Anda di halaman 1dari 1

1.

Relevansi : sesuatu yang membuat investigator percaya dengan data yang mereka beri untuk masalah
teori maupun masalah praktis yang mereka bawa.

2. Realitas: apakah akibat dari yang dialami atau yang memiliki sifat dari data terlihat nyata atau palsu?

3. Reabilitas : apakah data tidak presisi, tidak akurat, ata cacat secara epistemik terhadap sifat/faktor
yang menjadi penyebab hingga kesimpulan investigator tentang efek dari penyebab yang diteliti?
Peralatan dan metode dari produksi data tida harus dapat dipercaya, hampir benar, akurat, presisi, dan
sebagainya tehadap faktor yan tidak penting untuk dievaluasi. Itulah mengapa, contohnya, sifat fisik
seperti bentuk, ukuran relatif, dan posisi relatif dari gunung dan kawah di bulan seperti keadaannya,
seperti yang Galileo gambarkan, mereka tidak menggunakan gambar Galileo untuk beragumen
bahwapermukaan bulan bewarna buram dan tidak teratur, namun halus dan seperti kristal.

Benda yang diobservasi oleh investigator dengansifat yang mudah diterima dan secara perseptual
didiskriminasi tidak perlu dijadikan masalah. Namun jika menjadi masalah, fakta bahwa seseorang dapat
menjelaskan bahwa investigator sedang mengobservasi apa yang dia dapat pelajari hanya beralasan dari
data tidak menerangkan tentang tentang legitimasi epistemik tentang kesimpulan dari data, atau
pengaruh epistemik dari data yang merek digunakan. Singkatnya, saya tidak berpikir bahwa
epistemologi empiris membutuhkan k1, atauk2,k3, namu ini akan jadi masalah lain selanjutnya.

Pendekatan teori-sosio

Dengan berdasarkan kepada R kedua, kebanyakan filsuf, sejarahwan dan murid sains akan setuju
dengan Peter Galison, bahwa tidak seperti argumen deduktif dari matematikawan dan logikawan yang
dapat menyelesaikan perselisihan mereka dengan tegas hingga menutup perdebatan secara tuntas, para
pengeksperimen biasanya tidak dapat mendemostrasikan dalam satu kali coba "realitas --atau
kepalsuan-- dari efek" 13 ((Galison, 1987, p. 2). Hal yang sama berlau pada perselisihan tentang
Relevansi dan Realitas. Pada saat yang sama, hal ini tidak dapat diragukan bahwa saintis terkadang
dapat menyelesaikan perselisihan dan mendapat konsensur yang bertahan lama terhadap tiga R.
Sejumlah filsuf mulai menghadiri percobaan dan observasi sebagai respon untuk mencoba berbagai
perbedaan, pembuat teori dari multi-disiplin ilmu yang projeknya dapat menjelaskan konsensus sebagai
produk dari interaksi sosial yang dibentuk dengan pengaruh dari faktor kebiasaan dan sosi yang
beragam. Meskipun mereka cenderung tidak setuju terhadap diri mereka untuk digabung bersama, dan
meskipun tidak satupun menggunakan label yang saya