Anda di halaman 1dari 84

LAPORAN

OPERASI TEKNIK KIMIA 1


(HKKK 435)

PERCOBAAN 4
SEDIMENTASI

DOSEN PEMBIMBING : HESTI WIJAYANTI, S.T., M.T., Ph.D

OLEH:
KELOMPOK 5
ACHMAD FAIZ MUQORROBIN 1810814110016
ERA AGUSTIN 1810814120017
NABILAH MILLENA PUTRI 1810814220007
SITI HUMAEROH FITRIAH 1810814320003

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2019
ABSTRAK

Sedimentasi merupakan pemisahan padatan dan cairan dari larutan suspense yang
dipengaruhi oleh gaya gravitasi, gaya apung, gaya dorong dan konsentrasi. Percobaan ini bertujuan
untuk mencari data dan membuat grafik hubungan kecepatan sedimentasi (V L) dengan konsentrasi
suspensi (CL) berdasarkan data percobaan sedimentasi secara batch dan mencari kecepatan free
settling (Vt). Percobaan ini dilakukan dengan membuat lautan suspensi CaCO 3 30 gram yang
dicampurkan dengan 1000 mL akuades, lalu diaduk selama 7 menit. Larutan tersebut dimasukkan
ke dalam gelas ukur 1000 mL dan perhitungan waktu dimulai pada tetes terakhir penuangan. Ukur
tinggi awal dan amati perubahan yang terjadi. Ketinggian Zona A, B,dan C diukur dari menit
pertama hingga ke-30, lalu hasilnya dicatat. Ulangi percobaan tersebut dengan penambahan HCl
0,1 N 7 mL dan tawas 1 % 7 mL. Pada variasi I tinggi endapan mulai konstan pada menit ke-7
dengan tinggi 1,2 cm, pada variasi II tinggi endapan mulai konstan pada menit ke-6 dengan tinggi
1,3 cm dan pada variasi III tinggi endapan mulai konstan pada menit ke-5 dengan tinggi 1,3 cm.
Nilai VL dan CL pada variasi I secara berturut-turut adalah 3,119 cm/menit – 1,819 cm/menit dan
0,040 g/mL – 0,066 g/mL. Pada variasi II adalah 3,450 cm/menit – 1,950 cm/menit dan 0,042
g/mL – 0,071 g/mL. Pada variasi III adalah 4,140 cm/menit – 2,340 cm/menit dan 0,042 g/mL –
0,071 g/mL. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai Vt secara berturut-turut pada variasi 1,
2 dan 3 yaitu 7,8126cm/s; 11,894 cm/s dan 11,883 cm/s.

Kata Kunci: Batch, Free Settling, Sedimentasi, Slurry, Suspensi.

IV-i
PERCOBAAN 4
SEDIMENTASI

4.1 PENDAHULUAN

4.1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah:
1. Mencari data dan membuat grafik hubungan kecepatan sedimentasi (VL),
dengan konsentrasi suspensi (CL) berdasarkan data percobaan sedimentasi
secara batch.
2. Mencari kecepatan free settling (Vt).

4.1.2 Latar Belakang


Sedimentasi adalah pemisahan suatu suspensi (campuran padat cair)
menjadi cairan jernih (bening) dan suspensi yang lebih padat (sludge).
Sedimentasi batch adalah sedimentasi yang dilakukan dalam beberapa tahap
sehingga menghasilkan suspensi padatan dengan perbedaan zona dalam
prosesnya. Sedangkan sedimentasi kontinyu adalah sedimentasi yang
menggunakan tangki vessel dengan pengaduk putaran lambat untuk memindahkan
endapan padatan ke dalam control discharge (Geankoplis, 2003).
Proses Sedimentasi memanfaatkan gaya gravitasi untuk memisahkan
padatan cairan dari suspensi. Gaya berat akan membuat padatan yang awalnya
melayang pada cairan perlahan-lahan mengendap. Hal ini juga disebabkan oleh
gaya dorong yang terjadi pada campuran CaCO3 dan H2O. Semua faktor tersebut
mempengaruhi kecepatan mengendap partikel pada bak sedimentasi (Didit, 2008).
Aplikasi sedimentasi pada dunia industri antara lain pada pembuatan
kertas dimana slurry berupa bubuk selulosa akan dipisahkan menjadi pulp dan air.
Agar mengetahui cara pemisahan padatan yang efektif dan efisien maka dari itu
praktikum ini penting agar praktikan dapat memahami proses sedimentasi untuk
diterapkan dalam dunia industri.

IV-1
4.2 DASAR TEORI

Sedimentasi merupakan separasi yang parsial atau konsentrasi yang


tersuspensikan dalam partikel padat dari cairan karena pengaruh gaya gravitasi.
Wilayah sedimentasi ini mungkin dapat dibagi menjadi operasi bahan pengental
dan klasifikasi yang fungsional. Tujuan utama dari pengentalan adalah untuk
meningkatkan konsentrasi dari solid yang tersuspensi dalam aliran umpan, yang
mana klasifikasi tersebut memindahkan partikel tersuspensi dalam jumlah yang
sedikit dan produknya berupa effluent yang jernih, dua fungsi ini adalah sama dan
terjadi secara serempak (Perry, 1997).
Sedimentasi juga merupakan salah satu cara yang paling ekonomis untuk
memisahkan padatan dari suspensi, bubur atau slurry. Rancangan peralatan
sedimentasi selalu didasarkan pada percobaan sedimentasi pada skala yang lebih
kecil. Sedimentasi merupakan peristiwa turunnya partikel padat yang semula
tersebar merata dalam cairan karena adanya gaya berat, setelah terjadi
pengendapan cairan jenuh dapat dipisahkan dari zat padat yang menumpuk di
dasar (endapan). Selama proses berlangsung terdapat tiga buah gaya sebagai
berikut (McCabe dkk., 1986) :
1. Gaya Gravitasi
Pada gaya ini, berat jenis larutan lebih kecil dari berat jenis partikel, sehingga
partikel lebih mudah mengendap. Gaya ini dapat terlihat pada saat terjadi
pengendapan atau mulai turunnya partikel padatan menuju ke dasar tabung
untuk membentuk endapan. Pada kondisi ini sangat dipengaruhi oleh Hukum
2 Newton, yang ditunjukkan oleh persamaan berikut :

Fg = m . g . . . (4.1)

Dimana : Fg = Gaya gravitasi (N)


m = Massa (Kg)
g = Gravitasi (m/s2)

IV-2
IV-3

2. Gaya Apung atau Melayang


Gaya apung terjadi jika massa jenis partikel lebih kecil dari massa jenis
fluida. Sehingga partikel padatan berada pada permukaan cairan. Rumus gaya
apung sebagai berikut :

m. ρ . g
Fa= . . . (4.2)
ρs

Dimana : Fa = Gaya apumg (N)


ρ = Densitas fluida (Kg/m3)
ρ s = Densitas padatan (Kg/m3)
m = Massa (Kg)
g = Gravitasi (m/s2)

3. Gaya Dorong
Gaya dorong terjadi pada saat larutan dipompakan ke dalam tabung clarifier.
Gaya dorong dapat dilihat pada saat mulai turunnya partikel padatan karena
adanya gaya gravitasi, maka fluida akan memberikan gaya yang besarnya
sama dengan berat padatan itu sendiri. Persamaannya sebagai berikut :

v . D 2 (ρ R− ρg )
Fd= . . . (4.3)
18 μ

Dimana : Fd = Gaya dorong (N)


v = Kecepatan (m/s)
D = Diameter (m)
ρ R = Densitas fluida (Kg/m3)
ρ g = Densitas benda (Kg/m3)
μ = Viskositas (N/m2)

