Anda di halaman 1dari 28

MODEL

PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Oleh :
Rinata Putri Yuliana (12211193021)
Nurul Arba’atin (12211193089)
Heny Masithoh (12211193091)

Diterbitkan oleh:
Express
Tulungagung

Cetakan pertama, Maret 2020

ii
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena telah
memberikan kelancaran dan kemurahan-Nya terhadap kami, sehingga dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah “Teknologi Pembelajaran” dalam bentuk
buku, Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada
junjungan kita Nabiyullah Muhammad, SAW.

Dalam penulisan buku ini, kami menyadari bahwa sesuai dengan


kemampuan dan pengetahuan yang terbatas, maka buku yang berjudul
"MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF” ini, masih jauh dari kata
sempurna. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan
demi penyempurnaan pembuatan buku ini, kami berharap dari buku yang
kami susun ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi kami maupun
pembaca. Aamiin.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Terimakasih

Tulungagung, 24 Maret 2020

iii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar........................................................................................... iii


Daftar Isi..................................................................................................... iv
BAB I Pendahuluan
A. Latar belakang.................................................................................. 1
B. Rumusan masalah............................................................................ 1
C. Tujuan penulisan............................................................................. 1
BAB II Pembahasan
A. Pengertian Pembelajaran kooperatif................................................. 3
B. Model Pembelajaran STAD............................................................. 8
C. Model Pembelajaran TGT................................................................ 17
BAB III Penutup
Kesimpulan............................................................................................. 21
Daftar Rujukan........................................................................................... 23
Hasil Power Point...................................................................................... 24

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model
pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses
belajar mengajar. Dengan adanya pembelajaran kooperatif dapat
melatih peserta didik mengungkapkan pendapat atau bertanya dengan
peserta pendidik yang lain dan dapat melatih mental mereka untuk
belajar bersama dan berdampingan dengan orang lain, selain itu
dengan pembelajaran kooperatif dapat menekan kepentingan pribadi
dan mengutamakan kepentingan kelompok.
Di dalam pembelajaran kooperatif guru menghendaki
pemerolehan hasil belajar yang merata, guru ingin menanamkan tutor
sebaya atau belajar melalui teman sendiri,guru menghendaki adanya
pemerataan partisipasi aktif peserta didik, guru menghendaki
kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan.
Sehingga dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif,
siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman
langsung dan menerapkan ide-idenya sehingga anak tidak jenuh dan
bosan terhadap mata pelajaran saat itu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari pembelajaran kooperatif ?
2. Bagaimana model pembelajaran STAD ?
3. Bagaimana model pembelajaran TGT ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu pembelajaran kooperatif

1
2. Untuk mengetahui model pembelajaran STAD didalam kelas
pembelajaran.
3. Untuk mengetahui model pembelajaran TGT didalam kelas
pembelajaran.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF


Pembelajaran kooperative adalah suatu strategi belajar
mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam
bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama
yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa berbagai
tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk
meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang
sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk
tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu
rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai keberhasilan.1
a. Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif
Pada dasarnya manusia mempunyai perbedaan, dengan
perbedaan itu manusia saling asah, asih, asuh (saling
mencerdaskan). Dengan pembelajaran kooperatif diharapkan
saling menciptakan interaksi yang asah, asih, asuh sehingga
tercipta masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak
hanya terpaku belajar pada guru, tetapi dengan sesama siswa
juga.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar
dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk
menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat
menimbulkan permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat.

