Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

ETIKA PERSAINGAN ANTAR BANK

Disusun Oleh:

Nama : Muhammad Nur Fadli


NIM : 1930603195
Kelas : S1 Perbankan Syariah 6
Dosen Pengampu : Ibu Melis, S.E., M.E.Sy,

PRODI PERBANKAN SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH

PALEMBANG

2019/2020
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Persaingan perbankan pada saat ini sudah sangat ketat. Pentingnya faktor pelayanan
memang tidak dapat di hindari oleh bank, karena bisnis perbankan merupakan bisnis layanan
(service). Bank-bank yang memberikan layanan lebik baik yang di berikan kepada para
nasabah, dan ketidakpuasan nasabah akan mudah sekali membuat para nasabah tersebut
pindah ke bank lain. Untuk itu Kondisi persaingan mengharuskan manajemen bank untuk
selalu peka terhadap perubahan dan perkembangan lingkungan yang terjadi serta melakukan
perbaikan secara terus-menerus atas kinerja dalam memberikan jasa pelayanan yang
memuaskan kepada para nasabah dan pelanggan. Saat ini kualitas dipandang sebagai salah
satu hal penting dalam peusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif dengan perusahaan
pesaing. Kualitas merupakan penentu dalam pemilihan produk atau jasa bagi konsumen.

Kualitas produk atau jasa secara pokok dinilai dalam kerangka kepuasan pelanggan.
Hal ini searah dengan upaya perusahaan dalam memenangkan persaingan, bahwa kunci
persaingan dalam pasar global adalah kualitas total, yang mencakup penekanan pada kualitas
produk, kualitas layanan, dan bentuk-bentuk kualitas lainnya yang terus berkembang, guna
memberikan kepuasan terus-menerus kepada pelanggan, sehingga mampu menciptakan
loyalitas pelanggan. Pentingnya meningkatkan kualitas layanan adalah untuk menciptakan
kepuasan nasabah dengan menjadikan nasabah sebagai focus utamanya. kepuasan nasabah
kini menjadi hal yang penting dan genting bagi perusahaan Perbankan.
PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika

Pengertian Etika dalam Ajaran Islam Etika dalam Islam tergolong kedalam nilai
dasar akhlak yang menjadi kesatuan atau menyatu dengan nilai dasar Islam lainnya, yakni
aqidah dan syariah.Adapun akhlak mencakup pengertian etika, moral dan etika dalam
perspektif Islam.Akhlak bersifat universal sebagaimana etika tetapi juga sekaligus partikular
karena memiliki partikularitas keagamaan.
Ada beberapa para ahli yang mengungkapkan pengertian etika. Diantaranya:
1. James J. Spillane SJ
Etika ialah mempertimbangkan atau memperhatikan tingkah laku manusia dalam
mengambi suatu keputusan yang berkaitan dengan moral. Etika lebih mengarah pada
penggunaan akal budi manusia dengan objektivitas untuk menentukan benar atau
salahnya serta tingkah laku seseorang kepada orang lain.
2. Drs. H. Burhanudin Salam
Mengungkapkan bahwa etika ialah suatu cabang ilmu filsafat yang berbicara tentang
nilai -nilai dan norma yang dapat menentukan perilaku manusia dalam kehidupannya.
3. A. Mustafa
Mengungkapkan etika sebagai ilmu yang menyelidiki terhadap perilaku mana yang
baik dan yang buruk dan juga dengan memperhatikan perbuatan manusia sejauh apa
yang telah diketahui oleh akal pikiran.1

B. Etika dalam Perbankan

Perkataan etika atau etik berasal dari bahasa latin yaitu ethica. Ethosdalam bahasa
Yunani berarti norma, nilai kaidah, ukuran bgi tingkah laku yang baik. Secara umum dapat
dikataka bahwa, etika merupakan dasar moral, termasukilmu mengenai kebaikan dan sifat-
sifat tentang hak. Atau dengan kata lain, etika berisi tuntunan tentang perilaku, sikap dan
tindakan yang diakui, sehubungandengan suatu jenis kegiatan manusia. Dengan etika, orang
akan mampu untuk bersikap kritis dan rasionaldalam membentuk pendapatnya sendiri dan
bertindak sesuai dengan apa yangdapat dipertanggungjawabkan sendiri. Etika juga dapat
membantu manusiamembedakan antara tingkah laku atau tindakan yang baik dan yang buruk.