Di laboratorium, sampel air disaring dengan menggunakan kertas saring


dengan ukuran yang sesuai dengan tingkat akurasi data yang diinginkan.
IV-4

Selanjutnya sampel air yang telah disaring tersebut dikeringkan dengan


menggunakan oven. Sedimen kering angin kemudian ditimbang dan dinyatakan
dalam bentuk presentasi dari berat total gabungan air dan sedimen. Dengan
asumsi bahwa konsentrasi sedimen merata pada seluruh bagian (Asdak, 2007).
Asumsi-asumsi dalam sedimentasi sebagai berikut(Richardson, 2002) :
1. Konsentrasi partikel seragam, membentuk beberapa lapisan horizontal.
2. Efek dingin dapat dicairkan.
3. Tidak ada diferensial settling, dari partikel sebagai hasil dari pemisahan,
shape, size atau komposisi.
4. Konsentrasi jatuh partikel hanya tergantung pada konsentrasi partikel.
5. Konsentrasi awal juga uniform atau mengikuti meningkat kearah dasar
suspensi.
6. Kecepatan sedimentasi cenderung mendekati nol sebagai pendekatan
konsentrasi yang membatasi nilai sesuai lapisan sedimen. Partikel yang besar
mempunyai kecepatan pengendapan yang lebih besar dibandingkan kecepatan
partikel kecil dari pada partikel-partikel yang berukuran besar.
Sedimentasi biasanya berlangsung secara batch atau kontinyu (thickener).
Secara klasifikasi dapat dijabarkan yang dimaksud dengan pembagian sedimentasi
adalah sebagai berikut (Geankoplis, 2003) :
a. Sedimentasi Batch
Sedimentasi batch adalah pemisahan padatan dan cairan dalam beberapa
tahap sehingga menghasilkan suspensi padatan dan adanya beberapa zona
dalam proses sedimentasi. Biasanya sedimentasi partikel padatan dalam
sedimentasi batch ini cukup tinggi.
b. Sedimentasi Kontinyu
Proses industri, operasi sedimentasi sering digunakan dalam proses kontinyu
yang disebut thickener. Sedimentasi kontinyu adalah suatu proses pemisahan
padatan cairan menggunakan media yang berbentuk kerucut dalam silinder
tangki vessel dengan pengaduk putaran lambat Untuk memindahkan endapan
padatan ke dalam control discharge. Operasi sedimentasi kontinyu tergantung
pada karakteristik slurry yang sama seperti pada operasi sedimentasi batch.
IV-5

Tahap pemisahan suspensi sebagian besar terjadi dari partikel yang mudah
mengendap. Pemisahan lebih efektif dilakukan dengan operasi sedimentasi.
Proses sedimentasi melibatkan perpindahan partikel solid suspensi dan cairan
dengan pengendapan gravitasi. Operasi ini dibagi menjadi kening klasifikasi dan
gerakan solid (Cheremisinoff, 2000).
Mekanisme sedimentasi dapat dideskripsikan dengan observasi yang
terjadi selama batch settling, solid dan slurry dalam gelas silinder. Pada
permukaan seluruh partikel diasumsikan secara acak mendekati kecepatan
terminal atau kecepatan jatuh bebas. Gambar 4.1 dapat mendeskripsikan proses
yang terjadi (Brown, 1956) :

Gambar 4.1 Mekanisme Sedimentasi Batch

Keterangan : A = Cairan bening


B = Zona konsentrasi seragam
C = Zona ukuran butir tidak seragam
D = Zona partikel padat terendapkan

Setelah periode proses, batas antara cairan dan suspensi bergerak ke bawah
pada kecepatan konstan dan terbentuk endapan pada dasar. Saat batas mendekati
lapisan sedimen kecepatannya berlangsung sampai tercapai critical settling point.
Sehingga batas benda-benda terbentuk antara cairan bening dan endapan pada
dasar. Saat batas endapan membentuk lapisan partikel yang terikat satu sama lain
IV-6

dan lapisan cair naik ke atas hingga kecepatan endapan semakin turun (Brown,
1956) :
Penentuan kecepatan pengendapan dapat dilihat pada gambar berikut
(Geankoplis, 1994) :

Gambar 4.2 Tinggi antarmuka Cairan Bening (Z) dengan Waktu

Pada Gambar 4.2 ketinggian (Z) cairan bening antarmuka diplot terhadap waktu.
Seperti yang ditunjukkan kecepatan settling yaitu kemiringan garis, konstan pada
awalnya. Titik kritis ditunjukkan pada titik C karena sludge sangat bervariasi
tingkatnya, tingkat pengendapan ekperimental setiap sludge diperlukan.
Pengendapan atau sedimentasi berdasarkan karakteristik suspensi padatnya
dibagi menjadi 4 macam yaitu (Reynold, 1982) :
1. Pengendapan Bebas (Free Settling)
Pengendapan bebas merupakan pengendapan yang paling sederhana pada
pengendapan ini, partikel padat berputar secara acak dan tidak ada partikel
yang berflokulasi. Spesifikasi partikel padatnya adalah berpencar.
2. Pengendapan Flokulan
Pengendapan flokulan merupakan pengendapan partikel-partikel yang bersifat
flokulan pada campuran suspense. Partikel flokulan merupakan partikel yang
dapat membesar ukurannya dan lebih cepat mengendap. Spesifikasi partikel
padatnya adalah flux, biasanya flokulan ini memiliki konsentrasi kurang dari
500 mg/L.
IV-7

3. Pengendapan Zona (Hindered Settling)


Pengendapan zona adalah pengendapan pada konsentrasi sedang pada partikel
dimana partikel tersebut sangat berdekatan letaknya dengan partikel lain
sehingga gaya antar partikel mengalami pengendapan dari partikel di
dekatnya. Spesifikasi partikel padatnya adalah flux, memiliki konsentrasi
lebih dari 500 mg/L.
4. Pengendapan Kompresi (Compression Settling)
Pengendapan kompresi merupakan pengendapan dengan konsentrasi spesi
yang sangat tinggi yang di mana secara partikel bersentuhan dengan yang lain
dan pengendapan hanya bisa dilakukan jika kompresi masa pada suspensi.
Spesifikasi partikel padat adalah memiliki konsentrasi yang sangat tinggi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan sedimentasi yaitu (Rifai,
2002) :
1. Konsentrasi
Semakin besar konsentrasi gaya gesek yang dialami partikel karena partikel
lain semakin besar, sehingga drag force semakin besar titik peristiwa tersebut
disebabkan dengan besarnya konsentrasi berarti semakin banyak jumlah
partikel dalam suatu suspensi yang menyebabkan bertambahnya gaya gesek
antara suatu partikel dengan partikel yang lain. Gaya gesek ini kerja pada arah
yang berlawanan dengan gerakan partikel di dalam fluida. Gaya ini
disebabkan oleh adanya transfer momentum yang arahnya tegak lurus. Maka
dengan adanya drag force yang arahnya berlawanan dengan arah partikel
menyebabkan gerakan partikel lambat karena semakin kecilnya gaya total ke
bawah sehingga kecepatan pengendapan semakin turun.
2. Ukuran Partikel
Jika ukuran partikel semakin besar maka semakin besar pula permukaan dan
volumenya. Luas permukaan partikel berbanding lurus dengan gaya apung.
Hal ini disebabkan gaya ke atas makin besar sehingga gaya total untuk
mengendapkan partikel semakin kecil sehingga pengendapan yang menurun.
IV-8

