Anda di halaman 1dari 6

Nama : Rizqi Amaliyah

Nim : 2320170052

Matkul : Enterpreneurship-PPKM

1. Menjelaskan pentingnya kepemimpinan bagi seorang wirausaha !


Jawab :
Pentingnya kepemimpinan dalam berwirausaha:
1. Agar dalam pelaksanaan berwirausaha dapat teroganisir dan mencapai tujuan dengan baik.
2. Dalam berwirausaha dibutuhkan sosok yang dapat memimpin dan bertanggung jawab dalam
mengurus atau mengelola suatu usaha.
3. Pemimpin adalah jabatan tertinggi yang memiliki tugas-tugas yang sangat penting dan vital
dalam kewirausahaan, seperti pengambilan keputusan, penanggung jawab tindakan yang
dilakukan bawahannya, dan memberikan wewenang.
4. Bila dalam mengelola suatu usaha tidak ada pemimpin, maka akan terjadui kekacauan dan
kerancuan dalam pembagian tugas yang akan mengakibatkan kebangkrutan.
5. Pemimpin merupakan syarat utama dalam berwirausaha.

2. Menjelaskan perbedaan manajer dan pemimpin !


Jawab :

1) Manajer mengandalkan kontrol dan pemimpin membangun kepercayaan.


Manajer bertindak seperti bos dengan mengendalikan bawahan mereka, dan mengatur tugas-
tugas administrasi. Di sisi lain, para pemimpin memberikan arahan, inovasi, dan menginspirasi.

2) Manajer menjaga fungsi organisasi, dan pemimpin membangun visi bersama.


Setiap organisasi membutuhkan manajer untuk memenuhi target perusahaan. Di sisi lain,
pemimpin perlu memberikan perhatian pada karyawan supaya termotivasi dan terinspirasi.

3) Manajer mengatur sistem, dan pemimpin memimpin orang-orang.


Bagi orang yang lahir pada rentang tahun 1980 -1995 atau bisa disebut generasi Y, perusahaan
seperti Google dan Microsoft sangat ideal bagi mereka. perusahaan tersebut dikenal inovatif dan
mereka memberikan kesempatan untuk pengembangan diri maupun karir. Perusahaan tersebut
fokus pada karyawan dan ide-ide mereka, bukan pada daftar pekerjaan yang harus dilakukan.

4) Manajer membangun tujuan, dan pemimpin membangun visi


Manajer fokus terhadap bagaimana dia mengatur, mengukur, serta mencapai suatu tujuan.
Manajer bertugas memastikan bagaimana tujuan tersebut tercapai. Seorang pemimpin umumnya
memiliki gambaran mengenai capaiannya di kemudian hari serta menginspirasi orang lain untuk
mengubahnya menjadi realita.

RIZQI AMALIYAH- 2320170052


5) Manajer tetap mempertahankan budaya, dan pemimpin berani berinovasi
Manajer tetap mempertahankan pekerjaannya seperti biasa, memperbaiki sistem apabila ada
kekurangan serta mendukung struktur serta proses untuk jadi lebih baik lagi tanpa melakukan
perubahan besar. Pemimpin sering kali mengubah kondisi dengan berinovasi.

6) Manajer meniru orang lain, Pemimpin itu unik


Manajer meniru setiap keahlian serta kepribadian yang mereka pelajari dari orang lain dan
mengadopsi gaya kepemimpinan, bukan membangun hal tersebut dengan sendirinya. Pemimpin
kerap kali suka menjadi dirinya sendiri. Mereka sadar dengan kemampuan serta bekerja sesuai
dengan ideologi yang mereka anut. Pemimpin sangat nyaman menjadi dirinya sendiri dan ingin
tetap selalu menonjol di tengah-tengah tim. Pemimpin tampil apa adanya.

7) Manajer mengontrol resiko, dan Pemimpin berani mengambil resiko


Manajer bekerja untuk meminimalisir risiko yang terjadi. Mereka lebih memilih untuk
menghindari atau setidaknya mengontrol risiko ketimbang harus menghadapi risiko itu sendiri.
Sedangkan Seorang pemimpin selalu ingin mencoba hal yang baru meskipun hal tersebut akan
sangat merugikan ketika gagal dilakukan. Mereka tahu dan paham bahwa kegagalan adalah salah
satu langkah untuk menuju kesuksesan.

