Anda di halaman 1dari 5

KELOMPOK 4

Nama Anggota Kelompok :


Anisah Nabilah Azzah 165090200111025
Rina Rachmawati 165090201111009
Faulia Zahro Alfiana 165090201111013
Tri Dewi Octavianty 165090207111022
Regita Dinnar Septiviana 165090207111038
Aditya Putra Nurulloh 165090211111001
EVALUASI DAMPAK
JUDUL AKTIVITAS/ PROYEK: Pembangunan Pusat Rehabilitasi di Lebak Banten Bagi Para
Pecandu Narkoba
KEGIATAN: Pembangunan Bangunan Pusat Rehabilitasi
KOMPONEN GEOFISIKA-KIMIA
1. PENURUNAN KUALITAS UDARA AMBIEN
1.1. Kenaikan Konsentrasi Particulate Matter
1.1.1. Rona Lingkungan Hidup
Berdasarkan hasil survey, yang dilakukan pada tanggal 20 Januari 2020, udara
di daerah yang akan dibangun pusat rehabilitasi di Lebak Banten bagi para
pecandu narkoba di daerah Lebak masih dalam keadaan baik, hal tersebut
diketahui dari perbandingan hasil survey dengan Nilai Ambang Batas untuk
pencemaran udara, didapatkan kadar particulate matter hasil survey masih
berada di bawah Nilai Ambang Batas. Pemantauan ini dilakukan dengan
menggunakan alat Haz Dust EPAM 5000 sebagai alat pengukur kadar debu
(PM). Hasil pengukuran tersebut dikonversikan ke dalam persamaan model
koversi Canter untuk mendapatkan kadar PM dengan waktu pengukuran 24
jam sehingga sesuai dengan standar WHO.
Adapun persamaan Canter dituliskan dengan:
t1 2
C1= C2 ( )t2
Keterangan:
C1 = konsentrasi rerata udara (μg/m3)
C2 = konsentrasi rerata udara dari hasil pengukuran (μg/m3)
t1 = lama pencuplikan (contoh 24 jam)
t2 = lama pencuplikan dari hasil pengukuran udara (jam)
p = faktor konversi yang bernilai antara 0,17 dan 0,2
Nilai p pada persamaan konversi Canter diperoleh dari PP No. 41 Tahun 1999
dengan C1 = 150 μg/m3, t1 = 1 hari, C2 = 50 μg/m3, dan t2 = 365 hari,
diperoleh nilai p = 0,186.
Pengukuran kadar PM dilakukan secara sesaat selama 30 menit pada tiga titik
yang berbeda yaitu di unit residensial pasien, laboratoratorium, dan kantor
pengelola.

Berikut tabel hasil pengukuran kualitas udara di tiga titik pembangunan


bangunan pusat rehabilitasi
Parameter Titik 1 Titik 2 Titik 3 NAB
Kadar PM 20,0 6,0 2,2 25*
maksimum
(μg/m3)
Kadar PM 3,1 2,5 1,4 25*
maksimum
(μg/m3)
Rerata kadar 6,1 4,8 1,7 25*
3
PM (μg/m )
Suhu (°C) 32,5 33,1 32,9 18-30**
Kelembapan 67 69 64 65-95**
(%)
Dimana:
Titik I : unit residensial pasien
Titik II : unit laboratorium
Titik III : unit kantor pengelola

Keterangan:
*WHO
**Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1406/MENKES/ SK/XI/2002 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri

Berdasarkan tabel di atas, kadar PM maksimum di titik 1, 2, dan 3 secara


berurutan yaitu 20,0 μg/m3; 6,0 μg/m3; dan 2,2 μg/m3 . Kadar PM minimum di
titik 1, 2, dan 3 secara berurutan yaitu 3,1 μg/m3; 2,5 μg/m3; dan 1,4 μg/m3.
Hasil pengukuran terhadap nilai rerata kadar PM di titik 1, 2, dan 3 secara
berurutan yaitu, 6,1 μg/ m3; 4,8 μg/m3; dan 1,7 μg/m3. Pengukuran kadar PM
di unit residensial pasien menunjukkan bahwa kadar PM maksimum, kadar
PM minimum, dan rerata kadar PM tertinggi terdapat di titik 1. Menurut
WHO, standar kadar debu PM di titik 1 masih memenuhi nilai ambang batas
yang telah ditetapkan sebesar 25 μg/m3. Pada ketiga titik, nilai yang masih
memenuhi ambang batas adalah kadar PM maksimum, minimum, dan rerata.
Hasil pengukuran menunjukkan kadar PM di unit residensial pasien (titik 1)
lebih tinggi dari pada kadar PM di unit laboratorium dan unit pengelola kantor
(titik 2 dan titik 3). Pengukuran suhu dan kelembapan dilakukan sebagai data
penunjang kadar debu PM. Suhu yang terdapat di titik 1, 2, dan 3 secara
berurutan adalah, 32,4°C; 33,1°C; dan 32,9°C. Kelembapan yang terdapat di
titik 1, 2, dan 3 secara berurutan adalah, 67%; 69%; dan 64%. Sesuai dengan
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri, maka
hasil pengukuran suhu di ketiga ruangan melebihi baku mutu dan hasil
pengukuran kelembapan di ketiga titik sudah sesuai dengan baku mutu.
Pengukuran kadar debu PM selain dapat mengetahui nilai maksimum,
minimum, dan rerata dapat pula digunakan untuk mengetahui fluktuasi dari
pengukuran kadar debu PM selama waktu tertentu. Pengukuran kadar PM di
unit residensial pasien, laboratorium, dan unit kantor pengelola berdasarkan
pada pertimbangan terdapatnya sumber pencemaran. Pengukuran kadar PM
dilakukan selama 30 menit pada saat proses konstruksi berlangsung
menggunakan Haz Dust EPAM 5000. Pengukuran kadar PM pada kegiatan
konstruksi ini, dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa yang
berasal dari kegiatan pembangunan, diantaranya berasal dari debu tanah dan
semen yaitu senyawa Si.

1.1.2 Prakiraan Dampak


Meningkatnya konsentrasi PM dari kegiatan kontruksi pembangunan
bangunan pusat rehabilitasi unit residensial pasien, laboratorium dan kantor
pengelola dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah faktor
suhu dan kelembapan udara. Tingginya suhu udara dapat mempercepat
terjadinya perubahan kadar gas atau pencemar di udara. Semakin tinggi suhu
udara, maka partikel akan menjadi semakin kering dan ringan sehingga
partikel tersebut menjadi lebih reaktif serta bertahan lama di udara. Perubahan
suhu udara di dalam ruang dapat dipengaruhi oleh faktor ventilasi alami
maupun buatan (mekanik) dan bahan struktur bangunan. Jenis plafon eternit
yang digunakan industri memengaruhi kualitas suhu di dalam ruangan karena
panas dari luar ruangan terserap melalui plafon. Kepadatan hunian dengan
banyaknya pekerja di dalam ruangan juga berkontribusi memengaruhi suhu
udara ruang. Pada suhu udara yang tinggi, kelembapan udara dapat meningkat
dan menyebabkan kadar uap air di udara bereaksi dengan pencemar udara
menjadi zat lain. Kelembapan udara dapat memengaruhi konsentrasi partikel
debu di udara. Semakin tinggi kelembapan maka kemungkinan pencemar
udara untuk bereaksi dengan air akan semakin tinggi sehingga berat jenis
pencemar semakin meningkat. Durasi dampak tersebut terjadi sementara,
yaitu hanya pada saat kegiatan kontruksi pembangunan bangunan residensial
pasien, laboratorium, dan kantor pengelola. Setelah kegiatan tersebut selesai,
maka dampak yang ditimbulkan akan berkurang.
1.1.3 Evaluasi Dampak
Berdasarkan data rona lingkungan hidup, konsentrasi particulate matter di
Lebak Banten memenuhi kualitas udara berdasarkan Nilai Ambang Batas
yang ditentukan oleh WHO yaitu dengan kadar PM maksimum sebesar 25
μg/m3. Karena adanya kegiatan pembangunan bangunan pusat rehabilitasi unit
residensial pasien, laboratorium dan kantor pengelola, konsentrasi particulate
matter di udara dapat meningkat sekitar 10-15%. Sehingga kualitas udara di
wilayah yang dipantau relatif tetap. Untuk evaluasi dampak dapat dilihat pada
table di bawah ini:

