Anda di halaman 1dari 7

Artikel Teknologi Hijau

2018, Vol.2, No. 2

Ekstraksi Minyak Atsiri dari Bawang Putih


(Allium sativum) dengan Metode Solvent Extraction
Nanda Novalia Nabila, Christoper Corleone, Firman Maulana, Nurul Qomsr Dwi Putra, dan Ir. Elly
Agustiani, M. Eng*
Departemen Teknik Kimia Indutri, Fakultas Vokasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail : nnovalia45@gmail.com

ABSTRAK
Bawang Putih (Allium sativum) banyak digunakan sebagai bumbu yang digunakan hampir di setiap
masakan Indonesia. Minyak atsiri dari bawang putih dpada penelitian ini menggunakan metode solvent
extraction. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan bawang putih basah dan bawang putih
kering dengan hasil rendemen minyak atsiri yang didapat . Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada
bawang putih basah dengan volume pelarut n-hexane 700 ml didapatkan minyak atsiri 0,054% sedangkan pada
bawang putih kering tidak dihasilkan minyak atsiri karena proses pengeringan tersebut menggunakan oven
dengan suhu 140oC dan menyebabkan rusaknya zat allicin yang terkandung dalam bawang putih.
Kata kunci :minyak atsiri, bawang putih, n-hexane

PENDAHULUAN

Minyak atsiri dikenal juga dengan nama minyak eteris atau minyak terbang (essential oil,volatile oil)
yang dihasilkan oleh tanaman,minyak tersebut mudah menguap pada suhu kamar, berbau wangi sesuai dengan
bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik, dan tidak larut dalam air.Minyak atsiri
mengandung resin, dan lilin dalam jumlah kecil yang merupakan komponen tidak mudah menguap. Komponen
kimia minyak atsiri pada umumnya dibagi menjadi dua golongan, yaitu hydrocarbon, dan oxygenated
hydrocarbon. Persenyawaan yang termasuk golongan hidrokarbon terbentuk dari unsur hidrogen (H), dan
karbon (C). Jenis hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri terutama terdiri dari persenyawaan terpene,
selain itu juga parafin, olefin, dan hidrokarbon aromatik, sedangkan persenyawaan yang termasuk dalam
golongan oxygenated hydrocarbon terbentuk dari unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O), yaitu
persenyawaan alkohol, aldehida, keton, oksida, ester, dan eter[2].
Tanaman yang biasanya menghasilkan minyak atsiri yaitu yang termasuk dalam familypinaceae,
labitae, compositae, myrtaceae, dan umbelliferaceae. Minyak atsiri terdapat pada setiap bagian tanaman yaitu
dari bunga, buah,batang, dan akar.Salah satu jenis tanamanpenghasil minyak atsiri yang mempunyai
potensicukup besar untuk dikembangkan adalah bawang putih (Allium sativum). Bawang Putih (Allium sativum)
banyak digunakan sebagai bumbu yang digunakan hampir di setiap masakan Indonesia. Namun bila tanaman ini
diproses, dan diolah, maka akan mendapatkan potensi ekspor yang cukup besar.
Produksi bawang putih di Indonesia meningkat pada tahun 2016 menjadi 21,15 ribu ton dari tahun
sebelumnya hanya 20 ribu ton. Meningkatnya produksi di sentra bawang putih seperti Nusa Tenggara Barat,
Jawa Tengah dan Jawa Barat hingga ribuan persen membuat produksi komoditas tersebut melonjak hingga
delapan kali lipat dari 2015. Dari hasil roadmap swasembada Kementerian Pertanian tahun 2017, perkiraan
produksi pada tahun 2018 mengalami peningkatan sebesar 199.565 ton dan perkiraan produksi pada tahun 2019
sebesar 603.281 ton. Kualitas bawang putih lokal mampu bersaing dengan bawang putih impor karena varietas
bawang putih yang dihasilkan petani lokal sebenarnya lebih bagus, baik dari sisi aroma maupun ukurannya [3].
Melimpahnya produksi bawang putih menyebabkan harga jual yang cukup rendah yaitu hanya sebesar
Rp. 19.000/kg. Padahal jika tidak sedang panen raya harganya bisa mencapai Rp. 40.000/kg. Harga yang murah
seperti ini membuat petani rugi, terlebih bawang putih tidak bisa disimpan terlalu lama. Disamping itu, bagi para
ibu rumah tangga mengupas bawang putih yang terlalu lama akan menyebabkan tangan panas karena ada
kandungan zat Alliin yang terdapat pada daging bawang putih dan juga merupakan rutinitas yang memakan
waktu ketika memasak. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pengolahan bawang putih dengan mengambil
minyaknya yang dapat digunakan untuk memasak dan dapat meningkatkan pendapatan para petani.
Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan bawang putih basah dan bawang
putih kering dengan volume pelarut methanol 700 ml dan 800 ml terhadap kualitas minyak atsiri bawang putih
dengan metode solvent extraction.
Artikel Teknologi Hijau
2018, Vol.2, No. 2

