Anda di halaman 1dari 28

TUGAS MATA KULIAH MANUSIA MASYARAKAT DAN BUDAYA

MANUSIA DENGAN KERAGAMAN SOSIAL, BUDAYA DAN PERADABANNYA.

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS MATA KULIAH

DOSEN PENGAMPU : DR. H. NANO SUKMANA, DRS., M.PD.

SARLI SAHAL., M.PD. I.

NAMA : AGIL AMALIA PUTRI

NPM : 41154030190033

KELAS : A02

PENDIDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LANGLANGBUANA

2019/2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dewasa ini, kebudayaan nasional Indonesia masih dalam masa pertumbuhan
karena kebudayaan Indonesia masih terdiri atas segala bentuk dan jenis kebudayaan
daerah yang dikembangkan kearah perpaduan dan kesatuan kebudayaan untuk seluruh
bangsa Indonesia. Sebagai bahan untuk membangun kebudayaan nasional Indonesia,
perlu segala inti sari serta puncak-puncak kebudayaan daerah yang terdapat diseluruh
Indonesia yang dipergunakan sebagai modal isi yang dikemudian dikembangkan,
diperkaya dengan unsur-unsur baru yang kita perlukan dan kita butuhkan, untuk
kehidupan dan pembangunan dewasa ini yang sejalan dengan tujuan pembangunan
nasional.

Namun pada kenyataannya, Nilai-nilai budaya Indonesia saat ini mulai terkikis
oleh masuknya budaya asing. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku budaya perlahan
meninggalkan budaya tradisional dengan alasan mengikuti arus globalisasi. Akibatnya,
bangsa Indonesia kehilangan ciri atau citra bangsa di mata dunia. Ungkapan bangsa yang
besar adalah bangsa yang menghargai budayanya, namun hal tersebut tidak berlaku di
Indonesia. Kenyataannya, bangsa Indonesia lebih suka mengadopsi budaya asing
daripada mempertahankan budaya tradisional.

Budaya memiliki banyak arti yang berkaitan dengan suatu bangsa. Budaya bisa
berarti akal budi atau pikiran. Akal budi bangsa Indonesia mulai luntur seiring dengan
terkikisnya nilai budaya. Nilai budaya yang makin terkikis berdampak pada generasi
muda. Sejarah berdirinya Indonesia dikhawatirkan akan menjadi cerita usang yang tidak
menarik di kalangan generasi muda.

Oleh sebab itu, perlu usaha untuk memajukan kebudayaan sehingga diharapkan
segala bentuk kebudayaan haruslah bertujuan memajukan peradaban, kebudayaan, dan
persatuan Indonesia dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang
dapat memperkembangkan atau memperkaya budaya bangsa sendiri sehingga dapat
mempertinggi derajat dan martabat bangsa Indonesia.

Berdasarkan paparan diatas akan dibahas lebih jauh mengenai seluk beluk
kebudayaan dalam makalah ini yang berjudul “Manusia dengan Keragaman Sosial,
Budaya, dan Peradaban”. Namun yang lebih ditekankan dalam pembahasan mengenai
pengaruh budaya asing terhadap budaya daerah, baik yang berdampak buruk ataupun
berdampak baik bagi perkembangan budaya daerah dan diulas beberapa solusi untuk
menangani dampak buruk dari pengaruh budaya asing tersebut.

B. Identifikasi Masalah
Makalah ini dibatasi pada permasalahan pengaruh kebudayaan asing terhadap
kebudayaan daerah di Indonesia. Kebudayaan khas Indonesia yang mulai luntur dan
tergerus oleh budaya baru dapat mempengaruhi keutuhan bangsa. Moral luhur sebagai
bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai hilang tergantikan dengan sikap modern yang
kurang cocok dengan kepribadian bangsa. Ini diakibatkan karena kurang tersaringnya
budaya asing yang masuk pada bangsa ini.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah
dipaparkan, maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi masuk pengaruh kebudayaan asing
terhadap kebudayaan daerah di Indonesia?
2. Bagamana solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut?

D. Pendekatan dan Metode


Pendekatan yang dilakukan dalam pemecahan masalah ini adalah pendekatan
multiaspek. Dalam pemecahannya, digunakan beberapa sudut pandang yang relevan dan
berpengaruh penting untuk bisa menyelesaikan permasalahan yang ada.
Metode yang digunakan dalam pemecahan masalah ini adalah metode kuantitatif.
Data dari metode kuantitatif didapat dari penyebaran angket pada beberapa responden di
sekitar kampus, meskipun bersifat terbatas dan hanya beberapa sampel tetapi data yang
diperoleh cukup mewakili dan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu kami
melakukan kajian pustaka untuk mendukung dalam penyelesaian masalah yang sedang
kami angkat.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan
dalam kehidupan. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan
kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun-menurun. Budaya
tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian-kejadian yang sudah diatur oleh
Yang Maha Kuasa.

Manusia adalah makhluk berbudaya. Berbudaya merupakan kelebihan manusia


dibanding makhluk lain. Dengan berbudaya, manusia dapat memenuhi kebutuhan dan
menjawab tantangan hidupnya. Manusia menggunakan akal dan budinya dalam
berbudaya. Kebudayaan merupakan perangkat yang ampuh dalam sejarah kehidupan
manusia yang dapat berkembang dan dikembangkan melalui sikap-sikap budaya yang
mampu mendukungnya.
1. Pengertian Dan Wujud Kebudayaan
a) Pengertian Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu
buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal)
diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki


bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk
sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian,
bangunan, dan karya seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh
yang bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Berikut pandangan para ahli
mengenai kebudayaan.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun
temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian
disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan
pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta
keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain,
tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang
menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan
keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat
seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan
adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai


kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan
meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga
dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

b) Perwujudan Kebudayaaan
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi
tiga yaitu gagasan, aktivitas, dan artefak.
Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang
berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma,
peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak, tidak dapat
diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam
kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika
masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam
bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada
dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga
masyarakat tersebut.
Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan
berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula
disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-
aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak,
serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu
yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi
dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan
didokumentasikan.
Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil
dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam
masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba,
dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara
ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan
bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa
dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh
wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada
tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

2. Sistem, Unsur, dan Substansi Budaya


b) Sistem Budaya
Sistem kebudayaan merupakan komponen dari kebudayaan yang
bersifat abstrak dan terdiri dari pikiran-pikiran, gagasan, konsep, serta
keyakinan. Dengan demikian sistem kebudayaan merupakan bagian dari
kebudayaan, yang dalam bahasa Indonesia disebut adat istiadat. Dalam
adat istiadat terdapat juga sistem norma dan disitulah salah satu fungsi
sistem budaya adalah menata serta menciptakan tindakan-tindakan dan
tingkah laku manusia.

Sistem kebudayaan suatu daerah akan menghasilkan jenis-jenis


kebudayaan yang berbeda. Jenis kebudayaaan ini dapat dikelompokan ke
dalam 2 yaitu kebudayaan material dan kebudayaan non formal.

