Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pembahasan Kasus Kelolaan

Pada pembahasan ini, penulis membandingkan antara teori pada BAB III dengan

asuhan keperawatan pada Tn. A.M dengan Diagnosa Medis utama CHF yang dilaksanakan

selama 3 hari, mulai dari tanggal 8 Januari 2020 sampai dengan 8 Januari 2020 di ruang

HCU Non Infeksius RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe. Pembahasan berikut ini akan

diuraikan pelaksanaan Asuhan keperawatan pada pasien Tn. A. M dengan diagnosa medis

CHF di ruang HCU Non Infeksius sesuai tiap fase dalam proses keperawatan yang

meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan keperawatan,

pelaksanaan tindakan keperawatan, serta evaluasi.

1. Pembahasan Pengkajian

Pada tahap pembahasan pengkajian ini penulis membandingkan antara teori

pengkajian menurut Doengoes (2002) dengan data hasil pengkajian pada Tn. A.M

dengan diagnosa medis CHF. Untuk memperoleh data tersebut, penulis melakukan

pengkajian kepada pasien, keluarga, melakukan pemeriksaan fisik observasi serta dari

mempelajari satus pasien.

Data yang dikaji sesuai data dasar pengkajian menurut Doengoes (2002),

pengkajian pada klien dengan CHF, yaitu meliputi identitas pasien, riwayat kesehatan

pasien dan keluarga, pola kebiasaan sehari-hari. Pada kasus nyata ditemukan tanda dan

gejala yaitu, Pernapasan cepat dan dangkal, sesak nafas, edema kedua tungkai kaki

kanan dan kiri, frekuensi nadi cepatakral dingin, suara Ronhi (+), terpasang Oksigen 4

liter/menit via binasal canul. Data yang sesuai dengan doengoes (2002) semuanya

muncul pada pasien Tn. A.M


b. Tidak ada data yang ditemukan pada pasien yang tidak sesuai dengan pendapat

doengoes (2002)

c. Pada tahap pengkajian penulis tidak menemukan hambatan yang berarti dikarenakan

klien dan istri klien sangat kooperatif.

2. Diagnosis Keperawatan

Dalam penyusunan diagnosa keperawatan pada kasus ini penulis menggunakan

pendapat Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia/SDKI (2018) sebagai dasar untuk

perumusan diagnosis keperawatannya, penulis mengacu pada rumusan diagnosa SDKI

(2018). Menurut SDKI diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Tn. A.M

dengan diagnosa medis CHF ada 5, dan penulis menemukan 5 diagnosa keperawatan

yang muncul pada pasien Tn. A.M yaitu semua diagnosa keperawatan sesuai dengan

pendapat SDKI (2018). Diagnosa keperawatan yang sesuai antara pendapat SDKI

(2018) dengan kasus CHF adalah:

a. Resiko penurunan curah jantung dibuktikan dengan perubahan afterload dan

perubahan frekuensi jantung

b. Ganggguan integritas gas berubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler

c. Hipervolemia dibuktikan dengan gangguan aliran balik vena

d. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran arteri dan vena

e. Ketidakstabilan glukosa berhubungan dengan resistensi insulin

f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan

kebutuhan oksigen dan kelemahan


C. Intervensi/perencanaan

Dalam kegiatan tahap perencanaan ini adalah penentuan prioritas masalah.Dalam

penetuan prioritas, penulis menetukan berdasarkan teori Hirarki Maslow dan dan

masalah yang mengancam jiwa pasien diprioritaskan terlebih dahulu.Penetuan prioritas

dilakukan karena tidak semua masalah dapat diatasi dalam waktu yang bersamaan.

Perencanaan pada masing-masing diagnosa untuk tujuan disesuaikan dengan teori yang

ada, dan lebih banyak melihat dari kondisi pasien, keadaan tempat/ruangan dan

sumberdaya dari tim kesehatan. Pada penetuan kriterian waktu, penulis juga

menetapkan berdasarkan kondisi pasien, ruangan sehingga penulis berharap tujuan yang

sudah disusun dan telah ditetapkan dapat tercapai.

Adapaun pembahasan perencanaan kepada pasien Tn. A. M dengan diagnosa

medis CHF, sesuai prioritas diagnosa keperawatan sebagai berikut :

g. Resiko penurunan curah jantung dibuktikan dengan perubahan afterload dan

perubahan frekuensi jantung

h. Ganggguan integritas gas berubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler

i. Hipervolemia dibuktikan dengan gangguan aliran balik vena

j. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran arteri dan vena

k. Ketidakstabilan glukosa berhubungan dengan resistensi insulin

l. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan

kebutuhan oksigen dan kelemahan

Kriteria hasil dan rencana perawatan terlampir pada RENPRA.


D. Implementasi/pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan ini, pada dasarnya disesuaikan dengansusunan

perencanaan , dengan maksud agar semua kebutuhan pasien dapat terpenuhi secara

optimal. Adapun pembahasan pelaksanaan dari masing-masing diagnosa yang telah

tersusun adalah sebagi berikut :

a. Resiko penurunan curah jantung dibuktikan dengan perubahan afterload dan

perubahan frekuensi jantung. Perencanaan dari diagnosa prioritas ini sudah sesuai

dengan teori di buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia/SIKI (2018) dan

Standar Luaran Keperawatan Indonesia/SLKI (2018). Standar Diagnosis

Keperawatan Indonesia/SDKI (2018).

b. Ganggguan integritas gas berubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler.

Perencanaan dari diagnosa prioritas ini sudah sesuai dengan teori di buku Standar

Intervensi Keperawatan Indonesia/SIKI (2018) dan Standar Luaran Keperawatan

Indonesia/SLKI (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia/SDKI (2018).

c. Hipervolemia dibuktikan dengan gangguan aliran balik vena. Perencanaan dari

diagnosa prioritas ini sudah sesuai dengan teori di buku Standar Intervensi

Keperawatan Indonesia/SIKI (2018) dan Standar Luaran Keperawatan

Indonesia/SLKI (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia/SDKI (2018).

d. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan aliran arteri dan vena.

Perencanaan dari diagnosa prioritas ini sudah sesuai dengan teori di buku Standar

Intervensi Keperawatan Indonesia/SIKI (2018) dan Standar Luaran Keperawatan

Indonesia/SLKI (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia/SDKI (2018).

e. Ketidakstabilan glukosa berhubungan dengan resistensi insulin. Perencanaan dari

diagnosa prioritas ini sudah sesuai dengan teori di buku Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia/SIKI (2018) dan Standar Luaran Keperawatan

Indonesia/SLKI (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia/SDKI (2018).

f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan

kebutuhan oksigen dan kelemahan. Perencanaan dari diagnosa prioritas ini sudah

sesuai dengan teori di buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia/SIKI (2018)

dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia/SLKI (2018). Standar Diagnosis

Keperawatan Indonesia/SDKI (2018).

E. Evaluasi

Pada evaluasi penulis mengukur tindakan yang telah dilaksanakan dalam

memenuhi kebutuhan klien. Evaluasi disesuaikan dengan kriteria penilaian yang telah

ditetapkan dan waktu yang telah ditentukan pada tujuan keperawatan. Evaluasi adalah

tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan

keberhasilan dari diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya.

(Nursalam, 2008).

Adapun evaluasi hasil dari masing-masing diagnosa keperawatan semuanya

belum teratasi dan intervensi dilanjutkan.