Anda di halaman 1dari 12

Dafa Zenobia

1102019051
Sasbel S4 MPT

LO 1 MM Defisiensi Imun
1.1 Definisi
1.2 Etiologi
1.3 Klasifikasi
1.4 Patofisiologi
1.5 Pemeriksaan Lab

LO 2 MM HIV/AIDS
2.1 Definisi
2.2 Etiologi
2.3 Epidemiologi
2.4 Patofisiologi
2.5 Manifestasi
2.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding
2.7 Tatalaksana
2.8 Komplikasi
2.9 Pencegahan
2.10 Prognosis

LO 3 MM Kode Etik terhadap penderita HIV/AIDS

LO 4 MM Pandangan islam terhadap penderita HIV/AIDS


LO 1 MM Defisiensi Imun
1.1 Definisi
Defisiensi imun kongenital atau primer merupakan defek genetik yang meningkatkan
kerentanan terhadap infeksi yang sering sudah bermanifestasi pada bayi dan anak, tetapi
kadang secara klinis baru ditemukan pada usia lebih lanjut.

1.2 Etiologi
1. Proses penuaan: infeksi meningkat, penurunan respons terhadap vaksinasi, penurunan
respons sel T dan B serta perubahan dalam kualitas responns imun.
2. Malnutrisi: malutrisi protein – kalori dan kekurangan elemen gizi tertentu (besi, seng
atau Zn); sebab tersering defisiensi imun sekunder.
3. Mikroba imunosupresif: contohnya: malaria, virus, campak, trutama HIV:
mekanismenya melibatkan penurunan fungsi sel T dan APC Steroid.
4. Obat imunosupresif: Steroid
5. Obat sitotoksis atau iradiasi: obat yang banyak digunakan terhadap tumor, juga
membunuh sel peting dari sistem imun termsuk sel induk, progenitor netrofil dan
limfosit yang cepat membelah dalam organ limfoid.
6. Tumor: efek direk dari tumor terhadap sistem imun melalui penglepasan molekul
imunoregulator imunosupresif (TNF-β)
7. Trauma: ineksi meningkat, diduga berhubungan dengan penglepasan molekul
imunosupresif seperti glukokortikoid
8. Penyakit lain seperti diabetes lain lain: diabetes sering berhubungan dengan infeksi.
Deperesi, penyakit alzheimer, penyakit celiac,sarkoidosis, penyakit limfoprofirelatif,
makroglobulinemia Waldenstorm, anemia aplastik, neoplasia.

1.3 Klasifikasi
1. Defisiensi Imun Non-Spesifik
a. Komplemen
Dapat berakibat meningkatnya insiden infeksi dan penyakit autoimun (SLE),
defisiensi ini secara genetik.
 Kongenital : Menimbulkan infeksi berulang /penyakit kompleks imun (SLE
dan glomerulonefritis).
 Fisiologik : Ditemukan pada neonatus disebabkan kadar C3, C5, dan
faktor B yang masih rendah.
 Didapat : Disebabkan oleh depresi sintesis (sirosis hati dan malnutrisi
protein/kalori).
b. Interferon dan lisozim
 Interferon kongenital : Menimbulkan infeksi mononukleosis fatal
 Interferon dan lisozim didapat : Pada malnutrisi protein/kalori
c. Sel NK
 Kongenital : Pada penderita osteopetrosis (defek osteoklas dan monosit),
kadar IgG, IgA, dan kekerapan autoantibodi meningkat.
 Didapat : Akibat imunosupresi atau radiasi.
2. Defisiensi Imun Spesifik
a) Kongential/primer : Sangat jarang terjadi.
 Sel B : Ditandai dengan penyakit rekuren (bakteri)
 X-linked hypogamaglobulinemia
 Hipogamaglobulinemia sementara
 Common variable hypogammaglobulinemia
 Disgamaglobulinemia
 Sel T : Ditandai dengan infeksi virus, jamur, dan protozoa yang rekuren
 Sindrom DiGeorge (aplasi timus kongenital)
 Kandidiasis mukokutan kronik
 Kombinasi sel T dan sel B
 Severe combined immunodeficiency disease
 Sindrom nezelof
 Sindrom wiskott-aldrich
 Ataksia telangiektasi
 Defisiensi adenosin deaminase
Fisiologik
 Kehamilan : Karena peningkatan aktivitas sel Ts atau efek supresif
faktor humoral yang dibentuk trofoblast. Wanita hamil memproduksi Ig
yang meningkat atas pengaruh estrogen
 Usia tahun pertama : Sistem imun pada anak usia satu tahun pertama
sampai usia 5 tahun masih belum matang.
 Usia lanjut : Golongan usia lanjut sering mendapat infeksi karena
terjadi atrofi timus dengan fungsi yang menurun.
b) Defisiensi imun didapat/sekunder
 Malnutrisi
 Infeksi
 Trauma, tindakan, kateterisasi, dan bedah
 Obat sitotoksik, gentamisin, amikain, tobramisin dapat mengganggu
kemotaksis neutrofil. Kloramfenikol, tetrasiklin dapat menekan
antibodi sedangkan rifampisin dapat menekan baik imunitas humoral
ataupun selular.
 Penyinaran
 Kehilangan Ig/leukositStres
 Agammaglobulinmia dengan timoma
 AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