8) Manajer berpikir pendek, dan Pemimpin berpikir panjang


Manajer bekerja untuk tujuan jangka pendek. Manajer lebih suka untuk mencari keuntungan
jangka pendek ketimbang harus berpikir terlalu panjang. Dan Pemimpin punya tujuan jangka
panjang. Mereka melakukan apa yang memang mereka rencanakan untuk dilakukan dan tetap
termotivasi oleh rencana besar di masa yang akan datang. Mereka tetap dapat termotivasi
meskipun tidak mendapatkan keuntungan rutin.

3. Menjelaskan teori kepemimpinan awal !


Jawab :
Teori Kepemimpinan

Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan interpretasi
mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan beberapa segi antara lain : Latar
belakang sejarah pemimpin dan Kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban manusia.
Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan dalam setiap masa.

1. Teori-teori dalam Kepemimpinan :


a) Teori Sifat

Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh
sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut
timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh
kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas
seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya.
Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah: –
pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme,
fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan; – sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi

RIZQI AMALIYAH- 2320170052


yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif,
kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif; – kemampuan untuk bertumbuh
dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang
penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu bersifat deskriptif, tidak
selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan
dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan
akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai
pemimpin; justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.

b) Teori Perilaku

Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu
ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal
ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:Perilaku seorang pemimpin yang cenderung
mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela,
mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya
setingkat dirinya.
Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas
organisasi.

Berorientasi kepada bawahan dan produksi perilaku pemimpin yang berorientasi kepada
bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin
pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan
perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki
kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan
penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan. Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model
leadership continuum pada dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan.
Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur
melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan/hubungan
kerja. Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah
fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)

c) Teori Situasional

Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan
dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi
organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor
situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian
(1994:129) adalah :
- Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
- Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
- Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
- Norma yang dianut kelompok;
- Rentang kendali;
- Ancaman dari luar organisasi;
- Tingkat stress;
RIZQI AMALIYAH- 2320170052
4. Menjelaskan teori kepemimpinan kontemporer!
Jawab :

Kepemimpinan Temporer ialah suatu jenis kepemimpinan yang memfokuskan pada kehadiran
fisik oleh pemimpinnya kepada bawahan agar dapat membentuk perilaku nilai-nilai moral tinggi.

TEORI - TEORI 

1. Teori Kepemimpinan
Ada banyak pandangan yang berbeda tentang kepemimpinan karena ada karakteristik
yang membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin. Sementara sebagian besar penelitian
hari ini telah bergeser dari sifat tradisional atau teori berbasis kepribadian ke teori situasi, yang
menentukan bahwa situasi di mana kepemimpinan dilakukan ditentukan oleh keterampilan
kepemimpinan dan karakteristik pemimpin (Avolio, Walumbwa, & Weber, 2009) , semua teori
kontemporer dapat jatuh di bawah salah satu dari tiga perspektif berikut: kepemimpinan sebagai
proses atau hubungan, kepemimpinan sebagai kombinasi dari sifat-sifat atau karakteristik
kepribadian, atau kepemimpinan sebagai perilaku tertentu atau, karena lebih sering disebut,
keterampilan kepemimpinan. Dalam teori kepemimpinan yang lebih dominan, terdapat anggapan
bahwa, setidaknya sampai taraf tertentu, kepemimpinan adalah proses yang melibatkan pengaruh
dengan sekelompok orang terhadap realisasi tujuan (Wolinski, 2010).
Charry (2012), mencatat bahwa minat ilmiah dalam kepemimpinan meningkat secara
signifikan selama bagian awal abad kedua puluh, mengidentifikasi delapan teori kepemimpinan
utama. Sementara yang sebelumnya berfokus pada kualitas yang membedakan pemimpin dari
pengikut, teori kemudian melihat variabel lain termasuk faktor situasional dan tingkat
keterampilan. Meskipun teori-teori baru muncul sepanjang waktu, sebagian besar dapat
diklasifikasikan sebagai salah satu dari delapan tipe utama.

