Anda di halaman 1dari 60

ANALISIS KONJUNGSI PADA MAJALAH INSPIRASI

Nama:
Dhabitah Elfia Hidayat / 09
M.Farkhan Mahendra / 17
M.Rhamadani Fadil / 18
Raffly Adillah Amanda / 21
Talitha Amelia Trixie / 26

KELAS : XI MIPA 3

SMA MUHAMMADIYAH 2 SIDOARJO


TAHUN AJARAN 2018-2019
ANALISIS KONJUNGSI PADA MAJALAH INSPIRASI

Nama:
Dhabitah Elfia Hidayat / 09
M.Farkhan Mahendra / 17
M.Rhamadani Fadil / 18
Raffly Adillah Amanda / 21
Talitha Amelia Trixie / 26

KELAS : XI MIPA 3

SMA MUHAMMADIYAH 2 SIDOARJO


TAHUN AJARAN 2018-2019

i
ABSTRAK

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan bentuk konjungsi dan kesalahan penggunaan

konjungsi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan

data pada penelitian ini mencakup pengumpulan Majalah Inspirasi edisi ke-25 tahun

2018, membaca dan menggaris bawahi kalimat yang mengandung konjungsi,

mengelompokkan konjungsi dan langkah terakhir adalah analisis kesalahan

pemakaian konjungsi dan makna penggunaan konjungsi. Analisis data pada penelitian

ini dilakukan dengan cara

ii
ABSTRACT

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya,

sehingga penyusunan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Analisis Konjungsi Pada

Majalah Inspirasi”.

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan

petunjuk dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Ayah dan ibunda tercinta, keluarga dan orang terdekat yang telah memberikan

dukungan berupa moral maupun materil peneliti.

2. Chasiliriza Nufiansyah Yanuri, S.Pd. Selaku guru bahasa Indonesia kelas XI

SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo yang penuh kesabaran dan ketekunan dalam

membimbing penyelesaian penelitian ini.

3. Rekan-rekan dan semua pihak yang telah banyak membantu dalam

penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

Penulis menyadari dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari

sempurna, maka saran dan kritik yang sangat penulis harapkan demi perbaikan Karya

Tulis Ilmiah ini. Akhirnya penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini

bermanfaat bagi penulis khususnya dan masyarakat pada umumnya.

iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK ............................................................................................................ ii

KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv

DAFTAR ISI ......................................................................................................... v

BAB I : PENDAHULUAN .................................................................................. 1

A. Latar Belakang ........................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 2

C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 2

D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 3

1. Manfaat Teoretis .................................................................................. 3

2. Manfaat Praktis .................................................................................... 3

E. Batasan Istilah ............................................................................................ 3

BAB II : KAJIAN PUSTAKA ............................................................................ 4

BAB III : METODE PENELITIAN ................................................................... 35

A. Jenis Penelitian ........................................................................................... 35

B. Sumber Data ............................................................................................... 35

C. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................... 35

BAB IV : PEMBAHASAN .................................................................................. 38

v
BAB V : PENUTUP ............................................................................................. 52

A. Kesimpulan ..........................................................................................

B. Saran ..........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................

vi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Media cetak adalah sarana media massa yang dicetak dan diterbitkan secara

berkala,seperti surat kabar atau majalah. Majalah sebagai alat komunikasi juga dapat

digunakan untuk menyampaikan sebuah ide atau gagasan seorang penulis kepada

pembaca ataupun pendengar. Salah satu contohnya ialah majalah Inspirasi. Ada

beberapa unsur kebahasaan yang terdapat pada majalah, salah satunya ialah kata

hubung atau konjungsi. Pentingnya konjungsi pada suatu karya tulis, dikarenakan

konjungsi untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan yang lainya. Setiap

bagian dari konjungsi memilliki makna yang berbeda berdasarkan penggunaanya.

Makna yang berbeda itu tidak hanya muncul spontan, melainkan muncul karena

dipengaruhi kalimat yang mengapitnya. Jika konjungsi berdiri sendiri tanpa adanya

kata, frasa, klausa atau kalimat yang mengapitnya, konjungsi itu tidak berfungsi

sebagai penghubung. Oleh karena itu pentingnya konjungsi dalam tulisan, peneliti

akan meneliti kesalahan penggunaan konjungsi dalam majalah Inspirasi.

Kegiatan menulis dapat direalisasikan dalam wujud kata, frase, klausa, kalimat atau

wacana, wacana merupakan organisasi bahasa yang lebih luas dari kalimat atau

klausa(Wahab, 1991: 128).

1
2

Pada sebuah wacana tingkat keterbacaan dan keterpahaman ditentukan oleh kepaduan

bentuk (kohesi) dan kepaduan makna (koherensi). Penggunaan konjungsi merupakan

salah satu cara untuk tercapai kepaduan bentuk dan makna dalam sebuah wacana

Majalah Inspirasi sebagai suatu produk bahasa tidak bisa dilepaskan dari penggunaan

kata hubung atau konjungsi. Sering dijumpai, bahwa seorang penulis tidak terlalu

mempersoalkan tentang penggunaan konjungsi. Penulis hanya mempersoalkan

tentang isi dari majalah.Oleh karena itu, kesalahan penggunaan kata hubung tidak

dapat menghasilkan sebuah tulisan yang komunikatif atau dipahami.

Alasan pemilihan majalah Inspirasi sebagai objek yang akan diteliti dikarenakan,

peneliti tertarik meneliti majalah yang pernah meraih juara satu dalam ajang

Muhammadiyah Education Award 2018 kategori ‘Magazine Competition’.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana bentuk konjungsi pada majalah Inspirasi edisi ke-25?

2. Bagaimana kesalahan penulisan konjungsi pada majalah Inspirasi edisi ke-

25?

C. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan bentuk konjungsi pada majalah Inspirasi edisi ke-25.

2. Mendeskripsikan kesalahan penulisan konjungsi pada majalah Inspirasi

edisi ke-25.
3

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

Manfaat penelitiaan ini diharapkan menambah wawasan bentuk konjungsi

pada majalah Inspirasi edisi ke-25.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi siswa

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada siswa

bahwa dalam menulis harus memperhatikan penulisan konjungsi yang

benar.

b. Bagi wartawan

Manfaat penelitian ini diharapkan tim penulis majalah Inspirasi dapat

meningkatkan ketelitian dalam penggunaan konjungsi pada majalah.

E. Batasan Istilah

Konjungsi adalah kata penghubung yang menghubungkan antar klausa dengan

klausa,kalimat dengan kalimat, atau paragraf dengan paragraf.(Haryanto, 2012 :

134)
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1. Definisi Konjungsi

Rastuti, H.P (2018 : 2—3) menarik kesimpulan sebagai berikut.

a. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, konjungsi diberi pengertian sebagai

partikel yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, frasa

dengan frasa, klausa dengan klausa, dan kalimat dengan kalimat.

b. Dalam bukunya Kamus Linguistik, Harimurti Kridalaksana mendefinisikan

konjungsi sebagai partikel yang digunakan untuk menghubungkan kata

dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, dan kalimat dengan

kalimat.

c. Menurut M. Ramlan, seorang ahli tata bahasa, konjungsi atau kata

penghubung adalah kata yang menghubungkan kata/frasa/klausa dengan

kata/frasa/klausa lain.

d. Definisi konjungsi yang yang disajikan dalam Tata Bahasa Baku Bahasa

Indonesia adalah kata tugas yang menghubungkan dua klausa atau lebih.

e. Definisi lain menyebutkan konjungsi adalah kata yang menghubungkan kata-

kata, bagian-bagian kalimat , atau menghubungkan kalimat-kalimat.

4
5

Dari sejumlah definisi tersebut, ada satu benang merah tentang pengertian

konjungsi. Pengertian yang dimaksud adalah fungsi konjungsi yang

menghubungkan bentuk bahasa dalam satu kalimat. Kami menyimpulkan, dari

beberapa definisi diatas, konjungsi adalah kata tugas yang berfungsi

menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa,

kalimat dengan kalimat, dan paragraf dengan paragraf.