1.4 Patofisiologi
Defisit kekebalan humoral (antibodi) mengganggu pertahanan melawan bakteri virulen,
banyak bakteri seperti ini yang berkapsul dan merangsang pembentukan nanah. Host yang
mengalami gangguan fungsi antibodi mudah menderita infeksi berulang di gusi, telinga
bagian tengah, selaput otak, sinus paranasal dan struktur bronkopulmonal.
Pemeriksaan imunoglobulin serum dengan alat nefelometri, sekarang telah banyak digunakan
untuk mengukur kadar IgG, IgA, IgM dan IgD pada serum manusia.
Imunodefisiensi humoral mencolok pada beberapa penyakit keganasan: mieloma multiple,
leukemia limfositik kronik, dan perlu mendapat perhatian bila sel tumor menginfiltrasi
struktur limforetikuler. Fungsi sel T yang tidak sempurna, pada banyak penyakit, juga
sebagai “defek primer” atau disebabkan oleh beberapa gangguan seperti: AIDS, sarkoidosis,
penyakit Hodgkins, neoplasma non-Hodgkins dan uremia.
Fungsi sel T yang gagal → terjadi bila timus gagal berkembang (sindrom DiGeorge) →
diperbaiki dengan transplantasi jaringan timus fetus.
Perhatian yang serius terhadap setiap orang yang menderita defisiensi sel T yang jelas adalah
pada ketidakmampuanya untuk membersihkan sel-sel asing termasuk leukosit viabel dari
darah lengkap yang ditransfusikan.

