Anda di halaman 1dari 49

Keperawatan Medikal Bedah II

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN SINDROM NEFROTIK

OLEH:

KELAS A SEMESTER IV
KELOMPOK 6

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga Laporan yang membahas tentang ”ASUHAN
KEPERAWATAN SINDROMA NEFROTIK” dapat selesai tepat pada waktunya sebagai salah
satu tugas dari mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II.
            Kami menyadari makalah ini masih jauh dari harapan, yang mana di dalamnya masih
terdapat berbagai kesalahan baik dari sistem penulisan maupun isi. Oleh karena itu Kami
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga dalam Laporan berikutnya
dapat diperbaiki serta ditingkatkan kualitasnya. 

Gorontalo, September 2020

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LatarBelakang
Sindroma nefrotik (SN) adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh peningkatan
permeabilitas glomerulus terhadap protein plasma yang ditandai dengan edemaan asarka,
proteinuria masif, hipoalbuminemia, hiperkolesterolemia, dan lipiduria. Penyebab primer
sindrom nefrotik biasanya digambarkan oleh histologi, yaitu sindrom anefrotik kelainan
minimal (SNKM) yang merupakan penyebab paling umum dari sindrom nefrotik pada anak
dengan umur rata-rata 2,5 tahun.
Meskipun sindromne frotik dapat menyerang siapa saja namun penyak it ini banyak
ditemukan pada anak- anakusia 1 sampai 5 tahun. Selain itu kecenderungan penyakit ini
menyerangan laki-laki dua kali lebih besar di bandingkan anakperempuan. Angkakejadian
SN pada anaktidakdiketauipasti, namunlaporandariluar negeri diperkirakan pada
anakusiadibawah 16 tahunberkisarantara 2 sampai 7 kasus per tahun pada setiap 100.000
anak. Menurut Raja Syehangka kejadian kasus sindroma nefrotik di Asia tercatat 2
kasussetiap 10.000 penduduk. Sedangkan kejadian di Indonesia pada sindroma nefrotik
mencapai 6 kasus pertahun dari 100.000 anak berusia kurang dari 14 tahun.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep medis dalam asuhan keperawata sindrom nefrotik?


2. Bagaimana konsep keperawatan dalam asuhan keperawata sindrom nefrotik?

1.3 Tujuan

1. Mahasiswa dapat mengetahui konsep medis dalam asuhan keperawata sindrom nefrotik.
2. Mahasiswa dapat mengetahui konsep keperawatan dalam asuhan keperawata sindrom
nefrotik.
BAB II

KONSEP MEDIK

2.1 Pengertian sindrom nefrotik

Sindrom nefrotik adalah keadaan klinis yang disebabkan oleh kerusakan


glomerulus karena ada peningkatan permeabilitas glomerulus terhadap protein plasma
menimbulkan proteinuria, hipoalbuminemia, hiperlipidemia dan edema. Sindrom
nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria, hipoalbuminemia, dan
hiperkolesterolemia. Kadang-kadang terdapat hematuria, hipertensi dan penurunan
fungsi ginjal. Sindrom nefrotik merupakan keadaan klinis yang meliputi proteinuria
masif, hipoalbuminemia, hiperlipemia dan edema (Betz & Sowden, 2009).
Berdasarkan pengertian diatas, Sindrom nefrotik pada anak merupakan
kumpulan gejala yang terjadi pada anak dengan karakteristik proteinuria,
hipoalbumininemia, hiperlipidemia yang disertai edema.
2.2 Etiologi
Sebab yang pasti belum diketahui. Akhir-akhir ini dianggap sebagai suatu penyakit
autoimun. Jadi merupakan suatu reaksi antigen-antibodi. Umumnya para ahli membagi
etiologinya menjadi:

1. Sindrom nefrotik bawaan atau sindroma nefrotik primer yang 90% disebut Sindroma
nefrorik Idiopatik, diduga ada hubungan dengan genetik, imunoligik dan alergi.
Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal. Resisten terhadap
semua pengobatan. Gejalanya adalah edema pada masa neonatus. Prognosis buruk dan
biasanya penderita meninggal dalam bulan-bulan pertama kehidupannya.
2. Sindrom nefrotik sekunder
Sindroma nefrotik sekunder yang penyebabnya berasal dari ekstra renal (diluar ginjal).
Sindrom jenis ini timbul sebagai akibat penyakit sistemik:

a. Penyakit keturunan/metabolik
 Diabetes
 Amiloidosis, penyakit sel sabit, nefritis membranoproliferatif
hipokomplementemik.
 Miksedemia
b. Infeksi
 Virus hepatitis B
 Malaria kuartana atau parasit lainnya
 Skistosoma
 Lepra
 Sifilis
 Pasca streptococcus
c. Toksin/Alergi
 Air raksa (Hg)
 Serangga
 Bisa ular
d. Penyakit sistemik/immune mediated
 Lupus eritematosus sistemik
 Purpura Henoch-Schonlein
 Sarkoidosis
e. Keganasan
 Tumor paru
 Penyakit Hodgkin
 Tumor saluran pencernaan
3. Sindrom nefrotik idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)
Berdasarkan histopatologi yang tampak pada biopsi ginjal dengan pemeriksaan
mikroskop biasa dan mikroskop electron, Churg dan kawan-kawan membagi dalam 4
golongan, yaitu :
a. Kelainan minimal
Dengan mikroskop biasa glomerulus tampak normal, sedangkan dengan mikroskop
electron tampak foot processus sel epitel berpadu. Dengan cara imunofluoresensi
ternyata tidak terdapat IgG atau immunoglobulin beta-IC pada dinding kapiler
glomerulus. Golongan ini lebih banyak terdapat pada anak daripada orang dewasa.
Prognosis lebih baik dibandingkan dengan golongan lain.
b. Nefropati membranosa
Semua glomerulus menunjukan penebalan dinding kapiler yang tersebar tanpa
proliferasi sel. Tidak sering ditemukan pada anak. Prognosis kurang baik.
c. Glomerulonefritis proliferatif
Glomerulonefritis proliferatif eksudatif difus
Terdapat proliferasi sel mesangial dan infiltasi sel polimorfonukleus. Pembengkakkan
sitoplasma endotel yang menyebabkan kapiler tersumbat. Kelainan ini sering
ditemukan pada nefritis yang timbul setelah infeksi dengan Streptococcus yang
berjalan progresif dan pada sindrom nefrotik.prognosis jarang baik, tetapi kadang-
kadang terdapat penyembuhan setelah pengobatan yang lama.
d. Glomerulosklerosis fokal segmental
Pada kelainan ini yang mencolok sklerosis glomerulus. Sering ditandai dengan atrofi
tubulus. Prognosis buruk.
Sindroma nefrotik bisa terjadi akibat berbagai glomerulopati atau penyakit
menahun yang luas. Sejumlah obat-obatan yang merupakan racun bagi ginjal juga bisa
menyebabkan sindroma nefrotik, demikian juga halnya dengan pemakaian heroin
intravena.