1 Adiwarman, 2019 “Analisis Fiqih dan Keuanagan”


(http://etheses.iainkediri.ac.id/74/3/8.BAB%20II.pdf, di akses pada 6 mei2020)
Tujuan pokok mengenai etika adalah mempengaruhi dan mendorong kehendak kitasupaya
mengarah kepada yang berfaedah dan berguna bagi sesame manusia.

Tujuan pokok mengenal etika adalah mempengaruhi dan mendorong kehendak kita
supaya mengarah kepada yang bermanfaat dan berguna bagi manusia. Dengan etika, orang
akan mampu untuk bersikap kritis dan rasional dalam membentuk pendapatnya sendiri dan
bertindak sesuai dengan apa yang dapat dipertanggungjawabkan sendiri. Etika juga dapat
membantu manusia membedakan antara tingkah laku atau tindakan yang baik dan yang
buruk. Dalam hal inilah terletak kebebasan manusia untuk mengakui norma-norma yang
diyakini sendiri sebagai kewajibannya.

Berbicara mengenai etika dalam bisnis dapat disebabkan oleh pertama, adanya pihak-
pihak yang dirugikan oleh karena pihak lain. Kedua, para pengamat melihat bahwa
perkembangan bisnis atau di perbankan yang ada sekarang ini cenderung akan berakibat
buruk dan menjadi hal yang tidak diinginkan. Etika dalam bisnis dan perbankan ini terkait
dengan moralitas, perbuatan moral yang diartikan sebagai perbuatan baik dan perbuatan
buruk dalam kegiatan bisnis/perbankan. Dalam hubungan itu etika menyentuh aspek individu
dan peraturan sosial, dimana hubungan antar manusia ini sangat peka karena sering
dipengaruhi oleh emosi yang kadangkala kurang rasional. Dalam hubungan itulah timbul
peraturan-peraturan yang kita sebut dengan norma atau kaidah yang dapat menumbuhkan
adanya suatu jaringan peraturan-peraturan, norma atau kaidah yang sangat erat bahkan saling
berhubungan satu dengan yang lainnya.2

C. Persaingan Perbankan

Sepanjang tahun 2011, 10 bank terbesar tetap agresif, baik dalam mengembangkan
aset maupun mencapai profit. Perkembangan aset di masing-masing bank mencapai lebih dari
10 persen. Bahkan, Bank Permata mencapai 31 persen. Tak hanya itu, perkembangan bank
syariah pun mencengangkan. Boleh dibilang, pertumbuhan aset 36 persen membuat aset total
perbankan syaraih sekarang ini setara dengan bank keenam terbesar. “Dalam persaingan ini,
peranan brand awareness dalam persaingan lending antarperbankan masih kuat,” kata Taufik,
Chief Business Officer MarkPlus, MarkPlus Monthly Industry Update bertajuk “Banking
Competition in The Era of Investment Grade II” yang digelar di Philip Kotler Hall.

2Kartajaya, 2016 “Syariah Marketing”


(https://www.academia.edu/11621369/ANALISIS_INDUSTRI_DAN_PERSAINGAN_DALAM_DUNIA_PER
BANKAN di akses pada 6 Mei 2020)
Sebenarnya, persaingan perbankan di Indonesia lebih kompleks dibanding dengan
negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Kedepannya, persaingannya tidak hanya persaingan
antarbank, tapi persaingan antarlembaga keuangan yang tentunya masih melibatkan
perbankan. Peta perbankan di Indonesia digambarkan dengan empat kluster. Kluster pertama
adalah bank-bank dengan aset di atas Rp 200 triliun. Kluster kedua, bank-bank dengan aset
dari Rp 100 triliun sampai Rp 200 triliun. Kluster ketiga, bank-bank beraset Rp 50 triliun
sampai Rp 100 triliun. Kluster keempat, bank-bank dengan aset di bawah Rp 50 triliun.
“Masing-masing kluster memiliki tingkat kompleksitas persaingan yang berbeda. Sehingga
masing-masing kluster memiliki dinamika pasar yang berbeda,” kata Taufik.