TINJAUAN PUSTAKA

Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak essensial, minyak terbang,
serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabatiyang berwujud cairan kental pada suhu ruang
namun mudah menguap sehingga memberikanaroma yang khas. Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena
titik uapnya rendah. Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama di
hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya kuat). Pada bawang putih terdapat zat
alicin yang berfungsi sebagai organosulfur dan dapat menghasilkan minyak atsiri. Zat alicin tersebut neniliki
titik didih 138-139oC[4].
Kandungan minyak atsiri bawang putih dapat dilihat pada tabel 1

Tabel 1. Komponen Minyak Atsiri Bawang Putih


Peak No Compound R.Time Area Height Concentration
1 Hydrazine, methyl 3,017 303496 137522 4,243%
2 Ethanol, 2-(1-methylethoxy)- 3,125 437167 187237 6,112%
3 Acetic acid, nitro-,ethyl ester 3,164 418678 152170 5,853%
4 2-propane,1-hydroxy- 3,277 579963 140529 8,108%
5 1H-Pyrrole,1-methyl- 3,866 52328 37051 0,732%
6 1-Propene, 3-3 –thiobis 4,121 174629 113561 2,441%
7 Disulfide, methyl 2-propenyl 4,800 432024 295703 6,040%
8 1,2-Cyclopentanedione 4,857 199704 50476 2,792%
9 Cyclopropane carboxylic acid 1- 5,451 46086 32746 0,644%
amino-
10 2,5-Dimethyl-4-hydroxy-3(2H)- 6,229 96615 35918 1,351%
furanone
11 Maltol 6,443 178737 72788 2,499%
12 Diallyl disulphide 6,567 1219104 823867 17,044%
13 Methyl allythioacetate 6,717 245180 113497 3,428%
14 Diallyl disulphide 6,770 258134 184762 3,609%
15 Trisulfide. Di-2-propenyl 7,183 513911 333334 7,185%
16 Benzenecarboxylic acid 7,242 306915 130688 4,291%
17 3-vinyl-1,2-dithiacyclohex-5-ene 7,872 287016 81628 4,0135
18 Benzoic acid, 2-methyl- 7,958 250744 112324 3,506%
19 Trisulfide, di-2-propenyl 8,595 925051 608904 12,933%
20 1-propene, 3,3-thiobis 8,801 227302 104212 3,178%