Sindroma nefrotik bisa berhubungan dengan kepekaan tertentu. Beberapa jenis


sindroma nefrotik sifatnya diturunkan. Sindroma nefrotik yang berhubungan dengan
infeksi HIV (human immunodeficiency virus, penyebab AIDS) paling banyak terjadi pada
orang kulit hitam yang menderita infeksi ini. Sindroma nefrotik berkembang menjadi
gagal ginjal total dalam waktu 3-4 bulan.

Penyebab sindroma nefrotik:

Penyakit Obat-obatan alergi

-Amiloidosis -Obat pereda nyeri - Gigitan serangga


- Kanker yang menyerupai - Racun pohon ivy
- Diabetes aspirin - Racun pohon ek
- Glomerulopati - Senyawa emas - Cahaya matahari
- Infeksi HIV - Heroin intravena
- Leukemia - Penisilamin
- Limfoma
- Gamopati monoclonal
- Mieloma multipel
-Lupus eritematosus
sistemik

2.3 Manifestasi klinis

1. Kenaikan berat badan


2. Wajah tampak sembab (edema fascialis) terutama di sekitar mata, tampak pada saat
bangun di pagi hari dan berkurang di siang hari
3. Pembengkakan abdomen (asites)
4. Efusi pleura
5. Pembengkakan labia atau skrotum
6. Edema pada mukosa intestinal yang dapat menyebabkan diare, anoreksia, dan
absorpsi intestinal buruk
7. Pembengkakan pergelangan kaki / tungkai
8. Iritabilitas
9. Mudah letih
10. Letargi
11. Tekanan darah normal atau sedikit menurun
12. Rentan terhadap infeksi
13. Perubahan urin seperti penurunan volume dan urin berbuih (Nurarif & Kusuma,
2013).

2.4 Patofisiologi

Manifestasi primer sindrom nefrotik adalah hilangnya plasma protein, terutama albumin,
ke dalam urine.Meskipun hati mampu meningkatkan produksi albumin, namun organ ini tidak
mampu untuk terus mempertahankannya jika albumin terus menerus hilang melalui
ginjal.Akhirnya terjadi hipoalbuminemia.Hipoalbuminemia disebabkan oleh hilangnya albumin
melalui urin dan peningkatan katabolisme albumin di ginjal menyebabkan edema.

Sintesis protein di hati biasanya meningkat( namun tidak memadai untuk mengganti
kehilangan albumin dalam urin). Hipotesis menunjukan kehilangan albumin mengakibatkan
penurunan tekanan onkotik dalam saluran darah.Ini mengakibatkan kebocoran cairan dari dalam
darah ke intestitium. Isi dari cairan yang berkurang dalam saluran darah seterusnya akan
mengaktifkan renin- angiotensin- aldosteron sistem. Hormon vasopresin(ADH) akan dirembes
untuk menstabilkan kandungan cairan dalam saluran darah seperti sediakala.

Meskipun demikian, pengumpulan cairan ini menyebabkan kehilangan cairan yang terus-
menerus ke interstitium karena protein terus – menerus hilang kedalam urin diikuti dengan
kerusakan pada membran basal glomerulus.Ini menyebabkan penumpukan cairan secara berlebih
dalam jaringan dan mengakibatkan edema. Hilangnya protein dalam serum menstimulasi sintesis
lipoprotein di hati dan peningkatan konsentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia) hal ini
menyebabkan intake nutrisi berkurang sehingga menyebabkan terjadinya malnutrisi. (Mutaqqin
A, 2011).
Pathway

Virus, bakteri, protozoa inflamasi Perubahan


glomerulus permeabilitas
DM peningkatan viskositas darah membrane
Sistemik lupus eritematous regulasi glomerlurus
kekebalan terganggu proliferasi
abnormal leukosit
Kerusakan
glomerlurus

Protein & Kegagalan


albumin lolos dalam proses
dalam filtrasi & filtrasi
masuk ke urine

Protein dalam Protein dalam


urine meningkat darah menurun

Gangguan
Proteinuria Hipoalbuminemia
citra tubuh

Ekstravaksi SINDROM
Mata,
cairan NEFROTIK
lengan, kaki

Penumpukan Volume
Oedema cairan ke ruang intravaskuler
intestinum

Penekanan Asites Kelebihan


pada tubuh volume cairan
terlalu
Tekanan
dalam Menekan
abdomen
meningkat diafragma
Nutrisi & O2

Mendesak Otot pernafasan


rongga lambung tidak optimal

Anoreksia,
Hipoksia Metabolism nausea, vomitus Nafas tidak
jaringan anaerob adekuat
Gangguan
Iskemia Produksi asam Pola napas
pemenuhan
laktat tidak efektif
nutrisi

Nekrosis
Menumpuk di Defisit nutrisi
otot
Perfusi perifer
tidak efektif
Kelemahan,
keletihan,
mudah capek
Hipovolemia

Intoleransi
aktivitas Sekresi renin

Mengubah
angiotensin
menjadi
angiotensin I &
II

Efek
vasokontriksi
arterioral
perifer

Tekanan darah

Beban kerja
jantung

Penurunan
curah jantung
2.5 Klasifikasi
1. Glomerulonefhritis primer:
a) GN lesi minimal (GNLM)
b) Glomerulosklerosisfokal (GSF)
c) GN membranosa(GNMN)
d) GN membranoproliferatif(GNMP)
e) GN poliferatif lain
2. Glomerulonephritis sekunderakibatinfeksi :
a) HIV,hepatitis virus B dan C
b) Sifilis,malaria,skistosoma
c) Tuberkulosis lepra (Nurarif& Kusuma, 2015,)
3. Keganasan
Adenokarsinomaparu,payudara,kolon,limfomaHodgkin,myeloma multiple,dan
karsinoma ginjal.

