Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

KEADAAN BAYI DAN BALITA DI


INDONESIA
 

                                                                                                                                                             
   

Oleh:  1. Anita Wahyuningsih


           2. Arlita Rahmawati
           3. Erni Yana Yulita
           4. Uril Unik Febriani
           5. Winda Vidi Astutik
                                                                                      

AKBID SITI KHODIJAH MUHAMMADIYAH


SEPANJANG SIDOARJO
2013/2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa, karena atas petunjuk-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah Ilmu Kesehatan Anak.Adapun makalah yang kami susun ini berjudul
“Keadaan Bayi Dan Balita Di Indonesia”
            Berdasarkan judul diatas, penulis berusaha menampilkan sebuah makalah  mengenai
Keadaan Bayi Dan Balita Di Indonesia.Adapun makalah ini disusun dalam rangka mengisi niai
Ilmu Kesehatan Anak di AKBID SITI KHODIJAH MUHAMMADIYAH SEPANJANG.
Segala upaya ini telah kami lakukan demi kesempurnaan makalah ini, namun kami sebagai
manusia biasa tidak luput dari salah dan lupa. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca
sekalian senantiasa kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga makalah
yang sederhana ini bermanfaat bagi kita semua.

Sidoarjo, 29 Januari 2013

                                                                                                           
 Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Sampul.........................................................................................................,.. i
Kata Pengantar................................................................................................................ii
Daftar Isi ........................................................................................................................ iii
BAB I:Pendahuluan....................................................................................................... 1
1.1  Latar Belakang.............................................................................................1
1.2  Tujuan Umum...............................................................................................1
1.3  Tujuan Khusus..............................................................................................1
1.4  Manfaat.........................................................................................................1.
BAB II: Pembahasan.......................................................................................................2
            2.1 Pengertian Bayi.............................................................................................2
            2.2 Keadaan Kesehatan Bayi Dan Balita Di Indonesia.......................................2
            2.3 Angka Kesakitan Dan Kematian Bayi Dan Balita.........................................3
BAB III: Penutup............................................................................................................12
            3.1 Kesimpulan....................................................................................................12
            3.2 Saran..............................................................................................................12
Daftar Pustaka …………………………………………………………………………13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1           Latar Belakang
            Perkembangan kesehatan bayi dan anak balita di Indonesia pada saat ini masih belum
mencapai titik keberhasilan dalam menegakkan kesehatan bagi bayi dan anak balita dikarenakan
masih banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta kurangnya kesadaran terhadap
pentingnya kesehatan ini.Hal ini dapat membuat tingkat kesehatan bagi bayi dan anak balita
semakin menurun dan sulit untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi di
Indonesia.
            Hal ini menyebabkan kondisi kesehatan bayi dan anak balita di Indonesia mengalami
peningkatan terhadap angka kesakitan,kematian bayi dan balita di Indonesia yang setiap tahun
angka kesakitan dan kematian semakin bertambah dan sulit untuk mencapai titik stabil dalam
standar kesehatan dalam rangka mengurangi angka kesakitan,kematian pada bayi dan balita di
Indonesia.

1.2           Tujuan Umum:


Menjelaskan perkembangan kesehatan bayi dan anak balita di Indonesia.

1.3           Tujuan Khusus:


1.    Menjelaskan keadaan kesehatan bayi dan anak balita di Indonesia.
2.    Menjelaskan tentang angka kesakitan, kematian bayi dan balita.

1.4    Manfaat:
Agar dapat mengetahui keadaan kesehatan, angka kesakitan, kematian bayi dan balita di
Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bayi
Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai umur 12 bulan, namun tidak ada
batasan yang pasti. Menurut psikologi, bayi adalah periode perkembangan yang merentang dari
kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang
dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa,
pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial. Pada masa ini manusia sangat
lucu dan menggemaskan tetapi juga rentan terhadap kematian. Kematian bayi dibagi menjadi
dua, kematian neonatal (kematian di 27 hari pertama hidup), dan post-neonatal (setelah 27 hari).
            Pemberian makanan dilakukan dengan penetekan atau dengan susu industri khusus. Bayi
memiliki insting menyedot, yang membuat mereka dapat mengambil susu dari buah dada. Bila
sang ibu tidak bisa menyusuinya, atau tidak mau, formula bayi biasa digunakan di negara-negara
Barat. Di negara lain ada yang menyewa "perawat basah" (wet nurse) untuk menyusui bayi
tersebut.
            Bayi tidak mampu mengatur pembuangan kotorannya, oleh karena itu digunakanlah
popok. Popok yang digunakan bayi bisa berupa popok kain biasa atau popok sekali pakai
(diapers). Dewasa ini, popok sekali pakai menjadi lebih populer penggunaannya dibandingkan
popok kain biasa karena lebih praktis dan tidak terlalu merepotkan. Namun, masalah baru yang
utamanya timbul akibat pemakaian popok sekali pakai adalah masalah ruam popok. Kulit bayi
yang masih sensitif lebih sering tertutup dan menjadi sulit bernapas sehingga memungkinkan
timbulnya masalah ruam dan iritasi pada kulit bayi. Meskipun masalah ruam popok merupakan
masalah yang biasa terjadi, namun bila dibiarkan begitu saja tanpa penanganan yang tepat bisa
timbul masalah yang cukup serius seperti peradangan dan infeksi kulit bayi.
2.2 Keadaan Kesehatan Bayi dan Anak Balita di Indonesia
Saat ini keadaan kesehatan bayi dan anak balita di Indonesia menjadi hal penting untuk
diperhatikan dan dibahas. Pada beberapa masa sebelum dekade 1980an, masalah kesehatan ibu
dan anak belum terlalu mendapatkan perhatian serius. Bahkan kasus kematian ibu dan balita pun
masih menjadi sebuah fenomena kesehatan yang cukup memprihatinkan. Menginjak pada
dekade 1990an, kesehatan ibu menjadi sorotan penting di dalam program kesehatan, khususnya
terkait dengan masalah reproduksi, kehamilan dan persalinan. Di jaman modern setelah melewati
abad keemasan, yaitu era 21 ini, kesehatan ibu masih terus dipantau, namun kesehatan bayi dan
anak balita menduduki ranking pertama di dalam program-program kesehatan. Anak, bayi dan
balita merupakan generasi penerus bangsa. Di situlah awal kokoh atau rapuhnya suatu Negara,
dapat disaksikan dari kualitas para generasi penerusnya. Jika terlahir anak-anak dengan tingkat
kesehatan yang rendah, tentulah kondisi bangsa menjadi lemah dan tidak mampu membangun
negaranya secara optimal.
Saat ini distribusi dan frekuensi terjangkitnya penyakit  bayi dan anak balita seperti diare,
disentri, cacar, campak dan penyakit-penyakit berbahaya lain mengalami penurunan yang cukup
drastis dibandingkan beberapa masa sebelumnya. Keberhasilan program imunisasi yang digelar
oleh pemerintah nampaknya memberikan hasil yang tidak mengecewakan. Meskipun di beberapa
waktu terakhir ini sempat diberitakan mengenai adanya vaksin  DPT yang menimbulkan
kematian pada bayi, namun saat ini kasusnya masih terus dipelajari. Akan tetapi secara
keseluruhan, program imunisasi telah mampu menurunkan tingkat kesakitan pada bayi dan balita
cukup signifikan.
Keadaan kesehatan bayi dan anak balita di Indonesia juga menyangkut  masalah gizi
buruk. Peningkatan kondisi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat ditunjang dengan system
informasi dan tingginya tingkat pendidikan masyarakat, meningkatkan kesadaran rakyat untuk
memperhatikan kondisi kesehatan anak-anak. Orang tua berlomba memberikan yang terbaik bagi
buah hatinya. Meskipun di beberapa lapisan masyarakat masih ada yang kurang sejahtera, namun
tingkat kepedulian masyarakat lain pun juga relatif bagus sehingga keadaan kesehatan bayi dan
anak balita di Indonesia bias lebih terkontrol.
Jakarta - Survei Demografi Kntatao Inckinesia (SDKI) 121 mit Departemen Kesehatan
(Depkes) mengungkapkan.rata-rata per tahun terdapat 401 bayi di Indonesia yang meninggal
dunia sebelum umurnya mencapai 1 tahun.
Bila dirinci. 157.000 bayi meninggal dunia per tahun, atau 430 bayi per hari. Angka
Kematian Balita (Akaba), yaitu 46 dari 1.000 balita meninggal setiap tahunnya. Bila dirinci,
kematian balita ini mencapai 206.580 balita per tahun, dan 569 balita per hari. Parahnya, dalam
rentang waktu 2002-2007, angka neonatus tidak pernah mengalami penurunan. Penyebab
kemauan terbanyak pada periode ini disebabkan oleh sepsis (infeksi sistemik), kelainan bawaan,
dan infeksi saluran pemapasan akut (Riset Kesehatan Dasar Depkes 2007).

