -> NH4Cl(s)
Sedangkan kekurangan teori basa dan asam Bronsted – Lowry yaitu teori
Bronsted-Lowry memiliki kelemahan yaitu tidak mampu menjelaskan alasan
suatu reaksi asam dengan basa dapat terjadi tanpa adanya transfer proton dari
yang bersifat asam ke yang bersifat basa.
3. Teori Asam Basa Lewis (Lewis)
Teori asam basa Lewis didasarkan pada transfer pasangan elektron.
 Asam adalah spesies penerima (akseptor) pasangan elektron.
Contohnya : H+, kation logam (Fe3+, Al3+)
 Basa adalah spesies pemberi (donor) pasangan elektron.
Contohnya : OH-, atom dan ion dari golongan V - VII (F-,Cl-)
Reaksi asam basa merupakan pemakaian bersama pasangan elektron (contohnya :
pada ikatan kovalen koordinasi) dan semua asam basa Arrhenius adalah asam basa
Lewis
Adapun kelebihan teori asam dan basa Lewis yaitu:
 Teori asam dan basa Lewis mampu menjelaskan suatu zat memiliki sifat
basa dan asam dengan pelarut lain dan bahkan dengan yang tidak
mempunyai pelarut.

ii.
 Teori asam dan basa Lewis mampu menjelaskan suatu zat memiliki sifat
basa dan asam molekul atau ion yang memiliki PEB atau pasangan
elektron bebas. Contoh terdapat pada proses pembentukan senyawa
komplek.
 Teori asam dan basa Lewis mampu menerangkan dan menjelaskan suatu
senyawa bersifat basa dari zat-zat organik, contohnya dalam DNA dan
RNA didalamnya mengandung atom N, nitrogen, dimana memiliki PEB
atau pasangan elektron bebas
Sedangkan kekurangan teori basa dan asam Lewis yaitu teori Lewis memiliki
kelemahan yaitu hanya mampu menjelaskan asam-basa yang memiliki 8 ion atau
oktet.
4. Asam Basa Lux-Flood
Teori Asam Basa Lux-Flood merupakan penghidupan kembali teori
asam basa oksigen yang diusulkan oleh kimiawan Jerman Hermann Lux pada
tahun 1939, kemudian dikembangkan oleh Håkon Flood sekitar tahun 1947
dan masih digunakan sampai sekarang pada bidang geokimia modern dan
elektrokimia lelehan garam. Konsep teori asam basa Lux-Flood ditinjau
berdasarkan ion oksida (O2-).
Menurut teori asam basa Lux-Flood, senyawa yang bersifat asam yaitu
senyawa-senyawa yang menjadi akseptor ion oksida. Sedangkan senyawa
yang bersifat basa yaitu senyawa-senyawa yang menjadi pendonor ion oksida.
Contoh reaksi antara CaO (kapur) dan SiO2 (pasir) yang terjadi pada suhu
tinggi. Persamaan reaksi yang terjadi sebagai berikut.
CaO(s) + SiO2(s) → CaSiO3(s)
Reaksi CaO atau SiO2 dapat pula terjadi pada suhu rendah sesuai persamaan
berikut:
SO3(g) + H2O(l0 → H2SO4(aq)
SiO2(g) + H2O(l) → H2CO3(aq)
Adapun kelebihan teori asam basa lux-flood yaitu karakterisasi oksida logam dan
non logam menggunakan sistem ini bermanfaat dalam industri pembuatan logam.

ii.
Sedangkan kelemahan teori Lux-Flood yaitu teori ini terbatas hanya pada
senyawa-senyawa yang memiliki ion oksida saja. Teori ini tidak dapat
menjelaskan sifat kebasaan dan keasaman suatu senyawa yang tidak memiliki ion
oksida di dalamnya.
5. Asam Basa Keras dan Lunak (Konsep HSAB)
Asam basa Lewis diklasifikasikan menurut sifat keras dan lunaknya.
Logam dan ligan dikelompokkan menurut sifat keras dan lunaknya
berdasarkan pada polarisabilitas unsur yang pada akhirnya dikemukakanlah
suatu prinsip yang disebut Hard and Soft Acid Base (HSAB). R.G Pearson
awal tahun 1960 mengusulkan bahwa asam basa lewis dapat diklasifikasikan
sebagai asam basa lunak (soft) atau keras (hard).
Tabel 2.1 Tabel Klasifikasi Asam Keras, Lunak, dan Intermediet

