Anda di halaman 1dari 25

SAP 12

“AKUNTANSI SOSIAL”
Mata Kuliah: Akuntansi Keperilakuan (EKA 450 B2)
Dosen Pengampu: Ni Putu Sri Harta Mimba, SE.,M.Si.,Ph.D.,Ak,CA,CMA,CIBA,CBV

Kelompok 5:

1. Putu Asri Darsani (1707531074)

2. Dewa Ayu Mirah Satya Dewi (1707531124)

3. Desi Kusuma Dewi (1707531131)

4. Femi Nur’Aini (1707531143)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2019/2020
A. Pengertian
Akuntansi sosial didefinisikan sebagai “penyusunan, pengukuran, dan analisis terhadap
konsekuensi-konsekuensi sosial dan ekonomi dari perilaku yang berkaitan dengan pemerintah
dan wirausahawan”. Dalam hal ini, akuntansi sosial berarti identifikasi, mengukur dan
melaporkan hubungan antara bisnis dan lingkungannya. Lingkungan bisnis meliputi sumber
daya alam, komunitas dimasa bisnis tersebut beroperasi, orang-orang yang dipekerjakan,
pelanggan, pesaing, dan perusahaan serta kelompok lain yang berurusan dengan bisnis
tersebut.

B. Latar Belakang Sejarah 

C. Akuntansi sosial
berkepentingan
dengan identifikasi
dan pengukuran
manfaat sosial
D. dan biaya sosial,
konsep yang biasa
diabaikan oleh para
akuntan tradisional.
Untuk
E. memahami
perkembangan
akuntansi sosial,
seseorang harus
mengetahui
bagaimana manfaat
F. dan biaya sosial
telah diperlakukan
dimasa lalu.
G. Model akuntansi
dasar (baik untuk
tujuan keuangan dan
manajerial)
menggunakan teori
H. ekonomi mikro
untuk menentukan
apa yang harus
dimasukkan atau
dikeluarkan dari
I. perhitungan
akuntansi. Manfaat
dan biaya sosial
karena itu, telah
diabaikan secara
tradisional
J. oleh teoretikus dan
praktisi akuntansi.
K. Akuntansi sosial
berkepentingan
dengan identifikasi
dan pengukuran
manfaat sosial
L. dan biaya sosial,
konsep yang biasa
diabaikan oleh para
akuntan tradisional.
Untuk
M. memahami
perkembangan
akuntansi sosial,
seseorang harus
mengetahui
bagaimana manfaat
N. dan biaya sosial
telah diperlakukan
dimasa lalu.
O. Model akuntansi
dasar (baik untuk
tujuan keuangan dan
manajerial)
menggunakan teori
P. ekonomi mikro
untuk menentukan
apa yang harus
dimasukkan atau
dikeluarkan dari
Q. perhitungan
akuntansi. Manfaat
dan biaya sosial
karena itu, telah
diabaikan secara
tradisional
R. oleh teoretikus dan
praktisi akuntansi.
S. Akuntansi sosial
berkepentingan
dengan identifikasi
dan pengukuran
manfaat sosial
T. dan biaya sosial,
konsep yang biasa
diabaikan oleh para
akuntan tradisional.
Untuk
U. memahami
perkembangan
akuntansi sosial,
seseorang harus
mengetahui
bagaimana manfaat
V. dan biaya sosial
telah diperlakukan
dimasa lalu.
W. Model akuntansi
dasar (baik untuk
tujuan keuangan dan
manajerial)
menggunakan teori
X. ekonomi mikro
untuk menentukan
apa yang harus
dimasukkan atau
dikeluarkan dari
Y. perhitungan
akuntansi. Manfaat
dan biaya sosial
karena itu, telah
diabaikan secara
tradisional
Z. oleh teoretikus dan
praktisi akuntansi.
Pada awal tahun 1900, para ekonom telah mencoba untuk memasukkan manfaat sosial
dan biaya sosial dalam model-model teori ekonomi mikro neo klasik Meskipun mereka
berusaha, manfaat dan biaya sosial dianggap sebagai anomali, dan sebagian besar, diabaikan
oleh mayoritas ekonom. Beberapa gerakan massa pada tahun 1960-an,terutama yang
ditujukan untuk membuat pemerintah dan bisnis lebih responsive terhadap kebutuhan
masyarakat, memiliki andil dalam memfokuskan perhatian pada biaya dan manfaat sosial.
Pada tahun 1960-an terdapat pertumbuhan dalam gerakan lingkungan ketika lebih
banyak orang menyadari dampak dari industrialisasi pada kualitas udara, tanah dan air.
Undang-undang di sahkan untuk melindungi sumber daya alam ini dan mengendalikan
pembuangan limbah beracun. Hukum menetapkan standar untuk emisi polusi dan
mengenakan denda kepada siapa pun yang melanggarnya. Para pelaku bisnis di minta untuk
mengendalikan emisi polusi dan bekerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan dan
menerapkan rencana untuk mengurangi polusi.
Konsumen menjadi lebih tegas pada tahun 1960-an, sehingga menimbulkan gerakan
hak-hak konsumen. Kelompok-kelompok konsumen berusaha untuk membuat para pelaku
bisnis dan produk-produk mereka lebih responsif terhadap kebutuhan konsumen. Usaha-
usaha dilakukan untuk membuat produk-produk yang berbahaya atau tidak sehat diperbaiki
atau ditarik dari pasar. Pesan “teliti sebelum membeli” tidak lagi di anggap sebagai praktik
bisnis normal. Berbagi buku mengenai keselamatan produk dan mutu membantu mendorong
undang-undang perlindungan hak konsumen.