3. Jenis Partikel
Jenis partikel berhubungan dengan densitas partikel yang berpengaruh
terhadap gaya apung dan gaya gravitasi yang dapat mempengaruhi kecepatan
pengendapan suatu partikel dalam suatu fluida statis. Densitas partikel yang
semakin besar menyebabkan gaya apung semakin kecil sedangkan gaya
gravitasi akan semakin besar, sehingga resultan gaya ke bawah semakin besar
pula, ini berarti kecepatan pengendapan akan semakin besar pula.
Sifat fisik dan kimia dari kalsium karbonat sebagai berikut (Labchem,
2012):
1. Rumus kimia : CaCo3
2. Keadaan fisik : Solid
3. Bau : Tidak berbau
4. Warna : Putih
5. Berta molekul : 100,09 g/mol
6. Titik didih : 825°C (1098 K)
7. Titik lebur : 101,13°C
8. Densitas : 2,83 g/cm3
Sifat fisik dan kimia dari air sebagai berikut (Labchem, 2018):
1. Rumus kimia : H2O
2. Keadaan fisik : Cair
3. Titik didih : 0°C
4. Titik lebur : 101°C
5. PH :7
6. Densitas : 0,99823 g/cm3
7. Berat molekul : 18 g/mol
Sifat fisik dan kimia dari asam klorida (HCl) sebagai berikut (Sciencelab,
2005):
1. Keadaan fisik : Larutan
2. Bau : Tajam
3. Berat molekul : 36,46 g/mol
4. Densitas : 1,18 g/cm3
IV-9

5. Titik didih : 50,5°C (383 K)


6. Titik lebur : -62,25°C (297 K)
Sifat fisik dan kimia dari tawas sebagai berikut (Smartlab, 2017):
1. Rumus molekul : Al2(SO4)3.18H2O
2. Keadaan fisik : Serbuk
3. Warna : Putih
4. Berat molekul : 666,42 g/mol
5. Densitas : 2,398 g/m3
6. Titik leleh : 86,5°C
4.3 METODOLOGI PERCOBAAN

4.3.1 Alat dan Deskripsi Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
- Gelas ukur 1000 mL - Neraca analitik
- Gelas beker 1000 mL - Stopwatch
- Sudip - Pipet volume 5 mL
- Pengaduk kaca - Propipet
- Gelas arloji - Penggaris 60 cm
- Senter - Indikator pH

Deskripsi Alat

Keterangan:
1. Gelas ukur 1000 mL
2. Zona A (bening)
3. Zona B (keruh)
4. Zona C (endapan)

Gambar 4.3 Rangkaian Alat Sedimentasi

4.3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
- CaCO3 30 gram
- Akuades 1000 mL
- HCl 0,1 N 7 mL
- Tawas (Al2(SO4)3 18H2O) 1% 7 mL

IV-10
IV-11

4.3.3 Prosedur Kerja


1. CaCO3 ditimbang sebanyak 30 gram.
2. Akuades diambil dengan gelas ukur sebanyak 1000 mL.
3. CaCO3 dan akuades dimasukkan ke dalam gelas beker 1000 mL, kemudian
diaduk selama 7 menit.
4. Larutan CaCO3 dimasukkan ke dalam gelas ukur 1000 mL, perhitungan
waktu pengamatan dimulai pada tetes terakhir larutan CaCO 3. Tinggi awal
dari larutan CaCO3 diukur lalu tinggi pada masing-masing zona yang
terbentuk setiap menit diukur hingga menit ke-30 sampai tinggi endapan pada
dasar gelas ukur konstan
5. Hasil pengamatan dicatat.
6. Langkah 1-5 diulang untuk variasi 2 yaitu massa CaCO3 sebanyak 30 gram
dan ditambah larutan HCl 0,1 N sebanyak 7 mL. Untuk variasi 3 ditambahkan
7 mL larutan tawas (Al2(SO4)3 18H2O).
4.4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Awal
Variasi 3 +
Variasi Variasi 1 + H2O Variasi 2 + HCl
Al2(SO4)3
Jumlah H2O 1000 Ml 1000 mL 1000 mL
Tinggi cairan (awal)
30,8 cm 30,8 cm 30,9 cm
Tinggi cairan (akhir)
Volume cairan total 1000 Ml 1007 mL 1007 mL
Volume sampel 1000 mL 7 mL 7 mL
Jumlah CaCO3 30 gram 30 gram 30 gram
pH awal 8 7 7
pH akhir 8 8 8

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Sedimentasi CaCO3 + H2O


Waktu Ketinggian (cm) Zona B+C
(menit) Zona A (cm) Zona B (cm) Zona C (cm) (cm)
1 6,7 23,85 0,25 24,1
2 9,7 20,6 0,5 21,1
3 14,4 15,6 0,8 16,4
4 19,8 10,1 0,9 11
5 24,1 5,55 1,15 6,7
6 28 1,6 1,2 2,8
7 29,6 0 1,2 1,2

8 29,6 0 1,2 1,2

9 29,6 0 1,2 1,2

10 29,6 0 1,2 1,2

11 29,6 0 1,2 1,2

IV-12
IV-13

Lanjutan Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Sedimentasi CaCO3 + H2O

12 29,6 0 1,2 1,2

13 29,6 0 1,2 1,2

14 29,6 0 1,2 1,2

15 29,6 0 1,2 1,2

16 29,6 0 1,2 1,2

17 29,6 0 1,2 1,2

18 29,6 0 1,2 1,2

19 29,6 0 1,2 1,2

20 29,6 0 1,2 1,2

21 29,6 0 1,2 1,2

22 29,6 0 1,2 1,2

23 29,6 0 1,2 1,2

24 29,6 0 1,2 1,2

25 29,6 0 1,2 1,2

26 29,6 0 1,2 1,2

27 29,6 0 1,2 1,2

28 29,6 0 1,2 1,2

29 29,6 0 1,2 1,2

30 29,6 0 1,2 1,2

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Sedimentasi CaCO3 + H2O + HCl


Waktu Ketinggian (cm) Zona B+C
Zona A (cm) Zona B (cm) Zona C (cm)
(menit) (cm)
1 7 23,5 0,3 23,8

Lanjutan Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Sedimentasi CaCO3 + H2O + HCl


IV-14

2 11,8 18,5 0,5 19

3 15,2 14,5 0,8 15,6

4 23 6,8 1 7,8

5 29,4 0,2 1,2 1,4

6 29,5 0 1,3 1,3

7 29,5 0 1,3 1,3

8 29,5 0 1,3 1,3

9 29,5 0 1,3 1,3

10 29,5 0 1,3 1,3

11 29,5 0 1,3 1,3

12 29,5 0 1,3 1,3

13 29,5 0 1,3 1,3

14 29,5 0 1,3 1,3

15 29,5 0 1,3 1,3

16 29,5 0 1,3 1,3

17 29,5 0 1,3 1,3

18 29,5 0 1,3 1,3

19 29,5 0 1,3 1,3

20 29,5 0 1,3 1,3

21 29,5 0 1,3 1,3

22 29,5 0 1,3 1,3

23 29,5 0 1,3 1,3

Lanjutan Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Sedimentasi CaCO3 + H2O + HCl

24 29,5 0 1,3 1,3

25 29,5 0 1,3 1,3

26 29,5 0 1,3 1,3


IV-15

27 29,5 0 1,3 1,3

28 29,5 0 1,3 1,3

29 29,5 0 1,3 1,3

30 29,5 0 1,3 1,3

Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Sedimentasi CaCO3 + H2O + Al2(SO4)3


Waktu Ketinggian (cm) Zona B+C
Zona A (cm) Zona B (cm) Zona C (cm)
(menit) (cm)
1 7,8 22,7 0,4 23,1
2 12,4 17,6 0,9 18,5
3 18,6 11,1 1,2 12,3
4 29,1 1,5 1,3 2,8
5 29,6 0 1,3 1,3
6 29,6 0 1,3 1,3
7 29,6 0 1,3 1,3
8 29,6 0 1,3 1,3
9 29,6 0 1,3 1,3
10 29,6 0 1,3 1,3
11 29,6 0 1,3 1,3
12 29,6 0 1,3 1,3
13 29,6 0 1,3 1,3
14 29,6 0 1,3 1,3
15 29,6 0 1,3 1,3
16 29,6 0 1,3 1,3

Lanjutan Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Sedimentasi CaCO3 + H2O + Al2(SO4)3