Deskripsi Peningkatan konsentrasi particulate matter di udara


Dampak
Analisa dampak dibuat dengan ketentuan pengukuran kadar PM dilakukan
selama 30 menit setiap harinya pada saat proses konstruksi berlangsung
menggunakan Haz Dust EPAM 5000.
Sifat Dampak Negatif
Dampak dari pembukaan lahan untuk pembangunan tiga unit pusat rehabilitasi
ini bernilai negative, dimana rona lingkungan pada wilayah tersebut dapat
berubah dan satwa liar yang berada disana pun kehilangan habitatnya. Selain
itu, dari kegiatan pembangunan ini, dapat menimbulkan adanya particulate
matter, dimana ini merupakan dampak negatif. PM adalah partikel berukuran
2,5 – 10 mikron dan jika terhirup akan masuk ke saluran pernapasan tanpa
adanya proses penyaringan karena ukuran partikel yang terlalu kecil. Sehingga
analisa kadar PM ini perlu dilakukan.
Jenis Dampak Dampak
langsung
Dampak dari kegiatan kontruksi ini berdapak langsung, dimana pada kegiatan
kontruksi ini dilakukan pembangunan pada lahan terbuka, dimana pemilihan
lahan ini karena dinilai jauh dari pemukiman warga. Namun, flora dan fauna
yang ada di lahan ini tidak dapat lagi berada di lahan tersebut. Dari kegiatan
pembangunan ini, akan dilakukan pembangunan tiga unit utama dari pusat
rehabilitasi, sehingga diperlukan alat-alat berat dan juga bahan-bahan
bangunan seperti semen, pasir dan lainnya. Sehingga dari aktivitas
pembangunan ini, dapat
Lama dampak Jangka pendek
berlangsung Lama dampak yang akan diakibatkan dari kegiatan ini yaitu berlangsung dalam
jangka pendek. Dimana ketika kegiatan ini telah selesai, maka dampaknya
akan semakin berkurang.
Persebaran Lokal
Dampak Dampak akan hanya dirasakan pada wilayah yang dekat dengan kegiatan
pembangunan. Sehingga persebaran dampak dari kegiatan ini yaitu dampak
lokal.
Besaran Sedang
Dampak Pencemaran udara saat proses pembangunan konstruksi lahan dan pembuatan
pondasi rumah sakit pada warga yang melewati pemukiman lokasi
pembangunan
Sensitivitas Rendah
penerima pencemaran udara akan terjadi pemrotesan dari warga yang lumayan dekat
dampak dengan lokasi pembangunan
Kerawanan Sangat rendah
dampak Pembangunan ini memiliki kerawanan dampak yang tidak terlalu besar karena
adanya jarak antara pemukima dengan pusat rehabilitasi
Sekitar 3 km yang tidak terlalu berdampak dan untuk pencemaran air secara
jangka panjangnya akan dilakukan proses pengolahan limbah kembali. Hingga
menjadi limbah ramah lingkungan
Peluang Sangat kecil
kejadian Kejadian dampak akan sangat kecil resikonya untuk pemukiman warga karena
dampak proses pengolahan dan adanya alat untuk menggurangi polusi udara air
maupun suara
Sifat Penting Diabaikan
Dampak

1.1.4 Kesimpulan
Berdasarkan hasil evaluasi diatas maka dapat disimpulkan bahwa sifat penting dampak
dari kegiatan pembangunan tiga unit pusat rehabilitasi di Lebak Banten bagi para
pecandu narkoba terhadap peningkatan konsentrasi particulate matter di udara
dikategorikan sebagai pencemaran udara dengan tingkat yang rendah sehingga
dampaknya dikaterogikan sebagai dampak tidak penting