Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN

FAKTA-FAKTA KESALAHAN GURU DALAM MELAKUKAN


PENILAIAN DAN EVALUASI

Kasus 1

Hasil Penelitian

Pada kegiatan proses pembelajaran di sekolah-sekolah binaan, termasuk


SD Negeri Klampok 06 Kecamatan Wanasari menunjukkan bahwa sebagian besar
(60%) guru tidak melakukan penilaian dengan baik . Hal ini ditunjukkan dengan
kurangnya perhatian guru dalam melaksanakan penilaian proses pembelajaran,
mereka hanya melakukan penilaian hasil belajar saja.

Guru tidak pernah melakukan penilaian proses pembelajaran maka guru


tidak pernah tahu bahwa proses pembelajaran yang dilakukan belum efektif dan
produktif. Karena guru tidak pernah melakukan penilaian terhadap proses
pembelajaran, sehingga guru tidak pernah memperbaiki metode atau pendekatan
yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar pada pertemuan berikutnya.

Akibatnya, hasil ujian Akhir Sekolah tahun pelajaran 2012/2013 pada SD


Negeri Klampok 06 Kecamatan Wanasari, ternyata perolehan nilai rata-rata
pelajaran dibawah nilai rata-rata pelajaran tahun pelajaran sebelumnya.

Pembahasan

Dari kasus diatas, penilaian yang dilakukan guru tidak sesuai dengan
prinsip penilaian yaitu menyeluruh karena penilaian yang dilakukan hanya hasil
akhir (kognitif) tanpa melakukan penilaian terhadap proses pembelajaran (afektif
dan psikomotorik).
Seharusnya Pendidikan tidak berorientasi kepada hasil semata tetapi juga
kepada proses. Oleh sebab itu, penilaian terhadap hasil dan proses belajar harus
dilaksanakan secara seimbang.

Selain itu, penilaian yang dilakukan tidak sesuai dengan fungsi penilaian
yaitu umpan balik (feedback). Hal ini dikarenakan Guru selalu menyalahkan
siswa, mereka tidak pernah menilai apakah pendekatan atau metode yang
digunakan telah sesuai dengan materi yang diajarkan, dan apakah proses
pembelajaran yang dilakukan sudah efisien, efektif, dan produktif.

Oleh karena itu, selain mampu melaksanakan penilaian atau evaluasi, guru
juga harus mampumelaksanakan perbaikan terhadap pengajaran yang
dilaksanakan berdasarkan hasil penilaian dan proses pembelajaran. Dengan
perkataan lain, hasil penilaian tidak hanya bermanfaat untuk mengetahui tercapai
tidaknya tujuan instruksional, dalam hal ini perubahan tingkah laku siswa, tetapi
juga sebagai umpan balik bagi upaya memperbaiki proses belajar

Kasus 2

Hasil Penelitian

Berdasarkan studi pendahuluan dengan wawancara kepada guru PKn


di 13 (tiga belas) SMA Negeri di Kota Banjarmasin peneliti menemukanfakta
bahwa ada sebagian guru PKn yang melakukan penilaian kepada siswanya
cenderung secara subjektif, dan komponen alat penilaian ada yang tidak lengkap.
Pada kenyataannya ada siswa yang memiliki skor tinggi dengan sikap yang
baik, ada pula siswa yang memiliki skor tinggi namun sikapnya kurang baik,
dan sebaliknya ada juga siswa yang memiliki sikap yang baik namun skornya
biasa-biasa saja.

Berdasarkan penelitian di SMA 1 Banjarmasin,guru hanya sebatas


mengembalikan atau mengarsipkan hasil ujian siswa tanpa memberikan balikan
informasi mengenai kemajuan kemampuan siswa.
Pembahasan

Berdasarkan kasus di atas, penilaian yang dilakukan oleh tidak sesuai


dengan prinsip penilaian, yaitu objektif

Seharusnya guru memiliki kemampuan penilaian yang baik dalam


melakukan penilaian terhadap setiap pribadi siswa yang berbeda untuk
mendapatkan ketuntasan dalam belajar dan penilaian yang dilakukan oleh guru
harus berdasarkan standar yang telah di tentukan oleh pemerintah.

Dalam proses pembelajaran, keberhasilan seorang guru dalam


mendidik siswanya tidak hanya dibuktikan dengan skor tinggi dari
kemampuan kognitifnya tetapi juga dari realisasi sikap yang diwujudkan dari
kesadaran diri siswa itu sendiri. Oleh karena itu, Guru harus menyiapakan
rencana penilaian dengan baik dan dapat membuat instrument penilaian yang
disesuaikan dengan karakteritik siswa.

Selain itu, dari kasus diatas, penilaian yang dilakukan guru tidak sesuai
dengan fungsi penilaian yaitu umpan balik (feedback).