2.3 Angka Kesakitan Dan Kematian Bayi Dan Balita


            Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan
yang saat ini terjadi di Negara Indonesia (Kompas, 2006). Derajat kesehatan anak mencerminkan
derajat kesehatan bangsa, sebab anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki kemampuan
yang dapat dikembangkan dalam meneruskan pembangunan bangsa. Berdasarkan alasan
tersebut, masalah kesehatan anak diprioritaskan dalam perencanaan atau penataan pembangunan
bangsa (Kompas, 2006).
Dalam menentukan derajat kesehatan di Indonesia, terdapat beberapa indikator yang dapat
digunakan, antara lain angka kematian bayi, angka kesakitan bayi, status gizi, dan angka harapan
hidup waktu lahir.

A.   Angka Kesakitan Bayi Dan Balita


            Angka kesakitan bayi menjadi indikator kedua dalam menentukan derajat kesehatan
anak, karena nilai kesakitan merupakan cerminan dari lemahnya daya tahan tubuh bayi dan anak
balita. Angka kesakitan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh status gizi, jaminan pelayanan
kesehatan anak, perlindungan kesehatan anak, faktor social ekonomi, dan pendidikan ibu.
Angka kesakitan bayi dan balita didapat dari hasil pengumpulan data dari sarana
pelayanan kesehatan (Facility Based Data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan
pelaporan.
 Adapun beberapa indikator dapat diuraikan sebagai berilkut:
1.   Acute Flaccid Paralysis (AFP)
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi
polio. Upaya ini juga ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif
terhadap kasus-kasus AFP kelompok umur <15 tahun hingga dalam kurun waktu tertentu, untuk
mencari kemungkinan adanya virus polio liar yang berkembang di masyarakat dengan
pemeriksaan spesimen tinja dari kasus AFP yang dijumpai. Ada 4 strategi dalam upaya
pemberantasan polio, yaitu: imunisasi (yang meliputi peningkatan imunisasi rutin polio, PIN, dan
Mop – up), surveilans AFP, sertifikasi bebas polio, dan pengamanan virus polio di laboratorium

2.   TB Paru
Merupakan penyakit infesi yang meular pada sistem parnafasan yang disebabkan oleh
mikrobakteium tuberculosa yag dapat megenai bagian paru.proses peularan melalui udara atau
langsung seperti saat batuk Upaya pencegahan dan pemberantasan TB Paru dilakukan dengan
pendekatan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy) atau pengobatan
TB paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). (Depkes RI, 2007)
Pada tahun 2007 terdapat kasus BTA (+) sebanyak 758 orang, diobati 758 orang, dan yang
sembuh 693 orang (91,42%).

3.   Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)


ISPA masih merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi dan balita di Indonesia. Dari
beberapa hasil SKRT diketahui bahwa 80% - 90% dari seluruh kasus kematian akibat ISPA,
disebabkan oleh pneumonia. Pneumonia merupakan penyebab kematian pada balita dengan
peringkat pertama hasil Surkesnas 2001. ISPA sebagai penyebab utama kematian pada bayi dan
balita diduga karena pneumonia merupakan penyakit yang akut dan kualitas penatalaksanaan
masih belum memadai.

4.   HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS)


Penderita penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan meskipun berbagai upaya
pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar
wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia, meningkatnya
penyalahgunaan NAPZA melalui penyuntikan, secara stimultan telah memperbesar tingkat
resiko penyebaran HIV/AIDS. Pada Penkajian anak yang terinfeksi dengan HIV positif dan
AIDS meliputi : indetitas terjadinya HIV positif atau AIDS pada anak rata – rata dimasa
perinatal sekitar usia 9-17 bulan.keluhan utamanya adalah demam dan diere berkepanjangan,
takipne,batuk,sesak nafas,dan hopoksia.kemudian diikuti adanya perubahan berat badan yang
turun secara drastis.

5.   Demam Berdarah Dengue (DBD)


Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas ke seluruh wilayah propinsi.
Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan kematian relatif tinggi.
Angka insiden DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola
epidemik terjadi setiap lima tahunan, namun dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir
mengalami perubahan dengan periode antara 2 – 5 tahunan, sedangkan angka kematian
cenderung menurun. Pengkajian pada anak dengan DBD di temukan adanya peningkatan suhu
yang mendadak di sertai menggigil,adanya perdarahan kulit seperti petekhie, ekimosis, hematom,
epistaksis, hematemesis bahkan hematemesis melena.