Tabel 2.1 Tabel Klasifikasi Basa Keras, Lunak, dan Intermediet

ii.
a. Syarat-Syarat Asam-Basa Keras (Hard):
a) Jari-jari atom kecil
b) Bilangan oksidasinya tinggi
c) Polaritasnya rendah
d) Elektronegatifitasnya tinggi

b. Syarat-Syarat Asam-Basa Lunak (Soft) :


a) Jari-jari atom
b) Bilangan oksidasinya rendah
c) Polaritasnya tinggi
d) Ekektronegatifitasnya rendah

Jadi dari keterangan di atas dapat disimpulkan


1. Asam keras cenderung berikatan dengan basa keras
2. Asam lunak cenderung berikatan dengan basa lunak
3. Interaksi asam-basa keras cenderung bersifat elektrostatik
4. Interaksi asam-basa lunak cenderung bersifat kovalen

c. Interaksi Asam Basa Keras dan Lunak


Berdasarkan prinsip HSAB, asam keras cenderung lebih suka untuk
berkoordinasi dengan basa keras, dan demikian juga halnya dengan asam lunak
yang cenderung lebih suka berkoordinasi dengan basa lunak. Asam keras dan basa
keras cenderung mempunyai atom yang kecil, oksidasi tinggi, kepolaran rendah,
dan keelektronegatifan tinggi.
Sedangkan asam dan basa lunak cenderung mempunyai atom yang besar,
tingkat oksidasi rendah, dan elektronegatifan rendah. Interaksi antara asam keras
dan basa keras disebut dengan interaksi ionik, sedangkan interaksi antara asam
lemah dan basa lemah lebih bersifat kovalen. Contohnya antara Cr3+ dan OH-.
Cr3+ merupakan asam kuat dan OH- merupakan basa kuat, sehinnga kedua asam
basa ini akan berinteraksi secara kuat melalui pembentukan ikatan koordinasi

ii.
karena pasangan elektron bebas unsur O pada OH- akan menempati orbital
kosong yang ada di Cr3+.
Pada kenyataannya asam keras yang berikatan dengan dengan basa keras
akan memiliki kestabilan yang lebih tinggi dibandingkan asam keras yang
berikatan dengan basa lunak. Asam keras (misalnya : Fe3+) yang berikatan
dengan halogen, kestabilannya akan menurun berdasarkan urutan : F- > Cl- > Br-
> I-. Sedangkan asam lunak (misalnya : Hg2+) yang berikatan dengan golongan
halogen, kestabilannya akan meningkat berdasarkan urutan : F- < Cl- < Br- < I-.
Hal ini disebabkan karena F- dan Cl- merupakan basa keras, sehingga akan lebih
stabil jika berikatan dengan asam keras, sebaliknya I- yang merupakan basa lunak,
akan lebih stabil jika berikatan dengan asam lunak.
6. Teori Asam Basa Sistem Pelarut
Asam basa sistem basa sistem pelarut dikembangkan oleh Cady Esley.
Berdasarkan teori ini, yaitu
 asam sistem pelarut yaitu spesies kimia yang bila dilarutkan dalam pelarut
tertentu dapat meningkatkan konsentrasi kation karakteristik dari pelarut
tersebut.
Contoh cairan NH4Cl dilarutkan dalam cairan NH3, maka NH4Cl
bertindak sebagia asam sistem pelarut karena dalam NH3, cairan NH4Cl
teriosisasi menjadi NH4+ + Cl-. NH4+ inilah yang disebut kation
karakteristik pelarut (KKP).
 Sedangkan basa sistem pelarut yaitu suatu spesi kimia yang bila dilarutkan
dalam pelarut tertentu dapat meningkatkan anion karakteristik plarut
tersebut.
Contoh melarutkan kristal NaCl dalam cairan POCl2, maka NaCl disebut
anion karakteristik pelarut (AKP). Karena dalam campuran NaCl terurai
menjadi Na+ dan Cl-. Cl- inilah yang disebut AKP.
Kelebihan dari teori ini adalah sifat keasaman dan kebasaan suatu
senyawa dapat ditingkatkan karakteristiknya.