17 29,6 0 1,3 1,3

18 29,6 0 1,3 1,3

19 29,6 0 1,3 1,3

20 29,6 0 1,3 1,3

21 29,6 0 1,3 1,3

22 29,6 0 1,3 1,3

23 29,6 0 1,3 1,3


IV-16

24 29,6 0 1,3 1,3

25 29,6 0 1,3 1,3

26 29,6 0 1,3 1,3

27 29,6 0 1,3 1,3

28 29,6 0 1,3 1,3

29 29,6 0 1,3 1,3

30 29,6 0 1,3 1,3


IV-17

4.4.2 Hasil Perhitungan


Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Sedimentasi CaCO3 + H2O
Zo Co ϴi ZL CL
Zi ϴL cm Vt
No (cm (g/mL (menit (cm VL ( ) g
(cm) (menit) menit mL (cm/s)
) ) ) )
1 23 3,114 0,040
2 22 2,971 0,042
3 21 2,829 0,044
4 20 2,686 0,046
5 19 2,543 0,049
30,8 0,03 7,1 1,2 7 7,826
6 18 2,400 0,051
7 17 2,257 0,054
8 16 2,114 0,058
9 15 1,971 0,062
10 14 1,829 0,066

Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Sedimentasi CaCO3 + H2O + HCl


CL
Zo Co Zi ϴi ZL ϴL cm Vt
No VL ( ) g
(cm) (g/mL) (cm) (menit) (cm) (menit) menit mL (cm/s)

1 22 3,450 0,042
2 21 3,283 0,044
3 20 3,117 0,046
4 19 2,950 0,049
5 18 2,783 0,051
30,8 0,03 7,1 1,3 6 11,894
6 17 2,617 0,054
7 16 2,450 0,058
8 15 2,283 0,062
9 14 2,117 0,066
10 13 1,950 0,071

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Sedimentasi CaCO3 + H2O + Al2(SO4)3


CL
Zo Co Zi ϴi ZL ϴL cm Vt
No VL ( ) g
(cm) (g/mL) (cm) (menit) (cm) (menit) menit mL (cm/s)

1 30,9 0,03 22 5,3 1,3 5 4,140 0,042 11,883


2 21 3,940 0,044
3 20 3,740 0,046
4 19 3,540 0,049
IV-18

5 18 3,340 0,052
6 17 3,140 0,055
7 16 2,940 0,058
8 15 2,740 0,062
9 14 2,540 0,066
10 13 2,340 0,071

4.4.3 Pembahasan
Sedimentasi merupakan separasi yang parsial atau konsentrasi yang
tersuspensikan dalam partikel padat dari cairan karena pengaruh gaya gravitasi
(Perry, 1997). Pada percobaan ini dilakukan proses sedimentasi batch.
Sedimentasi batch adalah pemisahan padatan dan cairan dalam beberapa tahap
sehingga menghasilkan suspensi padatan dan adanya beberapa zona dalam proses
sedimentasi (Geankoplis, 2003).
Percobaan ini menggunakan tiga variasi data yaitu campuran CaCO3 dan
H2O, CaCO3 dengan H2O yang ditambah dengan HCI 0,1 N dan CaCO 3 dengan
H2O yang ditambahkan AI2(SO4)3 (tawas) 1%. Tujuan dilakukan variasi data ini
adalah untuk mengetahui perbandingan antara kecepatan pengendapan
(sedimentasi) dengan konsentrasi supensi yang berbeda-beda. Adapun fungsi
penambahan air pada CaCO3 adalah untuk melarutkan zat-zat yang terkandung
dalam CaCO3. Pencampuran serbuk CaCO3 dengan air dilakukan selama 7 menit,
agar proses pengadukan dapat terjadi secara homogen, sehingga terbentuk
suspensi larutan kapur. Ketika larutan didiamkan akan terjadi pengendapan di
dasar gelas. Larutan CaCO3 dengan akuades mengalami penguraian menjadi anion
CO32- dan kation Ca+ yang kemudian akan membentuk asam lemah (HCO 3-) yang
sedikit terdiosiasi menjadi basa kuat. Hal ini karena karbonat tidak dapat larut
tetapi bereaksi dengan hidrogen membentuk asam karbonat. Adapun reaksi yang
terjadi sebagai berikut :

CaCO3 (s) + H2O (aq) Ca2+(aq) + HCO3-(aq) + OH-(aq) . . . (4.4)

CaCO3 (s) + H2O(aq) CaCO3 (s) + H2O (aq) . . . (4.5)


IV-19

Pengamatan yang dilakukan pada proses sedimentasi bertujuan untuk


melihat pemisahan larutan yang terjadi dengan melihat zona yang terbentuk pada
suspensi CaCO3. Ada 3 zona yang terbentuk yaitu zona A adalah zona bening,
zona B adalah zona keruh dan zona C adalah zona endapan. Lamanya waktu
pengendapan mempengaruhi slurry. Semakin lama waktu pengendapan, semakin
kecil ketinggian zona keruh yang dihasilkan dan seiring berjalannya waktu, tinggi
yang dihasilkan akan konstan.
Proses sedimentasi dipengaruhi oleh 3 gaya, yaitu gaya gravitasi, gaya
apung dan gaya dorong. Gaya gravitasi adalah sebuah gaya dimana massa jenis
CaCO3 lebih besar dibandingkan massa jenis akuades (McCabe dkk., 1986). Berat
jenis CaCO3 adalah 2,83 g/cm3 (Labchem, 2012). Sedangkan berat jenis akuades
adalah 0,99823 g/cm3 (Labchem, 2018). Oleh karena itu, maka digunakan akuades
agar CaCO3 dapat jatuh ke dasar gelas, sehingga CaCO3 lebih cepat mengendap.
Gaya apung adalah sebuah gaya yang membuat beberapa partikel berada di zona
keruh dalam beberapa menit pertama dikarenakan partikel CaCO3 yang massa
jenisnya lebih kecil dibandingkan akuades, sehingga CaCO3 mengapung dan
membentuk zona B. Gaya dorong dihasilkan oleh zat pada saat CaCO3 mulai turun
karena pengaruh gravitasi sehingga air akan memberi gaya yang sama besar
dengan berat CaCO3 tersebut. Ketiga zona B suda tidak terlihat lagi, hal tersebut
menandakan bahwa semakin banyak CaCO3 yang terendapkan ke bagian dasar
permukaan, bergabung dengan zona C.
Data yang diperoleh melalui grafik variasi I dengan suspense CaCO3 30
gram dan 1000 mL akuades dengan waktu pengamatan tiap menit selama 30
menit dapat dilihat pada Gambar 4.4 berikut :
IV-20

30

25

20
Z (cm )

15

10 Variasi I Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0

θ (menit)

Gambar 4.4 Hubungan antara Waktu (θ) terhadap Ketinggian (z) pada
Suspensi CaCO3 dengan H2O

Berdasarkan Gambar 4.4 dapat dilihat bahwa ketinggian pada awalnya


berbanding terbalik terhadap waktu, dimana semakin tinggi waktu maka
ketinggian dari zona keruh ditambahkan zona pengendapan semakin menurun.
Ketika suspensi berada di gelas, bagian atas suspensi memberikan gaya apung
sehingga partikel menjadi melayang di zona keruh. Ketika CaCO 3 mulai turun
karena pengaruh gaya gravitasi, gaya dorong yang dihasilkan oleh zat padat
sehingga air akan memberi gaya yang sama besar dengan berat CaCO3 tersebut
dan menghasilkan endapan. Pada menit ke-7 hingga menit ke-30 ketinggian
IV-21

menjadi konstan yaitu 1,2 cm. Hal ini dikarena larutan berada pada fase jauh
sehingga menyebabkan kurangnya gaya dorong ke permukaan yang dilakukan
fluida dan semakin besar partikel sudah mengendap. Grafik hubungan antara
waktu dengan ketinggian tidak linear. Hal ini dikarenakan perbedaan kecepatan
jatuh partikel CaCO3 setiap menit atau kecepatan yang tidak konstan dari partikel
CaCO3 ke dasar gelas ukur.
Suspensi variasi II yaitu CaCO3 30 gram, 1000 mL akuades dan 7 mL HCl
dengan waktu pengendapan tiap menit selama 30 menit yang dapat dilihat pada
Gambar 4.5 berikut :