1.5 Pemeriksaan Lab


a. Defisiensi Sel B
 Uji Tapis: Kadar IgG, IgM dan IgA, Titer isoaglutinin, Respon antibodi pada vaksin
(Tetanus, difteri, H.influenzae)
 Uji lanjutan: : Enumerasi sel-B (CD19 atau CD20), Kadar subklas IgG, Kadar IgE
dan IgD, Titer antibodi natural (Anti Streptolisin-O/ASTO, E.coli, Respons antibodi
terhadap, vaksin tifoid dan pneumokokus, Foto faring lateral untuk mencari kelenjar
adenoid
 Riset: Fenotiping sel B lanjut, Biopsi kelenjar, Respons antibodi terhadap antigen
khusus misal phage antigen, Ig-survival in vivo, Kadar Ig sekretoris, Sintesis Ig in
vitro, Analisis aktivasi sel, Analisis mutasi
b. Defisiensi sel T
 Uji tapis: Hitung limfosit total dan morfologinya, Hitung sel T dan sub populasi sel T
: hitung sel T total, Th dan Ts, Uji kulit tipe lambat (CMI) : mumps, kandida, toksoid
tetanus, tuberculin, Foto sinar X dada : ukuran timus
 Uji lanjutan: Enumerasi subset sel T (CD3, CD4, CD8), Respons proliferatif terhadap
mitogen, antigen dan sel alogeneik, HLA typing, Analisis kromosom
 Riset: Advance flow cytometr, Analisis sitokin dan sitokin reseptor, Cytotoxic
assay(sel NK dan CTL), Enzyme assay (adenosin deaminase, fosforilase nukleoside
urin/PNP), Pencitraan timus dab fungsinya, Analisis reseptor sel T, Riset aktivasi sel
T, Riset apoptosis, Biopsi, Analisis mutase
c. Defisiensi fagosit
 Uji tapis: Hitung leukosit total dan hitung jenis, Uji NBT (Nitro blue tetrazolium),
kemiluminesensi : fungsi metabolik neutrofil, Titer IgE
 Uji lanjutan: Reduksi dihidrorhodamin, White cell turn over, Morfologi special,
Kemotaksis dan mobilitas random, Phagocytosis assay, Bactericidal assays
 Riset: Adhesion molecule assays (CD11b/CD18, ligan selektin), Oxidative
metabolism, Enzyme assays (mieloperoksidase, G6PD, NADPH), Analisis mutasi
d. Defisiensi komplemen
 Uji tapis:Titer C3 dan C4, Aktivitas CH50
 Uji lanjutan: Opsonin assays, Component assays, Activation assays (C3a, C4a, C4d,
C5a)
 Riset: Aktivitas jalur alternative, Penilaian fungsi(faktor kemotaktik, immune
adherence)

LO 2 MM HIV/AIDS
2.1 Definisi
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu retrovirus yang berarti terdiri atas untai
tunggal RNA virus yang masuk ke dalam inti sel pejamu dan ditranskripkan kedalam DNA
pejamu ketika menginfeksi pejamu. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah
suatu penyakit virus yang menyebabkan kolapsnya sistem imun disebabkan oleh infeksi
immunodefisiensi manusia (HIV), dan bagi kebanyakan penderita kematian dalam 10 tahun
setelah diagnosis.
2.2 Etiologi
Penyebab kelainan imun pada AIDS adalah suatu agen viral yang disebut HIV dari
sekelompok virus yang dikenal retrovirus yang disebut Lympadenopathy Associated Virus
(LAV) atau Human T-Cell Leukimia Virus (HTL-III) yang juga disebut Human T-Cell
Lympanotropic Virus (retrovirus). Retrovirus mengubah asam rebonukleatnya (RNA)
menjadi asam deoksiribunokleat (DNA) setelah masuk kedalam sel pejamu (Nurrarif &
Hardhi, 2015). Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut Human Immunodeficiency
Virus (HIV). Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu:
a. Periode jendela (Period Window): lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak
ada gejala
b. Fase infeksi HIV primer akut: lamanya 1 – 2 minggu dengan gejala flu like illness
c. Infeksi asimtomatik: lamanya 1 – 15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada
d. Supresi imun simtomatik: diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, berat
badan menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut
e. AIDS: lamanya bervariasi antara 1 – 5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan.
Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai sistem tubuh, dan manifestasi
neurologis
2.3 Epidemiologi
UNAIDS (United Nations Programme on HIV/AIDS) memperkirakan pada tahun 1993
jumlah penderita HIV di dunia sebanyak 12 juta orang dan pada akhir tahun 2000 sebanyak
20 juta orang. Prevalensi AIDS pada tahun 1993 sebesar 900.000, sedangkan pada akhir
tahun 2000 sebesar 2 juta. Pada tahun 2001 insidensi infeksi HIV-baru pada anak sebanyak
800.000 dengan 580.000 kematian akibat HIV/AIDS. Dari 800.000 anak, 65.000 kasus
diperkirakan terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Di Indonesia, HIV pertama kali dilaporkan di Bali pada bulan April 1987 (terjadi pada orang
Belanda). Pada tahun 1999 di Indonesia terdapat 635 kasus HIV dan 183 kasus-baru AIDS.
Mulai tahun 2000-2005 terjadi peningkatan kasus HIV dan AIDS secara signifikan di
Indonesia. Kasus AIDS tahun 2000 tercatat 255 orang, meningkat menjadi 316 orang pada
tahun 2003 dan meningkat cepat menjadi 2638 orang pada tahun 2005. Dari jumlah tersebut,
DKI Jakarta memiliki konstribusi terbesar, diikuti Jatim, Papua,
Jabar, dan Bali. Peningkatan ini terutama disebabkan karena semakin membaiknya sistem
pencatatan dan pelaporan kasus dan semakin bertambahnya sarana pelayanan diagnostic
kasus dengan klinik voluntary counseling and testing (VCT)
Hingga Juni 2011, angka kematian karena HIV/AIDS di ibukota sebanyak 109 orang. Jumlah
penderita HIV mencapai 675 orang, dan AIDS 509 orang. Angka-angka itu diperoleh
berdasarkan data Seksi Surveilans Epidemiologi HIV dan AIDS.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta, wilayah Jakarta Barat
menempati peringkat pertama penderita HIV dan AIDS yakni sebanyak 209 orang.
Urutan kedua Jakarta Timur sebanyak 207 orang, kemudian disusul Jakarta Pusat sebanyak
194 orang, Jakarta Utara sebanyak 135 orang, Jakarta Selatan 114 orang. Di luar wilayah
DKI Jakarta 304 orang, dan tidak diketahui 21 orang.
Dibandingkan dengan Negara-negara lainnya di Asia Tenggara, angka kasus HIV/AIDS di
Indonesia termasuk rendah.

