Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PERENCANAAN KONTRUKSI SUTM PABRIK INDUSTRI

MAKANAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Instalasi Tegangan Menengah


Semester Genap Tahun Akademik 2019/2020
Dosen Pembina:
Anang Dasa Novfowan, B.Tech, M.MT

OLEH:
M. Dannu Dermawan (1831120078)

POLITEKNIK NEGERI MALANG


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI D3 TREKNIK LISTRIK
2020
1. PEMILIHAN CUBIKEL
A. CUBIKEL PLN DAN PENGAMANYA
Kubikel 20 kV adalah komponen peralatan untuk memutuskan dan
menghubungkan, pengukuran, tegangan, arus maupun daya, peralatan proteksi dan
control. Didalam perencanaan ini, pelanggan memesan daya kepada PLN sebesar 725
kVA, pelanggan ini termasuk pelanggan TM / TM / TR sehinga trafo milik
pelanggan, rugi-rugi di tanggung pelanggan, pengukuran di sisi TT dan trafo
ditempatkan di gardu distribusi.

Kubikel terdiri dari dua unit. Pertama adalah milik PLN (yang bersegel)
dan kubikel milik pelanggan (hak pelanggan sepenuhnya). Setiap kubikel terdiri
dari incoming, metering dan outgoing. Pada perencanaan ini, kubikel pelanggan
dan PLN disamakan spesifikasinya, karena selain PLN, pelanggan juga perlu
memonitoring metering milik pelanggan itu sendiri. Spesifikasi kubikel ialah:

1. Incoming : IMC
2. Metering : CM2
3. Outgoing : DM1-A
Dengan spesifikasi :
1. Incoming : IMC

Peralatan dasar yang dibutuhkan pada IMC :


- Saklar dan earth switch
- Busbar 3 fasa
- Indikator tegangan
- Mekanisme operasi CIT
- Busbar 3 fasa bawah untuk outgoing
- Connection pads for dry-type cables
- 1-3 CT
Peralatan Bantu :

- Motor untuk mekanisme operasi


- Kontak bantu
- Key type interlocks
- Heating element 50 W
- Stands footing
- Unit pelepasan
- Konektor tambahan untuk penghantar dari atas

a) Load Break Switch


Ialah pemutus dan penyambung tegangan dalam keadaan berbeban,
komponen berbeban terdiri atas beberapa fungsi yaitu:
 Earth Switch
 Disconnect Switch
 Load Break Switch
Untuk meng-energized, proses harus berurutan (1-2-3) dan memutus
beban harus dengan urutan kebalikan (3-2-1).
1.000 kVA
IN= =28,87 A
20.000V x √3
In = 115% x In primer
= 115% x 28,87
= 33,19 A
b) Coupling Capasitor
Dalam penandaan kubikel membutuhkan lampu tanda dengan
tegangan kerja 410 V. Karena pada kubikel mempunyai tegangan kerja 20 kV,
maka tegangan tersebut harus diturunkan hingga 410 V - 400 V menggunakan
coupling capasitor dengan 5 cincin yang menghasilkan:
output tegangan = 20 kV/5 = 400 V
c) Current Transformer
Untuk tiap penyulang, maka hanya mengukur setengah kapasitas daya
terpasang sebesar 865 kVA. Sehingga arus nominalnya ialah:

1.000 kVA
IN= =28,87 A
20.000V x √3

Sedangkan meter yang digunakan hanya mampu menerima arus


sampai 5 A. Sehingga membutuhkan CT dengan spesifikasi :

 CT ARM2/N2F
 Single Primary Winding
 Double Secondary Winding Untuk Pengukuran dan Pengaman
 Arus rating : 50 A / 5 A
 Ith : 12,5 kA
 Untuk metering 5 A, Burden : 7,5 VA , Class : 0,5
 Untuk proteksi 5 A, Burden 10 VA – 5P10