2.6 Komplikasi

1. Hipertensi
Hipertensi dapat terjadi saat awitan penyakit atau timbul sebagai efek samping
pemberian steroid. American Academic of Pediatrics merekomendasikan tromboemboli
vena.
2. Tromboli Vena
Sindrom nefrotik merupakan predisposisi tromboemboli vena. Tromboemboli
terjadi karena hilangnya antitrombin III, berkurangnya volume intravaskular (pemberian
diuretik, diare dehidrasi), imobilisasi, kateter vaskular indwelling, dan pungsi vena
dalam. Trombosis dicurigai pada sindrom nefrotik dengan oligoanuria, hematuria atau
nyeri pinggang (trombosis vena renalis), kongesti vena, nyeri, berkurangnya mobilitas
ekstremitas (trombosis vena dalam), atau kejang, muntah, defisit neurologis (trombosis
vena kortikal dan sinus sagital).
3. Infeksi
Sindrom nefotik rentan terhadap infeksi. Pada edema, terdapat peningkatan
tekanan hidrostatik di interstitium yang menyebabkan penurunan perfusi interstitium,
sehingga mudah mengalami kerusakan kulit dan mengakibatkan infeksi. Infeksi yang
sering terjadi pada sindrom nefrotik adalah selulitis, pneumonia, dan peritonitis. Infeksi
virus dapat menjadi serius pada sindrom nefrotik yang sedang mendapat kortikosteroid
atau imunosupresan lain.
4. Anemia
Sindrom nefrotik yang berlangsung lama dapat menyebabkan anemia karena
kehilangan eritropoietin dan transferin melalui urin. Anemia dapat juga disebabkan
kombinasi penurunan waktu paruh eritropoietin serum dan peningkatan katabolisme
transferin yang mengakibatkan erythropoietin-responsive anemia atau anemia defisiensi
besi.
5. Kelainan tiroid
Kehilangan hormon melalui urin pada sindrom nefrotik dapat menyebabkan
kelainan endokrin. Pada sindrom nefrotik terjadi pengeluaran thyroxinebinding-globulin
melalui urin menyebabkan kadar T4 dan T3 rendah, namun kadar free thyroxine (FT4)
dan thyroid stimulating hormone (TSH) serum biasanya normal (euthyroid), sehingga
tidak menimbulkan manifestasi klinis hipotiroidisme dan dikenal dengan hipotiroidisme
ringan/subkilinik. (Pediatri, 2017)
2.7 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan sindrom nefrotik meliputi terapi spesifik untuk kelainan dasar ginjal atau
penyakit penyebab (pada sindrom nefrotik sekunder), mengurangi atau menghilangkan
proteinuria, memperbaiki hipoalbunemia serta mencegah dan mengatasi komplikasi nefrotiknya.
Pengobatan sindrom nefrotik terdiri dari obat-obtan kortikosteroid dan iminosupresif yang
ditujukan terhadap lesi pada ginjal, diet tinggi protein, dan rendah garam, diuretik, infuse
albumin intravena, pembatasan aktivitas selama fase akut serta menjauhkan pasien dari sumber-
sumber infeksi.

Penatalaksanaan dalam jangka panjang sangat penting, karena banyak penderita akan
mengalami eksarbasi dan remisi berulang selama bertahun-tahun, tetapi dengan semakin
lanjutnya halusinasi glomelurus maka proteinuria akan semakin berkurang sedangkan azotemia
semakin berat.

1. Dietik
Penderita sindrom nefrotik sejak dahulu diberikan diet protein tinggi dan rendah
garam, dengan harapan dapat meningkatkan sintesa albumin. Biasanya protein diberikan
sebanyak 3-3,5 gr/kgBB/hari. Pemberian protein diatas jumlah ini tidak
direkomendasikan pada sindrom nefrotik karena pemberian protein yang terlalu tinggi
akan mempercepat terjadinya gagal ginjal pada penyakit kronis.
Diet rendah garam di berikan untuk menurunkan derajat edema dan sebaiknya
kurang dari 35% kalori berasal dari lemak untuk mencegah obesitas selama terapi stroid,
dan mengurangi hiperkolesterolemia.
2. Albumin
Untuk menghilangkan edema hebat dapat diberikan albumin, suatu larutan dengan
kadar natrium 130 mEq/L.namun demikian mengingat risiko albumin ini sangat besar
yaitu bias menimbulkan hipertensi dan overload, maka pemberian albumin harus lebih
sefektif.
3. Tirazid
Tirazid merupakan obat yang paling banyak digunakan. Obat-obat ini merupakan
derivate sulphonamide dan strukturnya berhubungan dengan penghambat karbonik
ahidrase.tiraxid memiliki aktivitas diuretik lebih besar dari pada Iasetazolamid, dan obat-
obat ini bekerja di ginjal dengan mekanisme yang berbeda-beda. Efek utama adalah
meningkatkan ekskresi natrium, klorida dan sejumlah air.
4. Antibiotic
Terapi antibiotic digunakan jika pasien sindrom nefrotik mengalami infeksi.
Infeksi ini harus diobati dengan adekuat untuk mengurangi morbiditas penyakit. Jenis
antibiotic yang banyak dipaik yaitu dari golongan penisilin dan sefalosporin.

5. Penisilin
Penisilin dieksresikan terutama melalui ginjal, dan sekita 10% dari ekskresinya oleh
filtrasi glomelurus dan 90% oleh tubulus.(Kharisma, 2017)
BAB III

KONSEP KEPERAWATAN

1.1 Pengkajian

Kategori dan Subkategori Masalah Normal


Fisiologis Respirasi Terjadinya peningkatan Pernapasan normal : 16-24
pernapasan lebih dari 28 x/menit
x/menit
Sirkulasi Terdapat resiko penurunan Tidak terdapatnya penurunan
curah jatung akibat adanya curah jantung atau cardic output
ekstravasi cairan kedalam dikatakan rentang normal
intravaskuler
Nutrisi dan Cairan Keinginan untuk makan Peristaltik usus normal, dan
berkurang (nafsu makan metabolisme tidak terhambat.
menurun, terjadinya mual Bising usus : 5-12 x/menit,
muntah dan sebagaiya). keinginan untuk makan baik,
Terdapat penumpukan cairan dan tidak terdapat penumpukan
disekujur tubuh cairan/bengkak disekujur tubuh

Eliminasi BAB : - BAK : Normal 3-4 BAB : Frekuensi 2-3 x dalam


x/menit seminngu, warna kecoklatan
khas, bau khas feses. BAK :
Frekuensi 3x4 dalam sehari
warna kuning jernih, bau khas
urine.
Aktifits dan Takipnea akibat adanya beraktifitas sebagaimana
Istrahat penekanan pada otot biasanya dan tiddak disertai
diagframa sehingga kerja sesak ataupun gangguan yang
pernfasan tidak optimal, dan bermakna
mengalami keletihan dan
mudah capek
Neurosensori   Bertindak dan berfikir serta
melakukan dengan apa yang
diinginkan dan diperintahkan
oleh otak