Seharusnya hasil pekerjaan peserta didik untuk setiap penilaian


dikembalikan kepada masing-masing peserta didik disertai balikan/komentar
yang mendidik misalnya, mengenai kekuatan dan kelemahannya. Ini
merupakan informasi yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik untuk; a)
mengetahui kemajuan hasil belajarnya; b)mengetahui kompetensi yang belum
dan yang sudah dicapainya; c) memotivasi diri untuk belajar lebih baik; dan
d) memperbaiki strategi belajarnya.

Saat melakukan penilaian akhir dalam penentuan skor dalam


pembelajaran PKN di SMA N 1 Banjarmasin diharapkan bisa lebih baik lagi,
dengan cara mengarsipkan segala hasil ulangan siswa dengan rapi. Hendaknya
guru juga selalu mendokumentasikan setiap kemajuan siswa saat pembelajaran
dikelas berupa dalam catatan seperti lembar penilaian diskusi, lembar
penilaian afektif secara rapi agar nilai siswa dapat dipertanggungjawabkan
keobjektifitasannya.
Kasus 3

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil observasi awal di SD Negeri Karangsari Bener


Purworejo diketahuibahwa soal ulangan setiap akhir proses pembelajaran belum
pernah dilakukan analisis. Bahkanada juga guru yang enggan melaksanakan
evaluasi di akhir pelajaran, karena keterbatasan waktu,menurut mereka lebih
baik menjelaskan semua materi pelajaran sampai tuntas untuk satu
kalipertemuan, dan pada pertemuan berikutnya di awal pelajaran peserta didik
diberi tugas atau soal-soal yang berhubungan dengan materi tersebut.
Berdasarkan analisis kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan,
ditemukanbahwa soal secara umum telah sesuai dengan kompetensi dasar yang
berlaku, namun masih adasoal yang tidak terdapat dalam kompetensi dasar.
Penyebaran soal pada soal masih belumproporsional antara jenjang ingatan,
pemahaman dan aplikasi. Daya beda soal termasuk dalam kriteria jelek. Tingkat
kesukaran untuk kelas I sampaidengan III termasuk dalam kriteria mudah, kelas
IV sampai dengan VI termasuk dalam kriteriasukar. Efektitivitas distraktor soal
termasuk dalam kriteria tidak efektif. Berdasarkan penelitianini, dapat diketahui
bahwa soal-soal ulangan akhir pembelajaran yang dipakai di SD
NegeriKarangsari Bener Purworejo termasuk dalam kriteria yang rendah
kualitasnya.
Selama ini guru mengadakan penilaian hanya untuk mencari angka atau
nilai untukpeserta didik.Apabila peserta didik banyak memperoleh nilai di bawah
6 (enam), maka gurumenganggap bahwa peserta didiklah yang gagal dalam
menyerap materi pelajaran atau materipelajaran terlalu berat, sehingga sukar
dipahami oleh peserta didik. Jika peserta didik yangmemperoleh nilai di bawah 6
(enam) mencapai 50 % dari jumlah peserta didik, hal ini sudahmerupakan
kegagalan guru dalam melaksanakan evaluasi di akhir pelajaran.

Pembahasan
Berdasarkan kasus tersebut,
Seharusnya guru melakukan evaluasi setiap akhir proses pembelajaran,
baikdimulai penyusunan soal maupun analisis terhadap butir soal sebelum
dan sesudah evaluasi. Selain itu, soal yang telah memenuhi kriteria dijadikan
sebagai bank soal dansoal yang belum memenuhi cukup kriteria sebagai soal
yang baik agar dilakukan perbaikansehingga mendapatkan soal yang
berkualitas.
Selain itu, faktor yang paling penting dalam evaluasi itu bukan pada
pemberianangka. Melainkan sebagai dasarfeed back(umpan balik). Umpan balik
itu sendiri sangat pentingdalam rangka revisi. Sebab proses pembelajaran
itukontinyu(terus menerus), karena itu perluselalu melakukan penyempurnaan
dalam rangka mengoptimalkan pencapaian tujuan.
Jika evaluasi merupakan umpan balik sebagai dasar memperbaiki sistem
pembelajaran,sesungguhnya pelaksanaan evaluasi harus bersifat kontinyu. Setiap
kali dilaksanakan prosespembelajaran, harus dievaluasi (formatif). Sebaliknya jika
evaluasi hanya dilaksanakan di akhirprogram pembelajaran (sumatif) umpan balik
tidak banyak berarti, sebab telah banyak prosesterlampaui tanpa revisi.
Oleh karena itu, agar evaluasi memberi manfaat yang besar terhadap
sistem pembelajaranhendaknya dilaksanakan setiap kali proses pembelajaran
untuk suatu topik tertentu. Namundemikian evaluasi sumatifpun perlu
dilaksanakan untuk pengembangan sistem yang lebih luas.
Yangpenting dengan mengadakan evaluasi sebagai guru dapat mengetahui
kelemahan-kelemahan ataukekurangannya dalam menyampaikan materi pelajaran.
Sehingga ia dapat menata kembali ataumenggunakan strategi baru dalam proses
pembelajaran yang akan mendapatkan hasil yang lebihbaik dari sebelumnya.