2. Metering (CM2)
Peralatan dasar :
a) Disconnecting Switch dan Earth Switch
b) Busbar 3 fasa
c) Mekanisme operasi CS
d) Saklar isolasi LV Circuit
e) Fuse LV
f) 3 buah Fuse tipe 6,3 A UTE / DIN
g) 3 Potensial Transformer (fasa to netral)
h) 2 Potensial Transformer (fasa to fasa)
Peralatan Bantu :
 Kontak bantu
 Stands footing
 Heating element 50 W
 Kontak Indikator untuk fuse
 Konektor tambahan untuk penghantar dari atas
a) Potensial Transformer
Spesifikasi potensial transformer :
 Transformer VRC2 / S1 phase to phase 50 Hz / 60 Hz
 Rated voltege : 24 kV
 Primary voltage : 20kV
 Secondary voltage: 100 V
 Thermal power : 500 VA
 Rated output : 50 VA
 Kelas akurasi : 0,5
b) Heating Element 50 W
Digunakan sebagai pemanas dalm kubikel. Sumber listrik heating
element ini berdiri sendiri 220 V-AC. Difungsikan untuk menghindari flash
over akibat embun yang ditimbulkan oleh kelembaban di sekitar kubikel.
c) Fuse
Fuse yang digunakan pada kubikel metering tergantung dari tegangan kerja dan
transformator yang digunakan. Melihat rating daya trafo 1000 kva dengan
tegangan kerja 20 kv

maka dipilih fuse :

fuse Fusarc CF (DIN standard) dengan rating 50A


3) Outgoing (DM1-A)
Terdiri atas:
 SF1 atau SF set circuit breaker (CB with SF6 gas)
 Pemutus dari earth switch
 Three phase busbar
 Circuit breaker operating mechanism
 Dissconector operating mechanism CS
 Voltage indicator
 Three ct for SF1 CB
 Aux- contact on CB
 Connections pads for ary-type cables
 Downstream earhting switch.
Dengan aksesori tambahan :
 Aux contact pada disconnector
 Additional enclosure or connection enclosure for cabling from above
 Proteksi menggunakan stafimax relay atau sepam progamable
electronic unit for SF1 -CB.
 Key type interlock
 150 W heating element
 Stands footing
 Surge arrester
a). Potensial Transformer

Spesifikasi potensial transformer :


 Transformer VRC2 / S1 phase to phase 50 Hz / 60 Hz
 Rated voltege : 24 kV
 Primary voltage : 20kV
 Secondary voltage: 100 V
 Thermal power : 500 VA
 Rated output : 50 VA
 Kelas akurasi : 0,5
b). Fuse
Fuse yang digunakan pada kubikel metering tergantung dari tegangan kerja dan
transformator yang digunakan. Melihat rating daya trafo 1000 kva dengan
tegangan kerja 20 kv

maka dipilih fuse :

fuse Fusarc CF (DIN standard) dengan rating 50 A


B. CUBIKEL PELANGGAN DAN PENGAMANYA

IMC METERING OUTGOING


FEEDER CM-2 DM1-A
Busbar 20 kV
Earth Earth
LBS switch switch
(SF6) (SF6) (SF6)

CB
Fuse (SF6)
PT
CT PT CT

Single Line Diagram Kubikel PELANGGAN


Kubikel 20 kV adalah komponen peralatan untuk memutuskan dan
menghubungkan, pengukuran, tegangan, arus maupun daya, peralatan proteksi
dan control. Didalam perencanaan ini, pelanggan memesan daya kepada PLN
sebesar 725 kVA, pelanggan ini termasuk pelanggan TM / TM / TR sehinga
trafo milik pelanggan, rugi-rugi di tanggung pelanggan, pengukuran di sisi TT
dan trafo ditempatkan di gardu distribusi.