C. Permasalahan Sosial Indonesia


Jika dilihat dari kondisi Indonesia pada saat itu, krisis yang berkepanjangan telah
menempatkan bangsa ini pada krisis multi-dimensi yang mencakup hampir seluruh aspek
kehidupan. Jika dilihat dari sudut pandang aspek ekonomi, sendi-sendi perekonomian
(investasi, produksi, dan distribusi) lumpuh sehingga menimbulkan kebangkrutan dunia
usaha, meningkatnya jumlah pengangguran, menurunnya pendapatan perkapita dan daya beli
masyarakat, dan pada akhirnya bermuara pada meningkatnya angka jumlah penduduk yang
berada dibawah garis kemiskinan.
Krisis ekonomi yang pernah melanda Indonesia mengakibatkan timbulnya berbagai hal
yang tidak pasti, sehingga indikator-indikator ekonomi, seperti tingkat suku bunga, laju
inflasi, fluktuasi nilai tukar rupiah, indeks harga saham gabungan, dan sebagainya sangat
rentan terhadap masalah-masalah sosial. Hal ini membuktikan bahwa aspek sosial dan aspek
politik dapat mengundang sentimen pasar yang bermuara pada instabilitas ekonomi. Kondisi
seperti ini tentunya berdampak sangat buruk  bagi peta bisnis dan iklim investasi di
indonesia, terutama untuk mendapatkan kepercayaan investor asing untuk menanamkan
modalnya di Indonesia. Berikut beberapa contoh permasalahan sosial pada dunia bisnis di
Indonesia yang menggambarkan betapa rentannya dunia usaha terhadap konflik dan berbagai
masalah sosial lainnya.
No. Contoh Kasus Lokasi Permasalahan Sosial
Dihentikan operasinya karena masalah
PT. Inti Indorayon Porsea, Prov. Sumatera
1. lingkungan dan masalah kemasyaratan di
Utama Utara
sekitar industri tersebut.
Lhokseumawe, Aceh Menghentikan kegiatan produksi karena
2. PT. Exxon Mobil
Utara, Prov. DI Aceh. faktor stabilitas ekonomi.
Penarikan distribusi dan penghentian
PT. Ajinamoto
3. Prov. DKI Jakarta aktivitas produksi karena masalah
Indonesia
sertifikasi halal oleh MUI.
Mendapatkan protes dari masyarakat
Beberapa
setempat sehubungan dengan masalah
4. perusahaan kertas Prov. Riau
limbah industri dan pencemaran
di Riau.
lingkungan.
PT. Maspion Sidoarjo, Surabaya, Permasalahan demonstrasi buruh dan
5.
Indonesia Prov. Jawa Timur masalah kesejahteraan karyawan.
PT. Telkom Divre IV, Prov. Jawa Serikat karyawan PT. Telkom menolak
6.
Indonesia Tengah dan  DIY penjualan Divre IV kepada PT. Indosat.
Serikat pekerja menolak divestasi saham
7. PT. BCA Prov. DKI Jakarta
BCA.
Serikat pekerja menolak kembalinya dewan
PT. Kereta Api direksi lama karena dianggap bertanggung
8. Prov. DKI Jakarta
Indonesia jawab atas beberapa kasus kecelakaan
kereta api yang terjadi di Indonesia.
Bank Internasional Tuntunan karyawan atas peningkatan gaji,
9. Prov. DKI Jakarta
Indonesia. upah, dan kesejahteraan pekerja.
Mogok kerja  massal karena karyawan
PT. Gudang Kediri, Prov. Jawa
10. menuntut perbaikan gaji dan kesejahteraan
Garam Timur
pekerja.
D. Tanggapan Perusahaan
Sejak tahun 1960-an, banyak perusahaan lain yang sebelumnya terkenal akan
kepekaannya terhadap kebutuhan sosial menjadi lebih responsif lagi secara sosial.
Manajemen mungkin telah menyadari bahwa perusahaan mereka merupakan bagian dari
komunitas, bahwa agar perusahaan dapat bertahan hidup, komunitas harus menjadi tempat
yang sehat untuk hidup dan bekerja. Di pihak lain, banyak perusahaan dan asosiasi industry
berperang mengikisnya melalui ketidak patuhan, dalam kasus ini, manajemen mungkin
merasa bahwa beberapa dari peraturan tersebut, seperti undang-undang perlindungan
lingkungan, akan memiliki dampak ekonom negatif terhadap perusahaan mereka karena
biaya untuk mematuhi undang-undang tersebut tidak sesuai dengan manfaatnya.
Secara keseluruhan, tingkat tanggung jawab sosial yang diterima oleh
perusahaan memerlukan keputusan yang aktif. Manajemen harus memutuskan seberapa
banyak polusi yang akan dihasilkan dan seberapa banyak yang akan ditingkatkan, dan
seberapa banyak sumbangan yang akan diberikan kepada kegiatan sosial. Jika manajemen
menerima tanggungjawab sosial semata-mata demi laba jangka pendek, tidak mungkin bahwa
suatu perusahaanakan melakukan lebih dari apa yang diharuskan oleh undang-undang.
Filosofi manajerial adalah faktor utama dalam menentukan hubungan suatu bisnis dengan
komunitasnya.