Reproduksi dan  
Seksualitas  
Psikologis Nyeri dan Mampu menggerakkan
Kenyamanan persendian secara normal dan
kekuatan otot 5 (dari 1-5)
sehingga mengalami
  ketidaknyamanan
Integritas Ego Merasa dapat berinteraksi
dengan normal, diandalakan
untuk menjani kehidupan dan
membentuk pengalaman realita
 
Pertumbuhan dan Mengalami pertumbuhan dan
Perkembangan   perkembangan normal
Perilaku Kebersihan diri Tidak Terkaji Personal hygiene baik dan tidsk
mengalami perilaku yang
abnormal/yang dapat
mempengaruhi seseorang
sehingga mempengaruhi
personal hygienenya
Penyuluhan dan Memiliki pegetahuan sesuai
Pembelajaran dengan pendidikan dan
  pengalaman yang sudah ia
tempuh
Relasional Interaksi Sosial Mampu berinteraksi dengan
orang-orang disekitar
  lingkungan tanpa ada hambatan
Lingkunga Keamanan dan Mudah terkena infeksi akibat Mampu beradapsi dengan
n Proteksi adanya gangguan imunitas lingkungan dengan baikdan
dan pengeluaran piuria terhindar dari infeksi
1.2 Diagnosa
1. Gangguan Citra Tubuh (D.0083)
Kategori : Psikologis
Subkategori : Integritas Ego
2. Hipervolemi
Kategori : Fisiologis
Subkategori : Nutrisi dan Cairan
3. Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
Kategori:Fisiologis
Subkategori: Respirasi
4. Perfusi Perifer Tidak Efektif ( D.0009)
Kategori : Fisiologi
Sub kategori : Respirasi
5. Intoleransi Aktivitas (D.0056)
Kategori : Fisiologis
Subkategori : Aktivitas/istirahat
6. Defisit Nutrisi (D.0019)
Kategori : Fisiologis
Subkategori : Nutrisi dan cairan
7. Penurunan Curah Jantung
Kategori : Fisiologis
Subkategori : Sirkulasi
3.3 Intervensi