1
buanatiwi.wordpress.com/2013/04/09/model-pembelajaran-cooperative-learning

3
b. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Didalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen yang
berkaitan. Menurut  Lie ( 2004 ):
1. Saling ketergantungan positif
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan
suasana yang mendorong agar siswa merasa saling
membutuhkan atau yang biasa disebut dengan saling
ketergantungan positif yang dapat dicapai melalui : saling
ketergantungan mencapai tujuan, saling ketergantungan
menyelesaikan tugas, saling ketergantungan bahan atau
sumber, saling ketergantungan peran, saling ketergantungan
hadiah.
2. Interaksi tatap muka
Dengan hal ini dapat memaksa siswa saling bertatap muka
sehingga mereka akan berdialog. Dialog tidak hanya
dilakukan dengan guru tetapi dengan teman sebaya juga
karena biasanya siswa akan lebih luwes, lebih mudah
belajarnya dengan teman sebaya.
3. Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam
belajar kelompok. Penilaian ditunjukkan untuk mengetahui
penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual.
Hasil penilaian ini selanjutnya disampaikan oleh guru kepada
kelompok agar semua kelompok mengetahui siapa kelompok
yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan
bantuan,maksudnya yang dapat mengajarkan kepada
temannya. Nilai kelompok tersebut harus didasarkan pada
rata-rata, karena itu anggota kelompok harus memberikan

4
kontribusi untuk kelompnya. Intinya yang dimaksud dengan
akuntabilitas individual adalah penilaian kelompok yang
didasarkan pada rata-rata penguasaan semua anggota secara
individual.
4. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan sosial dalam menjalin hubungan antar siswa
harus diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan
antar pribadi akan memperoleh teguran dari guru juga siswa
lainnya.
c. Unsur-unsur Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan David Johnson ada 5 unsur dalam model
pembelajaran kooperatif, yaitu :
1. Positive interdependence ( saling ketergangtungan positif )
Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif
ada 2 pertanggungjawaban kelompok. Pertama, mempelajari
bahan yang ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin
semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan
yang ditugaskan tersebut.
Beberapa cara membangun saling ketergantungan positif
yaitu:
a. Menumbuhkan perasaan peserta didik bahwa dirinya
terintegrasi dalam kelompok, pencapaian tujuan terjadi
jika semua anggota kelompok mencapai tujuan.
b. Mengusahakan agar semua anggota kelompok
mendapatkan penghargaan yang sama jika kelompok
mereka berhasil mencapai tujuan.

5
c. Mengatur sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik
dalam kelompok hanya mendapatkan sebagian dari
keseluruhan tugas kelompok.
d. Setiap peserta didik ditugasi dengan tugas atau peran yang
saling mendukung dan saling berhubungan, saling
melengkapi dan saling terikat dengan peserta didik lain
dalam kelompok.
2. Personal responsibility ( tanggung jawab perorangan )
Tanggung jawab perorangan merupakan kunci untuk
menjamin semua anggota yang diperkuat oleh kegiatan
belajar bersama.
3. Face to face promotive interaction ( interaksi promotif )
Unsur ini penting untuk dapat menghasilkan saling
ketergantungan positif. Ciri – ciri interaksi promotif adalah:
a. Saling membantu secara efektif dan efisien
b. Saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan
c. Memproses informasi bersama secara lebih effektif dan
efisien
d. Saling mengingatkan
e. Saling percaya
f. Saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan
bersama
4. Interpersonal skill ( komunikasi antar anggota / ketrampilan )
Dalam unsur ini berarti mengkoordinasikan kegiatan peserta
didik dalam pencapaian tujuan peserta didik, maka hal yang
perlu dilakukan yaitu :
a. Saling mengenal dan mempercayai
b. Mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius

6
c. Saling menerima dan saling mendukung
d. Mampu menyelesaikan konflik secara konstruktif.
5. Group processing ( pemrosesan kelompok )
Dalam hal ini pemrosesan berarti menilai. Melalui
pemrosesan kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau
tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota
kelompok. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas
anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan
kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok.
d. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
1. Meningkatkan hasil belajar akademik
Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam
tujuan social, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan
kinerja siswa dalam tugas – tugas akademik. Beberapa ahli
berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa
memahami konsep – konsep yang sulit.
2. Penerimaan terhadap keragaman
Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang
berbada latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling
bergantung satu sama lain atas tugas – tugas bersama.
3. Pengembangan ketrampilan social
Mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan
kolaborasi untuk saling berinteraksi dengan teman yang lain.
e. Keuntungan Menggunakan Model Belajar Kooperatif
1. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan social
2. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap,
ketrampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-
pandangan.