25

20

15
Z (cm )

10
Variasi II Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0

θ (menit)

Gambar 4.5 Hubungan antara Waktu (θ) terhadap Ketinggian (z) pada
IV-22

Suspensi CaCO3 dengan HCl

Berdasarkan Gambar 4.5 menunjukkan bahwa ketinggian pada awalnya


berbanding terbalik terhadap waktu. Hal ini dikarenakan semakin lama waktu
maka ketinggian zona keruh ditambahkan zona pengendapan semakin menurun.
Berdasarkan grafik dapat dilihat bahwa penambahan HCl akan menyebabkan pH
suspensi menjadi netral. HCl merupakan larutan asam yang akan membentuk
garam-garam apabila dicampur kan dengan CaCO3 yang terdisosiasi menjadi basa.
Garam yang terbentuk mempunyai massa yang lebih besar sehingga proses
pengendapan menjadi lebih cepat dan terdapat gaya tarik-menarik antara partikel
sejenis yaitu CaCO3 dengan HCl sehingga endapan cepat terbentuk. Pada menit
ke-6 hingga menit ke-30 menjadi konstan yaitu 1,3 cm. Hal ini dikarenakan
larutan sudah berada pada fase jenuh sehingga menyebabkan berkurangnya gaya
dorong ke permukaan yang dilakukan fluida dan semakin besar partikel sudah
mengendap seluruhnya. Grafik hubungan antara waktu dengan ketinggian tidak
linear. Hal ini dikarenakan perbedaan kecepatan jatuh partikel CaCO3 setiap menit
ke dasar gelas ukur. Adapun reaksi penambahan HCL terhadap CaCO3 sebagai
berikut :

CaCO3 (s) + 2H+ (aq) + H2O (aq) Ca2+(aq) + H2CO3 (aq) + H2O (aq) . . .(4.6)

CaCO3(s) + 2HCl(aq) + H2O(aq) Ca2+(aq) + H2CO3(aq) + 2Cl-(aq) + H2O(aq) . . .(4.7)

CaCO3(s) + 2HCl(aq) + H2O(aq) CaCl2 (s) + H2CO3 (aq) + H2O(aq) . . . (4.8)

Suspensi variasi III yaitu CaCO3 30 gram, 1000 mL akuades dan 7 mL


tawas dengan wakatu penampung tiap menit selama 30 menit dapat dilihat pada
Gambar 4.6 berikut :
IV-23

Gambar 4.6 Hubungan antara Waktu (θ) terhadap Ketinggian (z) pada
Suspensi CaCO3 dengan (Al2(SO4)3 18H2O)

Berdasarkan Gambar 4.6 menunjukkan bahwa ketinggian pada awalnya


berbanding terbalik terhadap waktu. Hal ini dikarenakan semakin lama waktu
sedimentasi, maka zona endapan akan semakin tinggi dan ketinggian dari zona
keruh ditambahkan zona pengendapan semakin menurun. Proses sedimentasi
pada variasi ketiga paling cepat terjadi dibanding 2 variasi lainnya. Hal ini
dikarenakan adanya tawas dalam campuran suspensi. Tawas dapat mempercepat
proses pengendapan karena apabila tawas dilarutkan ke dalam suatu suspensi
maka gaya tarik menarik antar partikel padatan dalam suspensi tersebut akan
makin kuat dengan adanya gaya tarik menarik antar partikel Ca 2+ dan SO42-
membuat partikel-partikel halus CaCO3 yang tidak dapat diendapkan secara
gravitasi menjadi partikel yang lebih besar dan dapat diendapkan. Pada menit ke-5
hingga menit ke-30 ketinggian menjadi konstan yaitu 1,3 cm. Hal ini dikarenakan
larutan berada pada fase jenuh, sehingga menyebabkan berkurangnya gaya dorong
ke permukaan yang dilakukan fluida dan semakin besar partikel yang mudah
mengendap seluruhnya. Grafik hubungan antara waktu dengan ketinggian tidak
linear. Hal ini dikarenakan perbedaan kecepatan jatuh partikel CaCO3 setiap menit
ke dasar gelas ukur. Adapun reaksi penambahan AI 2(SO4)3 terhadap CaCO3
sebagai berikut :
IV-24

Al2(SO4)3 .18 H2O(aq)+3Ca(HCO3)2(s) 2Al(OH)3 (aq)+ 3CaSO4(s)+ H2O (aq) . . . (4.9)

Al2(SO4)3 .18 H2O(aq)+3CaCO3(s)+H2O(aq) 2Al(OH)3(aq)+ 3CaSO4(s)+ H2O(aq) . . .(4.10)

Suspensi variasi II dan III memiliki tujuan yang sama yaitu untuk
mempercepat pengendapan partikel padatan CaCO3. Suspensi variasi II dan III
mencapai kondisi konstan pada menit ke-6 dan ke-5 dengan ketinggian endapan
yaitu 1,3 cm dan 1,3 cm. Dari 3 variasi yang dapat dilakukan, dapat diketahui
bahwa proses pengendapan yang paling baik adalah menggunakan tawas. Tawas
dapat mengubah partikel yang tidak stabil sehingga membentuk flok yang mudah
mengendap. Sedangkan untuk proses paling baik kedua adalah dengan
penambahan HCl. Hal ini dikarenakan HCl dapat menyebabkan pH suspensi
CaCO3 menjadi netral sehingga mempercepat terjadinya proses pengendapan.
Berikut adalah grafik hubungan antara konsentrasi (CL) terhadap kecepatan
(VL) pada suspensi CaCO3 dengan H2O yang dapat dilihat pada Gambar 4.7
sebagai berikut ini :

4
3.5
3
VL (cm/menit)

2.5
2
1.5
1
0,00
0.5
0
0.04 0.05 0.06 0.07
CL (g/mL)

Gambar 4.7 Hubungan Konsentrasi (CL) dengan Kecepatan (VL) pada


CaCO3 dengan H2O
IV-25

Berdasarkan Gambar 4.7 menunjukkan bahwa konsentrasi berbanding terbalik


dengan kecepatan, dimana semakin besar konsentrasi maka kecepatan akan
semakin kecil. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya konsentrasi CaCO3 yang
masih terendapkan maka konsentrasi CaCO3 yang masih terdapat di zona bening
hanya sedikit. Sehingga laju pengendapan akan menurun seiring berjalannya
waktu. Nilai VL dan CL terbesar pada variasi ini adalah 3,114 cm/menit dan 0,066
g/mL.
Berikut ini merupakan grafik hubungan antara konsentrasi (C L) terhadap
kecepatan (VL) pada suspensi CaCO3 dengan HCl yang dapat dilihat pada
Gambar 4.8 berikut ini:

4.5
4
3.5
V L (cm /m enit)

3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
0.04 0.05 0.05 0.06 0.06 0.07 0.07 0.08
CL (g/mL)

Gambar 4.8 Hubungan Konsentrasi (CL) dengan Kecepatan (VL) pada


IV-26

CaCO3 dengan HCl

Berdasarkan Gambar 4.8 menunjukkan bahwa konsentrasi berbanding terbalik


dengan kecepatan, dimana semakin besar konsentrasi maka kecepatan akan
semakin kecil. Pada variasi ini sedimentasi terjadi lebih cepat dibandingkan
variasi I. Hal ini dipengaruhi oleh penambahan HCl yang bersifat asam dan akan
membentuk garam jika dicampur dengan CaCO3 serta dapat mempercepat
terjadinya pengendapan. Garam yang terbentuk memiliki massa yang lebih besar
sehingga proses pengendapan berlangsung lebih cepat. Nilai VL dan CL terbesar
pada variasi ini adalah 3,450 cm/menit dan 0,071 g/mL.
Hubungan antara konsentrasi endapan (CL) terhadap kecepatan (VL) pada
suspensi CaCO3 dengan Al2(SO4)3 yang dapat dilihat pada Gambar 4.9 berikut
ini:

Gambar 4.9 Hubungan Konsentrasi (CL) dengan Kecepatan (VL) pada


CaCO3 dengan Al2(SO4)3

Berdasarkan Gambar 4.9 menunjukkan bahwa konsentrasi berbanding terbalik


dengan kecepatan, dimana semakin besar konsentrasi maka kecepatan akan
semakin kecil. Pada variasi ini sedimentasi terjadi lebih cepat daripada variasi II.
Hal ini dikarenakan adanya penambahan tawas pada larutan, dimana tawas
IV-27

berfungsi sebagai koagulan yang digunakan sebagai bahan penjernih dan efektif
menurunkan kadar CaCO3. Selain itu tawas dapat menyebabkan gaya tarik-
menarik antar molekul tidak sejenis membentuk gumpalan sehingga partikel
padatan lebih cepat mengendap. Hal ini ditandai dengan semakin jernihnya zona
A dan semakin banyaknya zona C yang terbentuk. Nilai VL dan CL terbesar pada
variasi ini adalah 4,140 cm/menit dan 0,071 g/mL.
Berdasarkan perhitungan, nilai VL terbesar terdapat pada variasi III yaitu
4,140 cm/menit, sedangkan nilai VL terkecil terdapat pada variasi I yaitu 1,829
cm/menit. Semakin besar nilai VL maka semakin cepat mengendap, sehingga
dapat diketahui urutan kecepatan pengendapan. Kecepatan pengendapan yang
paling cepat berturut-turut adalah variasi III (campuran CaCO3 dengan Al2(SO4)3),
variasi II (campuran CaCO3 dengan HCl) dan variasi I (CaCO3 dan H2O). Nilai CL
terbesar terdapat pada variasi I yaitu 0,066 g/mL, sedangkan variasi II sebesar
0,071 g/mL dan variasi III sebesar 0,071 g/mL. Sehingga dapat dikatakan adanya
penambahan senyawa lain dapat mempengaruhi kecepatan dari proses
pengendapan.
pH sangat mempengaruhi proses sedimentasi dimana pada pH optimum
kelarutan rendah terjadi sehingga pengendapan dapat terbentuk dan kekeruhan
larutan akan berkurang. Variasi I memiliki pH awal dan akhir sebesar 8 variasi II
memiliki pH awal 7 dan pH akhir 8. Sedangkan variasi III memiliki pH awal 7
dan berakhir 8.
Free settling (Vt) adalah keadaan dimana padatan turun dan mengendap
karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Nilai kecepatan free settling (Vt) pada
variasi I, II dan III berturut-turut sebesar 7,82616 cm/s ; 11,88345 cm/s ; 11,89412
cm/s. Nnilai free settling pada variasi III memiliki nilai terbesar. Hal ini
dikarenakan adanya penambahan tawas, dimana tawas bersifat mengikat suspensi
sehingga nilai free settling lebih cepat konstan. Hindered settling adalah keadaan
dimana kecepatan jatuhnya semakin lambat karena adanya pengaruh partikel-
partikel lain. Hindered settling mulai terjadi pada keadaan akhir proses
sedimentasi dimana sudah mulai terbentuk zona dengan tumpukan partikel yang
mengendap (Geankoplis, 1983).
IV-28

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses sedimentasi diantaranya adalah


konsentrasi, ukuran partikel dan jenis partikel. Semakin besar konsentrasi gaya
gesesek yang diamati partikel akan semakin besar sehingga kecepatan sedimentasi
semakin menurun. Semakin besar ukuran partikel maka semakin besar pula luas
permukaan dan volumenya yang mana berbanding lurus dengan gaya apung
sehingga kecepatan pengendapan semakin menurun. Jenis partikel berhubungan
dengan densitas partikel yang berpengaruh terhadap gaya gravitasi. Semakin besar
densitas partikel maka gaya gravitasi akan semakin besar dan kecepatan gravitasi
semakin meningkat (Rifai, 2002).
4.5 PENUTUP

4.5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah
1. Nilai VL dan CL pada variasi I secara berturut-turut adalah 3,119 cm/menit –
1,819 cm/menit dan 0,040 g/mL – 0,066 g/mL. Pada variasi II adalah 3,450
cm/menit – 1,950 cm/menit dan 0,042 g/mL – 0,071 g/mL. Pada variasi III
adalah 4,140 cm/menit – 2,340 cm/menit dan 0,042 g/mL – 0,071 g/mL.
2. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh kecepatan pengendapan partikel free
settling (Vt) pada variasi I, II dan III berturut-turut adalah 7,826 cm/s, 11, 894
cm/s dan 11,883 cm/s.
3. Variasi paling baik digunakan sebagai koagulan adalah variasi III yang
ditambahkan dengan tawas (CaCO3 + akuades + (Al2(SO4)3 18H2) karena
memiliki nilai kecepatan pengendapan (VL) paling besar dibanding variasi I
(CaCO3 + akuades) dan II (CaCO3 + akuades + HCl) yaitu sebesar 3,814
cm/menit.

4.5.1 Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan adalah menambahkan variasi
lagi dengan penambahan PAC (Poly Alumninium Choliride). Agar dapat
membandingkan apakah penambahan PAC lebih cepat dibanding dengan
penambahan H2SO4 dan tawas.

IV-29
DAFTAR PUSTAKA

Asdak, Chay. 2007. Hidrologi dan Pengolahan Daerah Aliran Sungai. Gajah
Mada University Press. Yogyakarta.

Brown, G.G. 1956. Unit Operation. John Willey and Sons. New York.

Cheremisinoff, P. 2000. Handbook of Chemical engineering Process Equipment.


Buttuerworth Heineman. USA.

Didit, A. 2008. Sedimentasi. Laboratorium Operasi Teknik Kimia Jurusan Teknik


Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Cilegon. Bogor.

Geankoplis, C.J. 1983. Transport Processes and Unit Operation 2nd Edition. Allyn
and Bacon, Inc. London.

Geankoplis, C.J. 1994. Transport Process and Unit Operation 3rd Edition. Hall of
India. New Delhi.

Geankoplis, C.J. 2003. Transport Process and Separation Process Principles 4th
Edition. Prentice Hall. New York.

Labchem. 2010. MSDS CaCO3.


http://www.Labchem.com
diakses pada 09 April 2020.

Labchem. 2018. MSDS H2O.


http://www.Labchem.com
diakses pada 09 April 2020.

DP.IV-1
DP.IV-2

McCabe, W.L. dan Harriot, P. 1986. Unit Operation of Chemical Engineering 5th
edition. Mc Graw Hill. New York.

Perry, Robert H. 1997. Chemical engineering Handbook. Mc Graw Hill. New


York.

Reynold, T.D. 1982. Unit Operation and Processes in Enviromental engineering.


Butterworh Inc. California.

Richardson, J.F. 2002. Chemical Engineering Vol. 2, 6th Edition. Butterworth


Heineman. Oxford.

Rifai, Agus. 2002. Jurnal Kajian Pendahuluan Kelayakan Penerapan Instalasi


Pengolahan Air Limbah Domestik Secara Komunal di Permukaan Kota
Bogor Vol. 2, No.. Universitas Diponegoro. Bogor.

Sciencelab. 2005. MDDS HCl.


http://www.sciencelab.com
diakses pada 09 April 2020.

Sciencelab. 2018. MDDS Tawas.


http://www.sciencelab.com
diakses pada 09 April 2020.