Secara keseluruhan,
tingkat tanggung
jawab sosial yang
diteriama oleh
perusahaan
memerlukan keputusan
yang aktif. Manajemen
harus memutuskan
seberapa banyak polusi
yang akan dihasilkan
dan seberapa banyak
yang akan ditingkatkan,
dan seberapa banyak
sumbangan yang akan
diberikan kepada
kegiatan sosial. Jika
manajemen menerima
tanggung
jawab sosial semata-
mata demi laba jangka
pendek, tidak mungkin
bahwa suatu
perusahaan
akan melakukan lebih
dari apa yang
diharuskan oleh
undang-undang. Filosofi
manajerial
adalah faktor utama
dalam menentukan
hubungan suatu bisnis
dengan komunitasnya.
Secara keseluruhan,
tingkat tanggung
jawab sosial yang
diteriama oleh
perusahaan
memerlukan keputusan
yang aktif. Manajemen
harus memutuskan
seberapa banyak polusi
yang akan dihasilkan
dan seberapa banyak
yang akan ditingkatkan,
dan seberapa banyak
sumbangan yang akan
diberikan kepada
kegiatan sosial. Jika
manajemen menerima
tanggung
jawab sosial semata-
mata demi laba jangka
pendek, tidak mungkin
bahwa suatu
perusahaan
akan melakukan lebih
dari apa yang
diharuskan oleh
undang-undang. Filosofi
manajerial
adalah faktor utama
dalam menentukan
hubungan suatu bisnis
dengan komunitasnya.
Tanggapan Profesi Akuntan
Walaupun para akademisi dan praktisi akuntansi telah membahas bagamana profesi
mereka dapat memberikan kontribusi pada tangung jawab sosial perusahaan sebelum
terjadinya gerakan pada tahun 1960-an. Kemajuan utama dalam bidang ini di buat sejak
akhir tahun 1960-an dengan di berlakunya undang-undang yang menetapkan program
-program sosial pemerintah, beberapa akuntan merasa bahwa mereka sebaiknya
menggunakan keahlian mereka untuk mengukur efektivitas dari program tersebut. Lebih
lanjut lagi, sesorang perlu mengukur tingkat respons perusahaan terhadap keprihatinan yang
di suarakan pada tahun 1960-an. Dengan demikian lahirlah akuntansi sosial.
Secara ringkas, literatur awal dari akuntansi sosial menyatakan bahwa para akuntan
diperlukan untuk menghasilkan data mengenai tanggung jawab perusahaan dan bahwa ada
pihak-pihak lain yang berkepentingan (selain perusahaan) yang akan tertarik dengan data-
data ini. Selanjutnya, literatur tersebut mengembankan suatu kerangka kerja teoritis untuk
akuntansi sosial, termasuk skema pelaporan dan audit sosial aktual. Meskipun terdapat
pekerjaan utama dalam identifikasi dan pelaporan data akuntansi sosial, bidang-bidang
tersebut masih berada dalam tahap sangat awal. Akuntansi sosial tidak diterima secara
universal sebagai suatu bidang oleh para akademisi atau praktisi, dan tidak semua orang
percaya bahwa perusahaan harus menghasilkan data akuntansi sosial. Masih banyak yang
sedang ditulis untuk membenarkan keberadaan akuntansi sosial.