Persaingan di kluster pertama akan diwarnai dengan persaingan merebut pangsa pasar
yang mana pemimpin pasar akan berupaya kuat mempertahankan posisinya. Layanannya pun
lebih luas, menjangkau sekuritas, reksa dana, maupun asuransi. Bank-bank di sini ingin
mengembangkan diri sebagai “supermarket” keuangan. Sementara, di kluster kedua,
persaingannya lebih kompleks. Posisi tanggungnya membuat bank-bank di posisi ini bersaing
dengan bank di kelasnya sekaligus dengan bank-bank di atasnya. Kunci sukses memenangkan
persaingan kluster ini adalah transformasi layanan yang menjadikan layanannya bersifat
menyeluruh. Kluster ketiga merupakan kluster menengah kecil yang mana pemainnya
memiliki sumber daya yang lebih terbatas. Persaingannya akan lebih khusus dengan
mengusung keunggulan kompetitifnya dan layanan lengkap bagi pelanggan di klusternya.
Kunci sukses memenangi persaingan tak lain adalah strategi selektif memilih pasar yang
dituju. Kluster keempat memiliki persaingan unik karena pasar yang tersedia lebih terbatas
sehingga untuk bertahan, para pemain berupaya mengembangkan dan memperluas jaringan di
sektor mikro. Biasanya, pemain di sektor ini akan mengalami kendala dalam investasi dan
perluasan jaringan. Sindikasi bisa menjadi salah satu cara untuk sukses di sektor ini.

Persaingan diantara Bank Syariah yang telah ada, beberapa penentu persaingan
perusahaan yang telah ada (dalam hal ini bank syariah) : jumlah pesaing, tingkat
pertumbuhan industri, karakteristik barang dan jasa (produk), dan keragaman pesaing. Dalam
hal ini akan digunakan sampel atau contoh perbandingan mengenai Bank Syariah Mandiri
dengan Bank Syariah Muamalat.
D. Etika Persaingan Dalam Islam

Pada dasarnya tetap memiliki prinsip kebebasan dalam melakukan kegiatan


muamalah (perekonomian) termasuk didalamnya kegiatan persaingan. Dalam persaingan
dibutuhkan etika atau norma-norma yang berlaku, sehingga persaingan yang terjadi sesuai
dengan syariat islam. Islam sebagai salah satu aturan hidup yang khas, telah memberikan
aturan-aturan yang jelas dan rinci tentang hukum dan etika persaingan, serta telah disesuaikan
dengan ajaran-ajaran Islam. Hal itu dimaksudkan dengan tujuan untuk menghindari adanya
persaingan-persaingan yang tidak sehat. Paling tidak ada tiga unsur yang perlu untuk
dicermati dalam membahas persaingan bisnis menurut Islam yaitu: pertama, pihak-pihak
yang bersaing, kedua, cara persaingan, dan ketiga, produk barang atau jasa yang
dipersaingkan. Ketiga hal tersebut merupakan unsur terpenting yang harus mendapatkan
perhatian terkait dengan masalah persaingan dalam perspektif Islam.

1. Pihak-pihak yang Bersaing

Dalam hal kerja, Islam memerintahkan setiap muslim untuk memiliki etos
kerja yang tinggi, sebagaimana telah memerintahkan umatnya untuk berlomba-
lomba dalam kebaikan. Dengan landasan ini, persaingan tidak lagi diartikan sebagai
usaha mematikan pesaing lainnya, tetapi dilakukan untuk memberikan sesuatu yang
terbaik dari usaha nya. Tak salah kiranya jika dalam Islam senantiasa mengajarkan
kepada umatnya untuk memiliki etos kerja yang tinggi, dan itu harus dibuktikan
dengan cara berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga jika setiap pebisnis mau
memegang prinsip itu, maka besar kemungkinan bahwa kompetisi yang ada bukanlah
persaingan untuk mematikan yang lain. tetapi lebih ditekankan sebagai upaya untuk
bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain dengan usaha yang ia kelola.

2. Cara Persaingan

Kaitannya dengan cara berbisnis yang islami, negara harus mampu menjamin
terciptanya sistem yang kondusif dalam persaingan. Pemerintah tidak diberkenan
memberikan fasilitas khusus kepada seseorang atau sekelompok bisnis tertentu
semisal tentang teknologi, informasi pasar, pasokan bahan baku, hak monopoli, atau
penghapusan pajak. Hal yang demikian tak ubahnya sebagai ptaktik kolusi, dan hal itu
sangat dibenci dalam Islam. Maka dari itu pemberian fasilitas, kenyamanan,
keamanan dalam berbisnis harus diberikan sama dan rata oleh pemerintah kepada
siapapun yang menjalankan bisnis, dan yang lebih penting harus benar-benar
disesuaikan dengan aturan syari’ah.

3. Melakukan persaingan yang sehat

Baik itu dalam bentuk tidak diperbolehkan menawar barang yang sedang
ditawar oleh orang lain, tidak diperbolehkan membeli barang pedagang yang dari
kampung yang belum tahu harga pasar, Tidak diperbolehkan pura-pura menawar
barang dengan harga tinggi untuk mengelabui pembeli yang lain Selain itu juga,
berbeda dengan sistem kapitalisme dan komunisme yang melarang terjadinya
monopoli, di dalam ajaran Islam siapapun boleh berbisnis tanpa peduli apakah dia
satu-satunya penjual atau pembeli, asalkan dia tidak melakukan ikhtikar, yaitu
mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara menjual lebih sedikit
barang untuk harga yang lebih tinggi atau dalam istilah ekonominya monopoly’s rent.