ii.
Kelemahan dari teori ini adalah tidak semua pelarut dapat atau
mampu meningkatkan karakteristik sifat keasaman ataupun kebasaan suatu
senyawa.
7. Teori Asam Basa Asam Usanovich
Usanovich merupakan seorang ahli kimia Rusia. Teori Asam Basa Asam
Usanovich tidak diakui oleh dunia atau bisa dibilang bukan teorinya. Hal ini
disebabkan teori yang diungkapkan tersebut merupakan gabungan dari semua
teori asam basa yang pernah diungkapkan ahli-ahli kimia yang lain.
Mikhail Usanovich telah mengembangkan teori umum yang tidak membatasi
keasaman suatu senyawa yang hanya mengandung hidrogen saja, tetapi lebih
umum dari teori asam basa Lewis. Teori Usanovich dapat diringkas:
 Asam didefinisikan sebagai spesies yang dapat menyumbangkan kation
untuk kemudian bergabung dengan (menerima) anion untuk menetralkan
basa menghasilkan garam.
 Basa didefinikasikan sebagai spesies yang dapat memberikan anion
(elektron) untuk bergabung dengan kation atau menetralkan asam
kemudian menghasikan garam .
Definisi Usanovich ini telah mencakup semua definisi yang telah ada sebelumnya
dan konsep redoks (oksidasi-reduksi) sebagai kasus khusus dalam reaksi asam-
basa.
Beberapa contoh reaksi asam-basa Usanovich:
Na2O (basa) + SO3 (asam) → 2 Na+ + SO42−(yg dipertukarkan: anion O2−)
3 (NH4)2S (basa) + Sb2S3 (asam) → 6 NH4+ + 2 SbS43−(yg dipertukarkan:
anion S2−)
Na (basa) + Cl (asam) → Na+ + Cl−(yg dipertukarkan: elektron)