7
3. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
4. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai – nilai
sosial dan komitmen.
5. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau  egois.
6. Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa
dewasa.
7. Berbagi ketrampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara
hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan
dipraktekkan.
8. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
9. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi
dari berbagai perspektif.

10. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang


dirasakan lebih baik.

11. Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang


perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat,
etnis, kelas sosial, agama dan orientasi tugas.2

B. MODEL PEMBELAJARAN STAD


a. Pengertian Model Pembelajaran STAD
Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-
temannya di Univesitas John Hopkin. Menurut Slavin (2007)
model STAD ( Student Team Achievement Division) merupakan
variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti.
Model ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam

2
kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/model-pembelajaran-kooperatif-
cooperative-learning

8
Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris, Teknik dan banyak subjek
lainnya, dan pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.3
Model STAD sangat menekankan pada kerjasama dalam
kelompok belajar. Hal ini akan menuntut siswa untuk saling
membantu, memberi motivasi, dan saling percaya satu sama lain.
Pembelajaran yang menekankan pada kerjasama akan memberi
kesempatan kepada siswa untuk belajar bekerjasama, berbagi
pendapat, pengetahuan, pengalaman, mendengarkan pendapat
orang lain, saling memotivasi dan aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
Bentuk kerjasama dalam model STAD diwujudkan dalam
pembentukan tim belajar siswa. Tim terdiri dari empat atau lima
siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam kinerja
akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas. Fungsi dibentuknya
kelompok adalah agar siswa anggota kelompok dapat
bekerjasama menyelesaikan tugas yang diberikan dan saling
membantu untuk menguasai materi dengan baik. Hal ini karena
sesama siswa memiliki kesamaan bahasa, tingkat perkembangan
intelektual dan pengalaman kedekatan sehingga membuat siswa
lebih mudah memahami materi pelajaran.
Pembelajaran semacam ini akan meningkatkan intensitas
keterlibatan siswa secara aktif di dalam proses pembelajaran.
Proses aktif dalam bertanya dan berargumen ini memberikan
kesempatan siswa untuk mengekspresikan dirinya dan
menumbuhkan pemikiran kritis pada siswa. Siswa sebagai pusat
dalam proses pembelajaran memungkinkan siswa untuk
menghasilkan solusi yang baru atas suatu permasalahan yang
3
Nurdyansyah - Eni Fariyarul Fahyuni, Inovasi Model Pembelajaran (Sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2006),
hal.65

9
diberikan oleh guru. Ekspresi diri, pemikiran kritis dan penemuan
yang dilakukan oleh siswa tentunya akan menumbuhkan
kreativitas dalam diri siswa. Hal ini akan berpengaruh positif
terhadap suasana pembelajaran yang menyenangkan karena tidak
ada pemberian penekanan pada siswa.
Satu faktor lagi yang menjadikan STAD sebagai pembelajaran
yang menyenangkan adalah adanya penghargaan bagi tim terbaik.
Penghargaan ini menjadi motivator bagi siswa untuk menjadikan
kelompoknya sebagai yang terbaik di kelas. Kondisi ini akan
menciptakan suasana persaingan yang sehat diantara siswa. Selain
itu, dengan adanya pemberian penghargaan akan membuat siswa
lebih termotivasi untuk belajar. Motivasi tinggi yang ada pada diri
siswa akan memberikan pengaruh yang positif dalam proses
pembelajaran yaitu terhadap hasil belajar siswa.4
Inti dari STAD ini adalah guru menyampaikan suatu materi
kemudian para siswa bergabung dalam kelompok yang ditentukan
secara heterogen berdasarkan prestasi siswa yang terdiri atas
empat sampai enam siswa untuk menyelesaikan soal-soal yang
diberikan oleh guru. Setelah itu mereka mengerjakan tes akhir,
kemudian guru bersama siswa menghitung skor perkembangan
individu dan memberikan penghargaan kepada kelompok yang
memperoleh nilai terbesar.5