2.4 Patofisiologi
Pada individu dewasa, masa jendela infeksi HIV sekitar 3 bulan. Seiring pertambahan
replikasi virus dan perjalanan penyakit, jumlah sel limfosit CD 4+ akan terus menurun.
Umumnya, jarak antara infeksi HIV dan timbulnya gejala klinis pada AIDS berkisar antara 5
– 10 tahun. Infeksi primer HIV dapat memicu gejala infeksi akut yang spesifik, seperti
demam, nyeri kepala, faringitis dan nyeri tenggorokan, limfadenopati, dan ruam kulit. Fase
akut tersebut dilanjutkan dengan periode laten yang asimtomatis, tetapi pada fase inilah
terjadi penurunan jumlah sel limfosit CD 4+ selama bertahun – tahun hingga terjadi
manifestasi klinis AIDS akibat defisiensi imun (berupa infeksi oportunistik). Berbagai
manifestasi klinis lain dapat timbul akibat reaksi autoimun, reaksi hipersensitivitas, dan
potensi keganasan. Sel T dan makrofag serta sel dendritik/langerhans (sel imun) adalah sel –
sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan terkonsentrasi dikelenjar
limfe, limpa dan sumsum tulang. Dengan menurunnya jumlah sel T4, maka sistem imun
seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan
menurunnya fungsi sel T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency
Virus (HIV) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun –
tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel per ml darah
sebelum infeksi mencapai sekitar 200 – 300 per ml darah, 2 – 3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala – gejala infeksi (herpes zoster dan jamur
oportunistik).
2.5 Manifestasi
Penderita yang terinfeksi HIV dapat dikelompokkan menjadi 4 golongan, yaitu:
a. Penderita asimtomatik tanpa gejala yang terjadi pada masa inkubasi yang berlangsung
antara 7 bulan sampai 7 tahun lamanya
b. Persistent generalized lymphadenophaty (PGL) dengan gejala limfadenopati umum
c. AIDS Related Complex (ARC) dengan gejala lelah, demam, dan gangguan sistem imun
atau kekebalan
d. Full Blown AIDS merupakan fase akhir AIDS dengan gejala klinis yang berat berupa diare
kronis, pneumonitis interstisial, hepatomegali, splenomegali, dan kandidiasis oral yang
disebabkan oleh infeksi oportunistik dan neoplasia misalnya sarcoma kaposi. Penderita
akhirnya meninggal dunia akibat komplikasi penyakit infeksi sekunder.
Stadium klinis HIV/AIDS untuk remaja dan dewasa dengan infeksi HIV terkonfirmasi
menurut WHO:
a. Stadium 1 (asimtomatis)
1) Asimtomatis
2) Limfadenopati generalisata
b. Stadium 2 (ringan)
1) Penurunan berat badan < 10%
2) Manifestasi mukokutaneus minor: dermatitis seboroik, prurigo, onikomikosis, ulkus oral
rekurens, keilitis angularis, erupsi popular pruritik
3) Infeksi herpers zoster dalam 5 tahun terakhir
4) Infeksi saluran napas atas berulang: sinusitis, tonsillitis, faringitis, otitis media
c. Stadium 3 (lanjut) 1) Penurunan berat badan >10% tanpa sebab jelas
2) Diare tanpa sebab jelas > 1 bulan
3) Demam berkepanjangan (suhu >36,7°C, intermiten/konstan) > 1 bulan
4) Kandidiasis oral persisten
5) Oral hairy leukoplakia
6) Tuberculosis paru
7) Infeksi bakteri berat: pneumonia, piomiositis, empiema, infeksi tulang/sendi, meningitis,
bakteremia
8) Stomatitis/gingivitis/periodonitis ulseratif nekrotik akut
9) Anemia (Hb < 8 g/dL) tanpa sebab jelas, neutropenia (< 0,5×109 /L) tanpa sebab jelas,
atau trombositopenia kronis (< 50×109 /L) tanpa sebab yang jelas
d. Stadium 4 (berat)
1) HIV wasting syndrome
2) Pneumonia akibat pneumocystis carinii
3) Pneumonia bakterial berat rekuren
4) Toksoplasmosis serebral
5) Kriptosporodiosis dengan diare > 1 bulan
6) Sitomegalovirus pada orang selain hati, limpa atau kelenjar getah bening
7) Infeksi herpes simpleks mukokutan (> 1 bulan) atau visceral
8) Leukoensefalopati multifocal progresif
9) Mikosis endemic diseminata
10) Kandidiasis esofagus, trakea, atau bronkus
11) Mikobakteriosis atripik, diseminata atau paru
12) Septicemia Salmonella non-tifoid yang bersifat rekuren
13) Tuberculosis ekstrapulmonal
14) Limfoma atau tumor padat terkait HIV: Sarkoma Kaposi, ensefalopati HIV, kriptokokosis
ekstrapulmoner termasuk meningitis, isosporiasis kronik, karsinoma serviks invasive,
leismaniasis atipik diseminata
15) Nefropati terkait HIV simtomatis atau kardiomiopati terkait HIV simtomatis