6.   Diare
   Angka kesakitan diare hasil survey tahun 1996 yaitu 280 per 1000 penduduk dan episode pada
balita 1,08 kali per tahun. Menurut hasil SKRT dalam beberapa survei dan Surkesnas 2001,
penyakit diare masih merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita (Depkes RI, 2003).
Pada kasus kematian yang tinggi biasanya jumlah kematian terbanyak terjadi pada usia balita
ketika saat itu mereka rentan terhadap penyakit. Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70%
kematian disebabkan Diare, Penumonia, Campak, Malaria, dan Malnutrisi. (Depkes RI, 2007).
Pegkajian pada anak di tandai dengan frekuensi BAB pada bayi lebih dari 3 kali sehari dan pada
neonatus lebih dari 4 kali per hari, bentuk cair pada buang air besar nya kadang –kadang di sertai
oleh lender dan darah, nafsu makan menurun warna nya lama-kelamaan hijau –kejauan karena
tercampur empedu.

7.   Malaria
   Pada tahun 2007 perkembangan penyakit Malaria di Kabupaten Banyuwangi yang dipantau
melalui Annual Pavasite Lincidence (API) dari hasil SPM penderita Malaria yang diobati sebesar
100% (3.153 penderita). Sedangkan penderita klinis sebanyak 3.141 dan terdapat 12 penderita
positif Malaria. sampai saat ini penyakit Kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan
masyarakat.

8.   Kusta
   Dalam kurun waktu 10 tahun (1991 – 2001), angka prevalensi penyakit Kusta secara nasional
telah turun dari 4,5 per 10.000 penduduk pada tahun 1991, lalu turun menjadi 0,85 per 10.000
penduduk pada tahun 2001, pada tahun 2002 prevalensi sedikit meningkat menjkadi 0,95 per
10.000, dan pada tahun 2003 kembali menurun menjadi 0,8 per 10.000 penduduk. (Depkes RI,
2003). Meskipun Indonesia sudah mencapai eliminasi Kusta pada pertengahan tahun 2000.

9.   Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)


   PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ ditekan dengan pelaksanaan
program imunisasi. Pada Profil Kesehatan ini akan dibahas penyakit Tetanus Neonatorum,
Campak, Difteri, Pertusis, dan Hepatitis B.
a)   Tetanus Neonatorum
Jumlah kasus Tetanus Neonatorum pada tahun 2003 sebanyak 175 kasus dengan angka kematian
(CFR) 56% (Depkes RI, 2003). Angka ini sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya. Hal ini
diduga karena meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan. Namun secara
keseluruhan CFR masih tetap tinggi. Penanganan Tetanus Neonatorum memang tidak mudah,
sehingga yang terpenting adalah usaha pencegahan, yaitu Pertolongan Persalinan yang higienis
ditunjang dengan Imunisasi Tetanus Toxoid pada ibu hamil.
b)   Campak
      Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa
(KLB). Sepanjang tahun 2003 frekuensi KLB Campak menempati urutan keempat, setelah DBD,
Diare, dan Chikungunya dengan CFR 0,34% (Depkes RI, 2003).
c)   Difteri, Pertusis, Hepatitis B
Di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2007 tidak terdapat kasus Pertusis dan Hepatitis B. Tetapi
pada tahun 2007 ini terdapat kenaikan jumlah kasus Difteri, yaitu sebesar 2 kasus, dari tahun
sebelumnya yang tidak terdapat kasus Difteri.

B. Angka Kematian Bayi Dan Balita


            Angka kematian bayi menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan
anak (WHO, 2002) karena merupakan cerminan dari status kesehatan anak saat ini. Tingginya
angka kematian bayi di Indonesia disebabkan oleh berbagai factor, diantaranya adalah factor
penyakit infeksi dan kekurangan gizi. Beberapa penyakit yang saat ini masih menjadi penyebab
kematian terbesar dari bayi, di antaranya penyakit diare, tetanus, gangguan perinatal, dan radang
saluran napas bagian bawah (Hapsari, 2004).
            Penyebab kematian bayi yang lainnya adalah berbagai penyakit yang sebenarnya dapat
dicegah dengan imunisasi, seperti tetanus, campak, dan difteri. Hal ini terjadi karena masih
kurangnya kesadaran masyarakat untuk member imunisasi pada anak.
            Kematian pada bayi juga dapat disebabkan oleh adanya trauma persalinan dan kelainan
bawaan yang kemungkinan besar dapat disebabkan oleh rendahnya status gizi ibu pada saat
kehamilan serta kurangnya jangkauan pelayanan kesehatan dan pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan (WHO, 2002).
            Indonesia masih memiliki angka kematian bayi dan balita yang cukup tinggi. Masalah
tersebut terutama dalam periode neonatal dan dampak dari penyakit menular, terutama
pneumonia, malaria, dan diare ditambah dengan masalah gizi yang dapat mengakibatkan lebih
dari 80% kematian anak (WHO, 2002).
          Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi
belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis
besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
            Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal; adalah
kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh
faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi
atau didapat selama kehamilan.
            Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi
setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor
yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
            Tiga penyebab utama bayi meninggal adalah akibat berat badan rendah sebesar 29
persen, mengalami gangguan pemapasan sebesar 27 persen dan masalah nutrisi sebesar 10
persen," ungkap dr Badriul Hegar SpA(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (TDAI), dalam
acara talkshow "Di Balik Kematian Bayi dan Balita dalam Rangka Hari Kesehatan Nasional
2009" di Jakarta Convention Center Jumat (4/12). Hal itu dilakukan dengan memberikan
pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau, termasuk memberi rujukan, di mana setiap
janin dalam kandungan harus tumbuh dengan baik dan bayi yang lahir harus sehat dan selamat.

C. Status Gizi
            Status gizi menjadi indikator ketiga dalam menentukan derajat kesehatan anak. Status
gizi yang baik dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak untuk mencapai
kematangan yang optimal. Gizi yang cukup juga dapat memperbaiki ketahanan tubuh sehingga
diharapkan tubuh akan bebas dari segala penyakit. Status gizi ini dapat membantu untuk
mendeteksi lebih dini risiko terjadinya masalah kesehatan. Pemantauan status gizi dapat
digunakan sebagai bentuk antisipasi dalam merencanakan perbaikan status kesehatan anak.

D. Angka Harapan Hidup Waktu Lahir


            Angka harapan hidup waktu lahir dapat dijadikan tolok ukur selanjutnya dalam
menentukan derajat kesehatan anak. Dengan mengetahui angka harapan hidup, maka dapat
diketahui sejauh mana perkembangan status kesehatan anak. Hal ini sangat penting dalam
menentukan program perbaikan kesehatan anak selanjutnya. Usia harapan hidup juga dapat
menunjukkan baik atau buruknya status kesehatan anak yang sangat terkait dengan berbagai
factor, seperti factor social, ekonomi, budaya, dan lain-lain.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat dimana
angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka Kematian Bayi untuk pengembangan
perencanaan berbeda antara kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian
neo-natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan kehamilan maka program-
program untuk mengurangi angka kematian neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program
pelayanan kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi dan suntikan anti tetanus.
            Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak serta Kematian
Balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi, serta program-program
pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gisi dan
pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.