B. Reaksi- Reaksi Asam dan Basa


1. Reaksi Penetralan
Jika larutan asam san larutan basa direaksikan maka terjadi reaksi
penetralan, yaitu reaksi yang saling meniadakan sifat asam dan basa yang
menghasilkan garam dan air.
ii.
Contoh :
Asam + Basa Garam + Air
HnA + B(OH)m BnAm + H2O
2. Reaksi Oksida Asam dan Oksida Basa
Oksida asam adalah oksida bukan logam yang saat bereaksi dengan air
membentuk asam.
CO2 + H2O H2CO3
SO2 + H2O H2SO3
SO3 + H2O H2SO4
N2O5 + H2O 2 HNO3
P2O5 + H2O 2 H3PO4
Oksida asam akan bereaksi dengan larutan basa membentuk garam dan air
CO2 + 2 NaOH Na2CO3 + H2O
Oksida basa adalah oksida logam yang saat bereaksi dengan air akan
menghasilkan basa:
Na2O + H2O ---> 2 NaOH
K2O + H2O ---> 2 KOH
Oksida basa akan bereaksi dengan larutan asam membentuk garam dan air
Na2O + H2SO4 ---> Na2SO4 + H2O
Fe2O3 + HNO3 ---> 2 Fe(NO3)3 + 3 H2O
3. Reaksi yang menghasilkan Endapan
Untuk mengetahui suatu reaksi menghasilkan endapan atau tidak....ada
dua cara. Cara pertama menggunakan tabel kelarutan (dengan menghitung
nilai perbandingan Ksp dengan Qsp nya), contoh :
BaCl2(aq) + Na2SO4(aq) ---> BaSO4(s) + 2NaCl (aq)
Reaksi Ion (larutan elektrolit terurai menjadi ion2nya dan yang mengendap
tidak diuraikan).
Ba2+(aq) + 2Cl-(aq) + 2Na+(aq) + SO42-(aq) ---> BaSO4(s) + 2Na+
(aq) + 2Cl-(aq)
Reaksi ion bersihnya (ion2 yang sama di ruas kiri dan kanan dihilangkan)
Ba2+(aq) + SO42-(aq) ---> BaSO4(s)
ii.
4. Reaksi yang Menghasilkan Gas
a. Reaksi yang menghasilkan gas CO2
CaCO3(s) + 2HCl(aq) ---> CaCl2(s) + H2O(l) + CO2(g)
Na2CO3(s) + H2SO4(aq) ---> Na2SO4(aq) + H2O(l) + CO2(g)
Kedua reaksi di atas sebenarnya menghasilkan H2CO3 akan tetapi
segera terurai menjadi H2O(l) dan CO2(g).
b. Reaksi yang menghasilkan gas NH3
NH4Cl(s) + KOH(aq) ---> KCl(aq) + H2O(l) + NH3(g)
reaksi di atas sebenarnya menghasilkan NH4OH akan tetapi segera terurai
menjadi H2O(l) dan NH3(g)
c. Reaksi yang menghasilkan gas H2S
FeS(s) + H2SO4 ---> FeSO4 + H2S
5. Reaksi Logam dengan Asam Kuat
Logam + Asam Kuat ---> Garam + gas Hidrogen
Ca(s) + 2HCl(aq) ---> CaCl2(s) + H2O(g)
Na(s) + H2SO4(aq) ---> Na2SO4(aq) + H2(g)

C. Sifat- Sifat Asam dan Basa


Ada beberapa sifat-sifat khusus untuk membedakan suatu zat atau senyawa
berupa asam atau basa yaitu:
1. Sifat Asam
Karena Ion hidrogen mempunyai muatan positif (makanya dikasih
tanda plus (+) disebelah atas belakang H). Secara umum, Asam memiliki sifat
sebagai berikut:
 Rasa masam jika dilarutkan dalam air (hanya untuk asam lemah)
 Sentuhan : terasa menyengat bila disentuh dan dapat merusak kulit
(terutama jika asam pekat)
 Bersifat korosif terhadap logam. Dapat menyebabkan karat, dapat pula
merusak jaringan kulit/iritasi dan melubangi benda yang terbuat dari kain,
kayu atau kertas jika konsentrasinya tinggi (pengalaman pribadi, kalian
mau coba? Dio kayanya semangat nih)
ii.
 Hantaran listrik : merupakan cairan elektrolit walaupun tidak selalu ionik
(dapat menghantarkan listrik walau tidak selalu berbentuk ion)
 Derajat keasaman (pH) lebih kecil dari 7
 Mengubah warna lakmus menjadi berwarna merah

2. Sifat Basa
Sedangkan Ion hidroksida mempunyai muatan negatif (makanya
dikasih tanda minus (-) disebelah atas belakang OH). Basa adalah lawan
dari asam. Secara umum, Basa memiliki sifat sebagai berikut:
 Rasa pahit jika dilarutkan dalam air (hanya untuk basa lemah)
 Sentuhan : terasa licin seperti sabun bila disentuh (hanya untuk basa
lemah)
 Bersifat kaustik (dapat merusak jaringan kulit/iritasi)
 Hantaran listrik : dapat menghantarkan listrik (merupakan larutan
elektrolit)
 Derajat keasaman (pH) lebih besar dari 7
 Mengubah warna lakmus menjadi berwarna biru
 Dalam keadaan murni umumnya berupa kristal padat
 Dapat mengemulsi minyak