2. Jenis-Jenis Konjungsi

Rastuti (2018:19—35) konjungsi menurut fungsinya dibagi menjadi beberapa

kelompok :

a) Konjungsi Koordinatif atau Konjungsi Setara

Klausa-klausa yang dihubungkan oleh konjungsi-konjungsi mempunyai

kedudukan yang sama. Konjungsi koordinatif akan membentuk kalimat

majemuk koordinatif atau kalimat majemuk setara.

Konjungsi koordinatif antara lain : dan, lagi pula, serta, atau, tetapi,

kemudian, lalu, dan bahkan.

Contoh kalimat:

1) Hikam mencuci mobil dan sepeda motor.

Kalimat tersebut terdiri atas dua klausa

a) Hikam mencuci mobil


6

b) Hikam mencuci sepeda motor

2) Makanan yang dibawa dari rumah serta minuman yang dibeli

diberikan kepada anak yatim piatu

Klausa yang dihubungkan dengan serta pada kalimat tersebut sebagai

berikut.

a) Makanan yang dibawa dari rumah

b) Minuman yang dibeli diberikan kepada anak yatim piatu

3) Dia ingin pergi, tetapi hujan tiba-tiba turun

Terdiri atas klausa-klausa berikut.

a) Dia ingin pergi

b) Hujan tiba-tiba turun

4) Citra memilih baju putih atau biru

Kalimat diatas juga terdiri atas dua klausa

a) Citra memilih baju putih

b) Citra memilih baju biru

5) Pak Dahlan membuka pintu gerbang,lalu mempersilahkan masuk.

Klausa yang dihubungkan oleh konjungsi ”lalu” sama dengan klausa

pada kalimat.
7

6) Rini akan memperluas usahanya, bahkan ia sudah membeli ruko.

Klausa pada kalimat tersebut sebagai berikut.

a) Rini akan memeperluas usahanya

b) Ia sudah membeli ruko

7) Farhan tidak jadi pergi lagi pula ayah melarangnya pergi.

Kalimat tersebut terdiri atas dua klausa berikut.

a) Farhan tidak jadi pergi.

b) Ayah tidak jadi pergi

8) Citra memilih baju putih atau biru.

a) Citra memilih baju putih.

b) Citra memilih baju biru.

Apabila diamati, klausa-klausa yang dihubungkan oleh konjungsi-

konjungsi tersebut mempunyai kedudukan sama. Klausa yang satu

bukan bagian dari klausa yang lain. Konjungsi koordinatif akan

membentuk kalimat majemuk setara. Dalam kalimat yang dimaksud,

konjungsi koordinatif terletak diantara klausa-klusa yang

dihubungkan.

Tanda koma biasanya menyertai penulisan kalimat majemuk

koordinatif. Akan tetapi, tidak semua kalimat majemuk koordinatif

memerlukan tanda koma dalam penulisannya. Kalimat koordinatif

yang menggunakan konjungsi dan serta atau sebelum konjungsi tidak


8

perlu dituliskan tanda koma (,).Tanda koma dipakai pada kalimat

majemuk koordinatif yang menggunakan konjungsi tetapi, lalu,

kemudian, dan bahkan. Akan tetapi, apabila dalam kalimat majemuk

koordinatif yang dihubungkan lebih dari satu, sebelum konjungsi atau

dan diberi tanda koma (,)

Contoh:

9) Astuti membeli sarung, mukena, dan tasbih.

Kalimat itu terdiri atas tiga klausa:

a) Astuti membeli sarung.

b) Astuti membeli mukena, dan

c) Astuti membeli tasbih.

Klausa-klausa yang akan digabung menjadi kalimat majemuk setara

bisa jadi disusun dari kata-kata yang sama. Setelah menjadi kalimat

majemuk setara, kata-kata yang sama bisa dilesapkan salah satu.

b. Konjungsi Subordinatif atau konjungsi bertingkat

Dalam bahasa indonesia subordinatif lebih banyak jumlahnya dari pada

konjungsi koordinatif. Menurut makna yang ditimbulkan, konjungsi

koordinatif dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian sebagai

berikut:
9

1) Sesudah, setelah, sebelum, sehabis, sejak, sedari, selesai, ketika,

tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, sampai,

dan sehingga.

Contoh pemakaian beberapa konjungsi tersebut dalam kalimat sebagai

berikut:

a) Kami pulang sesudah pengacara menutup acara

Kalimat tersebut terdiri atas klausa berikut.

Kami pulang (sesudah) pengacara menutup acara.

b) sebelum matahari terbit, ibu-ibu itu sudah pergi berdagang.

Klausa pada kalimat tersebut sebagai berikut.

(sebelum) matahari terbit, ibu-ibu itu sudah pergi berdagang

c) Ia berubah menjadi periang sejak masuk pesantren

Kalimat tersebut terdiri atas dua klausa berikut .

Ia berubah menjadi periang (sejak) masuk pesantren.

d) Ketika masuk wilayah ini, kita harus waspada.

Klusa dalam kalimat tersebut bebagai berikut.

(ketika) masuk wilayah ini kita harus waspada.

e) Hujan turun sangat deras sehingga jalanan tergenang air.

Hujan turun sangat deras (sehingga) jalanan tergenang air.


10

2) Jika, kalau, jikalau, asal, asalkan, bila, apabila, dan manakala.

Contoh pemakaian kalimatnya sebagai berikut :

a) Jika besok sore Salamah belum pulang, Salman menyusul

Klausa dalam kalimat tersebut sebagai berikut

(jika) besok sore Salamah belum pulang, Salman menyusul

b) Aku bersedia datang asal kamu menjemputku

Klausa dalam kalimat tersebut sebagai berikut

Aku bersedia datang (asal) kamu menjemputku

c) Manakala ibu sudah berkata-kata, semua anaknya terdiam

Klausa dalam kalimat tersebut sebagai berikut

(manakala) ibu sudah berkata-kata, semua anaknya terdiam

Konjungsi bila sering digunakan dalam kalimat tanya, untuk

menanyakan waktu.

3) Andaikan, seandainya, andaikata, umpamanya dan sekiranya.

Contoh pemakaian kalimatnya sebagai berikut.

a) Deden akan datang seandainya diizinkan kepala sekolah


11

Klausa dalam kalimat tersebut sebagai berikut.

Deden akan datang (seandainya) diizinkan kepala sekolah

b) Sekiranya waktunya memungkinkan, kita ke pasar malam

Klausa dalam kalimat tersebut sebagai berikut.

(sekiranya) waktunya memungkinkan kita ke pasar malam

4) Agar, supaya, agar supaya dan biar.

Contoh pemakaian kalimatnya sebagai berikut.

a) Baju itu direndam agar kotorannya mudah hilang

Klausa yang membentuk kalimat tersebut sebagai berikut.

Baju itu direndam (agar) kotorannya mudah hilang.

Dalam kata baku, konjungsi agar supaya tidak digunakan karena dianggap

mubazir.Konjungsi tersebut terdiri atas dua konjungsi yaitu agar dan

supaya.

5) Biarpun, meski, meskipun, sekalipun, walau, walaupun, sungguhpun,

kendati, kendatipun

Contoh penggunaanya dalam kalimat sebagai berikut.

a) Meskipun barangnya murah, barang ini berkualitas


12

Klausa yang membentuk kalimat tersebut sebagai berikut.

(meskipun) barangnya murah, barang ini berkualitas

6) Seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, laksana.

Contoh penggunaannya dalam kalimat sebagai berikut.

a) Dian hanya memerintah seakan-akan dia yang berkuasa.

Kalimat tersebut terdiri atas klausa berikut.

Dian hanya memerintah (seakan-akan) dia yang berkuasa

b) Suaranya sangat merdu laksana buluh perindu.