3.2 Saran
            Perkembangan kesehatan bayi dan anak balita seharusnya lebih diperhatikan dan
dikembangkan lebih baik lagi dari pihak pemerintah, pelayanan kesehatan dan lingkungan
masyarakat agar mampu untuk memperbaiki standart kesehatan bayi dan balita serta dapat
menjadi upaya untuk  mengurangi angka kesakitan dan kematian bayi dan anak balita di
Indonesia.

Daftar Pustaka
1)      http://books.google.co.id/books?
id=mmxAfqKkaNQC&pg=PA2&lpg=PA2&dq=angka+kesakitan+dan+kematian+bayi+da
n+balita&source=bl&ots=QbLwpzv7xF&sig=oJg-Dt3Y7ZS7_E-
YQBxFxhxlI7Q&hl=id&sa=X&ei=eSsGUeLxHsn-
rAeqlYGICA&ved=0CEYQ6AEwBQ#v=onepage&q=angka%20kesakitan%20dan
%20kematian%20bayi%20dan%20balita&f=false
2)      http://id.wikipedia.org/wiki/Bayi
3)      http://midwifery-bubid.blogspot.com/2012/05/bahan-ajar-kesehatan-bayi-dan-anak.html
4)      http://carapedia.com/pengertian_definisi_bayi_info2132.html
Pelayanan Kesehatan Pada Bayi dan Balita
30 Maret 2015 | riskiaoktiasari94

PELAYANAN KESEHATAN PADA BAYI DAN BALITA

Oleh :
Kelompok V

1. Putri Retno Endah Sasmita 13211425


2. Regina Delvika Sari 13211427
3. Reni Harmoyeni Sargat 13211428
4. Risa Fitri Mainurmasen 13211429
5. Riskia Oktia Sari 13211430
6. Rizka Armalena 13211431
7. Rosi Puspita Sari 13211432

Dosen Pembimbing :
ETY APRIANTI,S.KM.,M.Kes

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya kami bisa
menyelesaikan makalah penulisan ilmiah yang membahas tentang “Pelayanan Kesehatan Pada
Bayi dan balita”. Makalah ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama
mahasiswa Kebidanan.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini tidaklah sempurna, masih banyak kekurangan
dan kelemahan didalam penulisan makalah kami, baik dalam segi bahasa dan pengolahan
maupun dalam penyusunan. Untuk itu, kami sangat mengharapkan saran yang sifatnya
membangun demi mencapainya suatu kesempurnaan dalam makalah ini.
Padang, Maret 2015
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 3
B. Rumusan masalah 4
C. Tujuan 4
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi 6
B. Pelayanan Kesehatan Pada Anak Balita 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 19
B. Saran 20
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor
36 tahun 2009 tentang Kesehatan, menegaskan bahwa seorang anak berhak untuk hidup, tumbuh
dan berkembang secara optimal, terhindar dari kekerasan dan diskriminasi. Selain itu, Undang
Undang Perlindungan Anak juga mengamanahkan bahwa pemerintah, masyarakat, keluarga dan
orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak;
Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang
komprehensif bagi anak agar setiap anak memperoleh derajat kesehatan yang optimal sejak
dalam kandungan.
Untuk menjamin kelangsungan hidup, tumbuh kembang , dan terlindung dari
diskriminasi,kekerasan seperti penculikan dan perdagangan bayi baru lahir, maka pemenuhan
Hak bayi mendapat kebutuhan dasar harus diberikan , seperti Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI
Eksklusif, dan imunisasi serta pengamanan dan perlindungan bayi baru lahir dari upaya
penculikan dan perdagangan bayi. Program kesehatan anak merupakan salah satu kegiatan dari
penyelenggaraan perlindungan anak di bidang kesehatan, yang dimulai sejak bayi berada di
dalam kandungan, masa bayi, balita, usia sekolah dan remaja. Program tersebut bertujuan untuk
menjamin kelangsungan hidup bayi baru lahir, memelihara dan meningkatkan kesehatan anak
sesuai tumbuh kembangnya, dalam rangka meningkatkan kualitas hidup anak yang akan menjadi
sumber daya pembangunan bangsa di masa mendatang.
Ibu dan anak terutama bayi baru lahir merupakan kelompok masyarakat yang rentan dan perlu
mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat, karena masih tingginya Angka
Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) Serta balita.
Selain itu masalah kesehatan anak di Indonesia masih didominasi oleh tingginya angka kematian
bayi dan balita serta prevalensi balita gizi kurang. Oleh karena itu, telah ditetapkan indikator
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) tahun 2010 – 2014 sekaligus disesuaikan
dengan target pencapaian MDGs, yaitu menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 34/1000
menjadi 23/1000 Kelahiran Hidup dan menurunkan prevalensi gizi kurang balita menjadi 15 %
pada tahun 2015, termasuk tidak terjadi lagi kasus penculikan dan perdagangan bayi baru lahir
( zero toleran ) di Puskesmas dan Rumah Sakit.
Selain itu, kita juga menghadapi permasalahan lain yaitu: meningkatnya ibu dengan HIV / AIDS,
pembunuhan bayi/anak sendiri (infanticide), rendahnya kondisi sosio-ekonomi yang memicu
terjadinya kekerasan dan penelantaran anak termasuk perdagangan atau penculikan bayi/anak,
menjadi tantangan yang harus kita hadapi dalam mewujudkan, pelayanan kesehatan yang
komprehensif bagi anak.
Gambaran situasi tersebut diatas menunjukkan bahwa masalah kesehatan ibu dan anak sangat
kompleks. Selama ini pelayanan kesehatan yang dilakukan lebih terfokus pada upaya agar bayi
dapat lahir dengan selamat dan kelangsungan hidup anak (child survival), tetapi belum
terintegrasi secara penuh untuk mencapai tumbuh kembang anak secara optimal, termasuk
perlindungan dari penculikan dan perdagangan bayi. Kasus penculikan bayi menujukkan
peningkatan dari 72 kasus di tahun 2008 menjadi 102 di tahun 2009, diantaranya 25% terjadi di
rumah sakit, rumah bersalin, dan puskesmas.(komnas perlindungan anak, 2009).
Kementerian Kesehatan telah menetapkan berbagai Peraturan Menteri Kesehatan dan menyusun
Pedoman Pelayanan Kesehatan bagi Ibu dan Bayi Baru Lahir di Puskesmas dan jaringannya.
Pedoman tersebut dipergunakan sebagai acuan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan
pelayanan, diantaranya Pedoman Asuhan Persalinan Normal (APN), Pedoman Asuhan Bayi Baru
Lahir, Pedoman Asuhan Keperawatan bagi Ibu dan Bayi, dan Buku Kesehatan Ibu dan Anak
(Buku KIA), yang hanya mengatur standar pelayanan yang bersifat teknis medis, dan belum
sepenuhnya berorientasi pada perlindungan anak. Untuk mencegah terjadinya kasus penculikan
dan perdagangan bayi baru lahir dan meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan di Puskesmas
dan jaringannya tentang perlindungan anak, maka perlu disusun suatu Panduan Pelayanan
Kesehatan Bayi Baru Lahir Berbasis Perlindungan Anak.