Bawang putih mengandung minyak atsiri, yang diduga bersifat anti bakteri dan antiseptik. Kandungan
allicin dan aliin (organosulfur) mencapai 59,87% berkaitan dengan daya anti kolesterol. Daya ini mencegah
penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi dan lain-lain. Umbi batang diduga mengandung beberapa zat
yang berguna untuk kesehatan, diantaranya adalah kalsium yang bersifat sebagai penenang sehingga cocok
sebagai pencegah hipertensi, saltivine berguna untuk mempercepat pertumbuhan sel dan jaringan serta
merangsang susunan sel saraf, diallysulfide, alilpropil-disulfida sebagai anti cacing, belerang, protein, lemak,
fosfor, besi, vitamin A, B1 dan C[1].
Macam-macam sistem penyulingan uap:
1. Penyulingan dengan air (water distillation)
2. Penyulingan dengan air dan uap (steam and water distillation)
3. Penyulingan dengan uap (steam distillation)
4. Penyulingan dengan pelarut mudah mengenap/soxhletasi (solvent extraction)
Penjelasan ketiga metode tersebut adalah sebegai berikut.
1. Penyulingan dengan air
Pada sistem penyulingan dengan air, bahan yang akan disuling langsung berkontak dengan air mendidih.
Keuntungan dari penggunaan sistem penyulingan ini adalah karena sistem ini baik digunakan untuk menyuling
bahan yang berbentuk tepung, dan bunga-bungaan yang mudah membentuk gumpalan jika kena panas.Untuk
bahan-bahan yang berupa cairan, perlu ditambah air secar aberkala dengan tujuan supaya sisa penyulingan
jangan sampai hangus. Akan tetapi cara penyulingan ini memiliki kelemahan yaitu tidak baik digunakan untuk
bahan yang larut dalam air dan bahan yang sedang disuling dapat hangus jika suhu tidak diawasi. Metode water
distillation digunakan karena minyak atsiri umumnya akan terdekomposisi pada suhu tinggi (lebih tinggi dari
titik didih senyawa penyusun minyak atsiri tersebut, biasanya =100ºC). Penambahan air atau uap air dapat
menurunkan titik didih, sehingga minyak atsiri menguap pada suhu lebih rendah daripada titik didihnya pada
Artikel Teknologi Hijau
2018, Vol.2, No. 2

tekanan atmosfer.Metode ini seringkali digunakan untuk memisahkan komponen dengan titik didih tinggi dari
sejumlah pengotor yang non volatil.
Selama ada 2 fasa cair, campuran akan Selama ada 2 fasa cair, campuran akan mendidih pada suhu di bawah
suhu didih komponen yang memiliki titik didih terendah. Dengan menggunakan water distillation, selama ada
air, komponen dengan titik didih tinggi (B) akan menguap pada suhu di bawah titik didih normalnya tanpa perlu
menggunakan vakum. Uap air (A) dan komponen yang bertitik didih tinggi (B) akan dikondensasi dalam sebuah
condenser, dan membentuk 2 fasa cair yang tidak saling larut.
Keuntungan proses ini adalah sederhana dan ekonomis, sehingga dapat dilakukan oleh industri rumah
tangga. Untuk meningkatkan kualitas minyak atsiri yang dihasilkan, distilasi dilakukan pada kondisi vakum
sehingga komponen yang terdekomposisi semakin sedikit,akan tetapi biaya operasionalnya jauh lebihmahal.

2. Penyulingan dengan air dan uap air


Pada sistem penyulingan ini, memiliki keuntungan yaitu uap dapat berpenetrasi secara merata ke dalam
jaringan bahan dan suhu dapat dipertahankan sampai 100ºC. Lama penyulingan relatif lebih singkat, rendemen
minyak lebih besar, dan mutunya lebih baik jika dibandingkan dengan minyak hasil dari sistem penyulingan
dengan air.