Kebudayaan material antara lain hasil cipta, karsa, yang berwujud


benda, barang alat, pengelolaan alam. Seperti gedung, pabrik, jalan,
rumah, dan sebagainya. Sedangkan kebudayaan non formal hasil karsa
yang berwujud kebiasaan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan
sebagainya. Macam-macam bagian dari kebudayaan non material antara
lain.
Cara (usage)
Cara adalah proses interaksi yang terus menerus akan
menghasilkan pola-pola tertentu. Norma yang disebut cara
mempunyai kekuatan yang lemah dibanding dengan norma lain.
Pelanggaran dari norma ini hanya disebut tidak sopan, misal
bersendawa, berdecak, dan sebagainya.
Kebiasaan (Volksway)
Kebiasaan adalah proses yang diulang-ulang dalam bentuk
yang sama, merupakan cermin bahwa orang tersebut menyukai
perbuatannya. Pelanggaran terhadap norma ini berupa teguran
atau sindiran. Contoh dari kebiasaan adalah menghormati orang
tua, bertutur sopa, memberi salam, dan lain- lain.
Norma tata kelakuan (Mores)
Mores adalah aturan yang berlandaskan pada apa yang
baik dan seharusnya menurut agama, filsafat atau nilai
kebudayaan. Pelanggaran terhadap mores akan disebut jahat.
Contoh mores membunuh, mencuri, melecehkan lawan jenis.
Mores merupakan norma berat karena sanksinya pun berat.
Norma adat istiadat (custom)
Tata kelakuan yang kekal dan kuat integritasnya dengan
pola-pola perilaku masyarakat dapat mengikat dan membentuk
adat istiadat. Anggota yang melanggar adat istiadat akan
mendapat sangsi yang berat dari lingkungan berupa pengucilan.
Norma hukum (law)
Laws adalah suatu rangkaian yang ditujukan pada anggota
masyarakat yang berisi ketentuan-ketentuan, perintah, kewajiban,
dan larangan agar dalam masyarakat tercipta keamanan,
ketertiban juga keadilan. Aturan ini lazimnya tertulis dan dijadikan
sebagai undang-undang, atau tidak tertulis berupa keputusan
hukum pengadilan adat. Karena sebagian besar norma hukum
adalah tertulis maka sanksinya paling tegas.
Mode (fashion)
Mode atau fashion adalah cara dan gaya untuk melakukan
dan membuat sesuatu, sering berubah-ubah serta diikuti banyak
orang. Ciri khas mode ialah bersifat massal atau dipakai orang
banyak. Mode atau fashion tidak hanya terbatas pada
penampilan, tetapi juga pada sesuatu di bidang lain. Dari mode
akan sesuatu yang lebih baru dan bersifat inovatif, missalkan
sesuatu yang bersifat kontemporer atau perpaduan antara
tradisonal dan modern.

Dalam sistem budaya ini terbentuk unsur-unsur yang paling berkaitan satu
dengan lainnya. Sehingga terbentuk tata kelakuan manusia yang terbentuk dalam unsur
kebudayaan yang utuh.

Unsur-Unsur Kebudayaan
Kebudayaan yang terdapat pada semua jenis masyarakat, baik masyarakat kota maupun
pedesaan, baik masyarakat modern maupun masyarakat tradisional disebut unsur-unsur
budaya universal. Unsur-unsur budaya nenurut C. Kluckhohn meliputi tujuh unsur pokok yang
dimiliki setiap kebudayaan, diantaranya.

1) Bahasa
Sesuatu yang berawal dari hanya sebuah kode, tulisan hingga berubah sebagai
lisan untuk mempermudah komunikasi antar sesama manusia. Bahkan sudah ada
bahasa yang dijadikan bahasa universal seperti bahasa Inggris.
2) Sistem pengetahuan
Sistem yang terlahir karena setiap manusia memiliki akal dan pikiran yang
berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula,
sehingga perlu disampaikan agar yang lain juga mengerti.
3) Sistem Organisasi kemasyarakatan
Sistem yang muncul karena kesadaran manusia bahwa meskipun diciptakan
sebagai makhluk yang paling sempurna namun tetap memiliki kelemahan dan kelebihan
masing-masing antar individu sehingga timbul rasa utuk berorganisasi dan bersatu.
4) Sistem peralatan hidup dan teknologi
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang-barang dan
sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia
dengam makhluk hidup yang lain.
5) Sistem mata pencaharian hidup
Terlahir karena manusia memiliki hawa nafsu dan keinginan yang tidak terbatas
dan selalu ingin lebih.

6) Sistem religi
Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena
kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa.
7) Kesenian
Setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang
dapat memenuhi kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian yang dapat
memuaskan.

c) Substansi (isi) Utama Budaya


Substansi (isi) utama kebudayaan merupakan wujud abstrak dari
segala macam ide dan gagasan manusia yang bermunculan di dalam
masyarakat yang memberi jiwa kepada masyarakat itu sendiri, baik dalam
bentuk atau berupa sistem pengetahuan, nilai, pandangan hidup,
persepsi, dan etos kebudayaan.
1) Sistem Pengetahuan
Melalui sistem pengetahuan, manusia mampu beradaptasi untuk menyesuaikan
hidupnya dengan alam sekitarnya. Melalui sistem pengetahuan juga manusia mampu
meningkatkan produktivitas kebutuhan hidupnya.
2) Sistem Nilai Budaya
Nilai adalah sistem yang baik yang selalu diinginkan, dicita-citakan dan dianggap
penting oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat. Karena itu, sesuatu
dikatakan memilik nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai
estetika), baik nilai moral, religius (nilai agama).
Menurut Koentjaraningrat, sistem nilai budaya terdiri atas konsep-konsep yang
hidup dalam pikiran sebagian besar warga masyarakat. Oleh karena itu, suatu sistem
nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
3) Persepsi
Persepsi adalah sudut pandang dari seorang individu atau kelompok masyarakat
mengenai suatu hal atau suatu masalah. Dalam hal tertentu, sering terjadi persepsi yang
satu berbeda dengan persepsi yang lain yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman,
lingkungan dan pengetahuan. Akibatnya, akan terjadi konflik atau ketegangan, mulai
dari hal yang sederhana sampai yang serius.
4) Pandangan hidup
Pandangan hidup adalah konsep yang dimiliki seseorang atau golongan
masyarakat yang bermaksud menanggapi atau menerangkan suatu masalah tertentu.
Jika suatu bangsa tidak memiliki pandangan hidup maka bangsa tersebut mudah
dikendalikan oleh bangsa lain, mudah goyah, kehilangan jati diri dan akhirnya sulit untuk
jadi bangsa dan negara yang besar.
5) Etos kebudayaan
Etos atau jiwa kebudayaan berasal dari bahasa inggris berati watak khas. Etos
sering tampak pada gaya perilaku warga misalnya, kegemaran-kegemaran warga
masyarakatnya, serta berbagai benda budaya hasil karya mereka, dilihat dari luar oleh
orang lain. Etos kebudayaan adalah sifat, nilai, dan adat istiadat khas yang memberi
watak kepada kebudayaan suatu golongan sosial dalam masyarakat.