Kalimat tersebut terdiri atas klausa berikut.

Suaranya sangat merdu (laksana) buluh perindu.

7) Sebab, oleh karena, karena, oleh sebab, lantaran, berkat dan akibat.

Contoh penggunaannya dalam kalimat sebagai berikut.

a) Pak Jafar malu karena perbuatan anaknya

Klausa yang membentuk kalimat tersebut sebagai berikut

Pak Jafar malu (karena) perbuatan anaknya.

b) Berkat ketekunannya, usahanya berkembang pesat

Klausa yang memebentuk kalimat tersebut sebegai berikut


13

(Berkat) ketekunannya usahanya berkembang pesat

Konjungsi berkat untuk menyatakan sesuatu yang menggembirakan.

Sebaliknya, konjungsi akibat untuk menyatakan sesuatu yang tidak

menggembirakan. Akan tetapi konjungsi akibat dapat digantikan

dengan konjungsi sebab, karena, oleh sebab, dan oleh karena.

8) Hingga, sehingga, sampai, sampai-sampai, maka, dan makanya.

Contoh penggunaannya dalam kalimat sebagai berikut.

a) Benturan dikepalanya cukup keras hingga dia tak sadarkan diri.

Klausa yang menyusun kalimat tersebut sebagai berikut.

Benturan dikepalanya cukup keras (hingga) dia tak sadarkan diri.

b) Hendrawan tidak disiplin makanya ia dicoret dari nama pemain.

Klausa yang menyusun kalimat tersebut sebagai berikut.

Hendrawan tidak disiplin (makanya) ia dicoret dari daftar pemain

9) Bahwa

Contoh penggunaan kalimatnya sebagai berikut.

Bu Aminah sudah tahu bahwa putranya sedang punya masalah.

Klausa yang menyusun kalimat tersebut sebagai berikut.


14

Bu Aminah sudah tahu (bahwa) putranya sedang punya masalah.

10) Dengan

Contoh penggunaan kalimatnya sebagai berikut.

Jeni memasak daging itu dengan cara dibakar.

Klausa yang menyusun kalimat tersebut sebagai berikut.

Jeni memasak daging itu (dengan) cara dibakar.

11) Daripada

Contoh penggunaan kalimatnya sebagai berikut.

Kami lebih suka berjalan kaki daripada naik kendaraan umum.

Klausa yang dihubungkan dalam kalimat seperti berikut.

Kami lebih suka berjalan kaki (daripada) naik kendaraan umu

12) Yang

Contoh penggunaan kalimatnya sebagai berikut.

Di kebun agrowisata ditanam pohon buah-buahan yang banyak

jenisnya.

Pada kalimat-kalimat yang berkonjungsi subordinatif, kedudukan

klausanya tidak sama. Klausa yang satu merupakan bagian dari klausa

lainnya. Dalam kalimat, klausa inti menjadi induk kalimat, sedangkan

klausa bawahannya menjadi anak kalimat.


15

Konjungsi subordinatif akan membentuk kalimat majemuk

subordinatif atau kalimat majemuk bertingkat. Dalam kalimat,

konjungsi subordinatif dapat diletakkan di awal kalimat atau diantara

klausa yang dihubungkannya. Letak konjungsi subordinatif dapat

digunakan menentukan klausa induk kalimatdan anak kalimat dalam

kalimat yang bersangkutan. Anak kalimat dalam kalimat majemuk

subordinatif mengikuti konjungsinya. Jika konjungsinya terletak

diantara klausa yang dihubungkan, berarti anak kalimatnya adalah

setelah konjungsi. Klausa yang terletak sebelum konjungsinya adalah

induk kalimat. Konjungsi dalam kalimat subordinatif kadang-kadang

terletak di awal kalimat. Jika itu yang terjadi, berarti anak kalimatnya

adalah kalusa yang terletak setelah konjungsinya.

Perhatikanlah contoh berikut.

a) Baju itu direndam agar kotorannya mudah hilang

Induk kalimat: baju itu mudah direndam

Anak kalimat: kotorannya mudah hilang

Konjungsi dalam kalimat: agar

b) Meskipun harganya murah, barang ini berkualitas

Induk kalimat: barang ini berkualitas


16

Anak kalimat: harganya murah

Konjungsi dalam kalimat: meskipun

Dari kedua contoh tersebut, terbukti bahwa letak anak kalimat

selalu mengikuti konjungsinya. Ada aturan penulisan yang harus

ditaati dalam menuliskan kalimat majemuk subordinatif. Jika

konjungsi terletak diantara klausa, sebelum konjungsi tidak perlu

dituliskan koma (,). Apabila anak kalimatnya terletak sebelum

induk kalimat, setelah anak kalimat diberi +anda koma (,).

Unsur dalam kalimat majemuk ada yang bisa dilesapkan.

Maksudnya, jika ada dua unsur yang sama, misalnya subjeknya

sama, subjek cukup ditulis satu kali. Aturan itu berlaku juga untuk

fungsi-fungsi lain dalam kalimat majemuk.

c. Konjungsi Korelatif

Dalam kalimat, konjungsi korelatif berfungsi untuk menghubungkan dua

kata, dua frasa, atau dua klausa. Bagian-bagian yang dihubungkan tersebut

mempunyai status sintatik sama. Konjungsi korelatif meliputi baik…

maupun, tidak hanya…, tetapi…juga, demikian (rupa)…, sehingga, apa…

atau,apakah…atau…,entah…entah…,jangankan…pun,semakin…

semakin,kian… kian, serta bertambah…bertambah.


17

Kalimat-kalimat berikut merupakan penggunaan konjungsi korelatif.

1) Baik siswa kelas VII maupun kelas VIII melakukan gotong royong

membersihkan lingkungan sekolah.

Frasa yang dihubungkan: siswa kelas VII dan kelas VIII.

2) Yang datang ke acara itu tidak hanya kaum muda, tetapi kaum tua juga

ada.

Frasa yang dihubungkan dalam kalimat tersebut adalah : kaum muda

dan kaum tua.

3) Ruangan itu ditata sedemikian rupa rapinya sehingga ruangan itu

tampak lebar.

Konjungsi korelatif dalam kalimat tersebut menghubungkan rapinya

dan ruangan itu tampak lebar.

4) Apakah rumah dijalan merak atau di jalan cendrawasih yang akan

direnovasi, kami belum tahu.

Konjungsi korelatif dalam kalimat tersebut menghubungkan klausa

rumah dijalan merak dan klausa rumah dijalan cendrawasih.

5) Aku tidak tahu entah dibeli entah tidak, bukan aku yang menentukan.

Kata yang dihubungkan oleh konjungsi korelatif pada kalimat tersebut

adalah dibeli dan tidak.

6) Jangankan rumah mewah, rumah gubukpun aku tak punya.


18

Frasa yang dihubungkan oleh konjungsi korelatif adalah rumah

mewah dan rumah gubuk.

7) Mereka sangat kagum semakin lama Rama semakin menampakkan

kepandaiannya dalam memimpin perusahaan.

Konjungsi korelatif itu menghubungkan lama Rama dan

menampakkan kepandaiannya dalam memimpin perusahaan.

8) Kian mendekati rumah, kian tampaklah kesibukan disekitar rumah.

Klausa yang dihubungkan dengan konjungsi korelatif adalah

mendekati rumah dan tampaklah kesibukan disekitar rumah.

9) Bertambah malam bertambah banyak orang yang melihat pagelaran

wayang kulit.

Konjungsi korelatif dalam kalimat tersebut menghubungkan malam

dan bertambah banyak orang yang melihat pagelaran wayang kulit.

d. Konjungsi Antar Kalimat

Selain ketiga jenis konjungsi tersebut,ada juga konjungsi yang

menghubungkan kalimat dengan kalimat. Seperti halnya konjungsi

subordinatif, konjungsi antar kalimat juga dibedakan menjadi beberapa

kelompok.