E. Akuntansi untuk Manfaat dan Biaya Sosial


Dasar bagi kebanyakan teori akuntansi sosial datang dari analisis yang dilakukan oleh
A.C. Pigou terhadap biaya dan manfaat sosial. A.C. Pigou adalah seorang ekonom neo-klasik
yang memperkenalkan pemikiran mengenai biaya dan manfaat sosial kedalam ekonomi
mikro pada tahun 1920. Titik pentingnya adalah bahwa optimalitas Pareto (titik dalam
ekonomi kesejahteraan dimana adalah mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang
tanpa mengurangi kesejahteraan dari orang lain) tidak dapat dicapai selama produk sosial
neto dan produk pribadi neto tidak setara.
Suatu analisis yang serupa dapat dibuat dalam hal biaya. Bagi Pigou, biaya sosial terdiri
atas seluruh biaya untuk menghasilkan suatu produk, tanpa mempedulikan siapa yang
membayarnya. Biaya yang di bayarkan oleh produsen disebut sebagai biaya pribadi. Selisih
antara biaya sosial dan biaya pribadi (disebut sebagai biaya sosial yang tidak
dikompensasikan) dan disebabkan oleh banyak faktor.
Menurut Pigou, optimalitas Pareto hanya dapat dicapai jika manfaat sosial marginal
sama dengan biaya sosial marginal. Perbedaan antara Pigou dengan model ekonomi
tradisional- dimana pendapatan marginal setara dengan biaya marginal berasal dari perbedaan
antara manfaat sosial dan pribadi dengan biaya sosial dan pribadi. Dengan demikian, ketika
akuntan mengukur manfaat pribadi (pendapatan) dan biaya pribadi (beban) serta
mengabaikan yang lainnya, mereka bersikap konsisten dengan teori ekonomi tradisional.
Gerakan kearah akuntansi sosial, sebagian besar terdiri dari usaha-usaha untuk memasukkan
biaya sosial dan biaya sosial yang tidak terbagi kedalam model akuntansi.
1) Teori Akuntansi Sosial
Berdasarkan analisis Pigou dan gagasan mengenai suatu “kontrak sosial”,
K.V.Ramanathan (1976) mengembangkan suatu kerangka kerja teoritis untuk akuntansi
atas biaya dan manfaat sosial. Ramanthan pada dasarnya menggunakan istilah Pigou
bahwa manfaat sosial sebaiknya melampaui biaya sosial dan oleh karena itu perusahaan
sebaiknya memberikan kontribusi neto kepada masyarakat. Ia yakin bahwa akuntan
sebaiknya mengukur kontribusi historis neto (yang merupakan analogi dari neraca) dan
kontribusi tahunan neto dari suatu perusahaan kepada masyarakat.
Terdapat dua masalah utama dengan pendekatan Ramanathan. Pertama, untuk
menentukan kontribusi neto kepada masyarakat, beberapa jenis sistem nilai harus
ditentukan. Bagaimana entitas tersebut menentukan apa yang merupakan kontribusi
atau apa yang merupakan kerugian bagi masyarakat?. Beberapa kerugian seperti polusi
secara universal dibenci dan memasukkannya dalam suatu laporan akuntansi dapat
dibenarkan dengan relatif mudah. Suatu argumen dapat dibuat bahwa demi konsistensi,
perusahaan sebaiknya mencoba untuk mengembangkan laporan kontribusi sosial
berdasarkan nilai-nilai manajemen atau membiarkan pihak luar untuk melakukan audit
sosial. Masalah utama kedua berkaitan dengan pengukuran dimana sulit untuk
menguantifikasi jumlah pos yang akan dimasukkan dalam laporan kontribusi neto
kepada masyarakat.
2) Pengukuran
Salah satu alasan utama dari lambatnya kemajuan akuntansi sosial adalah kesulitan
dalam mengukur kontribusi dan kerugian. Proses tersebut terdiri atas tiga langkah,
yaitu:
a. Menentukan apa yang menyusun biaya dan manfaat sosial.
b. Mencoba untuk menguantifikasi seluruh pos yang relevan.
c. Menempatkan nilai moneter pada jumlah akhir.
3) Menetukan Biaya dan Manfaat Sosial
Para penganut paham Pigou akan mendefinisikan biaya sosial yang tidak
dikompensasikan sebagai seluruh kerugian yang diderita oleh manusia sebagai akibat
dari aktivitas-aktivitas ekonomi yang dimana mereka tidak diberikan kompensasi secara
penuh. Sebagai contoh polusi udara dari suatu pabrik kertas yang menimbulkan dampak
berbahaya terhadap kesehatan orang-orang yang tinggal di dekat pabrik tersebut
merupakan suatu kerugian.
Sistem nilai masyarakat merupakan faktor penentu penting dari manfaat dan biaya
sosial. Dengan asumsi bahwa masalah nilai dapat diatasi dengan menggunakan
beberapa jenis standar masyarakat, masalah berikutnya adalah mengidentifikasikan
kontribusi dan kerugian secara spesifik. Dalam studi pengungkapan sosial yang
dilakukan oleh Ernst & Ernst (1978) ditemukan bahwa pengungkapan tersebut
berkaitan dengan lingkungan, energi, praktik bisnis yang adil, sumber daya manusia,
keterlibatan komunitas, dan produk.