2.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding


Metode yang umum untuk menegakkan diagnosis HIV meliputi:
a. ELISA (Enzyme-Linked ImmunoSorbent Assay) Sensitivitasnya tinggi yaitu sebesar 98,1-
100%. Biasanya tes ini memberikan hasil positif 2-3 bulan setelah infeksi.
b. Western blot Spesifikasinya tinggi yaitu sebesar 99,6-100%. Pemeriksaannya cukup sulit,
mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam.
c. PCR (Polymerase Chain Reaction) Tes ini digunakan untuk:
1) Tes HIV pada bayi, karena zat antimaternal masih ada padabayi yang dapat menghambat
pemeriksaan secara serologis.
2) Menetapkan status infeksi individu yang seronegatif pada kelompok berisiko tinggi
3) Tes pada kelompok tinggi sebelum terjadi serokonversi.
4) Tes konfirmasi untuk HIV-2, sebab ELISA mempunyai sensitivitas rendah untuk HIV-2.
 Diagnosis AIDS untuk kepentingan surveilans ditegakkan apabila terdapat infeksi
oportunistik atau limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mm³
 Pemeriksaan serologi : Mendeteksi adanya antibody terhadap HIV dan pemeriksaan untuk
mendeteksi keberadaan virus HIV.
 Pemeriksaan terhadap antibody HIV