1) biarpun begitu, biarpun demikian, sekalipun demikian, sekalipun

begitu, walaupun demikian, walaupun begitu, meskipun demikian, dan

meskipun begitu.
19

Beberapa contoh penggunaanya dalam kalimat seperti berikut.

a) Mereka terus mencoba membujuk kami.Kami tidak akan menuruti

kemauan mereka.

Mereka terus mencoba membujuk kami. Biarpun begitu kami tidak

akan mengikuti kemauan mereka.

b) Hujan turun sangat deras. Pertunjukan itu tidak ditinggalkan

penonton.

Hujan turun sangat deras. Walaupun demikian, pertunjukan itu

tidak ditinggalkan penonton.

2) kemudian, sesudah itu, setelah itu, dan selanjutnya.

Contoh penggunaanya dalam kalimat sebagai berikut.

a) Diana menyanyikan sebuah lagu.Diana mengajak Bu Halimah

bernyanyi bersama.

Diana menyanyikan sebuah lagu. Sesudah itu, Diana mengajak Bu

Halimah bernyanyi bersama.

Selain digunakan sebagai konjungsi antar kalimat, kemudian juga

digunakan sebagai konjungsi koordinatif. Sebagai konjungsi

koordinatif, kemudian dapat saling menggantikan dengan

konjungsi lalu.
20

3) Tambahan pula, lagi pula, dan selain itu.

a) Bulan purnama menerangi malam ini.

Cuaca cerah mendukung suasana malam ini.

Bulan purnama menerangi malam ini. Tambahan pula,

Cuaca cerah mendukung suasana malam ini.

b) Banyak siswa yang nilai ulangannya jeblok.

Kegiatan ekskul pun tidak berjalan dengan baik.

Banyak siswa yang nilai ulangannya jeblok. Selain itu,

Kegiatan ekskulpun tidak berjalan dengan baik.

4) Sebaliknya

Contoh penggunaannya dalam kalimat seperti berikut.

a) Pak Herlambang ingin pergi berumroh

Bu herlambang ingin naik haji.

Pak herlambang ingin pergi berumroh. Sebaliknya, Bu Herlambang

ingin pergi naik haji.

5) Sesungguhnya dan bahwasannya


21

Contoh penggunaannya dalam kalimat seperti berikut.

a) Pembangunan jembatan itu sudah mulai dikerjakan.

Pembangunan jembatan itu sudah lama direncanakan.

Pembangunan jembatan itu sudah mulai dikerjakan.

Sesungguhnya,

Pembangunan jembatan itu sudah mulai dikerjakan.

6) Malah, malahan dan bahkan

Contoh penggunaanya dalam kalimat seperti berikut.

a) Gedung baru itu sudah mulai dipakai.

Gedung itu sudah banyak yang antre untuk menyewanya.

Gedung baru itu sudah mulai dipakai. Malahan

Sudah banyak yang antre untuk menyewanya.

7) Akan tetapi dan namun.

Contoh penggunaannya dalam kalimat seperti berikut.

a) Banyak yang menyaksikan kemampuan Andika dalam

pertandingan catur ini.

Pada kenyataannya Andika berhasil menjadi juara pertama.


22

Banyak yang menyaksikan kemampuan Andika dalam

pertandingan catur ini. Akan tetapi, pada kenyataanya Andika

berhasil menjadi juara pertama.

8) Kecuali itu

Sajian berikut merupakan contoh penggunaanya dalam kalimat.

a) Karena sakitnya, ia berpantang banyak jenis makanan.

Makanannya pun harus ditakar

Karena sakitnya, ia berpantang banyak jenis makanan. Kecuali itu,

makanannya pun harus ditakar

9) dengan demikian

Contoh penggunaan :

a) Jalan ini sudah selesai diperbaiki.

Jalan ini dibuka untuk umum

Jalan ini sudah selesai diperbaiki. Dengan demikian, jalan ini

dibuka untuk umum.

10) Oleh karena itu dan oleh sebab itu

Contoh penggunaanya sebagai berikut

a) Waktu pendaftaran SMA sudah hampir selesai.

Segeralah mendaftarkan diri.


23

Waktu pendaftaran SMA sudah hampir selesai. Oleh karena itu,

segeralah mendaftarkan diri.

11) Sebelum itu

Contoh penggunaanya dalam kalimat seperti berikut.

a) Masukkan adonan ini dalam loyang yang sesuai.

Pastikan adonan ini sudah benar-benar kental.

Masukkan adonan ini dalam loyang yang sesuai. Sebelum itu,

pastikan adonan ini sudah benar –benar kental

a. Konjungsi Antarparagraf

Paragraf dapat digabungkan. Konjungsi yang dapat menggabungkan paragraf

adalah adapun, akan hal, mengenai, dan dalam pada itu.

Paragraf-paragraf berikut merupakan contoh penggunaan keempat konjungsi

tersebut.

1) Bermacam-macam cara digunakan pembuatan uang palsu untuk

mengedarkan uang palsu dalam masyarakat. Salah satu yang dilakukan

adalah dengan menjalankan aksi penipuan. Salah satu modus operasi yang

digunakan adalah penggandaan uang seperti layaknya dukun uang.

Adapun pelaku penipuan berkedok mistis penggandaan uangini

mencari mangsa dengan iming-iming membuat orang kaya seketika

dengan hanyamenyerahkan sejumlah uang. Biasanya pelaku berkedok

sebagai dukun yang dapat mengandakan uang dalam waktu singkat.


24

2) Mencari pekerjaan sekarang ini memang bukan hal yang mudah.

Setiap tahun angka pengangguran pun semakin meningkat. Sebaliknya,

lapangan pekerjaan terasa semakin sempit walaupun dimana-mana

bermunculan usaha-usaha baru.

Akan hal kesulitan mencari kerja ini tidak hanya menimpa para

lulusan sekolah dasar, sekolah menengah, atau anak-anak yang

terpaksa putus sekolah. Akan tetapi, para lulusan perguruan tinggi pun

tidak mudah mencari pekerjaan.

3) Air bisa disebut barang bebas jika berlimpah. Namun, bisa disebut

juga barang ekonomis ketika untuk memperolehnya membutuhkan

pengorbanan atau usaha. Bagi orang yang tinggal di dekat sumber mata

air,pelepas dahaga pada saat haus ini termasuk barang bebas.

Mengenai kelangkaan air bersih sering membuat kita kelabakan

terutama diperkotaan. Saudara-saudara kita di pesisir atau kawasan

lain pun hanya mengandalkan air sungai, danau, atau sumber lainya.

4) Korban tanah longsor semakin bertambah. Tidak hanya

korban luka-luka yang ditemukan. Korban yang meninggalkan pun

ditemukan. Korban yang meninggalkan pun ditemukan di bawah

reruntuhan bangunan. Pemerintahan desa setempat telah mencatat lebih

dari sepuluh orang yang meninggal dalam peristiwa itu.


25

Dalam pada itu Tim SAR gabungan akan lebih

mengkonsentrasikan pencarian korban di renruntuhan masjid.

Karena peristiwa itu terjadi menjelang maghrib, diperkirakan

banyak jamaah yang mendatangi masjid untuk solat maghrib

berjamaah.

Selain keempat konjungsi antarparagraf tersebut, adalagi empat konjungsi

antarparagraf. Konjungsi yang dimaksud adalah alkisah, arkiran, sebermula, dan

syahdan. Saat ini keempat konjungsi tersebut sudah jarang ditemui. Itu karena

keempat konjungsi itu digunakan pada karya sastra lama, tepatnya digunakan dalam

hikayat.

Contoh berikut memperlihatkan penggunanan konjungsi syahdan dan sebermula.