Kubikel terdiri dari dua unit. Pertama adalah milik PLN (yang bersegel)
dan kubikel milik pelanggan (hak pelanggan sepenuhnya). Setiap kubikel terdiri
dari incoming, metering dan outgoing. Pada perencanaan ini, kubikel pelanggan
dan PLN disamakan spesifikasinya, karena selain PLN, pelanggan juga perlu
memonitoring metering milik pelanggan itu sendiri. Spesifikasi kubikel ialah:

1. Incoming : IMC
2. Metering : CM2
3. Outgoing : DM1-A
Dengan spesifikasi :
1. Incoming : IMC

Peralatan dasar yang dibutuhkan pada IMC :

- Saklar dan earth switch


- Busbar 3 fasa
- Indikator tegangan
- Mekanisme operasi CIT
- Busbar 3 fasa bawah untuk outgoing
- Connection pads for dry-type cables
- 1-3 CT
Peralatan Bantu :

- Motor untuk mekanisme operasi


- Kontak bantu
- Key type interlocks
- Heating element 50 W
- Stands footing
- Unit pelepasan
- Konektor tambahan untuk penghantar dari atas
d) Load Break Switch
Ialah pemutus dan penyambung tegangan dalam keadaan berbeban,
komponen berbeban terdiri atas beberapa fungsi yaitu:
 Earth Switch
 Disconnect Switch
 Load Break Switch
Untuk meng-energized, proses harus berurutan (1-2-3) dan memutus
beban harus dengan urutan kebalikan (3-2-1).
1.000 kVA
IN= =28,87 A
20.000V x √3
In = 115% x In primer
= 115% x 28,87
= 33,19 A
e) Coupling Capasitor
Dalam penandaan kubikel membutuhkan lampu tanda dengan
tegangan kerja 410 V. Karena pada kubikel mempunyai tegangan kerja 20 kV,
maka tegangan tersebut harus diturunkan hingga 410 V - 400 V menggunakan
coupling capasitor dengan 5 cincin yang menghasilkan:
output tegangan = 20 kV/5 = 400 V
f) Current Transformer
Untuk tiap penyulang, maka hanya mengukur setengah kapasitas daya
terpasang sebesar 865 kVA. Sehingga arus nominalnya ialah:

1.000 kVA
IN= =28,87 A
20.000V x √3
Sedangkan meter yang digunakan hanya mampu menerima arus
sampai 5 A. Sehingga membutuhkan CT dengan spesifikasi :

 CT ARM2/N2F
 Single Primary Winding
 Double Secondary Winding Untuk Pengukuran dan Pengaman
 Arus rating : 50 A / 5 A
 Ith : 12,5 kA
 Untuk metering 5 A, Burden : 7,5 VA , Class : 0,5
 Untuk proteksi 5 A, Burden 10 VA – 5P10

2. Metering (CM2)
Peralatan dasar :
i) Disconnecting Switch dan Earth Switch
j) Busbar 3 fasa
k) Mekanisme operasi CS
l) Saklar isolasi LV Circuit
m) Fuse LV
n) 3 buah Fuse tipe 6,3 A UTE / DIN
o) 3 Potensial Transformer (fasa to netral)
p) 2 Potensial Transformer (fasa to fasa)
Peralatan Bantu :
 Kontak bantu
 Stands footing
 Heating element 50 W
 Kontak Indikator untuk fuse
 Konektor tambahan untuk penghantar dari atas
b) Potensial Transformer

Spesifikasi potensial transformer :


 Transformer VRC2 / S1 phase to phase 50 Hz / 60 Hz
 Rated voltege : 24 kV
 Primary voltage : 20kV
 Secondary voltage: 100 V
 Thermal power : 500 VA
 Rated output : 50 VA
 Kelas akurasi : 0,5
c) Heating Element 50 W
Digunakan sebagai pemanas dalm kubikel. Sumber listrik heating
element ini berdiri sendiri 220 V-AC. Difungsikan untuk menghindari flash
over akibat embun yang ditimbulkan oleh kelembaban di sekitar kubikel.
d) Fuse
Fuse yang digunakan pada kubikel metering tergantung dari tegangan kerja dan
transformator yang digunakan. Melihat rating daya trafo 1000 kva dengan
tegangan kerja 20 kv
maka dipilih fuse :

fuse Fusarc CF (DIN standard) dengan rating 50A


3. Outgoing (DM1-A)

Terdiri atas:
 SF1 atau SF set circuit breaker (CB with SF6 gas)
 Pemutus dari earth switch
 Three phase busbar
 Circuit breaker operating mechanism
 Dissconector operating mechanism CS
 Voltage indicator
 Three ct for SF1 CB
 Aux- contact on CB
 Connections pads for ary-type cables
 Downstream earhting switch.
Dengan aksesori tambahan :
 Aux contact pada disconnector
 Additional enclosure or connection enclosure for cabling from above
 Proteksi menggunakan stafimax relay atau sepam progamable
electronic unit for SF1 -CB.
 Key type interlock
 150 W heating element
 Stands footing
 Surge arrester
a). Potensial Transformer