Masing-masing suku diberbagai daerah mempunyai etos kebudayaan masing-


masing, yang mungkin saja berbeda sangat mencolok, apa yang baik menurut suku
tertentu belum tentu baik menurut suku lain, oleh karenanya diperlukan sikap
kedewasaan dan toleransi yang tinggi untuk memahami kebudayaan yang lain.
6) Kepercayaan
Pada dasarnya, manusia yang memiliki naluri yang menghambakan diri kepada
Yang Maha Tinggi yang dianggap mampu mengendalikan hidup manusia. Dorongan ini
sebagai akibat atau refleksi ketidakmampuan manusia dalam menghadapi tantangan-
tantangan hidup, dan yang Maha Tinggi saja yang mampu memberikan kekuatan dalam
mencari jalan keluar dari permasalahan hidup dan kehidupan. Kepercayaan manusia
bermacam-macam bergantung keyakinan manusia.

3. Sifat Budaya dan Kecenderungannya


a) Sifat-sifat Budaya
Kebudayaan yang dimiliki oleh setiap masyarakat itu tidak sama,
seperti di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang
berbeda, tetapi setiap kebudayan mempunyai ciri atau sifat yang sama.
Sifat tersebut bukan diartikan secara spesifik, melainkan bersifat
universal. Dimana sifat-sifat budaya itu akan memiliki ciri-ciri yang sama
bagi semua kebudayaan manusia tanpa membedakan faktor ras,
lingkungan alam, atau pendidikan, yaitu sifat hakiki yang berlaku umum
bagi semua budaya dimana juga.
Sifat hakikat kebudayaan di antaranya.

I. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia.


II. Kebudayaan telah ada lebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu, dan
tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
III. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya.
IV. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban, tindakan-tindakan yang
diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang
dijinkan.

Sifat hakiki tersebut menjadi ciri setiap budaya. Akan tetapi sekelompok orang akan
memahami sifat hakiki yang esensial, terlebih dahulu ia harus memecahkan pertentangan-
pertentangan yang ada di dalamnya.

b) Kecenderungan Bertahan dan Berubahnya Kebudayaan


Kebudayaan akan terus hidup manakala masyarakat mau
mempertahankannya, sebaliknya kebudayaan akan musnah jika
masyarakat tidak lagi menggunakannya. Dalam mempelajari kebudayaan
selalu harus diperhatikan hubungan antara unsur-unsur yang
mempengaruhi budaya itu cenderung bertahan atau berubah, dan situasi
atau kondisi yang dialami oleh masyarakat yang bersangkutan.
Unsur-unsur penyebab kecenderungan bertahannya suatu budaya antara lain.

1) Unsur idiologi
Idiologi adalah kumpulan gagasan, dasar, serta tatanan yang baik dalam
kehidupan masyarakat dan bernegara yang menjadi jiwa dan kepribadian bangsa.
Dengan demikian, unsur idiologi ini cenderung tetap bertahan karena sudah diyakini
kebenarannya oleh suatu masyarakat atau bangsa.
2) Unsur kepercayaan/religi
Semua aktivitas manusia yang berhubungan dengan kepercayaan/religi
didasarkan pada suatu keyakinan akan kebenaran (keimanan). Oleh karena itu, unsur
kepercayaan atau religi ini cenderung tetap bertahan karena menyangkut keyakinan,
kepatuhan atau keimanan yang diyakini.
3) Unsur seni
Seni adalah sesuatu yang bersifat indah, seni melahirkan cinta kasih, kasih
sayang, kemesraan, pemujaan, baik terhadap Tuhan, maupun terhadap sesama
manusia. Pengungkapan rasa seni dapat melalui musik, tari, lukisan, satra, dan
sebagainya, sebagai hasil cipta, karsa, manusia cenderung bertahan dari masa ke masa.
4) Unsur bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi, penghubung suatu maksud antar manusia,
dari bahasa kita dapat mengungkapkan apa yang kita inginkan. Bahasa cenderung
berubah dari masa ke masa, meskipun kosa katanya semakin berkembang, tanpa bahasa
manusia tidak dapat berhubungan satu sama lain.

Sedangkan, unsur-unsur yang mempengaruhi kecenderungan perubahan budaya antara


lain.

1) Unsur mata pencaharian


Mata pencaharian dengan sistem tradisional cenderung berubah menjadi suatu
sistem yang lebih maju. Perubahan mencakup sistem produksi, distribusi, dan konsumsi.
Perubahan tersebut memiliki berbagai alasan, di antaranya.
 Rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada.
 Sadar akan adanya kekurangan-kekurangan.
 Usaha-usaha menyesuaikan diri dengan perubahan jaman.
 Meningkatkan kebutuhan.
 Adanya keinginan untuk meningkatkan taraf hidup.
 Sikap terbuka terhadap hal-hal baru.
Dengan demikian, sistem mata pencaharian hidup cenderung berubah dari masa ke
masa, seiring dengan perubahan jaman, perkembangan ilmu dan teknologi, serta pola hidup.

2) Unsur sistem teknologi


Manusia tidak dapat menutup kemungkinan dari kemajuan teknologi, karena
teknologi itu sendiri bermaksud untuk memudahkan pekerjaan manusia. Kemajuan
teknologi berkembang seiring dengan meningkatnya pengetahuan manusia.

3) Unsur pengetahuan
Sistem pengetahuan manusia mengalami perubahan menjadi ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan bertujuan agar manusia lebih mengetahui dan mendalami segi
kehidupan. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan terus berkembang sesuai dengan
perkembangan dan tingkat keinginan manusia. Misalnya ilmu pengetahuan dulu
menyebutkan Pluto adalah sebuah planet, namun kini terbukti bahwa Pluto bukanlah
sebuah planet.

c) Budaya dan Pemenuhan Kebutuhan Hidup Manusia


Budaya berfungsi membantu manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia terdiri atas kebutuhan
biologis, kebutuhan sosial, dan kebutuhan psikologis. Manusia
mempunyai berbagai kebutuhan agar dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan. Selain itu, kebutuhan manusia muncul sebagai upaya
manusia untuk memanfaatkan lingkungan. Kebutuhan manusia akan
berbeda sesuai dengan tempat, waktu, situasi, dan kondisi. Kebutuhan di
desa akan bebeda dengan kebutuhan di kota, kebutuhan pada waktu
musim hujan akan berbeda dengan kebutuhan pada waktu musim
kemarau, dan sebagainya.
1) Kebutuhan Biologis
Kebutuhan biologis mutlak harus dipenuhi manusia, artinya jika kebutuhan
biologis ini tidak terpenuhi, maka organ tubuh manusia akan terganggu, bahkan bisa
meninggal dunia. Kebutuhan biologis mencakup: makan dan minum, istirahat, buang air
besar dan kecil, perlindungan dari iklim dan cuaca, pelepasan dorongan seksual, dan
kesehatan yang baik.
2) Kebutuhan Sosial
Untuk memudahkan tercapainya kebutuhan biologis, manusia memerlukan
kebutuhan sosial. Yang termasuk kedalam kebutuhan sosial diantaranya: kegiatan
bersama; pendidikan; berkomunikasi dengan sesama; keteraturan sosial untuk
menciptakan suatu masyarakat yang tertib, aman, tenteram dan untuk menjaga
keteraturan sosial diupayakan adanya kontrol sosial.
3) Kebutuhan Psikologis
Kebutuhan psikologis yang dubutuhkan oleh manusia meliputi hal-hal seperti
rasa rileks atau santai, rasa kasih sayang, kepuasan altruistik, kehormatan, dan kepuasan
ego yang bisa terwujud setelah ia merasa puas atas keberhasilan yang dicapai.

d) Budaya Diperoleh Melalui Proses Belajar


Kebudayaan diperoleh melalui proses belajar dari masyarakat dan
lingkungannya. Segala kelakuan yang didasari kebudayaan dipelajari oleh
anggota masyarakat secar turun temurun. Proses belajar kebudayaan
oleh manusia sebagai anggota masyarakat didapat melalui hal-hal
berikut.