Winarni, T.b. 2009. Pengaruh perlakuan Pendahuluan dan Berat Benih terhadap
Perkecambahan Benih Kaya Afrika. Skripsi. Insitut Pertanian Bogor.
Bogor.
DAFTAR NOTASI

Fg : Gaya gesek (N)


Fa : Gaya apung (N)
m : Massa partikel (Kg)
ρ : Densitas (g/m3)
μ : viskositas (g/cm.s)
g : percepatan gravitasi (m/s2)
n : Mol (mol)
BM : Berat molekul (g/mol)
x : Fraksi mol
i : Waktu yang ditentukan (menit)
L : Waktu pengendapan konstan (menit)
Zo : Tinggi permukaan awal (cm)
Zi : Tinggi yang ditentukan (cm)
ZL : Tinggi permukaan pada L (cm)
CL : Konsentrasi endapan (gram/cm3)
C0 : Konsentrasi sampel mula-mula (gram/cm3)
VL : Kecepatan sedimentasi (cm/menit)
Vt : Kecepatan free settling (cm/s)

DN.IV-1
LAMPIRAN PERHITUNGAN

A. Variasi I (CaCo3 + H2O)


Data 1

30

25

20
Z (cm)

15

Variasi I
10 Zona B+C

θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 23 cm
ZL = 1,2 cm
θi = 7,1 menit
θL = 7 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 23−1,2 ) cm
= = 3,114 cm/menit
7 menit
Co . Z o
CL =
Zi

LP.IV-1
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,040 g/mL
23 cm

LP.IV-1
LP.IV-2

Data 2

30

25

20
Z (cm )

15

10 Variasi I Zona
B+C
5

θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 22 cm
ZL = 1,2 cm
θi = 7,1 menit
θL = 7 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
LP.IV-3

Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 22−1,2 ) cm
= = 2,971 cm/menit
7 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,042 g/mL
22 cm

Data 3

30

25

20
Z (cm)

15

Variasi I
10 Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021222324252627282930
θ (menit)
LP.IV-4

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 21 cm
ZL = 1,2 cm
θi = 7,1 menit
θL = 7 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 21−1,2 ) cm
= = 2,829 cm/menit
7 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,044 g/mL
21 cm

Data 4
LP.IV-5

30

25

20
Z (cm)

15

Variasi I
10 Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 20 cm
ZL = 1,2 cm
θi = 7,1 menit
θL = 7 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
LP.IV-6

( 20−1,2 ) cm
= = 2,686 cm/menit
7 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,046 g/mL
20 cm

Data 5

30

25

20
Z (cm)

15

Variasi I
10 Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
θ (menit)
LP.IV-7

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 19 cm
ZL = 1,2 cm
θi = 7,1 menit
θL = 7 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 19−1,2 ) cm
= = 2,543 cm/menit
7 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,049 g/mL
19 cm

Data 6
LP.IV-8

30

25

20
Z (cm)

15

Variasi I
10 Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 18 cm
ZL = 1,2 cm
θi = 7,1 menit
θL = 7 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
LP.IV-9

Zi−Z L
VL =
θL
( 18−1,2 ) cm
= = 2,400 cm/menit
7 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,051 g/mL
18 cm

Data 7
30

25

20
Z (cm)

15

Variasi I
10 Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
θ (menit)
LP.IV-10

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 17 cm
ZL = 1,2 cm
θi = 7,1 menit
θL = 7 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 17−1,2 ) cm
= = 2,257 cm/menit
7 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,054 g/mL
17 cm

Data 8
LP.IV-11

30

25

20
Z (cm)

15

Variasi I
10 Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 16 cm
ZL = 1,2 cm
θi = 7,1 menit
θL = 7 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
LP.IV-12

Zi−Z L
VL =
θL
( 16−1,2 ) cm
= = 2,114 cm/menit
7 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,058 g/mL
16 cm

Data 9

30

25

20
Z (cm)

15

Variasi I
10 Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
θ (menit)
LP.IV-13

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 15 cm
ZL = 1,2 cm
θi = 7,1 menit
θL = 7 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 15−1,2 ) cm
= = 1,971 cm/menit
7 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,062 g/mL
15 cm

Data 10
LP.IV-14

30

25

20
Z (cm)

15

Variasi I
10 Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 14 cm
ZL = 1,2 cm
θi = 7,1 menit
θL = 7 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
LP.IV-15

Zi−Z L
VL =
θL
( 14−1,2 ) cm
= = 1,829 cm/menit
7 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,066 g/mL
14 cm

B. Variasi II (CaCo3 + H2O + HCl)


Data 1

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi II
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11121314151617 1819202122232425 2627282930
θ (menit)
LP.IV-16

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 22 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 6,2 menit
θL = 6 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 22−1,3 ) cm
= = 3,450 cm/menit
6 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,042 g/mL
22 cm

Data 2
LP.IV-17

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi II
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11121314151617 1819202122232425 2627282930
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 21 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 6,2 menit
θL = 6 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
LP.IV-18

( 21−1,3 ) cm
= = 3,283 cm/menit
6 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,044 g/mL
21 cm

Data 3

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi II
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11121314151617 1819202122232425 2627282930
θ (menit)
LP.IV-19

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 20 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 6,2 menit
θL = 6 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 20−1,3 ) cm
= = 3,117 cm/menit
6 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,046 g/mL
20 cm

Data 4
LP.IV-20

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi II
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11121314151617 1819202122232425 2627282930
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 19 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 6,2 menit
θL = 6 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
LP.IV-21

( 19−1,3 ) cm
= = 2,950 cm/menit
6 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,049 g/mL
19 cm

Data 5

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi II
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11121314151617 1819202122232425 2627282930
θ (menit)
LP.IV-22

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 18 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 6,2 menit
θL = 6 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 18−1,3 ) cm
= = 2,783 cm/menit
6 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,051 g/mL
18 cm

Data 6
LP.IV-23

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi II
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11121314151617 1819202122232425 2627282930
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 17 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 6,2 menit
θL = 6 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
LP.IV-24

( 17−1,3 ) cm
= = 2,617 cm/menit
6 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,054 g/mL
17 cm

Data 7

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi II
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11121314151617 1819202122232425 2627282930
θ (menit)
LP.IV-25

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 16 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 6,2 menit
θL = 6 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 16−1,3 ) cm
= = 2,450 cm/menit
6 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,058 g/mL
16 cm

Data 8
LP.IV-26

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi II
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11121314151617 1819202122232425 2627282930
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 15 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 6,2 menit
θL = 6 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
LP.IV-27

( 15−1,3 ) cm
= = 2,283 cm/menit
6 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,062 g/mL
15 cm

Data 9

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi II
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11121314151617 1819202122232425 2627282930
θ (menit)
LP.IV-28

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 14 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 6,2 menit
θL = 6 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 14−1,3 ) cm
= = 2,117 cm/menit
6 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,066 g/mL
14 cm

Data 10
LP.IV-29

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi II
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11121314151617 1819202122232425 2627282930
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,8 cm
Zi = 13 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 6,2 menit
θL = 6 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
LP.IV-30

( 13−1,3 ) cm
= = 1,950 cm/menit
6 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,8 cm
= mL = 0,071 g/mL
13 cm

C. Variasi III (CaCo3 + H2O + Al(SO4)3)


Data 1

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi III
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12131415 16171819 202122 232425 262728 2930
θ (menit)
LP.IV-31

Diketahui : Zo = 30,9 cm
Zi = 22 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 5,3 menit
θL = 5 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 22−1,3 ) cm
= = 4,140 cm/menit
5 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,9 cm
= mL = 0,042 g/mL
22 cm

Data 2
LP.IV-32

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi III
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12131415 16171819 202122 232425 262728 2930
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,9 cm
Zi = 21 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 5,3 menit
θL = 5 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
LP.IV-33

Zi−Z L
VL =
θL
( 21−1,3 ) cm
= = 3,940 cm/menit
5 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,9 cm
= mL = 0,044 g/mL
21 cm

Data 3

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi III
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12131415 16171819 202122 232425 262728 2930
θ (menit)
LP.IV-34

Diketahui : Zo = 30,9 cm
Zi = 20 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 5,3 menit
θL = 5 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 20−1,3 ) cm
= = 3,740 cm/menit
5 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,9 cm
= mL = 0,046 g/mL
20 cm