Spesifikasi potensial transformer :


 Transformer VRC2 / S1 phase to phase 50 Hz / 60 Hz
 Rated voltege : 24 kV
 Primary voltage : 20kV
 Secondary voltage: 100 V
 Thermal power : 500 VA
 Rated output : 50 VA
 Kelas akurasi : 0,5
b). Fuse
Fuse yang digunakan pada kubikel metering tergantung dari tegangan kerja dan
transformator yang digunakan. Melihat rating daya trafo 1000 kva dengan
tegangan kerja 20 kv

maka dipilih fuse :

fuse Fusarc CF (DIN standard) dengan rating 50 A


PEMILIHAN KOMPONEN KUBIKEL
1. Pemilihan Disconnecting Switch (DS).
Disconnecting switch merupakan peralatan pemutus yang dalam
kerjanya (menutup dan membuka) dilakukan dalam keadaan tidak berbeban,
karena alat ini hanya difungsikan sebagai pemisah bukan pemutus.
Jika DS dioperasikan pada saat keadaan berbeban maka akan terjadi
flash over atau percikan-percikan api yang dapat merusak alat itu sendiri.
Fungsi lain dari disconnecting switch adalah difungsikan sebagai
pemisah tegangan pada waktu pemeliharaan dan perbaikan, sehingga
dIperlukan saklar pembumian agar tidak ada muatan sisa.
Karena DS dioperasikan sebagai saklar maka perhitungannya adalah :
KVA (trafo )
I= ×1 ,15
√3×20 kV

1. 000 kVA
I= ×1 ,15
√3×20kV
= 33,19 A

Sehingga dipilih DS dengan type SF 6 with earthing switch.

2. Pemilihan Load Break Switch


Kemampuan pemutus ini harus disesuaikan dengan rating nominal
dari tegangan kerja, namun LBS juga harus mampu beroperasi saat arus besar
( Ics ) tanpa mengalami kerusakan.
Cara pengoperasian LBS bisa secara manual yaitu digerakkan melalui
penggerak mekanis yang dibantu oleh sisitem pegas dan pneumatic.pemilihan
LBS ditentukan berdasarkan dengan Rating arus nominal dan tegangan
kerjannya :
KVA (trafo )
I= ×1 ,15
√3×20 kV
1. 000 kVA
I= ×1 ,15
√3×20kV
= 33,19 A

3. Pemilihan Current Transformer


Berdasarkan data dari trafo, dengan mengetahui tegangan kerja dan
daya trafo maka dapat dipilih CT dengan perhitungan sebagai berikut :
- Daya trafo = 1000 kVA
- I primer = 28,87
- V primer = 20 kV
- V sekunder = 400 V
Dari data pemilihan kubikel dapat dipilih CT sebagai berikut :

Spesifikasi potensial transformer :