 Sebagai penyaring biasanya digunakan teknik ELISA ( enzyme – linked


immunosorbent assay ),
 Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tes terhadap antibody HIV, yaitu
adanya masa jendela
 Masa jendela adalah waktu sejak tubuh terinfeksi HIV sampai mulai timbulnya
antibody yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan.
 Antibodi mulai terbentuk pada 4 – 8 minggu setelah infeksi
 Jadi jika pada masa ini hasil tes HIV pada seseorang yang sebenarnya sudah terinfeksi
HIV dapat memberikan hasil yang negative.

2.7 Tatalaksana
 Pengobatan suportif : Untuk meningkatkan keadaan umum penderita. Pengobatan ini
terdiri dari pemberian gizi yang baik, obat sintomatik, vitamin dan dukungan psikososial
agar penderita dapat melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin.
 Pengobatan infeksi oportunistik : Pengobatan yang ditujukan untuk infeksi oportunistik
dan dilakukan secara empiris.
 Pengobatan untuk menekan replikasi virus HIV dengan obat antiretroviral (ARV)

Terapi AntiRetroviral

Pengobatan ODHA dewasa dengan antiretroviral dibagi menjadi dua kelompok:


 Regimen ARV Lini Pertama
 Golongan Nucleoside RTI (NRTI):
 Abacavir (ABC) 400 mg sekali sehari
 Didanosine (ddl) 250 mg sekali sehari (BB<60 kg)
 Lamivudine (3TC) 300 mg sekali sehari
 Stavudine (d4T) 40 mg setiap 12 jam
 Zidovudine (ZDV atau AZT) 300 mg setiap 12 jam
 Nucleotide RTI
 Tenofovir (TDF) 300 mgsekali sehari (obat baru)
 Non-nucleoside RTI (NNRTI)
 Efavirenz (EFV)600 mg sekali sehari
 Nevirapine (NPV) 200 mg sekali sehari selama 14 hari, selanjutnya setelah 12 jam
 Regimen ARV Lini Kedua ini merupakan alternative pengobatan apabila yang pertama
gagal:
 AZT atau d4T diganti dengan TDF atau ABC
 3TC diganti dengan ddl
 NVP atau EFV diganti dengan LPV/r atau SQV/r

 Pencegahan melalui perilaku seksual:


 Absen hubungan seksual - tidak melakukan hubungan seksual.
 Berlaku saling setia- hanya melakukan hubungan seksual dengan satu orang dan
saling setia.
 Cegah dengan pelindung (kondom)
 Pencegahan melalui darah:
 Pastikan hanya menerima transfusi darah yang tidak mengandung HIV.
 Hanya menggunakan alat-alat yang menusuk kulit (jarum suntik, jarum tattoo, dan
lain sebagainya) yang masih baru atau sudah disterilkan.
 Pencegahan melalui ibu ke bayi:
 bagi perempuan yang positif HIV, supaya mempertimbangkan lagi untuk hamil.
 bagi ODHA yang hamil, hubungi layanan PPTCT di rumah sakit terdekat. PPTCT
(Prevention from Parent to Child)