3. Penyulingan dengan uap


Distilasi uap adalah suatu cara yang digunakan untuk memisahkan dan memurnikan senyawa-senyawa
organik. Distilasi uap hanya dapat dilakukan pada senyawa organik yang tidak larut dalam air dan mempunyai
tekanan uap yang tinggi. Campuran zat organic cair dan air akan mendidih pada suhu yang lebih rendah
dibandingkan dengan titik didih kedua zat cair dalam keadaan murni. Pada sistem ini, penyulingan lebih baik
digunakan untuk mengekstraksi minyak dari biji-bijian, akar, dan kayu-kayuan yang umumnya mengandung
komponen minyak bertitik didih lebih tinggi, tetapi tidak baik dilakukan terhadap bahan yang mengandung
minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan dan air.
Proses pengambilan minyak atsiri dengancara penyulingan mempunyai beberapa kelemahan, yaitu:
a. tidak baik digunakan terhadap beberapa jenis minyak yang mudah rusak oleh adanya airdan panas;
b. minyak atsiri yang mengandung fraksi ester akan terhidrolisis karena adanya air dan panas;
c. komponen minyak yang larut dalam air tidak dapat diekstraksi;
d. bau wangi minyak yang dihasilkan sedikit berubah dari bau wangi alamiah;
e. komponen minyak yang bertitik didih tinggi yang menentukan bau wangi sebagian tidak ikut tersuling, dan
tetap tertinggal dalam bahan.
Ciri paling mendasar dari distilasi uap adalah bahwa distilasi uap ini memungkinkansuatu senyawa atau
suatu campuran senyawa didistilasi pada suhu yang lebih rendah daripada suhu didih konstituen
individual.Dengan adanya uap air, senyawa-senyawa kimia ini menguappada suhu lebih rendah daripada 100°C
pada tekanan atmosfer (1 atm). Campuran uap panas tersebut setelah melewati suatu system pendinginan akan
terkondensasi membentuk cairan dengan dua lapisan yang jelas antara air dan senyawa organik (minyak
essential). Kebanyakan (tapi tidak semua) minyak-minyakessential lebih ringan daripada air, dan
akanmenempati lapisan bagian atas.
Kelebihan dari proses ini adalah sederhana, dan ekonomis, sehingga dapatdiaplikasikan dalam industri
rumah tangga.Untuk meningkatkan kualitas minyak atsiri yangdihasilkan, proses distilasi ini dilakukan dalam
keadaan vakum, sehingga dapat meminimalkankomponen yang terdekomposisi, tetapi biayaoperasionalnya akan
jauh lebih mahal. Agardiperoleh minyak yang bermutu tinggi, makaperlu diusahakan proses
penyulinganberlangsung pada suhu yang rendah, atau dapatjuga pada suhu yang tinggi namun dengan
waktuyang singkat.
Lama penyulingan tergantung dari tekananuap yang dipergunakan dan faktor kondisi terutama kadar air
bawang putih. Pada prinsipnya, tekanan yang dipergunakan tidak boleh terlalu tinggi untuk menghindarkan
pengeringan bahan yang disuling. Penyulingan pada tekanan dan suhu yang terlalu tinggi akan menguraikan
komponen kimia minyak, dan dapatmengakibatkan proses resinifikasi minyak. Sistem penyulingan ini baik
digunakan untuk mengekstraksi minyak yang komponennya memiliki titik didih tinggi, karena pada tekanan
yang terlalu tinggi minyak akan terdekomposisi, terutama pada waktu penyulingan yang terlalu lama. Suatu hal
yang penting dalam penyulingan minyak bawang putih adalah agar suhu, dan tekanan tetap seragam.

4. Penyulingan dengan pelarut mudah mengenap/soxhletasi (solvent extraction)


Minyak atsiri dapat diekstraksi memakai hexan, metanol, etanol, petrloleum eter, atau benzen. Benzen
sekarang tidak dipakai lagi karena bersifat carcinogenic (bisa menyebabkan kanker). Minyak atsiri yang diambil
dengan cara ini mempunyai aroma hampir sama denga aslinya. Minyak atsiri banyak yang dipungut dengan cara
ini, akan tetapi banyak yang tidak mau memakainya untuk aroma terapi?? Karena ada sisa solvent pada produk
akhir minyak atsiri. Solven yang tertinggal 6 – 20%. Dengan memakai hexan, solven yang tersisa hanya 10 ppm.
Hasil akhir cara ini disebut concrete. Concrete dapat dilarutkan dalam alkohol untuk memisahkan solvennya.
Artikel Teknologi Hijau
2018, Vol.2, No. 2