 Transformer VRC2 / S1 phase to phase 50 Hz / 60 Hz
 Rated voltege : 24 kV
 Primary voltage : 20kV
 Secondary voltage: 100 V
 Thermal power : 500 VA
 Rated output : 50 VA
 Kelas akurasi : 0,5
2. PERHITUNGAN DAN PEMILIHAN ( PENENTUAN SPEC , KATALOG )
A. ARESTER
Arrester dipakai sebagai alat proteksi utama dari tegangan lebih. Karena
kepekaan arrester terhadap tegangan, maka pemakainya harus disesuikan
dengan tegangan sistem.
Pada pemilihan arrester ini dimisalkan tegangan impuls petir yang
datang berkekuatan 400 kV dalam waktu 0,1μs, jarak titik penyambaran
dengan transformator 5 Km.
 Tegangan dasar arrester
Pada jaringan tegangan menengah arrester ditempatkan pada sisi
tegangan tinggi (primer) yaitu 20 kV. Tegangan dasar yang dipakai adalah
20 kV sama seperti tegangan pada sistem. Hal ini dimaksudkan agar pada
tegangan 20 kV arrester tersebut masih tetap mampu memutuskan arus
ikutan dari sistem yang effektif.
 Tegangan system tertinggi umumnya diambil harga 110% dari harga
tegangan nominal sistem.
Pada arrester yang dipakai PLN adalah :
Vmaks = 110% x 20 kV
= 22 kV, dipilih arrester dengan tegangan teraan 24 kV.
 Koefisien Pentanahan
Didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan rms fasa sehat ke
tanah dalam keadaan gangguan pada tempat dimana penangkal petir. Untuk
menetukan tegangan puncak (Vrms) antar fasa dengan ground digunakan
persamaan :
Vm
Vrms=
√2
22kV
¿
√2
¿ 15,56 kV
Dari persamaan di atas maka diperoleh persamaan untuk tegangan
phasa dengan ground pada sistem 3 phasa didapatkan persamaan :

Vrms×√2
Vm(L - G) = √3

15,56×√ 2
= √3
= 12,70 KV

12,6 KV
Koefisien pentanahan = 15,5 KV

= 0,82

Keterangan :

Vm = Tegangan puncak antara phasa dengan ground (KV)

Vrms = Tegangan nominal sistem (KV)