Syahdan tiada berapa lamanya anakanda Raja Indra Dewa ada dalam istananya, maka

ia pun bermohonlah kepada ayahanda bunda pun bertitah kepada segala menteri dan

dan halubalang., “Hai Menteri, kampungkanlah segala rakyat tertera karena anakku

hendak (ber)buru.” Maka menteri pun segeralah mengampunkan sekalian hulu balang

dan rakya jentera pun datanglah berkampung. Esok harinya Raja Indra Dewa hendak

berangkat masuk ke dalam hutan. (Hikayat Indra Dewa)

Itulah uraian tentang pembagian paragraf berdasarkan fungsinya. Jika digolongkan

lagi, konjungsi kordinatif dan konjungsi subordinatif merupakan konjungsi


26

intrakalimat. Konjungsi yang menggabungkan unsur-unsur atau bagian-bagian

kalimat.

Yang unik dari setiap kelompok konjungsi adalah konjungsi korelatif. Dalam

fungsinya itu konjungsi koreatif akan membentuk frasa, klusa, atau kalimat dari

bagian-bagian yang dihubungkannya. Baik kata, frasa, atau klausa biasanya

mempunyai kedudukan yang sam atau setara. Ada yang membentuk kalimat

majemuk subordinatif.

Selain menurut fungsinya, konjungsi juga dibedakan menurut makna yang

ditimbulkannya. Makna konjungsi ini terlihat saat konjungsi yang bersangkutan

digunakan dalam kalimat.

3. Makna Konjungsi

a. Menyatakan makna ‘penambahan’ atau ‘penjumlahan’

Makna ‘penambahan’ ini ditandai dengan penggunaan konjungsi dan,lagi

pula, dan serta dalam kalimat (Rastuti,2018 : 35—46).

Contoh :

1) Dani membeli baju dan Rika membeli sepatu.

Yang ditambahkan atau dijumlahkan adalah klausa.

Dani membeli baju dan Rika membeli sepatu

2) Makanan ini tidak enak lagi pula sudah basi.

Yang ditambahkan dalam kalimat tersebut adalah

Klausa makanan ini tidak enak dan sudah basi.


27

3) Orang tua serta anak-anaknya diundang pada pesta itu.

Yang ditambahkan dalam kalimat tersebut adalah

Orang tua dan anak-anaknya (diundang pada pesta itu).

b. Menyatakan makna ‘pemilihan’

Makna ‘pemilihan’ ditandai dengan penggunaan konjungsi atau.

Contoh:

Mana yang kau pilih, hitam atau putih?

Yang dipilih dalam kalimat tersebut adalah putih dan hitam.

c. Menyatakan makna ‘perlawanan’ atau ‘pertentangan’

Makna ‘perlawanan’ ini ditandai dengan penggunaan konjungsi tetapi.

Contoh :

Adiknya berambut panjang, tetapi kakaknya berambut pendek.

Yang dipertentangkan dalam kalimat tersebut adalah klausa adiknya

berambut panjang dan klausa kakaknya berambut pendek.

d. Menyatakan makna ‘waktu’

Konjungsi yang menandai makna ‘waktu’ ada sebanyak tujuh belas. Dari

sejumlah konjungsi tersebut ada yang penggunaanya sama.

Contoh :

1) Kami pulang sesudah pengacara menutup acara.

Kami pulang setelah pengacara menutup acara.

Kami pulang sehabis pengacara menutup acara.


28

Kami pulang selesai pengacara menutup acara.

Konjungsi sebelum juga digunakan untuk menandai waktu berurutan.

2) Ia berubah menjadi periang sejak masuk pesantren .

Ia berubah menjadi periang sedari masuk pesantren.

Konjungsi sejak dan sedari menandai waktu permulaan.

3) Tangannya memegangi anaknya seraya kakinya berdiri di atas batu

kali.

Tangannya memegangi anaknya sementara kakinya berdiri di atas batu

kali.

Tangannya memegangi anaknya sambil kakinya berdiri di atas batu

kali.

Konjungsi ketika, sewaktu, tatkala, sementara, seraya, sambil, selagi,

dan selama menandai waktu bersamaan. Konjungsi selagi juga

termasuk konjungsi yang menandai waktu bersamaan.

4) Hujan turun sangat deras sehingga jalanan tergenang.

Hujan turun sangat deras sampai jalanan tergenang.

Konjungsi sehingga dan sampai menandai waktu batas akhir.

e. Menyatakan makna ‘syarat’

Konjungsi yang menandai makna ‘syarat’ adalah jika, jikalau, kalau, asal,

asalkan, bila, dan manakala.

Contoh :
29

1) Jika besok Salamah belum pulang, Salman menyusul.

2) Kalau besok Salamah belum pulang, Salman menyusul.

3) Jikalau besok Salamah belum pulang, Salman menyusul.

4) Bila besok Salamah belum pulang, Salman menyusul.

5) Apabila besok Salamah belum pulang, Salman menyusul.

Konjungsi jika, kalau, jikalau, bila, dan apabila dapat saling

menggantikan dalam kalimat.

6) Aku bersedia datang asal kamu menjemputku.

7) Aku bersedia datang asalkan kamu menjemputku.

8) manakala ibu sudah berkata-kata, semua anaknya terdiam

f. Menyatakan makna ‘pengandaian’

Konjungsi yang menandainya adalah andaikan, seandainya, andaikala,

umpanmana, dan sekiranya.

Contoh :

1) Deden akan datang andaikan diizinkan kepala sekolah

2) Deden akan datang seandainya diizinkan kepala sekolah.

3) Deden akan datang andaikata diizinkan kepala sekolah

4) Umpamanya waktunya memungkinkan, kita ke pasar malam.

5) Sekiranya waktunya memungkinkan, kita ke pasar malam.

g. Menyatakan makna ‘konsesif’ atau ‘perlawanan’


30

Konjungsi yang menandai makna ini adalah biarpun, meski, meskipun,

sekalipun, walau, walaupun, sungguhpun, kendati, dan kendati.

Contoh :

1) Biarpun harganya murah, barang ini berkualitas.

2) Meski harganya murah, barang ini berkualitas.

3) Meskipun harganya murah, barang ini berkualitas.

h. Menyatakan makna ‘pemiripan’

Makna’pemiripan’ ini ditandai dengan konjungsi seakan, akan, seolah-

olah, sebagaimana, seperti, sebagai, dan laksana.

Contoh :

1) Dian hanya memerintah seakan-akan dia yang berkuasa.

2) Dian hanya memerintah seolah-olah dia yang berkuasa

i. Menyatakan makna ‘sebab’ atau ‘penyebaban’

Makna ini ditandai dengan penggunaan konjungsi sebab, karena, oleh

sebab, oleh karena, lantaran, berkat, dan akibat.

Contoh :

1) Pak Jafar malu sebab perbuatan anaknya.

2) Pak Jafar malu karena perbuatan anaknya.

3) Pak Jafar malu oleh sebab perbuatan anaknya.

j. Menyatakan makna ‘akibat’ atau ‘pengakibatan’


31

Konjungsi yang menandai makan ‘akibat’ atau ‘pengakibatan’ adalah

hingga, sehingga, sampai, sampai-sampai, maka, dan mankanya.

Contoh :

1) Benturan di kepalanya cukup keras hingga dia tak sadarkan diri.

2) Benturkan di kepalanya cukup keras ssampai dia tak sadarkan diri.

3) Benturkan di kepalaeya cukup keras sampai-sampai dia tak sadarkan

diri.

k. Menyatakan makna ‘penjelasan’

Konjungsi yang menandai makan ini hanya satu, yaitu bahwa.

Contoh :

1) Bu Aminah sudah tau bahwa putranya sedang punya masalah.

l. Menyatakan makna ‘cara’

Sama halnya dengan makna ‘penjelasan’, konjungsi yang menandai

makna ‘cara’ juga hanya satu.Konjungsi tersebut adalah dengan.

Contoh :

Jeni memasak daging itu dengan cara dibakar.

m. Menyatakan makna ‘perbandingan’

Konjungsi yang digunakan untuk menandai perbandingan adalah

daripada.