Cara lain untuk mengidentifikasi asal dari biaya dan manfaat sosial adalah dengan
memeriksa proses distribusi dan produksi perusahaan individual guna mengidentifikasi
bagaimana kerugian dan kontribusi serta menentukan bagaimana hal itu terjadi. Jika
satu bagian dari proses produksidan distribusi diperiksa – mungkin ditemukan produk
sampingan yang negatif diciptakan bersama-sama dengan produk yang berguna. Pada
titik ini dalam proses produksi biaya sosial kemungkinan besar akan muncul mengarah
pada dampak negatif yang tidak dikompensasikan terhadap umat manusia.
4) Kuantifikasi terhadap Biaya dan Manfaat
Ketika aktivitas menimbulkan biaya dan manfaat sosial ditentukan dan kerugian
kontribusi tertentu diidentifikasikan, maka dampak pada manusia dapat dihitung.
Dampak tersebut dapat digolongkan sebagai dampak langsung atau tidak langsung yang
dapat mengakibatkan kerugian berupa hilangnya sumber makanan potensial, hilangnya
kesempatan untuk berekreasi, dan konsekuensi estetika yang negatif. Untuk mengukur
kerugian yang sebenarnya, kehilangan yang dialami orang-orang sebagai akibat dari
peritiwa-peristiwa tersebut harus dihitung. Walaupun perhitungan ini dapat dilakukan
pada beberapa kasus, kering kali sulit untuk memberikan lebih dari sekedar estimasi
kasar atau ukuran pengganti. Untuk mengukur suatu kerugian dibutuhkan informasi
mengenai variabel-variabel utama, yaitu:
a. Waktu
Beberapa peristiwa yang menghasilkan biaya sosial membutuhkan waktu
beberapa tahun untuk menimbulkan suatu akibat. Hal ini berlaku ketika membahas
menganai dampak polusi, salah alokasi sumber daya, penyakit akibat pekerjaan,
dan peristiwa lainnya. Periode waktu antara paparan awal dengan peristiwa yang
menimbulkan kerugian serta manifestasi dari dampak yang buruk disebut dengan
periode “persiapan”. Dalam hal pengukuran, penting untuk menentukan lamanya
waktu tersebut. Dampak jangka panjang diberikan bobot yang berbeda dengan
dampak jangka pendek.
b. Dampak
Orang-orang dapat dipengaruhi secara ekonomi, fisik, psikologis, dan sosial
oleh beberapa kerugian. Untuk mengukur biaya sosial tersebut perlu untuk
mengidentifikasikan kerugian-kerugian tersebut dan menguantifikasikanya dari
perspektif masyarakat. Oleh karena itu, kerugian adalah dampak dari biaya terkena
penyakit terkait pekerjaan dikurangi kompensasi apapun yang diperoleh pekerja
dari perusahaan. Biaya tersebut diklasifikasikan sebagai:
1. Biaya Ekonomi merupakan biaya-biaya yang meliputi tagiahan pengobatan
dan rumah sakit yang tidak dikompensasikan, hilangnya produktivitas, dan
hilangnya pendapatan yang diderita oleh pekerja. Perhitungan ganda atas
hilangnya pendapatan dan produktivitas harus dihindari, oleh karena itu beban
ini harus didiskontokan pada tingkat bunga yang sesuai ke nilai sekarang.
2. Kerugian Fisik merupakan para pekerja yang terkena penyakit yang berkaitan
dengan pekerjaan. Menghitung nilai kehidupan atau kesehatan manusia
merupakan hal yang sulit untuk dilakukan, tetapi sering kali dicoba dalam
analisis biaya dan manfaat tradisional. Kerugian-kerugian ini juga harus
didiskontokan untuk mempertimbangkan periode persiapan yang panjang.
3. Kerugian Psikologis terjadi ketika pekerja merasa tidak cukup dan menjadi
sedih karena kehilangan peran sebagai penghasil pendapatan dalam keluaraga,
tidak mampu melakukan aktivitas fisik, dan mengetahui kematian dapat terjadi
segera. Kerugian-kerugian ini juga sulit dikuantifikasikan dan harus
didiskontokan pada tngkat bunga yang sesuai.
4. Kerugian Sosial terjadi ketika dalam sebuah keluarga terjadi perubahan peran
akibat penyakit tersebut. Keluarga tersebut dapat menjadi trauma, sehingga
terjadi perpecahan dan berbagai konsekuensi sosial negatif lainnya. Nilai
sekarang dari seluruh dampak tersebut harus dihitung.
Total kerugian akibat bekerja adalah total dari seluruh kerugian di atas bagi
seluruh pekerja dikalikan dengan probabilitas pekerja yang terkena penyakit terkait
pekerjaan. Tentu saja, hal ini bukanlah perhitungan yang mudah. Kesulitan untuk
mengukur kontribusi atau kerugian yang sebenarnya dari suatu aktivitas sering kali
mengarahkan orang untuk mengukur apa yang mudah untuk dikuantifikasi dan
menggunakan angka tersebut sebagai pengganti dari biaya atau manfaat yang
sebenarnya. Sayangnya, perhitungan ini mungkin tidak terkait dengan biaya
sebernarnya, sehingga keputusan yang didasarkan pada informasi ini mungkin
bersifat suboptimal.

