Anda di halaman 1dari 6

2.

Distribusi Kuantum
A. Distribusi Fermi-Dirac

Kita telah melihat pada bagian sebelumnya bahwa Karena suhu gas ideal
menurun (pada densitas tetap), statistik Boltzmann menjadi tidak valid karena
kemunculan efek kuantum yang hanya dapat menggambarkan perilaku suhu
rendah (pada kepadatan tinggi), kita membutuhkan suatu titik lain statistik ini
berbeda tergantung dari sifat (jenis) partikel gas. Yang paling mendasar klasifikasi
partikel dalam teori kuantum modern, berdasarkan teorema yang paling umum
dari teori Medan kuantum, adalah klasifikasi kedalam fermion (partikel dengan
Spin setengah integer) dan boson (partikel dengan Spin integer).
Untuk sistem partikel yang digambarkan oleh fungsi gelombang
antisimetrik (fermion) prinsip pengecualian Pauli berlaku dan statistik yang sesuai
disebut fermi atau (Fermi Dirac) statistik.
μ−ε k
t ηk
Ωk =−T ln ∑ (e ) (3.1)
nk

Di mana η k adalah Jumlah partikel dalam keadaan kuantum. Menurut


Pauli prinsip dalam kasus fermion angka ini bisa berupa 0/1 sehingga kita
mendapatkan :
μ−e k

Ωk =−T ln(1+ e T ¿) ¿ (3.2)

Jumlah partikel rata-rata dalam sistem sama dengan minus turunan dari
potensial Ω k dengan potensial kimia μ, sehingga :
μ−εk
−∂ Ωk e t
n
⟨ k⟩ ∂μ
= = μ−e k
(3.3)
e T +1
1
⟨ nk ⟩ = e k−μ (3.4)
T
e +1
Ini disebut sebagai distribusi fermi. Kondisi normalisasi untuk distribusi
fermi dapat ditulis sebagai:
1
∑ μ−e k
=N
(3.5)
k T
e +1
Dimana N adalah jumlah total partikel dalam gas. Potensi termodinamika
Ω gas secara keseluruhan diperoleh dari Ω k menghasilkan
μ−e k

Ω=−T ∑ ln (1+ e T ¿) ¿ (3.6)


k

B. Distribusi Bose-Einstein
Statistik gas ideal partikel dengan Spin bilangan bulat (Boson)
digambarkan oleh fungsi gelombang simetris disebut statistik bose (Bose-
Einstein). jumlah kedudukan keadaan kuantum untuk bosan tidak terbatas
mirip dengan persamaan sebelumnya:
μ−ε k
t ηk
Ωk =−T ln ∑ (e ) (3.7)
nk

Cara masuk ke sini hanyalah sebuah perkembangan geometris yang konvergen


μ− εk
jika e ε ε
t
<1 kondisi ini harus memenuhi untuk k k yang berubah-ubah,
sehingga
μ<0 (3.8)
Dengan menjumlahkan persamaan (3.7) maka:
1
⟨ nk ⟩= e k−μ (3.9)
T
e −1
Yang mana persamaan ini disebut dengan Bose-Einstein. Kondisi ini
normalisasi uuntuk distribusi Bose-Einstein dapat ditulis sebagai :
1
∑ e k−μ
=N
(3.10)
k T
e −1
C. Kesetimbangan Gas Fermi dan Bose
Mari kita mempertimbangkan entropi gas fermi dan bos dalam kondisi
ideal pada keadaan umum (ketidakseimbangan). Ketidakseimbangan distribusi
bose dan fermi akan diperoleh yang membutuhkan nilai entropi maksimal
dalam kesetimbangan analisis ini dapat dilakukan serupa dengan kasus gas
boltzmann. Sekali lagi kita dapat mempertimbangkan kelompok level yang
dekat dalam energi dengan j = 1,2,.... G j nomor dari keadaan ke- j dan N j
nomor partikel.
Gj
W j= (3.11)
N j ! ( G j −N j ) !
Dalam kasus statistic Bose, dalam setiap keadaan kuantum kita bisa
bebas menempatkan bilangan partikel. Sehingga bobot statistik diwakili
bilangan semua distribusi N j dan G j
(G ¿ ¿ j+ N j−1)!
W j= ¿
( G j −1 ) ! N j !
(3.12)

D. Statistik Foton
Fisik yang paling penting untuk dipelajari tentang statistik Bose
adalah radiasi elektromagnetik pada kesetimbangan termodinamika (untuk
landasan historis yang disebut juga radiasi ‘benda hitam’) yaitu foton.
Linearitas persamaan elektrodinamika menyebabkan keabsahan prinsip
superposisi, yaitu tidak adanya interaksi antara foton dalam bentuk gas ideal.
Sebenarnya, untuk mencapai kesetimbangan termodinamika kita harus selalu
mengasumsikan adanya beberapa interaksi kecil foton dengan materi.
Mekanisme interaksi dari penyerapan dan emisi foton oleh materi. Hal ini
menyebabkan kekhasan penting dari gas foton: Jumlah partikel Proton N tidak
dilestarikan dan harus ditentukan dari kondisi ekuilibrium termodinamika.
Membutuhkan minimum energi bebas (Pada tahapan T dan V), kita

mendapatkan kondisinya : ( ∂∂ FN )
T,V
=μ=0, sehingga potensial kimia dari gas

foton adalah nol:


μ=0 (3.13)
Fungsi distribusi foton diatas keadaan sebagian dengan momen ℏk
dan energi yang pasti ℏω=ℏck (dan polarisasi pasti – proyeksi spin foton)
diberikan oleh distribusi Bose dengan μ=0 :
1
n k= ℏω (3.14)
T
e −1
Yang disebut distribusi planck.
Dengan asumsi volume V menjadi cukup besar, kita dapat seperti biasa
mentransformasikan dari diskrit ke distribusi kontinu foton eigenstates. Jumlah
osilator lapangan dengan komponen vektor gelombang k dalam interval

3 d3 k
d k=d k x d k y d k z adalah sama dengan V .Kemudian jumlah osilator
(2 π )3
dengan nilai Absolut vektor gelombang dalam interval k , k + dk diberikan
oleh :
V
3
4 π k 2 dk (3.15)
(2 π )
Menggantikan ω=ckdan kalikan dengan 2 (ada dua aran polarisasi yang
independent), kita mendapatkan jumlah keadaan kuantum foton dengan
frekuensi dalam interval ω , ω +dω sebagai
V ω2 dω
(3.16)
π 2 c2

Kemudian jumlah foton dalam interval ini adalah :


V ω2 dω
d N ω= 2 3 ℏω (3.17)
π c T
e −1
Kalikan dengan ℏω kita dapatkan energi yang terkandung dalam bagian
spektrum ini :
Vℏ ω3 dω
d N ω= 2 3 ℏω (3.18)
π c T
e −1
Yang merupakan hokum planck. Grafik yang sesuai disajikan pada gambar 3.

2 πc
Mengekspresikan semuanya dalam hal Panjang gelombang λ= , kita
ω
mempunyai:
16 π 2 cℏV dλ
d E λ=
λ5 2 πℏc

e −1
(3.19)
Untuk frekuensi yang kecil ℏω ≪ T kita akan mendapatkan hokum rayleigh-
jeans :
T
d N ω=V 2 3
ω 2 dω (3.20)
π c

Di sini, tidak ada ketergantungan pada ℏ karena ini adalah batas klasik dan
hasil ini dapat diperoleh dengan mengalikan persamaan (3.16) oleh T, yaitu
menerapkan hukum equipartition ke masing-masing medan osilator. Dalam
batas terbalik ℏ ω=T (batas kuantum) persamaan (3.18) dari kita
mendapatkan rumus Wien:

ℏω

d N ω=V 2 3 ω 3 e T
dω (3.21)
π c

Kepadatan spektral distribusi energi gas foton dE ω / dω memiliki nilai


maksimum pada saat ω=ω m didefinisikan oleh kondisi :

ℏ ωm
≈ 2,822 (3.22)
T

Dengan demikian kenaikan suhu menyebabkan pergeseran maksimum


distribusi energi ke energi yang lebih tinggi (Frekuensi) sebanding dengan T
(hukum pergeseran Wien). Mari kita menghitung sifat termodinamika dari gas
foton untuk μ=0 energi bebas F=Φ−PV =Nμ+Ω kemudian dengan
meletakkan μ=0 Transformasi dari penjumlahan ke K ke integrasi di atas, kita
dapatkan:

∞ ℏω
V
F=T 2 3∫
dω ω2 ln ⁡(1−e T ) (3.23)
π c 0

Memperkenalkan x=ℏω /T dan melakukan integral parsial kita mendapatkan:


π2 T4 x3
F=−V ∫ dx (3.24)
3 π 2 ℏ3 c3 0 e x −1

π4
Integral disini sama dengan , jadi:
15

π2 T 4
F=−V (3.25)
3 π2 ¿ ¿

Dimana koefisien σ (konstanta Boltzmann) adalah sama dengan :


π 2 K 2B
σ= (3.26)
60 ℏ3 c2

Jika kita mengukur suhu T dalam drajat absolut. Entropi gas foton adalah :

−∂ E 16 σ
S= = V T3 (3.27)
∂T c

Untuk energi total radiasi :


E=F+TS= V T 4 =−3 F (3.28)
c

Yang merupakan hokum Boltzmann. Untuk kalor jenis dari gas foton:

C v =¿ (3.29)

Tekanan radiasi adalah:

P=−¿ (3.30)

Jadi, “persamaan keadaannya adalah :

E
PV = (3.31)
3

Karakteristik untuk gas relativistic (ultra) dengan ω=ck. Jumlah total (rata-
rata) foton pada suhu tertentu diberikan oleh:

∞ ∞
V ω2 V T3 x2 T 3
N= ∫ dω
π 2 c3 0 ℏω
T
e −1
= dx
∫ e x −1
π 2 c 3 ℏ3 0
≈ 0,244 ( )
ℏc
V (3.32)