 Tegangan Pelepasan Arrester


Tegangan kerja penangkap petir akan naik dengan naiknya arus pelepasan,
tetapi kenaikan ini sangat dibatasi oleh tahanan linier dari penangkap petir.
Tegangan yang sampai pada arrester :
e
E=
K ×x
400 kV
¿
0,0006 ×5 Km
¿ 133,33 kV
Keterangan :
E = tegangan pelepasan arester (KV)
e = puncak tegangan surja yang datang
K = Konstanta redaman (0,0006)
x = jarak perambatan
Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit
datang dari saluran yang dibatasi oleh BIL saluran. Dengan
mengingat variasi tegangan flashover dan probabilitas
tembus isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya,
sehingga harga e adalah :
e =1,2 BIL saluran
Keterangan :
E = tegangan surja yang datang (kV)
BIL = tingkat isolasi dasar transformator (kV)
 Arus pelepasan nominal (Nominal Discharge Current)
2e−E
I=
Z+R
Z adalah dalah impedansi saluran yang dianggap diabaikan karena
jarak perambatan sambaran tidak melebihi 10 km dalam arti jarak antara
GTT yang satu dengan yang GTT yang lain berjarak antara 8 km sampai 10
km. (SPLN 52-3,1983 : 11)
TEGANGAN IMPULS 100 %
R= ARUS PEMUAT
105
= 2,5
= 42Ω
2× 400 kV −133,33
I=
0+42 Ω
¿ 15,8 kA
Keterangan :
I = arus pelepasan arrester (A)
e = tegangan surja yang datang (KV)
Eo = tegangan pelepasan arrester (KV)
Z = impedansi surja saluran (Ω)
R = tahanan arrester (Ω)
Jatuh tegangan pada arrester dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan :
V =IxR
Sehingga tegangan pelepasan arrester didapatkan sesuai
persamaan :
ea = Eo + (I x R)
Keterangan :
I = arus pelepasan arrester (KA)
Eo = tegangan arrester pada saat arus nol (KV)
Eo = tegangan pelepasan arrester (KV)
Z = impedansi surja (Ω)
R = tahanan arrester (Ω)
 Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)
Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam
impulse crest voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu
gelombang 1,5 x 40 μs. Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik
harus mempunyai karakteristik ketahanan impuls sama atau lebih tinggi
dari BIL tersebut.
 Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)
Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari
saluran yang dibatasi oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi tegangan
flasover dan probabilitas tembus isolator, maka 20% untuk faktor
keamanannya, sehingga harga E adalah :
e =1,2 BIL saluran
e = 1,2 x 125 KV
e = 150 KV
Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam
impulse crest voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu
gelombang 1,2/50 μs. Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus
mempunyai karakteristik ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL
tersebut. Sehingga dipilih BIL arrester yang sama dengan BIL
transformator yaitu 125 kV.
 Margin Perlindungan Arrester
Untuk menghitung dari margin perlindungan dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut :
MP = (BIL / KIA-1) x 100%
MP = (150 KV/ 133,3 – 1) x 100%
= 113,38 %
Keterangan :
MP = margin perlindungan (%)
KIA= tegangan pelepasan arrester (KV)
BIL = tingkat isolasi dasar (KV)
Berdasarkan rumus di atas ditentukan tingkat perlindungan untuk tafo
daya. Kriteria yang berlaku untuk MP > 20% dianggap cukup untuk
melindungi transformator.
 Jarak penempatan arrester dengan peralatan
Penempatan arrester yang baik adalah menempatkan arrester sedekat
mungkin dengan peralatan yang dilindungi. Jarak arrester dengan peralatan
Yang dilindungi digunakan persamaan sebagai berikut :
2×A×x
Ep = ea + v
2×4000 KV /μs×x
= 133,3 KV+ 300 m/μs
x = 0,31 m
x = 31 cm
Perhitungan jarak penempatan arrester di atas
digunakan untuk transformator tiang. Namun di wilayah
Malang (Indonesia) juga terdapat penempatan
transformator di permukaan tanah dengan menggunakan
kabel tanah. Transformator diletakkan di atas tanah dan
terhubung dengan arrester yang tetap diletakkan di atas
tiang melalui kabel tanah.
Tabel Batas Aman Arrester
BIL
IMPULS BIL
TRAF0
PETIR ARRESTER KONDISI KETERANGAN
(125
(KV) (150 KV)
KV)
Tegangan masih
<125 di bawah rating
120 KV < 150 KV Aman
KV transformator
maupun arrester
Tegangan masih
=125
125 KV <150 KV Aman memenuhi
KV
batasan keduanya
Tegangan lebih
>125 diterima arrester
130 KV <150 KV Aman
KV dan dialirkan ke
tanah
Masih memenuhi
>125 batas tegangan
150 KV =150 KV Aman
KV tertinggi yang bisa
diterima arrester.
Arrester rusak,
>125 Tidak
200 KV >150 KV transformator
KV aman
rusak
 Pemilihan arrester
Berdasarkan pada keterangan diatas maka pemilihan BIL arrester harus
mempunyai kemampuan yang sama atau diatas tegangan BIL petir (150
KV)
Sedangkan untuk BIL trafo dapat menggunakan BIL yang lebih rendah
yaitu 125 KV. Maka dipilih aresster merk HUBBELL dengan spesifikasi:
 Rated voltage = 24 KV
 Nominal Discharge Current = 15,8 dipilih menjadi 20 Ka.

B. FUSE CUT OUT


Cut Out berfungsi untuk mengamankan transformator dari arus lebih. Cut
out dipasang pada sisi primer transformator, dalam menentukan cut-out hal-
hal yang perlu dipertimbangkan adalah:
 Arus nominal beban untuk pemilihan rating arus kontinyu cut-out
 Tegangan sistem untuk pemilihan rating tegangan
 Penggunaan CO tergantung pada arus beban, tegangan sistem, type sistem,
dan arus gangguan yang mungkin terjadi.
Dalam pemilihan Cut Out, teragantung dari pemakaian trafo apakah
memakai minyak atau trafo kering. Di dalam PUIL 2000 hal 190, apabila
menggunakan trafo kering, In Co dikalikan 125 % (maksimal).

1000 kVA
In CO = 125 % x
√3 x 20 kV
= 36,08 A
Dari data diatas dapat dipilih CO :

Merk / Type : ABB / ( NCX 27Kv/100A )


Current Cont. Amps : 100 A
BIL kV : 125 kV
Voltage Nominal kV : 15/27 kV