b. Prinsip STAD

4
Erlita Hidaya Nikmah dkk., “Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD), Keaktifan dan
Hasil Belajar Siswa”, 2006, Hal. 4-3
5
Muhamad Afandi-Dedy Irawan,Pembelajaran Kooperatif Tipe Student TeamsAchievement Division di Sekolah
Dasar(Semarang: Unissula Pers, 2013), hal.3

10
STAD merupakan variasi pembelajaran kooperatif dengan
membagi siswa menjadi kelompok secara heterogen
beranggotakan empat-lima siswa dengan beragam kemampuan
yang berbeda. Guru memberikan suatu penjelasan dan
permasalahan kepada siswa di dalam kelompok dan memastikan
bahwa semua anggota kelompok dapat menguasai permasalahan
tersebut. Gagasan utama STAD adalah memacu siswa agar saling
mendorong dan membantu satu sama lain untuk menyelesaikan
masalah yang diberikan oleh guru. Jika siswa menginginkan
kelompoknya memperoleh hadiah maka mereka harus membantu
teman sekelompok dalam mempelajari pelajaran. Siswa diberi
waktu untuk bekerja sama setelah pelajaran diberikan oleh guru,
tetapi tidak saling membantu ketika menjalani kuis, sehingga
setiap siswa harus menguasai materi yang diberikan (Slavin,
1995).
Menurut Roger dan David Johnson (dalam Rusman, 2012) ada
lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai
berikut: (1) Prinsip ketergantungan positif (positive
interdependence), (2) Interaksi tatap muka (face to face
promotion interaction), (3) Partisipasi dan komunikasi
(participation communication), (4) Evaluasi proses kelompok.
Unsur tersebut dapat djiabarkan bahwa dalam pembelajaran
kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung
pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut; Tanggung
jawab perseorangan (individual accountability), yaitu
keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing
anggota kelompoknya. Selanjutnya memberikan kesempatan yang
luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka

11
melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan
menerima informasi dari anggota kelompok lain. Kemudian
melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi
dalam kegiatan pembelajaran. Serta menjadwalkan waktu khusus
bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan
hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama
dengan lebih efektif.6
c. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Model STAD
1. Penyampaian Tujuan dan Motivasi
Menyampaikan tujuan yang ingin dicapai pada pembelajaran
tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.
2. Pembagian kelompok
Siswa dibagi dalam beberapa kelompok, di mana setiap
kelompoknya terdiri dari 4-5 siswa yang memprioritaskan
heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik,
gender/jenis kelamin, rasa atau etnik.
3. Presentasi dari Guru
Guru menyampaikan materi pelajaran terlebih dahulu
menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada
pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut
dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar
dengan aktif dan kreatif. Di dalam proses pembelajaran guru
dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah
nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan
juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan
dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan serta cara-cara
mengerjakannya.
6
Esminarto dkk., “Implementasi Model STAD dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siwa”, Jurnal Riset dan
Konseptual Vol. 1 No. 01, 2016, Hal. 19

12
4. Kegiatan Belajar dalam Tim (Kerja Tim)
Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru
menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja
kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-
masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru
melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan
dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri
terpenting dari STAD.
5. Kuis (Evaluasi)
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis
tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian
terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok.
Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan
bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara
individu bertanggung jawab kepada dari sendari dalam
memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas
penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan
seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa.
6. Penghargaan Prestasi Tim
Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa
dan diberikan angka dengan rentang 0-100. Selanjutnya
pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat
dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan
sebagai berikut :