Data 4
LP.IV-35

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi III
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12131415 16171819 202122 232425 262728 2930
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,9 cm
Zi = 19 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 5,3 menit
θL = 5 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
LP.IV-36

Zi−Z L
VL =
θL
( 19−1,3 ) cm
= = 3,540 cm/menit
5 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,9 cm
= mL = 0,049 g/mL
19 cm

Data 5

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi III
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12131415 16171819 202122 232425 262728 2930
θ (menit)
LP.IV-37

Diketahui : Zo = 30,9 cm
Zi = 18 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 5,3 menit
θL = 5 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 18−1,3 ) cm
= = 3,340 cm/menit
5 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,9 cm
= mL = 0,052 g/mL
18 cm

Data 6
LP.IV-38

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi III
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12131415 16171819 202122 232425 262728 2930
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,9 cm
Zi = 17 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 5,3 menit
θL = 5 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
LP.IV-39

Zi−Z L
VL =
θL
( 17−1,3 ) cm
= = 3,140 cm/menit
5 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,9 cm
= mL = 0,055 g/mL
17 cm

Data 7
25

20

15
Z (cm)

10 Variasi III
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12131415 16171819 202122 232425 262728 2930
θ (menit)
LP.IV-40

Diketahui : Zo = 30,9 cm
Zi = 16 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 5,3 menit
θL = 5 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 16−1,3 ) cm
= = 2,940 cm/menit
5 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,9 cm
= mL = 0,058 g/mL
16 cm

Data 8
LP.IV-41

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi III
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12131415 16171819 202122 232425 262728 2930
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,9 cm
Zi = 15 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 5,3 menit
θL = 5 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
LP.IV-42

Zi−Z L
VL =
θL
( 15−1,3 ) cm
= = 2,740 cm/menit
5 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,9 cm
= mL = 0,062 g/mL
15 cm

Data 9
25

20

15
Z (cm)

10 Variasi III
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12131415 16171819 202122 232425 262728 2930
θ (menit)
LP.IV-43

Diketahui : Zo = 30,9 cm
Zi = 14 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 5,3 menit
θL = 5 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
Zi−Z L
VL =
θL
( 14−1,3 ) cm
= = 2,540 cm/menit
5 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,9 cm
= mL = 0,066 g/mL
14 cm

Data 10
LP.IV-44

25

20

15
Z (cm)

10 Variasi III
Zona B+C

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12131415 16171819 202122 232425 262728 2930
θ (menit)

Diketahui : Zo = 30,9 cm
Zi = 13 cm
ZL = 1,3 cm
θi = 5,3 menit
θL = 5 menit
MassaCaCO3 30 gram
Co = = = 0,03 g/mL
V aquadest 1000 mL
Ditanya : VL dan CL = ...?
Jawab :
LP.IV-45

Zi−Z L
VL =
θL
( 13−1,3 ) cm
= = 2,340 cm/menit
5 menit
Co . Z o
CL =
Zi
g
0,03 .30,9 cm
= mL = 0,071 g/mL
13 cm

D. Kecepatan pengendapan partikel (Vt) CaCO3 + H2O


Diketahui: Sp. Gr CaCO3 = 2,93 (Perry’s)
ρH2O pada T = 28oC = 0,99624 g/cm3 (Geankoplis)
µH2O pada T = 28oC = 0,00836 g/cm.s (Geankoplis)
D partikel = 0,025 cm
g = 980 cm/s2
Ditanya: Vt = ...?
Jawab:
ρpartikel = Sp.Gr x ρair pada T =28oC
= 2,93 x 0,99624 g/cm3
= 2,9189 g/cm3

(ρ ¿ ¿ partikel− ρH 2 O ) x g
Vt = D2partikel x ¿
18 µ
g cm
(0,025 cm)2 x ( 2,9189−0,99624 ) 3
x 980 2
cm s
=
g
18 x 0,00836
cm . s
= 7,82616 cm/s

E. Kecepatan pengendapan ρpartikel (Vt) CaCO3 + H2O + HCl


LP.IV-46

Diketahui: Sp.Gr CaCO3 = 2,93 (Perry’s)


ρHCl = 1,18 g/cm3 (Perry’s)
ρH2O pada T = 28oC = 0,99624 g/cm3 (Geankoplis)
µH2O pada T = 28oC = 0,00836 g/cm.s (Geankoplis)
D partikel = 0,025 cm
g = 980 cm/s2
vHCl = 7 mL
Ditanya: Vt = ...?
Jawab:

mHCl =ρxv
= 1,18 g/cm3 x 7 mL
= 8,26 gram

m
nHCl =
BM
8,26 gram
= g
36,5
mol
= 0,2263 mol

nHCl 0,2263
xHCl = = = 0,00348
n HCl +n H 2O 0,2263+55,55

xH2O = 1 – 0,00348
= 0,9965

1
ρmix = x HCl x H 2O
+
ρ HCl ρH 2 O
1
= 0,00348 0,9965
+
1,18 0,99624
LP.IV-47

= 0,9968 g/cm3

ρCaCO 3 + ρmix = 2,91898 g/cm3 + 0,99680 g/cm3


= 3,91578 g/cm3

(ρ ¿ ¿ CaCO 3+ ρ mix−ρ H 2 O) x g
Vt = D 2partikel x ¿
18 µ
cm
(0,025 cm)2 x ( 3,91578−0,99624 ) g/cm3 x 980
s2
=
g
18 x 0,00836
cm. s
= 11,88345 cm/s

F. Kecapatan pengendapan partikel (Vt) CaCO3 + Al2(SO4)3 + H2O


Diketahui: Sp.Gr CaCO3 = 2,93 (Perry’s)
ρAl2(SO4)3 pada T=28oC = 0,98 g/cm3 (Perry’s)
ρH2O pada T = 28oC = 0,99624 g/cm3 (Geankoplis)
µH2O pada T = 28oC = 0,00836 g/cm.s (Geankoplis)
D partikel = 0,025 cm
g = 980 cm/s2
vAl2(SO4)3 = 7 mL
Ditanya: Vt = ...?
Jawab:
mAl2(SO4)3 =ρxv
= 0,98 g/cm3 x 7 mL
= 6,86 gram

m
n Al2(SO4)3 =
BM
6,86 gram
= g
324
mol
= 0,02117 mol
LP.IV-48

n Al 2(SO 4 )3
xAl2(SO4)3 =
n Al 2(SO 4 )3+ n H 2 O
0,02117 mol
=
0,02117+55,555 mol
= 0,00031

xH2O = 1 – 0,00031
= 0,99969
1
ρmix = x Al 2(SO 4)3 x H 2O
+
ρ Al 2 (SO 4)3 ρ H 2O
1
= 0,0031 0,99969
+
0,98 0,99624
= 0,99942 g/cm3

ρCaCO 3 + ρmix = 2,91898 g/cm3 + 0,99942 g/cm3


= 3,91841 g/cm3

(ρ ¿ ¿ CaCO 3+ ρ mix−ρ H 2 O) x g
Vt = D2partikel x ¿
18 µ
cm
(0,025 cm)2 x ( 3,91841−0,99624 ) g/cm3 x 980
s2
=
g
18 x 0,00836
cm . s
= 11,89412 cm/s

G. Pembuatan HCl sebanyak 100 mL


Diketahui MrHCl : 36,5 g/mol
M HCl : 0,1 M
ρ HCl : 1,19 g/mL
VH2O : 100 mL = 0,1 L
LP.IV-49

Ditanya : m HCl :?
Jawab : n =MxV
= 0,1 x 0,1
= 0,01 mol

m = n x Mr
= 0,01 mol x 36,5 g/mol
= 0,365 gram

H. Pembuatan Larutan Tawas 1%


Diketahui : [Al2(SO4)3 . 18 H2O] = 1%
Ditanya : m tawas = …?
v tawas = …?
Jawab :
n = m/v
1% = 1 gram/100 mL