Bila alkohol diuapkan akan dihasilkan absolute. Absolute atau concrete dapat dipakai untuk perfume tapi tidak
untuk skin care. Contoh tanaman yang diproses dengan cara ini adalah jasmine, hyacinth, narcissus, tuberose.
Pada umumnya, sebelum melakukanproses ekstraksi padat-cair, dilakukan perlakuan pendahuluan berupa
pengecilan ukuran partikel padatan yang akan diekstrak. Hal ini disebabkan karena partikel padatan memiliki
dinding sel yang memberikan tahanan terhadap proses difusi. Dengan adanya proses pengecilan ukuran, maka
dinding sel akan pecah, sehingga solute akan mudah diekstrak. Selain itu, proses ini dapat memperkecil jarak
yang dibutuhkan oleh pelarut untuk berdifusi mencapai sel padatan, yang berarti mempercepat proses ektraksi
padatcair. Dalam proses ekstaksi minyak atsiri dari bawang putih ini, ada empat faktor yang mempengaruhi laju
ekstraksi, yaitu:
1. Ukuran partikel
Makin kecil ukuran partikel, makin besarluas permukaan padatan yang akan diekstrak, sehingga dapat
memperbesar luas permukaan transfer massa pelarut ke dalam padatan. Dengan demikian, laju difusi pelarut ke
dalam padatan menjadi lebih besar.Pengecilan ukuran juga bertujuan untuk memecahkan struktur dinding sel
yang menjadi penghalang bagi terjadinya difusi pelarut ke dalam padatan inert. Namun demikian, ukuran
partikel juga tidak boleh terlalu kecil karena apabila ukurannya teramat kecil (terlalu halus), maka akan
menyebabkan sulitnya proses pemisahan ampas dari ekstrak yang didapat.

2.Pelarut
Pelarut yang baik adalah pelarut yang tidak merusak solut atau residu, harganya relative murah, memiliki
titik didih rendah, murni, dan tidak berbahaya. Suatu zat dapat larut dalam pelarut jika mempunyai nilai
polaritas yang sama, yaitu zat polar seperti (seperti garam meja dan gula/sukrosa) larut dalam pelarut bersifat
polar (seperti air), dan tidak larut dalam pelarut nonpolar (seperti n-heksana). Begitu pula sebaliknya, zat
nonpolar (seperti minyak dan lilin) larut dalam pelarut nonpolar, dan tidak larut dalam pelarut polar[3].
Perbandingan antaramassa pelarut, dan massa padatan yang akan diekstrak juga harus tertentu untuk
mendapatkan hasil ekstraksi yang terbaik.

3. Suhu
Biasanya kelarutan dari bahan yangdiekstraksi akan bertambah dengan meningkatnya suhu sehingga laju
ekstraksinya juga tinggi. Selain itu, koefisien difusivitas juga akan semakin meningkat dengan naiknya suhu
sehingga dapat mempercepat laju ekstraksi.

Prinsip ekstraksi adalah melarutkan minyak atsiri dalam bahan dengan menggunakan pelarut organik yang
mudah menguap.Pelarut yang biasanya digunakan adalah etanol, nheksan, aseton, dan lain-lain.Ekstraksi padat
cair umumnya digunakan untuk mengisolasi minyak atsiri yang mudah rusak pada suhu tinggi. Prinsip dari
ekstraksi adalah proses untuk memisahkan salah satu atau lebih komponen yang terkandung di dalam fase
padatan dengan menggunakan fase pelarut yang sesuai. Keuntungan dari metode ekstraksi ini yaitu tidak
membutuhkan suhu yang terlalu tinggi, dan hanya membutuhkan pelarut saja. Minyak atsiri dengan suhu yang
terlalu tinggi akan terdekomposisi.

METODOLOGI PENELITIAN

A. Bahan yang digunakan


Bahan yang digunakan adalah bawang putih dengan kondisi bahan (basah dan kering) dengan ketentuan
kering (sudah dikeringkan dalam oven dengan suhu 140oC selama 30 menit).Sedangkan perlakuan bahan
mengiris tipis-tipis. Volume pelarut yang digunakan adalah n-hexane 700 ml untuk bawang putih basah dan 800
ml untuk bawang putih kering.