Contoh :

Kami lebih suka berjalan kaki daripada naik kendaraan umum.


32

n. Menyatakan makna ‘penerang’

Konjungsi yang digunakan untuk menandai makna ‘penerang’ adalah

yang.

Contoh :

Di kebun agrowisata ditanam pohon buah-buahan yang banyak jenisnya.

o. Menyatakan makna ‘kesediaan melakukan sesuatu yang berbeda atau

bertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya’

Konjungsi yang dimaksud adalah biarpun, demikian, biarpun segitu,

sekalipun demikian, sekalipun begitu, sungguhpun demikian, sugguhpun

begitu, walaupun demikian, dan walaupun begitu.

Contoh :

1) Mereka terus mencoba membujuk kami. Biarpun demikian, kami tidak

akan mengikutikemauan mereka.

2) Meerka terus mencoba membujuk kami. Biarpun begitu, kami tidak

akan mengikuti kemauan mereka.

p. Menyatakan makna ‘kelanjutan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat

sebelumnya’

Konjungsi yang menandainya adalah kemudian, sesudah itu, setelah itu,

dan selanjutnya.

Contoh :
33

1) Diana menyanyikan sebuahlagu. Kemudian, Diana mengajak Bu

Halimah bernyanyi bersama.

2) Diana menyanyikan sebuah lagu. Sesudah itu, Diana mengajak Bu

Halimah bernyanyi bersama.

q. Menyatakan makna ‘adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain diluar yang

telah dinyatakan sebelumya’

Konjungsi yang digunakan untuk menandai makna ini adalah tambahan

pula, lagi pula, dan selain itu.

Contoh :

1) Bulan purnama menerangi malam ini. Tambahan pula, cuaca cerah

mendukung suasana mala mini.

r. Menyatakan makna ‘mengacu kebalikan dari yang dinyatakan

sebelumnya’

Konjungsi yang menandai makna ini adalah sebaliknya .

Contoh :

Pak Herlambang ingin pergi berumroh. Sebaliknya, Bu Herlambang ingin

naik haji.

s. Menyatakan makna ‘keadaan yang sebenarnya’

Makna ini ditandai dengan konjungsi sesungguhnya dan bahwasanya.

Contoh :
34

1) Pembangunan jembatan itu sudah mulai dikerjakan. Sesungguhnya,

pembangunan jembatan itu sudah lama direncanakan.

t. Menyatakan makna ‘menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya’

Konjungsi antarkalimat yang menandai makna ini adalah malah, malahan,

dan bahkan.

Contoh :

1) Gendung baru itu sudah mulai dipakai. Malah, sudah banyak yang

antre untuk menyewanya.

u. Menyatakan makna ‘pertentangan dengan yang dinyatakan sebelumnya’

Konjungsi yang menandai makna ini adalah akan tetapi dan namun.

Contoh :

1) Banyak yang menyaksikan kemampuan Andika dalam pertandingan

catur ini. Akan tetapi, pada kenyataannya Andika berhasil menjadi

juara pertama.

v. Menyatakan makna ‘keesklusifan dari hal yang dinyatakan sebelumnya’

Konjungsi yang menandai makna ini adalah kecuali itu.

Contoh :

Karena sakitnya, ia berpantang banyak jenis makanan. Kecuali itu,

makananya pun harus ditakar.

w. Menyatakan makna ‘konsekuensi’

Makna ini ditandai dengan konjungsi dengan demikian.


35

Contoh:

Jalan ini sudah selesai diperbaiki. Dengan demikian, jalan ini dibuka

untuk umum.

x. Menyatakan makna ‘akibat’

Konjungsi yang menandai makna ini adalah oleh sebab itu dan oleh

karena itu.

Contoh :

Waktu pendaftaran masuk SMA sudah hamper selesai. Oleh karena itu,

segeralah mendaftarkan diri.

y. Menyatakan makna ‘kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan

sebelumnya’

Konjungsi yang digunakan untuk menandai makna ini adalah sebelum itu.

Contoh :

Masukkan adonan ini dalam loyang yang sesuai. Sebelum itu, pastikan

adonan sudah benar-benar kental.


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode penelitian

deskriptif. Penelitian tentang status objek penelitian yang berkenaan dengan suatu

fase khusus atau khas dari keseluruhan kejadian ialah metode deskriptif. Dalam

penelitian, studi kasus yang lebih dekat pada model penelitian deskriptif dengan

mekanisme analisa terhadap kesalahan penulisan kata hubung pada majalah Inspirasi.

B. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini ialah majalah Inspirasi SMA

Muhammadiyah 1 Gresik edisi ke-25 volume 13 tahun 2018 yang berisi beberapa

rubrik yaitu mukaddimah pada halaman pertama, fokus pada halaman 4—13, seputar

kita pada halaman 14—22, liputan pada halaman 24—31, inspirasi pada halaman 32

—39, sastra pada halaman 41—46, ragam pada halaman 47—56.

C. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti memperoleh atau mengumpulkan data untuk menjawab rumusan

masalah atau pertanyaan. Teknik pengumpulan data dokumenter merupakan alat

pengumpul data utama pada penelitian kualitatif karena pembuktian hipotesisnya

diajukan secara logis dan rasional.

36
37

Metode dokumentasi merupakan sumber non manusia, sumber ini adalah

sumber yang cukup bermanfaat sebab telah tersedia sehingga akan telatif murah

pengeluaran biaya untuk memperolehnya, merupakan sumber yang stabil dan akurat

sebagai cermin situasi atau kondisi yang sebenarnya serta dapat dianalisis secara

berulang ulang dengan tidak mengalami perubahan.

Dokumen-dokumen yang dipilih untuk dikumpulkan sangat bergantung pada tujuan

penelitian, yaitu yang meliputi antara lain:peta,surat kabar(harian),dokumen hokum,

surat pribadi, dan buku harian (Miller dkk., 2003)


BAB IV

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang penggunaan konjungsi bahasa Indonesia

yang terdapat pada majalah Inspirasi edisi ke -25 volume ke-15 tahun 2018 yang

terdiri dari konjungsi koordinatif, subordinatif, korelatif dan antarkalimat. Pemakaian

keempat konjungi tersebut akan dianalisis berdasarkan data yang sudah

diperolehbdalam majalah Inspirasi tahun 2018.

1. Bentuk konjungsi

a. Konjungsi Koordinatif

1) Konjungsi Koordinatif “dan”

Perkembangan seseorang dalam masa anak-anak dan remaja akan membentuk

perkembangan diri orang tersebut di masa dewasa.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Editorial, terlihat

bahwa kata ‘dan” yang terletak diantara klausa tersebut memliki fungsi

sebagai penanda hubung atau konjungsi koordinatif. Kalimat pada rubrik

fokus editorial terdiri dari dua klausa yang mempunyai status sintaksis yang

sederajat.

2) Konjungsi Koordinatif “serta”

Pada masa remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba, mengikuti trend dan

gaya hidup, serta bersenang-senang besar sekali.

38
39

Berdasarlan kutipan wacana pada rubrik Fokus Editorial, terlihat

bahwa kata “serta” yang terletak setelah tanda baca (,) tersebut menyatakan

makna penambahan atau penjumlahan.

3) Konjungsi Koordinatif “tetapi”

Walaupun semua kecenderungan itu wajar-wajar saja, tetapi hal itu bisa juga

memudahkan remaja untuk terdorong menyalahgunakan narkoba.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubric Fokus Editorial, terlihat

bahwa kata “tetapi” yang terletak diantara dua klausa dan menyatakan makna

perlawanan atau pertentangan. Yang dipertentangkan dalam kalimat tersebut

adalah klausa walaupun semua kecenderungan itu wajar-wajar saja dan

Klausa hal itu bisa juga memudahkan remaja untuk terdorong

menyalahgunakan narkoba.