2. Teori "Manusia Luar Biasa"


Teori Manusia Luar Biasa beranggapan bahwa kapasitas untuk kepemimpinan melekat,
bahwa para pemimpin besar dilahirkan, bukan diciptakan. Teori-teori ini sering menggambarkan
para pemimpin sebagai heroik, mistis dan ditakdirkan untuk naik ke kepemimpinan ketika
dibutuhkan. Istilah orang hebat digunakan karena, pada saat itu, kepemimpinan dianggap
terutama sebagai kualitas laki-laki, terutama kepemimpinan militer (Lihat juga, Ololube, 2013).
2.2. Teori Sifat Mirip dalam beberapa hal dengan teori orang hebat, teori sifat mengasumsikan
bahwa orang mewarisi sifat atau sifat tertentu menjadikannya lebih cocok untuk kepemimpinan.
Teori sifat sering mengidentifikasi kepribadian tertentu atau karakteristik perilaku yang dimiliki
oleh para pemimpin. Akan tetapi, banyak orang mulai bertanya tentang teori ini, jika ciri-ciri
tertentu adalah ciri-ciri utama dari pemimpin dan kepemimpinan, bagaimana kita menjelaskan
orang-orang yang memiliki sifat-sifat itu tetapi bukan pemimpin? Ketidakkonsistenan dalam
hubungan antara sifat-sifat kepemimpinan dan keefektifan kepemimpinan akhirnya

RIZQI AMALIYAH- 2320170052


menyebabkan para sarjana mengubah paradigma dalam mencari penjelasan baru untuk
kepemimpinan yang efektif. 

       3. Teori Kontingensi
Teori kontingensi kepemimpinan berfokus pada variabel tertentu yang berkaitan dengan
lingkungan yang mungkin menentukan gaya kepemimpinan mana yang paling cocok untuk
situasi kerja tertentu. Menurut teori ini, tidak ada gaya kepemimpinan tunggal yang sesuai dalam
semua situasi. Keberhasilan tergantung pada sejumlah variabel, termasuk gaya kepemimpinan,
kualitas pengikut dan fitur situasional (Charry, 2012). Faktor kontingensi dengan demikian
adalah kondisi apa pun dalam lingkungan yang relevan untuk dipertimbangkan ketika merancang
suatu organisasi atau salah satu elemennya (Naylor, 1999). Teori kontingensi menyatakan bahwa
kepemimpinan yang efektif tergantung pada tingkat kesesuaian antara kualitas pemimpin dan
gaya kepemimpinan dan yang dituntut oleh situasi tertentu (Lamb, 2013). 

4. Teori Situasional
Teori situasional mengusulkan bahwa pemimpin memilih tindakan terbaik berdasarkan
kondisi situasional atau keadaan. Gaya kepemimpinan yang berbeda mungkin lebih cocok untuk
berbagai jenis pengambilan keputusan. Misalnya, dalam situasi di mana pemimpin diharapkan
menjadi anggota kelompok yang paling berpengetahuan dan berpengalaman, gaya
kepemimpinan otoriter mungkin paling tepat. Dalam kasus lain di mana anggota kelompok
adalah ahli yang terampil dan berharap diperlakukan seperti itu, gaya demokratis mungkin lebih
efektif.

5. Teori Perilaku
Teori-teori perilaku kepemimpinan didasarkan pada keyakinan bahwa pemimpin besar
dibuat, bukan dilahirkan. Teori kepemimpinan ini berfokus pada tindakan pemimpin bukan pada
kualitas intelektual atau keadaan internal. Menurut teori perilaku, orang bisa belajar menjadi
pemimpin melalui pelatihan dan pengamatan. Naylor (1999) mencatat bahwa minat pada
perilaku pemimpin telah dirangsang oleh perbandingan sistematis gaya kepemimpinan otokratis
dan demokratis. Telah diamati bahwa kelompok-kelompok di Kelompok yangbawah tipe
kepemimpinan ini memiliki kinerja yang berbeda: dipimpin secara otokratis akan bekerja
dengan baik selama pemimpin hadir. Namun, anggota kelompok cenderung tidak senang dengan
gaya kepemimpinan dan Kelompok-kelompok yang dipimpin secara
demokratismengekspresikan permusuhan. melakukan hampir sama baiknya dengan kelompok
otokratis. Namun, anggota kelompok memiliki perasaan yang lebih positif, dan tidak ada
permusuhan. Yang paling penting, upaya anggota kelompok berlanjut bahkan ketika pemimpin
tidak ada. 