1. Menghitung Skor Individu

13
Menurut Slavin (Trianto, 2007:55), untuk menghitung
perkembangan skor individu dihitung sebagaimana tabel
sebagai berikut :
No Nilai Tes Skor Perkembangan
1 Nilai lebih dari 10 poin 5
dibawah skor KKM
2 Nilai 10 hingga 1 poin 10
dibawah skor KKM
3 Skor KKM sampai 10 poin 20
diatas skor KKM
4 Lebih dari 10 poin diatas 30
skor KKM
5 Pekerjaan Sempurna (tanpa 30
memperhatikan skor KKM)
2. Menghitung Skor Kelompok
Skor dihitung dengan membuat rata-rata skor
perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan
menjumlahkan semua skor perkembangan individu anggota
kelompok dan membagi sejumlah anggota kelompok
tersebut. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan
kelompok, diperoleh skor kelompok sebagaimana dalam
table sebagai berikut:
No Nilai Tes Kualifikasi
1 0≤ N≤5 -
2 6 ≤ N ≤ 15 Good Team
3 16 ≤ N ≤ 20 Great Team
4 21 ≤ N ≤ 30 Super Team

3. Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok

14
Setelah masing-masing kelompok atau tim memperoleh
predikat, guru memberikan hadiah atau penghargaan
kepada masing-masing kelompok sesuai dengan
prestasinya (kriteria tertentu yang ditetapkan guru).7
d. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran STAD
 Kelebihan STAD
Menurut Rusman (2012) berdasarkan karakteristiknya ialah :
a) Setiap siswa memiliki kesempatan untuk memberikan
kontribusi yang substansial kepada kelompoknya, dan
posisi anggota kelompok adalah setara
b) Menggalakkan interaksi secara aktif dan positif dan
kerjasama anggota kelompok menjadi lebih baik
c) Membantu siswa untuk memperoleh hubungan
pertemanan lintas rasial yang lebih banyak
d) Siswa memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar yaitu
belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama
anggota kelompok untuk belajar.
Selanjutnya menurut Herdian (2009) model pembelajaran
STAD mempunyai beberapa keunggulan, antara lain sebagai
berikut:
a) Semua anggota kelompok wajib mendapat tugas, ada
interaksi langsung antar siswa dengan siswa dan siswa
dengan guru
b) Siswa dilatih untuk mengembangkan keterampilan sosial

7
Nurdyansyah - Eni Fariyarul fahyuni, Inovasi Model Pembelajaran (Sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2006),
hal.66-68

15
c) Mendorong siswa untuk menghargai pendapat orang lain,
dapat meningkatkan kemampuan akademik siswa dan
melatih siswa untuk berani bicara di depan kelas.
Menurut Isjoni (2010) Kelebihan STAD adalah :melatih siswa
dalam mengembangkan aspek kecakapan sosial di samping
kecakapan kognitif dan peran guru juga menjadi lebih aktif
dan lebih terfokus sebagai fasilitator, mediator, motivator dan
evaluator.8
 Kelemahan STAD
Soewarso (1998) mengulas beberapa kendala dan kelemahan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai berikut :
a) Pembelajaran kooperatif tipe STAD bukanlah obat yang
paling mujarab untuk memecahkan masalah yang timbul
dalam kelompok kecil.
b) Adanya ketergantungan sehingga siswa yang lambat
berpikir tidak dapat berlatih belajar mandiri.
c) Memerlukan waktu yang lama sehingga target pencapaian
kurikulum tidak dapat dipenuhi.
d) Tidak dapat menerapkan materi pelajaran secara cepat.
e) Penilaian terhadap individu dan kelompok serta
pemberian hadiah menyulitkan bagi guru untuk
melaksanakannya.
f) Kerja kelompok hanya melibatkan mereka yang mampu
memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang pandai

8
Esminarto dkk., “Implementasi Model STAD dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siwa”, Jurnal Riset dan
Konseptual Vol. 1 No. 01, 2016, Hal. 20-21