F. Pelaporan Kinerja Sosial


Kerangka kerja akuntansi sosial belum secara penuh dikembangkan dan terdapat
masalah pengukuran yang serius mengenai biaya dan manfaat. Meskipun demikian, sejumlah
penulis telah menyarankan agar perusahaan melaporakan kinerja akuntansi baik secara
internal maupun eksternal. Berbagai pendekatan-pendekatan pelaporan tersebut meliputi:
1) Audit Sosial
Audit sosial bermanfaat bagi perusahaan dengan membuat para manajer menyadari
konsekuensi sosial dari beberapa tindakan mereka. Audit semacam itu dapat
menyebabkan manajer mencoba untuk memperbaiki kinerja mereka dalam bidang-
bidang sosial dengan cara mengembangkan rencana kinerja sosial dan ukuran kinerja
yang didasarkan pada rencana itu.
Audit sosial serupa dengan audit keuangan dalam hal bahwa audit sosial mencoba
untuk secara independen menganalisis suatu perusahaan dan menilai kinerja, namun
terdapat suatu perbedaan utama mengenai apa yang dianalisis. Dalam audit sosial,
auditor memeriksa operasi untuk menilai kinerja sosial dari suatu perusahaan dan bukan
kinerja keuangannya. Oleh karena itu, disarankan bahwa akuntan melakukan audit
social satu tim dengan ilmuan social.
Setelah audit sosial diselesaikan, perusahaan harus memutuskan apakah akan
mengunformasikannya ke publik atau tidak. Kebanyakan perusahaan menganggap audit
sosial sebagai dokumen internal dan merahasiakan hasilnya.
2) Laporan-laporan Sosial
David Linowes telah mengembangkan Laporan Operasi Sosio-Ekonomi untuk
digunakan sebagai dasar untuk melaporkan informasi akuntansi sosial dengan membagi
laporanya kedalam tiga kategori, yaitu: 1) hubungan dengan manusia, 2) hubungan
dengan lingkungan, 3) hubungan dengan produk. Pada setiap kategri, ia membuat daftar
mengenai kontribusi sukarela perusahaan dan kemudian mengurangkannya dengan
kerugian yang disebabkan oleh aktivitas perusahaan.
Ralph Etes mengembangkan suatu model menggunakan perspektif Pigou mengenai
manfaat dan biaya sosial. Ia menghitung manfaat sosial sebagai seluruh kontribusi
kepada masyarakat yang berasal dari perusahaan. Biaya sosial dikurangi manfaat sosial
untuk memperoleh manfaat atau biaya neto.
3) Pengungkapan dalam Laporan Tahunan
Banyak perusahaan menerbitkan laporan tahunan kepada pemegang saham yang
berisi beberapa informasi sosial. Ernst & Ernst melakukan suatu survei atas
pengungkapan sosial yang dibuat oleh 500 perusahaan industri terkenal dalam laporan
tahunannya dari tahun 1971 sampai tahun 1978. Ditemukan bahwa secara umum,
jumlah perusahaan yang mengungkapkan informasi sosial dan jumlah pengungkapan
meningkat dengan stabil. Sekitar 90 persen dari perusahaan yang termasuk dalam
laporan tahun 1978 telah membuat suatu bentuk pengungkapan sosial. Akan tetapi,
karena kebanyakan informasi sosial yang diungkapkan oleh perusahaan dalam laporan
tahunan bersifat sukarela dan selektif, dapat diargumentasikan bahwa informasi
tersebut memiliki nilai yang dipertanyakan dan seseorang tidak dapat menilai kinerja
sosial dari perusahaan tersebut berdasarkan laporan tahunannya.
Sementara itu, untuk melihat praktik-praktik pengungkapan sosial dalam laporan
tahunan dari perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih lanjut lagi, para peneliti
akuntansi telah melakukan bebagai riset mengenai hal ini. Riset yang dilakukan Utomo
(2000) mengenai praktik-praktik pengungkapan sosial pada laporan tahunan perusahaan
terhadap 81 perusahaan publik (terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek
Surabaya direktori tahun 1998 menemukan bahwa perusahaan lebih banyak
mengungkapkan tema ketenagakerjaan (29,87%) dibandingkan dengan tema produk
dan konsumen (20,74%) maupun tema kemasyarakatan (13,21%). Henny dan Murtanto
(2001) dalam risetnya juga menemukan hal yang sama mengenai praktik pengungkapan
sosial pada laporan tahunan dari perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.
Untuk mengetahui lebih rinci mengenai informasi sosial yang diungkapkan dalam
laporan tahunan dari perusahaan-perusahaan di Indonesia diuraikan pada tabel-tabel
berikut ini:
Pengungkapan Sosial Tema Masyarakat