1) Proses Internalisasi
Proses internalisasi adalah proses pengembangan potensi yang dimiliki oleh
manusia, yang dipengaruhi baik lingkungan internal (dari dalam diri manusia) maupun
lingkungan eksternal (dari luar diri manusia).
2) Proses Sosialisasi
Proses sosialisasi seorang individu dari masa kanak-kanak sampai masa tua selalu
belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu sekitarnya
yang menduduki beraneka macam peranan sosial.
3) Proses Ekulturasi
Melalui proses ekulturasi seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam
pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan
yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini terjadi sejak individu kecil dan disebut
sebagai pembudayaan.
4) Hubungan Manusia dengan Kebudayaan
a) Manusia Sebagai Pencipta dan Pengguna Kebudayaan
Pada dasarnya manusia menciptakan kebudayaan adalah untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, karena itu manusia disebut sebagai
pencipta dan pengguna kebudayaan, bahkan disadari ataupun tidak
kadangkala manusia adalah perusak kebudayaan. Berikut peranan
kebudayaan bagi manusia.
 Sebagai pedoman hubungan antara manusia dengan
kelompoknya.
 Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-
kemampuan lain.
 Membimbing kehidupan manusia.
 Membedakan manusia dengan binatang.
 Sebagai petunjuk tentang bagaimana manusia itu bertindak dan
berperilaku di dalam pergaulan.
 Sebagai modal dasar pembangunan.

Karena memiliki peranan yang berarti bagi manusia dengan begitu manusia
adalah makhluk yang berbudaya, dengan akalnya manusia dapat mengembangkan
kebudayaan. Kebudayaan masyarakat sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang
bersumber dari masyarakat itu sendiri. Semakin hari pemikiran manusia semakin
berkembang dan masyarakat semakin kompleks sehingga melahirkan kebudayaan yang
lebih tinggi. Hasil karya tersebut adalah teknologi yang menberikan kemungkinan yang
luas untuk memanfaatkan hasil alam bahkan menguasai alam.

b) Pengaruh Budaya Terhadap Lingkungan


Budaya yang dikembangkan oleh masyarakat maka akan
berimplikasi pada lingkungan sekitar dimana masyarakat itu tinggal.
Dengan menganalisa pengaruh dan akibat budaya terhadap lingkungan,
seseorang dapat mengetahui mengapa suatu lingkungan tertentu akan
berbeda dengan lingkungan lainnya dan menghasilkan kebudayaan yang
berbeda pula.

Beberapa variabel yang berhubungan dengan masalah kebudayaan dan lingkungan.

I. Physical Environment, menunjuk pada lingkungan natural seperti: curah hujan, iklim,
wilayah geografis, dll.
II. Cultural Sosial Renvironment, meliputi aspek-aspek kebudayaan beserta proses
sosialisasi seperti: norma-norma, adat istiadat, nilai-nilai.
III. Environmental Orientation and Representation, mengacu pada persepsi dan
kepercayaan kognitif yang berbeda-beda pada setiap masyarakat mengenai
lingkungannya.
IV. Environmental Behaviour and Process, meliputi bagaimana masyarakat menggunakan
lingkungan dalam hubungan sosial.
V. Out Carries Product, meliputi hasil tindakan manusia seperti membangun rumah,
komunitas, kota beserta usaha-usaha manusia dalam memodifikasi lingkungan fisik
seperti budaya pertanian dan iklim.

C. Proses dan Perkembangan Budaya


Perkembangan dan perubahan kebudayaan sejalan dengan perkembangan
manusia. Perkembangan dan perubahan tersebut dimaksudkan untuk kepentingan
manusia, karena kebudayaan diciptakan oleh dan untuk manusia. Perkembangan
kebudayaan itu bersifat kompleks, dan memiliki eksistensi dan berkesinambungan dan
juga menjadi warisan sosial.

Kebudayaan yang dimiliki suatu kelompok sosial tidak akan tehindar dari
pengaruh kebudayaan kelompok-kelompok lain, dengan adanya kontak-kontak anatar
kelompok atau melalui difusi. Suatu kelompok sosial akan mengadopsi suatu
kebudayaan tertentu bilamana kebudayaan tersebut berguna untuk mengatasi atau
memenuhi tuntuntan yang dihadapinya.

Pengadopsian suatu kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh faktor-faktor


lingkungan fisikal. Misalnya iklim, topografi sumber daya alam dan sejenisnya.
Terjadinya suau proses keserasian antara lingkunagn fisikal dengan kebudayaan yang
terbentuk di lingkungan tersebut akan mengakibatkan adanya keserasian antara
kebudayaan masyarakat yang satu dengan kebudayaan masyarakat tetangga dekat.
Kondisi lingkungan seperti ini memberikan peluang untuk berkembangnya peradaban
(kebudayaan) yang lebih maju.

Kebudayaan dari suatu kelompok sosial tidak secara komplit ditentukan oleh
lingkungan fisikal saja, namun lingkungan tersebut sekedar memberikan peluang untuk
terbentuknya sebuah kebudayaan. Dari waktu ke waktu, kebudayaan berkembang
seiring dengan majunya teknologi (dalam hal ini adalah sistem telekomunikasi) yang
sangat berperan dalam kehidupan setiap manusia.

Perkembangan jaman mendorong terjadinya perubahan-perubahan disegala


bidang, termasuk dalam hal kebudayaan. Kebudayaan yang dianut suatu kelompok
sosial pasti akan mengalami pergeseran. Pergeseran ini akan menimbulkan konflik
antara kelompok-kelompok yang tidak menghendaki perubahan. Suatu komunitas
dalam kelompok sosial bisa saja menginginkan adanya perubahan dalam kebudayaan
yang mereka anut, dengan alasan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman
yang mereka hadapi saat ini. Namun, perubahan kebudayaan ini kadangkala disalah
artikan menjadi suatu penyimpangan kebudayaan.