D. Jenis- Jenis Asam dan Basa


1. Jenis- Jenis Asam
Asam terbagi dua jenis yaitu Asam Kuat dan Asam Lemah.
a. Asam Kuat yaitu Asam yang dapat terionisasi 100% dalam larutan
Contoh asam Kuat:
 Asam sulfat (H2SO4)
 Asam klorida (HCl)
 Asam nitrat (HNO3)
 Asam bromida (HBr)
 Asam iodida (HI)
ii.
 Asam klorat (HClO4)

b. Asam lemah yaitu Asam yang tidak terionisasi seluruhnya pada saat dilarutkan
dalam air.
Contoh asam lemah:
o Asam askorbat
o Asam karbonat
o Asam sitrat
o Asam etanoat
o Asam laktat
o Asam fosfat

E. Jenis- Jenis Basa


Seperti halnya asam, basa juga terbagi menjadi 2 jenis yaitu Basa Kuat dan
Basa Lemah
a. Basa Kuat
yaitu Basa yang dapat terionisasi sempurna sesuai dengan unsure
pembentuk basa tersebut.
Contoh basa kuat:
o Litium hidroksida (LiOH)
o Natrium hidroksida (NaOH)
o Kalium hidroksida (KOH)
o Kalsium hidroksida (Ca(OH)2)
o Stronsium hidroksida (Sr(OH)2)
o Rubidium hidroksida (RbOH)
o Barium hidroksida (Ba(OH)2)
o Magnesium hidroksida (Mg(OH)2)

b. Basa Lemah

ii.
yaitu basa tidak berubah seluruhnya menjadi ion hidroksida dalam
larutan. Amonia adalah salah satu contoh basa lemah. Sudah sangat jelas
ammonia tidak mengandung ion hidroksida, tetapi amonia bereaksi dengan air
untuk menghasilkan ion amonium dan ion hidroksida.

Akan tetapi, reaksi berlangsung reversibel, dan pada setiap saat sekitar
99% amonia tetap ada sebagai molekul amonia. Hanya sekitar 1% yang
menghasilkan ion hidroksida. Disebut basa lemah karena zat terlarut dalam larutan
ini tidak mengion seluruhnya, α ≠ 1, (0 < α < 1). Penentuan besarnya
konsentrasi OH- tidak dapat ditentukan langsung dari konsentrasi basa lemahnya
(seperti halnya basa kuat).

Berikut ini contoh basa lemah :

o gas amoniak (NH3)

o besi hidroksida (Fe(OH)2)

o Hydroksilamine (NH2OH)

o Aluminium hidroksida (Al(OH)3)

o Ammonia hydroksida (NH4OH)

o Metilamin hydroxide (CH3NH3OH

o Etilamin hydroxide (C2H5NH3OH)

D. Indikator Asam Basa


Indikator asam – basa adalah zat kimia yang mempunyai warna yang
berbeda dalam larutan asam dan basa. Sifat itulah yang menyebabkan indikator
asam – basa dapat digunakan untuk mengidentifikasi sifat asam dan basa. Ada
beberapa jenis indikator asam – basa diantaranya fenolftalein, metil orange,
bromotimul biru, metil ungu, bromokresol ungu, fenol merah, timolftalein dan
ii.
metil orange. Jika kita meneteskan larutan asam – basa kedalam larutan tersebut,
kita akan melihat perubahan warna larutan indikator. Perhatikan tabel berikut:
Indikator asam - basa

2.6.1 Trayek Perubahan Warna Indikator Asam Basa

DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Cotton F.A dan G. Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI-
Press.

Huheey, J.E., Keiter, E.A., and Keiter, R.L. 1993. Inorganic Chemistry.
New York. HarperCollins College Publisher.

Petrucci, Ralph. H.1985. Kimia Dasar Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

ii.
Anonim. 2013. Materi Kimia Kelas X Asam Basa. http://www.chem-is-
try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/asam-basa/ pada tanggal 3 Mei 2015
pukul 13.00.

Anonim. 2013.http://santrinitas.wordpress.com. Di akses pada 3 Mei 2015


pukul 13.00.

ii.