No SDKI SLKI SIKI RASIONAL


1 Gangguan Citra Tubuh (D.0083) Citra Tubuh (L.09067) Promosi Citra Tubuh Promosi citra tubuh
(L.09305)
Kategori : Psikologis Observasi
Definisi
Subkategori : Integritas Ego Meningkatkan 1. Untuk
perbaikan perubahan
Definisi : mengetahui
persepsi terhadap fisik
Perubahan persepsi tentang pasien. seberapa besar
Tindakan
penampilan, struktur dan fungsi fisik harapan klien
Observasi
individu. 1. Identifikasi terhadap citra
Penyebab : harapan citra tubuhnya.
1. Perubahan struktur/ bentuk tubuh 2. Untuk
tubuh (mis. amputasi, trauma, berdasarkan mengetahui
luka bakar, obesitas, jerawat) tahap makna citra
2. Perubahan fungsi tubuh (mis. perkembangan. tubuh bagi
proses penyakit , kehamilan, 2. Identifikasi klien
kelumpuhan) budaya, agama, berdasarkan
3. Perubahan fungsi kongnitif jenis kelamin, aspek budaya,
4. Ketidaksesuaian budaya, dan umur terkait agama, jenis
keyakinan ataau sistem nilai citra tubuh. kelamin dan
5. Transisi perkembangan 3. Identifikasi umur.
6. Gangguan psikososial perubahan citra 3. Agar
7. Efek tindakan/pengobatan tubuh yang mengetahui
(mis. pembedahan, kemoterapi, mengakibatkan penyebab
terapi radiasi) isolasi sosial. isolasi social
Gejala dan Tanda Mayor 4. Monitor terkait
Subjektif frekuensi perubahan citra
1. Mengungkapkan pernyataan kritik tubuh klien
kecacatan/kehilangan bagian terhadap diri 4. Untuk
tubuh sendiri mengetahui
Objektif 5. Monitor apakah sejauh mana
1. Kehilangan bagian tubuh pasien melihat penilaian klien
2. Fungsi/struktur tubuh bagian tubuh terhadap
berubah/hilang yang berubah. dirinya sendiri.
Gejala dan Tanda Minor Terapeutik 5. Untuk
1. Diskusikan
Subjektif mengetahui
perubahan tubuh
1. Tidak mau mengungkapakan penilaian klien
dan fungsinya.
kecacatan/kehilangan bagian terhadap
2. Diskusikan
tubuh tubuhnya.
perbedaan
2. Mengungkapkan perasaan Terapeutik
penampilan fisik
negatif tentang perubahan 1. Agar klien
terhadap harga
tubuh paham
diri.
3. Mengungkapkan kekhawatiran mengenai
3. Diskusikan
pada penolakan/reaksi orang perubahan akibat fungsi tubuh
lain pubertas, yang
4. Mengungkapkan perubahan kehamilan, dan mengalami
gaya hidup penuaan perubahan
Objektif 4. Diskusikan 2. Untuk
1. Menyembunyikan/menunjukka kondisi stres memotivasi
n bagian tubuh secara yang klien terkait
berlebihan mempengaruhi harga diri jauh
2. Menghindari melihat dan/atau citra tubuh (mis. lebih penting
menyentuh bagian tubuh Luka, penyakit, dibanding fisik.
3. Fokus berlebihan pada pembedahan). 3. Agar klien
perubahan tubuh 5. Diskusikan cara mampu
4. Respon nonverbal pada mengembangkan membedakan
perubahan dan persepsi tubuh harapan citra terkait
5. Fokus pada penampilan dan tubuh secara puberitas,
kekuatan masa lalu realistis. kehamilan dan
6. Hubungan sosial berubah 6. Diskusikan penuaan
persepsi pasien 4. Agar
Kondisi Klinis Terkait dan keluarga mengetahui
1. Mastektomi tentang sejauh mana
2. Amputasi perubahan citra tingkat strees
3. Jerawat tubuh. klien
4. Parut atau luka bakar yang Edukasi 5. Untuk
1. Jelaskan kepada
terlihat memotivasi
keluarga tentang
5. Obesitas klien perihal
perawatan
6. Hiperpigmentasi pada harapan dan
perubahan citra
kehamilan realistis terkait
tubuh.
7. Gangguan psikiatrik citra tubuh
2. Anjurkan
8. Program terapi neoplasma 6. Untuk
mengungkapkan
9. Alopecia chemically induced mengetahui
gambaran diri
persepsi klien
terhadap citra
dan keluarga
tubuh
terkait citra
3. Anjurkan
tubuh
menggunakan
Edukasi
alat bantu (mis.
1. Agar keluarga
Pakaian, wig,
mampu
kosmetik).
melaksanakan
4. Anjurkan
perawatan
mengikuti
perubahan
kelompok
citra tubuh
pendukung (mis.
secara
Kelompok
mandiri
sebaya).
2. Untuk
5. Latihan
peningkatan mengetahui
penampilan diri sejauh mana
(mis. Berdandan) persepsi
terkait
perubahan
citra tubuh
3. Untuk
memotivasi
klien agar
tidak terus
menerus
merendah dan
berani untuk
melakukan
perubahan
4. Agar klien
tidak merasa
terisolasi
5. Agar klien
selalu
termotivasi
dan semangat
dalam
menerima
perubahan
yang dialami.
2 Hipervolemi Keseimbangan Cairan Manejemen Tindakan :
Hipervolemia (I. Observasi :
Kategori : Fisiologis (L.03020)
03114) 1. Untuk
Subkategori : Nutrisi dan Cairan Definisi
mengetahui
Mengidentifikasi dan
Definisi : adanya tanda
mengelola kelebihan
Peningkatan volume cairan volume cairan dan gejala
intravaskuler dan hipervolemia
intravaskuler, intertisial, dan/atau
ekstraseluler serta 2. Untuk
intraseluler. mencegah terjadinya mengetahui dan
komplikasi. mencegah
Penyebab
Tindakan
penyebab
1. Gangguan mekanisme regulasi Observasi
1. Periksa tanda terjadinya
2. Kelebihan asupan cairan hipervolemia
dan gejala
3. Kelebihan asupan natrium 3. Untuk
Hipervolemia mengetahui dan
4. Gangguan aliran baik vena
(mis. Ortopnea, mepertahan
5. Efek agen farmakologis (mis. nilai normal dari
dispnea, edema,
kortikosteroid, status
JVP/CVP hemodinamika
chiorpropamide, tolbutamide,
meningkat, 4. Untuk
vincristine,
mengetahui
refleks
tryptilinescarbamazepine) intake dan otput
hepatojugular cairan
Gejala dan Tanda Mayor
positif, suara 5. Untuk
Subjektif
1. Ortopnea napas tambahan) menghindari
2. Dispnea 2. Identifikasi terjadinya
hemokonsentras
3. Paroxysmal nocturnal dyspnea penyebab
i
( PND) Hipervolemia 6. Untuk
Objektif 3. Monitor status menghindari
terjadinya
1. Edema anasarka dan/ atau hemodinamik
peningkatan
edema perifer (mis. Frekuensi tekanan onkotik
2. Berat badan meningkat dalam jantung, tekanan plasma
7. Untuk
waktu singkat darah, MAP,
menghindari
3. Jugular Venous Pressure CVP, PAP, kelebihan cairan
(JVP) dan/atau Central Venous PCWP, CO, CI), 8. Untuk dapat
Pressure (CVP) meningkat Jika tersedia menangani
terjadinya efek
4. Refleks hepatojugular positif 4. Monitor intake samping
dan output cairan diuretik
Gejala dan Tanda Minor 5. Monitor tanda Terapeutik :
1. Untuk
Subjektif hemokonsentrasi
mengetahui
(tidak tersedia) (mis. Kadar apakah
Objektif natrium, BUN, terjadinya
penuruan berat
1. Distensi vena jugularis Hematokrit,
badan
2. Terdengar suara napas berat, jenis 2. Untuk
tambahan urine) mencegah
kelebihan cairan
3. Hepatomegali 6. Monitor tanda
dalam tubuh
4. Kadar Hb/Ht turun peningkatan 3. Untuk
5. Oliguria tekanan onkotik memberikan
rasa nyaman
6. Intake lebihh banyak dari plasma (mis.
pada klien
output (balans cairan positif) Kadar protein Edukasi :
7. Kongesti paru dan albumin 1. Untuk
mengetahui
meningkat)
volume urin
Kondisi Klinis Terkait 7. Monitor klien
1. Penyakit ginjal : gagal ginjal kecepatan infus 2. Untuk
mengetahui
akut/kronis, sindrom nefrotik secara ketat
adanya
2. Hipoalbuminemia 8. Monitor efek peningkatan
3. Gagal jantung kongestif samping diuretik berat badan
4. Kelainan hormon (mis. Hipotensi 3. Untuk
mengetahui
5. Penyakit hati (mis. sirosis, ortortostatik, asupan dan
asites, kanker hati) hipovolemia, cairan yang
6. Penyakit vena perifer (mis. hipokalemia, dikonsumsi
4. Untuk menjaga
varises vena, trombus vena, hiponatrenia)
agar tidak
plebitis) Terapeutik terjadi
1. Timbang berat kelebihan cairan
7. Imobilitas
badan setiap hari Kolaborasi :
1. Agar diuretic
pada waktu yang
klien bisa
sama terpenuhi
2. Batasi asupan 2. Untuk
cairan dan garam menggantikan
3. Tinggikan kalium yang
kepala tempat hilang akibat
diuretic
tidur 30-40
derajat
Edukasi
1. Anjurkan
melapor jika
haluaran urin
<0,5 mL/kg/jam
dalam 6 jam
2. Anjurkan
melapor jika BB
bertambah >1 kg
dalam sehari
3. Ajarkan cara
mengukur dan
mencatat asupan
dan haluaran
cairan
4. Ajarkan cara
membatasi
cairan
Kolaborasi
1. Kolaborasi
pemberian
diuretik
2. Kolaborasi
penggantian
kehilangan
kalium akibat
diuretik
3. Kolaborasi
pemberian
continuous renal
replacement
theraphy
(CRRT), Jika
perlu