2.8 Komplikasi
a. Oral lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human
Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan,
keletihan dan cacat.
b. Neurologik
1) Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus
(HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik,
kelemahan, disfasia, dan isolasi sosial.
2) Ensefalophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan
elektrolit, meningitis atau ensefalitis. Dengan efek: sakit kepala, malaise, demam, paralise
total/parsial.
3) Infark serebral kornea sifilis menin govaskuler, hipotensi sistemik, dan maranik
endokarditis.
4) Neuropati karena inflamasi diemilinasi oleh serangan HIV.
c. Gastrointertinal
1) Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma
Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
2) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik, demam atritis.
3) Penyakit anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai
akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
d. Respirasi Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza,
pneumococcus dan strongyloides dengan efek sesak nafas pendek, batuk, nyeri, hipoksia,
keletihan, gagal nafas.
e. Dermatologik Lesi kulit stafilokokus: virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena
xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekubitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar,
infeksi sekunder dan sepsis.
f. Sensorik
1) Pandangan: sarcoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
2) Pendengaran: otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek
nyeri.
2.9 Pencegahan
Infeksi HIV/AIDS harus diwaspadai, karena infeksi HIV tidak memiliki gejala awal yang
jelas, sehingga tanpa pengetahuan yang cukup penyebaran HIV akan semakin sulit dihindari.
Oleh karena itu, VCT perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk segera mendapat informasi
mengenai HIV, juga agar penderita HIV bisa dilakukan deteksi sedini mungkin dan mendapat
pertolongan kesehatan yang dibutuhkan. Hal ini sangat membantu sebagai
langkah pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS.
Kendati belum terdapat pengobatan yang dapat mengentaskan HIV/AIDS secara tuntas,
namun sebaiknya tidak berkecil hati karena sudah tersedia pengobatan antiretroviral (ARV)
yang digunakan untuk menekan perkembangan virus HIV dalam tubuh penderita, sehingga
mampu meningkatkan kualitas hidup dan daya tahan tubuh penderita infeksi HIV agar dapat
beraktivitas seperti biasa.
a. Secara umum Lima cara pokok untuk mencegah penularan HIV (A, B, C, D, E) yaitu:
A: Abstinence – memilih untuk tidak melakukan hubungan seks berisiko tinggi, terutama
seks pranikah
B: Be faithful – saling setia
C: Condom – menggunakan kondom secara konsisten dan benar
D: Drugs – menolak penggunaan NAPZA
E: Equipment – jangan pakai jarum suntik bersama
b. Untuk pengguna Napza Pecandu yang IDU dapat terbebas dari penularan HIV/AIDS jika:
mulai berhenti menggunakan Napza sebelum terinfeksi, tidak memakai jarum suntik bersama.
c. Untuk remaja Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah, menghindari
penggunaan obat-obatan terlarang dan jarum suntik, tato dan tindik, tidak melakukan kontak
langsung percampuran darah dengan orang yang sudah terpapar HIV, menghindari perilaku
yang dapat mengarah pada perilaku yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab.
2.10 Prognosis
Tanpa terapi antiretroviral, kematian biasanya terjadi dalam waktu satu tahun. Laju
perkembangan penyakit klinis sangat bervariasi antara individu dan telah terbukti dipengaruhi
oleh banyak faktor seperti kerentanan host dan fungsi kekebalan tubuh. Pengembangan ARV
sebagai terapi efektif untuk infeksi HIV dan AIDS mengurangi kematian tingkat dari
penyakit dengan 80%
9 – 11 tahun waktu bersih tergatung subtipe, tergantung pada susbtipe HIV, didaerah daerah
dimana banyak tersedia, pengembangan ARV sebagai terapi efektif untuk infeksi HIV dan
AIDS mengurangi kematian tingkat ari penyakit dengan 80% dan meningkatkan harapan
hidup untuk orag yang terinfeksi HIV baru didiagnosis sekitar 20 tahun.