16
dan kadang-kadang menuntut tempat yang berbeda dan
gaya-gaya mengajar berbeda.9
C. MODEL PEMBELAJARAN TGT (Teams Games Tournament)
Teams Games Tournament adalah salah satu tipe pembelajaran
cooperative yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok
belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki
kemampuan,jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda.10
Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok mereka
masing-masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS
kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-
sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota
kelompok yang tidak megerti dengan tugas yang diberikan, maka
anggota kelompok yang lain bertanggung jawab untuk memberikan
jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan
tersebut kepada guru.
Model ini dikembangkan oleh David de Vries dan Keath Edward
(1995) untuk membantu siswa mengulang dan menguasai materi
pelajaran melalui game akademik. Nilai yang siswa peroleh dari
game merupakan skor kelompok.11
1. Tujuan Model Pembelajaran TGT.
Tujuan penerapan model pembelajaran TGT adalah :
a) Meningkatkan Keterampilan-Keterampilan dari siswa.
b) Meningkatkan interaksi ptif antarsiswa.
c) Meningkatkan harga diri siswa.

9
Nurdyansyah - Eni Fariyarul fahyuni, Inovasi Model Pembelajaran (Sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2006),
hal.69-70
10
Upi Sumedang Press Bekerjasama dengan Prodi Pendidikan Jasmani STKIP 11 April
Sumedang, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Jasmani 2017, hlm.195
11
Habibati, S.Pd., M.Se., Strategi Belajar Mengajar, Banda Aceh: 2017, hlm. 95

17
d) Menimbulkan sikap toleransi pada siswa-siswa lain yang
berbeda.
2. Langkah-Langkah.
Langkah-langkah model pembelajaran TGT menurut Istarani
(2012:238) adalah:12
a) Guru menyiapkan kartu soal, lembar kerja siswa,alat dan
bahan.
b) Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang beranggotakan
lima orang.
c) Guru mengarahkan aturan permainan dengan tahap-tahap
sebagai berikut :
i. Siswa ditempatkan pada kelompok heterogen
beranggotakan empat orang.
ii. Guru menyiapkan pelajaran.
iii. Kemudian siswa bekerja dalam tim mereka untuk
memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai
pelajaran tersebut.
iv. Guru memberikan kuis
d) Dalam satu permainan terdiri dari : kelompok pembaca,
kelompok penentang I, kelompok penentang II, dan
seterusnya sejumlah kelompok yang ada.
e) Kelompok pembaca bertugas :
 Mengambil kartu bernomor dan cari pertanyaan pada
lembar permainan.
 Membaca pertanyaan keras-keras.
 Memberi jawaban.

12
Habibati, S.Pd., M.Se., Strategi Belajar Mengajar, Banda Aceh: 2017, hlm. 96

18
f) Kelompok penentang I bertugas : menyetujui pembaca atau
memberikan jawaban yang berbeda. Sedangkan penantang II
bertugas:
 Menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang
berbeda,dan
 Mengecek lembar jawaban. Kegiatan ini dilakukan secara
bergiliran.
g) Sistem perhitungan poin turnamen adalah skor siswa
dibandingkan dengan rerata skor yang mereka lalui sendiri,
dan poin diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa
menyamai atau melampaui prestasi yang ia lalui sendiri. Poin
tiap anggota tim ini dijumlahkan untuk mendapatkan skor tim,
dan tim yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat
atau ganjaran yang lain.
3. Keunggulan dan Kekurangan Model Pembelajaran TGT.13
 Menurut Istarani (2012) model pembelajaran ini memiliki
keunggulan diantaranya:
a) Membuat pembelajaran menjadi lebih menarik.
b) Membuat belajar menjadi lebih atraktif.
c) Membuat belajar menjadi aktifitas yang lebih menantang
bagi siswa.
d) Memajukan prestasi siswa.
e) Memacu aktifitas belajar siswa agar lebih aktif.
f) Meningkatkan sikap kerjasama siswa.
g) Mengembangkan persaingan yang sehat dalam proses
belajar –mengajar.