3 Pola Napas Tidak Efektif (D.0005) Pola Napas (L.01004) Pemantauan Respirasi - Observasi
(I.01014) 1. Batuk efektif
Kategori:Fisiologis
Definisi merupakan
Subkategori: Respirasi Mengumpulkan dan suatu metode
menganalisis data untuk batuk dengan
Definisi :
memastikan kepatenan benar dimana
Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak jalan napas dan energi dapat
keefektifan pertukaran dihemat
memberikan ventilasi adekuat.
gas. sehingga
Penyebab : Tindakan tidak mudah
- Observasi lelah, dan
1. Depresi pusat pernapasan
1. Monitor dapat
2. Hambatan upaya napas (mis. kemampuan mengeluarkan
batuk efektif dahak secara
Nyeri saat bernapas,
2. Monitor adanya maksimal,
kelemahan otot pernapasan) produksi sputum serta melatih
3. Auskultasi bunyi klien agar
3. Deformitas dinding dada
napas terbiasa
4. Deformitas tulang dada - Terapeutik melakukan
1. Dokumentasikan cara
5. Gangguan neuromuskular
hasil pernafasan
6. Gangguan neurologis (mis. pemantauan dengan baik
- Edukasi 2. Untuk
Elektroensefalogram [EEG]
1. Jelaskan tujuan mencegah
positif, cedera kepala, dan prosedur tersumbatnya
pemantauan jalan napas
gangguan kejang)
karena
7. Imaturitas neurologis terdapat
banyak
8. Penurunan energi
sputum
9. Obesitas 3. Untuk
mengetahui
10. Posisi tubuh yang menghambat
bunyi napas
ekspansi paru abnormal
11. Sindrom hipoventilasi
- Terapeutik
12. Kerusakan inervasi diafragma 1. Sebagai
referensi
(kerusakan saraf C5 ke atas)
untuk
13. Cedera pada medula spinalis penanganan
selanjutnya
14. Efek agen farmakologis
- Edukasi
15. Kecemasan 1. Untuk
memberikan
Gejala dan Tanda Mayor
informasi
Subjektif kepada klien
1. Dispnea
Objektif
1. Penggunaan otot bantu
pernapasan
2. Fase ekspirasi memanjang
3. Pola napas abnormal (mis.
takipnea, bradipnea,
hiperventilasi, kussmaul,
cheyne-stokes)
Gejala dan tanda minor
Subjektif
1. Ortopnea
Objektif
1. Pernapasan pursed-lip
2. Pernapasan cuping hidung
3. Diameter thoraks anterior-
posterior meningkat
4. Ventilasi semenit menurun
5. Kapasitas vital menurun
6. Tekanan ekspirasi menurun
7. Tekanan inspirasi menurun
8. Ekskursi dada berubah
Kondisi klinis terkait
1. Depresi sistem saraf pusat
2. Cedera kepala
3. Trauma thoraks
4. Gullian barre syndrome
5. Mutiple sclerosis
6. Myasthenia gravis
7. Stroke
8. Kuadriplegia
9. Intoksikasi alkohol
10.
4 Perfusi Perifer Tidak Efektif Perfusi Perifer (L.02011) Perawatan Sirkulasi - Observasi
(I.02079)
( D.0009) 1. Untuk
Definisi
Kategori : Fisiologi Mengidentifikasi dan mengetahui
merawat area lokal
Sub kategori : Respirasi status
dengan keterbatasan
Definisi sirkulasi perifer. sirkulasi
Tindakan
Penurunan sirkulasi darah perifer
- Observasi
pada level kapiler yang dapat menggan 2. Untuk
1. Periksa sirkulasi
ggu metabolisme tubuh. mengetahui
perifer (mis: nadi
Penyebab adanya faktor
1. Hiperglikemia perifer, edema, resiko
2. Penurunan konsentrasi pengisian gangguan
hemoglobin kapiler, warna, sirkulasi dan
3. Peningkatan tekanan darah suhu, ankle- melakukan
4. Kekurangan volume cairan brachial index) pencegahan
5. Penurunan aliran arteridan atau 2. Identifikasi segera
vena faktor resiko 3. Untuk
6. Kurang terpapar informasi gangguan mengetahui
tentang faktor pemberat (mis. sirkulasi (mis: adanya
Merokok, gaya hidup monoton, diabetes, kemerahan,
trauma, obesitas, asupan perokok, nyeri, atau
garam, imobilitas) hipertensi, dan bengkak pada
7. Kurang terpapar informasi kadar kolesterol ekstremitas
tentang proses penyakit (mis. tinggi) - Terapeutik
Diabetes mellitus, 3. Monitor panas, 1. Untuk
hiperlipidemia) kemerahan, menghindari
8. Kurang aktivitas fisik nyeri, atau timbulnya
Gejala dan Tnda Mayor bengkak pada infeksi pada
Subjektif ekstremitas daerah
(tidak tersedia) - Terapeutik tersebut
Objektif 1. Hindari 2. Untuk
1. Pengisian kapiler > 3 detik pemasangan mengurangi
2. Nadi perifer menurun atau infus atau tekanan darah
tidak teraba pengambilan pada daerah
3. Akral teraba dingin darah di area keterbatasan
4. Warna kulit pucat keterbatasan perfusi
5. Turbor kulit menurun perfusi - Edukasi
Gejala dan Tanda Minor 2. Hindari 1. Untuk
Subjektif pengukuran menjaga
1. Parastesia tekanan darah kestabilan
2. Nyeri ekstermitas ( klaudikasi pada ektremitas tekanan darah
intermitas) dengan klien
Objektif keterbatasan
1. Edema perfusi
2. Penyembuhan luka lambat - Edukasi
3. Indeks ankle-brakeal < 0,90 1. Anjurkan minum
4. Bruit femoralis obat pengontrol
Kondisi Klinis Terkait tekanan darah
1. Tromboflebitis secara teratur
2. Diabetes melitus
3. Anemia
4. Gagal jantung kongestif
5. Kelainan jantung kongenital