No Pos Pengungkapan Aspek Sosial


.
1. Dukungan terhadap kegiatan sosial budaya (pameran, pagelaran, seni, dan
lain-lain).
2. Dukungan terhadap kegiatan olahraga (termasuk menjadi sponsor).
3. Dukungan terhadap dunia anak (pendidikan).
4. Partisipasi terhadap kegiatan di sekitar kantor atau pabrik (perayaan hari
besar).
5. Dukungan terhadap lembaga kerohanian (Dwan Masjid, Bazis, dan lain-
lain).
6. Dukungan terhadap lembaga pendidikan (termasuk beasiswa, kesempatan
magang, dan kesempatan riset).
7. Dukungan terhadap lembaga sosial lainnya.
8. Fasilitas sosial dan fasilitas umum.
9. Prioritas lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar (termasuk pemberian
fasilitas dan motivasi oleh perusahaan untuk berwirausaha bagi masyarakat
di sekitar industri tersebut).
Pengungkapan Sosial Tema Konsumen

No Pos Pengungkapan Aspek Sosial


.
1. Mutu atau kualitas produk.
2. Penghargaan kualitas (termasuk sertifikasi kualitas, sertifikasi halal,
penghargaan, dan seterusnya).
3. Kepuasan konsumen (upaya-upaya meningkatkan kepuasan konsumen).
4. Masalah komputer (Y2K).
5. Iklan yang terlalu mengeksploitasi dan membohongi konsumen.
6. Spesifikasi produk, umur produk, dan masa berlaku produk

Pengungkapan Sosial Tema Tenaga Kerja

No Pos Pengungkapan Aspek Sosial


.
1. Jumlah tenaga kerja.
2. Keselamatan kerja (kebijakan dan fasilitas keselamatan kerja).
3. Kesehatan (termasuk fasilitas dokter dan poliklinik perusahaan).
4. Koperasi karyawan.
5. Gaji/upah.
6. Tunjangan dan kesejahteraan lain (termasuk UMR, bantuan masa kriris
untuk keluarga karyawan, asuransi dan fasilitas tansportasi).
7. Pendidikan dan latihan (termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi).
8. Kesetaqraan gender dalam kesempatan kerja dan karier.
9. Fasilitad peribadatan (termasuk fasilitas peribadatan dan peringatan hari
besar agama) di lingkungan perusahaan.
10. Cuti karyawan (termasuk cuti yang diperlukan pekerja wanita).
11. Pensiu (termasuk pembentukan atau pemiliham yayasan dana pension).
12. Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) dan Serikat Pekerja.
13. Tingkat perputaran pekerja (termasuk pengurangan kerja da perekrutan).
Riset-riset tersebut juga menyimpulkan bahwa pengungkapan sosial oleh
perusahaan-perusahaan di Indonesia relative masih sangat rendah. Padahal sebenernya
terdapat dua aspek penting yang sering dijadikan bahan analisis oleh para investor
dalam pengambilan keputusan investasinya. Kedua faktor tersebut adalah faktor teknis
dan faktor fundamental. Perbedaan yang lebih jelas antara kedua faktor tersebut adalah:

Contoh faktor teknis Contoh faktor fundamental


Faktor regional, misalnya penurunan suku Terbitnya laporan keuangan
bunga Bank Sentral AS. perusahaan.
Faktor politik, misalnya penanganan kasus Rapat umum pemegang saham.
pengadilan yang melibatkan tokoh publik.
Faktor sosial budaya, misalnya Kongres Manajemen.
Papua Merdeka.
Faktor keamanan, misalnya huru-hara. Kinerja.

Riset-riset yang dilakukan di luar negeri membuktikan bahwa pengungkapan sosial


perusahaan sudah menjadi hal yang lazim dilaksanakan. Temuan-temuan lainnya
adalah bahwa perusahaan besar lebih banyak menungkapkan informasi sosialnya
dibandingkan dengan perusahaan kecil.
4) Perkembangan Luar Negeri
Perusahaan-perusahaan Eropa sudah mempelopori pengungkapan informasi sosial,
baik dalam laporan khusus maupun laporan tahunan. Prancis, misalnya telah
mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan perusahaan-perusahaan dengan
jumlah karyawan yang banyak untuk melaporkan pos-pos hubungan karyawan. Terlibat
dalam laporan-laporan ini adalah :
1. Laporan kerja
2. Gaji dan perubahan sosial
3. Kesehatan dan jaminan kerja
4. Kondisi kerja lainnya
5. Pelatihan
6. Hubungan industri
7. Pengaturan sosial lainnya yang relevan.
Bentuk pelaporan model Eropa yang telah digunakan sejumlah perusahaan adalah
bentuk yang dikembangkan serta digunakan oleh Deutsche Shell (perusahaan minyak
Shell di Jerman). Serupa dengan laporan dari perusahaan-perusahaan di Prancis,
laporan Deutsche Shell menekankan pada hunbungan perusahaan dengan karyawannya.
Laporan Deutsche Shell berisi beberapa pos yang tidak umum. Selain laporan
keuangan yang umum, terdapat akun-akun sosial dan laporan nilai tambah, yang
keduanya berkaitan dengan kontribusi perusahaan terhadap masyarakat. Laporan akun-
akun sosial melaporkan aktivitas-aktivitas perusahaan yang mempengaruhi para
pemangku kepentingan perusahaan, seperti karyawan, investor, dll. Dengan
menekankan pada hubungan perusahaan dengan pemangku kepentingannya, laporan
tahunan Deutsche Shell memberikan dimensi baru bagi pelaporan keuangan.
Laporan nilai tambah dimaksudkan untuk menjelaskan peningkatan nilai yang
dikontribusikan perusahaan kepada masyarakat dengan cara mengahasilkan produk atau
jasanya. Salah satu bagian dari laporan tersebut menjelaskan sumber-sumber nilai dari
perusahaan, termasuk pendapatan penjualan, perubahan dalam persediaan, dan aktiva
yang dibangun sendiri. Bagian lainnya menjelaskan bagaimana nilai tersebut
didistribusikan kepada para pemangku kepentingan perusahaan. Serupa dengan laporan
akun-akun sosial, perusahaan mengambil pos-pos dari laporan lainnya dan
memasukkannya ke dalam laporan nilai tambah.
G. Arah Riset
Riset dalam akuntansi sosial telah cukup ekstensif dan berfokus pada berbagai subjek
yang berkisar dari pengembangan kerangka kerja teoritis sampai menyurvei pengguna
potensial dari data akuntansi sosial. Akan tetapi, riset akademis saat ini terutama berkaitan
dengan kegunaan dari data akuntansi sosial bagi investor.
Studi mengenai kegunaan informasi sosial bagi investor dapat dibagi menjadi dua
bidang utama, yaitu:
1. Survei atas investor potensial
2. Pengujian empiris terhadap dampak pasar dari pengungkapan akuntansi sosial.
Survei atas investor belum menghasilkan laporan apapun yang bersifat konklusif mengenai
kebutuhan akan informasi akuntansi sosial. Beberapa investor tampak tertarik terhadap
aspek-aspek tertentu dari informasi akuntansi sosial, tetapi sebagian yang lain tidak. Studi
mengenai reaksi pasar modal terhadap pengugkapan informasi sosial menyarankan agar
investor menyesuaikan perkiraan mereka terhadap pengungkapan informasi akuntansi sosial.
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan. 2011. Akuntansi Keprilakuan Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.