13
Habibati, S.Pd., M.Se., Strategi Belajar Mengajar, Banda Aceh: 2017, hlm. 97

19
 Sedangkan yang menjadi kekurangan dari model
pembelajaran TGT adalah:14
a) Memakai waktu yang cukup lama.
b) Harus dilakukan secara berkesinambungan.
c) Materi kurang tertanam baik didalam kepala siswa untuk
dihafal atau diingat kembali.
d) Dapat membuat suasana kelas menjadi gaduh jika guru
kurang mampu mengelola kelas dengan baik.
e) Dalam menilai atau menghitung hasil belajar siswa pada
saat tournament guru harus benar-benar melakukan
pengawasan dan pematan dengan teliti dan cermat
sehingga tidak merugikan siswa.

14
Habibati, S.Pd., M.Se., Strategi Belajar Mengajar, Banda Aceh: 2017, hlm. 97

20
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Dari uraian pembahasan materi pembelajaran kooperatif tersebut
dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran
yang menekankan pada aspek kerjasama diantara para anggotanya
dimana didalamnya ada ketergantungan yang positif, interaksi,
akuntabilitas serta keterampilan individu dalam memproses
kelompoknya. Tujuan pembelajaran ini juga disesuaikan bahwa tujuan
pembelajaran adalah untuk memperoleh ilmu dan mendidik anak didik,
maka tujuan pembelajaran kooperatif yaitu meningkatkan hasil belajar
akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan
keterampilan sosial.
Banyak model-model pembelajaran kooperatif namun secara umum
proses pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
 Model pembelajaran STAD
Dalam model pembelajaran STAD guru menyampaikan suatu
materi kemudian para siswa bergabung dalam kelompok yang
ditentukan secara heterogen berdasarkan prestasi siswa yang terdiri
atas empat sampai enam siswa untuk menyelesaikan soal-soal yang
diberikan oleh guru. Setelah itu mereka mengerjakan tes akhir,
kemudian guru bersama siswa menghitung skor perkembangan
individu dan memberikan penghargaan kepada kelompok yang
memperoleh nilai terbesar.
 Model pembelajaran TGT
Teams Games Tournament adalah salah satu tipe pembelajaran
cooperative yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok

21
belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki
kemampuan,jenis kelamin dan suku kata atau ras yang
berbeda.Model ini dikembangkan untuk membantu siswa mengulang
dan menguasai materi pelajaran melalui game akademik.

22
DAFTAR RUJUKAN

Afandi, Muhammad dan Dedy Irawan. 2013. Pembelajaran Kooperatif Tipe


Student TeamsAchievement Division di Sekolah Dasar. Semarang: Unissula
Pers
Buanatiwi.wordpress.com/2013/04/09/model-pembelajaran-cooperative-
learning

Erlita Hidaya Nikmah dkk. 2006.Model Pembelajaran Student Teams


Achievement Divisions (STAD), Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa. 4-3
Esminarto dkk. Implementasi Model STAD dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Siwa. Jurnal Riset dan Konseptua.
Habibati, S.Pd., M.Se., Strategi Belajar Mengajar, Banda Aceh: 2017
Nurdyansyah dan Eni Fariyarul fahyuni.2006. Inovasi Model Pembelajaran.
Sidoarjo: Nizamia Learning Center
Upi Sumedang Press Bekerjasama dengan Prodi Pendidikan Jasmani STKIP
11 April Sumedang, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Jasmani 2017