6. Trombosis arteri
7. Varises
8. Trombosit vena dalam
9. Sindrom kompartemen
5 Intoleransi Aktivitas (D.0056) Toleransi Aktivitas (L.05047) Manajemen energy Observasi
(I.05178)
Kategori : Fisiologis 1. Untuk dapat
Definisi
Subkategori : Aktivitas/istirahat Mengidentifikasi dan mengetahui
mengelola penggunaan
Definisi gangguan
energy untuk mengatasi
Ketidakcukupan energi untuk atau mencegah fungsi tubuh
kelelahan dan
melakukan aktivitas sehari-hari yang
mengoptimalkan proses
Penyebab pemulihan mengakibatka
Tindakan
1. Ketidakseimbangan antara n kelelahan
Observasi
suplai dan kebutuhan oksigen 1. Identifikasi pada pasien
2. Tirai baring gangguan fungsi 2. Untuk dapat
3. Kelemahan tubuh yang mengetahui
4. Imobilitas mengakibatkan tingkat
5. Gaya hidup monoton kelelahan kelelahan
Gejala dan Tanda Mayor 2. Monitor baik fisik dan
Subjektif kelelahan fisik emosional
1. Mengeluh lelah dan emosional pada pasien
Objektif Terapeutik
1. Berikan aktifitas
2. Frekuensi jantung meningkat Terapeutik
distraksi yang
>20% dari kondi istirahat 1. Teknik
menenangkan
Gejala dan Tanda Minor distraksi
Subjektif Edukasi merupakan
1. Anjurkan tirah
1. Dispnea saat/setelah aktivitas metode untuk
baring
2. Merasa tidak nyaman setelah menghilangka
2. Anjurkan
beraktivitas n rasa nyeri
melakukan
3. Merasa lelah dengan cara
aktivitas secara
Objektif mengalihkan
bersama
1. Tekanan darah berubah >20% perhatian
Kolaborasi
dari kondisi istirahat pasien agar
1. Kolaborasi
2. Gambaran EKG menunjukan lupa terhadap
dengan ahli gizi
aritmia saat/setelah aktivitas nyeri yang
tentang cara
3. Gambaran EKG menunjukan dialami
meningkatkan
iskemia 2.
asupan makanan
4. Sianosis Edukasi
Kondisi Klinis Terkait 1. Untuk dapat
menghindari
1. Anemia
komplikasi
2. Gagal jantung kongestif
penyakit/kond
3. Penyakit jantung koroner
isi tertentu
4. Penyakit katup jantung
yang lebih
5. Aritmia
buruk.
6. Penyakit paru obstruksi kronis
Namun tirah
(PPOK)
baring yang
7. Gangguan metabolik
8. Gangguan muskulokeletal lama bisa
menimbulkan
komplikasi
pada pasien
2. Menganjurka
n melakukan
aktivitas
secara
bertahap
bertujuan
untuk bisa
beradaptai
saat
melakukan
kegiatan
Kolaborasi
Agar saat melakukan
aktivitas tenaga yang
dimiliki tidak
terkuras habis
6 Defisit Nutrisi(D.0019) Status Nutrisi (L. 03030) Manajemen nutrisi - Observasi
(I.03119)
Kategori : Fisiologis 1. Untuk
Definisi
Subkategori : Nutrisi dan cairan Mengidentifikasi dan mengetahui
Definisi mengelola asupan status nutrisi
nutrisi yng seimbang
Asupan nutrisi tidak cukup untuk klien
Tindakan
memenuhi kebutuhan metabolisme - Observasi 2. Untuk
Penyebab 1. Identifikasi mengetahui
1. Kurangnya asupan makanan status nutrisi ada atau
2. Ketidakmampuan menelan 2. Identifikasi tidaknya
makanan alergi dan riwayat alergi
3. Ketidaakmampuan mencerna intoleransi dan
makanan makanan intoleransi
4. Ketidakmampuan 3. Identifikasi makanan pada
mengabsorbsi nutrien makanan yang klien
5. Peningkatan kebutuhan disukai 3. Untuk
metabolisme 4. Identifikasi mengetahui
6. Faktor ekonomi (mis. finansial kebutuhan kalori makanan
tidak mencukupi) dan jenis nutrien yang disukai
7. Faktor psikologis (mis. stress, 5. Identifikasi klien
keengganan untuk makan) perlunya 4. Untuk
penggunaan mengetahui
Gejala dan Tanda Mayor selang berapa
Subjektif nasogastrik banyak
(tidak tersedia) kebutuhan
Objektif - Terapeutik kalori
1. Berat badan menurun minimal 1. Lakukan oral 5. Untuk
10% dibawah rentang ideal hygiene sebelum mengetahui
makan, jika tindakan yang
Gejala dan Tanda Minor perlu harus
Subjektif 2. Berikan dilakukan
1. Cepat kenyang setelah makan makanan tinggi apabila klien
2. Kram/nyeri abdomen kalori dan tinggi tidak mampu
3. Nafsu makan menurun protein makan secara
Objektif normal
- Edukasi
1. Bising usus hiperaktif - Terapeutik
1. Ajarkan diet
2. Otot pengunyah lemak 1. Untuk
yang
3. Otot menelan lemah menjaga agar
diprogramkan
4. Membran mukosa pucat makanan
5. Sariawan tidak terpapar
6. Serum albumin turun - Kolaborasi kuman
7. Rambut rontok berlebihan 1. Kolaborasi 2. Untuk
8. Diare pemberian memenuhi
Kondisi Klinis Terkait medikasi kebutuhan
1. Stroke sebelum makan energi dan
2. Parkinson gizi klien
3. Mobius syndrome - Edukasi
4. Cerebral palsy 1. Untuk
5. Cleft lip memberikan
6. Cleft palate pengetahuan
7. Amyotropic lateral sclerosis mengenai diet
8. Kerusakan neuromuskular yang akan
9. Luka bakar dijalani
10. Kanker kepada klien
11. Infeksi - Kolaborasi
12. AIDS 1. Untuk
13. Penyakit Crohn’s mengetahui
kerja obat
yang
berpengaruh
kepada nafsu
makan klien