B. Rumusan masalah
1. Apa-apa saja pelayanan kesehatan yang di berikan pada bayi?
2. Apa saja pelayanan kesehatan yang diberikan pada balita?

C. Tujuan
1. Tujuan umum :
Meningkatkan pelayanan kesehatan bayi baru lahir dan balita berbasis perlindungan anak, di
Puskesmas dan jaringannya.
2. Tujuan khusus :
1) Meningkatnya pemahaman tenaga kesehatan tentang upaya perlindungan bagi ibu bersalin dan
bayi baru lahir serta balita
2) Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang komprehensif bagi bayi baru lahir berbasis
perlindungan anak dan balita
3) Tersedianya buku panduan penyelenggaraan pelayanan kesehatan bayi baru lahir berbasis
perlindungan anak dan balita
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi


a. Pengertian Pelayanan Kesehatan Pada Bayi
Bayi baru lahir normal ( BBLN ) adalah bayi yang baru lahir dengan usia kehamilan atau masa
gestasinya dinyatakan cukup bulan ( aterm ) yaitu 36-40 minggu. (Mitayani, 2010). Menurut
Saifuddin, (2002) dalam ( Rahma blog : 2009 ) Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir
selama satu jam pertama kelahiran. Menurut Dep. Kes. RI, (2005) dalam ( Rahma blog : 2010 )
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42
minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram.
Menurut M. Sholeh Kosim, (2007) dalam ( Rahma blog : 2010 ) Bayi baru lahir normal adalah
berat lahir antara 2500 – 4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada
kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat.
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga
kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29 hari sampai dengan 11 bulan setelah
lahir.
Pelaksana pelayanan kesehatan bayi :
1. Kunjungan bayi satu kali pada umur 29 hari – 2 bulan
2. Kunjungan bayi satu kali pada umur 3 – 5 bulan
3. Kunjungan bayi satu kali pada umur 6 – 8 bulan
4. Kunjungan bayi satu kali pada umur 9 – 11 bulan
Kunjungan bayi bertujuan untuk meningkatkan akses bayi terhadap pelayanan kesehatan dasar,
mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan pada bayi sehingga cepat mendapat
pertolongan, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit melalui pemantauan
pertumbuhan, imunisasi, serta peningkatan kualitas hidup bayi dengan stimulusi tumbuh
kembang. Dengan demikian hak anak mendapatkan pelayanan kesehatan terpenuhi. Pelayanan
kesehatan tersebut meliputi :
1. Pemberian imunisasi dasar lengkap (BCG, Polio 1, 2,3, 4, DPT/HB 1, 2, 3, Campak) sebelum
bayi berusia 1 tahun
2. Stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang bayi (SDIDDTK)
3. Pemberian vitamin A 100.000 IU (6 – 11 bulan)
4. Konseling ASI ekskulusif, pemberian makanan pendamping ASI, tanda –tanda sakit dan
perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan Buku KIA
5. Penanaganan dan rujukan kasus bila di perlukan
Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan kesehatan bayi adalah dokter spesialis
anak, dokter, bidan dan perawat.

b. Jenis Pelayanan Kesehatan Pada Bayi Baru Lahir


Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir mengacu pada pedoman Asuhan Persalinan Normal yang
tersedia di puskesmas, pemberi layanan asuhan bayi baru lahir dapat dilaksanakan oleh dokter,
bidan atau perawat. Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir dilaksanakan dalam ruangan yang sama
dengan ibunya atau rawat gabung (ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar, bayi berada dalam
jangkauan ibu selama 24 jam).
Asuhan bayi baru lahir meliputi:
1. Pencegahan infeksi (PI)
2. Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
3. Pemotongan dan perawatan tali pusat
4. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
5. Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6 jam, kontak kulit bayi dan ibu
serta menyelimuti kepala dan tubuh bayi.
6. Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis tunggal di paha kiri
7. Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan
8. Pencegahan infeksi mata melalui pemberian salep mata antibiotika dosis tunggal
9. Pemeriksaan bayi baru lahir
10. Pemberian ASI eksklusif

c. Bentuk Esensial Pelayanan kesehatan pada bayi adalah:


1. Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
IMD adalah memberikan pelayanan kesehatan pada anak dengan mendekapkan bayi diantara
kedua payudara ibunya segera setelah lahir. Memberikan kesempatan bayi menyusui sendiri
segera setelah lahir dengan meletakkan bayi di dada atau perut dan kulit bayi melekat pada kulit
ibu (skin to skin contact) setidaknyaselama 1-2 jam sampai bayi menyusui sendiri. (mitaya, 2010
: 23)
Hal ini dapat menghindari kematian bayi dan penyakit yang menyerang bayi, karena kandungan
antibodi yang ada pada colostrom dan ASI. Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera
letakkan bayi tengkurap di dada ibu, kulit bayi kontak dengan kulit ibu untuk melaksanakan
proses IMD.
Langkah IMD pada persalinan normal (partus spontan):
1) Suami atau keluarga dianjurkan mendampingi ibu di kamar bersalin
2) Bayi lahir segera dikeringkan kecuali tangannya, tanpa menghilangkan vernix, kemudian tali
pusat diikat.
3) Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi ditengkurapkan di dada ibu dengan kulit bayi
melekat pada kulit ibu dan mata bayi setinggi puting susu ibu. Keduanya diselimuti dan bayi
diberi topi.
4) Ibu dianjurkan merangsang bayi dengan sentuhan, dan biarkan bayi sendiri mencari puting
susu ibu.
5) Ibu didukung dan dibantu tenaga kesehatan mengenali perilaku bayi sebelum menyusu.
6) Biarkan kulit bayi bersentuhan dengan kulit ibu minimal selama satu jam, bila menyusu awal
terjadi sebelum 1 jam, biarkan bayi tetap di dada ibu sampai 1 jam
7) Jika bayi belum mendapatkan putting susu ibu dalam 1 jam posisikan bayi lebih dekat dengan
puting susu ibu, dan biarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibu selama 30 menit.

Setelah selesai proses IMD bayi ditimbang, diukur, dicap/diberi tanda identitas, diberi salep mata
dan penyuntikan vitamin K1 pada paha kiri. Satu jam kemudian diberikan imunisasi Hepatitis B
(HB 0) pada paha kanan.
1.) Pelaksanaan penimbangan, penyuntikan vitamin K1, salep mata dan imunisasi Hepatitis B
(HB 0).
2.) Pemberian layanan kesehatan tersebut dilaksanakan pada periode setelah IMD sampai 2-3
jam setelah lahir, dan dilaksanakan di kamar bersalin oleh dokter, bidan atau perawat.
3.) Semua BBL harus diberi penyuntikan vitamin K1 (Phytomenadione) 1 mg intramuskuler di
paha kiri, untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami oleh
sebagian BBL.
4.) Salep atau tetes mata diberikan untuk pencegahan infeksi mata (Oxytetrasiklin 1%).
5.) Imunisasi Hepatitis B diberikan 1-2 jam di paha kanan setelah penyuntikan Vitamin K1 yang
bertujuan untuk mencegah penularan Hepatitis B melalui jalur ibu ke bayi yang dapat
menimbulkan kerusakan hati.

2. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir


Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin kelainan pada bayi. Risiko
terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan, sehingga jika bayi lahir di
fasilitas kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan selama 24 jam
pertama.
Pemeriksaan bayi baru lahir dilaksanakan di ruangan yang sama dengan ibunya, oleh dokter/
bidan/ perawat. Jika pemeriksaan dilakukan di rumah, ibu atau keluarga dapat mendampingi
tenaga kesehatan yang memeriksa.
3. Pencegahan infeksi
Pemotongan tali pusat pada BBL normal dilakukan sekitar 2 menit setelah bayi baru lahir atau
setelah penyuntikan oksitosin 10 IU intramuskular kepada ibu. Hindari pembungkusan tali pusat
atau jika di bungkus tutupi dengan kassa steril dalam keadaan longgar, agar tetap terkena udara
dan akan lebih mudah kering.

4. Pencegahan hilangnya panas tubuh bayi


Pastikan bayi selalu dalam keadaan hangat dan hindari bayi terpapar langsung dengan suhu
lingkungan

5. Kunjungan Neonatal
Adalah pelayanan kesehatan kepada neonatus sedikitnya 3 kali yaitu:
1.) Kunjungan neonatal I (KN1) pada 6 jam sampai dengan 48 jam setelah lahir
2.) Kunjungan neonatal II (KN2) pada hari ke 3 s/d 7 hari
3.) Kunjungan neonatal III (KN3) pada hari ke 8 – 28 hari

Pelayanan kesehatan diberikan oleh dokter/bidan/perawat, dapat dilaksanakan di puskesmas atau


melalui kunjungan rumah. Pelayanan yang diberikan mengacu pada pedoman Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS) pada algoritma bayi muda (Manajemen Terpadu Bayi
Muda/MTBM) termasuk ASI ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, perawatan tali
pusat, penyuntikan vitamin K1 dan imunisasi HB-0 diberikan pada saat kunjungan rumah sampai
bayi berumur 7 hari (bila tidak diberikan pada saat lahir).

B. Pelayanan Kesehatan Pada Anak Balita


a. Defini Pelayanan Kesehatan Pada balita
Anak balita (bawah lima tahun), merupakan kelompok tersendiri yang dalam perkembangan dan
pertumbuhannya memerlukan perhatian yang lebih khusus. Bila perkembangan dan pertumbuhan
pada masa BALITA ini mengalami gangguan, hal ini akan berakibat terganggunya persiapan
terhadap pembentukan anak yang berkualitas. Untuk mencapai hal diatas, maka tujuan
pembinaan kesejahteraan anak adalah dengan menjamin kebutuhan dasar anak secara wajar,
yang mencakup segi-segi kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan dan
perlindungan terhadap hak anak yang menjadi haknya [hak anak]. Disamping itu diperlukan juga
suatu lingkungan hidup yang menguntungkan untuk proses tumbuh kembang anak. (Chairuddin
P. Lubis, 2004)
Lima tahun pertama kehidupan, pertumbuhan mental dan intelektual berkembang pesat. Masa ini
merupakan masa keemasan atau golden period dimana terbentuk dasar-dasar kemampuan
keindraan, berfikir, berbicara serta pertumbuhan mental intelektual yang intensif dan awal
pertumbuhan moral. Pada masa ini stimulasi sangat penting untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi
organ tubuh dan rangsangan pengembangan otak. Upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan dan
perkembangan pada anak usia dini menjadi sangat penting agar dapat dikoreksi sedini mungkin
dan atau mencegah gangguan ke arah yang lebih berat.
Bentuk pelaksanaan tumbuh kembng anak di lapangan dilakukan dengan mengacu pada
pedoman Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK) yang
dilaksanakan oleh tenaga kesehatan di puskesmas dan jajarannya seperti dokter, bidan perawat,
ahli gizi, penyuluh kesehatan masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya yang peduli dengan anak.
Kematian bayi dan balita merupakan salah satu parameter derajat kesejahteraan suatu negara.
Sebagian besar penyebab kematian bayi dan balita dapat dicegah dengan tegnologi sederhana
ditingkat pelayanan kesehatan dasar, salah satunya adalah dengan menerapkan Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS), ditingkat pelayanan kesehatan dasar. Bank dunia, 1993
melaporkan bahwa MTBS merupakan intervensi yang cost effective untuk mengatasi masalah
kematian balita yang disebabkan oleh infeksi Pernapasan Akut (ISPA), diare, campak, malaria,
kurang gizi dan yang sering merupakan kombinasi dari keadaan tersebut.
Sabagai upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian balita, Departeman Kesehatan
RI bekerja sama dengan WHO telah mengembangkan paket pelatihan Manajemen Terpadu
Balita Sakit (MTBS) yang mulai dikembangkan di indonesia sejak tahun 1996 dan
implementasinya dimulai 1997 dan saat ini telah mencakup 33 provinsi.

Pelayanan kesehatan anak balita meliputi pelayanan pada anak balita sakit dan sehat. Pelayanan
yang diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai standar yang meliputi :
1. Pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun yang tercatat dalam Buku
KIA/KMS. Pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan anak balita setiap bulan
yang tercatat pada Buku KIA/KMS. Bila berat badan tidak naik dalam 2 bulan berturut-turut atau
berat badan anak balita dibawah garis merah dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan.
2. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) minimal 2 kali dalam
setahun. Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan motorik kasar, motorik halus,
bahasa, sosialisasi dan kemandirian minimal 2 kali setahun (setiap 6 bulan). Pelayanan SDIDTK
diberikan di dalam gedung (sarana pelayanan kesehatan) maupun di luar gedung.
3. Pemberian Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU), 2 kali dalam setahun.
4. Kepemilikan dan pemantauan buku KIA oleh setiap anak balita
5. Pelayanan anak balita sakit sesuai standar dengan menggunakan pendekatan MTBS.

b. Jenis Pelayanan Kesehatan Pada Balita


Pelayanan kesehatan pada balita yang lain adalah:
1. Pemantauan pertumbuhan balita dengan KMS
KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat yang sederhana dan murah, yang dapat
digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS harus
disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi posyandu
atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter.
KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan keluarga untuk memantau tumbuh
kembang anak, agar tidak terjadi kesalahan atau ketidak seimbangan pemberian makan pada
anak. KMS juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan untuk
menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan gizi anak untuk
mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatan- nya.
KMS berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan anak, imunisasi,
penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak, pemberian ASI
eksklusif dan Makanan Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan rujukan ke Puskesmas/
Rumah Sakit. KMS juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang tua balita
tenta ng kesehatan anaknya (Depkes RI, 2000).
Manfaat KMS adalah :
1.) Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap,
meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare,
pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan pemberian ASI eksklusif, dan Makanan
Pendamping ASI.
2.) Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak
3.) Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan
penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.