B. Prosedur Percobaan
Untuk metode ekstraksi, mula-mula menimbang bawang putih sebanyak 110 gram.Kemudian
membungkus 110 gram bawang putih dengan kertas saring.Memasukkan bawang putih tersebut ke dalam
tabung ekstraksi soxhlet.Mengalirkan air pendingin ke kondensor.Memasukkan pelarut n-hexane sebanyak 700
mL ke dalam labu ekstraksi.Memasang tabung ekstraksi soxhlet pada alat ekstraksisoxhlet dengan solvent
methanol.Menyalakan heater dan mengondisikan suhu solvent pada suhu 60-70o C. Melakukan proses ekstraksi
hingga mencapai siklus sebanyak 5 siklus. Mengulangi langkah tersebut pada variabel pelarut 800 ml.
Untuk tahap distilasi, mula memindahkan campuran n-hexane dan minyak bawang putih ke dalam labu
destilasi. Melakukan destilasi untuk mendapatkan minyak bawang putih pada suhu 60-70oC.Melakukan proses
Artikel Teknologi Hijau
2018, Vol.2, No. 2

destilasi hingga pelarut n-hexane tidak menetes lagi pada destilat. Mengulangi langkah tersebut pada variabel
pelarut 800 ml.

C. Analisa Densitas
Menimbang piknometer kosong dan mencatat hasilnya.Memasukkan minyak ke dalam
piknometer.Menimbang minyak yang telah dimasukkan ke dalam piknometer dan mencatat hasilnya

D. Analisa Viskositas
Memasukkan 3 mL aquades ke dalam Viscometer Oswald serta mencatat suhunya menggunakan
thermometer. Mencatat waktu penurunan aquades dari batas tara atas dengan batas tara bawah. Memasukkan 3
mL minyak ke dalam Viscometer Oswald mencatat suhunya menggunakan thermometer. Mencatat waktu
penurunan minyak dari batas tara atas dengan batas tara bawah.

E. Analisa Yield / Rendemen


Yield didefinisikan sebagai volume komponen hasil minyak yang didapat dibagi dengan massa bahan
baku.
Volume minyak yang didapat (ml)
Yield ( % ) = x 100 %
Massa bahan baku ( gr )

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan hasil yield pada minyak atsiri dengan kondisi basah sebesar
0,054% sedangkan pada kondisi bawang putih kering tidak menghasilkan minyak atsiri. Pada proses kering
tersebut dilakukan perlakuan dengan mengeringkan bawang putihy menggunakan oven pada suhu 140 oC,
sedangkan titik didih alicin berkisar 138-139 oC. Suhu tersebut berpengaruh terhadap dekomposisi alicin pada
bawang putih[5]. Jadi kondisi dan perlakuan bahan tersebut berpengaruh terhadap rendemen minyak atsiri
bawang putih yang dihasilkan. Dari segi metode, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menghasilkan %
rendemen 0,054% untuk bawang putih basah dengan pelarut n-hexane 700 ml dan 0% untuk bawang putih
kering dengan pelarut 800 ml.

Tabel 2 Hasil Percobaan


Parameter Bawang putih basah + pelarut n- Bawang putih kering + pelarut n-
hexane 700 ml hexane 800 ml
Densitas (gr/ml) 0,05 -
Viskositas (cP) 1,65 -
Rendemen (%) 0.054 -
Bau Bawang putih menyengat -
Warna Kuning -
Hasil minyak atsiri dari bawang putih dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
1. Ukuran partikel
Makin kecil ukuran partikel, makin besar luas permukaan padatan yang akan diekstrak, sehingga dapat
memperbesar luas permukaan transfer massa pelarut ke dalam padatan. Ukuran partikel pada bawang putih
yang diektraksi kecil, sehingga proses pemisahan ampas dari ekstraknya mudah dan waktu yang dibutuhkan
untuk melakukan proses ekstraksi cepat.