Hal yang terpenting dalam proses perkembangan kebudayaan adalah dengan


adanya kontrol atau kendali terhadap perilaku regular (yang tampak) yang ditampilkan
oleh para penganut kebudayaan. Karena tidak jarang perilaku yang ditampilkan sangat
bertolak belakang dengan budaya yang dianut didalam kelompok sosialnya. Yang
diperlukan disini adalah kontrol sosial yang ada di masyarakat sehingga masyarakat
dapat memilah-milah mana kebudayaan yang sesuai dengan nilai yang ada.
D. Problematika Budaya

Beberapa problematika kebudayaan yang ada dalam masyarakat antara lain.

1) Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan.
Misalnya, keterkaitan orang Jawa terhadap tanah yang mereka tempati secara turun
temurun diyakini sebagai pemberi berkah kehidupan. Mereka enggan meninggalkan
kampung halamannya atau beralih pola hidup sebagai petani, padahal hidup mereka
umumnya miskin.
2) Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang.
Hambatan ini dapat terjadi antara masyarakat dan pelaksana pembangunan.
3) Hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan. Upaya untuk
mentransmigrasikan penduduk dari daerah yang terkena bencana alam banyak
mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan karena adanya kekhawatiran penduduk bahwa
di tempat yang baru hidup mereka akan lebih sengsara dibandingkan dengan hidup
mereka di tempat yang lama.
4) Mayarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar. Masyarakat
daerah-daerah terpencil yang kurang komunikasi dengan masyarakat luar, karena
pengetahuannya terbatas, seolah-olah tertutup untuk menerima program-program
pembangunan.
5) Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal yang baru. Sikap ini
dangat mengagung-agungkan budaya tradisional sedemikian rupa, yang menganggap
hal-hal baru itu akan merusak tatanan hidup mereka yang sudah mereka miliki secara
turun-temurun.
6) Sikap Etnosentrisme adalah sikap yang mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri
dan menganggap rendah budaya lain.
7) Penyalahgunaan perkembangan IPTEK sebagai hasil dari kebudayaan. Perkembangan
IPTEK seringkali disalahgunakan oleh manusia, misalnya obat-obatan dibuat untuk
kesehatan tetapi dalam penggunaannya banyak disalahgunakan yang justru menggangu
kesehatan manusia.
8) Cultural shock atau gagap budaya, Apabila manusia tidak dapat menyesuaikan atau
beradaptasi dengan budaya lain, sehingga menimbulkan keraguan dan kecanggungan.

E. Triangulasi (Individu, Masyarakat, dan Kebudayaan)


Sebagai makhluk individu manusia merupakan satu kesatuan biologis yang perlu
hidup berkawan. Perkawanan tersebut tidak lain adalah untuk menciptakan kebudayaan
yang menghasilkan alat-alat material juga inmaterial yang diperlukan dalam
kehidupannya. Menurut Melville J. Horkovite dan B. Malinowski (Effendi dan Malihah,
2007: 115) mengungkapkan bahwa ‘cultural determination diartikan sebagai segala
sesuatu yang terdapat dimasyarakat ditentukan oleh adanya kebudayaan yang dimiliki
oleh masyarakat tersebut’.

Terdapat hubungan timbal balik antara individu, masyarakat dan kebudayaan


yang mempengaruhi kehidupan manusia. Ketiganya memiliki keterkaitan satu dengan
yang lain.
BAB III

PEMBAHASAN

A. Data Hasil Penelitian Melalui Angket dan Analisis

Berikut hasil angket tentang pengaruh kebudayaan asing terhadap kebudayaan


daerah Indonesia dengan responden mahasiswa UPI Bandung dengan jumlah 53 orang.

Karena budaya sangat kental dengan unsur kesenian maka item pertanyaan
pertama dalam angket mengenai lagu/musik. Musik memiliki peranan yang sangat besar
terhadap diri manusia. Dari empat pilihan yang disediakan, sejumlah 27 orang
responden memilih lagu dalam negeri sebagai lagu yang paling ia senangi. Seperti kita
ketahui, lagu dalam negeri di Indonesia memiliki beberapa jenis seperti lagu pop, rock,
jazz, melayu, dangdut, dll. Lagu pop, rock, dan jazz bukanlah jenis musik asli Indonesia.
Semuanya berasal dari mancanegara, sehingga dapat terlihat bahwa secara disadari
ataupun tidak lagu asli Indonesia yaitu melayu dan dangdut posisinya tergeser oleh jenis
lagu dari luar. 22 orang responden lebih memilih lagu mancanegara sebagai lagu yang ia
senangi. Apalagi pada anak-anak remaja perkotaan, mereka lebih merasa nyaman
dengan lagu-lagu mancanegara sementara mereka terkadang merasa kurang nyaman
dengan lagu-lagu asli Indonesia seperti lagu dangdut. Bahkan ada yang beranggapan
bahwa dangdut adalah lagu kampungan sehingga mereka tidak begitu menyukainya. 6
orang responden lebih memilih lagu daerah sebagai lagu yang sering ia dengar dan
hanya 1 orang yang sering mendengarkan lagu kebangsaan, ini berarti hanya sekitar
13,2 % saja responden yang masih berkontribusi untuk melestarikan budaya daerah dan
memiliki jiwa nasionalisme.

Item pertanyaan kedua mengenai bahasa yang selalu diucapkan dalam menjalani
kehidupan sehari-hari. Sebanyak 21 orang menggunakan bahasa daerah, 35 orang
menggunakan bahasa Indonesia, dan hanya 1 orang yang menggunakan bahasa asing
(bahasa Inggris). Penggunaan bahasa dalam keseharian bergantung pada lingkungan
sekitar, jika kebanyakan temannya berasal dari daerah yang sama maka biasanya secara
naluriah bahasa daerah menjadi alternatif dalam berkomunikasi, tapi bila kebanyakan
teman disekitarnya berasal dari daerah yang berbeda (seperti mahasiswa) maka bahasa
Indonesia adalah bahasa yang paling mudah digunakan. Namun yang harus diingat
kaidah penggunaan bahasa Indonesianya menjadi kurang diperhatikan. Terkadang anak-
anak jaman sekarang menggunakan bahasa yang kasar, agak berlebihan (alay), dan gaul.
Item pertanyaan ketiga mengenai budaya berpakaian. 45 orang responden lebih
memilih berpakaian seperti biasa dan 5 orang lebih memilih mode yang sedang trend.
Untuk mengikuti trend yang sedang ada tentunya dbutuhkan dana yang tidak sedikit,
apalagi kalau mode yang diikuti berasal artis yang dikaguminya. Mengikuti trend fashion
sebenarnya tidak menjadi masalah besar selama tetap bertumpu pada kaidah agama
dan budaya bangsa.

Item pertanyaan keempat adalah mengenai produk dalam dan luar negeri. 48
orang lebih memilih produk dalam negeri dengan alasan produk luar terlampau mahal,
hampir 56,86% menjadikan faktor ekonomi sebagai alasan dia memakai produk dalam
negeri. Padahal bila ditinjau banyak orang yang lebih suka bisa menggunakan produk
luar dibandingkan dengan produk dalam negeri. Dengan alasan produk luar bisa lebih
berkualitas apalagi dalam hal teknologi.