2. Pelayanan kesehatan dengan Pemberian Kebutuhan Nutrisi Yang Baik Pada Anak
Dalam pertumbuhan dan perkembangan fisik seorang anak, pemberian makanan yang bergizi
mutlak sangat diperlukan. Anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya mempunyai
beberapa fase yang sesuai dengan umur si anak, yaitu fase pertumbuhan cepat dan fase
pertumbuhan lambat. Bila kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi, maka akan terjadi gangguan gizi
pada anak tersebut yang mempunyai dampak dibelakang hari baik bagi pertumbuhan dan
perkembangan fisik anak tersebut maupun gangguan intelegensia.

3. Pemberian Kapsul Vitamin A


Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat diperlukan oleh tubuh
yang berguna untuk kesehatan mata ( agar dapat melihat dengan baik ) dan untuk kesehatan
tubuh yaitu meningkatkan daya tahan tubuh, jaringan epitel, untuk melawan penyakit misalnya
campak, diare dan infeksi lain.
Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan pada beberapa sasaran yang diperkirakan banyak
mengalami kekurangan terhadap Vitamin A, yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin
A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun. (Depkes RI,
2007)
Vitamin A terdiri dari 2 jenis :
1.) Kapsul vitamin A biru ( 100.000 IU ) diberikan pada bayi yang berusia 6-11 bulan satu kali
dalam satu tahun.
2.) Kapsul vitamin A merah ( 200.000 IU ) diberikan kepada balita
Kekurangan vitamin A disebut juga dengan xeroftalmia ( mata kering ).
Hal ini dapat terjadi karena serapan vitamin A pada mata mengalami pengurangan sehingga
terjadi kekeringan pada selaput lendir atau konjungtiva dan selaput bening
( kornea mata ).
Pemberian vitamin A termasuk dalam program Bina Gizi yang dilaksanakan oleh Departemen
Kesehatan setiap 6 bulan yaitu bulan Februari dan Agustus, anak-anak balita diberikan vitamin A
secara gratis dengan target pemberian 80 % dari seluruh balita. Dengan demikian diharapkan
balita akan terlindungi dari kekurangan vitamin A terutama bagi balita dari keluarga menengah
kebawah.

4. Pelayanan Posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)
yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan
kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk
mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup :
1.) Penimbangan berat badan
2.) Penentuan status pertumbuhan
3.) Penyuluhan
4.) Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan
deteksi dini tumbuh kembang, apabila ditemukan kelainan, segera ditunjuk ke Puskesmas.

5. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)


Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness
(IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan
fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh. MTBS bukan
merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita sakit.
Kegiatan MTBS merupakan upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan
angka kesakitan dan kematian sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit
rawat jalan kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu, Polindes, Poskesdes,
dll).
Bila dilaksanakan dengan baik, pendekatan MTBS tergolong lengkap untuk mengantisipasi
penyakit-penyakit yang sering menyebabkan kematian bayi dan balita di Indonesia. Dikatakan
lengkap karena meliputi upaya preventif (pencegahan penyakit), perbaikan gizi, upaya promotif
(berupa konseling) dan upaya kuratif (pengobatan) terhadap penyakit-penyakit dan masalah yang
sering terjadi pada balita. Badan Kesehatan Dunia WHO telah mengakui bahwa pendekatan
MTBS sangat cocok diterapkan negara-negara berkembang dalam upaya menurunkan angka
kematian, kesakitan dan kecacatan pada bayi dan balita.
Kegiatan MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
1.) Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit (selain
dokter, petugas kesehatan non-dokter dapat pula memeriksa dan menangani pasien asalkan sudah
dilatih).
2.) Memperbaiki sistem kesehatan (perwujudan terintegrasinya banyak program kesehatan dalam
1 kali pemeriksaan MTBS).

Dalam pelaksanaannya, MTBS ini dibedakan dalam 2 kategori, yaitu :


1.) Manajemen Terpadu Bayi Muda ( Usia 1 hari sampai 2 bulan )
Pengelolaan bayi sakit pada usia 1 hari sampai 2 bulan ini, meliputi penilaian tanda dan gejala,
penentuan klasifikasi dan tingkat kegawatan, penentuan tindakan dan pengobatan, pemberian
konseling, pemberian pelayanan dan tindak lanjut.
Dalam manajemen terpadu bayi muda ini, dilakukan pengelolaan terhadap penyakit-penyakit
yang lazim terjadi pada bayi muda, antara lain adanya kejang, gangguan nafas, hipotermi,
kemungkinan infeksi bakteri, ikterus, gangguan saluran cerna, diare serta kemungkinan berat
badan rendah dan masalah pemberian ASI.
2.) Manajemen Terpadu Balita Sakit Umur 2 Bulan sampai 5 Tahun
Tahapan pelaksanaan manajemen terpadu balita sakit pada usia 2 bulan sampai 5 tahun ini sama
seperti manajemen terpadu bayi muda, yaitu penilaian tanda dan gejala, penentuan klasifikasi
dan tingkat kegawatan, penentuan tindakan dan pengobatan, pemberian konseling, pemberian
pelayanan dan tindak lanjut. Dalam MTBS usia 2 bulan sampai 5 tahun ini, dilaksanakan
pengelolaan terhadap beberapa penyakit pada anak usia 2 bulan sampai 5 tahun. Beberapa
penyakit yang lazim terjadi pada anak usia 2 bulan sampai 5 tahun, aantara lain adanya tanda
bahaya umum ( tidak bias minum atau menetek, muntah, kejang, letargis, atau tidak sadar ),
batuk dan sukar bernafas, diare, demam, masalah telinga, status gizi buruk ( malnutrisi dan
anemia ).
Sebagai upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian balita, Departemen kesehatan
RI bekerja sama dengan WHO telah mengembangkan paket pelatihan Manajemen Terpadu
Balita Sakit ( MTBS ) yang mulai dikembangkan di Indonesia sejak tahun 1996 dan
implementasinya dimulai tahun 1997 dan saat ini telah mencakup 33 provinsi.
3.) Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya
pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam
pelayanan kesehatan).