6. Teori Partisipatif
Teori kepemimpinan partisipatif menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan ideal adalah
gaya yang mempertimbangkan masukan dari orang lain. Pemimpin partisipatif mendorong
partisipasi dan kontribusi dari anggota kelompok dan membantu anggota kelompok untuk
merasa relevan dan berkomitmen pada proses pengambilan keputusan. Seorang manajer yang
menggunakan kepemimpinan partisipatif, daripada membuat semua keputusan, berusaha untuk
melibatkan orang lain, sehingga meningkatkan komitmen dan meningkatkan kolaborasi, yang
mengarah pada keputusan kualitas yang lebih baik dan bisnis yang lebih sukses (Lamb, 2013). 

RIZQI AMALIYAH- 2320170052


7. Teori Transaksional / Manajemen
Teori transaksional, juga dikenal sebagai teori manajemen, fokus pada peran
pengawasan, kinerja organisasi dan kelompok dan pertukaran yang terjadi antara pemimpin dan
pengikut. Teori-teori ini mendasarkan kepemimpinan pada sistem penghargaan dan hukuman
(Charry, 2012). Dengan kata lain, dengan anggapan bahwa tugas seorang pemimpin adalah
menciptakan struktur yang membuatnya sangat jelas apa yang diharapkan dari pengikut dan
konsekuensi (penghargaan dan hukuman) yang terkait dengan memenuhi atau tidak memenuhi
harapan (Lamb, 2013). Ketika karyawan sukses, mereka dihargai dan ketika mereka gagal,
mereka ditegur atau dihukum (Charry, 2012). Teori manajerial atau transaksional sering
disamakan dengan konsep dan praktik manajemen dan terus menjadi komponen yang sangat
umum dari banyak model kepemimpinan dan struktur organisasi (Lamb, 2013). 

8. Teori Hubungan / Transformasional


Teori hubungan, juga dikenal sebagai teori transformasional, fokus pada koneksi yang
terbentuk antara pemimpin dan pengikut. Dalam teori-teori ini, kepemimpinan adalah proses di
mana seseorang terlibat dengan orang lain dan mampu "menciptakan koneksi" yang
menghasilkan peningkatan motivasi dan moralitas di kedua pengikut dan pemimpin. Teori
hubungan sering dibandingkan dengan teori kepemimpinan karismatik di mana para pemimpin
dengan kualitas tertentu, seperti kepercayaan, ekstroversi, dan nilai-nilai yang dinyatakan dengan
jelas, dipandang sebagai yang paling mampu memotivasi pengikut (Lamb, 2013). Hubungan atau
transformasional pemimpin memotivasi dan mengilhami orang-orang dengan membantu anggota
kelompok melihat pentingnya dan kebaikan tugas yang lebih tinggi. Para pemimpin ini berfokus
pada kinerja anggota kelompok, tetapi juga pada setiap orang untuk memenuhi potensinya.
Pemimpin gaya ini sering memiliki standar etika dan moral yang tinggi (Charry, 2012)

9. Teori Keterampilan
Teori ini menyatakan bahwa pengetahuan yang dipelajari dan keterampilan yang
diperoleh / kemampuan adalah faktor signifikan dalam praktik kepemimpinan yang efektif. Teori
ketrampilan sama sekali tidak menolak untuk mengakui hubungan antara sifat-sifat yang
diwariskan dan kapasitas untuk memimpin secara efektif, tetapi berpendapat bahwa keterampilan
yang dipelajari, gaya yang dikembangkan, dan pengetahuan yang diperoleh, adalah kunci nyata
untuk kinerja kepemimpinan. Keyakinan yang kuat dalam teori keterampilan sering menuntut
agar upaya dan sumber daya yang besar dicurahkan untuk pelatihan dan pengembangan
kepemimpinan (Wolinski, 2010).

RIZQI AMALIYAH- 2320170052