7 Penurunan Curah Jantung Curah Jantung (L.02008) Perawatan jantung Observasi


(I.02075)
Kategori : Fisiologis
Definisi 1. Untuk
Subkategori : Sirkulasi Identifikasi, merawat
dan membatasi mengetahui
Definis
komplikasi akibat tanda/gejala
Ketidakadekuatan jantung memompa ketidakseimbangan
antara suplai dan primer
darau untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi oksigen penurunan
metabolisme tubuh miokard
Tindakan curah jantung
Penyebab Observasi (meliputi
1. Idrntifikasi tanda
1. Perubahan irama jantung dipsnea,
/ gejala primer
2. Perubahan frekuensi jantung kelelehan,
penurunan curah
3. Perubahan kontraktilitas edema,
jantung (meliputi
4. Perubahan preload otorpnea,
dispnea,
5. Perubahan afterload paroxysmal
kelelahan,
Gejala dan Tanda Mayor nocturnal
edema, ortopnea,
Subjektif dypsnea,
paroxysmal
1. Perubahan irama jantung peningkatan
nocturnal
1) Palpitasi CVP)
dysnea,
2. Perubahan preload 2. Untuk
peningkatan
1) Lelah mengetahui
CVP )
3. Perubahan afterload tanda/gejala
2. Identifikasi tanda
1) Dispnea sekunder
/ gejala sekunder
4. Perubahan kontraktilitas penurunan
penurunan curah
1) Paroxysmal nocturnal curah jantung
jantung (meliputi
dyspnea (PND) (peningkatan
peningkatan
2) Ortopnea berat badan,
berat badan,
3) batuk hepatomegali,
hepatomegali,
distensi vena
distensi vena
Objektif jugularis,
jugularis,
1. Perubahan irama jantung palpitasi,
palpitasi, ronkhi
1) Bradikardia/takikardia basah, oliguria, ronkhi basah,
2) Gambaran EKG aritmia batuk kulit oliguria,
atau gangguan konduksi pucat) batuk, kulit
2. Perubahan preload 3. Monitor tekanan pucat)
1) Edema darah (termasuk
2) Distensi vena jugularis tekanan darah 3. Untuk
3) Central venous pressure ortostatik, jika mengetahui
(CVP) perlu) tingkat
3. Perubahan afterload 4. Monitor intake keseimbangan
1) Tekanan darah dan output cairan cairan tubuh
meningkat/menurun 5. Menitor saturasi klien
2) Nadi perifer teraba lemah oksigen
3) Capillary refiltime > 3 6. Monitor aritmia 4. Untuk

detik (kelainan irama mengetahui

4) Oliguria dan frekuensi) tingkat sel

5) Warna kulit pucat dan/tau Terapeutik darah merah


1. Posisikan pasien dalam tubuh
sianosis
semipowler atau klien
5. Perubahan kontraktilitas
powler dengan 5. Untuk
1) Terdengar suara jantung S3
kaki kebawah mengetahui
dan/atau S4
atau posisi adanya irama
2) Ejection fraction (EF)
nyaman abnormal
menurun
2. Berikan oksigen jantung yang
untuk diakibatkan
Gejala dan Tanda Minor mempertahankan dari
Subjektif saturasi oksigen kerusakan
1. Perubahan preload > 94% bagian
(tidak tersedia) Edukasi jantung
1. Anjurkan
2. Perubahan afterload
beraktifitas fisik Terapeutik
(tidak tersedia)
secara bertahap - Terapeutik
3. Perubahan kontraktilitas
2. Anjurkan 1. Untuk
(tidak tersedia)
berhenti mengurangi
4. Perilaku/emosi
merokok sesak nafas,
1) Cemas
3. Ajarkan pasien posisi semi
2) Gelisah
dan keluarga fowler
Objektif
mengukur berat membuat
1. Perubahan preload
badan harian oksigen
1) Murmur jantung
Kolaborasi dalam paru
2) Berat badan bertambah
1. Rujuk ke meningkat
3) Pulmonary artery wedge
program sehingga
pressure (PAWP) menurun
rehabilitasi dapat
2. Perubahan afterload
jantung. meringankan
1) Pulmonary vasculer
kesesakan
resistance (PVR)
2. Untuk
meningkat/menurun
mengatasi
2) Systemic vasculer keadaan
resistance (SVR) hipoksemia
meningkat/menurun pada klien
3) Hepatomegali
Edukasi
3. Perubahan kontraktilitas
1) Cardiac index (CI) 1. Untuk
menurun pemeliharaan
2) Left ventricular stroke kesehatan
work index (LVSWI) fisik, mental,
menurun dan
3) Stroke volume index (SVI) mempertahan
menurun kan kualitas
4. Perilaku/emosi hidup agar
(tidak tersedia) tetap sehat
Kondisi Klinis Terkait dan bugar
1. Gagal jangtung kongestif sepanjang
2. Sindrom koroner akut hari.
3. Stenosis mitral 2. Agar terhindar
4. Regulgitasi mitral dari stress,
5. Stenosis aorta meningkatkan
6. Regulgitasi aorta kesuburan,
7. Stenosis trikuspidal supaya
8. Regulgitasi trikuspidal memiliki
9. Stenosis pulmonal keluarga yang
10. Regulgitasi pulmonal sehat.
11. Aritmia 3. Untuk
12. Peyakit jantung bawaan mengukur
apakah berat
badan kita
masih idea
atau sudah
berlebih. Jadi
seharusnya
kita pantau
berat badan
secara rutin.
Sehingga kita
tahu kalau
berat badan
kita mulai aik,
itu saatnya
kita
mengurangi
berat badan,
menjalankan
pola makan
sehat,
aktivitas fisik
di tambah.
Kolaborasi
1. Untuk
memperbaiki
kondisi fisik,
mental dan
social agar
pasien tetap
sehat. Dan
juga
membantu
pasien untuk
menjalani
hidup yang
lebih baik
setelah
mendapatkan
pengobatan.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Simpulan
Nephrotic Syndrome adalah merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya
injury glomerular yang terjadi dengan karakteristik; proteinuria, hypoproteinuria,
hypoalbuminemia, hyperlipidemia dan edema.
Sindromanefrotik adalah suatu sindroma yang ditandai dengan proteinuria,
hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan edema. Sindrom ini dapat terjadi karena adanya
faktor yang menyebabkan premeabilitas glomerulus.
Penyebab sindrom nefrotik yang pasti belum diketahui, akhir-akhir ini dianggap
sebagai suatu penyakit autoimun, yaitu suatu reaksi antigen – antibodi. Umumnya etiologi
dibagi menjadi :
1.         Sindrom nefrotik bawaan
2.         Sindrom nefrotik sekunder
3.         Sindrom nefrotik idiopatik
4.         Glomerulosklerosis fokal segmental
4.2. Saran
Semogama makalah ini dapat bermanfaat bagi yang pembaca, terutama mahasiswa
keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Betz & Sowden. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri,edisi 5. Jakarta : EGC
Nurarif H. Amin & Kusuma Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA (North American Nursing Diagnosis Association) NIC-NOC.
Mediaction Publishing.
Mutaqqin Arif & Sari Kumala. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen.
Jakarta: Salemba Medika

Nurarif. A.H. dan Kusuma. H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & Nanda Nic-Noc. Jogjakarta: MediAction

Kharisma, Y. (2017). Tinjauan umum penyakit sindrom nefrotik.

Pediatri, S. (2017). Sari Pediatri. 19(1), 53–62.


Lane, J.C., MD, Langman, C.B., MD, Finberg, L., MD, Spitzer, A., MD, Windle, M.L.,
PharmD, 2013. Pediatric Nephrotic Syndrome. Medscape Reference : Drugs, Diseases &
Procedures. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/982920-overview.