LO 3 MM Kode Etik terhadap penderita HIV/AIDS


Pasal 10 : Penghormatan hak-hak pasien dan sejawat..
Seorang dokter wajib senantiasa menghormati hak-hak- pasien, teman sejawatnya, dan tenaga
kesehatan lainnya, serta wajib menjaga kepercayaan pasien.
Cakupan Pasal :
(1) Seorang dokter wajib memberikan akses kepada pasien dan mengobatinya tanpa
prasangka terhadap ras, agama, suku, kedudukan sosial, kondisi kecacatan tubuh dan status
kemampuan membayarnya.
(2) Seorang dokter dalam mengobati pasien wajib senantiasa menghormati, melindungi
dan/atau memenuhi hak-hak pasien sebagai bagian dari hak asasi manusia dalam bidang
kesehatan.
(3) Seorang dokter wajib berperilaku berwibawa, tutur kata sopan, perilaku santun,
menghormati hak-hak pasien, sejawat maupun tenaga kesehatan lainnya.
(4) Seorang dokter wajib memberikan informasi yang jelas dan memadai serta menghormati
pendapat atau tanggapan pasien atas penjelasan dokter.
(5) Seorang dokter seharusnya tidak menyembunyikan informasi yang dibutuhkan pasien,
kecuali dokter berpendapat hal tersebut untuk kepentingan pasien, dalam hal ini dokter dapat
menyampaikan informasi ini kepada pihak keluarga atau wali pasien.
(6) Seorang dokter dilarang merokok dan minum minuman keras di depan pasiennya.
Penjelasan pasal
Etika kedokteran diwarnai oleh etika kewajiban yang mengedepankan adanya panggilan
nurani menolong pasien sebagai manusia yang tengah menderita sebagai kewajiban tertinggi
dokter sebagai pengabdi profesi. Pasien merupakan pribadi unik yang menjadi tujuan bagi
hidupnya sendiri, bukan sebagai obyek untuk diintervensi dokter atau tenaga kesehatan
lainnya. Penghormatan hak-hak pasien dan teman sejawat yang merupakan bagian dari
kewajiban dokter akan menjaga kepercayaan pasien, agar dapat mempercepat
kesembuhannya.

• Prinsip Autonomy, menghormati hak-hak pasien, hak otonomi pasien. Melahirkan


informed consent
• Prinsip Beneficence, Tindakan untuk kebaikan pasien. Memilih lebih banyak
manfaatnya daripada buruknya.
• Prinsip Non-maleficence, Melarang tindakan yang memperburuk kedaan pasien.
Primum non nocere atau above all do no harm.
• Prinsip Justice, mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam
mendistribusikan sumber daya (distributiv justice)

LO 4 MM Pandangan islam terhadap penderita HIV/AIDS


Penyakit HIV/AIDS antara 80 % - 90 % penyebabnya adalah berzina dalam pengertiannya
yang luas yang menurut ajaran Islam merupakan perbuatan keji yang diharamkan dan dikutuk
oleh Allah swt. Tidak hanya pelakunya yang dikenai sanksi hukuman yang berat, tetapi
seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan perzinaan.
Bahwa penyakit dan penyebaran virus HIV/AIDS dalam pandangan Islam sudah merupakan
bahaya umum (al-dharar al-‘amm) yang dapat mengancam setiap orang tanpa memandang
jenis kelamin, usia dan profesi. Menyadari betapa bahayanya virus HIV/AIDS tersebut, maka
ada kewajiban kolektif (fardhu kifayah) bagi semua pihak untuk mengikhtiarkan pencegahan
terjangkit, tersebar atau tertularnya virus yang mematikan tersebut melalui berbagai cara yang
memungkinkan untuk itu, dengan melibatkan peran Ulama/tokoh agama. Meningat bahwa
penyebab penyakit HIV/AIDS sebagian besar diakibatkan oleh perilaku seksual yang
diharamkan Islam, maka cara dan uapa yang paling efektif untuk mencegahnya adalah
dengan malarang perzinaan serta hal-hal lain yang terkait dengan perzinaan, seperti
pornografi dan pornoaksi.