HASIL POWER POINT

23
M ODE L P E M B E L AJ AR AN
COOP E R AT I VE

Nama Kelompok :
1. Rinata Putri Yuliana
2. Nurul Arba’atin
3. Heny Masithoh

Pengertian:
Pembelajaran suatu strategi belajar mengajar
Cooperative yang menekankan pada sikap
atau perilaku bersama dalam
bekerja atau membantu di antara
Konsep Dasar Pembelajaran sesama dalam struktur kerjasama
Kooperatif yang teratur dalam kelompok,
Dengan pembelajaran kooperatif yang terdiri dari dua orang atau
diharapkan saling menciptakan lebih.
interaksi yang asah, asih, asuh
sehingga tercipta masyarakat belajar
(learning community). Siswa tidak
Ciri-ciri Pembelajaran
hanya terpaku belajar pada guru, Cooperative
tetapi dengan sesama siswa juga. 1.Keterampilan menjalin
2.Hubungan antar pribadi
3. Akuntabilitas individual
Tujuan Pembelajaran Kooperatif 4. Interaksi tatap muka
1. Meningkatkan hasil belajar akademik 5. Saling ketergantungan positif
2. Penerimaan terhadap keragaman
3. Pengembangan ketrampilan social
Keuntungan Menggunakan Model Unsur-unsur Model Pembelajaran
Belajar Kooperatif Kooperatif
Meningkatkan kepekaan dan 1. Positive interdependence
kesetiakawanan social 2. Personal responsibility
Memudahkan siswa melakukan 3. Face to face promotive interaction
4. Interpersonal skill
penyesuaian sosial.dll.
5. Group processing

24
MODEL
Pengertian :
PEMBELAJARAN model STAD ( Student Team Achievement
STAD Division) merupakan variasi pembelajaran
kooperatif yang paling banyak diteliti

Kelebihan STAD
1. Menurut Rusman (2012) Prinsip STAD
berdasarkan karakteristiknya Menurut Roger dan David Johnson
2. Menurut Herdian (2009) model (1) Prinsip ketergantungan positif (positive
pembelajaran STAD interdependence), (2) Interaksi tatap
mempunyai beberapa muka (face to face promotion interaction),
keunggulan (3) Partisipasi dan komunikasi
(participation communication), (4)
Evaluasi proses kelompok

Kelemahan STAD Langkah-langkah Pembelajaran


Kooperatif Model STAD
Soewarso (1998) mengulas
1. Penyampaian Tujuan dan Motivasi
beberapa kendala dan kelemahan 2. Pembagian kelompok
model pembelajaran kooperatif 3. Presentasi dari Guru
tipe STAD 4. Kuis (Evaluasi)
5. Kegiatan Belajar dalam Tim
6. Penghargaan Prestasi Tim

Teams Games Tournament adalah salah


MODEL
satu tipe pembelajaran cooperative yang
PEMBELAJARAN
menempatkan siswa dalam kelompok-
TGT (Teams Games
kelompok belajar yang beranggotakan 5
Tournament)
sampai 6 orang siswa yang memiliki
kemampuan,jenis kelamin dan suku kata
atau ras yang berbeda.

Langkah-Langkah. Tujuan Model Pembelajaran TGT.


1. Guru menyiapkan kartu soal, lembar 1.Meningkatkan Keterampilan-Keterampilan
kerja siswa,alat dan bahan. dari siswa.
2. Siswa dibagi atas beberapa kelompok 2. Meningkatkan interaksi ptif antarsiswa.
yang beranggotakan lima orang. 3. Meningkatkan harga diri siswa.
3. Guru mengarahkan aturan permainan 4. Menimbulkan sikap toleransi pada siswa-
dengan tahap-tahap siswa lain yang berbeda.
4. Dalam satu permainan terdiri dari :
kelompok pembaca, kelompok penentang Keunggulan dan Kekurangan Model
Pembelajaran TGT.
I, kelompok penentang II, dan seterusnya
1. Menurut Istarani (2012) model
sejumlah kelompok yang ada. pembelajaran ini memiliki keunggulan
5. Kelompok pembaca bertugas : Habibati, S.Pd., M.Se.,
6. Kelompok penentang I bertugas 2. Sedangkan yang menjadi kekurangan
7. Sistem perhitungan poin turnamen dari model pembelajaran TGT:
1. Memakai waktu yang cukup lama.
2. Harus dilakukan secara
berkesinambungan.

25