Item pertanyaan kelima mengenai proses interaksi dengan lawan jenis. Sebanyak
43 orang lebih memilih untuk mengucapkan salam saat bertegursapa dengan lawan
jenis, dan 12 orang memilih untuk berjabat tangan. Bangsa Indonesia yang mayoritas
masyarakatnya beragama islam, tentu menjadikan faktor agama sebagai alasan ia
berinteraksi dengan mengucap salam (48,08%). Seperti kita tahu bahwa agama
melarang orang yang bukan muhrim untuk mengadakan kontak langsung. Sementara
44,23% menjadikan faktor sosial/lingkungan sebagai acuan untuk bagaimana ia
bertindak.

Pertanyaan keenam mengenai proses pengenalan budaya dalam jenjang


pendidikan. Walau bagaimanapun pendidikan budaya sangat penting untuk pelestarian
budaya. Hampir 94,33% orang mengaku pernah diperkenalkan budaya daerah semasa
sekolahnya. Namun disayangkan ternyata masih ada yang belum pernah menerima
pendidikan budaya semasa sekolahnya.

Pertanyaan ketujuh mengenai minat terhadap suatu budaya daerah. 33 orang


menyatakan tertarik, 19 menyatakan biasa saja, dan 1 orang menyatakan tak peduli.
Ketertarikan merupakan modal awal untuk melastarikan dan mengembangkan budaya.

Item pertanyaan kedelapan mengenai masalah budaya yang pernah dialami oleh
Indonesia. Lagu daerah “Rasa Sayang-sayange” yang berasal dari Maluku, serta “Reog
Ponorogo” dari Jawa Timur diakui sebagai budaya dari Malaysia. Hal ini disebabkan oleh
kurang pedulinya bangsa Indonesia terhadap budayanya. 38 responden menyatakan
bahwa ia akan berusaha merebut kembali budaya yang telah dicuri, namun sebaiknya
menjaga sebelum budaya itu dicuri adalah bukti bahwa ia cinta dengan budayanya. 19
orang cukup hanya merasa prihatin dengan keadaan yang ada, bahkan ada menyatakan
bahwa ia tidak peduli sebanyak 1 orang. Hal ini bisa saja terjadi karena pikirannya sudah
dirasuki budaya-budaya luar yang lebih cocok dengan kepribadiannya.

Item pertanyaan terakhir mengenai konstribusi langsung responden terhadap


perkembangan budaya. 40 orang menyatakan pernah berkonstribusi, 8 orang sering,
dan 6 orang menyatakan tidak pernah. Konstribusi masyarakat pada perkembangan
kebudayaan sangatlah penting supaya budaya itu tetap ada.

B. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Masuknya Pengaruh Kebudayaan Asing Terhadap


Kebudayaan Daerah Indonesia dan Dampaknya

Dari hasil angket yang telah didapat diketahui bahwa masuknya suatu kebudayaan
asing pada suatu kebudayaan daerah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Masing-masing
faktor akan memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap wujud kebudayaan.

1. Faktor Sosial
Dari hasil angket diketahui bahwa faktor sosial sangat berpengaruh
terhadap pergeseran kebudayaan yang terjadi di Indonesia. Faktor sosial
berpengaruh terhadap seluruh aspek yang dapat menyebabkan pergeseran
kebudayaan. Kita ketahui bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan.
Terlihat dari adanya perbedaan, misalnya dari lagu cara berpakaian, serta bahasa
yang digunakan. Begitu juga minat mereka terhadap kebudayaan dipengaruhi
oleh faktor sosialnya.

Dampak positif dari faktor sosial ini diantaranya.

a) Apabila seseorang yang masuk dan mendiami suatu daerah yang di


daerah tersebut kebudayaannya masih sangat kental, maka secara tidak
langsung seseorang tersebut akan mengenal dan mulai mempelajari
kebudayaan tersebut.
b) Dengan pengaruh yang baik, perubahan pola pikir dan sikap, yang semula
masyarakat berfikir irasional berubah menjadi rasional.

Sedangkan dampak negatif dari faktor ini diantaranya.

a) Jika di suatu negara dimasuki kebudayaan lain melalui jaringan televisi,


internet, dan komunikasi lainnya yang kini mulai canggih, maka secara
perlahan akan menggeser kebudayaan dari negara tersebut secara
perlahan, dan mungkin bisa menghapus kebudayaan dari negara
tersebut.
b) Kesenjangan sosial di masyarakat semakin berkembang karena
masyarakat merasa tidak butuh pertolongan sesama. Hal ini
menimbulkan sikap tak acuh dan individualisme.
c) Berkembangnya gaya hidup kebarat-baratan. Budaya barat cenderung
dengan kehidupan serba bebas. Hal inilah yang menimbulkan gaya hidup
anak-anak sekarang kehilangan rasa hormat pada orangtua, menganut
pergaulan bebas, dan gaya hidup hedonis.

2. Faktor Psikologi

Dari hasil angket dilihat bahwa selain faktor sosial, faktor psikologis juga sangat
berpengaruh terhadap suatu kebudayaan, misalnya dapat dilihat dari data angket koresponden
yang memilih faktor psikologis sebagai alasan dari apa yang mereka gemari atau mereka
senangi, contohnya pada lagu atau musik yang mereka sukai. Dapat dikarenakan karena
kenyamanan mereka mendengarkan lagu atau musik tersebut, dan membuat mereka menjadi
tertarik terhadap musik itu. Hal ini berarti kebudayaan di suatu negara dapat berkembang
apabila budaya tersebut dapat memberikan kenyamanan dan dapat menimbulkan daya tarik
terhadap masyarakat di negaranya.

Dampak positif dari faktor psikologis yang mempengaruhi kebudayaan, apabila kebudayaan di
suatu negara dapat diperkenalkan sejak usia dini, agar timbul suatu ketertarikan yang membuat
budaya tersebut dapat dilestarikan. Dampak negatif dari faktor psikologis terhadap suatu
budaya, misalnya saat masuknya lagu-lagu atau program program televisi asing yang masuk ke
suatu negara dapat mempengaruhi masyarakat didalamnya. Sehingga ia berpaling untuk lebih
menggemari lagu-lagu asing sampai mengikuti perkembangannya.

3. Faktor Sejarah

Dari hasil angket faktor sejarah juga dapat dikatakan berpengaruh terhadap kebudayaan di
suatu negara. Dari hasil angket responden yang menjawab faktor sejarah yang berpengaruh
terhadap kebudayaan, misalnya dari memperkenalkan kebudayaan tersebut kepada anak-anak
di negaranya sejak usia dini. Hal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan kebudayaan
disuatu negara. Jika seorang anak tidak diparkenalkan kepada budayanya sedari kecil, maka
anak akan tidak tahu apa saja kebudayaan yang ada di negaranya. Faktor sejarah ini juga sangat
dipengaruhi oleh orang tua mereka. Jika orang tua mereka juga tidak mengenal budaya yang
dimilikinya, maka anaknya pun tidak akan mengetahui kebudayaan mereka.
Dampak positif dari faktor sejarah ialah apabila keluarganya memang dilahirkan dengan
memiliki kemampuan terhadap satu atau beberapa budaya, maka anaknya pun akan ikut
meneruskan budaya yang dimiliki oleh orang tuanya. Sehingga anaknya dapat mengenal budaya
di negaranya sendiri. Sedangkan dampak negatif dari faktor sejarah apabila anak itu dilahirkan
dari orang tua yang berbeda negara. Dan anak tersebut tidak diperkenalkan pada
kebudayaannya, sehingga anak tersebut tidak mengenal kebudayan yang ada di negaranya. Hal
ini dapat menyebabkan kebudayaan di suatu negara menjadi tidak berkembang.

