Anda di halaman 1dari 5

SATUAN ACARA PENYULUHAN

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Oleh:
ADI JUNIARTO
NIM.170103004

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN S1


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA
PURWOKERTO
2020
2

SAP

PokokBahasan/ Topik : Demam berdarah dengue (DBD)

Sub PokokBahasan : Cara mencegah bemam berdarah

Tanggal : 9 Mei 2020

Waktu : 60 menit

Sasaran : Keluarga

A. Latar belakang
Berdasarkan data yang diperoleh di ketahui penyakit sering muncul pada
musim hujan adalah bemam berdarah dengue yang di tularkan melalui gigitan
a. TUJUAN UMUM
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1x 60 menit, diharapkan
Keluarga mengerti tentang DBD.
b. TUJUAN KHUSUS
Setelah mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan 1 x 60 menit , diharapkan
pasien :
1) Mengetahui apa demem berdarah dengue
2) Mengetahui penyebab demam berdarah dengue
3) Mengetahui tentang tanda dan gejala demam berdarah dengue
4) Melakukan pencegahan penyakit demam berdarah dengue
3

MATERI DEMAM BERDARAH DENGUE

A. Pengertian demam berdarah dengue


Merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan
nyamuk Aedes Aegypty yang dapat menyerang pada anak dan dewasa.

B. Penyebab
Penyebab DBD karena adanya virus dengue dan ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes Aegypty . meskipun dapat ditularkan oleh Aedes Albopictus
yang biasanya hidup dikebun.

C. Tanda dan gejala


1. Demam tinggi 2-7 hari disertai menggigil, kurang nafsu makan, nyeri pada
persendian, serta sakit kepala
2. Bitnik-bintik merah pada kulit dan mimisan
3. Nyeri perut
4. Terjadi pingsan pada hari ke 3-7 secara berulang-ulang. Dengan tanda
syok yaitu lemah, kulit dingin, basah dan tidak sadar

D. Cara pencegahan
Harus memberantas jentik -jentik di tempat berkembang biaknya . cara ini
dikenal dengan pemberantas sarang nyamuk DBD.
Cara pencegahan dilakukakan:
1. Kimia (pengasapan)
2. Fisik
3. Cegah cara 3 M (Menguras, menutup, mengubur)
4

DAFTAR PUSTAKA

Ngastiyah. 2016. Perawatan Anak Sakit. Jakarta:EGC


Suwarsono: Berbagai cara pemberantasan jentik
Ae.Aegypty.CerminDunia Kedokteran 1997; 119: 32-3
5