6. Konseling pada keluarga balita


Konseling yang dapat diberikan adalah :
1) Pemberian makanan bergizi pada bayi dan balita
2) Pemberian makanan bayi
3) Mengatur makanan anak usia 1-5 tahun.
4) Pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi dan balita
5) Peningkatan kesehatan pola tidur, bermain, peningkatan pendidikan seksual dimulai sejak
balita (sejak anak mengenal idenitasnya sebagai laki-laki atau perempuan

7. Pelayanan Immunisasi
Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit infeksi dengan menyuntikkan vaksin kepada anak
sebelum anak terinfeksi. Anak yang diberi imunisasi akan terlindung dari infeksi penyakit-
penyakit: sebagai berikut: TBC, Difteri, Tetanus, Pertusis (batuk rejan), Polio, Campak dan
Hepatitis B. Dengan imunisasi, anak akan terhindar dari penyakit-penyakit, terhindar dari cacat,
misalnya lumpuh karena Polio, bahkan dapat terhindar dari kematian.
Vaksin yang di gunakan adalah :
1) BCG : Untuk mencegah penyakit tuberculosis
Imunisasi BCG (Bacicile Calmette Guerin) untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat
sebab TBC yang primer atau ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG.
Contohnya: TBC pada selaput otak, TBC milier pada lapang paru ,TBC tulang . Vaksin BCG
merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang dilemahkan, diberikan melalui
intradermal dengan dosis 0,05 ml
Efek samping imunisasi BCG yaitu terjadinya ulkus pada daerah suntikan,reaksi panas. .
Rekomendasi :
1. Imunisasi BCG diberikan saat bayi berusia ≤ 2 bulan
2. Jangan melakukan imunisasi pd bayi dg imunodefisiensi (HIV,gizi buruk)
3. Pada bayi yg kontak erat dg penderita TB,diberi INH profilaksis,jika kontak sdh tenang dpt
diberi BCG

2) Polio oral vaksin : Untuk mencegah penyakit polio


Imunisasi polio digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat
menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin adalah virus yang dilemahkan.
Imunisasi polio diberikan melalui oral bersamaan dengan suntikan vaksin DPT & hepatitis B.
Vaksin yang digunakan secara rutin sejak bayi lahir dengan dosis 2 tetes oral yang menempatkan
diri di usus & memacu pembentukan system baik dalam darah maupun pada epitelium usus yang
menghasilkan pertahanan terhadap virus polio liar yang datang masuk kemudian.

3) DPT : Untuk mencegah penyakit Difteri, Pertuis, dan Tetanus


Vaksin mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat racunnya, namun masih
dapat merangsang pembentukan zat anti (toksoid).
Imunisasi DPT diberikan melalui system scular dengan dosis 0,5 ml & dapat menimbulkan efek
samping ringan, terajdi pembengkakan, nyeri & demam. Efek samping berat : terjadi menangis
hebat, kesakitan ± 4 jam, kesadaran menurun, kejang & syok.
4) Hepatitis B : Untuk mencegah penyakit Hepatitis B
Penyakit Hepatitis B sering menyebabkan hepatitis kronik yang dalam kurun waktu 10-20 tahun
dapat berkembang menjadi hepatitis akut. Penularan penyakit melalui: hubungan seksual, dari
ibu kepada bayinya, melalui alat-alat kedokteran. Imunisasi diberikan melalui system scular
dengan dosis 0,5 ml dan dapat menimbulkan efek samping yang pada umumnya ringan, hanya
berupa nyeri, bengkak, panas, mual & nyeri sendi maupun otot.

5) Campak : Untuk mencegah penyakit Campak


Imunisasi bermanfaat untuk memberikan kekebalan pada bayi dan anak sehingga tidak mudah
tertular penyakit:TBC, tetanus, difteri, pertusis (batuk rejan), polio, campak dan hepatitis.
Imunisasi dapat diperoleh di Posyandu, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling,
Praktek dokter atau bidan, dan di Rumah sakit.

BAB II
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pelayanan kesehatan bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga
kesehatan kepada bayi sedikitnya 4 kali, selama periode 29 hari sampai dengan 11 bulan setelah
lahir.
Pelaksana pelayanan kesehatan bayi :
1. Kunjungan bayi satu kali pada umur 29 hari – 2 bulan
2. Kunjungan bayi satu kali pada umur 3 – 5 bulan
3. Kunjungan bayi satu kali pada umur 6 – 8 bulan
4. Kunjungan bayi satu kali pada umur 9 – 11 bulan
Pelayanan kesehatan pada bayi tersebut meliputi :
1. Pemberian imunisasi dasar lengkap (BCG, Polio 1, 2,3, 4, DPT/HB 1, 2, 3, Campak) sebelum
bayi berusia 1 tahun
2. Stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang bayi (SDIDDTK)
3. Pemberian vitamin A 100.000 IU (6 – 11 bulan)
4. Konseling ASI ekskulusif, pemberian makanan pendamping ASI, tanda –tanda sakit dan
perawatan kesehatan bayi di rumah menggunakan Buku KIA
5. Penanaganan dan rujukan kasus bila di perlukan
Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan kesehatan bayi adalah dokter spesialis
anak, dokter, bidan dan perawat.

Lima tahun pertama kehidupan, pertumbuhan mental dan intelektual berkembang pesat. Masa ini
merupakan masa keemasan atau golden period dimana terbentuk dasar-dasar kemampuan
keindraan, berfikir, berbicara serta pertumbuhan mental intelektual yang intensif dan awal
pertumbuhan moral. Pada masa ini stimulasi sangat penting untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi
organ tubuh dan rangsangan pengembangan otak. Upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan dan
perkembangan pada anak usia dini menjadi sangat penting agar dapat dikoreksi sedini mungkin
dan atau mencegah gangguan ke arah yang lebih berat.
Pelayanan kesehatan anak balita meliputi pelayanan pada anak balita sakit dan sehat. Pelayanan
yang diberikan oleh tenaga kesehatan sesuai standar yang meliputi :
1. Pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun yang tercatat dalam Buku
KIA/KMS. Pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan anak balita setiap bulan
yang tercatat pada Buku KIA/KMS. Bila berat badan tidak naik dalam 2 bulan berturut-turut atau
berat badan anak balita dibawah garis merah dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan.
2. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) minimal 2 kali dalam
setahun. Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan motorik kasar, motorik halus,
bahasa, sosialisasi dan kemandirian minimal 2 kali setahun (setiap 6 bulan). Pelayanan SDIDTK
diberikan di dalam gedung (sarana pelayanan kesehatan) maupun di luar gedung.
3. Pemberian Vitamin A dosis tinggi (200.000 IU), 2 kali dalam setahun.
4. Kepemilikan dan pemantauan buku KIA oleh setiap anak balita
5. Pelayanan anak balita sakit sesuai standar dengan menggunakan pendekatan MTBS.

B. Saran
Penulis sangat mengharapkan agar makalah ini dapat menjadi acuan dalam mempelajari tentang
pelayanan kesehatan pada bayi dan balita.
Dan harapan penulis makalah ini tidak hanya berguna bagi penulis tetapi juga berguna bagi
semua pembaca. Terakhir dari penulis walaupun makalah ini kurang sempurna penulis
mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan di kemudian hari
DAFTAR PUSTAKA
Behrman. Kliegman. Arvin. (2000). Ilmu Kesehatan Anak (Nelson Textbook of Pediatrics).
EGC. Jakarta.
https://novafebriantiyusuf.wordpress.com/2013/07/18/pelayanan-kesehatan-pada-bayi-dan-balita/
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2008. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta 2008.