4. Faktor Agama

Dengan adanya budaya lain yang masuk ke dalam budaya kita maka kita akan terpengaruh oleh
budaya luar tersebut. Kita dapat mengambil sisi positif dari kebudayaan tersebut untuk
memecahkan permasalahan yang terjadi di lingkungan kita. Namun pengambilan atau
pengadopsian kebudayaan tersebut harus sesuai dengan norma atau nilai dan aturan agama
yang ada di lingkungannya. Misalnya dalam cara kita berpakaian kita sangat terpengaruh oleh
kebudayaan dari luar, pada kenyataannya banyak masyarakat cenderung memakai pakaian
yang agak terbuka daripada memakai pakaian asli Indoneisa yang cenderung tertutup dan lain
sebagainya seperti para artis yang penampilannya sudah diluar batas norma masyarakat. Dari
angket yang kami sebarkan terdapat orang yang tidak mengikuti mode pakaian dari luar karena
faktor agama. Menurut agama mereka dilarang atau diharamkan untuk berpakaian yang
terlihat auratnya sehingga mereka tidak mengikuti mode pakaian tersebut karena biasanya
mode dari luar lebih mengumbar aurat. Dalam hal bertegur sapa mereka juga mengucapkan
salam setiap kali bertemu dengan orang lain. Hal ini mereka lakukan karena dalam agama
diperintahkan untuk mengucapkan salam setiap kali bertemu dengan orang.

5. Faktor Ekonomi

Ekonomi juga dapat menjadi penyebab terjadinya pergeseran budaya. Banyak masyarakat kita
yang lebih memilih membeli barang dari luar karena kualitasnya yang lebih baik dibandingkan
dengan barang lokal. Dari angket yang kami sebar ada orang yang memilih membeli produk dari
luar karena harganya yang lebih murah namun adapula yang berpikir sebaliknya, membeli
barang produk atau barang dari luar harganya mahal sehingga mereka lebih memilih membeli
barang dalam negeri. Misalnya dalam hal berpakaian, sebenarnya mereka ingin mengikuti
mode yang sedang trend namun karena harganya mahal mereka tidak mengikutinya. Untuk
orang kalangan atas mengikuti cara berpakaian dari luar dapat mereka ikuti. Dalam hal ini orang
berada akan mudah terpengaruhi oleh trend atau budaya dari luar dibandingkan denga orang
dari kalangan rendah.
Banyaknya produk impor yang beredar di Indonesia menyebabkan produk dalam negeri
menjadi tersisih, apalagi diperkuat dengan kualitas barang impor yang lebih bagus. Hal ini dapat
membuat pendapatan masyarakat yang menghasilkan produk dalam negeri menjadi terganggu.

6. Faktor Hukum

Dari segi hukum kita juga dapat terpengaruh oleh budaya luar. Karena hukum kita yang kurang
tegas dalam pelestarian budaya maka dengan mudah budaya kita diakui oleh orang lain,
sehingga masyarakat menjadi kecewa dan menjadi enggan untuk berkontribusi pada
pelestarian budaya. Dari angket yang kami sebar banyak orang yang menjawab prihatin
terhadap budayanya yang diakui oleh negara lain namun banyak juga dari mereka yang
menjawab biasa saja minat mereka terhadap budaya daerah ini sangat bertolak belakang
dengan pernyataan mereka yang mengatakan prihatin terhadap budayanya. Tetapi lebih
banyak orang yang berkontribusi terhadap pelestarian budayannya ini berarti mereka benar-
benar prihatin terhadap budaya mereka dan mereka benar-benar ingin melestarikan
budayanya. Hukum di Indonesia yang kurang tegas menyebabkan negara lain merasa tidak
takut untuk mencuri budaya yang ada di Indonesia.

7. Faktor Biologis

Faktor biologis juga berpengaruh dalam pergeseran budaya, namun kontribusi faktor tersebut
sangat kecil sekali. Dari angket yang kami sebarkan hanya sedikit sekali yang menjawab alasan
karena adanya faktor biologis. Itupun karena alasan mereka yang tidak cocok untuk mengikuti
trend berpakaian yang ada karena masalah bentuk badan, yang mereka pikir itu berhubungan
dengan faktor biologis.

Atau bisa saja karena orangtuanya berbeda kenegaraan sehingga ia akan mengikuti kedua jenis
kebudayaan dari kedua orangtuanya. Faktor keturunan ia dilahirkan atau asal usul keluarga juga
menentukan perkembangan budaya. Bila ia lebih menyukai budaya negara lain yang merupakan
negara kelahiran dari ayah atau ibunya, maka ia bisa saja tidak menyukai budaya dimana ia
dilahirkan.

C. Solusi Untuk Menangani Pengaruh Kebudayaan Asing Yang Berdampak Buruk Terhadap
Kebudayaan Daerah Indonesia

Agar budaya kita tidak terkikis oleh budaya luar maka pemerintah, pelaku budaya, dan
masyarakat harus menemukan solusi yang konkrit sehingga budaya daerah tetap ada dan
berkembangn dengan baik.

1. Faktor Sosial
Dalam hal ini lingkungan sangat berpengaruh sekali terhadap kecenderungan
bertahannya suatu budaya. Oleh karena itu, kita sebagai bangsa Indonesia yang terdiri dari
berbeda-beda budaya kita harus melestarikan budaya, sebagai contoh menciptakan lingkungan
yang kondusif untuk mengembangkan kebudayaan, memperkenalkan kepada masyarakat
terutama pada anak-anak, diadakannya pembelajaran yang berkaitan dengan budaya
(pendidikan budaya) misal dalam kesenian (seni tari, seni musik) mungkin dengan cara sepeti
ini budaya kita bisa bertahan.

2. Faktor Psikologi

Faktor psikologi bisa berkaitan dengan kenyamanan, sikap dan tingkah laku individu
dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin bisa pada orang tua, teman sebaya, bisa juga dengan
orang lain. Dalam hal ini apabila dampak negatif telah mempengaruhi pada psikologi seseorang
terutama anak-anak remaja sekarang bisa merusak budaya yang telah ada misalnya saja budaya
sopan santun. Solusi yang tepat bahwa orang tua harus sering memberikan perhatian,
menasehati anak dan menjelaskan atau memberikan contoh pada anak sikap yang baik, sopan
itu seperti apa. Dan tidak hanya orang tua bisa juga guru di sekolah menjelaskan adat istiadat,
buadaya kita itu seperti apa dan perbedaan budaya kita dengan budaya asing.