2.Pelarut
Suatu zat dapat larut dalam pelarut jika mempunyai nilai polaritas yang sama, yaitu zat polar seperti
(seperti garam meja dan gula/sukrosa) larut dalam pelarut bersifat polar (seperti air), dan tidak larut dalam
pelarut nonpolar (seperti n-heksana). Pada proses ekstraksi dalam percobaan ini menggunakan pelarut n-hexane
karena pelarut tersebut merupakan pelarut nonpolar yang dapat mengikat minyak atsiri dalam bawang putih dan
memiliki titik didih yang lebih kecil dibandingkan titik didih bawang putih sehingga tidak menyebabkan
kerusakan kandungan zat allicin bawang putih.
Artikel Teknologi Hijau
2018, Vol.2, No. 2

3. Suhu
kelarutan dari bahan yang diekstraksi akan bertambah dengan meningkatnya suhu sehingga laju
ekstraksinya juga tinggi pada proses ekstraksi di percobaan ini menggunakan suhu sekitar 60-70 oC dibawah titik
didih pelarut karena jika menggunakan suhu yang melebihi titik didih pelarut akan menyebabkan penguapan dan
akan ada minyak atsiri yang belum terikat oleh pelarut.

Dalam penelitian ini pelarut yang digunakan dalam ekstraksi yang mempunyai sifat-sifat fisis dan kimiawi
sebagaimana disajikan pada Tabel 3 sebagai berikut :

Tabel 3 Sifat-sifat fisis dan kimiawi dari pelarut n-hexane

Sifat-sifat fisis dan kimiawi n-hexane


Densitas (g/cm3) 0,655
Titik didih (˚C) 69
Titik leleh (˚C) -95
Warna Bening
Kelarutan Dapat larut dalam air 13mg/L pada
20oC

Gambar 1. Hasil ekstraksi minyak bawang putih dengan pelarut n-hexane

KESIMPULAN

Kesimpulan dari hasil penelitian minyak atsiri dari bawang putih ini adalah sebagai berikut :
1. Pada ekstraksi bawang putih basah dengan variabel pelarut n-hexane sebanyak 700 mL dihasilkan minyak
atsiri dengan densitas sebesar 0.05 gr/mL dengan vikositas 1.65 cP dan rendemen sebesar 0.054%
2. Pada ekstraksi bawang putih kering dengan variabel pelarut n-hexane 800 ml tidak dihasilkan minyak
atsiri. Karena perlakuan pada bawang putih dengan cara dikeringkan menggunakan oven pada suhu 140 oC
menyebabkan rusaknya kandungan allicin pada bawang putih

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis berterimakasih kepada Dosen Teknik Kimia Industri atas dukungan yang telah diberikan.Penelitian
ini terlaksana atas bantuan asisten laboratorium Teknologi Hijau yan telah meluangkan waktunya untuk
membimbing keberhasilan penelitian ini.
Artikel Teknologi Hijau
2018, Vol.2, No. 2

DAFTAR PUSTAKA

1. Dimas Tri Anantyo (2009), Efek Minyak Atsiri dari Bawang Putih (Allium sativum) terhadap
Persentase Jumlah Neutrofil Tikus Wistar yang Diberi Diet Kuning Telur, Semarang : Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro
2. Fransiska Ariyani (2008), Ekstraksi Minyak Atsiridari Tanaman Sereh dengan Menggunakan Pelarut
Metanol, Aseton, dan N-Heksan, Surabaya : Jurusan Teknik Kimia Universitas Widya Katolik Mandala
3. Kementerian Pertanian (2017). Statistik Pertanian 2017. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Kementerian Pertanian Republik Indonesia
4. Lin, C. M., Sheu, S. R., Hsu, S. C., & Tsai, Y. H. (2010). Determination of Bactericidal Efficacy of
Essential Oil Extracted from Orange Peel on the Food Contact Surfaces. Food Control, 1710-1715.
5. Yang, L. (2012). Microwave-Assisted Extraction of Garlic Essential Oil from Garlic. Applied
Mechanics and Materials .