4. Kejujuran

Sebagaian dari makna kejujuran adalah seorang pengusaha senantiasa terbuka


dan transparan dalam jual belinya. Dan dengan bersikap jujur bisnis menjadi
berkembang, karena itu jujur menjadi daya dorong yang sangat kuat bagi plaku bisnis
untuk meraih kesuksesan dan keuntungan. Banyak sekali orang yang berhasil dalam
dunia bisnis karena sifat jujur yang mereka miliki. Secara syariat, bahkan dalam
ajaran agama apapu selalu menganjurkan kejujuran dan melarang kebohongan. Jadi
denga jujur berarti pula kita sudah patuh kepada agama yang kita yakini dengan ridho
Allah SWT. Kejujuran Insya Allah mendatangkan nikmat dan keuntungan besar
dalam bisnis yang diselenggarakan.

E. Dampak Adanya Persaingan

Munculnya pesaing dalam suatu pemasaran umumnya dapat menyebabkan penurunan


volume penjualan pada perusahaan, ini disebabkan karena konsumen mempunyai pilihan
yang lebih banyak, baik dalam kualitas produk dan harga. Namun demikian bila pihak
perusahaan dapat mengembangkan suatu kebijaksanaan pemasaran yang tepat, persaingan
tidak banyak membawa pengaruh terhadap volume penjualan. Berbicara tentang persaingan
usaha tentunya perlu mengetahui pengertian persaingan itu sendiri. Persaingan dari kata dasar
“saing” yang berarti berlomba atau (mengatasi, dahulu mendahului), dengan kata lain yakni
usaha untuk memperhatikan keunggulan masing-masing yang dilakukan perseorangan atau
badan hukum dalam bidang perdagangan, produksi, pertahanan dan sebagainya.

Persaingan merupakan yang merujuk kepada kata sifat siap bersaing dalam kondisi
nyata dari setiap hal atau aktifitas yang dijalani. Ketika kita bersikap kompetitif maka berarti
kita memiliki sikap siap serta berani bersaing dengan orang lain. Dalam arti yang positif dan
optimis, kompetisi bisa diarahkan pada kesiapan dan kemampuan untuk mencapai kemajuan
dan kesejahteraan kita sebagai umat manusia. Kompetisi seperti ini merupakan motivasi diri
sekaligus faktor penggali dan pengembang potensi diri dalam menghadapi bentuk-bentuk
kompetisi, sehingga kompetisi tidak semata-mata diarahkan untuk. mendapatkan kemenangan
dan mengalahkan lawan. Dengan memaknai kompetisi yang seperti itu, kita menganggap
kompetitor lain sebagai patner (bukan lawan) yang memotivasi diri untuk meraih prestasi.
Inilah bentuk kompetisi yang dilandasi sifat sehat dan tidak mengarah kepada timbulnya
permusuhan atau konflik, sehingga membahayakan kelangsungan dan keharmonisan
kehidupan kita.3

3 Fauroni, Lukman, 2020 “Visi al-Qur’an Tentang Etika Dan Bisnis”


(https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/JEI/article/view/2717/pdf_35, di akses pada 6 Mei 2020)
PENUTUP

Kesimpulan

Etika persaingan usaha yang sehat adalah dimana sang pelaku akan menjamin
keseimbangan antara hak produsen dan konsumen, dan tidak saling merugikan anatara
produsen dan konsumen, atau dengan pesaing lainnya. Dan berhubungan dengan rekan setiap
persaingan, Muslim harus memperhatiakan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan
akad-akad bersaing. Dalam berakad haruslah sesuai dengan kenyataan, bersifat jujur, adil,
keterbukaan, dan tanpa ada unsur menipulasi.
DAFTAR PUSTAKA

Djakfar, Muhammad. Agama, Etika, dan Ekonomi. Malang: UINMalang Press, 2007

Fauroni, Lukman dan Muhammad.Visi al-Qur’an Tentang Etika Dan Bisnis. Jakarta:
Salemba Diniyah, 2020.

Gunara, Thorik dan Utus Hardiono Subidyo.Marketing Muhammad. Bandung: Madani


Prisma, 20017.

Karim,Adiwarman A. Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuanagan.Jakarta: Rajawali Press,


2019.