Para pelaku budaya harus bisa menciptakan budaya yang lebih menarik, sehingga
masyarakat bisa turut serta mau berkonstribusi dalam mengembangkan budaya. Jadi
kekreatifitasan ciptaan budaya harus ditingkatkan.

3. Faktor Agama

Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan
bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Nilai-nilai yang berasal dari
agama harus ditanamkan sejak dini. Dengan memegang teguh kaidah agama yang diyakininya,
hidup manusia akan lebih terarah dan berpedoman pada aturan yang jelas. Manusia akan
merasa takut pada Tuhannya bila ia melakukan hal-hal yang tidak bermoral, sehingga ia akan
lebih berhati-hati dalam bertindak. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan
budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari
agama. Solusi dari kita mungkin hanya satu belajar mendekatkan diri kepada Tuhan. Bisa
dengan cara memperdalam ilmu agama (mengaji) dan yang terpenting adalah kesadaran pada
setiap pribadi manusia itu sendiri.

4. Faktor Sejarah

Memperkenalkan budaya melalui pendidikan budaya di sekolah-sekolah. Sehingga anak-anak


akan tau dan paham budaya apa saja yang ada di Indonesia dan menanamkan jiwa
kepeduliannya supaya budaya itu tetap ada dan berkembang dengan baik.
5. Faktor Ekonomi

Solusi untuk faktor ekonomi ini, pemerintah harus menyediakan lapangan pekerjaan yang
sesuai dengan skill yang dimiliki orang dan SDM yang berkualitas. Dengan skill yang bagus maka
ia bisa menciptakan suatu produk yang berkualitas sehingga masyarakat tidak akan membeli
produk dari luar yang bisa merusak produk dalam negeri.

6. Faktor Hukum

Bangsa Indonesia harus menengakkan hukum yang jelas dan tegas yang menengani masalah
kebudayaan, sehingga bangsa ini tidak akan kehilangan salah satu warisan nenek moyang yang
merupakan ciri dan citra bangsa.
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Perkembangan suatu budaya bisa kearah yang baik maupun kearah yang buruk.
Semua pengaruh itu bisa datang dari luar budaya (budaya asing) sehingga dapat
membuat budaya yang telah ada menjadi terkikis bahkan sampai musnah. Banyak faktor
penyebab yang membuat budaya asing masuk ke dalam budaya daerah,.
1. Faktor Sosial
Faktor sosial berpengaruh terhadap seluruh aspek yang dapat
menyebabkan perbedaan dan pergeseran kebudayaan. Lingkungan sosial yang
berbeda, akan membuat budaya yang dihasilkan berbeda pula.
2. Faktor Psikologi
Faktor psikologis juga sangat berpengaruh terhadap suatu kebudayaan,
faktor psikologis berhubungan dengan sesuatu yang mereka gemari atau mereka
senangi. Hal ini lebih bersifat naluriah.
3. Faktor Sejarah
Faktor sejarah yang berpengaruh terhadap kebudayaan, misalnya dari
memperkenalkan kebudayaan tersebut kepada anak-anak di negaranya sejak
usia dini. Bila anak tidak tau sejarah dari suatu budaya maka bagaimana mungkin
ia bisa mengenal budaya tersebut.
4. Faktor Agama
Dengan adanya budaya lain yang masuk ke dalam budaya kita maka kita
akan terpengaruh oleh budaya luar tersebut. Namun pengambilan atau
pengadopsian kebudayaan tersebut harus sesuai dengan norma atau nilai dan
aturan agama yang ada di lingkungannya.
5. Faktor Ekonomi
Ekonomi juga dapat menjadi penyebab terjadinya pergeseran budaya.
Banyak masyarakat kita yang lebih memilih membeli barang dari luar karena
kualitasnya yang lebih baik dibandingkan dengan barang lokal.
6. Faktor Hukum
Hukum di Indonesia yang kurang tegas menyebabkan negara lain merasa
tidak takut untuk mencuri budaya yang ada di Indonesia.
7. Faktor Biologis
Faktor keturunan ia dilahirkan atau asal usul keluarga juga menentukan
perkembangan budaya. Bila ia lebih menyukai budaya negara lain yang
merupakan negara kelahiran dari ayah atau ibunya, maka ia bisa saja tidak
menyukai budaya dimana ia dilahirkan.
B. Saran

Berikut saran yang bisa dijadikan bahan untuk mengatasi permasalahan budaya di Indonesia.

1. Faktor Sosial
Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan
kebudayaan, memperkenalkan kepada masyarakat terutama pada anak-anak,
diadakannya pembelajaran yang berkaitan dengan budaya (pendidikan budaya)
misal dalam kesenian (seni tari, seni musik) mungkin dengan cara sepeti ini
budaya kita bisa bertahan.
2. Faktor Psikologi
Para pelaku budaya harus bisa menciptakan budaya yang lebih menarik,
sehingga masyarakat bisa turut serta mau berkonstribusi dalam
mengembangkan budaya. Jadi kekreatifitasan ciptaan budaya harus ditingkatkan.
3. Faktor Sejarah
Memperkenalkan budaya melalui pendidikan budaya di sekolah-sekolah.
Pengenalan bisa melalui media cetak, media elektronik, maupun konstribusi
langsung.
4. Faktor Agama
Nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada
nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama. Supaya pengaruh dari budaya
asing tetap bermoral.
5. Faktor Ekonomi
Penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat oleh pemerintah dan
peningkatan SDM yang berkualitas supaya mampu bersaing di ajang
Internasional.
6. Faktor Hukum
Bangsa Indonesia harus menengakkan hukum yang jelas dan tegas yang
menengani masalah kebudayaan, sehingga bangsa ini tidak akan kehilangan
salah satu warisan nenek moyang yang merupakan ciri dan citra bangsa.
DAFTAR PUSTAKA

Abyhape. (2011). Manusia dan Kebudayaan. [Online]. Tersedia


http://abyhape.blogspot.com/2011/03/manusia-dan-kebudayaan.html [23 Oktober 2011]

Agustina, E. (2011). Kemajemukan Dan Kesetaraan Sebagai Kekayaan Sosial Budaya Bangsa.
[Online]. Tersedia http://pendidikan-emaagustina.blogspot.com/2011/05/ ckemajemukan-dan-
kesetaraan-sebagai.html [23 Oktober 2011]

Ahira, A. (2011). Pengarauh Kebudayaan Barat Pada Kebudayaan Indonesia. [Online]. Tersedia
http://www.anneahira.com/kebudayaan-barat.htm [25 Oktober 2011]

Dyastriningrum. (2009). Antropologi XI. Jakarta: PT. Cempaka Putih.

Effendi, R. dan Malihah, E. (2007). Pendidikan Lingkungan Sosial, Budaya dan Teknologi.
Bandung: CV. Maulana Media Grafika.

Hamid-Hasan, S. (2010). Penguatan Metodelogi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya


Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakara: Depdiknas

Mudra, M. (2008, 8 Juli). Budaya Indonesia Terkikis Budaya Barat. Suara Pembaruan [Online],
Tersedia http://melayuonline.com/ind/news/read/5135/budaya-indonesia-terkikis-budaya-
barat. [23 Oktober 2011]