4) Konjungsi Koordinatif “kalau”

Bagaimana tidak, kalau di negara Indonesia sudah banyak oknum yang

mengedarkan barang haram tersebut.

Bedasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Editorial, terlihat

bahwa kata“kalau” yang terletak setelah tanda baca (,) dan menyatakan

makna syarat.

5) Konjungsi Koordinatif “bahkan”

Bahkan sampai sekarangpun eksploitasi sumber daya alam Indonesia masih

harus dilakukan oleh asing.


40

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Tausyiah, terlihat

bahwa kata “bahkan” yang terletak di awal kalimat dan menyatakan makna

menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya.

6) Konjungsi Koordinatif “lalu”

Bahkan sampai kita bentuk relawan atau pegiat. Lalu yang rehabilitasi kita

obati otomatis, kemudian dari pemberantasan kita tangkapi semua sampai

memutus jaringan.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Wawancara, terlihat

bahwa kata “lalu” yang terletak setelah tanda baca (.). Klausa yang

dihubungkan oleh konjungsi ”lalu” sama dengan klausa pada kalimat

dan menyatakan makna kelanjutan dari peristiwa atau keadaan pada

kalimat sebelumnya.

7) Konjungsi Koordinatif “atau”

Pantai ini akan sangat ramai pada saat akhir pekan atau liburan panjang.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Inspirasi On Road, kata

“atau” menyatakana makna pemilihan. Kalimat tersebut terdiri atas dua

klausa, Pantai ini akan sangat ramai pada saat akhir pekan, Pantai ini akan

sangat ramai pada saat liburan panjang.


41

b. Konjungsi Subordinatif

1) Konjungsi Subordinatif “sehingga”

Keragaman budaya dan kekayaan sumber daya alam Indonesia menjadi daya

tarik tersendiri bagi siapapun yang mengenal Indonesia. Sehingga tidak heran

jika selama hampir 40 tahun menjadi negara jajahan karena ketertarikan

Belanda maupun negara lain untuk menguasai kekayaan alam Indonesia.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Tausyiah, terlihat

bahwa kata “sehingga” yang terletak setelah tanda baca (,) dan menyatakan

makna akibat.

2) Konjungsi Subordinatif “karena”

Mungkin karena kurangnya pemahaman dan sosialisasi, juga disini kan kota

industri.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Opini Guru, klausa

yang membentuk kalimat tersebut, Mungkin (karena) kurangnya pemahaman

dan sosialisasi, juga disini kan kota industri. Dan kalimat tersebut menyatakan

makna sebab atau penyebaban.

3) Konjungsi Subordinatif “seperti”

Tentu generasi-generasi ini harus disiapkan oleh lingkungan yang ideal dan

potensial seperti lingkungan keluarga yang baik, lingkungan pendidikan yang

unggul, dan lingkungan masyarakat yang ramah terhadap perkembangan

generasi-generasi ini.
42

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Tausyiah, kata

“seperti” bermakna pemiripan atau contoh dan bersifat tidak setara. Klausa

yang membentuk kalimat tersebut, Tentu generasi-generasi ini harus disiapkan

oleh lingkungan yang ideal dan potensial (seperti) lingkungan keluarga yang

baik, lingkungan pendidikan yang unggul, dan lingkungan masyarakat yang

ramah terhadap perkembangan generasi-generasi ini.

4) Konjungsi Subordinatif “setelah”

Setelah dibawa ke rumah sakit ketahuan, besoknya orangtuanya dipanggil ke

sekolah.

Berdasarkan kutipan wacana pada Fokus Wawancara, kata “setelah”

menyatakan makna waktu pada klausa yang dibentuk. Klausa yang

membentuk kalimat tersebut, (Setelah) dibawa ke rumah sakit ketahuan,

besoknya orang tua dipanggil ke sekolah.

5) Konjungsi Subordinatif “supaya”

Dan Letto pun memberikan pernyataan bagi anak muda generasi saat ini agar

pandai –pandai memilih sesuatu yang baik supaya terhindar dari narkoba.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Figur, terlihat bahwa

kata “supaya” berada diantara dua klausa. Klausa yang membentuk kalimat

tersebut, Dan Letto pun memberikan pernytaaan bagi anak muda generasi saat

ini agar pandai-pandai memilih sesuatu yang baik (supaya) terhindar dari

narkoba. Kata “supaya” menyatakan makna tujuan atau harapan dari klausa

tersebut.
43

6) Konjungsi Subordinatif “bahwa”

Pertanda bahwa malam sudah menggantikan cerahnya senja.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Liputan Inspirasi On Road,

klausa yang menyusun kalimat tersebut, Pertanda (bahwa) malam sudah

menggantikan cerahnya saja. Kata “bahwa” menyatakan makna penjelasan

pada kalimat tersebut.

7) Konjungsi Subordinatif “seandainya”

Seandainya di dalam sidang hakim melihat rekomendasi assesmen tadi, ia

bisa memutuskan pengguna itu di rehabilitasi.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Wawancara, kata

“seandainya” menyatakan makna pengandaian kalimat tersebut. Klausa yang

membentuk kalimat tersebut, (Seandainya) di dalam siding hakim melihat

rekomendasi assesmen tadi, ia bisa memutuskan pengguna itu di rehabilitasi.

8) Konjungsi Subordinatif “Kalau”

Pohon itu bisa tinggi kalau akarnya menunjang.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Figure, kata “kalau”

berada diantara dua klausa. Klausa yang membentuk kalimat tersebut, Pohon

itu bisa tinggi (kalau) akarnya menunjang. Kata “Kalau” menyatakan makna

syarat pada kalimat tersebut.

9) Konjungsi Subordinatif “dengan”

Apalagi ikan itu ditaburi dengan sambal khas bawean.


44

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Inspirasi Budaya Lokal, kata

“dengan” menyatakan makna cara atau penjelasan. Klausa yang membentuk

kalimmat tersebut, Apalagi ikan itu ditaburi (dengan) sambal khas bawean.

10) Konjungsi Subordinatif “yang”

Sekekinian apapun tren fashion yang berkembang, celana jeans akan selalu

berjaya.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Ragam Fashion, kata “yang”

menyatakan makna penerang dalam kalimat tersebut.

11) Konjungsi Subordinatif “agar”

Khusus untuk warga SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Noe berpesan agar

memperkuat pondasi keagamaan.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Figure, kata “agar”

menyatakan makna tujuan atau harapan pada kalimat tersebut. Induk kalimat

dalam kalimat tersebut, Memperkuat pondasi. Anak kalimat dalam kalimat

tersebut, Khusus untuk warga SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Noe berpesan.

12) Konjungsi Subordinatif “jika”

Jangan takut kehilangan teman jika ia cenderung mengajak anda untuk

melakukan hal tak terpuji termasuk menyalahgunakan narkoba.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Tips, kata “jika”

menyatakan makna syarat dalam kalimat tersebut. Klausa dalam kalimat

tersebut, Jangan takut kehilangan teman (jika) ia cenderung mengajak anda

untuk melakukan hal tak terpuji termasuk menyalahgunakan narkoba.


45

13) Konjungsi Subordinatif “selagi”

Tapi saya meminta ijin kembali ke rumah dinas pendeta selagi mereka

menyelesaikan ibadahnnya.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Inspirasi Alumni, kata

“selagi” menyatakan makna waktu dalam kalimat tersebut. Kalimat tersebut

terdiri atas dua klausa berikut, Tapi saya meminta ijin kembali ke rumah dinas

pendeta (selagi) mereka menyelesaikan ibadahnya.

14) Konjungsi Subordinatif “selama”

Disana dia belajar soal-soal yang akan diujikan Kemenag sambal sedikit-

sedikit belajar Bahasa arab karena ridak mungkin belajar Bahasa arab penuh

selama 6 bulan.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Inspirasi Alumni, kata

“selama” menyatakan makna waktu dalam kalimat tersebut. Klausa dalam

kalimat tersebut, Disana dia belajar soal-soal yang akan diujikan Kemenag

sambal sedikit-sedikit belajar Bahasa arab karena ridak mungkin belajar

Bahasa arab penuh (selama) 6 bulan.

