Anda di halaman 1dari 1

RSUD KERACUNAN MAKANAN

MAJENANG

No.Dokumen Revisi : Halaman


B.11.5 0 1
STANDAR PROSEDUR Tanggal Terbit : Ditetapkan,
OPERASIONAL Direktur

23 April 1998 dr. Dartono


Pengertian Keracunan makanan merupakan suatu kondisi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh
konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan zat pathogen dan atau bahan kimia
misalnya Norovirus, Salmonella, Clostridium perfingens, Campylobacter, dan Staphylococcus
aureus
Tujuan Agar petugas dapat memahami dan memberikan penanganan yang tepat pada pasien keracunan
makanan.
Kebijakan Sebagai pedoman bagi petugas dalam menangani pasien dengan keracunan makanan.
Dalam menegakkan diagnosa dan pengobatan pasien dengan keracunan makanan harus mengikuti
langkah-langkah dalam SOP keracunan makanan.
Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer Edisi I, 2013, halaman
64-66
Prosedur a. Petugas menerima pasien.
b. Petugas melakukan anamnesis pada pasien.
c. Petugas menanyakan keluhan berupa diare akut, diare disertai darah atau lendir, nyeri perut, kram
otot perut, kembung.
d. Petugas menanyakan riwayat makanan/ minuman di tempat yang tidak higienis, konsumsi daging/
unggas yang tidak matang, konsumsi makanan laut mentah.
e. Petugas mencuci tangan terlebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan.
f. Petugas mengukur tanda vital pasien meliputi tekanan darah, nadi, suhu dan frekuensi pernafasan.
g. Petugas melakukan pemeriksaan fisik dari kepala sampai ujung kaki. Pemeriksaan fisik
difokuskan untuk menilai keparahan dehidrasi. Petugas menemukan data tidaknya tanda-tanda
tekanan darah turun, nadi cepat, mulut kering, penurunan keringat dan urine output, nyeri tekan perut
dan bising usu lemah atau meningkat.
h. Petugas mencuci tangan setelah melakukan pemeriksaan.
i.Petugas mendiagnosa pasien keracunan makanan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
j. Petugas memberikan tata laksana terhadap hasil diagnosa berupa :
 Self limiting, tujuan utamanya rehidrasi yang cukup dan suplemen elektrolit. Cairan
rehidrasi oral dapat diberi oralit atau larutan intravena (RL atau NaCl). Obat absorben
(misal kaolin pectin, aluminium hidroksida) membantu memadatkan feses diberikan bila
diare tidak segera berhenti. Jika gejala menetap setelah 3-4 hari, etiologi spesifik harus
ditentukan dengan menggunakan kultur tinja. Untuk itu harus segera dirujuk.
 Modifikasi gaya hidup dan edukasi menjaga kebersihan diri
k. Petugas menulis hasil pemeriksaan, diagnosa dan terapi pada rekam medis pasien.
i. Petugas membubuhi tanda tangan pada rekam medis.
m. Petugas menulis hasil diagnosa pada buku register.
Unit terkait IGD
Laboratorium