15) Konjungsi Subordinatif “walalupun”

Walaupun kadang-kadang belulm mengerti ngomong apa aja, wajar pertama-

pertama masih adaptasi Bahasa.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Inspirasi Alumni, terlihat

bahwa kata “walaupun” terdapat pada awal kalimat dan menyatakan makna

perlawanan.
46

c. Konjungsi Korelatif

1) Konjungsi Korelatif “baik….maupun”

Jadi disini kita dapat menyimpulkan bahwa seorang public figure tidak

selamanya kita jadikan sebagai tokoh masyarakat karena mereka juga manusia

yang kadang punya rasa keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru untuk

dirinya baik itu positif maupun negatif.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Figur, frasa yang

dihubungkan dalam kalimat tersebut, positif dan negatif. Kalimat tersebut

terdiri dari dua klausa yang mempunyai status sintaksis yang setara atau

sederajat.

2) Konjungsi Korelatif “Tidak hanya…”

Tidak hanya mengembangkan diri sendiri, beliau juga sering membimbing

siswa-siswi dalam lomba penelitian sejarah.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Seputar Kita, frasa yang

dihubungkan pada kalimat tersebut, mengembangkan diri dan membimbing

siswa-siswi dalam lomba penelitian sejarah.

d. Konjungsi Antarkalimat

1) Konjungsi Antarkalimat “sebaliknya”

Jika anda bergaul dengan teman-teman yang memiliki perilaku positif maka

anda akan terbawa untuk berfikir dan bersifat positif pula.. Sebaliknya, jika
47

anda bergaul dengan teman-teman yang berperilaku negatif maka anda akan

mudah terbawa untuk berfikir dan berperilaku negatif.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Tips, frasa yang

menghubungkan dalam kalimat tersebut, teman-teman yang memiliki perilaku

positif maka anda akan terbawa untuk berfikir dan teman-teman yang

berperilaku negatif makan anda akan mudah terbawa untuk berfikir dan

berperilaku negatif.

2) Konjungsi Korelatif “selain itu”

Ketika penulis diundang oleh dinas kesehatan kabupaten 2—3 hari itu

bersama beberapa guru disana kami mendapat ilmu tentang penanganan kasus

narkoba. Selain itu, juga saat penulis berada di PD ‘Aisyiyah karena pas

masjis yang penulis jadi ketua PD ‘Aisyiyah juga berurusan dengan hal itu.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Opini Guru, frasa

yang menghubungkan dalam kalimat tersebut, penulis dan guru disana kami

mendapat ilmu tentang penanganan kasus narkoba dan ketua PD ‘Aisyiyah

juga berurusan dengan hal itu.

3) Konjungsi Antarkalimat “setelah itu”

Disana dia belajar soal-soal yang akan diujikan Kemenag sambil sedikit-

sedikit belajar Bahasa arab karena tidak mungkin belajar Bahasa arab penuh

selama 6 bulan. Setelah itu dia mengikuti tes tulis dan lisan.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Inspirasi Alumni, terlihat

bahwa kata “setelah itu” terdapat pada awal kalimat.. Klausa yang
48

membentuk kalimat tersebut, Disana dia belajar soal-soal yang akan diujikan

Kemenag sambil sedikit-sedikit belajar Bahasa arab karena tidak mungkin

belajar Bahasa arab penuh selama 6 bulan. (Setelah itu) dia mengikuti tes tulis

dan lisan.

4) Konjungsi Antarkalimat “Oleh karena itu”

Anda tidak akan pernah menjadi pecandu narkoba jika anda tidak pernah

mencoba. Oleh karena itu jangan pernah mencoba menggunakan narkoba.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik Fokus Tips, kata “oleh

karena itu…” menyatakan makna akibat dalam kalimat tersebut.

5) Konjungsi Antarkalimat “Namun”

Mulai dari situlah olahraga skateboarding dimainkan, dan papan pertama yang

dibuat hampir mirip dengan papan surfing, namun berbeda ukurannya yang

lebih kecil dan diberi ban roller skate.

Berdasarkan kutipan wacana pada rubrik ragam sport, terlihat bahwa

kata “namun” digunakan untuk menghubungkan kalimat dengan kalimat dan

menyatakan makna kata “namun” pertentangan dengan yang dinyatakan

sebelumnya
49

2. Kesalahan penulisan konjungsi

a. Konjungsi Koordinatif “tetapi”

Dulu ada satu korban, nah sebelumnya kami tidak mengetahui masalah

tersebut tapi setelah kami cari tahu dan koreksi kami akhirnya tahu bahwa

orang itu benar-benar korban narkoba.

Kata “tapi” bukan termasuk salah satu jenis-jenis konjungsi, makna dari kata

“tapi” yaitu perlawanan. Dalam konjungsi koordinatif terdapat kata “tetapi”

yang memiliki makna yang sama yaitu perlawanan. Kata ‘tapi’ dapat diubah

dengan kata ‘tetapi’. Pembenaran sebagai berikut :

Dulu ada satu korban, nah sebelumnya kami tidak mengetahui masalah

tersebut tetapi setelah kami cari tahu dan koreksi kami akhirnya tahu bahwa

orang itu benar-benar korban narkoba.

b. Konjungsi Subordinatif “hingga”

Maka dari itu banyak pertukaran budaya dari Indonesia maupun ke

manca negara dan itupun tidak selamanya berpengaruh positif kecuali mereka

yang benar-benar mempunyai kekuatan moral dan iman.

Kata “maupun” bukan termasuk salah satu jenis-jenis konjungsi, makna dari

kata “hingga” dan kata “maupun” memiliki makna yang sama. Kata
50

“itupun” bukan termasuk salah satu jenis-jenis konjungsi juga yang dapat

diganti hanya dengan kata “itu”. Pembenaran sebagai berikut :

Maka dari itu banyak pertukaran budaya dari Indonesia hingga ke

manca negara dan itu tidak selamanya berpengaruh positif kecuali mereka

yang benar-benar mempunyai kekuatan moral dan iman.

c. Konjungsi Antarkalimat “meskipun begitu”

Meski begitu, AI dikhawatirkan mudah disalahgunakan oleh peretas.

Kata “Meski begitu” bukan termasuk salah satu jenis-jenis konjungsi.

Kata “meski begitu” dan kata “Meskipun begitu” penggunaannya sama.

Pembenaran sebagai berikut :

Meskipun begitu, AI dikhawatirkan mudah disalahgunakan oleh peretas.


BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis penggunaan konjungsi bahasa Indonesia pada majalah

Inspirasi edisi ke-25 volume ke-15 tahun 2018 terdapat beberapa data tentang

konjungsi pada majalah Inspirasi yang meliputi konjungsi koordinatif,

subordinatif, korelatif dan antarkalimat. Adapun data keseluruhan berjumlah

364 data, yang terdiri dari: 1) Konjungsi Koordinatif berjumlah

B. Saran

51
52
DAFTAR PUSTAKA

Haryanto,A.T.(2012).Kamus sastra Indonesia dan kebahasaan.Surakarta:PT.Aksarra


Sinergi Media
Susanto,L.(2013).Kiat jitu menulis skripsi,tesis,dan disertasi.Jakarta:Erlangga
Musfah,J.(2016).Tips menulis karya ilmiah:Makalah,penelitian,skripsi,tesis dan
disertasi.Jakarta:Prenamedia Group
Hanurawan,F.(2016).Metode penelitian kualitatif untuk ilmu
psikologi.Jakarta:Rajawali Pers
Rastuti,H.P.(2018).Preposisi & konjungsi.Klaten : Intan Pariwara

53